Anda di halaman 1dari 16

Analisis Total Minyak Atsiri Pendahuluan Minyak Atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil)

biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri dapat diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga terpen yang merupakan senyawaan hidrokarbon yang bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat disabunkan. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan dan lain-lain. Penetapan yang dilakukan dalam praktikum ini ialah: 1. Penetapan kadar eugenol dalam minyak cengkeh

Eugenol termasuk golongan Fenol yang dengan NaOH akan membentuk Na-Eugenolat yang larut dalam air. Sedangkan terpen tidak disabunkan dan tidak larut dalam air, sehingga volume terpen dapat diketahui. Dengan diketahui volume terpen, maka volume Eugenol pun dapat diketahui. Reaksi

Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan: 1. 2. 3. 4. Pipet gondok 10 ml Labu Cassia 100 ml Penangas air Gelas ukur

Minyak atsiri yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan cengkeh. Sebagian besar Eugenol. Eugenol termasuk golongan Fenol, sehingga dapat disabunkan oleh NaOH membentuk garam. Natrium eugenolat yang larut dalam air. Dengan melakukan penyabunan minyak cengkeh pada alat labu Cassia yang berskala pada lehernya, karena terpen tidak dapat disabunkan dan tidak larut dalam air, maka volume terpen bisa diketahui. Volume minyak eugenol dapat diketahui dari selisih anatara volume minyak cengkeh dikurangi volume terpen. 1. Penetapan kadar sitronellal dalam minyak sereh

Bahan-bahan yang digunakan: 1. 2. Minyak cengkeh Larutan NaOH 10 N

Cara Kerja 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Dipipet 10 ml minyak cengkeh Dimasukkan ke dalam labu Cassia 100 ml Ditambahkan 35 ml NaOH 1 N, lalu dkocok selama 5 menit Dipanaskan di atas penangas air selama 10 menit Ditambahkan lagi NaOH 1 N sampai permukaan cairan berada pada skala labu Cassia Didiamkan selama 1 hari Dibaca volume terpen

Minyak sereh diperoleh dari hasil penyulingan batang atau akar tumbuhan sereh. Minyak sereh merupakan sumber geraniol dan sitronellal. Mutu minyak sereh ditentukan oleh kandungan kedua komponen tersebut terutama sitronellal. Sitronellal termasuk golongan alkanal. Sehingga dapat ditetapkan dengan Metode Asidimetri, dimana sitronellal direaksikan dengan hidroksilamin-HCl akan membebaskan HCl, lalu HCl direaksikan dengan KOH-alkohol berlebih, maka kelebihan KOH-alkohol akan dititar oleh HCl. Dengan dilakukan blanko, maka kadar sitronellal dapat diketahui. Penetapan Kadar Eugenol Dalam Minyak Cengkeh Dasar

Contoh Data Volume contoh Volume terpen Volume eugenol = = 10,0 ml = 8,5 ml 1,5 ml

Contoh Perhitungan

2. 3. 4. 5.

Pipet tetes Pipet gondok 10 ml dan 25 ml Buret 50 ml Statif

Bahan-bahan yang digunakan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Contoh minyak sereh Alkohol netral Indikator BTB KOH-alkohol NH2OH.HCl Larutan HCl 0,5 N

Penetapan Kadar Sitronellal Dalam Minyak Sereh Dasar Sitronellal merupakan golongan aldehid yang bersifat pereduksi sehingga dengan hidroksilamin-HCl akan membentuk oksima dan membebaskan HCl. HCl yang dibebaskan, direduksikan dengan KOH-alkohol berlebih terukur, lalu kelebihan KOH-alkohol berlebih terukur dititar oleh HCl memakai indikator BTB yang dalam keadaan netral berwarna hijau. Reaksi

Cara Kerja 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ditimbang 2 gram minyak sereh Ditambahkan 2 ml alkohol netral, serta indikator BTB Ditambahkan 25 ml KOH-alkohol (dipipet) Ditambahkan 20 ml NH2OH.HCl Dikocok dan dibiarkan selama 15 menit Dititar dengan HCl 0,5 N hingga titik akhir berwarna hijau Dilakukan penetapan terhadap blanko

Contoh Data

Vpenitar blanko = 23,70 ml Vpenitar contoh = 21,25 ml N HCl 0,5 N = 0,4396 N

Contoh Perhitungan Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan: 1. Neraca

Minyak atsiri, atau yang dikenal juga sebagai volatile oil, atau essential oil, adalah cairan pekat yang tidak larut air, mengandung senyawa-senyawa beraroma yang berasal dari berbagai tanaman. Minyak atsiri ini umumnya diperoleh dengan cara destilasi, juga dapat diperoleh melalui proses ekspresi, dan ekstraksi pelarut. Hasil Analisis Hasil analisis total minyak atsiri dibandingkan dengan SNI No. 0075-79 dan SII No. 0006-72 adalah sebagai berikut: Parameter % Eugenol % Sitronellal Pembahasan Pada hasil analisis diperoleh penyimpangan pada kadar Sitronellal dalam minyak sereh, hal tersebut bisa disebabkan oleh adanya Sitronellal yang terbang dalam udara/suhu kamar karena sebagian minyak atsiri bersifat mudah menguap atau ketika melarutkan minyak atsiri dengan alkohol netral, mungkin alkohol yang digunakan belum benar-benar netral, sehingga alkohol tersebut akan berekasi dengan KOH, sehinga diperoleh kesalahan negatif. Simpulan Setelah melakukan analisis total minyak atsiri dan hasil analisis dibandingkan dengan SNI No. 0025-79 untuk minyak sereh dan SII No. 0006-72 untuk minyak cengkeh, maka dapat disimpulkan minyak sereh yang dianalisis memiliki mutu kurang baik dan minyak cengkeh yang dianalisis memiliki mutu baik. Hasil 85,0 % 8,27 % Standar 79 93 % > 35 % Minyak atsiri digunakan secara luas pada parfum,

kosmetik, perasa makanan dan minuman, dan juga pada produk pembersih rumah tangga. Beberapa minyak atsiri telah lama digunakan secara medis untuk berbagai klaim, dari perawatan kulit hingga pengobatan kanker. Namun penggunaan minyak atsiri yang paling utama saat ini adalah guna keperluan aromaterapi, yakni salah satu jenis pengobatan alternatif yang menyatakan bahwa aroma tertentu yang berasal dari tanaman memiliki efek penyembuhan. Pada aromaterapi, minyak atsiri dilarutkan dengan minyak pembawa (minyak zaitun, hazelnut, atau almond) dan digunakan untuk pemijatan, disebar ke udara menggunakan

nebulizer atau lilin aromaterapi.


Destilasi minyak atsiri dilakukan dengan cara menampung bahan baku yang berasal dari tanaman, seperti daun, kulit kayu, biji, dan akar, ke alat destilasi di atas air. Ketika air dipanaskan, uap air akan melewati bahan baku tersebut dan ikut menguapkan minyak atsiri. Uap minyak atsiri akan mengalami kondensasi kembali menjadi cairan dan

ditampung di alat penampung. Cairan ini dinamakan hidrosol atau hidrolat. Contoh hidrosol yang terkenal Minyak Atsiri, Zat Utama Aromaterapi adalah rose water dan lavender water. Metode ekstraksi pelarut (solvent extraction) digunakan untuk memperoleh minyak atsiri yang terlalu sedikit untuk

diperas

atau

terlalu

rentan

terhadap

panas

untuk

Minyak Atsiri, Peluang Bisnisnya Cukup Besar Minyak Atsiri sebenarnya minyak nabati yang diproses dari berbagai bagian tanaman seperti bunga, daun, biji, buah, batang, akar atau rimpang. Ia bersifat mudah menguap pada suhu kamar karena titik uapnya rendah, tanpa mengalami dekomposisi, beraroma wangi, rasa getir dan larut dalam pelarut organik. Minyak atsiri adalah bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok untuk pengobatan alami. Di dalam perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi Pasar Minyak Atsiri Di dunia, pasar minyak Atsiri terbagi menjadi 2 segmen. Pertama, permintaan pasar yang stabil lantaran pertumbuhan penduduk relatif rendah. Contoh pasar Jepang, Australia dan Selandia Baru. Kedua, pasar yang terus tumbuh karena perbaikan ekonomi dan standar kehidupan yang progresif. Negara-negara di Eropa Timur dan negara-negara berkembang contoh pasar yang terus tumbuh. Potensi konsumsi jangka panjang di pasar yang sedang tumbuh secara keseluruhan akan melebihi tingkat konsumsi negara- negara industri. Dengan demikian prospek minyak Atsiri cukup bagus. Sebagian besar minyak Atsiri yang diproduksi penyuling Indonesia diekspor dengan pangsa pasar untuk nilam 64%, kenanga 67%, akar wangi 26%, sereh wangi 26%, pala 72%, cengkeh 63%, jahe 0,4% dan lada 0,9% dari ekspor dunia. Negara tujuan export adalah Amerika Serikat 23%, Inggris 19%, Singapura 18%, India 8%, Spanyol 8%, Perancis 6%, China 3%, Swiss 3%, Jepang 2%, dan negaranegara lain 8%. Meskipun Indonesia terkenal sebagai pemasok minyak Atsiri dunia, tapi kenyataannya ada sejumlah minyak Atsiri yang juga diimpor, padahal minyak Atsiri impor itu dapat diproduksi di sini. Contoh, antara lain mentol Mentha arvensis, minyak anis Clausena anisata, geranium, jeruk dan citronella. Beberapa sentra penyulingan minyak Atsiri sudah mulai terbentuk jelas. Misalnya nilam. Tercatat 6 propinsi menjadi pusat penanaman dan produksi minyak yang banyak digunakan sebagai pengikat itu. Sejumlah daerah baru juga menjadi sentra budidaya sekaligus pengolahan minyak Atsiri, misalnya Kuningan, Majalengka dan Ciamis. Di daerah itu para pekebun tidak kesulitan melempar hasil panennya ke penyuling.

didestilasi. Pada metode ini digunakan pelarut seperti heksan atau karbon dioksida superkritis untuk

mengekstraksi minyak atsiri. Ekstrak yang diperoleh dari pelarut heksan atau pelarut hidrofobik lainnya dinamakan

concretes, yang mengandung campuran minyak atsiri, lilin


(wax), resin, dan senyawa larut minyak lainnya dari tanaman. Pelarut lain, yakni etil alkohol, digunakan untuk

memisahkan komponen minyak atsiri dari concretes. Alkohol dihilangkan melalui proses destilasi tahap kedua, meninggalkan komponen minyak atsiri yang dinamakan

absolute.
Pelarut karbon dioksida superkritis digunakan sebagai pelarut pada proses ekstraksi cairan superkritis, dimana karbon dioksida superkritis akan mengekstraksi baik lilin (wax) dan juga minyak atsiri pada concrete. Lilin akan dipisahkan dari minyak atsiri dengan cara menurunkan termperatur ekstraksi, kemudian setelah ekstraksi

selesai, tekanan diturunkan sehingga karbon dioksida berubah menjadi gas. Oleh karena sifatnya yang pekat dan menyebabkan iritasi serta alergi kulit, maka minyak atsiri jangan digunakan langsung pada kulit tanpa dilarutkan terlebih dahulu. Selain itu, penggunaannya juga harus dilakukan dengan hati-hati. Efek samping yang mungkin dapat terjadi meliputi ginekomastia (khususnya pada tea tree oil dan minyak lavender), risiko aborsi (bila digunakan secara internal dengan dosis 0,5-10 mL), selain itu asap yang ditimbulkan dari pembakaran minyak atsiri dapat bersifat karsinogen (menimbulkan kanker) oleh karena mengandung senyawa PAHs (polycyclic aromatic hydrocarbons).

Dalam skala dunia, industri minyak Atsiri saat ini berpusat di Asia. Exportir terbesar di dunia minyak nilam adalah Indonesia, minyak mint oleh India, China merajai ekspor minyak bunga mawar yang dulu dikuasai oleh Bulgaria dan Turki. Pergeseran itu disebabkan oleh karena ongkos tenaga kerja di Asia yang relatif murah. Bagaimanapun industri minyak Atsiri tetap padat karya. Margin Minyak Atsiri Salah satu contoh adalah minyak kayu manis. Margin Atsiri ini luar biasa besar. Contoh lain minyak hasil sulingan rimpang jahe, Zingiber officinale. Margin tinggi tersebut lantaran tingkat kesulitan pembuatannya relatif lebih tinggi dibanding dengan minyak Atsiri lain. Selain dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku. Langkah produsen mencari minyak Atsiri baru sebuah tindakan yang sangat tepat berdasarkan pengalaman lapangan. Mengembangkan minyak Atsiri dengan hanya memperluas areal penanaman agar produksi meningkat, bukanlah langkah yang tepat. sebab, saat pasokan bahan baku berlebihan,maka harga minyak Atsiri pun akan turun. Yang paling memungkinkan adalah memunculkan diversivikasi produk berupa minyak Atsiri baru, sehingga semakin banyak keanekaragaman minyak Atsiri yang tersedia. Pemenuhan Kebutuhan Ekspor Para eksportir minyak Atsiri umumnya mengkombinasikan pasokan dari penyulingan dan membuat sendiri minyak Atsiri sebagai usaha memenuhi permintaan ekspor. Minyak nilam yang sudah banyak diusahakan penyuling, umumnya diperoleh dari pemasok. Kesulitan besar muncul saat ada permintaan untuk memasok, misalnya minyak mawar, melati, jahe, jeruk purut atau kemiri. Padahal, permintaan minyak-minyak non-umum ini sangat terbatas. Misalkan melati, yang dibutuhkan hanya 1 kg, minyak Atsiri jeruk 5 kg atau minyak jahe hanya 300 kg. Dari segi volume, permintaannya memang sedikit. Namun tidak demikian dalam segi omzet lantaran minyak Atsiri yang langka berharga tinggi. Pemasaran pun tidak hanya di dalam negeri, tetapi harus berbagi dengan pesanan ekspor dari mancanegara. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak atsiri Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, minyak esensial karena pada suhu kamar mudah menguap. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi. Untuk mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk (Gunawan & Mulyani, 2004).

2.1.1 Lokalisasi minyak atsiri Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ, seperti didalam rambut kelenjar (pada famili Labiatae), di dalam sel-sel parenkim (misalnya famili Piperaceae), di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen (pada famili Pinaceae dan Rutaceae). Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan resin dari dinding sel atau oleh hidrolisis dari glikosida tertentu (Gunawan & Mulyani, 2004).

2.1.2 Penggunaan dan Aktivitas Biologi Minyak Atsiri Pada tanaman, minyak atsiri mempunyai tiga fungsi yaitu: membantu proses penyerbukan dan menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau hewan, dan sebagai cadangan makanan bagi tanaman (Sudaryani & Sugiharti, 1998). Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri, misalnya industri parfum, kosmetika, farmasi, bahan penyedap (flavoring agent) dalam industri makanan dan minuman (Ketaren, 1985).

a. Golongan hidrokarbon Persenyawaan yang termasuk golongan ini terbentuk dari unsur Karbon (C) dan Hidrogen (H). Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar terdiri dari monoterpen (2 unit isopren), sesquiterpen (3 unit isopren), diterpen (4 unit isopren) dan politerpen.

b. Golongan hidrokarbon teroksigenasi Komponen kimia dari golongan persenyawaan ini terbentuk dari unsure Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Persenyawaan yang termasuk dalam

2.1.3 Komposisi kimia minyak atsiri Pada umumnya perbedaan disebabkan perbedaan komposisi minyak atsiri

golongan ini adalah persenyawaan alcohol, aldehid, keton, ester, eter, dan fenol. Ikatan karbon yang terdapat dalam molekulnya dapat terdiri dari ikatan tunggal, ikatan rangkap dua, dan ikatan rangkap tiga. Terpen mengandung ikatan tunggal dan ikatan rangkap dua. Senyawa terpen memiliki aroma kurang wangi, sukar larut dalam alkohol encer dan jika disimpan membentuk resin. Golongan hidrokarbon teroksigenasi penting dalam minyak atsiri dalam waktu lama akan

jenis tanaman penghasil, kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panenan, metode ekstraksi yang digunakan dan cara penyimpanan minyak. Minyak atsiri biasanya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan oksigen (O). Pada umumnya komponen kimia minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan yaitu: 1) Hidrokarbon, yang terutama terdiri dari persenyawaan terpen dan 2) Hidrokarbon teroksigenasi.

merupakan

senyawa

yang

karena umumnya aroma yang lebih wangi. Fraksi terpen perlu dipisahkan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk pembuatan parfum, sehingga didapatkan minyak

atsiri yang bebas terpen (Ketaren, 1985). 2.2 Cara isolasi minyak atsiri Isolasi minyak atsiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: 1) penyulingan (distillation), 2) pengepresan (pressing), 3) ekstraksi dengan pelarut menguap (solvent extraction), 4) ekstraksi dengan lemak.

penyulingan. Uap yang digunakan berupa uap jenuh atau uap kelewat panas dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer.

c. Penyulingan dengan air dan uap Pada model penyulingan ini, bahan tanaman yang akan disuling diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlubang. Kemudian ketel penyulingan diisi

2.2.1 Metode penyulingan a. Penyulingan dengan air Pada metode ini, bahan tanaman yang akan disuling mengalami kontak langsung dengan air mendidih. Bahan dapat mengapung di atas air atau terendam secara sempurna, tergantung pada berat jenis dan jumlah bahan yang disuling. Ciri khas model ini yaitu adanya kontak langsung antara bahan dan air mendidih. Oleh karena itu, sering disebut penyulingan langsung. Penyulingan dengan cara langsung ini dapat menyebabkan banyaknya rendemen minyak yang hilang (tidak tersuling) dan terjadi pula penurunan mutu minyak yang diperoleh. b. Penyulingan dengan uap Model ini disebut juga penyulingan uap atau penyulingan tak langsung. Pada prinsipnya, model ini sama dengan penyulingan langsung. Hanya saja, air penghasil uap tidak diisikan bersama-sama dalam ketel

dengan air sampai permukaannya tidak jauh dari bagian bawah saringan. Ciri khas model ini yaitu uap selalu dalam keadaan basah, jenuh, dan tidak terlalu panas. Bahan tanaman yang akan disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas (Lutony & Rahmayati, 1994).

2.2.2 Metode pengepresan Ekstraksi minyak umumnya dilakukan atsiri dengan cara pengepresan

terhadap bahan berupa biji, buah, atau kulit buah yang memiliki kandungan minyak atsiri yang cukup tinggi. pengepresan, maka sel-sel yang Akibat tekanan

mengandung minyak atsiri akan pecah dan minyak atsiri akan mengalir ke permukaan bahan. Contohnya minyak atsiri dari kulit jeruk dapat diperoleh dengan cara ini (Ketaren, 1985). 2.2.3 Ekstraksi dengan pelarut menguap

Prinsipnya adalah melarutkan minyak atsiri dalam pelarut organik yang mudah menguap. Ekstraksi dengan pelarut organik pada umumnya digunakan mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan uap dan air, terutama untuk mengekstraksi minyak atsiri yang berasal dari bunga misalnya bunga cempaka, melati, mawar, dan kenanga. Pelarut yang umum digunakan adalah petroleum eter, karbon tetra klorida dan sebagainya (Ketaren, 1985).

Sulawesi Utara, kumino di daerah Ambon, dan rame di daerah Riau. Urutan sistematika tumbuhan kunyit adalah sebagai berikut. Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Kelas : Monocotyledon Subkelas : Zingiberidae Ordo : Zingiberales

2.2.4 Ekstraksi dengan lemak padat Proses ini umumnya digunakan untuk mengekstraksi bungabungaan, untuk mendapatkan mutu dan rendeman minyak atsiri yang tinggi. Metode ekstraksi dapat dilakukan enfleurasi dan maserasi. dengan dua cara yaitu

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Species : Curcuma domestica (Hayati, 2003)

2.3 Kunyit (Curcuma domestica Val.) Kunyit dikenal dengan nama ilmiah Curcuma domestica. Di berbagai daerah, kunyit mempunyai nama yang berbeda-beda, seperti runyit untuk daerah Aceh, kunyir di daerah Palembang, koneng temcu di daerah Jawa Barat, kunyit atau kunir di daerah Jawa Timur, konyek di Madura, janar di Kalimantan Selatan, lawahu di Gorontalo, uni di daerah Toraja, nikwai di daerah Irian Jaya, kunidi di

2.4 Analisa Komponen Minyak Atsiri dengan GC-MS Analisa komponen minyak atsiri merupakan masalah yang cukup rumit karena minyak atsiri mengandung campuran senyawa dan sifatnya yang mudah menguap pada suhu kamar. kromatografi gas (GC), kendala Setelah ditemukannya

dalam analisis komponen minyak atsiri mulai dapat diatasi. Pada penggunaan GC, efek penguapan dapat dihindari bahkan dihilangkan sama sekali. Perkembangan teknologi instrumentasi yang menghasilkan suatu alat yang pesat akhirnya dapat

merupakan gabungan dua system dengan prinsip dasar yang berbeda satu sama lain tetapi saling melengkapi, yaitu gabungan antara kromatografi gas dan spectrometer massa. Kromatografi gas berfungsi sebagai alat pemisah berbagai campuran komponen dalam spectrometer massa berfungsi sampel sedangkan

Menurut Eaton (1989), hal yang mempengaruhi waktu retensi yaitu: 1. Sifat senyawa, semakin sama kepolaran dengan kolom dan makin kurang keatsiriannya maka akan tertahan lebih lama di kolom dan sebaliknya. 2. Sifat adsorben, semakin sama kepolaran maka senyawa akan semakin lama tertahan dan sebaliknya. 3. Konsentrasi adsorben, semakin banyak adsorben maka senyawa semakin

untuk mendeteksi masing-masing komponen yang telah dipisahkan pada kromatografi gas (Agusta, 2000).

2.4.1 Kromatografi gas Kromatografi gas digunakan untuk memisahkan komponen campuran kimia dalam suatu bahan, berdasarkan polaritas campuran. Fase gerak perbedaan

lama tertahan dan sebaliknya. 4. Temperatur kolom, semakin rendah temperatur maka senyawa semakin lama tertahan dan sebaliknya. 5. Aliran gas pembawa, semakin kecil aliran gas maka senyawa semakin lama tertahan dan sebaliknya.

akan membawa campuran sampel menuju kolom. Campuran dalam fase gerak akan berinteraksi dengan fase diam. Setiap komponen yang terdapat dalam campuran berinteraksi dengan kecepatan yang berbeda dimana interaksi komponen dengan fase diam dengan waktu yang paling cepat akan keluar pertama dari kolom dan yang paling lambat akan keluar paling akhir (Eaton, 1998). Waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa tertahan di kolom disebut waktu tambat (waktu retensi) yang diukur mulai saat penyuntikan sampai saat elusi terjadi (Gritter, dkk., 1991).

6. Panjang kolom, semakin panjang kolom akan menahan senyawa lebih lama dan sebaliknya. Bagian utama dari kromatografi gas adalah gas pembawa, sistem injeksi, kolom, fase diam, suhu dan detektor.

2.4.1.1 Gas Pembawa

Gas pembawa harus memenuhi persyaratan antara lain harus inert, murni,

dan mudah diperoleh. Pemilihan gas pembawa tergantung pada detektor yang dipakai. Keuntungannya adalah karena semua gas ini harus tidak reaktif, dapat dibeli dalam keadaan murni dan kering yang dapat dikemas dalam tangki bertekanan tinggi. Gas pembawa yang sering dipakai adalah helium (He), argon (Ar), nitrogen (N2), hidrogen (H2), dan karbon dioksida (CO2) (Agusta, 2000).

Kolom kemas adalah pipa yang terbuat dari logam, kaca atau plastic yang berisi penyangga padat yang inert. Fase diam, baik berwujud padat maupun cair diserap atau terikat secara kimia pada permukaan penyangga padat tersebut. Kolom kapiler banyak komponen minyak digunakan untuk menganalisis

atsiri. Hal ini disebabkan oleh kelebihan kolom tersebut yang memberikan hasil analisis dengan daya pisah tinggi dan sekaligus memiliki sensitivitas yang tinggi. Bahan kolom biasanya dari gelas baja tahan karat atau silica. Fase cair berupa lapisan film dilapiskan pada dinding kolom bagian dalam. Secara umum keuntungan penggunaan kolom kapiler adalah jumlah sampel yang dibutuhkan sedikit dan pemisahan lebih sempurna (Agusta, 2000). 2.4.1.4 Fase diam Fase diam dibedakan berdasarkan kepolarannya, yaitu non polar, sedikit polar, polar, semi polar dan sangat polar. Berdasarkan sifat minyak atsiri yang nonpolar sampai sedikit polar maka untuk keperluan analisis sebaiknya digunakan kolom dengan fase diam yang bersifat sedikit polar, misalnya SE-52 dan SE-54 (Agusta, 2000).

2.4.1.2 Sistem Injeksi Cuplikan dimasukkan kedalam ruang suntik melalui gerbang suntik, biasanya berupa lubang yang ditutupi dengan septum atau pemisah karet. Ruang suntik harus dipanaskan tersendiri, terpisah dari kolom, dan biasanya pada suhu 10-15oC lebih tinggi dari suhu maksimum. Jadi seluruh cuplikan diuapkan segera setelah disuntikkan dan dibawa ke kolom (Gritter, dkk., 1991).

2.4.1.3 Kolom Ada dua macam kolom, yaitu kolom kemas dan kolom kapiler (Agusta, 2000; McNair and Bonelli, 1988).

2.4.1.5 Suhu Tekanan uap sangat bergantung pada suhu, maka suhu merupakan factor

utama dalam GC. Pada GC-MS terdapat tiga pengendali suhu yang berbeda, yaitu: suhu injektor, suhu kolom, suhu detektor. Suhu injector Suhu injector harus cukup panas untuk menguapkan cuplikan dengan cepat sehingga tidak menghilangkan penyuntikan. Tetapi sebaliknya, keefisienan cara

2.4.1.6 Detektor Menurut McNair dan Bonelli (1988) ada dua detektor yang popular yaitu detektor hantar-thermal (DHB) dan detektor pengion nyala (DPN). 2.4.2 Spektrometri massa Spektrometri massa adalah suatu teknik analisis yang didasarkan pada pemisahan berkas-berkas perbandingan massa dengan ion yang sesuai dengan

suhu harus cukup rendah untuk mencegah peruraian atau penataan ulang akibat panas (McNair and Bonelli, 1988). Suhu kolom Suhu kolom harus cukup tinggi sehingga analisis dapat diselesaikan dalam waktu yang sesuai, dan harus cukup rendah sehingga terjadi pemisahan. Umumnya semakin rendah suhu kolom, semakin tinggi koefisien partisi dalam fase diam sehingga hasil pemisahan semakin baik. Pada beberapa hal tidak dapat digunakan suhu kolom yang rendah, terutama bila cuplikan terdiri atas senyawa dengan rentangan titik didih yang lebar, untuk itu suhu perlu diprogram. Suhu detektor

muatan dan pengukuran intensitas dari berkas-berkas ion tersebut. Molekul senyawa organik pada spectrometer massa ditembak dengan berkas elektron dan menghasilkan ion bermuatan positif yang mempunyai energi yang tinggi karena lepasnya elektron dari molekul yang dapat pecah menjadi ion yang lebih kecil. Spectrum massa merupakan gambar antara limpahan relatif lawan perbandingan massa/muatan (Sastrohamidjojo, 1985).

Detektor harus cukup panas sehingga cuplikan dan air atau hasil samping yang terbentuk pada proses pengionan tidak mengembun (McNair and Bonelli,1988).

Spektrometer massa terdiri dari sistem pemasukan cuplikan, ruang pengion dan percepatan, tabung analisis, pengumpul ion dan penguat, dan pencatat.

1. Keuntungan utama spektrometri massa sebagai metode analisis yaitu metode ini lebih sensitif dan spesifik untuk identifikasi senyawa yang tidak diketahui atau untuk menetapkan keberadaan senyawa tertentu. Hal ini disebabkan adanya pola fragmentasi yang khas sehingga dapat memberikan informasi mengenai bobot molekul dan rumus molekul. Puncak ion molekul penting dikenali karena memberikan bobot molekul senyawa yang diperiksa. Puncak paling kuat pada spektrum, disebut puncak dasar (base peak), dinyatakan dengan nilai 100% dan kekuatan puncak lain, termasuk puncak ion molekulnya dinyatakan sebagai persentase puncak dasar tersebut (Silverstein, 1985). Proses Penyulingan Minyak Atsiri Anif Usman 5 comments 2. 3.

Penyulingan dengan sistem rebus (Water Distillation) Penyulingan dengan air dan uap (Water and Steam Distillation) Penyulingan dengan uap langsung (Direct Steam Distillation)

Penerapan penggunaan metode tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan seperti jenis bahan baku tanaman, karakteristik minyak, proses difusi minyak dengan air panas, dekomposisi minyak akibat efek panas, efisiensi produksi dan alasan nilai ekonomis serta efektifitas produksi. Berikut ini akan saya bahas masing-masing metode penyulingan diatas :

Penyulingan dengan sistem rebus (Water Distillation)

Banyaknya kekayaan hayati Indonesia menjadikan semakin berkembang ide-ide untuk meningkatkan nilai jual produk tanaman terutama tanaman penghasil minyak atsiri (essential oil). Di Indonesia telah dikenal sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang bisa di komersialkan, tapi baru sebagian saja yang telah digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersil. Proses untuk mendapatkan minyak atsiri dikenal dengan cara menyuling atau destilasi terhadap tanaman penghasil minyak. Didunia komersil, metode destilasi/penyulingan minyak atsiri dapat dilakukan dengan 3 cara, antara lain :

Cara

penyulingan

dengan

sistem

ini

adalah

dengan

bisa menyingkat waktu proses produksi. Metode kukus ini biasa dilengkapi sistem kohobasi yaitu air kondensat yang keluar dari separator masuk kembali secara otomatis ke dalam ketel agar meminimkan kehilangan air. Bagaimanapun cost produksi juga diperhitungkan dalam aspek komersial. Disisi lain, sistem kukus kohobasi lebih menguntungkan oleh karena terbebas dari proses hidrolisa terhadap komponen minyak atsiri dan proses difusi minyak dengan air panas. Selain itu dekomposisi minyak akibat panas akan lebih baik dibandingkan dengan metode uap langsung (Direct Steam Distillation). Metode penyulingan dengan sistem kukus ini dapat menghasilkan uap dan panas yang stabil oleh karena tekanan uap yang konstan. Jika Anda membutuhkan alat suling (destilator) berbagai type sesuai keinginan, bisa pesan dengan disini.

memasukkan bahan baku, baik yang sudah dilayukan, kering ataupun bahan basah ke dalam ketel penyuling yang telah berisi air kemudian dipanaskan. Uap yang keluar dari ketel dialirkan dengan pipa yang dihubungkan dengan kondensor. Uap yang merupakan campuran uap air dan minyak akan terkondensasi menjadi cair dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya cairan minyak dan air tersebut dipisahkan dengan separator pemisah minyak untuk diambil minyaknya saja. Cara ini biasa digunakan untuk menyuling minyak aromaterapi seperti mawar dan melati. Meskipun demikian bunga mawar, melati dan sejenisnya akan lebih cocok dengan sistem enfleurasi, bukan destilasi. Yang perlu diperhatikan adalah ketel terbuat dari bahan anti karat seperti stainless steel, tembaga atau besi berlapis aluminium. Penyulingan dengan air dan uap (Water and Steam Distillation)

Penyulingan Distillation)

dengan

uap

langsung

(Direct

Steam

Pada sistem ini bahan baku tidak kontak langsung dengan air maupun api namun hanya uap bertekanan tinggi yang difungsikan untuk menyuling minyak. Prinsip kerja metode ini adalah membuat uap bertekanan tinggi didalam boiler, kemudian Penyulingan dengan air uap tersebut dialirkan melalui pipa dan masuk ketel yang berisi bahan baku. Uap yang keluar dari ketel dihubungkan dengan kondensor. Cairan kondensat yang berisi campuran minyak dan air dipisahkan dengan separator yang sesuai berat jenis minyak. Penyulingan dengan metode ini biasa dipakai untuk bahan baku yang membutuhkan tekanan tinggi pada proses pengeluaran minyak dari sel tanaman, misalnya gaharu, cendana, dll.

dan uap ini biasa dikenal dengan sistem kukus. Cara ini sebenarnya mirip dengan system rebus, hanya saja bahan baku dan air tidak bersinggungan langsung karena dibatasi dengan saringan diatas air. Cara ini adalah yang paling banyak dilakukan pada dunia industri karena cukup membutuhkan sedikit air sehingga

Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan pada proses destilasi antara lain :

dingin seperti di pengunungan, ini dimaksudkan agar mengurangi kehilangan kalor panas. Jangan lupa dipasang juga accessories control dan safety

Bahan baku (Raw material) Pilih bahan baku yang jelas mempunyai randemen minyak tinggi. Pengukuran rendemen minyak dilakukan di laboratorium atau bisa juga dengan alat Stahl Distillation. Jika belum punya alatnya, Anda bisa pesan dengan disini. Sebelum disuling bahan baku harus dirajang dahulu untuk mempermudah keluarnya minyak yang berada di ruang antar sel dalam jaringan tanaman. Tentukan juga perlakuan awal raw material, apakah bahan basah, layu atau kering. Ini sangat penting karena setiap bahan baku memerlukan penenangan yang berbeda. Sebagai contoh perlakuan nilam sebaiknya dalam keadaan kering dengan kadar air antara 22-25%. Jika yang masuk ketel adalah nilam basah membutuhkan waktu destilasi lebih lama, akibatnya cost produksi menjadi lebih besar.

device yang minimal berupa thermometer, manometer tekanan (pressure gauge) dan safety valve untuk alat destilasi yang menggunakan boiler.

Condensor (Pendingin) Alat ini digunakan untuk kondensasi (mengembunkan) uap yang keluar dari ketel. Prinsip kerja alat adalah merubah fase uap menjadi fase cair karena pertukaran kalor pada pipa pendingin. Pada alat berskala laboratorium bisa menggunakan condensor lurus (liebig), sedang untuk skala industri harus menggunakan kondensor yang lebih besar. Kondensor untuk skala produksi berbahan stainless dalam bentuk pipa spiral agar kontak dengan air pendingin lebih lama dan area perpindahan kalor juga lebih panjang.

Alat Penyulingan Untuk mendapatkan produk minyak alat atsiri yang terhadap yang tidak produk Separator (Pemisah Minyak) Alat ini berfungsi untuk memisahkan minyak atsiri dengan air berdasarkan perbedaan berat jenis. Separator untuk alat suling sistem kukus kohobasi tersedia 2 macam yaitu untuk minyak dengan density (massa jenis) rendah dan minyak density tinggi. 1. Material Pharmaceutical Grade (SUS 316) 2. Material Food Grade (SUS 314) 3. Material Mild Mild Steel Galvanized 4. Material Mild Steel Untuk keperluan destilasi minyak atsiri biasa digunakan material food grade. Perlu diperhatikan juga penggunaan jacket ketel atau sekat kalor jika proses penyulingan berada didaerah

berkualitas,

gunakan

bereaksi/menimbulkan

kontaminasi

minyak. Material yang baik adalah dengan glass/pyrex dan stainless steel. Untuk material glass hanya mampu untuk skala laboratorium, sedang skala industri biasa digunakan stainless steel. Jenis material stainlees steel mulai dari yang paling bagus antara lain :

Receiver Tank (Tangki Penampung) Digunakan untuk menampung minyak atsiri, bisa dari bahan glass atau stainless steel. Untuk bahan glass, gunakan botol gelap agar minyak terhindar dari masuknya sinar matahari langsung sehingga tidak menurunkan grade minyak.

Minyak Atsiri Jeruk: Peluang Meningkatkan Nilai Ekonomi Kulit Jeruk Minyak atsiri memiliki kegunaan yang luas, antara lain untuk industri kosmetik, makanan olahan, kesehatan, dan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Minyak atsiri jeruk memiliki karakter yang sesuai untuk berbagai keperluan tersebut. yang berguna, seperti sampah organik menjadi pupuk kompos serta sampah plastik menjadi peralatan rumah tangga. Kulit jeruk merupakan salah satu sampah atau limbah yang dapat diolah untuk menghasilkan produk bernilai tinggi, yaitu minyak atsiri. Produk ini digandrungi oleh konsumen, terutama kalangan menengah ke atas, untuk keperluan kesehatan dan bahan pengharum. Jenis Minyak Atsiri Jeruk dan Metode Ekstraksi Jenis minyak atsiri jeruk dibedakan berdasarkan varietasnya. Semua kulit jeruk sebenarnya dapat diambil atau diekstrak minyak atsirinya. Namun, kulit jeruk yang tersedia cukup banyak adalah kulit jeruk manis, jeruk besar, jeruk siam, jeruk siam madu, jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk keprok. Ekstraksi minyak atsiri dari kulit jeruk dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan pengepresan dingin, menggunakan bahan pelarut, serta dengan distilasi atau penyulingan. Cara yang sederhana dan mudah dilakukan adalah dengan distilasi uap/air. Prinsipnya, uap air digunakan untuk mengangkat minyak atsiri dari dalam jaringan kulit jeruk, kemudian uap yang mengandung minyak atsiri didinginkan dengan air mengalir. Campuran air dan minyak akan terpisah karena adanya perbedaan berat jenis. Lapisan minyak berada di bagian atas, sedangkan air di lapisan bawah. Lapisan minyak

diambil menggunakan pipet lalu dimasukkan ke dalam botol berwarna gelap. Minyak dalam botol lalu disimpan di tempat yang bersuhu rendah dan terhindar dari sinar matahari, seperti di dalam kulkas. Kandungan Senyawa dan Manfaat Minyak Atsiri Jeruk Minyak atsiri jeruk terdiri atas berbagai senyawa yang mudah menguap. Kulit jeruk memiliki kandungan senyawa yang berbeda-beda, bergantung varietas, sehingga aromanya pun berbeda. Namun, senyawa yang dominan adalah limonen. Kandungan limonen bervariasi untuk tiap varietas jeruk, berkisar antara 70-92%. Berdasarkan hasil uji preferensi, aroma minyak atsiri jeruk yang paling disukai konsumen adalah minyak atsiri dari jeruk manis, purut, lemon, nipis, jari budha/kuku harimau, dan jeruk siam madu. Aroma minyak atsiri yang kurang disukai adalah yang berasal dari jeruk besar dan siam. Minyak atsiri jeruk dapat digunakan sebagai pengharum ruangan, bahan parfum, dan penambah cita rasa pada makanan. Minyak atsiri jeruk juga bermanfaat bagi kesehatan, yaitu untuk aroma terapi. Aroma jeruk dapat menstabilkan sistem syaraf, menimbulkan perasaan senang dan tenang, meningkatkan nafsu makan, dan menyembuhkan penyakit. Manfaat bagi kesehatan tersebut karena minyak atsiri jeruk mengandung senyawa limonen yang berfungsi melancarkan peredaran darah, meredakan radang tenggorokan dan batuk, serta menghambat sel kanker. Minyak atsiri jeruk juga mengandung linalool, linalil, dan terpineol yang memiliki fungsi sebagai penenang (sedatif), serta sitronela sebagai penenang dan pengusir nyamuk. Manfaat beberapa minyak atsiri jeruk dalam penyembuhan penyakit adalah:

Jeruk manis: sebagai sedatif, antidepresi, tonik, antiseptik. Jeruk purut: sebagai sedatif, pengusir nyamuk, pereda flu, tonik. Grape fruit: penghambat sel kanker karena mengandung limonen tinggi (>90%) Jeruk lemon: antihipertensi, tonik, antibakteri. Potensi Ekonomi Perilaku konsumen yang cenderung menyukai produk alami merupakan peluang bagi industri minyak atsiri. Konsumen umumnya menyukai minyak atsiri jeruk untuk aroma terapi dan pengharum ruangan. Segmen pasar potensial minyak atsiri jeruk antara lain perkantoran, salon/spa, restoran, dan rumah tangga. Selain memberikan nilai tambah, industri minyak atsiri jeruk dapat menyediakan lapangan kerja, mulai dari pengolahan hingga pemasaran, bahkan bagi para pemulung. Oleh karena itu, potensi ini perlu dimanfaatkan secara maksimal agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Mizu Istianto). Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Jalan Raya Solok-Aripan km 8 Kotak Pos 5 Solok 27301 Telepon : (0755) 20137 Faksimile : (0755) 20592 E-mail: balitbu@litbang.deptan.go.id