Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT.

PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


BAB IV SUSUT DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 4.1. Kinerja Susut Distribusi Susut distribusi adalah susut energi yang terjadi di jaringan distribusi ( SUTM, Trafo, SUTR dan SR ) yang dibedakan menjadi susut teknik dan non-teknik. Susut teknik terjadi karena adanya arus/energi listrik yangmengalir/disalurkan ke jaringan distribusi, sedangkan susut non-teknik diakibatkan faktor - faktor antara lain pencurian listrik, kesalahan baca meter, kesalahan perhitungan, dan lain-lain. Kinerja susut distribusi dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Susut Dis. =

kWh siap salur ke Distribusi PSSD kWh Penjualan x 100% kWh siap salur ke Distribusi

Untuk kinerja susut PLN Distribusi yang dimaksud kWh siap salur ke distribusi adalah tanpa I-4 (sambungan tegangan tinggi), yang biasanya disebut dengan kWh Bangkit/Beli. PSSD : kWh Pemakaian Sendiri Sistem Distribusi

4.2.

Pengaruh kWh Beli dan kWh Jual Terhadap Susut

44

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Susut distribusi dipengaruhi oleh besarnya energi listrik (kWh) yang disalurkan di jaringan distribusi yang disebut dengan kWh beli / bangkit dan konsumsi energi listrik oleh konsumen yang disebut dengan kWh Jual. Di PLN Distribusi Jawa Timur kWh Beli dan kWh Jual tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. KWh beli / bangkit diperoleh dari :


Transfer energi dari PLN P3B Produksi sendiri

Terima dari Unit lain : PLTA Wonorejo & Ampel Gading (PLN
PJB), PLN APJ Kudus, PLTM Kalimaron dan PLTD Sewa (Swasta). Diantara sumber pasokan energi listrik yang paling besar dan signifikan adalah transfer energi dari PLN P3B mencapai sekitar 99,72 % dari seluruh pasokan energi listrik. Faktor kemungkinan penyebab susut yang terjadi di sisi kWh beli antara lain : Akurasi meter transaksi energi Akurasi baca
45

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Pengambilan stand meter (setting waktu / periode baca)
Kalibrasi stand meter incoming dan outgoing feeder Dalam prakteknya untuk menghitung susut terutama dari sisi besarnya energi salur dari PLN P3B ke masing - masing outgoing feeder secara matematis jumlahnya tidak sama, sehingga untuk masing masing feeder yang mensuplai PLN APJ / UPJ perlu dilakukan kalibrasi, dan dapat digambarkan sebagai berikut :

Outgoing Feeder

Meter Transaksi

Gambar 4.1 Penyuplai PLN / APJ

Min ( M1 + M2 + M3 )

KWh beli masing-masing penyulang dihitung secara proporsional sebagai berikut :


46

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Misalnya : Berapa kWh beli M1 setelah dikalibrasi

M1 M1 = in x M M1 +M 2 +M 3

Dimana kWh Beli Total = MTT + ( M1+M2+M3 )

b. KWh Jual sebagian besar diperoleh dari

konsumsi energi

pelanggan, upaya P2TL untuk menyelamatkan energi yang hilang akibat pencurian listrik , Taltul dan lain - lain yang dapat digambarkan sebagai berikut :

1) KWh Jual III - 07


Diukur berdasarkan energi yang dikonsumsi oleh pelanggan dari berbagai macam jenis dan segmentasi daya, sehingga hasil pengukuran konsumsi energinya sangat dipengaruhi oleh :

Akurasi pembacaan meter : stand meter, jam dan hari


baca, perbedaan periode baca. Gagal baca stand meter AMR (self read)

Akurasi / error meter


47

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

2) KWh Jual III - 09


Energi konsumsi kWh energi diperoleh pelanggan berdasarkan ditambah hasil estimasi pengukuran konsumsi

pelanggan yang menggunakan LPB (Listrik Pra Bayar), upaya P2TL dan JBST yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

III - 09 = III - 07 + M

M = Estimasi LPB + P2TL + JBST ( pelanggan & Nonpelanggan) + SPH PJU Ilegal + Taltul + Suplisi / Restitusi 4.3. Sebaran Susut Susut sering dibedakan menjadi susut teknik dan non-teknik atau dapat juga diilustrasikan tersebar di jaringan dan titik transaksi, sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut :

Susut = Susut Jaringan + Susut Titik Transaksi

48

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Susut jaringan adalah energi yang benar-benar hilang di jaringan karena konsekuensi adanya energi yang disalurkan, sedangkan susut titik transaksi adalah kehilangan energi yang paling dominan diakibatkan karena kesalahan pengukuran dan pembacaan sehingga energi yang hilang masih ada peluang untuk diambil/ditagihkan kembali. Maka secara matematis sebaran susut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sebaran Susut : Jaringan + Potensi Energi Hilang + Cater

Sehingga untuk menekan susut harus diketahui terlebih dulu besarnya sebaran susut dengan menghitung atau membuat asumsinya, kemudian di paretokan untuk menyusun skala prioritas yang akan dilaksanakan sesuai kemampuan sumber daya yang ada.

4.4.

Menghitung Susut Teknik

Untuk menghitung susut teknik banyak sekali software yang dapat digunakan misalnya ETAP, PPSA, Sphread Sheet Yogja, dll. Dalam pembahasan disini susut teknik/ susut jaringan dihitung dengan menggunakan Sphread Sheet Yogja, dimana data-data yang diperlukan adalah :
49

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


a. Data Energi

Total kWh Jual KWH Jual Pelanggan TT KWH Jual Pelanggan TM KWH Jual Pelanggan TR KWH Jual Pelanggan > 41,5 KVA Jumlah Pelanggan Total Jumlah Pelanggan < 41,5 KVA

b. Data Aset Jaringan

Penyulang (SUTM dan SUTR) : panjang, jenis, penampang Trafo : jumlah, kapasitas/KVA, jumlah jurusan SR (Sambungan Rumah) : 1 phasa, 3 phasa, panjang ratarata, penampang.

c. Data Pembebanan
50

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Beban puncak Beban rata-rata

Setelah data energi, asset dan pembebanan diketahui, maka susut teknik jaringan distribusi dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

a) Susut Penyulang ( TM )

STM = 3 x Ieq2 x RTM x LLF x T x LTM

STM Ieq RTM LLF

: susut energi penyulang ( TM ) : arus rata-rata per-penyulang ( TM ) : resistensi penyulang ( TM ) ekivalen per-km : 0,3 LF + 0,7 LF2 ( LF : Load Fator )

T : periode waktu LTM : panjang penyulang ( TM ) total

51

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


b) Susut Transformator

Strafo = ( Ni . Sfei + k 2 . LLF . Ni . Scui ) x T

Strafo Ni Sfei Scui LLF

: susut energi trafo : jumlah trafo : rugi besi trafo : rugi tembaga trafo : 0,3 LF + 0,7 LF2 ( LF : Load Fator )

T : periode waktu
k = Energi siap jual TM kWh jual TM Susut TM

[ KVA .N

1 1 + KVA2.N2 + . ] x Cos x LF x T

k : utility factor KVA : kapasitas trafo N: jumlah trafo LF : load factor


52

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


T : periode waktu

c) Susut Penyulang ( TR )

STR = 3 x Ijur2 x RTR x LLF x T x LTR STR Ijur RTR LLF : susut energi penyulang ( TR ) : arus rata-rata per-jurusan ( TR ) : resistensi jaringan ( TR ) ekivalen per-km : 0,3 LF + 0,7 LF2 ( LF : Load Fator )

T : periode waktu LTR : panjang jaringan ( TR ) total

d) Susut Sambungan Rumah ( SR )

SSR = 2 x ISR2 x RSR x LLF x T x JP x LTR x fkor

SSR

: susut energi sambungan rumah ( SR )


53

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Ijur RTR LLF T LTR fkor : arus rata-rata per - SR : resistensi SR ekivalen per-km : 0,3 LF + 0,7 LF2 ( LF : Load Fator ) : periode waktu; JP : jumlah pelanggan : panjang SR rata-rata : faktor koreksi

Dengan diperolehnya hasil perhitungan susut masing-masing segmen jaringan (TM, Trafo, TR dan SR), maka upaya penekanan susut teknik bisa lebih fokus dan terarah sesuai dengan skala prioritasnya. Contoh hasil perhitungan susut teknik :

54

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

Susut kWh Kumulatif Susut Kumulatif dengan I-4 Susut Kumulatif tanpa I-4 Susut Teknik Total dengan I-4 Susut Teknik Total tanpa I-4 Susut TM dengan I-4 Susut TM tanpa I-4 Susut Trafo dengan I-4 Susut Trafo tanpa I-4 Susut TR dengan I-4 Susut TR tanpa I-4 Susut SR dengan I-4 Susut SR tanpa I-4

1.589.425.879 kWh 7,41 % 11,49 % 5,88 % 9,11 % 1,67 % 2,59 % 0,85 % 1,31 % 3,09 % 4,79 % 0,27 % 0,42 %

4.5.

Asumsi Perhitungan Susut Non Teknik

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa sebaran susut terjadi di jaringan dan titik transaksi, perhitungan susut teknik telah dibahas

55

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


selanjutnya susut non-teknik ( titik transaksi ) dapat diasumsikan besarnya dengan pendekatan sebagai berikut : A. Potensi Energi Hilang

Potensi energi yang hilang dapat terjadi di Meter dan Proses Administrasi serta dapat diasumsikan perhitungannya sebagai berikut :

1. Kehilangan KWH akibat Pencurian / Tampering


a. Pelanggan :

N x k x E
N : jumlah pelanggan yang belum diperiksa per-GTT (Akses data via PDPJ vs data pemeriksaan P2T ) k : prosentase pelanggan kedapatan (data historis) E : energi kedapatan per-pelanggan (KWH / Pelanggan) b. Sambungan Liar :

n x P x
n : Jumlah sambungan liar ( diidentifikasi oleh cater, persil yang menyala tetapi tidaktergambar dalam RBM )
56

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


P : Daya rata2 (asumsi sambungan liar) JN : Jam Nyala rata2 (asumsi tarif sambungan liar) c. PJU Ilegal :

KVA : (jumlah titik lampu x KVA per-titik lampu) JN : Jam Nyala rata2 tarif PJU d. Kotak APP tidak disegel :

KVA x JN

N x k x E
N : jumlah pelanggan dengan kotak APP belum disegel k E : persentase pelanggan yang usil (3 s/d 10 % , besarnya persentase tergantung kerawanan wilayah kerja ) : konsumsi energi rata2 per-pelanggan ( KWH/Pelanggan ) 2. Kehilangan kWh Pemakaian Meter Lipovindo

N x E
N E

: jumlah / populasi meter lipovindo : error / kesalahan rata2 meter Lipovindo ( % ), : energi rata2 tarif pelanggan (akses data ke DIL)
57

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

x E ) bisa diganti dengan kenaikan KWH rata2

pelanggan setelah penggantian meter Lipovindo.

3. Kehilangan kWh Pemakaian Meter > 25 tahun N x E


N E DIL) ( x E ) bisa diganti dengan kenaikan KWH rata2 pelanggan setelah penggantian meter diatas 25 tahun. 4. Pelanggan dengan Pemakaian = 0 KWH Agar tidak terjadi stand meter nol padahal pelanggan memakai energi secara normal, maka perlu dikendalikan sebagai berikut : a. b. c. Diinventarisasi & dikendalikan jumlahnya Dibuat peta pengelompokan berdasarkan wilayah kerja Dilakukan periodik
58

: jumlah / populasi meter diatas 25tahun : error / kesalahan rata2 meter diatas 25 tahun : energi rata2 tarif pelanggan (akses data ke

sampling

dilapangan

secara

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


d. Jika diketahui terdapat pemakaian/dihuni, maka segera ditagihkan.

4.6.

Kesalahan Pembacaan Meter Susut uang diakibatkan oleh kesalahan baca meter dapat terjadi

karena beberapa persoalan antara lain :

Stand baca meter ditaksir Tanggal/waktu baca tidak konsisten Gagal baca AMR

Pengambilan stand baca berbeda antara meter pelanggan dengan meter salur

Penggeseran baca stand meter Agar tidak terjadi kesalahan baca meter seperti seperti yang dijelaskan diatas, maka harus dilakukan secara konsisten monitoring dan evaluasi setiap tahapan proses baca meter seperti flowchart / bagan alir berikut : Tahapan dari bagan alir seperti yang dijelaskan dibawah, titik kritis yang harus dimonitor dan dievaluasi secara kontinyu dan konsisten adalah proses DLPD baik yang ada di vendor cater maupun di sistem AP2T, proses sampling sampai dengan input ke AP2T untuk proses billing.
59

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

Download stand meter dari AP2T ke Server Vendor Cater Download PDT dari Server Vendor Cater Baca Meter

Upload ke Server Vendor Cater

DLPD ( ABM ) Oleh Vendor Cater Upload stand meter ke AP2T

Proses DLPD AP2T ( F2 )

Sampling
60

Input ke AP2T ( F3 ) / Billing

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

Gambar 4.2 Flowchart Tahapan Proses Membaca Meter

4.7.

Menentukan Target Susut Agar upaya penekanan susut dapat dilakukan dengan terarah,

fokus dan terukur maka harus ditetapkan dulu targetnya sebagai arah yang harus dituju dengan mempertimbangkan beberapa hal : a. Target susut ( RKAP ) yang ditetapkan PLN Pusat b. Target kWh jual ( RKAP ) yang ditetapkan PLN Pusat atau target kWh Bidang Niaga

61

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


c. Breakdown kWh jual / Beli per-APJ berdasarkan kontribusi kWh jual tahun sebelumnya d. Breakdown kWh beli per-APJ dihitung dengan rumus :

Beli =

( 100 Susut % )

( 100 x Jual )

e. Adjusment target Susut per-APJ dengan mempertimbangkan :

Sheet Yogja )

Susut teknis ( dihitung dengan Sphread

Realisasi susut tahun sebelumnya

Untuk target susut 2011, karena realisasi tahun 2010 terjadi penggeseran baca meter maka realisasi susut tahun 2009 yang diasumsikan relatif normal (tidak ada kebijakan penggeseran baca meter) perlu juga dijadikan pertimbangan disamping realisasi tahun 2010 tanpa penggeseran dan tertera pada Tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Target Susut Tahun 2011

62

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

Dengan menghitung gap target susut tahun 2011 dengan realisasi tahun 2010 maka besarnya kWh target (energi yang harus diselamatkan tahun 2011) setelah dikalikan dengan kWh beli adalah sebesar 168.240.934 kWh. 4.8. Upaya Penekanan Susut

Setelah target kWh yang harus diselamatkan ditetapkan, maka dalam upaya penekanan susut dapat disusun rencana aksi plan kegiatan yang dapat memberikan kontribusi penekanan susut. Upaya yang dilakukan difokuskan pada kegiatan penekanan susut teknis dan non - teknis (titik transaksi) yaitu :

A.

Teknik yang terdiri dari kegiatan :

1. 2. 3. 4.

Pemasangan gardu / trafo sisipan Uprating penghantar JTM dan JTR Penyeimbangan beban Dan lain-lain

63

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Mengingat upaya penekanan susut teknik ini biayanya cukup besar dan hasilnya tidak dapat diketahui dengan cepat (high cost low impact), maka upayanya tidak menjadi prioritas utama.

Besarnya kontribusi penyelamatan kWh susut yang dilakukan dengan kegiatan teknis dapat dilakukan dengan pendekatan seperti Tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2 Kegiatan Teknis kWh Susut

Dengan memasukkan data beban rata-rata, beban puncak dan panjang jaringan maka dapat diketahui besarnya kontribusi penyelamatan kWh susut, demikian juga dengan pemilihan kapasitas KVA trafo sisipan maupun overload kontribusi penyelamatan kWh susutnya dapat diketahui. Rumus untuk menghitung susut seperti table diatas adalah :

64

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


Ploss = ( I2rata-2 x R x t x LF ) / 1000 [ kWh ] V = 3 . I2rata-2 . L . { R Cos + Sin } [ Volt ]

I2rata-2 = ( IWBP + ILWBP ) / 2

B. Non-teknik

Kesalahan pengukuran energi yang berhubungan dengan ketidak akuratan peralatan ukur dan pembacaan, besarnya kontribusi penyelamatan kWh susut yang dilakukan dengan kegiatan non-teknis dapat dilakukan dengan pendekatan seperti Tabel 4.3 berikut :

a) Program Peningkatan Akurasi Pengukuran

Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan akurasi dalam membaca dan mengukur kWh meter sehingga susut non teknis dapat ditekan seminimal mungkin.

Tabel 4.3 Peningkatan Akurasi Pengukuran

65

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


b) Program Peningkatan Akurasi Cater Tabel 4.4 Peningkatan Akurasi Cater

c) P2TL dan PJU

Tabel 4.5 Masalah P2TL dan PJU

4.9.

Pengendalian Susut Agar kinerja susut dapat tercapai sesuai target RKAP yang telah

ditetapkan maka perlu dilakukan pengendaliannya dengan menggunakan format pengendalian sebgai berikut : Tabel 4.5 Contoh Format Pengendalian Susut

A P J : ..

U P E Jn e r gT air g e t

Jan u ari
R e a lis a s i A w al

Fe b ru ari
T a rg e t R e v ie w

M a re t
d st

R e a lis a s i

B e li ( kW h 1 1 0 0 ) Ju a l ( kW h 1 0 0 0 ) S u s u (t k W h )1 0 0
(% )

9 ,0 9

1105 1200 1200 Rb2 9 9 0 1 1 0 0 1 2 0 0 - 8 4 . 1 2 = 1R j12 1 6 1 1 5 1 0 0 7 . 0 1 * 1 2 0 0 / 1 (0R 0b 2= -8 R4j 2,1) 2 1 0 ,4 1 8 66 3 8 ,3 3 - 1 ,3 2 (=R7b .20- 1R j 2R )2/ R b 2 * 1 0 0 ,3 ,3 2 ) G a p ( (7 2,0-)1R 2 )

R e a l i s a s i v s . G a agp t (- - >-1 T r e -

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

Seperti contoh diatas karena target susut bulan Januari tidak tercapai (taget 9,09 % realisasinya 10,41 %), agar minimum target sampai dengan akhir tahun dapat tercapai maka target Januari meluncur (carry over) sehingga target susut Februari menjadi lebih berat / sulit ( semula 8,33 % menjadi 7,01 %) begitu pula untuk bulan-bulan selanjutnya. Karena target Februari berubah, maka target volume pencapaian kegiatan teknik maupun non-teknik perlu ditambah agar kontribusi kWhnya juga menjadi lebih besar.

67

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI


13 4 39 35 23 37 34 21
CAK ARAN

40 1 112 13 8 28 124 136 DS

11 3

87 88 10 7 74 141 109

P.C A M C O O M Y A
133

143
BRE N GKOK

C U M P LE N G

43

K U D SA M POER N A

13 5

103

G O W A HK E D U N G M A K A M B L IM BIN G 2
1 18

T A N J U N G K O D O 9K 8

137

D E NG O K

S ID O M U K T I
M O Y O R U TI

B R O N DO N G

A VR PA M B ON T LO GO R ET N O 2 0 0 A
111
K E P OD AN G

12 1

DS
L IN TE K H

127

44

Q L H A S IL LA UT

A N I LA

48

131

57 7 P U S K E S M A 2S 5 88 6 2 83

K RA N JI
11 473 75 76 7 7 7 8 7 91 1 0 1 0 8 8 1 4 9 5 9 8 4
D R A JA T

DS

UPJ S EDAY U

R E SO R T

P .P A C IR A N

PC T LO H G U N G LO HG U N G M A N U N G GA L

30 31

33

36

32 7

38

S E N D A N GH AR JO

PA M B O N
1 30

SED A YU

45

20

4 716 10 6

52

53

ME NCORE K

1 4 0 5 5 1 9 1 2 85 6 DS

132 41
LE M B O R

18 125

90

9 29

15 22 26 82 DS
GE N E N GS A RI

A VR PEN A N J A N A SEN D A N G 1 0 0

TUN G GU L
92

K EM A N TR EN
117

3 105

DS AV R 129

P S R . B L IM B I N G

PLN

80 1 42 94 93 6 115116

11

46 10

91

T.1 T.2

42

119 5

60 54 1 44 61 24 66
LA N G G A R E J O S U MURAN

1 22

139

50 5 12 5

G I TUBAN

12 3 62 85 63 27 12 67 1 26
P AY AMAN

P A L IR A N G A N

L A N G G A R EJ O
64 13

12 0

S E K A N O R P A Y A M A N6 8
69 71

D A D A PAN

14

65

R E C L O SE B S P A Y A M A N +L R
70

T E N G G U LU N

SO LOK U R O
99 100

GA MP ANG

K A R A N G TA W A R

95
P R IJE K C O GOD O G

98

TE J O A S R I

BR A NG SI

K E TE R A N G A N :

96

97 101

1. 2.

G a r d u D is t r ib u s i P e la n g g a n T M

P C T G A M P A N G S EJ A T I G A M PA N G SEJA TI

102

1 04 3. 4. P e la n g g a n T R

KR U WU L

P CT

P.S ID O K U M P U L

PA H LA W A N

5.

L B S N o r m a l C lo s e

T.1 T.2
6. L B S N o rm a l O p e n AV R C O N o r m a l C lo s e 7.

8. 9. 1 0.

P.P L A O S A N T.1 T.2

G I
LAM ONGAN

C O N o rm a l O p e n D S N o r m a l C lo s e

1 1.

D S N o rm a l O p e n

G I BABAT

68