Anda di halaman 1dari 3

Aliran Kebatinan; Histori, Teologi, dan Metodologi Dakwahnya

Oleh: Ahmad Biyadi Tugas ulama adalah menjaga syariat (KH. Idris Marzuki, Pengasuh PP. Lirboyo, Kediri) Apapun yang terjadi, syariat Islam harus terus diperjuangkan. Saat ini, saat dimana kelompok separatis bermunculan di mana-mana. Kelompok yang merongrong akidah dan syariat Islam semakin berani tampil di hadapan masyarakat. Di sisi kiri, golongan liberalisme cs berusaha menggerogoti Islam dari segi rasio. Pemahaman-pemahaman sesat dengan segala tetek-bengek metodologinya menawarkan Islam gaya baru alias Islam ala syahwat. Mereka lupa bahwa Islam tidak hanya mementingkan praktik lahir, tapi sisi batin dari pribadi seorang muslim juga harus diperhatikan. Dan di sisi kanan, golongan yang terlalu mengedepankan ruh dan jiwa tanpa memperdulikan praktik lahir. Golongan itu dikenal dengan Aliran Kebatinan yang membongkar berbagai tatanan baku dalam syariat dan menyatakan bahwa yang penting dalam ibadah-ibadah itu adalah hati, sedangkan ibadah lahir hanyalah untuk mereka yang masih awam. Aliran ini lebih berbahaya dari orang yang jelas-jelas kafir karena mereka mengatasnamakan dirinya sebagai aliran Islam dan cenderung memiliki pengikut yang fanatik serta metodologi dakwah yang luar biasa. Sehingga sejak awal kemunculannya aliran Kebatinan ini sangat sulit untuk ditumpas, bahkan hingga saat ini. Histori Islam dan Aliran Kebatinan Dalam kajian sejarah Islam, kita tidak akan terlepas dari kajian mengenai aliran-aliran yang bermunculan sejak masa awal Islam, misalnya Khawarij dan Syiah yang muncul di masa sahabat dan Muktazilah di masa tabiin. Aliran-aliran itu muncul bak jamur di tanah lembab, hilang satu tumbuh seribu. Diantara aliran-aliran itu adalah aliran kebatinan yang dengan berbagai macam jenisnya pernah menjadi salah satu aliran besar dalam sejarah Islam dan menguasai beberapa negara arab. Awal mula munculnya aliran ini adalah pada tahun 170-an H. Dimana seorang budak bernama Maimun bin Daishan yang dipenjara akibat mengancam stabilitas keamanaan negara menyusun konspirasi terselubung bersama beberapa orang kawannya di penjara. Konspirasi ini bertujuan merusak keutuhan umat Islam dengan cara menyusupkan ajaran-ajaran sesat di dalamnya, hingga Islam menjadi terpecah belah1. Selanjutnya Maimun cs dapat mempengaruhi aliran Syiah, hingga muncullah alirah Syiah Ismailiyah yang merupakan aliran Syiah terbesar kedua setelah Syiah Itsna Asyariyah. Syiah Ismailiyah ini dinisbahkan kepada Ismail bin Jakfar bin Muhammad, karena mereka meyakini bahwa pangkat Immah yang disandang oleh Jakfar bin Muhammad turun kepada puteranya (Ismail). Seiring waktu, Aliran Kebatinan semakin berkembang dan terpecah dalam beberapa golongan yang hampir tak terhitung jumlahnya. Ajaran dan kebiasaan mereka yang cenderung berbeda, bergantung pada zaman dan tempat mereka hidup, membuat aliran ini terpetak-petakkan dalam golongan yang masing-masing memiliki nama dan akidah tersendiri, semisal Hululiyah, yaitu kebatinan yang berkeyakinan bahwa Allah swt bersemayam dalam tubuh manusia, dan Muhammirah untuk kebatinan yang memiliki kebiasaan memakai pakaian berwarna merah. Namun dari sekian banyak golongan itu diantara yang paling besar dan paling berpengaruh adalah Ismailiyah, Qirmithiyah, Babakiyah, dan Nushairiyah2. Selain Aliran Kebatinan yang bernafaskan Syiah itu, juga terdapat Aliran Kebatinan yang muncul dalam dunia sufi. Dalam literatur salaf, Kebatinan model ini biasanya dikenal dengan nama Ibhiyah atau paham serba boleh. Pengikut aliran ini mengaku mengikuti ajaran tasawuf, namun dalam praktiknya ajaran mereka justru menyimpang jauh dari ajaran tasawuf itu sendiri, karena sejatinya tasawuf yang mereka klaim adalah kedok untuk melegalkan paham mereka yang merusak terhadap aturan syariat Islam3.
1 Abi Mudhaffar al-Asfaraini, At-Tabshr fid-Dn wa Tamyzil-Firqah an-Njiyah `anil-Firq al-Hlikn (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1988), hal. 126. 2 Ibid. 3 Abdul Munim al-Hifni, Mausuatul-Firq wal-Jamah wal-Madzhib al-Islmiyah, (Kairo: Darul Rasyad, 1922 M), hal. 100.

Teologi Aliran Kebatinan Akidah adalah tolok ukur dari setiap aliran untuk dikatakan benar atau tidak, mengingat Rasulullah saw telah meramalkan bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu dari 73 golongan itu yang selamat, yaitu m an alaih w ashhb (Ahlusunnah). Ulama menjelaskan bahwa perbedaan 73 golongan itu terjadi dalam ranah akidah, bukan dalam ranah furiyah fiqhiyah, karena pada perbedaan akidahlah golongan-golongan yang berbeda itu saling mengkafirkan satu dengan yang lain. Karena itulah dengan melihat akidah aliran kebatinan, kita akan mengetahui bahwa aliran tersebut sangat menyimpang jauh dari kebenaran. Diantara sekian banyak akidah aliran kebatinan, ada tiga hal yang paling penting untuk kita kaji, diantaranya: a. Takwil batin Aliran Kebatinan disebut dengan al-Bathiniyah karena mereka memiliki keyakinan bahwa setiap ayat alQuran ataupun Hadis di samping memiliki makna lahir juga memiliki pengertian batin yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang tertentu. Dengan takwil batin ini, mereka menjustifikasi ajaran-ajaran sesatnya dengan berlandaskan pada al-Quran dan Hadis, semisal ayat berikut: (99 :[15] ) Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang padamu al-yaqin, (al-Hijr [15]: 99) Mereka menafsiri kata al-yaqn dengan suatu derajat yang siapapun orang yang telah mencapainya, maka dia tidak lagi terkena kewajiban melakukan ibadah dzahir. Hal itu berbeda dengan penafsiran yang benar yang mengartikan al-yaqn dengan ajal atau maut. Selain takwil batin terhadap al-Quran dan Hadis itu, mereka juga melakukan konsep perhitungan pada banyak hal yang menurut mereka akan memperkuat ajaran mereka, seperti hitungan langit ada tujuh, hitungan hari juga tujuh, jumlah lubang pada bagian atas manusia juga tujuh, potongan kalimat ---- --juga tujuh, semua itu menunjukkan akan kebenaran adanya imam yang tujuh4. b. Ibthalusy-Syariah Seperti yang telah disinggung di atas Aliran Kebatinan memiliki ajaran-ajaran yang tujuan akhirnya adalah ibthalusy-Syariah. Dengan metodologi takwil batin, mereka tidak lagi meyakini kewajiban salat, puasa, haji, dan hukum-hukum syariat lainnya. Mereka juga menghalalkan hal-hal yang diharamkan dalam syariat, semisal khamr dan zina. Untuk melakukan hal itu semua mereka mengalihkan kewajiban dan keharaman itu kepada pemahaman yang mereka inginkan (ditetapkan oleh imam mereka). c. Taqiyah Konsep taqiyah atau menyembunyikan identitas ini mereka usung dari aliran Syiah, karena memang aliran kebatinan merupakan sempalan dari aliran Syiah. Taqiyah ini wajib dilakukan oleh pengikut aliran kebatinan, terutama jika kondisi yang dihadapi belum berpihak kepada mereka. Kebatinan tidak tanggung-tanggung menghukum orang yang melanggar ajaran ini. Dalam istilah mereka orang yang telah menyebarkan rahasia-rahasia Kebatinan dianggap sebagai pezina. Lagi-lagi, konsep ini juga didasarkan pada takwil batin ayat al-Quran (QS. Maryam [19]: 26). Meski tidak termasuk sempalan Syiah, kebatinan sufi juga memiliki konsep menyembunyikan identitas. Hal itu dikarenakan kebanyakan kebatinan sufi adalah aliran minoritas, hingga mereka harus menyembunyikan ajaran dan keyakinan mereka dari masyarakat sekitar, atau paling tidak aliran kebatinan ini akan sangat tertutup untuk memberikan informasi kepada selain pengikut mereka, hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan konflik yang akan berakhir pada hancurnya aliran mereka. Metodologi Dakwah Dalam penyebarannya, Aliran Kebatinan memiliki metodologi jitu agar ajaran yang mereka usung dapat diterima oleh objek dakwah mereka. Dakwah mereka memiliki tahapn-tahapan yang harus diterapkan,
4 Abu Hamid al-Ghazali, Fadhihul-Bathniyyah (Pasuruan: Perpustakaan Sidogiri, 2002), hal. 8.

diantaranya adalah tans (mengambil simpati dengan segala cara semisal khusyu beribadah), tasykk (pengkaburan akidah), talq (membiarkan objek dakwah dalam kegamangan), ribth (pengambilan sumpah setia), tadls (doktrinasi ajaran kebatinan), khul dan salkh (mengangkat objek dakwah sebagai orang yang telah mencapai derajat yang tinggi sehingga tidak lagi memiliki kewajiban ibadah lahir)5. Dengan konsep ini, aliran kebatinan dapat dengan mudah tersebar di berbagai kalangan. Hanya saja, kebanyakan orang yang akan dipilih sebagai objek dakwah mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak memiliki pengetahuan agama, para pengikut syahwat, dan orang-orang yang tenggelam dalam fanatisme berlebihan, karena ketiga golongan itulah yang lebih mudah diambil simpati dan dipengaruhi6.

5 Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farqu bainal-Firq (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah), hal. 233. 6 Lihat Abu Hamid al-Ghazali, Fadhihul-Bathniyyah (Pasuruan: Perpustakaan Sidogiri, 2002), hal. 19-20. Dan Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farqu bainal-Firq (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah), hal. 227.