Anda di halaman 1dari 5

TUGAS UJIAN FARMASI PANDUAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PROGRAM NASIONAL PEMBERANTASAN TUBERKULOSIS PARU

Oleh : Fiqhiyatun Perdani Henny Pudriyanti NIMI.1A004020 NIM.I1A004044

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS KEDOKTERAN BAGIAN FARMAKOLOGI BANJARBARU 2009

PANDUAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) JANGKA PENDEK PROGRAM NASIONAL PEMBERANTASAN TUBERKULOSIS PARU PAKET A / KATEGORI 1 (2HRZE / 4 H3R3) Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Jangka Pendek kategori 1 adalah paduan obat yang lama pengobatannya selama 6 bulan dan digunakan untuk orang dewasa penderita baru tuberculosis menular yang mengandung zat berkhasiat sebagai berikut: Isoniazid (INH) : Berfungsi sebagai pembunuh bakteri (Bakterisid). Rifampisin : Berfungsi sebagai pembunuh bakteri (Bakterisid). Pirazinamid : Berfungsi sebagai pembunuh bakteri (Bakterisid). Etambutol : Berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri (Bakteriostatik). Manfaat dari obat-obat tersebut adalah bakteriostatik dan bakterisid. KOMPOSISI: Kombipak-II (HRZE) Dosis harian fase awal (intensif) terdiri dari: Isoniazid (H) 300 mg (1 tablet @300 mg) Rifampisin 450 mg (1 kaplet @450 mg) Pirazinamid (Z) 1500 mg (3 tablet @500 mg) Etambutol (E) 750 mg (3 tablet @250 mg) KOMBIPAK-III (HR) Dosis harian fase lanjutan (intermiten) terdiri dari: Isoniazid (H) 600 mg (2 tablet @300 mg) Rifampisin 450 mg(1 kaplet @450 mg) KHASIAT: Diantara semua obat anti tuberkulosis, Isoniazid (INH) memiliki efek bakterisidal pada mikobakteria yang tumbuh cepat selama awal masa pengobatan. Rifampisin merupakan satu-satunya obat anti tuberkulosis yang dapat mengeliminasi basil semi-dormant yang menunjukkan gejolak-gejolak metabolisme selama beberapa jam. Pemberian Rifampisin bersamaan dengan INH akan lebih menjamin tercapainya mula kerja yang cepat. Pirazinamid bekerja hanya pada pH 5,5 atau kurang dan efektif dalam mengeliminasi basil yang berkembang lambat pada lingkungan intra maupun ekstra seluler yang bersuasana asam. Rifampisin dan pirazinamid merupakan antituberkulosis yang memiliki efek sterilisasi. Dengan demikian ketiga obat tersebut memiliki cara kerja yang saling melengkapi dan pemberian secara bersamaan setiap hari selama 2 bulan pengobatan memungkinkan untuk mengurangi masa pengobatan menjadi 6 bulan.

Etambutol adalah suatu kemoterapeutik oral yang efektif terhadap mikroorganisme dari jenis Mycobacterium termasuk M.tuberculosis. Etambutol merupakan tuberkulostatik dengan mekanisme kerja menghambat sintesis RNA. INDIKASI: Untuk penderita baru tuberkulosis menular (baru ditemukan dan belum pernah menelan OAT atau pernah menelan OAT selama kurang dari 1 bulan) yaitu penderita yang pada pemeriksaan dahaknya secara mikroskopis menunjukkan hasil BTA (Basil Tahan Asam) positif dua kali dari 3 kali pemeriksaan dahak. Untuk penderita tuberkulosis baru BTA negatif / Rountgen positif yang sakit berat dan ekstra paru berat. POSOLOGI: Dosis untuk orang dewasa (15 tahun atau lebih): Pada fase awal, satu Dosis harian Kombipak II setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali menelan obat) diteruskan dengan fase lanjutan satu Dosis harian Kombipak III seminggu tiga kali selama 4 bulan berikutnya (54 kali menelan obat). KONTRAINDIKASI: Hipersensitif terhadap Rifampisin, INH, Pirazinamid atau Etambutol. Penderita hepatitis, kerusakan hati yang berat, neuritis optik, penderita dengan gangguan fungsi ginjal, epilepsi, alkoholisme kronik. Anak dengan berat badan <30 kg. PERINGATAN PERHATIAN: Diharuskan menelan OAT secara teratur sesuai jadwal terutama pada fase awal pengobatan. Untuk menghindari terjadinya kegagalan pengobatan (selesai jadwal rangkaian sesuai aturan, pemeriksaan mikroskopis BTA masih positif) dan terjadinya kakambuhan (pemeriksaan dahak secara mikroskopis BTA masih positif lagi setelah dinyatakan sembuh). Usahakan untuk menyelesaikan menelan OAT sesuai jadwal pengobatan selama 6 bulan (114 kali pengobatan). Penggunaan Rifampisin, INH, dan Pirazinamid dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan terjadinya gangguan fungsi hati terutama bagi pasien yang memperlihatkan tanda-tanda kerusakan hati sebelum pengobatan, alkoholisme. Untuk kasus-kasus seperti ini, resiko yang lebih besar harus diperbandingkan dengan manfaat pengobatan. Apabila pengobatan tetap diperlukan, dosis obat sebaiknya dikurangi. Dianjurkan agar dilakukan supervise yang ketat dari dokter dan dianjurkan untuk melakukan hitung darah test fungsi hati (terutama SGOT dan SGPT) dan test fungsi ginjal sebelum pengobatan dan selanjutnya tiap 2-4 minggu karena obat ini mengandung INH, perhatian juga harus diberikan pada pasien

dengan gangguan fungsi ginjal dan pada pasien dengan ambang kejang yang rendah. Apabila timbul gejala-gejala kerusakan hepatoseluler, pengobatan dengan Kombipak II harus dihentikan dan tidak diberikan lagi kemudian. Perhatian yang sama juga dianjurkan pada pasien kekurangan gizi yang berat dan pasien tua. Untuk pasien tua, penambahan Vitamin B6 mungkin diindikasikan urtuk mengurangi terjadinya defisiensi akibat pemberian INH> Pasien harus diberitahu agar tidak menghentikan pengobatan selama jangka waktu pengobatan. Penghentian pengobatan yang mengandung Rifampisin dapat mengakibatkan terjadinya resiko imunologis yang kadang-kadang cukup serius. Bila penghentian pengobatan tidak dapat dihindarkan, resiko ini mungkin dapat dikurangi dengan memberikan Rifampisin, INH dan Pirazinamid secara terpisah. Hati-hati pada penderita dengan riwayat penyakit gout. Catatan: Rifampisin berwarna merah kecoklatan yang terang dan dapat menyebabkan warna merah pada cairan tubuh. Dapat juga melunturkan soft-contact lence secara permanen. EFEK SAMPING: Isoniazid (INH) Sering: gangguan fungsi hati dan susunan syaraf. Jarang: hepatitis, neuritis perifer yang tergantung dosis (terutama pada pasien kurang gizi). Efek samping lain: sakit kepala, pusing, kejang, anemia, neuritis optik, arthralgia, diskrasia darah, sindrom rematik, gejala yang menyerupai lupus eritematosus, rash, mengantuk, mulut terasa kering, gangguan buang air kecil, gangguan gastrointestinal. Rifampisin Kadang-kadang: hepatitis, reaksi kulit, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, sindroma influenza, leucopenia, eosinofilia. Jarang: anemia heemolitik, gagal ginjal akut, purpura, demam sindrom syok. Pirazinamid Biasa terjadi: anoreksia, mual, kemeerahan pada kulit. Kadang-kadang: hepatitis, muntah, arthralgia, ruam kulit, gout akut. Etambutol Kadang-kadang: retrobulbar neuritis, arthralgia. Jarang: hepatitis, hipersensitif kulit, neuropati perifer. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah toksisitas okuler yang tergantung pada dosis dan lamanya pengobatan. Efek samping lain: reaksi anafilaktoid, pruritus, dermatitis, anoreksia, nyeri abdomen, demam, nyeri sendi, gangguan gastrointestinal, (mual, muntah) malaise, sakit kepala, pusing, gelisah, disorientasi, halusinasi. INTERAKSI:

Bila Rifampisin + INH dikombinasikan dengan preparat-preparat PAS yang mengandung Bentonit (Aluminium hidroksilat) harus dicegah agar absorbs Rifampisin tidak menggangu dengan menginstruksikan pasien menelan Rifampisin + INH terlebih dahulu dilanjutkan dengan PAS setelah interval sekurang-kurangnya 4 jam. Rifampisin mungkin menginduksi enzim-enzim hati tertentu, karena itu melemahkan aktifitas beberapa preparat seperti: antikoagulan oral, antidiabetik oral, Dapsone, preparat Digitalis, Quinidin, Metadon, kortikosteroid dan kontraseptik oral. Takaran dari obat-obat tersebut harus diperhitungkan kembali sewaktu memulai atau menghentikan pengobatan Rifampisin + INH. Wanita yang sedang menggunakan kontaseptik oral harus memakai kontraseptik non hormonal tambahan. Pasien dibawah pengobatan dengan Difenilhidantoin, dosis obat harus disesuaikan secara perseorangan karena INH meninggikan dan Rifampisin menurunkan konsentrasi Difenilhidantoin plasma. Tidak dianjurkan pemberian INH bersama-sama dengan Disulfiram. INH juga dapat menurunkan ekskresi Fenitoin sehingga kadar dalam darah meningkat. Pirazinamid bersifat antagonis terhadap efek Probenecid dan Sulfinpyrazone.

TAKARAN BERLEBIHAN: Pada kasus terjadinya takaran berlebih dengan obat Kombipak-II, lambung harus dikosongkan dengan cara dimuntahkan atau bilas lambung dan tindakan lain yang perlu harus diusahakan. Barbiturat short acting dapat diberikan apabila gangguan SSP timbul, analeptik pada koma dan respirasi buatan serta oksigen pada terjadinya kegagalan pernafasan. Bila terjadi shock, obat vasopressor harus dihentikan. PENYIMPANAN: Hindarkan dari cahaya, panas dan kelembapan.