Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS FARMASI II PENETAPAN KADAR ZAT AKTIF DALAM SEDIAAN FARMASI TANPA PROSES PEMISAHAN

(PENETAPAN KADAR TRAMADOL & PARACETAMOL SECARA UV-VIS SIMULTAN)

OLEH : Kelompok 2 Golongan I Nyoman Darpita Wijaya Pande Nyoman Karismawan Putu Hengky Prawiranata Widyana Sagita Putri (0908505005) (0908505006) (0908505007) (0908505008)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

PENETAPAN KADAR TRAMADOL & PARACETAMOL SECARA UV-VIS SIMULTAN I. TUJUAN I.1. I.2. I.3. I.4. Menentukan kurva absorpsi campuran dua zat Menentukan panjang gelombang pengukuran Menentukan absorptivitas molar kedua zat pada setiap panjang gelombang pengukuran Menentukan kadar zat campuran secara simultan

II. DASAR TEORI 2.1 Spektrofotomeri UV-Vis Simultan Kadar larutan campuran dua zat dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri tanpa harus dipisahkan terlebih dahulu. Kedua zat harus memiliki panjang gelombang maksimum yang tidak berhimpit. Absorpsi larutan sampel/campurannya pada panjang gelombang pengukuran merupakan jumlah absorpsi dari masing-masing zat tunggalnya. Kadar masing-masing zat ditentukan menggunakan metode simultan (Susanti dkk., 2011). Bila diinginkan pengukuran 2 senyawa berbeda secara bersama-sama dengan spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang dimana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen yang lain yang paling kecil. Dua buah kromofor yang berbeda akan memberikan kekuatan absorpsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang . Pengukuran dilakukan pada beberapa panjang gelombang sehingga nantinya didapatkan dua panjang gelombang maksimum. Pada dua panjang gelombang maksimum ini akan didapatkan dua persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi masing-masing panjang gelombang. Akibatnya konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung. Mula-mula dipilih panjang gelombang yang mana perbandingan absortivitas maksimum, yaitu : (a1/a2) maksimum pada 1 dan (a2/a1) pada 2 (Gandjar dan Rohman, 2007). Hal tersebut dapat dilihat dari gambar di bawah ini:

Gambar 1. Spektra dua buah senyawa, senyawa I dan senyawa II (Sumber: Pecsok et al,1976) Dari Hukum Lambert Beer, dapat diketahui bahwa absorbansi berbanding lurus dengan absortivitas (a), tebal kuvet (b), dan konsentrasi (c). Supaya nilai b tetap maka selama pegukuran digunakan kuvet yang sama. Absorbansi senyawa 1,A1 = a1 b1 c 1 dan.............................................(1.1) Absorbansi senyawa 2,A2 = a2 b2 c 2 dan.............................................(1.2) Selama kuvet yang digunakan sama maka nilai b tetap sehingga kedua persamaan diatas menjadi persamaan (10-16) dan (10-17) A1 = a1 c 1 .............................................(1.3) A2 = a2 c 2 .............................................(1.4) (Gandjar dan Rohman, 2007) Pengukuran campuran 2 senyawa baik pada panjang gelombang 1(1) mapun panjang gelombang 2 (2) , oleh absorbansi pada kedua panjang gelombang tersebut merupakan jumlah dari absorbansi senyawa1 dan absorbansi senyawa 2 (perhatikan gambar diatas yang menggambarkan spektra dua buah senyawa,senyawa I dan II), yang secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut: A1 = (a1c 1) 1 + (a2c 2) 1 .............................................(1.5) A2 = (a1c 1) 2 + (a2c 2) 2 .............................................(1.6) Keterangan : nilai a (absorptivitas) dapat juga diganti dengan absorptivitas molar.Yang mana: c1 c2 : konsentrasi senyawa 1 : konsentrasi senyawa 2

(a1) 1 : absorptivitas senyawa 1 pada panjang gelombang pertama (a1) 2 : absorptivitas senyawa 1 pada panjang gelombang kedua (a2) 1 : absorptivitas senyawa 2 pada panjang gelombang pertama (a2) 2 : absorptivitas senyawa 2 pada panjang gelombang pertama A1 A2 : Absorbansi senyawa campuran pada panjang gelombang pertama : Absorbansi senyawa campuran pada panjang gelombang kedua

Spektrofotometri UV-Vis termasuk salah satu metode analisis instrumental yang frekuensi penggunaannya paling banyak serta merupakan instrumental yang banyak ditemukan dalam laboratorium kimia analisis. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif (Widjaja dkk, 2008). Analisis dengan spektrofotometri UV-Vis selalu melibatkan pembacaan absorban REM oleh molekul atau REM yang diteruskan. Keduanya dikenal dengan istilah absorban (A) tanpa satuan dan transmitan dengan satuan persen (%T) (Widjaja dkk, 2008). Apabila suatu REM dikenakan kepada suatu larutan dengan intensitas radiasi semula (I0), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (It), dipantulkan (Ir) dan diabsorpsi (Ia), sehingga:
I0 = It + Ir + Ia

Harga Ir ( 4%) dapat diabaikan karena pengerjaan dengan metode Spektofotometri UVVis menggunakan larutan pembanding sehingga:
I0 = It + Ia

Bouguer, Lambert dan Beer secara matematis menghubungkan antara transmitan dan absorban dengan intensitas radiasi sehingga didapatkan:

Dimana : T = persen transmitan Io = Intensitas radiasi yang datang It = Intensitas radiasi yang diteruskan = absorbansi molar (L.mol-1 cm-1) c = konsentrasi (mol.L-1) b = tebal larutan (cm) A = absorban (Widjaja, 2008).

2.2 Tramadol Tramadol atau trans-2-dimethylaminomethyl-1(3-methoxyphenyl) cyclo hexanol (C16H25NO2) dengan struktur kimia C16H25NO2 adalah campuran rasemik dari dua isomer (Moffat, et al., 2005). Khasiat analgetiknya sedang dan berdaya menghambat reuptake noradrenalin dan bekerja antitusif (anti-batuk). Obat ini di sebagian negara dianggap sebagai analgetikum opiat karena bekerja pusat, yakni melalui pendudukan reseptor -opioid oleh cisisomernya. Meskipun demikian zat ini tidak menekan pernapasan, praktis tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler atau motilitas lambung-usus (Tjay dan Rahardja, 2008). Tramadol dapat dikonsumsi secara tunggal ataupun dikombinasikan dengan acetaminophen (Moffat, et al., 2005)

Gambar 1. Struktur kimia tramadol (Moffat, et al.,2005) Tramadol bila diukur absorbansinya pada spektrofotometri UV akan memperlihatkan absorbansi maksimum pada larutan asam encer 272 nm (A11 = 70a), batas tepi 279 nm dan tidak mengalami pergeseran dalam larutan basa (Galichet, et al, 2004).

Gambar 2. Spektrum serapan UV tramadol (Moffat, et al., 2005)

2.3 Paracetamol Paracetamol memiliki nama lain Acetaminophen atau N-Acetylpaminophenol N-(4Hydroxyphenyl)acetamide (Moffat, et al., 2005). Khasiat dari parasetamol adalah sebagai analgesik dan antipiretik, tetapi tidak untuk antiradang. Dewasa ini parasetamol umumnya dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan mandiri) (Tjay dan Rahardja, 2008). Paracetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat. Parasetamol berupa hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, dan berasa pahit (Depkes RI, 1995). Memiliki berat molekul 151,2
gram

/mol ; pKa

9,5 (250) dan koefisien partisi 0,5. Titik didihnya dalam air berkisar antara 169.0 sampai 170.5. Paracetamol sedikit larut dalam air dingin, sangat larut dalam air panas, larut dalam etanol, metanol, dimetilformamide, etilene diklorida, aseton, dan etil asetat; sedikit larut dalam eter dan kloroform; serta tidak larut dalam petrolium eter, pentane dan benzene. Larutan jenuh parasetamol memiliki pH antara 5,3-6,5 (Moffat, et al., 2005).

Gambar 3. Struktur kimia parasetamol (Moffat, et al., 2005) Parasetamol bila diukur absorbansinya pada spektrofotometri UV akan memperlihatkan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 245 nm (A11 = 668a) untuk larutan asam dan 257 nm untuk larutan basa (A11 = 715a) (Moffat, et al., 2005).

Gambar 4. Spektrum serapan UV parasetamol (Moffat, et al., 2005)

III.

ALAT DAN BAHAN 3.1 Alat a) b) c) d) e) g) h) Gelas beaker Neraca analitik Pipet ukur Pipet tetes Lap Corong gelas Sendok tanduk

f)Kertas saring

i) Batang pengaduk j) Labu ukur 10 mL k) m) n) o) 3.2 Bahan Parasetamol baku Tramadol baku NaOH Air suling Metanol Labu ukur 25 mL Seperangkat alat UV-Vis Vial Kertas perkamen l) Labu ukur 100 mL

a)

b)

c)

d)

e)

IV. PROSEDUR KERJA IV.1. Pembuatan Larutan (berdasarkan literatur) 4.1.1 Pembuatan larutan NaOH 0,1 N Perhitungan Diketahui : Normalitas NaOH Volume NaOH = 0,1 N = 100 mL = 0,1 L

BM NaOH Ditanya M NaOH : Massa NaOH...?

= 40 gram mol

Perhitungan : = Normalitas : ekivalen = 0,1 grek L : 1 mol grek = 0,1 M Mol NaOH = Molaritas NaOH x Volume NaOH = 0,1 mol L x 0,1 L = 0,01 mol Massa NaOH = Mol NaOH x BM NaOH = 0,01 mol x 40 gram mol = 0,4 gram Pembuatan NaOH ditimbang sebanyak 0,4 gram, kemudian dimasukkan ke dalam gelas beaker kecil dan dilarutkan dengan 10 mL aquadest. Setelah larut sempurna, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL (gelas beaker dibilas dengan aquadest, air bilasan dimasukkan ke dalam labu ukur). Aquadest ditambahkan sampai 100 mL, labu ukur digojog sampai larutan homogen. 4.1.2 Pembuatan larutan baku primer Paracetamol 1 mg/mL Perhitungan Diketahui Ditanya : massa serbuk parasetamol = 10 mg V larutan : Konsentrasi...? Perhitungan : C = =
gram paracetamo l V laru tan
10 mg 10 mL

= 10 mL

= 1 mg mL

Pembuatan Ditimbang sebanyak 10 mg paracetamol baku, kemudian dimasukkan ke dalam gelas beaker kecil dan dilarutkan dengan metanol. Ditambahkan methanol sampai tanda batas dan dihomogenkan. Pengenceran larutan baku primer Paracetamol (10 g mL ) = 1 mg mL = 20 mL = 10 g = 0,01 Ditanya C1 mg 1 mL : Vbaku primer PCT....? V1 V1 V1 Pembuatan Larutan baku primer paracetamol dipipet sebanyak 0,1 mL sebanyak 2 kali, Kemudiaan dimasukkan ke dalam labu ukur masing-masing 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 10 g/mL. 4.1.4

4.1.3

Perhitungan Diketahui : Cbaku primer PCT (C1) Vpengenceran PCT (V2) Cpengenceran PCT (C2)

mL mL

mg

Perhitungan : = = = C2 0,01 0,2 mL V2 20 mL

Pembuatan Larutan Baku Kerja Paracetamol

Perhitungan Konsentrasi yang memberikan A = 0,434 Diketahui : A = 0,434 A1%1cm = 715 100 mL g.cm b Ditanya : C...? = 1 cm

Perhitungan A

: = A1%1cm x b x c

0,434 = 715 100 mL g.cm x 1 cm x c c = 6,07 x 10-4 g 100 mL = 6,07 x 10-3 mg mL Pengenceran Diketahui : Cpengenceran PCT (C1) Cbaku kerja PCT (C2) Vbaku kerja PCT (V2) Ditanya Perhitungan C1 mg 0,01
mL

= 0,01 mg mL = 6,07 x 10-3 mg mL = 20 mL

: Vpengenceran PCT....? : V1 V1 V1 = = C2 6,07 x 10


-3

V2 20mL

= 12,14 mL

Pembuatan Larutan hasil pengenceran baku primer paracetamol dipipet sebanyak 6,07 mL sebanyak 2 kali, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur masingmasing 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 6,07 x 10-3 mg/mL. 4.1.5 Pembuatan Larutan Baku Primer Tramadol HCl (1 mg/mL)

Serbuk tramadol HCl baku ditimbang sebanyak 10 mg. Kemudian serbuk tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL. Serbuk dilarutkan dengan 5 mL metanol, digojog sampai serbuk tramadol HCl terlarut sempurna. Selanjutnya ditambahkan metanol sampai 10 mL, labu ukur digojog sampai larutan homogen, konsentrasi diperoleh sebesar 1 mg/mL.
4.1.6

Pengenceran larutan baku primer tramadol (100 g mL )

Perhitungan Diketahui : Cbaku primer tramadol(C1) Vpengenceran tramadol(V2) Cpengenceran tramadol (C2) = 1 mg mL = 20 mL = 100 g
mL mg mL

= 0,1 Ditanya C1 mg 1 mL : Vbaku primer Tramadol....? V1 V1 V1 Pembuatan = = = C2 mg

Perhitungan : V2 20 mL

0,1 mL 2 mL

Larutan baku primer tramadol dipipet sebanyak 1 mL sebanyak 2 kali, Kemudiaan dimasukkan ke dalam labu ukur masing-masing 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 100 g/mL. 4.1.7

Pembuatan Larutan Baku Kerja Tramadol HCl

Perhitungan Konsentrasi yang memberikan A = 0,434 Diketahui : A = 0,434 A1%1cm = 70 100 mL g.cm b Ditanya Perhitungan A : C...? : = A1%1cm x b x c = 1 cm

0,434 = 70 100 mL g.cm x 1 cm x c c = 6,2 x 10-3 g 100 mL = 6,2 x 10-2 mg mL

Pengenceran Diketahui : Cpengenceran tramadol (C1) Cbaku kerja tramadol (C2) = 0,1 mg mL = 6,2 x 10-2 mg mL

Vbaku kerja tramadol (V2)= 20 mL Ditanya Perhitungan C1 0,1 mg mL : Vpengenceran Tramadol : V1 V1 V1 Pembuatan Larutan hasil pengenceran baku primer paracetamol dipipet sebanyak 6,2 mL sebanyak 2 kali, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur masingmasing 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 6,2 x 10-2 mg/mL. 4.1.8 Penyiapan campuran (Paracetamol dan Tramadol HCl) Larutan baku primer paracetamol dipipet sebanyak 0,0607 mL dan larutan baku primer tramadol HCl sebanyak 0,62 mL. Kedua larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas (kadar masing-masing paracetamol dan tramadol HCl dalam campuran berturut-turut adalah 6,07 x 10-3 mg/mL dan 6,2 x 10-2 mg/mL). = = C2 6,2 x 10-2 V2 20mL

= 12,4 mL

4.1.9

Penyiapan Larutan sampel

Ekstraksi dengan NaOH 0,1 N.

Berat tiap tablet =

PCT = 325 mg TRA = 37,5 mg

Digerus 3 tablet = 443,56 mg x 3 = 1330,68 mg Sehingga : PCT = 975 mg TRA = 112,5 mg

Sesuai dengan FI III, diambil 150 mg zat aktif dilarutkan dalam 50 ml NaOH 0,1 N. Tetapi untuk memudahkan semua komponen dibagi 5 sehingga diambil 30 mg zat aktif dalam 10 ml NaOH 0,1 N. Yang dihitung dalam pembuatan larutan sampel ini hanya kadar paracetamol saja, karena nantinya kadar tramadol akan mengikuti nilai dari kadar paracetamol. Perhitungan :
975 mg 30 mg = 1330 ,68mg x

x = 40,944 mg
Dilarutkan serbuk sebesar 40,944 tersebut dengan 10 ml NaOH 0,1 N,

sehingga kadar PCT : 30 mg

10mL =

3 mg

mL

Ditambahkan 20ml air (kocok selama 15 menit), dan disaring. Kadar PCT = 30
mg 30mL = 1mg mL

Sehingga dalam 30 ml larutan mengandung 30 mg PCT dan 3,47 mg TRA. Kadar PCT = 1mg/ml Kadar TRA = 0,116 mg/ml

Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar PCT 30g/ml dan TRA 3,48

g/ml dalam 10 ml. PCT : C1 1 mg mL V1 V1 V1 = = = C2 g V2 10 mL

30 mL 0,3 mL

Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x 10-3 mg/mL. V. SKEMA KERJA 5.1 Pembuatan NaOH 0,1 N Ditimbang 0,4 gram NaOH

Dilarutkan dengan 10 mL aquadest dalam gelas beaker kecil

Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL (gelas beaker dibilas)

Ditambahkan aquadest sampai 100 mL, gojog hingga homogen

5.2

Pembuatan larutan baku Paracetamol Ditimbang 10 mg serbuk Paracetamol baku

Dilarutkan dengan 5 mL matanol dalam labu ukur 10 mL, labu ukur digojog hingga serbuk larut sempurna

Ditambahkan metanol sampai 10 mL, labu ukur digojog hingga larut homogen

5.3 Pengenceran larutan baku primer Paracetamollarutan baku primer Paracetamol, Dipipet sebanyak 0,1 mL

dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL, digojog hingga homogen. Prosedur dilakukan 2 kali.

5.4 Pembuatan larutan baku kerja Acetaminofen (Paracetamol)

Dipipet sebanyak 6,07 mL larutan hasil pengenceran baku primer Paracetamol, dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL, digojog hingga homogen. Prosedur diulang sebanyak 2 kali. (konsentrasi yang diperoleh 6,07 x 10-3 mg/mL

5.5

Pembuatan larutan baku primer Tramadol HCl Ditimbang 10 mg serbuk Tramadol HCl, dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL

Dilarutkan dengan 5 mL metanol, digojog hingga serbuk larut sempurna

Ditambahkan metanol hingga 10 mL, labu ukur digojog hingga homogen

5.6 Pengenceran larutan baku primer tramadol larutan baku primer Paracetamol, Dipipet sebanyak 1 mL

dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL, digojog hingga homogen. Prosedur dilakukan 2 kali. Sehingga diperoleh konsentrasi 100g/ml

5.7 Pembuatan larutan baku kerja tramadol

Dipipet sebanyak 6,2 mL larutan hasil pengenceran baku primer Paracetamol, dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL, digojog hingga homogen. Prosedur diulang sebanyak 2 kali. (konsentrasi yang diperoleh 6,2 x 10-2 mg/mL

5.8

Pembuatan Larutan Campuran Paracetamol dan Tramadol HCl Dipipet sebanyak 0,0607 mL larutan baku primer Paracetamol dan larutan baku primer Tramadol sebanyak 0,62 mL

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Ditambahkan larutan NaOH 0,1 N hingga tanda batas, kemudian hingga larutan homogen.

5.9 Penyiapan larutan sampel Sesuai dengan FI III, diambil 150 mg zat aktif dilarutkan dalam 50 ml NaOH 0,1 N. Tetapi untuk memudahkan semua komponen dibagi 5 sehingga diambil 30 mg zat aktif dalam 10 ml NaOH 0,1 N. Yang dihitung dalam pembuatan larutan sampel ini hanya kadar paracetamol saja, karena nantinya kadar tramadol akan mengikuti nilai dari kadar paracetamol.

Dilarutkan serbuk sebesar 40,944 tersebut dengan 10 ml NaOH 0,1 N,

Ditambahkan 20ml air (kocok selama 15 menit), dan disaring. Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar PCT 30g/ml dan TRA 3,48 g/ml dalam 10 ml.

Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x 10-3 mg/mL.

5.10

Menghidupkan Spektrofotometer GENESYS TM 10 Alat dihidupkan dengan menekan tombol ON/OFF (1 = ON, 0 = OFF)

Sumber radiasi distabilkan ( lampu sinar tampak = 30 menit, lampu UV xenon = langsung )

5.11 Pengukuran larutan blanko dan larutan sampel Absorbansi baku tunggal dan campuran Parasetamol dan Tramadol HCl diukur pada rentang panjang gelombang (200300)

Ditentukan panjang gelombang maksimum parasetamol dan tramadol HCl

Absorbansi larutan sampel diukur pada kedua panjang gelombang maksimum tersebut (Parasetamol dan Tramadol HCl)

VI. HASIL PENGAMATAN

(nm) 200 203 206 209 212 215 218 221 224 227 230 233 236 239 242 245 248 251 254 257 260 263 266 269 272 275 278 281 284 287 290 293 296 299

A paracetamol 0,123 0,139 0,15 0,157 0,188 0,217 0,183 0,168 0,169 0,168 0,177 0,208 0,259 0,314 0,344 0,374 0,392 0,407 0,423 0,430 0,425 0,407 0,383 0,36 0,370 0,316 0,288 0,257 0,226 0,198 0,176 0,161 0,147 0,134

A tramadol 0,102 0,136 0,145 0,16 0,307 1,044 1,477 1,434 1,187 0,817 0,586 0,289 0,116 0,074 0,071 0,077 0,085 0,099 0,127 0,179 0,232 0,295 0,346 0,373 0,373 0,358 0,353 0,245 0,115 0,048 0,033 0,029 0,026 0,025

A campuran 0,211 0,225 0,26 0,268 0,439 1,185 1,591 1,546 1,287 0,937 0,72 0,468 0,353 0,368 0,399 0,435 0,463 0,493 0,554 0,593 0,642 0,696 0,714 0,72 0,701 0,663 0,612 0,492 0,335 0,241 0,205 0,185 0,169 0,157

A sampel

0,417

0,364

VII.

PERHTUNGAN Normalitas NaOH BM NaOH = 0,1 N = 40 gram/mol

7.1 Perhitungan Pembuatan NaOH Diketahui : Volume NaOH= 100 ml Ditanya : Jawab : NaOH Ekivalen NaOH Molaritas NaOH Na+ + OH= Massa NaOH?

1 grek

mol

Normalitas NaOH = ekivalenNaOH

0,1 grek = = Mol NaOH 1 grel

mol L

0,1 mol

= MolaritasNaOHxVolumeNaOH = 0,1 mol/L x 0,100 ml = 0,01 mol

Massa NaOH

= mol NaOH x BM NaOH = 0,01 mol x 40 gram/mol = 0,4 gram

7.2 Perhitungan Konsentrasi Larutan Baku Kerja Paracetamol Diketahui : A ` Ditanya : Jawab : A = . b. c b = 0,434 = 715 100ml g .cm = 1 cm

Konsentrasi larutan baku primer Paracetamol = 1 mg/ml c paracetamol ?

0,434 = 715 100 ml g.cm . 1 cm. C c c c = 6,07 x 10-4 gram/100 ml = 6,07 x 10-6 gr/ml = 6,07 g/ml = 6,07 x 10-3 mg/ml Untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 6,07 x 10-3 mg/ml, maka dilakukan pengenceran dari larutan baku primer parasetamol 1 mg/ml sebagai berikut : V1 x N1= V2 x N2 x ml x 1 mg/ml V2 = 10 ml x 6,07 x 10-3 mg/ml = 0,0607 ml

7.3 Perhitungan Konsentrasi Larutan Baku Kerja Tramadol Diketahui : A ` Ditanya : Jawab : A = . b. c b = 0,434

100ml
= 70 = 1 cm

g.cm

Konsentrasi larutan baku primer Tramadol = 1 mg/ml c paracetamol ?

100 ml
0,434 = 70 c c c

g.cm . 1 cm. C

= 6,2 x 10-3 gram/100 ml = 6,2 x 10-5 gr/ml = 6,2 x 10-2 mg/ml

Untuk mendapatkan larutan dengan konsentrasi 6,2 x 10-2 mg/ml, maka dilakukan pengenceran dari larutan baku primer parasetamol 1 mg/ml sebagai berikut : V1 x N1= V2 x N2 x ml x 1 mg/ml V2 = 10 ml x 6,2 x 10-2 mg/ml = 0,62 ml

7.4 Perhitungan Konsentrasi Molar Larutan Baku Kerja Paracetamol Diketahui : Konsentrasi larutan baku kerja paracetamol = 6,07 x 10-3 mg/ml BM Paracetamol = 151,16 gram/mol

Ditanya Jawab

: :

Konsentrasi molar larutan baku kerja paracetamol ..? 1 BM 1 151,16 mg mmol

Konsentras i Molar Paracetamol (M) = kadar

= 6,07 10 3 mg/ml

= 4,02 10 5 mmol/ml = 4,02 10 5 M 7.5 Perhitungan Konsentrasi Molar Larutan Baku Kerja Tramadol HCl Diketahui : Ditanya Jawab : : Konsentras i Molar Tramadol HCl (M) = kadar 1 BM 1 263,4 mg mmol Konsentrasi laruta n baku kerja tramadol HCl = 6,2 x 10-2 mg/ml BM Tramadol HCl = 263,4 gram/mol Konsentrasi molar larutan baku kerja paracetamol ..?

= 6,2 10 2 mg/ml

= 2,36 10 4 mmol/ml = 2,36 10 4 M 7.6 Perhitungan Penyiapan konsentrasi larutan sampel Diketahui : Konsentrasi larutan sampel awal (PCT) Konsentrasi larutan sampel awal (TRA) Volume sampel = 10 ml Ditanya Jawab : : Konsentrasi sampel (PCT) ..? = 1 mg/ml = 0,116 mg/ml

Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar PCT 30g/ml dan TRA 3,48 g/ml dalam 10 ml. PCT : C1 1 mg mL V1 V1 V1 = = = C2 g V2 10 Ml

30 mL 0,3 mL

Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x 10-3 mg/mL.

Karena konsentrasi larutan sampel (PCT) 3 x 10-2 mg/mL terlalu pekat, maka g/ml sebagai

dilakukan pengenceran untuk memperoleh larutan sampel (PCT) 6 berikut V1 x N1= V2 x N2 x ml x 30 g/ml V1 = 10 ml x 6 g/ml = 2 ml

Sehingga dipipet sebanyak 2 mL dan larutan sam pel dengan konsentrasi PCT 3 x 10-2 mg/mL. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 6 g/mL dan 0,696 g/mL. PERHITUNGAN KESERAGAMAN BOBOT TABLET Berat rata-rata tablet=

STANDAR DEVISIASI (SD)


Tablet 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (u-)2 (u-) 1,24 5,34 -5,16 -8,16 0,54 6,24 2,74 -1,66 -0,16 -0,96 (u-)2 1,54 28,52 26,63 66,59 0,29 38,94 7,51 2,76 0,026 0,93 173,73

SD =

= = 4,17 Jadi berat rata-rata tablet = (443,56 4,17) mg. 7.7 Perhitungan Absorbtivitas Molar () Diketahui: A (Parasetamol, 272) A (Parasetamol, 257) A (Tramadol, 272) A (Tramadol, 257) CParasetamol CTramadol Ditanya: (Parasetamol, 272) (Parasetamol, 257) (Tramadol, 272) (Tramadol, 257) Jawab : (Parasetamol, 272) = 0,370 1cm.4,02 x10 5 M = 0,370 = 0,430 = 0,373 = 0,179 = 4,02 x10-5 M = 2,36 x10-4 M = ? = ? = ? = ?

= 9203,99 M-1 cm-1 (Parasetamol, 257) = 0,430 1cm.4,02 x10 5 M

= 10696,51 M-1 cm-1 (Tramadol, 272) = 0,373 1cm.2,36 x10 4 M

= 1580,51 M-1 cm-1 (Tramadol, 257) = 0,179 1cm.2,36 x10 4 M

= 758,48 M-1 cm-1 7.8 Perhitungan Konsentrasi Sampel Asampel (272) = AP (272) + At (272) 0,364 = (P, 272).b.CP + (T, 272).b.Ct 0,364 = 9203,99 Cp + 1580,51 Ct................. (persamaan 1) Asampel (257) = Ap (257) + At (257)

0,417 = (P, 257).b.CP + (T, 257).b.Ct 0,417 = 10696,51 CP + 758,48 Ct... (persamaan 2) 0,364 = 9203,99 Cp + 1580,51 Ct 0,417 = 10696,51 CP + 758,48 Ct 0,423 0,417 0,006 Ct 0,417 0,417 0,417 10696,51 Cp Cp = 10696,51 Cp+ 1836,56 Ct = 10696,51 CP + 758,48 Ct = 1078,08 Ct = 5,56 x 10-6 M = 10696,51 CP + 758,48 Ct = 10696,51 CP + 758,48 (5,56 x 10-6 M) = 10696,51 CP + 4,22 x 10-3 = 0,413 = 3,86 x 10-5 M 1,162 1 _

X X

Kadar parasetamol pada larutan sampel :

Kadar = konsentras i BM = 3,86 x 10 - 5 M 151,16 mg/mmol = 5,84 10 3 mg / ml Kadar tramadol pada larutan sampel : Kadar = konsentras i BM = 5,56 x 10 - 6M 263,4 mg/mmol = 1,47 10 3 mg / ml Jadi, konsentrasi parasetamol pada larutan sampel adalah 5,84 10 3 mg / ml dan konsentrasi tramadol yaitu 1,47 10 3 mg / ml .

7.9 Perhitungan Perolehan kembali paracetamol dan tramadol dalam sampel Diketahui :Kadar paracetamol sebenarnya dalam sampel Kadar tramadol sebenarnya dalam sampel Kadar tramadol hasil pengukuran dalam sampel Kadar paracetamol hasil perngukuran dalam sampel = 6 x 10-3 mg/ml = 0,696 x 10-3 mg/ml = 5,84 x 10-3 mg/ml = 1,47 x 10-3 mg/ml

Ditanya : Persentase perolehan kembali paracetamol dalam sampel..? Persentase perolehan kembali tramadol dalam sampel? Jawab :
Persentase perolehan kembali paracetamol dalam sampel:

% kadar paracetamol dalam sampel = 5,84 x10 3 mg = 6 x10 3 mg ml

ml

= 97,33 %.
Persentase perolehan kembali tramadol dalam sampel:

% kadar tramadol dalam sampel =

ml 0,696 x10 3 mg ml

1,47 x10 3 mg

= 211,20 %.

VIII. PEMBAHASAN Dalam praktikum Penetapan Kadar Parasetamol dan Tramadol secara UV-Vis Simultan ini dilakukan penetapan kadar Parasetamol dan Tramadol secara in-situ dengan menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis secara simultan. Prinsip dari penetapan kadar ini adalah mencari absorban atau perbedaan absorban tiap-tiap komponen yang memberikan korelasi yang linier terhadap konsentrasi sehingga dapat dihitung kadar masingmasing komponen dalam campuran tersebut secara serentak atau salah satu komponen dalam campurannya dengan komponen lain tanpa harus memisahkan kedua komponen tersebut terlebih dahulu. Perhitungannya dilakukan pada puncak (panjang gelombang maksimum) tiaptiap komponen dimana absorban yang terbaca adalah jumlah absorban tiap komponen (Widjaja dkk., 2008). Dalam hal ini diperlukan kalibrasi tiap-tiap komponen dengan menggunakan larutan standar. Larutan standar yang digunakan ada dua jenis yaitu larutan standar murni (pure standard) dan standar campuran (mixed standard). Adapun fungsi dari larutan standar murni adalah untuk mengetahui keterserapan komponen pada beberapa panjang gelombang terutama untuk mengetahui panjang gelombang maksimum tiap-tiap komponennya. Dimana panjang gelombang maksimum tersebut akan digunakan untuk membaca absorbansi dari larutan sampel. Sedangkan larutan standar campuran berfungsi untuk mengkoreksi apakah absorban yang terbaca pada panjang gelombang tersebut merupakan jumlah absorban dari tiap-tiap komponennya. Pemilihan panjang gelombang maksimum dalam pembacaan absorbansi sampel didasari karena pada panjang gelombang maksimum jika terjadi penyimpangan (deviasi) kecil panjang gelombang dari cahaya yang masuk maka hanya akan menyebabkan kesalahan yang kecil dalam pengukuran tersebut (Wiryawan dkk., 2008). Selain itu pada panjang gelombang maksimum, kepekaannya maksimal karena perubahan absorbansinya untuk setiap konsentrasi adalah yang paling besar dan pada panjang gelombang maksimum kesalahan oleh pengukuran berulang akan kecil sekali (Gandjar dan Rohman, 2007). Berdasarkan pustaka, parasetamol memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 245 nm (larutan asam) dan 257 nm (larutan basa), sedangkan tramadol hanya

memiliki panjang gelombang maksimum pada larutan asam saja yaitu 272 nm dan tidak ada pada basa (Moffat et al, 2005). Pada praktikum digunakan larutan parasetamol dan tramadol yang dilarutkan dalam NaOH 0,1 N. Pemilihan NaOH sebagai pelarut ini berdasarkan atas kelarutan parasetamol yang tinggi dalam larutan alkali hidroksida (NaOH) (Depkes RI, 1979). Selain itu NaOH mengandung gugus -OH yang merupakan auksokrom dimana auksokrom ini tidak akan menyerap sinar pada panjang gelombang 200-800 nm namun hanya akan mempengaruhi spektrum gugus kromofor yang dimiliki oleh parasetamol dan tramadol dimana auksokrom tersebut terikat sehingga akan terjadi pergeseran panjang gelombang ke arah yang lebih panjang (red shift) atau batokromik. Dalam hal ini NaOH tidak akan mengganggu keterserapan parasetamol dan tramadol (Wiryawan dkk., 2008). Pertama-tama dalam praktikum ini dibuat larutan baku primer parasetamol dan tramadol dengan konsentrasi masing-masing 1 mg/ml. Dari larutan baku primer tersebut dibuat larutan baku kerja parasetamol dan tramadol dengan konsentrasi masing-masing 6,07x10-3 mg/mL dan 6,2x10-2 mg/mL yang akan digunakan sebagai standar murni dan dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 200-300 nm. Untuk standar campuran parasetamol dan tramadol dibuat dengan cara memipet masing-masing 0,0607 mL dan 0,62 mL larutan baku primer kemudian dilarutkan dengan NaOH 0,1 N dalam labu ukur 10 mL, serta dibuat larutan sampel dari tablet yang mengandung paracetamol dan tramadol sebesar masing-masing 325 mg dan 37,5 mg tiap tablet. Pembuatan larutan sampel dilakukan dengan proses ekstraksi tablet yang sudah digerus dengan menggunakan pelarut NaOH 0,1 N dan diencerkan dengan aquadest. Larutan sampel dibuat sedemikian rupa sampai didapatkan kadar paracetamol dan tramadol masing-masing dalam sampel sebesar 6 g/ml dan 0,696 g/ml dibuat dalam 10 ml. Setelah semua larutan yang akan diukur telah tersedia maka dilakukan pengukuran absorbansi dengan menggunakan instrumen spektrofotometri UV-Vis. Sebelum melakukan pengukuran terhadap larutan-larutan tersebut maka terlebih dahulu dilakukan koreksi pembacaan larutan blangko dalam hal ini larutan NaOH 0,1 N. Hal ini dilakukan untuk mengoreksi serapan yang disebabkan pelarut, pereaksi, sel atau pengaturan alat. Koreksi ini harus dilakukan pada setiap pengukuran absorbansi dengan panjang gelombang yang berbedabeda (Khopkar, 2003). Setelah dilakukan pengukuran larutan blangko maka dilakukan pengukuran terhadap komponen tunggal. Pengukuran larutan baku kerja parasetamol dan tramadol tunggal bertujuan untuk memperoleh nilai absorptivitas molar () masing-masing larutan. Pengukuran absorbansi komponen tunggal dilakukan pada panjang gelombang 200-300 nm karena diantara panjang gelombang tersebut terdapat panjang gelombang dari parasetamol

dan tramadol tunggal yang memberikan serapan maksimum. Adapun hasil dari pengukuran yang telah dilakukan maka dapat diketahui larutan baku kerja parasetamol tunggal memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 257 nm dengan nilai absorbansi sebesar 0,430 dan absorbansi tramadol sebesar 0,179. Selanjutanya larutan baku kerja tramadol tunggal memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 272 nm dengan nilai absorbansi sebesar 0,373 dan absorbansi paracetamol sebesar 0,370. Pada panjang gelombang dibawah 220 nm yaitu pada panjang gelombang 218 nm diperoleh juga serapan maksimum dari larutan tramadol sebesar 1,477, namun nilai absorbansi tersebut belum tentu menunjukkan serapan dari tramadol tunggal karena pada panjang gelombang dibawah 220 nm banyak pelarut dan pengotor-pengotor yang juga memberikan serapan maksimum. Sehingga berdasarkan literatur maka dipilih pada panjang gelombang 272 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum dari tramadol disamping berdasarkan hasil pengukuran. Pengukuran absorbansi juga dilakukan pada larutan standar campuran yaitu campuran parasetamol dan tramadol pada panjang gelombang 200-300 nm. Dari hasil pengukuran ini dapat dilihat apakah benar absorbansi campuran merupakan jumlah absorbansi dari parasetamol dan tramadol tunggal. Misalkan pada panjang gelombang 257 nm, diperoleh absorbansi parasetamol sebesar 0,430 dan tramadol sebesar 0,179; jika dijumlahkan diperoleh hasil sebesar 0,609. Hasil ini mendekati hasil dari pengukuran absorbansi campuran yaitu 0,593; sehingga dapat disimpulkan bahwa metode ini dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi parasetamol dan tramadol tunggal dalam campuran karena absorbansi campuran merupakan hasil penjumlahan dari absorbansi parasetamol dan tramadol tunggal. Berikut ini adalah kurva absorbansi larutan baku kerja paracetamol, tramadol, dan campurannya pada rentang panjang gelombang 200-300 nm:

Larutan sampel yang telah dibuat diukur absorbansinya pada 2 panjang gelombang maksimum masing-masing komponen tunggalnya yaitu paracetamol dan tramadol pada panjang gelombang 257 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum paracetamol dan 272 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum dari tramadol. Dari proses pengukuran sampel dengan kadar paracetamol dan tramadol masing-masing dalam sampel sebesar 30g/ml dan 3,48 g/ml didapatkan nilai absorbansi sebesar 2,81 pada panjang gelombang 257 nm dan 1,673 pada panjang gelombang 272 nm . Nilai absorbansi tersebut sangatlah besar dan tidak baik untuk digunakan karena absorbansi yg baik nilainya sebesar 0,2-0,8. Sehingga perlu dilakukan pengenceran lagi terhadap larutan sampel sebanyak 5 kali hingga diperoleh larutan sampel dengan kadar paracetamol dan tramadol masing-masing dalam sampel sebesar 6 g/ml dan 0,696 g/ml. Pengukuran sampel dengan konsentrasi yang baru tersebut menghasilkan nilai absorbansi masing-masing sebesar 0,423 pada panjang gelombang 257 nm dan 0,338 pada panjang gelombang 272 nm. Absorptivitas molar pada masing-masing larutan dihitung dengan menggunakan persamaan Lambert-Beer pada panjang gelombang maksimum masing-masing komponen. Absorptivitas molar larutan parasetamol pada panjang gelombang 257 nm sebesar 10696,51 M-1 cm-1, sedangkan pada panjang gelombang 272 nm sebesar 9203,99 M-1 cm-1. Absorptivitas molar larutan tramadol pada panjang gelombang 257 nm sebesar 758,48 M-1 cm-1 dan pada panjang gelombang 272 nm sebesar 1580,51 M-1 cm-1. Dengan diperolehnya nilai absorptivitas molar ini serta absorbansi masing-masing larutan tunggal pada panjang gelombang 257 nm dan 272 nm, maka konsentrasi larutan sampel dapat dicari dengan cara memasukkan nilai absorbansinya pada masing-masing panjang gelombang maksimum larutan tunggal ke dalam persamaan matematika. Dimana nilai absorbansi sampel merupakan hasil penjumlahan dari nilai absorbansi parasetamol dan tramadol pada panjang gelombang yang sama. Dengan demikian akan didapatkan dua buah persamaan. Kemudian dilakukan eliminasi terhadap salah satu variabel sehingga diperoleh konsentrasi parasetamol dan tramadol dalam larutan sampel. Dari hasil perhitungan, didapatkan konsentrasi

parasetamol sebesar 3,86 x 10-5 M dan tramadol sebesar 5,56 x 10-6 M. Setelah dikalikan BM masing-masing, maka nilai kadar parasetamol dan tramadol masing-masing dalam sampel sebesar 5,84 x 10-3 mg/ml dan 1,47 x 10-3 mg/ml. Dari hasil perhitungan tersebut ditentukan besar perolehan kembali kadar dari masingmasing komponen sampel yaitu paracetamol dan tramadol dengan membagi nilai kadar sampel setelah pengukuran dengan kadar sampel sebenarnya kemudian dikalikan 100%. Dan didapat besar perolehan kembali paracetamol dan tramadol masing-masing sebesar 97,33 % dan 211,20 %. Nilai perolehan kembali untuk paracetamol sudah sesuai dengan kadar yang sebenarnya walaupun sedikit berkurang dari kadar paracetamol dalam sampel yang sebenarnya. Tetapi untuk tramadol nilai perolehan kembalinya sangat besar, bahkan 2 kali lipat dr kadar tramadol yang sebenarnya dalam sampel, hal ini disebabkan karena nilai serapan tramadol diganggu oleh serapan paracetamol yang membuat pengukuran kadar tramadol meningkat drastis dari kadar yang sebenarnya karena kemungkinan serapan tramadol yang dibaca oleh alat spektrofotometri bukan hanya serapan tramadolnya saja, tetapi juga diganggu oleh serapan dari paracetamol. IX. KESIMPULAN
1. Penetapan kadar parasetamol dan tramadol dalam larutan sampel dapat dilakukan

dengan menggunakan metode simultan tanpa harus memisahkannya terlebih dahulu berdasarkan pengukuran absorpsi pada panjang gelombang maksimum dengan alat spektofotometri UV-Vis.
2. Absortivitas molar () larutan parasetamol pada panjang gelombang 257 nm sebesar

10696,51 M-1 cm-1 sedangkan pada panjang gelombang 272 nm sebesar 9203,99 M-1 cm-1.
3. Absortivitas molar () larutan tramadol pada panjang gelombang 257 nm sebesar

758,48 M-1 cm-1 sedangkan pada panjang gelombang 272 nm sebesar 1580,51 M-1 cm-1.
4. Kadar parasetamol dalam larutan sampel sebesar 5,84 x 10-3 mg/ml dan kadar

tramadol pada sampel sebesar 1,47 x 10-3 mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gholib Gandjar I. & Abdul R. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hoan Tjay, Tan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta : Elex Media Komputindo. Moffat, C.A., M. D. Osselton, B. Widdop. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and Poisons. London : Pharmaceutical Press Publications division of the Royal Pharmaceutical Society of Great Britain. Susanti, Ni Made Pitri dkk. 2011. Petunjuk Praktikum Kimia Analisis. Jimbaran : jurusan farmasi FMIPA Universitas Udayana. Widjaja, I.N.K., K.W. Astuti., N.M.P. Susanti., & I.M.A.G. Wirasuta. 2008. Buku Ajar Analisis Farmasi Fisiko Kimia. Jimbaran : Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana. Wiryawan, A., R. Retnowati, dan A. Sabarudin. 2008. Kimia Analitik Untuk SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menegah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional (cited Okt 12, 2011) Available from: http://findtoyou.com/ebook/download-kimia-19935.html