Anda di halaman 1dari 3

Penyakit Polio (Poliomielitis)| Artikel kesehatan terbaru update

May 29th, 2011 admin 0 Comments Polio sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layu yang berjalan dengan tongkat. Kaisar Romawi Claudius terserang polio ketika masih kanak-kanak dan menjadi pincang seumur hidupnya. Polio termasuk penyakit menular melalui kontak antar manusia, dapat menyebar leas secara diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Dalam World Health Assembly 1988, yang diikuti sebagian besar negara di dunia, dibuat kesepakatan untuk melakukan eradikasi polio (Erapo) tahun 2000. Artinya, dunia bebas polio pada 2000. Dalam rangka mengeliminasi polio, Depkes, pada tahun 1995, 1996, dan 1997 mencanangkan Pekan Imunisasi Nasional, dengan mewajibkan anak memperoleh oral polio vaccine/OPV. Polio menyerang tanpa mengenal usia, namun penyakit ini lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. a. Penyebab dan Penularan Poliomielitis atau polio adalah penyakit lumpuh yang disebabkan oleh virus polio, yang termasuk dalam kelompok enteroviorus, famili Picornavirus. Virus polio sangat tahan terhadap alkohol dan lisol, namun peka terhadap formaldehide dan larutan klor. Suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus tetapi dalam keadaan beku masa hidupnya dapat bertahun-tahun. Polio menular melalui kontak antar manusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita dan bisa juga dari air liur penderita. Selanjutnya, virus menginfeksi usus kemudian memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat yang menyebabkan melemahnya otot dan kadang-kadang menyebabkan kelumpuhan. b.GejaladanTandaPoliomielitis Penyakit polio terbagi atas tiga jenis sebagai berikut: 1) Polio non-paralisis, yang menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh. Hal ini berlangsung 2 10 hari dan akan sembuh sempurna. 2) Polio paralisis spinal, yang menyerang saraf tulang belakang dan menghancurkan sel pengontrol pergerakan tubuh. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian saraf tulang belakang dan batang otak sehingga mengakibatkan kelumpuhan seluruh anggota gerak badan. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Kelumpuhan tersebut bersifat asimetris

(salah satu sisi) sehingga menimbulkan deformitas (gangguan bentuk tubuh) yang cenderung menetap atau bahkan menjadi lebih berat. Kelumpuhan itu berjalan bertahap dan memakan waktu dua hari hingga dua bulan. Sekitar 50% 70% fungsi otot pulih dalam waktu 6 9 bulan. Kemudian setelah dua tahun, diperkirakan tidak terjadi lagi perbaikan kekuatan otot. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti layu otot; gejala ini disebut sindrom post-polio. Bagi penderita dengan tanda klinik paralitik (lumpuh), 30% akan sembuh, 30%menunjukkan kelumpuhan ringan, 30% menunjukkan kelumpuhan berat, dan 10% menimbulkan kematian. 3) Polio bulbar, yang disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung sel pengatur pernapasan dan saraf yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata, muka, pendengaran, proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan, pergerakan lidah dan rasa, saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian c.PencegahanPoliomielitis Pencegahan yang paling efektif terhadap penyakit poliomielitis adalah dengan pemberian vaksin. d.VaksinPoliomielitis Pada saat ini ada dua jenis vaksin polio, yaitu OPV (Oral polio vaccine) dan IPV (Inactivated polio vaccine). OPV diberikan 2 tetes melalui mulut, sedangkan IPV diberikan melalui suntikan (dalam kemasan sendiri atau kombinasi DpaT). Vaksin polio oral diberikan pada bayi baru lahir kemudian dilanjutkan dengan imunisasi dasar. Untuk imunisasi dasar, diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan. Pada PIN (Pekan Imunisasi Nasional) semua balita harus mendapat imunisasi tanpa memandang status imunisasi kecuali pada penyakit dengan daya tahan tubuh menurun (imunokompromais). Bila pemberiannya terlambat, jangan mengulang pemberiannya dari awal tetapi lanjutkan dan lengkapi imunisasi sesuai dengan jadwal. Pemberian imunisasi polio pada remaja dan dewasa yang belum pernah imunisasi dan pekerjaan kontak dengan penderita polio atau anak yang diberi OVP. Bagi ibu yang anaknya diberikan OPV, diberikan 2 tetes dengan jadwal seperti imunisasi dasar. Pemberian air susu ibu tidak berpengaruh terhadap respon pembentukan daya tahan tubuh terhadap polio, jadi saat pemberian vaksin, anak tetap bisa minum ASI. Imunisasi polio ulangan (penguat) diberikan saat masuk sekolah (5 6 tahun) dan dosis berikutnya diberikan pada usia 15 19 tahun. Sejak tahun 2007, semua calon jemaah haji dan umroh di bawah usia 15 tahun harus mendapat 2 tetes OPV. e.EfekSampingVaksinpolio. Pernah dilaporkan bahwa penyakit poliomielitis terjadi setelah pemberian vaksin polio. Vaksin polio pada sebagian kecil orang dapat menimbulkan gejala pusing, diare ringan, dan nyeri otot. Vaksinasi polio tidak dianjurkan diberikan pada keadaan ketika seseorang sedang demam (> 38,5 C), muntah, diare, sedang dalam pengobatan radio terapi atau obat penurun daya tahan tubuh, kanker, penderita HIV, ibu hamil trimester pertama, dan alergi pada vaksin polio.

OPV tidak diberikan pada bayi yang masih di rumah sakit karena OPV berisi virus polio yang dilemahkan dan vaksin jenis ini bisa diekskresikan (dibuang) rnelalui tinja selama 6 minggu, sehingga bisa membahayakan bayi lain. Untuk bayi yang dirawat di rumah sakit, disarankan pemberian IPV