Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

. .
Ilmu tauhid atau Ushulluddin sangat penting dipelajari. Karena ilmu inilah yang membahas dasar-dasar aqidah yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Dalam ilmu ini, butir-butir aqidah dijelaskan dan didukung dengan burhan, pembuktian kebenaran secara pasti melalui dalil-dalil aqly (rasio). Dalam rentang sejarah yang panjang ilmu tauhid telah Berjaya membentengi aqidah umat dari berbagai arus pemikiran luar yang tidak sesuai dengan tauhid sebagai dasar dari keseluruhan ajaran islam. Pengkajian ilmu ini terus berjalan dan dipelajari diseluruh Pondok Pesantren dan universitas Islam di Indonesia. Bahkan pengkajian dilakukan oleh masyarakat yang mengikuti pengajian-pengajian disuatu tempat tertentu. Tujuan pembuatan makalah ini untuk lebih memahami sejarah tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah, tokoh-tokohnya, pemikiran, serta relevansi kekinian yang telah dipakai para ulama dalam membentuk dan menerapkan ajaran tauhid yang kita pelajari dan warisi selama ini. Sehubungan dengan terbentuknya makalah ini maka, kami berharap makalah ini akan memberikan manfaat yang signifikan terhadap pengetahuan terutama maha siswa baru. Kemudian penulis berterima kasih kepada pembimbing, dengan akhir kata apabila ada kesalahan maka, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulis lebih teliti dalam pembuatan makalah berikutnya. Karena itulah penulis memohon taufiq dan petunjuk kepada Allah SWT, agar kiranya dihindarkan dari kesalahan dan kekeliruan. Sesungguhnya Dialah Ahlu Taqa dan Ahlu Maghfiroh, Walhamdulillahi Robbil Alamin.

BAB I PENDAHULUAN A. Sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah Penamaan istilah Ahlussunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah yaitu generasi Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Sistem pemahaman islam menurut Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan kelangsungan disain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-Rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab mutazilah pada abad ke 11 H. Seorang ulama besar bernama Al-Imam Al-Bashry dari golongan AtTabiin di Bashrah mempunyai sebuah majlis talim, tempat mengembangkan dan memancarkan ilmu Islam. Beliau wafat tahun 110 H. diantara murid beliau, bernama Washil bin Atha. Ia adalah salah seorang murid yang pandai dan fasih dalam bahasa Arab. Pada suatu ketika timbul masalah antara guru dan murid, tentang seorang mumin yang melakukan dosa besar. Pertanyaan yang diajukannya, apakah dia masih tetap mukmin atau tidak? Jawaban Al-Imam Hasan Al-Bashry, Dia tetap mukmin selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi dia fasik dengan perbuatan maksiatnya. Keterangan ini berdasarkan Al-Quran dan AlHadits karena Al-Imam Hasan Al-Bashry mempergunakan dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil Quran dan Hadits. Dalil yang dimaksud surat An-Nisa ayat 48 :


Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisa ayat 48) Kedua, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

, : . .( . )
Artinya : Dari Sahabat Abu Dzariin berkata : Rasulullah SAW bersabda : Datang kepadaku pesuruh Allah menyampaikan kepadamu. Barang siapa yang mati dari umatku sedang ia tidak mempersekutukan Allah maka, ia akan masuk surge, lalu saya (Abu Dzarrin) berkata : walaupun ia pernah berzina dan mencuri? Berkata (Rasul) : meskipun ia telah berzina dan mencuri. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).


()

Artinya : Allah berfirman : Demi Kegagahan-Ku, dan Kebesaran-Ku dan demi Ketinggian-Ku, serta Keagungan-Ku, benar akan aku keluarkan dari

neraka orang yang mengucapkan, Tiada Tuhan selain Allah. (Diriwayatkan


Imam Al-Bukhari)

Tetapi jawaban dari gurunya tersebut, ditanggapi berbeda oleh muridnya, Washil bin Atha. Menurut Washil, orang mukmin yang melakukan dosa besar itu sudah bukan mukmin lagi. Sebab menurut pandangannya, Bagaimana mungkin, seorang mukmin melakukan dosa besar? Jika melakukan dosa besar, berarti iman yang ada padanya itu iman dusta. Kemudian dalam perkembangan berikutnya, Washil disebut Mutazilah, yakni orang yang diasingkan. Adapun beberapa teman yang bergabung bersama Washil bin Atha, antara lain bernama Amr bin Ubaid. Selanjutnya, mereka memproklamirkan kelompoknya dengan sebutan Mutazilah. Kelompok ini, ternyata dalam cara berfikirnya, juga dipengaruhi oleh ilmu dan filsafat Yunani. Sehingga, terkadang mereka terlalu berani menfsirkan Al-Quran sejalan dengan akalnya. Ibnu Abbas r.a. berkata ketika menafsirkan firman Allah SWT :


Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (Q.S : Ali Imran ayat 106).

Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlussunnah Wal Jamaah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlul bidah dan sesat.1 Kemudian istilah Ahlussunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama salaf rahimahullah diantaranya : 1. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat tahun 131 H), ia berkata : Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlussunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku. 2. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat tahun 161 H) berkata : Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlussunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba (orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlussunnah Wal Jamaah. 3. Abu Ubiad al-Wasim bin Sallam Rahimahullah (hidup tahun 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imam : .... Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlussunnah dari yang demikian .... 4. Fudhail bin Iyadh Rahimahullah (wafat tahun 187 H) berkata : ...Berkata Ahlussunnah : Imam itu keyakinan, perkataan dan perbuatan. 5. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah (hidup tahun 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddima kitabnya, as-Sunnah : Inilah madzhab Ahlul Ilmu, Ash-Habul Atsar dan Ahlussunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul dan para sahabatnya, dari semenjak jaman para sahabat r.a. hingga pada masa sekarang ini...
6. Imam ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat tahun 310 H) berkata :

....Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kamu mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama
1

http://nuryahman.blogspot.com/2007/05/sejarah-ahlussunnah-waljamaah.html

yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah berpendapat bahwa ahli surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah SAW.
7. Imam Abu Jafar Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Raimahullah (hidup

tahun 239-321 H). beliau berkata dalam muqaddimah kitab aqidahnya yang masyhur (Aqidah Thahawiyah) : ....Ini adalah penjelasan tentang aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah.2 Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-SyafiI (w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al- quran dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahap ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asyari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Jafar al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan alAsyari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mutazilah, Khowarij dan Syiah yang dipandang oleh Asyari sudah keluar dari paham yang semestinya. 3

2
3

http://nyimpanilmu.blogspot.com/2011/01/sejarah-ringkas-perkembangan-ilmu.html http://pmiikomtek.wordpress.com

Ilmu Tauhid system khalaf ( al-Asyari dan Maturidi ), sebagai lawan salaf ini, mendapat dukungan pula dari ulama ulama ahlissunnah , seperti ; Imam al Ghazali (w 505 H ) dan ar-Razi (w 606 H ), yang kemudian dirampungkan oleh Imam as-Sanusi (833 H 895 H ), dengan melalui teori sifat dua puluh dan sifat Istighna dengan sifat Iftiqar itu. sehingga Ilmu Kalam berjalan sendiri , ilmu Tauhid Sunni lain pula. Sedangkan ilmu Tauhid Salafi mendapat pencerahan kembali, oleh Ibnu Taimiyah ( 661 H s/d 724 H ) dan didukung oleh Ibnu Qayyim , yang tetap textbook , setelah + 400 tahun diimbangi oleh Tauhid Sunni. Karena itu, masyhurlah sebagai peletak dasardasar Ilmu Tauhid Sunni yang disandarkan kepada dua Imam yaitu Abul Hasan al-Asyari dan Abul Mansur al-Maturidi, karena merekalah yang pertama menyusun, mengumpulkan ilmu ini dan menjelaskan dalil-dalilnya secara terperinci, yang berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu diantara berbagai ilmu-ilmu agama lainnya.4 Lain dengan para Ulama NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern. Sebutan dalam penamaan ilmu ini ada yang menamakan sebagai berikut :

http://nyimpanilmu.blogspot.com/2011/01/sejarah-ringkas-perkembanganilmu.html

1. Ilmu Tauhid, yaitu ilmu mengesakan Tuhan atau ilmu kepercayaan bahwa, hanya satu (Esa) Tuhan yang kita percayai dan disembah, atau ilmu menisbatkan sifat Esa kepada Tuhan.
2. Ilmu Ushuluddin, yaitu ilmu pokok-pokok agama, dinamakan demikian

karena, memang soal kepercayaan itu betul-betul menjadi dasar atau pokok segala soal yang lain-lain dalam agama. 3. Ilmu Kalam, yaitu ilmu pembicaraan, karena dengan pembicaraanlah, pengetahuan ini dapat dijelaskan, dan dengan pembicaraan yang tepat, kepercayaan yang benar dapat ditanamkan. Juga dinamakan ilmu Kalam karena ilmu ini asal mulanya, banyak membicarakan tentang kalamullah Al-Quran apakah qadim ataukah hadits? Dan dengan sebab itulah ilmu ini berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu, yang dipelopori oleh kaum Mutazilah, sejak Wasil bin Atha memisahkan diri dari gurunya Hasan AlBasri. 4. Ilmu Aqaid atau Aqaidul Iman, yaitu ilmu ikatan kepercayaan, karena dalam pengetahuan ini, ada pasal-pasal yang harus diikat dengan erat dalam hati yang menjadi kepercayaan teguh, kuat dan kokoh.
5. Pelajaran Sifat Dua Puluh, yaitu Sifat Kamalat Allah Taala yang telah ada

dalil Naqli dan dalil Aqli, yang wajib diketahui setiap mukallaf menurut syara agar tauhidnya benar dan kuat.5
B. Tokoh-tokoh dan Pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah

1. Imam Abu Hanifah Imam Abu Hanifah an-Nu'man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Nasab dan Kelahirannya Beliau adalah Abu Hanifah an-Nu'man bin Tsabit bin Zuthi (ada yang mengatakan Zutha) at-Taimi al-Kufi maula bani Taimillah bin Tsa'labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa Persi.
5

http://nyimpanilmu.blogspot.com/2011/01/sejarah-ringkas-perkembanganilmu.html

Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus-shahabah dan para ulama berselisih pendapat tentang tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut penuturan anaknya, Hamad bin Abu Hanifah, bahwa Zuthi berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang lainnya mengatakan dari Turmudzi dan yang lainnya lagi mengatakan dari Babilonia. Kehidupannya Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah, cucunya, menuturkan bahwa dahulu Tsabit, ayah Abu Hanifah, pergi mengunjungi 'Ali bin Abi Thalib, lantas 'Ali mendoakan keberkahan kepadanya, pada dirinya dan keluarganya, sedangkan dia pada waktu itu masih kecil, dan kami berharap Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa 'Ali tersebut untuk kami. Dan Abu Hanifah at-Taimi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin Harits. Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Beliau disibukkan dengan mencari atsar/hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahanpermasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya. Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari

ulama lain seperti Atha' bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, asy-Sya'bi, Adi bin Tsabit, 'Abdurrahman bin Hurmuj al-A'raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi', Nafi' maula Ibnu 'Umar, Qotadah bin Di'amah, Qois bin Muslim, 'Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Ja'far al-Baqir, Ibnu Syihab az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat. Beliau pernah bercerita, tatkala pergi ke kota Bashrah, saya optimis kalau ada orang yang bertanya kepadaku tentang sesuatu apapun saya akan menjawabnya, maka tatkala diantara mereka ada yang bertanya kepadaku tentang suatu masalah lantas saya tidak mempunyai jawabannya, maka aku memutuskan untuk tidak berpisah dengan Hamad sampai dia meninggal, maka saya bersamanya selama 10 tahun. Pada masa pemerintahan Marwan salah seorang raja dari Bani Umayyah di Kufah, beliau didatangi Hubairah salah satu anak buah raja Marwan meminta Abu Hanifah agar menjadi Qadhi (hakim) di Kufah akan tetapi beliau menolak permintaan tersebut, maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali (setiap harinya dicambuk 10 kali), tatkala dia mengetahui keteguhan Abu Hanifah maka dia melepaskannya. Adapun orang-orang yang belajar kepadanya dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abul-Hajaj di dalam Tahdzib-nya berdasarkan abjad diantaranya Ibrahin bin Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin al-Aghar bin ashShabah, Ishaq al-Azraq, Asar bin Amru al-Bajali, Ismail bin Yahya alSirafi, al-Harits bin Nahban, al-Hasan bin Ziyad, Hafsh bin 'Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud ath-Thai, Sulaiman bin Amr an-Nakhai, Su'aib bin Ishaq, 'Abdullah ibnul-Mubarak, 'Abdul-'Aziz bin Khalid at-Turmudzi, 'AbdulKarim bin Muhammad al-Jurjani, 'Abdullah bin Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-Qadhi, 'Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu'aim, al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad bin Hasan Assaibani, Muhammad bin 'Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Qashim al-Asadi,

Nu'man bin Abdus-Salam al-Asbahani, Waki' bin al-Jarah, Yahya bin Ayub al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab al-Hanath Assamaqandi, alQadhi Abu Yusuf, dan lain-lain. 2. Imam Malik Ia adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir al-Ashbahi alHimyari al-Madani. Ibunya bernama 'Aliyah binti Syuraik al-Azdiyah. Imam Darul-Hijrah adalah gelar yang disandangnya, dengan kunyah Abu 'Abdillah. Ia terlahir di kota Madinah pada tahun 93H. Tahun itu kaum muslimin berkabung karena wafatnya Anas bin Malik an-Najjari al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Tanda-tanda keluarbiasaannya telah tampak sejak ia berada dalam kandungan, karena tak seperti bayi yang lain, ia berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun. Pada masa pertumbuhannya, Malik bin Anas hidup dalam lingkungan yang terjaga, penuh suasana bahagia dan keindahan. Ia mulai menuntut ilmu pada usianya yang belia. Ketika masih berusia belasan tahun, beliau sudah menimba ilmu dari ulama generasi tabi'in yang masih ada saat itu seperti Nafi' maula Ibnu Umar, Sa'id al-Maqburi, 'Amir bin 'Abdullah bin az-Zubair bin al-'Awwam, Muhammad bin al-Munkadir, azZuhri, Abdullah bin Dinar, Ayub as-Sikhtiyani, Ja'far bin Muhammad ashShadiq, Humaid ath-Thawil, Rabi'ah ar-Ra'y, Zaid bin Aslam, Salamah bin Dinar, Shalih bin Kaisan, Abu Zinad 'Abdullah bin Dzakwan, 'Atha' alKhurasani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa'id al-Anshari dan masih banyak lagi yang lainnya dari generasi tabi'in. Begitu pula ia mengambil ilmu dari teman-teman seangkatannya dari para atba' tabi'in yang samasama menuntut ilmu. Sehingga bila dihitung jumlah semua orang yang pernah ia ambil ilmunya adalah sekitar 1.400 orang. Begitu banyak guru yang mengajarnya, sehingga tidaklah mengherankan bila kemudian ia menjadi sosok seorang alim sejati yang pada usia dua puluh satu tahun sudah bisa berfatwa. Usia yang masih relatif

muda untuk ukuran seorang alim pada zamannya. Bahkan ia menjadi seorang imam dalam bidang hadits di kota kelahirannya, Madinah, kota Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam; kota tempat kaum muslimin berhijrah pada awal perjuangan Islam. Karena itulah ia digelari dengan Imam DarulHijrah. Selain sebagai seorang ahli dalam bidang hadits, ia juga adalah seorang yang faqih di masanya. Ijtihad dan pendapat-pendapatnya kemudian dijadikan pegangan oleh banyak kaum muslimin dan dijadikan sebagai suatu mazhab yang dianut sampai saat ini. Karena keluasan ilmu hadits dan fikih yang dimilikinya, banyak orang yang duduk mengambil faedah dan berguru kepadanya. Bahkan yang menimba ilmu adalah guru-gurunya sendiri seperti pamannya sendiri Abu Suhail, Yahya bin Abi Katsir, az-Zuhri, Yahya bin Said al-Anshari, Yazid bin al-Had, Zaid bin Abi Unaisah, Umar bin Muhammad bin Zaid, dan lainnya. Dan banyak pula teman-teman sebayanya yang menimba ilmu darinya seperti Mamar, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, al-AuzaI, Syubah atsTsauri, al-Laits bin Saad, Hammad bin Zaid, dan yang lainnya. Belum lagi murid-murid yang tingkatannya dibawah beliau seperti Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin al-Mubarak, ad-Darawardi, Ibnu Ulayyah, Muhammad bin al-Hasan al-Faqih, Abdurrahman bin Mahdi, Abdullah bin Wahb, Waqi, Yahya al-Qaththan, Abu Hudzafah, dan salah satunya adalah imam yang masyhur diantara imam yang empat, yaitu Imam as-SyafiI rahimahullah-, serta masih banyak lagi yang lain dari berbagai penjuru negeri. Banyak kalimat dan atsar dari beliau yang menunjukkan beliau adalah seorang Imam pembela aqidah dan Sunnah, serta memerangi bid'ah dan para pelakunya. Diantaranya, beliau pernah berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pemimpin setelahnya (Khulafa' Rasyidun) telah menetapkan sunnah-sunnah. Menjalankannya berarti mengikuti Kitabullah yang merupakan bentuk ketaatan sempurna kepada Allah dan keteguhan di atas agama-Nya. Siapa saja yang mengambilnya sebagai petunjuk, maka akan diberi petunjuk, dan siapa pun yang mencari pertolongan dengannya, niscaya dia akan ditolong. Sebaliknya,

barangsiapa yang meninggalkan jalan kaum mukminin (yakni para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam), maka Allah akan memalingkannya ke arah mana dia berpaling, lalu memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali wal 'iyadzu billah-. Asy-Syafi'i menceritakan bahwa Imam Malik pernah didatangi oleh sebagian ahli bid'ah lalu beliau berkata; Adapun aku, maka sungguh aku berada diatas petunjuk agamaku, adapun kamu pergilah kepada orang yang ragu sepertimu, lalu beliau pun membantah mereka. Imam Malik pernah ditanya; Apa pendapatmu tentang orang yang mengatakan al-Qur'an itu makhluk? Beliau menjawab; Dia itu seorang zindiq (kafir), maka bunuhlah. Di lain waktu beliau mengatakan; al-Qur'an itu kalamullah. Kalamullah adalah bagian dari (dzat dan sifat) Allah, dan tidak ada satu pun dari (sifat dan dzat) Allah yang dikatakan makhluk. Beliau juga pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, jawab beliau; Saya berpendapat bahwa mereka harus diminta bertaubat. Jika mereka bertaubat, (maka diterima taubatnya), sedang jika tidak, maka dibunuh. Pernah ada seseorang datang kepada Imam Malik membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


Artinya; Allah beristiwa' di atas 'Arsy. (QS. Thaha [20] : 5) Kemudian orang itu bertanya; Bagaimana istiwa' Allah itu? Imam Malik marah sampai berkeringat dan mengetuk-ngetuk tongkatnya ke tanah seraya berkata; Istiwa' itu sama diketahui maknanya (dalam bahasa Arab). Adapun hakikatnya, tidaklah diketahui. Mengimaninya wajib, dan bertanya 'bagaimananya' adalah bid'ah. Dan saya kira kamu ini seorang ahli bid'ah. Beliau lalu meminta agar orang itu dikeluarkan dari majelisnya.

Dalam riwayat lain beliau menjawab; Allah ber-istiwa' sebagaimana yang Ia sifati sendiri untuk diri-Nya, tidak boleh ditanya bagaimananya. Beliau juga mengatakan; Allah itu di atas langit, dan ilmunya ada di segala tempat. Tiada satu pun yang terluput dari pengetahuan-Nya. Demikianlah kalimat-kalimatnya yang tegas dalam memegang Sunnah dan aqidah yang lurus, serta memerangi bid'ah dan para pelakunya. 3. Syaikh Nashiruddin al-Albani Beliau rahimahullah adalah salah seorang imam Ahlus-Sunnah abad ini, yang mengorbankan seluruh hidupnya demi mengabdikan diri kepada Allah, seorang laki-laki agung yang namanya telah memenuhi cakrawala. Beliau rahimahullah tidak saja dikenal sebagai seorang ulama ahli hadits, akan tetapi beliau rahimahullah juga salah seorang diantara barisan para ulama yang mendapat predikat sebagai pembaharu Islam (Mujaddid alIslam). Nama, Kelahiran dan Pertumbuhan Syaikh al-Albani rahimahullah Beliau adalah Muhammad Nashiruddin bin Nuh, dikenal dengan kuniah Abu 'Abdurrahman. Beliau lahir tahun 1914 M di tengah sebuah keluarga yang sangat sederhana dan sibuk dengan ilmu agama, di ibukota Albania. Bapaknya, haji Nuh, adalah salah seorang ulama besar Albania kala itu, yang pernah menuntut ilmu di Istambul, Turki, kemudian kembali ke Albania untuk mengajarkan ilmu dan berdakwah. Lingkungan keluarga yang menaungi Syaikh al-Albani ketika masih kanak-kanak, penuh dengan cahaya Islam, yang tampak sangat terjaga dalam setiap sisi. Hijrah Demi Melindungi Agama Ketika Ahmad Zogo menjadi raja Albania, dia mulai melancarkan berbagai perubahan aturan sosial yang revolusioner bagaikan hantaman hebat yang menggoncangkan pondasi-pondasi lingkungan Islami tersebut. Karena tindakan yang dilakukan oleh raja Ahmad Zogo tersebut sama dengan apa yang dilakukan oleh thaghut Turki, Mustafa Ataturk; dimana para wanita Albania diharuskan menanggalkan hijabnya, sehingga rangkaian fitnah dan malapetaka pun tak terhindarkan. Sejak saat itu,

mulailah kaum muslimin yang mengkhawatirkan agama mereka, berhijrah ke berbagai negeri. Termasuk diantara yang paling pertama hijrah adalah keluarga Syaikh Haji Nuh, yang membawa agama dan keluarganya ke Suriah. Termasuk di dalamnya, sang Imam kecil, Muhammad Nashiruddin al-Albani. Al-Albani Mulai Menuntut Ilmu Di Damaskus, lelaki kecil Muhammad Nashiruddin mulai menimba ilmu dengan mempelajari Bahasa Arab di Madrasah Jam'iyah al-Is'af alHairi. Disanalah beliau rahimahullah mulai menapaki dunia ilmu dan kemudian mendaki kemuliaan sebagai seorang alim. Orang yang paling pertama menanamkan pengaruhnya adalah bapaknya sendiri, Haji Nuh, yang merupakan salah seorang ulama Madzhab Hanafi kala itu. Dan untuk berapa lama beliau rahimahullah mengikuti taqlid madzhabi yang diajarkan bapaknya. Akan tetapi hidayah Allah selalu datang kepada orang yang dikehendaki-Nya kebaikan pada dirinya. Dan kemudian beliau rahimahullah muncul sebagai seorang yang tidak terkekang madzhab tertentu. Begitulah al-Albani muda ini muncul sebagai seorang pemuda yang unggul dalam kajian hadits, yang pindah dari satu majelis pengajian ke majelis lainnya demi menimba ilmu. Semua sepak terjang beliau rahimahullah dalam mencari ilmu tadi, berbarengan dengan kehidupan beliau rahimahullah yang sangat pas-pasan. Sehingga untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari, beliau bergelut sebagai seorang tukang (servis) jam, dan beliau dikenal sangat ahli dalam pekerjaan tersebut. Dan semua itu sama sekali tidak menghalangi beliau rahimahullah untuk menjadi seorang alim yang besar di kemudian hari. Menjadi Guru Besar di Universitas Islam Madinah Berkat jerih payah dan keuletan sang Imam -dan tentu saja karena taufik dari Allah-, sejumlah karya tulis beliau rahimahullah mulai terbit dari tangan beliau dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, akidah dan lainnya, terlebih dalam ilmu hadits yang memang merupakan spesifikasi beliau; yang menunjukkan kepada dunia ilmiah, luasnya ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada beliau rahimahullah; berupa pemahaman yang shahih, ilmu yang luas, dan kajian yang dalam tentang hadits, dari berbagai

sisinya. Ditambah lagi dengan manhaj beliau yang lurus, yang menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai tolok ukur dan dasar dalam segala sesuatu. Semua itu menjadikan sang Imam muncul sebagai sosok yang fenomenal, menjadi rujukan ahli ilmu dan dengan cepat keutamaan yang ada pada diri beliau dikenal oleh berbagai kalangan. Maka ketika Universitas Islam Madinah mulai dirintis, yang dipelopori oleh Syaikh al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, yang saat itu adalah Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh al-Albani rahimahullah langsung menjadi pilihan untuk menjadi guru besar Bidang Studi Hadits disana. Disana sang Imam sempat mengajar, dengan berbagai suka dan duka, selama tiga tahun. Dalam masa-masa itu, beliau rahimahullah adalah figur dan teladan dalam keuletan, kesungguhan dan keikhlasan mengabdi, sampai seringkali, pada waktu istirahat diantara mata pelajaran, beliau ikut serta duduk di tengah para mahasiswa diatas pasir demi menjawab pertanyaan dan berdiskusi dengan murid-murid beliau. Beliau adalah seorang yang sangat rendah hati, sehingga di tengah para mahasiswanya, beliau bagaikan salah seorang diantara mereka. Tak heran bila mobil pribadi beliau yang sederhana selalu dipenuhi oleh para murid-murid beliau yang selalu ingin mengambil faidah dari beliau rahimahullah. Kedekatan dan keakraban beliau adalah bukti bahwa pengajaran-pengajaran beliau memang menuai berkah disana. Diantara kenangan dan berkah yang masih tersisa sampai saat ini di Universitas Islam Madinah adalah metodologi kuliah yang beliau sampaikan dalam sub-disiplin "Ilmu Isnad." Beliau mengajarkan bidang ini dengan metode, memilih hadits dari Shahih Muslim misalnya, lalu menuliskannnya di papan tulis lengkap dengan sanad. Berikutnya beliau membawa kitabkitab biografi rawi-rawi hadits, lalu menjelaskan kepada para mahasiswa tentang metodologi kritik rawi dan metodologi takhrij hadits, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Pengajaran Ilmu Isnad yang dirintis beliau ini, menempatkan sosok beliau rahimahullah sebagai guru yang paling pertama menetapkan subdisiplin ini sebagai mata pelajaran di perguruan tinggi, dan itu yang paling pertama di dunia. Dan ketika sang Imam meninggalkan Universitas Islam Madinah untuk menetap di Yordania, metodologi pengajaran ini terus dijalankan oleh para dosen yang menggantikan beliau. Menjadi Imam Para Ulama Ahli Hadits Abad Ini

Begitu banyaknya karya tulis dan hasil-hasil studi beliau rahimahullah dalam dsiplin ilmu hadits; yang dikenal dengan kesimpulankesimpulan yang detil dan cermat, menjadikan beliau rahimahullah sebagai rujukan para ulama dan para penuntut ilmu di berbagai negara Islam. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk mengambil faidah dari berkah ilmu beliau.

Berikut ini beberapa hal yang menggambarkan kedudukan tinggi beliau: 1. Beliau rahimahullah terpilih sebagai anggota pada dewan kajian hadits yang dibentuk oleh Mesir dan Suriah, untuk memimpin komite publikasi kitab-kitab sunnah. Menjadi guru besar bidang studi hadits di Universitas Islam Madinah, sebagaimana yang telah disinggung. Bahkan kemudian beliau dipilih sebagai anggota dewan rektor di universitas yang sama, periode 13811383 H. Beliau pernah diminta menjadi guru besar di Universitas as-Salafiyah, India, tapi beliau tidak menyanggupi. Beliau juga pernah diminta oleh Menteri Wakaf Saudi Arabia, Syaikh Hasan 'Abdullah Alu asy-Syaikh, untuk menjadi guru besar ilmu hadits di Universitas Makkah al-Mukarramah. Oleh Raja Khalid bin 'Abdul-Aziz, raja Saudi Arabia, beliau terpilih kembali sebagai anggota dewan rektor Universitas Islam Madinah periode 1395-1398 H. Perpustakaan azh-Zhahiriyah, di Damaskus, mengkhususkan satu ruang tersendiri untuk Syaikh, demi memudahkan studi dan penelitian beliau. Dan ini tidak pernah terjadi bagi seorang pun sebelum beliau.

2.

3. 4.

5.

6.

4. Imam Abul Hasan Al-Asyari Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asyari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Abu Musa Al-Asyari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang masyhur.

Beliau -Abul Hasan Al-Asyari- Rahimahullah dilahirkan pada tahun 260 H di Bashrah, Irak. Beliau Rahimahullah dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demikian juga, beliau dikenal dengan qanaah dan kezuhudannya. Guru-gurunya Beliau Rahimahullah mengambil ilmu kalam dari ayah tirinya, Abu Ali alJubai, seorang imam kelompok Mutazilah. Ketika beliau keluar dari pemikiran Mutazilah, beliau Rahimahullah memasuki kota Baghdad dan mengambil hadits dari muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Yaqub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ulama thabaqah mereka. Taubatnya dari aqidah Mutazilah Al-Hafizh Ibnu Asakir berkata di dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asyari, Abu Bakr Ismail bin Abu Muhammad al-Qairawani berkata, Sesungguhnya Abul Hasan al-Asyari awalnya mengikuti pemikiran Mutazilah selama 40 tahun dan jadilah beliau seorang imam mereka. Suatu saat beliau menyepi dari manusia selama 15 hari, sesudah itu beliau kembali ke Bashrah dan shalat di masjid Jami Bashrah. Seusai shalat Jumat beliau naik ke mimbar seraya mengatakan: Wahai manusia, sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada hari-hari yang lalu karena aku melihat suatu permasalahan yang dalil-dalilnya sama-sama kuat sehingga tidak bisa aku tentukan mana yang haq dan mana yang batil, maka aku memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Taala sehingga Allah memberikan petunjuk kepadaku yang aku tuliskan dalam kitab- kitabku ini, aku telah melepaskan diriku dari semua yang sebelumnya aku yakini, sebagaimana aku lepaskan bajuku ini. Beliau pun melepas baju beliau dan beliau serahkan kitab-kitab tersebut kepada manusia. Ketika ahlul hadits dan fiqh membaca kitab-kitab tersebut mereka mengambil apa yang ada di dalamnya dan mereka mengakui

kedudukan yang agung dari Abul Hasan al-Asyari dan menjadikannya sebagai imam. Para pakar hadits (Ashhabul hadits) sepakat bahwa Abul Hasan alAsyari adalah salah seorang imam dari ashhabul hadits. Beliau berbicara pada pokok-pokok agama dan membantah orang-orang menyeleweng dari ahli bidah dan ahwa dengan menggunakan al-Quran dan Hadits dengan pemahaman para sahabat. Beliau adalah pedang yang terhunus atas Mutaziah, Rafidhah, dan para ahli bidah. Abu Bakr bin Faurak berkata, Abul Hasan al-Asyari keluar dari pemikiran Mutazilah dan mengikuti madzhab yang sesuai dengan para sahabat pada tahun 300 H. Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Khalikan berkata dalam kitabnya, Wafayatul Ayan (2/446), Abul Hasan al-Asyari awalnya mengikuti pemikiran Mutazilah kemudian bertaubat. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya, al-Bidayah wan Nihayah (11/187), Sesungguhnya Abul Hasan al-Asyari awalnya adalah seorang Mutazilah kemudian bertaubat dari pemikiran Mutazilah di Bashrah di atas mimbar, kemudian beliau tampakkan aib-aib dan kebobrokan pemikiran Mutazilah. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya, al-Uluw lil Aliyyil Ghaffar, Abul Hasan alAsyari awalnya seorang Mutazilah mengambil ilmu dari Abu Ali al-Jubai, kemudian beliau lepaskan pemikiran Mutazilah dan jadilah beliau mengikuti Sunnah dan mengikuti para imam ahli hadits. Tajuddin as-Subki berkata dalam kitabnya, Thabaqah Syafiiyyah al-Kubra (2/246), Abul Hasan al-Asyari -mengikuti pemikiran Mutazilah selama 40 tahun hingga menjadi imam kelompok Mutazilah. Ketika Alloh menghendaki membela agamaNya dan melapangkan dada beliau untuk ittiba kepada al-Haq maka beliau menghilang dari manusia di rumahnya. (Kemudian Tajuddin as-Subki menyebutkan apa yang dikatakan oleh alHafizh Ibnu Asakir di atas). Ibnu Farhun al-Maliki berkata dalam kitabnya Dibajul Madzhab fi Marifati Ayani Ulamail Madzhab (hal. 193), Abul Hasan al-Asyari

awalnya adalah seorang Mutazilah, kemudian keluar dari pemikiran Mutazilah kepada madzhab yang haq madzhabnya para sahabat. Banyak yang heran dengan hal itu dan bertanya sebabnya kepada beliau, Maka beliau menjawab bahwa beliau pada bulan Ramadhan bermimpi bertemu Nabi Shalallahu alaihi wasallam yang memerintahkan kepada beliau agar kembali kepada kebenaran dan membelanya, dan demikianlah kenyataannya -walhamdulillahi Taala-. Murtadha az-Zabidi berkata dalam kitabnya Ittihafu Sadatil Muttaqin bi Syarhi Asrari lhya Ulumiddin (2/3), Abul Hasan al-Asyari mengambil ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubbai (tokoh Mutazilah), kemudian beliau tinggalkan pemikiran Mutazilah dengan sebab mimpi yang beliau lihat, beliau keluar dari Mutazilah secara terang-terangan, beliau naik mimbar Bashrah pada hari Jumat dan menyeru dengan lantang, Barangsiapa yang telah mengenaliku maka sungguh telah tahu siapa diriku dan barangsiapa yang belum kenal aku maka aku adalah Ali bin Ismail yang dulu aku mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk, bahwasanya Allah tidak bisa dilihat di akhirat dengan mata, dan bahwasanya para hamba menciptakan perbuatan-perbuatan mereka. Dan sekarang lihatlah aku telah bertaubat dari pemikiran Mutazilah dan meyakini bantahan atas mereka, kemudian mulailah beliau membantah mereka dan menulis yang menyelisih pemikiran mereka. Kemudian az-Zabidi berkata, Ibnu Katsir berkata, Para ulama menyebutkan bahwa Syaikh Abul Hasan al-Asyari memiliki tiga fase pemikiran: Pertama mengikuti pemikiran Mutazilah yang kemudian beliau keluar darinya, Kedua menetapkan tujuh sifat aqliyyah, yaitu; Hayat, Ilmu, Qudrah, Iradah, Sama, Bashar, dan Kalam, dan beliau menakwil sifat-sifat khabariyyah seperti wajah, dua tangan, telapak kaki, betis, dan yang semisalnya. Ketiga adalah menetapkan semua sifat Allah tanpa takyif dan tasybih sesuai manhaj para sahabat yang merupakan metode beliau dalam kitabnya al-Ibanah yang beliau tulis belakangan. 5. Imam Abu Mansur Al-Maturidi

Namanya adalah Muhammad bin Muhammad Abu Mansur Al-Maturidi, ia di lahirkan di sebuah kota yang bernama maturid didaerah Samarqand (termasuk daerah Uzbekistan) pada tahun 853 M dan meninggal pada tahun 333 H/ 944 M. Ia adalah pendiri dari aliran Al-Maturidiyah salah satu golongan aliran dari madzhab Ahlussunnah. Tidak seorangpun secara pasti mengetahui tahun kelahirannya. Ini adalah sebuah observasi penting karena ini berarti bahwa orang yang membuat isnad tidak mengetahui cukup informasi tentangnya untuk menjadikannya sebagai sumber, artinya tidak ada seorang alim pun yang pernah mengenalnya. Maturidi hidup sezaman dengan Asy'ari, hanya saja maturidi tinggal di samarqand sedangkan asy'ari tinggal bashrah. Asy'ari adalah pengikut dari madzhab syafi'iyah sedangkan maturidi adalah pengikut dari madzhab hanafiyah. Boleh jadi ada beberapa perbedaan pendapat antara kedua orang tersebut, karena adanya perbedaan pendapat antara syafi'i dan abu hanifah sendiri. Sebagai pengikut abu hanifah yang banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya, al maturidi banyak pula memakai akal dalam sistim teologinya. Maturidi mendasarkan fikiran-fikirannya dalam soal-soal kepercayaan kepada fikiran-fikiran Imam Abu Hanifah yang tercantum dalam kitabnya "al-fiqh al-akbar" dan "al-fiqh al-absat" dan memberikan ulasan-ulasannya terhadap kedua kitab tersebut. Oleh karena itu antara teologi maturidi dan asy'ari terdapat perbedaan, sungguhpun keduanya timbul sebagai reaksi terhadap aliran Mu'tazilah. Dalam soal sifat-sifat Tuhan terdapat persamaan antara almaturidi dan asy'ari. Baginya tuhan juga mempunyai sifat-sifat, maka menurut pendapatnya Tuhan mengetahui bukan karena zat-Nya, tetapi mengetahui dengan Pengetahuan-Nya, dan berkuasa bukan dengan zat-Nya. Tetapi dalam soal perbuatan-perbuatan manusia, al maturidi sependapat dengan golongan mu'tazilah bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya. dengan demikian dia mempunyai faham qadariah dan bukan faham jabariyah atau kasb asy'ari. Sama dengan asy'ari, al maturidi menolak ajaran mu'tazilah tentang alsalah wa al-aslah, tetapi disamping itu al maturidi berpendapat bahwa tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu, al maturidi juga tidak sefaham dengan mu'tazilah tentang masalah al-Qur'an yang menimbulkan

kehebohan waktu itu. Sebagaimana asy'ari ia mengatakan bahwa kalam atau sabda Tuhan tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim. Mengenai soal dosa besar al maturidi sefaham dengan al asy'ari yaitu bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan tuhan kelak di akhirat. Iapun menolak faham posisi menengah kaum mu'tazilah. Tetapi dalam soal al-wa'd wa al-wa'id almaturidi sefaham dengan mu'tazilah. Janji-janji dan ancaman-ancaman Tuhan, tidak boleh tidak mesti terjadi kelak. Dan juga dalam soal anthropomorphisme al maturidi sealiran dengan mu'tazilah. Ia tidak sependapat dengan dengan asy'ari bahwa ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi atau ta'wil. Menurut pendapatnya tangan, wajah dan sebagainya mesti diberi arti majazi atau kiasan. Salah satu pengikut penting dar al maturidi adalah Abu al-Yusuf Muhammad al-Bazdawi (421-493 H). Nenek al-bazdawi adalah murid dari al maturidi, dan al bazdawi mengetahui ajaran-ajaran al-maturidi dari orang tuanya. Al-bazdawi sendiri mempunyai murid-murid dan salah seorang dari mereka adalah Najm al-Din Muhammad al-Nasafi (460-537 H) pengarang buku al-'Aqa'idal nasafiah. Seperti al-Baqillani dan al-Juwaini, al-bazdawi tidak pula selamanya sefaham dengan al maturidi. Kemudian diantara tokoh aliran Maturidiyah ini terdapat perbedaan faham sehingga dapat dikatakan bahwa dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan. Yaitu golongan Samarqand yaitu pengikut-pengikut al maturidi sendiri, dan golongan Bukhara yaitu pengikut-pengikut al-Bazdaw. Jika golongan samarqand mempunyai faham-faham yang lebih dekat kepada faham mu'tazilah, maka golongan bukhara cenderung lebih dekat kepada pemahaman aliran asy'ariyah. 6. Imam Sanusi Muhammad Sanusi nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf Umar bin Syuaib dari suku Sanus, dilahirkan di kota Tilimsam, Aljazair pada tahun 832 H dan wafat pad ahari Ahad tanggal 18 Jummadil Akhir tahun 895 H, yang bertepatan dengan tanggal 9 Mei 1490 M dalam usia 63 tahun. Muhammad Sanusi belajar ilmu agama, aljabar dan matematika ditempat kelahirannya dengan ayahnya sendiri dan dengan kakak-kakaknya

seperti Talwati, Abu Abdullah Al-Haqab, Abul Hasan Al-Kasadi, Ibnu Marzuq dan Kasim Uqbani. Dan juga dengan para ulama yang ada didaerah itu seperti Abdurahman Tsalabi. Dan di antaranya Ibnu Hajaj Al-Yabdari, Ibnu Abbas Saghir, Ibnu Saad dan Abul Kasim. Dalam usia 16 tahun Muhammad Sanusi mulai menulis kitab-kitab agama, baik dalam bidang tauhid, fiqih dan tasawuf sehingga jumlah karya tulisnya mencapai 29 buah, 27 buah dalam bidang imlu tahuid dan Tasawuf dan hanya da buah dalam bidang ilmu fiqih. Sekalipun Muhammad Sanusi termasuk juga seorang ulama dalam kalangan madzhab Maliki ialah madzhab yang dianut oleh masyarakat Islam di Afrika Utara, namun tampaknya ia lebih banyak menulis dalam bidang Ilmu Tauhid ketimbang Ilmu Fiqih. Karena karya tulisnya begitu banyak Muhammad Sanusi menjadi ulama yang terkenal dan dihormati oleh para ulama di Afrikan Utara bahkan di seluruh dunia Islam. Muhammad Sanusi hidup pada masa berkembang taklid, para ulama masa itu merasa cukup dengan mengikuti yang sudah ditentukan oleh pendahulunya, tidak lagi berusaha menggali ajaran agama dalam sumber aslinya ialah Al-Quran dan sunnah, namun Muhammad Sanusi merasa belum puas dengan keadaan itu dan sangat mencela taklid dalam pelbagai tulisannya. Karena itulah Muhammad Sanusi termasuk salah satu seorang tokoh gerakan pembaruan yang muncul di Afrika Utara pada awal kurun kesembilan Hijriah. Salah satu kitab dalam Ilmu Tauhid yang terkenal yang ditulis oleh Muhammad Sanusi adalah kitab yang berjudul Aqidatu Ahlit Tauhidil Kubra yang juga dikenal dengan nama Ummul Barahain atau Sanusiah. Kitab ini sudah dicetak beberapa kali baik di Kairo (Mesir), FAz (Maroko) maupun di Mekah (Arab Saudi) dan juga Singapura. Dan kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Wolff dengan judul El Sanusi Begriffsentwicklung d Mohammedanischen Glaubekenntnisses yang dicetak di Leipziq pada tahun 1848 M. dan juga diterjemahkan oleh Luciani ke dalam bahasa Perancis dengan judul Petit Traite Theologie Musulmane diterbitkan di Aljazair pada tahun 1896 M. Delphin menerjemahkannya juga ke dalam bahasa Perancis yang dimuatnya dalam Majalah Jurnal African dengan judul Philosophie du Sheikh Senousi dapres son aqida es Sorra. Terjemahannya ke dalam bahasa Perancis dimuat oleh Luciani ke dalam Majalah revue African dengan judul A propes de la Tradition dela Sonussia. Kendatipun Muhammad Sanusi terhitung salah seorang penganut madzhab Ahlu sunnah namun dalam pemikiran tauhidnya berbeda dengan

pemiiran pendahulunya seperti Abul Hasan Al-Asyari yang wafat pada tahun 330 H dan juga berbeda dengan pemikiran Abul Manshur Al Maturidi yang wafat pada tahun 332 H, sehingga pemikirannya dalam tauhid mempunyai ciri khas yang berbeda dengan pemikiran pendahulunya dalam madzhab Ahlu Sunnah. Diantara pemikiran tauhidnya yang berbeda dengan Abul Hasan Al Asyari dan Abul Manshur Al Maturidi berpendapat iman taklid masih dianggap sah, tetapi sebaliknya Muhammad Sanusi berpendapat iman taklid tidak sah dan orang yang imannya baru pada tahap taklid dianggap ingkar yang kekal di dalam neraka (Ummul Barahain : 54, Tahqiqul Maqam : 18). Yang dimaksud dengan iman yang hanya mengikuti apa yang dikatakan guru tanpa mengenal dalil dan pendapat itu, baik dalil naqli maupun dalil aqli. Karena itu dalam pelbagai tulisannya ia mengatakan fardhu ain bagi setiap mukallaf mengenal dalil tafshili sedang para pendahulunya berpendapat yang menjadi fardhu ain bagi mukallaf mengenal dalil ijmali sedang mengenal dalil tafshili hanya fardhu kifayah. Muhammad Sanusi berbeda pendapat dengan Abul Hasan Al Asyari tentang jumlah sifat yang wajib bagi Allah hanya dua belas sifat (Tahqiqul Maqam : 66), Abul Manshur al Maturidi menghitung sifat wajib bagi Allah dua puluh sifat (Tahqiqul maqam : 61) sedang Muhammad Sanusi menghitung sifat wajib bagi Allah dua puluh sifat (Ummul Barahain : 54). Muhammad Sanusi sependapat dengan Abul ManshurAl Maturidi yang menganggap wujud termasuk sifat wajib bagi Allah tetapi sebaliknya Abul Hasan Al Asyari menolak wujud sebagai sifat dengan alasan wujud itu sendiri adalah zat-nya. C. Relevansi Kekinian Ahlussunnah adalah

BAB III PENUTUP