Anda di halaman 1dari 118

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN

SKRIPSI

Oleh : Nama Nomor Mahasiswa Program Studi : Rudi Isnanta : 04 312 069 : Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN

SKRIPSI Disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana jenjang Strata 1 jurusan Akuntan si pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Oleh : Nama Nomor Mahasiswa Program Studi : Rudi Isnanta : 04 312 069 : Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

ii

PERNYATAAN BEBAS PLAGIATISME

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh ora ng lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut referensinya. Dan apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima sanksi/hukuman apapun sesuai peraturan yang berlaku.

Yogyakarta,......Maret 2008 Penulis,

(Rudi Isnanta)

iii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi ini telah disahkan dan disetujui oleh dosen pembimbing skripsi dengan judul:

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Rudi Isnanta : 04 312 069 : Akuntansi

Yogyakarta, Maret 2008 Telah disetujui dan disahkan oleh Dosen pembimbing,

(Dr. Kumala Hadi, MS. Ak.)

iv

HALAMAN PENGESAHAN UJIAN

Telah dipertahankan / diujikan dan disahkan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata -1 di Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Rudi Isnanta : 04.312.069 : Akuntansi

Yogyakarta,

Mei 2008

disahkan oleh, Penguji / Pembimbing Skripsi Penguji ............ Mengetahui, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia : Drs. Kesit Bambang P, M.Si. : Dr. Kumala Hadi, MS. Ak.

Drs. Asmai Ishak M. Bus. Ph. D

ABSTRAK

Penelitian

ini

berjudul

Pengaruh

Corporate

Governance Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Manajemen Laba Dan Kinerja Keuangan yang bertujuan untuk menguji pengaruh dan dampak dari variabel -variabel di atas. Penelitian ini menggunakan variabel Corporate Governance (meliputi kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris, dan komite audit), Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Sampel yang digunakan adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang termasuk dalam jenis perusahaan perdagangan, distribusi dan transportasi dan sesuai dengan kriteria -kriteria yang telah ditetapkan. Pengujian dilakukan dengan

menggunakan program AMOS versi 6.0. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa corporate governance dan struktur kepemilikan tidak terbukti

berpengaruh secara positif terhadap manajemen laba, namun terbukti berpengaruh secara positif terhadap kinerja

keuangan. Sedangkan manajemen laba juga tidak terbukti berpengaruh secara positif terhadap kinerja keuangan.

Kata kunci: (Corporate Governance, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan).

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Ayah & Bundaku tercinta Slamet Hadi, S.Pd. & Sri Ismiyatun, Ama.Pd. Adik2ku tersayang Puji Handayani & Nur Rahmawati. All My Spesial Ones. All My Best Friends.

vii

MOTTO Bismillahirrohmanirrohim. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al- Hasyr : 18) Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki kehancuran suatu kaum, maka tidak ada yang sanggup mencegahnya, dan tidak ada perlindungan mereka selain dari Allah .(Q.S. Ar Rad : 11) Sukses hidup adalah suatu pi lihan, komitmen pribadi dan bukan karena faktor kebetulan atau nasib. Orang disebut sukses apabila: 1. Orang tersebut mempunyai cita-cita. 2. Orang tersebut berhasil mencapai cita-cita tersebut, dan 3. Orang tersebut menikmati keberhasilan mencapi cita -cita tersebut. Sukses besar adalah akumulasi dari sukses -sukses kecil, tujuan jangka panjang tercapai melalui tujuan jangka menengah, dan pendek. Setiap orang yang sukses dan bahagia pasti mer aih tujuannya melalui strategi, perjuangan, pengorbanan, d an pergumulan yang tidak kenal lelah. Tiga (3) bakat yang harus dipenuhi untuk menjadi entrepreneur: semangat, keinginan yang kuat, dan percaya diri.(Mr.Ci) Mencoba,mencoba,dan terus mencoba..! Berusaha,berusaha,dan terus berusaha..! Lakukan,lakukan,dan terus lakukan..! Berdoa,berdoa,dan terus berdoa..! Sampai tercapai cita -citamu dan berhasil meraih kesuksesanmu...!!!

viii

Change your Mindset and Take Aktion Now...!!! Never Give Up...!!! Amin..amin..amin...!!! KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah -Nya, sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi ini merupakan salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan program sarjana S -1 di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, pengarahan, dan dukungan dari berbagai pihak yang dengan ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanannya memberikan bantuan kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada: 1. Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec, selaku Rektor Universitas Islam Indonesia yang telah banyak memberi inspirasi penulis. 2. Drs. Asmai Ishak, M.Bus, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Terima kasih Pak.

ix

3. Dr. Kumala Hadi, MS.Ak, selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing penulis sampai dengan terselesaikannya skripsi ini. 4. Dosen, staf pengajar dan karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia yang telah banyak membantu penulis selama belajar di kampus di tercinta ini. 5. Ayah Bundaku, adik2ku, nenekku dan seluruh keluargaku tercinta dan tersayang yang telah mencurahkan banyak hal kepada pe nulis. 6. All My Spesial One in My Heart yang masih menggantung......tunggu aja sampai saat yang tepat untuk eksekusi. 7. All My Best Friends yang selama ini selalu bersama dalam suka, duka, sedih dan bahagia. 8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses pengerjaan skripsi ini sampai selesai.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca akan penulis terima dengan senang hati. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi i ni dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Yogyakarta, ..... Maret 2008

Penulis DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul ............................................................................................................ i Halaman Judul Skripsi .............................................................................................. ii Halaman Pernyataan Bebas Plagiatisme ................................................................ iii Halaman Pengesahan Skripsi .................................................................................. iv Halaman Pengesahan Ujian Skripsi ......................................................................... v Abstrak....................................................................................................................... vi Halaman Persembahan ............................................................................................ vii Motto ........................................................................................................................ viii Kata Pengantar ......................................................................................................... ix Daftar Isi .................................................................................................................... xi Daftar Tabel.............................................................................................................. xv Daftar Gambar ........................................................................................................ xvi Daftar Lampiran .................................................................................................... xvii

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................. ..1 1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... ...5 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... .5

xi

1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................ .5 1.5 Sistematika Penulisan .................................................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1. Teori Keagenan................................................ ...............................8 2.2. Corporate Governance ............................................................... ..10 2.2.1. Pengertian Corporate Governance..... ........................................10 2.2.2. Prinsip Dasar Pengelolaan Perusaha an yang Baik.....................12 2.3. Struktur Kepemilikan .................................................................. .13 2.4. Manajemen Laba ........................................................................ ..15 2.4.1. Definisi Dan Motivasi Manajemen Laba ...15 2.4.2. Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba......17 2.4.3. Teknik Manajemen Laba ...23 2.4.4. Kondisi Untuk Praktik Manajemen Laba... ...24 2.4.5. Pola Manajemen Laba.............................. .................................25 2.5. Kinerja Keuangan...................................................................... ..26 2.6. Perumusan Hipotesis..................................... ...............................27 2.6.1. Corporate Governance Dan Manajemen Laba ......27 2.6.2. Corporate Governance Dan Kinerja Keuangan. ........................35 2.6.3. Struktur Kepemilikan Dan Manajemen Laba...... ......................38 2.6.4. Struktur Kepemilikan Dan Kinerja Ke uangan...........................39 2.6.5. Manajemen Laba Dan Kinerja Keuangan..................................41

xii

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan Prosedur Penentuan Sampel .................................. 44 3.2. Jenis dan Sumber Data ................................................................ 44 3.3. Definisi dan Operasional Variabel.................. ..............................44 3.4. Metode Analisis ..................................................................... .....49 3.4.1. Asumsi-Asumsi SEM.......................................................... ..49 3.4.1.1. Ukuran Sample ............................................................... .49 3.4.1.2. Normalitas dan Linearitas .............................................. .49 3.4.1.3. Outliers ........................................................................... .50 3.4.1.4. Multicollinearity dan Singularity........ ..............................50 3.4.2. Uji Kesesuaian dan Uji Statistik............... ...............................50 3.4.2.1. X - Chi Square Statistic......................... ............................51 3.4.2.2. RMSEA - Root Mean Square Error of Approximation .51 3.4.2.3. GFI - Goodness of Fit Index. .51 3.4.2.4. AGFI - Adjusted Goodness of Fit Index....52 3.4.2.5. CMIN/DF... ....52 3.4.2.6. TLI - Tucker Lewis Index ..52 3.4.2.7. CFI - Comparative Fit Index ..52 3.4.3. Model Baseline ....53 3.4.3.1. Satured Model ....53

xiii

3.4.3.2.Independent Model .53 3.5. Pengujian Hipotesis......................................................................54 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif ....................................................................... 55 4.2. Analisis Statistik ......................................................................... 57 4.2.1. Uji Asumsi-Asumsi SEM...................................................... 58 4.2.1.1. Ukuran Sampel ................................................................ 58 4.2.1.2. Uji Normalitas Data ........................................................ 59 4.2.1.3. Uji Multicolinearity dan Singularity ............................... 60 4.2.2. Uji Goodness of Fit ............................................................... 61 4.2.3. Pengujian Hipotesis ............................................................... 63 4.2.3.1. Pengujian H1 ................................................................... 64 4.2.3.2. Pengujian H2 ................................................................... 65 4.2.3.3. Pengujian H3 ................................................................... 67 4.2.3.4. Pengujian H4 ................................................................... 67 4.2.3.5. Pengujian H5 ................................................................... 68 4.2.3.6 Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung ........ 69 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ................................................................................ 71 5.2. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 72 5.3 Saran............................................................................................. 72

xiv

Daftar Pustaka.......................................................................................................... 74 Lampiran .................................................................................................................. 77 DAFTAR TABEL

Tabel 1 Operasional Variabel Penelitian .................................................................... 48 Tabel 2 Hasil Perhitungan Mean dan Standar Deviasi ................................................ 56 Tabel 3 Uji Normalitas ................................................................................................ 59 Tabel 4 Measurement Model - Goodness of Fit.......................................................... 61 Tabel 5 Estimasi Hasil Analisis SEM ......................................................................... 64 Tabel 6 Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung ...................................... 70

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Model Pengujian ....................................................................................... 43 Gambar 2. Hasil Pengujian Hipotesis ......................................................................... 63

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Penelitian......................................................................................... 77 Lampiran 2 Pengukuran Manajemen Laba Dengan Akrual Modal Kerja .................. 81 Lampiran 3 Pengukuran Kinerja Keuangan Dengan CFROA .................................... 85 Lampiran 4 Klasifikasi Desain Riset Manajemen Laba .............................................. 89 Lampiran 5 Analisis Statistik ...................................................................................... 91

xvii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Sebagai pengelola perusahaan, manajer akan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan dibandingkan pemilik (pemegang saham). Manajer berkewajiban memberikan sinyal menge nai kondisi perusahaan kepada pemilik sebagai wujud dari tanggung atas pengelolaan perusahaan . Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Dalam kondisi yang demikian ini dikenal sebagai info rmasi yang tidak simetris atau asimetri informasi (information asymmetric) (Haris, 2004). Adanya asimetri antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) akan memberi kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) (Richa rdson, 1998). Tindakan earnings management telah menimbulkan beberapa kasus skandal pelaporan akuntansi dalam dunia bisnis, antara lain Enron, Merck, World Com dan mayoritas perusahaan lain di Amerika Serikat (Cornett, Marcuss, Saunders dan Tehranian, 2006). Selain itu, di Indonesia juga terjadi hal serupa, seperti PT. Lippo Tbk dan PT. Kimia Farma Tbk juga melibatkan pelaporan keuangan (financial reporting) yang berawal dari terdeteksi adanya manipulasi (Gideon, 2005).

Dari beberapa contoh kasus tersebut di atas, maka sangat relevan bila ditarik suatu pertanyaan tentang bagaimana efektivitas penerapan corporate governance. Corporate governanace merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efesiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan anta ra manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Corporate governance juga memberikan suatu struktur yang memfasilitasi penentuan sasaran -sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai sarana untuk menentukan teknik monit oring kinerja (Deni, Khomsiyah dan Rika, 2004). Perilaku manipulasi oleh manajer yang berawal dari konflik kepentingan tersebut dapat diminimumkan melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk menyelaraskan (alignment) berbagai kepenti ngan tersebut. Pertama, dengan memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (managerial ownership) (Jensen dan Meckling, 1976), sehingga kepentingan pemilik atau pemegang saham akan dapat disejajarkan dengan kepentingan manajer. Kedua, kepemilikan saham oleh investor institusional. Mohd et al. (1998) dalam Pratana dan Masud (2003) menyatakan bahwa investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor agen dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi manajer untuk mengatur laba menjadi berku rang. Ketiga, melalui peran monitoring oleh dewan komisaris (board of directors) serta memaksimalkan fungsi komite audit yang ada dalam perusahaan. Dechow et al. (1996) dan Beasly (1996) menemukan hubungan yang signifikan antara peran dewan komisaris denga n pelaporan keuangan. Selain itu juga ditemukan bahwa ukuran dan independensi dewan komisaris mempengaruhi kemampuan mereka dalam memonitor proses pelaporan keuangan.

Sedangkan hubungannya dengan kinerja, laporan keuangan merupakan dasar untuk penilaian kinerja perusahaan. Laporan keuangan yang sering digunakan untuk mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba rugi. Namun, laba yang dihasilkan dalam laporan laba rugi seringkali dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan (Kieso dan Weygandt, 1995), sehingga laba yang tinggi pun belum tentu mencerminkan kas yang besar. Sedangkan laporan arus kas mempunyai nilai lebih untuk menjamin kinerja perusahaan di masa mendatang. Arus kas (Cash Flow) menunjukkan hasil operasi yang dananya telah diterima tunai oleh perusahaan dan juga beban yang bersifat tunai yang benar -benar sudah dikeluarkan oleh perusahaan (Pradhono, 2004). Cash flow return on assets (CFROA) digun akan sebagai salah satu alat untuk melakukan pengukuran kinerja perusahaan yang menunjukkan kemampuan aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba operasi. Dengan menggun akan CFROA maka akan dapat lebih memfokuskan pada pengukuran kinerja perusahaan saat ini karena CFROA tidak terikat dengan harga saham (Cornet t et al., 2006). Laporan keuangan adalah sebuah produk informasi yang dihasilkan yang sangat penting yang berkaitan dengan kondisi perusahaan sehingga dalam penyusunannya tidak bisa terlepas dari proses penyusunannya. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan keputusan yang diambil dalam proses penyusunan laporan keuangan akan sangat mempengaruhi sekali dalam penilaian kinerja perusahaan. Penelitian Theresia (2005) menunjukkan bahwa tindakan manajemen laba merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerj a perusahaan. Manajemen akan memilih metode akuntansi tertentu untuk mendapatkan laba yang sesuai denga n

motivasinya. Sedangkan Gideon (2005) menyatakan bahwa manajemen laba akan sangat mempengaruhi tingkat kualitas kinerja yang dilaporkan oleh manajemen (Gideon, 2005). Penelitian Cornett et al. (2006) dengan objek penelitian pada perusahaan go public di Indonesia dan menggunakan indikator corporate governance yaitu; kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen da n ukuran dewan komisaris. Namun hasil penelitian Warfield, Terry, Wild, dan Wild (1995) berkontradiksi dengan penelitian Gabrielsen, Gorm, Jeffrey dan Thomas (1997) sedangkan Chtourou, Jean, dan Lucie (2001) berkontradiksi dengan penelitian Beasley (1996), Yermarck (1996), dan Jensen (1993). Warfield et al., (1995) menemukan hubungan negatif antara kepemilikan manajerial dan discretionary accruals sebagai ukuran manajemen laba dan berhubungan positif antara kepemilikan manajerial dengan kandungan informasi laba. Sedangkan Gabrielsen, et al. (1997) menemukan hasil yang positif tidak signifikan antara kepemilikan manajerial dengan manajemen laba serta menemukan hubungan negatif antara kepemilikan manajerial dengan kualitas laba. Chtourou et al. (2001) menemu kan bahwa ukuran dewan komisaris berhubungan negatif dengan manajemen laba. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Beasley (1996), Yermarck (1996), dan Jensen (1993) dimana semakin besar ukuran dewan komisaris maka semakin besar kemungkinan kecurangan dalam pelaporan keuangan. Berdasarkan latar belakang di atas maka judul penelitian ini adalah PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN.

1.2. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah corporate governance, dalam hal ini kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris indepe nden dan komite audit berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan, (2) Apakah struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan, (3) Apakah manajemen laba berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

1.3. TUJUAN PENELITIAN Sesuai dengan perumusan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris mengenai apakah corporate governance dan struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan serta apakah manajemen laba berpengaruh secara positif terhadap kinerja keuangan.

1.4. MANFAAT PENELITIAN Dengan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan teori, terutama akuntansi keuangan mengenai agency theory, corporate governance dan struktur kepemilikan serta pengaruhnya terhadap kinerja keuangan yang dilaporkan. Selain itu juga diharapkan bermanfaat bagi para pemakai laporan keuangan dan praktisi penyelenggara perusahaan dalam memahami corporate governance dan struktur kepemilikan serta praktik manajemen laba dan kinerja keuangan, sehingga dapat meningkatkan nilai dan pertumbuhan perusahaan.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I : Pendahuluan Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan tentang hal-hal pokok yang berhubungan dengan penulisan skripsi, meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : Landasan Teori Bab ini mengenai tinjauan pustaka tentang landasan teori yang menjadi dasar penulisan skripsi, meliputi : teori keagenan, corporate governance, struktur kepemilikan, manajemen laba, dan kinerja keuangan serta perumusan hipotesis penelitian.

Bab III : Metode Penelitian Bab ini menjelaskan metode-metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi, meliputi: populasi dan prosedur penentuan sampel, jenis dan sumber data, definisi dan operasional variabel, serta metode analisis.

Bab IV : Analisa dan Pembahasan Bab ini menguraikan tentang analisis data, temuan empiris yang diperoleh dalam penelitian, hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian.

Bab V : Penutup Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan , dan keterbatasan penelitian serta saran bagi penelitian selanjutnya .

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.

TEORI KEAGENAN Dalam rangka memahami corporate governance maka digunakanlah dasar

perspektif hubungan keagenan. Jensen dan Meckling (1976) meny atakan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu bia ya keagenan (agency cost). Penyebab timbulnya manajemen laba akan dapat dijelaskan dengan menggunakan teori agensi. Sebagai agen, manajer bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal) dengan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan dimana masing -masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki (Ali, 2002). Eisenhardt (1989) menggunakan tiga asu msi sifat dasar manusia guna menjelaskan tentang teori agensi yaitu: (1) manusia pada umum nya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut manajer sebagai manusia

kemungkinan besar akan bertindak berdasarkan sifat opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya (Haris, 2004).

Sebagai pengelola perusahaan, manajer perusahaan tentu akan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu manajer sudah seharusnya selalu memberikan sinyal mengenai kondisi perusaha an kepada pemilik. Sinyal yang dapat diberikan oleh manajer yakni melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hal yang sangat penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya (Ali, 2002). Adanya ketidakseimbangan penguasaan informasi ini akan memicu munculnya kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Dengan adanya asimetri informasi antara manajem en (agent) dengan pemilik (principal) akan memberi kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) sehingga akan menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi perusahaan. Penelitian Richardson (1998) menunjukk an adanya hubungan positif antara asimetri informasi dengan manajemen laba. Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance sangat berkaitan dengan bagaimana membuat para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa manajer tidak akan mencuri/menggelapkan ata u menginvestasikan ke dalam proyek proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh investor.

Selain itu Corporate Governance juga berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para manajer (Shleifer dan Vishny , 1997). Dengan kata lain yakni corporate governance diharapkan akan dapat berfungsi untuk menekan atau menurunkan biaya keagenan (agency cost).

2.2.

CORPORATE GOVERNANCE

2.2.1. Pengertian Corporate Governance Corporate governance muncul karena terjadi pemisa han antara kepemilikan dengan pengendalian perusahaan, atau seringkali dikenal dengan istilah masalah keagenan. Permasalahan keagenan dalam hubungannya antara pemilik modal dengan manajer adalah bagaimana sulitnya pemilik dalam memastikan bahwa dana yang ditanamkan tidak diambil alih atau diinvestasikan pada proyek yang tidak

menguntungkan sehingga tidak mendatangkan return. Corporate governance diperlukan untuk mengurangi permasalahan keagenan antara pemilik dan manajer. Beberapa konsep tentang corporate governance antara lain yang dikemukakan oleh Shleifer and Vishny (1997) yang menyatakan corporate governance berkaitan dengan cara atau mekanisme untuk meyakinkan para pemilik modal dalam memperoleh return yang sesuai dengan investasi yang telah ditanam. Is kandar dkk (1999) menyatakan bahwa corporate governance merujuk pada kerangka aturan dan peraturan yang memungkinkan stakeholders untuk membuat perusahaan memaksimalkan nilai dan untuk memperoleh return. Selain itu corporate governance merupakan alat untuk menjamin direksi dan manajer (atau insider) agar bertindak yang terbaik bagi kepentingan investor (kreditur atau shareholder) (Prowson, 1998).

10

Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian oleh agen dalam sebuah organisasi cenderung men imbulkan konflik keagenan diantara principal dengan agen. Jansen dan Meckling (1976), Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa laporan keuangan yang dibuat dengan angka -angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik diantara pihak -pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan yang dilaporkan oleh agen sebagai pertanggungjawaban kinerjanya, dengan itu principal dapat menilai, mengukur, dan mengawasi sampai sejauh mana agen tersebut bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya, serta memberikan kompens asi kepada agen. Laporan keuangan digunakan principal untuk memberikan kompensasi kepada agen dengan harapan dapat mengurangi konflik keagenan dapat dimanfaatkan oleh agen untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Akuntansi akrual yang dicatat dengan basis akrual (accrual basis) merupakan subjek managerial discretion, karena fleksibilitas yang diberikan oleh GAAP memberikan dorongan kepada manajer untuk memodifikasi laporan keuangan agar dapat menghasilkan laporan laba seperti yang diinginkan, meskipun menciptakan distorsi dalam pelaporan laba (Watts dan Zimmer man, 1986). Salah satu cara yang diharapkan dapat digunakan untuk mengontrol biaya keagenan yaitu dengan menerapkan tata kolola perusahaan yang baik (good corporate governance). Kaen (2003) menyatakan corporate governance pada dasarnya menyangkut masalah siapa (who) yang seharusnya mengendalikan jalannya kegiatan korporasi dan mengapa (why) harus dilakukan pengendalian terhadap jalannya kegiatan korporasi. Yang dimaksud dengan siapa adalah para pe megang saham, sedangkan mengapa adalah karena adanya hubungan antara pemegang saham dengan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.

11

Penelitian yang pernah dilakukan Jansen dan Meckling (1976) menunjukkan bahwa untuk meminimalkan konflik k eagenan adalah dengan meningkatkan kepemilikan manajerial di dalam perusahaan. Ross et al (1999) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan manjemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha untuk meningkatkan kinerjanya untuk kepenting an pemegang saham dan untuk kepentingannya sendiri. Vafeas (2000) mengatakan bahwa selain kepemilikan manajerial, peranan dewan komisaris juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui fungsi monitoring at as pelaporan keuangan. Komite audit yang dibentuk dalam perusahaan sebagai sebuah komite khusus diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi pengawasan yang sebelumnya dilakukan oleh dewan komisaris. Komite audit melakukan fungsinya dalam hal pengawasan terhadap laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal.

2.2.2. Prinsip Dasar Pengelolaan Perusahaan yang Baik Menurut Linan (2000) terdapat empat prinsip dasar pengelolaan perusahaan yang baik. Keempat prinsip tersebut a dalah : 1. Keadilan (fairness) yang meliputi : (a) Perlindungan bagi seluruh hak pemegang saham. (b) Perlakuan yang sama bagi para pemegang saham. 2. Transparansi (transparancy) yang meliputi: (a) Pengungkapan informasi yang bersifat penting. (b) Informasi harus disiapkan, diaudit, diungkapkan dengan pembukuan berkualitas.

12

(c) Penyebaran informasi harus bersifat adil, tepat waktu dan efisien. 3. Dapat dipertanggungjawabkan (accountability) yang meliputi meliputi: (a) Dewan direksi bertindak mewakili kepentingan perusahaan dan pemegang saham. (b) Penilaian yang bersifat independen terlepas dari manajemen. (c) Akses terhadap informasi secara akurat, relevan dan tepat waktu. 4. Pertanggungjawaban (responsibility) meliputi: (a) Menjamin dihormatinya segala hak pihak-pihak yang berkepentingan. (b) Para pihak yang berkepentingan harus mempunyai kesempatan untuk

mendapatkan ganti rugi yang efektif atas pelanggaran hak-hak mereka. (c) Dibukanya mekanisme pengembangan prestasi bagi pihak yang berkepentingan. (d) Jika diperlukan, para pihak yang berkepentingan harus mempunyai akses terhadap informasi yang relevan.

2.3.

STRUKTUR KEPEMILIKAN Masalah corporate governance merupakan masalah yang timbul sebagai akibat

pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut antara lain karena karakteristik kepemilikan dalam perusahaan, seperti (1).Kepemilikan menyebar (dispersed ownership). Ditemukan bahwa perusahaan yang kepemilikannya lebih menyebar memberikan imbalan yang lebih besar kepada pihak manajemen daripada perusahaan yang kepemilikannya lebih terkonsentrasi (Gilberg dan Idson, 1995) (2) Kepemilikan terkonsentrasi (closely held). Dalam tipe kepemilikan seperti ini timbul dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling interest dan minority interest (shareholders).

13

Adanya

agency problem

dapat

dipengaruhi

oleh struktur kepemilikan

(kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional). Struktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kontrol yang mereka miliki. Beberapa penelitian mengenai struktur kep emilikan dilakukan oleh Crutchley (1999) dengan membangun sebuah model yang menunjukkan empat keputusan yang saling terkait menyangkut leverage, dividend, insider ownership, dan institutional ownership ditentukan secara simultan dalam kerangka agency cost. Penelitian Crutchley (1999), memberikan bukti bahwa ada keterkaitan antara keputusan leverage, dividend payout ratio, insider ownership, dan institutional ownership yang ditentukan secara simultan meskipun tidak menyeluruh. Pada penelitiannya Crutchley (1999) juga membuktikan bahwa kepemilikan institusional merupakan subtitusi kepemilikan manajerial. Chen (2000) menemukan hubungan negatif antara analyst coverage dan kepemilikan manajerial, hal ini mendukung hasil penelitian Crutchley (1999.) . Kemungkinan suatu perusahaan berada pad a posisi tekanan keuangan juga banyak dipengaruhi oleh struktur kepemilikan perusahaan tersebut. Struktur kepemilikan tersebut menjelaskan komitmen dari pemiliknya untuk menyelamatkan perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Classens et al. (1996) mengen ai struktur kepemilikan di Republik Ceko menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan akan lebih tinggi apabila perusahaan tersebut dimiliki oleh lembaga keuangan yang disponsori oleh bank.

14

Hal ini menjelaskan bahwa bank, sebagai pemilik perusahaan, akan menja lankan fungsi monitoringnya dengan lebih baik dan investor percaya bahwa bank tidak akan melakukan ekspropriasi atas aset perusahaan. Selain itu, apabila perusahaan tersebut dimiliki oleh perbankan maka apabila perusahaan tersebut menghadapi masala h keuangan maka perusahaan lebih mudah mendapatkan suntikan dana dari bank tersebut. Classens et al. (1999) menyatakan bahwa kepemilikan oleh bank akan menurunkan kemungkinan perusahaan mengalami kebangrutan. Namun, apabila struktur kepemilikan perusahaan dimilik i oleh dewan direksi atau dewan komisarisnya maka dewan tersebut justru akan cenderung melakukan tindakan -tindakan ekspropriasi yang menguntungkannya secara pribadi Oleh karena itu dengan kepemilikan perusahaaan dimiliki oleh direksi semakin meningkat maka keputusan yang diambil oleh direksi akan lebih cenderung untuk menguntungkan dirinya dan secara keseluruhan akan merugikan perusahaan sehingga kemungkinan nilai perusahaan akan cenderung mengalami penurunan.

2.4.

MANAJEMEN LABA

2.3.1. Definisi Dan Motivasi Ma najemen Laba Scott (2000) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs (oportunistic Earnings Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management) , dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan

15

dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak -pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu. Definisi manajemen laba yang hampir sama juga diungkapkan oleh Schipper (1989) dalam Sutrisno (2002) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan ek sternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut). Menurut Assih dan Gudono (2000) mengartikan manajemen laba sebagai suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Accepted Accounting Principles (GAAP) untuk mengarah pada tingkatan laba yang dilaporkan. Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, dan menambah bias dalam laporan keuangan serta mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Naim, 2000 ). Manajemen laba merupakan area yang kontroversial dan penting dalam akuntansi keuangan. Beberapa pihak yang berpendapat bahwa manajemen laba merupakan perilaku yang tidak dapat diterima, mempunyai alasan bahwa manajemen laba berarti suatu pengurangan dalam keandalan informasi laporan keuangan. Investor mungkin tdak menerima informasi yang cukup akurat mengenai laba untuk mengevaluasi return dan risiko portofolionya (Ashari dkk, 1994) dalam Assih (2004).

16

2.3.2. Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba Dalam positif accounting theory terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu: 1. Bonus Plan Hypothesis Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan. Dalam suatu perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, maka seorang manajer perusahaan akan mela kukan penaikan laba saat ini yakni dengan memilih metode akuntansi yang mampu menggeser laba dari masa depan ke masa kini. Tindakan ini dilakukan dikarenakan manajer termotivasi untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi untuk masa kini. Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba berada di bawah bogey, maka tidak akan ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan jika laba berada di atas cap, maka manajer juga tidak akan mendapat bonus tambahan. Jika laba bersih berada di bawah bogey, manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada periode berikutnya, begitu pula sebaliknya. Jadi manajer hanya akan menaikkan laba bersih perusah aan hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap. 2. Debt Covenant Hypothesis Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba (Sweeney, 1994). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.

17

Dalam suatu perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity cukup tinggi, maka akan mendorong manajer perusahaan untuk cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan dengan rasio debt to equity yang tinggi akan berakibat menimbulkan kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor dan bahkan perusahaan dapat terancam melanggar perjanjian utang. 3. Political Cost Hypothesis Dalam suatu perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi, akan mendorong manajer untuk memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba yang dilaporkan. Adanya biaya politik dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen. Agency theory terdapat asumsi bahwa setiap individu semata mata termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga akan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Sedangkan pemegang saham sebagai pihak principal tentu akan mengadakan kontrak dengan tujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya sendiri yakni supaya profitabilitas yang selalu meningkat. Seorang manajer dalam perusahaan berindak sebagai agent dan cenderung akan termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya sendiri yang antara lain seperti dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Munculnya masalah keagenan ini sebenarnya lebih dikarenakan adanya perilaku oportunistik dari agent, yaitu perilaku manajemen untuk

memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang tentu sangat berlawanan sekali dengan kepentingan principal. Sebagai pengelola perusahaan, manajer memiliki dorongan dan

18

mempunyai kemampuan untuk memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dinilai dapat memperlihatkan kinerjanya yang baik sehingga tujuannya untuk mendapatkan bonus dari principal akan terpenuhi. Sedangkan menurut Copeland (1968:10) manajemen laba didefinisikan sebagai, some ability to increase or decrease reported net income at will. Dari pernyataan Copeland berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk

memaksimumkan, atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajemen. Penelitian Nelson et al. (2000) meengenai praktik manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen di Amerika Serikat dan mengidentifikasi penyebab auditor membiarkan manajemen laba tanpa dikoreksi. Dari data 526 kasus manajemen laba yang diperoleh dengan cara survey pada kantor akuntan publik yang tergolong the big five Nelson menyimpulkan bahwa : (1) 60% dari sampel melakukan usaha manajemen laba yang berdampak meningkatnya laba tahun berjalan , sisanya 40% berdampak pada penurunan laba, (2) manajemen laba yang paling banyak dilakukan adalah yang berkaitan dengan cadangan (reserve), kemudian berdasarkan urutan frekuensi kejadian adalah: pengakuan pendapatan, penggabungan badan usaha (business combination), aktiva tidak berwujud, aktiva tetap, inves tasi, sewa guna usaha. Dalam rangka untuk mendeteksi ada tidaknya manajamen laba, maka perlu melakukan pengukuran atas akrual sehingga hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Total akrual merupakan selisih antara laba dan arus kas yang berasal dari akt ivitas operasi. Total akrual dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (1) bagian akrual yang memang sewajarnya ada dalam proses penyusunan laporan keuangan, disebut normal

19

accruals atau non discretionary accruals, dan (2) bagian akrual yang merupakan manipulasi data akuntansi disebut dengan abnormal accruals atau discretionary accruals. Studi komparatif yang pernah terjadi yakni dalakukan oleh Thomas dan Zhang (2000:347) tentang berbagai metode estimasi akrual, dengan tujuan u ntuk mengetahui model mana yang mempunyai akurasi yang paling tinggi. Beberapa model yang dijadikan dasar komparasi, yaitu model DeAngelo (1986), model Jones (1991), model Dechow and Sloan (1991), model Dechow (1995) serta model Kang dan Sivaramakhrisnan (1995). Thomas dan Zhang (2000) juga menguji dengan data yang digunakan adalah pool data ternyata dengan memakai data pool untuk setiap jenis industri diperoleh akurasi model prediksi yang lebih baik. Masih menurut McNichols (2000), menurutnya ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk proksi manajemen laba: (1) pendekatan yang mendasarkan pada model agregat akrual, misal Healy (1985), model Jones dan modified Jones, (2) pendekatan yang mendasarkan pada model spesifik akrual, misal Beneish (1997) serta Beaver dan McNichols (1998), dan (3) pendekatan berdasarkan distribusi frekuensi, fokusnya adalah perilaku laba yang dikaitkan dengan spesifik benchmark dimana praktik manajemen laba dapat dilihat dari banyaknya frekuensi perusahan yang melaporkan laba di atas atau di bawah benchmark, misal Burgstahler dan Dichev (1997) serta Myers dan Skinner (1999). Hasil kajian McNichols (2000) juga menyarankan bahwa agar riset mengenai manajemen laba untuk menggunakan model spesifik akrual dan distribusi frekuensi. Bukti empirik yang ada saat ini diungkapkan oleh Sloan (1996) dan Xie (2001) yakni bahwa pasar tidak mengantisipasi dengan baik informasi yang terkait dengan akrual (mispricing akrual), menurut Dechow dan Skinner (2000) hal ini disebabkan oleh

20

adanya perbedaan sudut pandang antara akademi si dan para praktisi (partisipan pasar modal). Riset mengenai manajemen laba oleh para akademisi adalah berdasarkan pada perilaku manajemen untuk memenuhi tujuan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam teori akuntansi positip, sedangkan para praktisi lebih m elihat manajemen laba dalam prespektif insentif pasar modal (capital market incentives). Selama ini para akademisi menggunakan model statistik yang rumit untuk mengidentifikasi praktik manajemen laba, sedangkan model tersebut kadang bahkan justru sulit untuk difahami. Adanya keterbatasan kemampuan para praktisi juga diungkapkan oleh Dechow dan Skinner (2000:242) yang menyatakan SEC cannot ignore the possibility that certain investors rely completely on earnings numbers reported on the face of the income st atement because their abality to process more sophisticated information is limited. Berdasarkan pada kajian McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000) maka proksi manajemen laba yang digunakan penul is adalah model spesifik akrual yaitu akrual modal kerja. Penggunaan akrual modal kerja lebih tepat sebagaimana yang telah dikaji oleh Peasnell et al. (2000). Penggunaan akrual diskresioner tidak diestimasi berdasarkan kesalahan residual karena teknik tersebut dianggap relatif rumit, oleh karena itu digunakan proksi rasio akrual modal kerja dengan penjualan. Digunakannya penjualan sebagai deflator akrual modal kerja adalah karena manajemen laba banyak terjadi pada akun penjualan sebagaimana yang diungkapkan oleh Nelson et al. (2000). Penggunaan penjualan s ebagai deflator dalam penelitian ini juga dilakukan oleh Friedlan (1994) yang memodifikasi model DeAngelo (1986) menjadi rasio antara perubahan total akrual dengan penjualan.

21

Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya : mengenakan peraturan antitrust, menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain -lain. Scott (2000: 302) mengemukakan adanya beberapa motivasi yang menyebabkan terjadinya manajemen laba : a. Bonus Purposes Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini (Healy, 1985). b. Political Motivations Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan-peraturan yang lebih ketat. c. Taxation Motivations Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan. d. Pergantian CEO CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

22

e. Initital Public Offering (IPO) Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam prospectus mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan. f. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

2.3.3. Teknik Manajemen Laba Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Nai m (2000) dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu: (1) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, esti masi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain. (2) Mengubah metode akuntansi Perubahan metode akunatansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh : merubah metode depresia si aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus.

23

(3) Menggeser periode biaya atau pendapatan. Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain :

mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengemba ngan sampai pada periode akuntansi berikutnya, mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya, mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak dipakai.

2.3.4. Kondisi untuk Praktik Manajemen Laba Trueman dan Titman (1988) berpendapat bahwa hanya manajer yang dapat mengobservasi laba ekonomi perusahaan untuk setiap perioda. Sebaliknya, pihak lain mungkin dapat menarik kesimpulan sesuatu mengenai laba ekonomi dari laba yang dilaporkan oleh perusahaan, sebagaimana yang diungkapkan oleh manajer. Dalam menyiapkan laporan mungkin manajer dapat memindah, antarperioda, pada saat sebagian laba ekonomi diketahui sebagai laba akuntansi dalam laporan keuangan. Perpindahan tersebut dapat dicapai, sebagai contoh, melalui pengakuan biaya pensiun, penyesuaian penaksiran umur ekonomis perusahaan, dan penyesuaian penghapusan piutang. Jika manajer tidak dapat memindah laba antarperioda maka laba yang dilaporkan oleh perusahaan akan sama dengan laba e konomi pada setiap perioda. Fleksibilitas untuk menunda laba antarperioda hanya tersedia bagi beberapa perusahaan, dan hanya manajer yang mengetahui apakah mereka mempunyai fleksibilitas tersebut atau tidak. Richardson (1998) menunjukkan bukti hubungan ant ara ketidakseimbangan informasi dengan manajemen laba. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat ketidakseimbangan informasi akan mempengaruhi tingkat manajemen laba yang

24

dilakukan oleh manajer perusahaan. Hasil penelitian Richardson menunjukkan adanya hubungan yang positif signifikan antara ukuran ketidakseimbangan informasi ( bid-ask spreads dan analyst forecast dispersion ) dan manajemen laba setelah mengendalikan faktor lain yang dapat mempengaruhi manajemen laba, seperti variabilitas aliran kas, ukuran, risiko, dan pengungkapan keuangan perusahaan. 2.3.5. Pola Manajemen Laba Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dapat dilakukan dengan cara: a. Taking a Bath Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang. b. Income Minimization Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya. c. Income Maximization Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang. d. Income Smoothing Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

25

2.4. KINERJA KEUANGAN Penelitian ini membahas bagaimana mekanisme corporate governance dan struktur kepemilikan mempengaruhi kinerja keuangan sehingga akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pelaksanaan corporat governance y ang baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku akan membuat investor memberikan respon positif terhadap kinerja perusahaan dan nilai pasar perusahaan. Melalui peningkatan kinerja perusahaan akan menurunkan biaya modal, sementara itu investasi terhadap perusahaan akan meningkat dan harga saham akan meningkat pula. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain terkonsentrasi atau tidak terkonsentrasinya kepemilikan, manipulasi laba, serta pengungkapan laporan keuangan. Kepemilikan yang banyak terkonsentrasi oleh institusi akan memudahkan pengendalian sehingga akan meningkatkan kinerja perusahaan. Pengungkapan aporan keuangan akan memberkan informasi yang berguna bagi pemakai laporan keuangan dan sebagai salah satu aspek GCG dapat digunak an untuk melihat baik tidaknya kinerja perusahaan. Dukungan empiris perihal faktor -faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain Penelitian yang dilakukan oleh Husnan (2000), menemukan bahwa perusahaan yang kepemilikannya lebih menyebar memberikan imbalan yang lebih besar kepada

manajemen dibanding dengan perusahaan yang kepemilikannya lebih terkonsentrasi. Xu and Wang (1999) menemukan bahwa kepemilikan saham perusahaan oleh legal person shareholder dapat memonitor manajemen secara lebih efektif melalui pen gendalian oleh board of directors , pemilihan karyawan perusahaan dan pemberian kompensasi terhadap chief corporate officer.

26

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Demzetz dan Lehn (1985) yang dikutif oleh Xu dan Wang (1999) menemukan bahwa tidak ada hubun gan yang signifikan antara konsentrasi kepemilikan dan tingkat laba akuntansi untuk 511 perusahaan terbesar di US. Holderness dan Sheehan (1988) menemukan bahwa Qtobin lebih tinggi jika perusahaan dimiliki oleh pemegang saham mayoritas, Qtobin lebih rendah secara signifikan untuk perusahaan dengan kepemilikan saham mayoritas individual. Mc Connel dan Servaes (1990) menemukan bahwa Qtobin berhubungan positif dengan proksi kepemilikan saham oleh investor institusional.

2.5. PERUMUSAN HIPOTESIS 2.5.1. Corporate Governance dan Manajemen Laba Sesuai dengan kajian dalam teori keagenan (agency theory), hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih ( principal) mempekerjakan orang lain ( agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Sebagai pengelola perusahaan , manajer lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Untuk itu, manajer harus berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang tidak sesuai dengan kondisi per usahaan sebenarnya dan dikenal sebagai asimetri informasi (information asymmetric) (Haris, 2004). Asimetri antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) akan memberi kesempatan manajer untuk melakukan manajemen laba ( earnings management) (Richardson, 1998).

27

Corporate governance terdiri dari kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independent dan komite audit. Shleifer dan Vishny (1986) menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Secara teoritis ketika kepemilikan manajemen rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya peril aku oportunistik manajer akan meningkat. Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen (Jansen dan Meckling, 1976). Sehingga permasalahan keagenen dia sumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sekaligus sebagai seorang pemilik. Penelitian Warfield et al (1995) yang menguji hubungan kepemilikan manajerial dengan discretionary accrual dan kandungan informasi laba menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial berhubungan secara negatif dengan discretionary accrual. Hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa kualitas laba meningkat ketika kepemilikan manajerial tinggi. Gabrielsen et al (2002) menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan kandungan informasi laba serta discretionary accrual. Dengan menggunakan data pasar modal Denmark ditemukan adanya hubungan yang positif tetapi tidak signifikan antara kepemilikan manajerial dan discretionary accrual dan hubungan negatif antara kepemilikan manajerial dan kandungan informasi laba. Smith (1976) menemukan bahwa income smoothing secara signifikan lebih sering dilakukan oleh perusahaan -perusahaan yang dikendalikan oleh manajer dibandingkan dengan perusahaan -perusahaan yang dikendalikan oleh pemiliknya.

28

Dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Hal ini penting mengingat adanya kepentingan dari manajemen untuk melakukan manajemen laba y ang berdampak pada kepercayaan investor. Untuk mengatasinya dewan komisaris diperbolehkan untuk memiliki akses pada informasi perusahaan. Dewan komisaris tidak memiliki otoritas dalam perusahaan, maka dewan direksi bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi terkait dengan perusahaan kepada dewan komisaris (NCCG, 2001). Selain mensupervisi dan memberi nasihat pada dewan direksi sesuai dengan UU No. 1 tahun 1995, fungsi dewan komisaris yang lain sesuai dengan yang dinyatakan dalam National Code for Good Corporate Governance 2001 adalah memastikan bahwa perusahaan telah melakukan tanggung jawab sosial dan mempertimbangkan kepentingan berbagai stakeholder perusahaan sebaik memonitor efektifitas pelaksanaan good corporate governance. Penelitian mengenai keberadaan dewan komisar is telah dilakukan diantaranya Peasnell, Pope, dan Young (1998) meneliti efektifitas dewan komisaris dan komisaris independen terhadap manajemen laba yang terjadi di Inggris. Dengan menggunakan sampel penelitian yang terdiri dari 1178 perusahaan tahun sela ma periode 1993-1996, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan komisaris independen membatasi pihak manajemen untuk melakukan manajemen laba. Xie, Davidson, dan Dadalt (2003) meneliti peran dewan komisaris dengan latar belakang bidang keuangan da lam mencegah manajemen laba. Dari penelitian ini diketahui makin sering dewan komisaris bertemu maka akrual kelolaan perusahaan makin kecil. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien negatif yang signifikan. Penelitian ini juga

29

menunjukkan bahwa persentase dewa n komisaris dari luar perusahaan yang independen berpengaruh negatif secara signifikan terhadap akrual kelolaan. Beasley (1996) menyarankan bahwa masuknya dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan meningkatkan efektivitas dewan tersebut dalam meng awasi manajemen untuk mencegah kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitiannya juga melaporkan bahwa komposisi dewan komisaris lebih penting untuk mengurangi terjadinya kecurangan pelaporan keuangan, daripada kehadiran komite audit. Analisis lain dalam penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik komisaris yang berasal dari luar perusahaan (outsider director) juga berpengaruh terhadap kecenderungan terjadinya kecurangan pelaporan keuangan. Penelitian terkait dengan keberadaan dewan komisaris di Indonesi a juga banyak dilakukan. Veronica dan Utama (2005) meneliti pengaruh praktik corporate governance terhadap manajemen laba. Praktik corporate governance yang diteliti yaitu proporsi dewan komisaris independen. Hasil dari penelitian ini adalah kesimpulan bah wa proporsi dewan komisaris independen tidak terbukti berpengaruh terhadap manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan. Boediono (2005) meneliti apakah komposisi dewan komisaris berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil dari penelitian ini diketahui bah wa secara parsial pengaruh corporate governance dalam hal ini komposisi dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Veronica dan Bachtiar (2004) menemukan bahwa variabel persentase dewan komisaris independen tidak berkorelasi secara signifi kan terhadap akrual kelolaan, walau begitu interaksi antar variabel akrual kelolaan dan dewan komisaris independen menunjukkan koefisien positif yang signifikan terhadap return perusahaan. Hal tersebut

30

dapat dijelaskan dengan makin tingginya persentase dew an komisaris independen maka akrual kelolaan makin berpengaruh terhadap return. Komite audit sesuai dengan Kep. 29/PM/2004 adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Komite audit merupakan komponen baru dalam sistem pengendalian perusahaan. Selain itu komite audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris dengan pihak manajemen dalam menangani masala h pengendalian. Berdasarkan Surat Edaran BEJ, SE-008/BEJ/12-2001, keanggotaan komite audit terdiri dari sekurang kurangnya tiga orang termasuk ketua komite audit. Anggota komite ini yang berasal dari komisaris hanya sebanyak satu orang, anggota komite yang berasal dari komisaris tersebut merupakan komisaris independen perusahaan t ercatat sekaligus menjadi ketua komite audit. Anggota lain yang bukan merupakan komisaris independen harus berasal dari pihak eksternal yang independen. Seperti diatur dalam Kep-29/PM/2004 yang merupakan peraturan yang mewajibkan perusahaan membentuk komite audit, tugas komite audit antara lain: 1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan, seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuang an lainnya, 2. Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan, 3. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan o leh auditor internal,

31

4. Melaporkan kepada komisaris berbagai risiko yang dihadapi perusahaan dan pelaksanaan manajemen risiko oleh direksi, 5. Melakukan penelaahan dan melaporkan kepada dewan komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan emiten, 6. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan rahasia perusahaan. Penelitian mengenai komite audit diantaranya penelitian oleh Davidson, Xie, dan Xu (2004) yang menganalisis reaksi pasar terhadap pengumuman penunjukkan anggota komite audit secara sukarela. Hasil y ang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan pasar bereaksi positif terhadap pengumuman penunjukan anggota komite audit terutama yang ahli di bidang keuangan. Xie, Davidson, dan Dadalt (2003) menguji efektifitas komite audit dalam mengurangi manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini berupa kesimpulan bahwa komite audit yang berasal dari luar mampu melindungi kepentingan pemegang saham dari tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Penga ruh terhadap akrual kelolaan ditunjukkan oleh makin seringnya komite audit bertemu dan pengaruh tersebut ditunjukkan dengan koefisien negatif yang signifikan. Carcello et al. (2006) menyelidiki hubungan antara keahlian komite audit di bidang keuangan dan m anajemen laba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keahlian komite audit independen di bidang keuangan terbukti mengurangi manajemen laba. Suaryana (2005) meneliti hubungan antara keberadaan komite audit yang memenuhi syarat dan pengaruhnya terhadap ear nings response coefficient. Temuan yang didapat dari penelitian ini adalah earnings reponse coefficient perusahaan yang telah

32

memiliki komite audit yang memenuhi syarat lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki komite audit yang memenuhi syarat. Ini berarti keberadaan komite audit yang memenuhi syarat dalam perusahaan direspon lebih baik oleh pasar. Utama dan Leonardo (2006) memberikan bukti empiris tentang dampak komposisi komite audit dan kendali dari pengelola perusahaan pada efektivitas komite audit berdasarkan survey atas komite audit perusahaan yang listing di BEJ. Mereka menemukan bukti bahwa komposisi komite audit memiliki dampak positif yang signifikan dalam efektivitas komite audit. Selain itu penelitian ini juga menunju kkan beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas komite audit secara signifikan selain komposisinya, diantaranya kekuatan mengendalikan perusahaan oleh pemegang saham, makin banyaknya perwakilan komisaris independen dalam dewan komisaris,

pengendalian oleh dewan komisaris, dan lamanya komite audit menjabat. Penelitian Veronica dan Utama (2005) menguji pengaruh keberadaan komite audit dalam perusahaan terhadap manajemen laba. Penelitian tersebut melaporkan bahwa variabel keberadaan komite audit tidak berp engaruh terhadap manajemen laba perusahaan. Artinya keberadaan komite audit tidak mampu mengurangi manajemen laba yang terjadi di perusahaan. Penelitian oleh Veronica dan Bachtiar (2004) menemukan bahwa komite audit memiliki hubungan yang signifikan dengan akrual kelolaan perusahaan manufaktur di Indonesia khususnya untuk periode 2001 - 2002, artinya kehadiran komite audit secara efektif menghalangi peningkatan manajemen laba di perusahaan tersebut.

33

Veronica dan Bachtiar (2004) juga meneliti pengaruh intera ksi dari persentase komite audit dengan akrual diskresioner, dan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya koefisien positif yang signifikan dalam hubungan antara reaksi pasar dan interaksi antara komite audit dan akrual diskresioner. Hal ini membu ktikan bahwa pasar menilai positif akrual kelolaan perusahaan yang memiliki komite audit yang diindikasikan dengan tingginya return perusahaan. Wedari (2004) menguji pengaruh interaksi antara dewan komisaris dan komite audit terhadap praktik manajemen lab a. Dengan menggunakan sampel perusahaan non finansial yang listing di BEJ untuk tahun 1994 hingga 2002, Wedari (2004) menunjukkan interaksi dewan komisaris dengan komite audit justru berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Hasil tersebut bertolak bela kang dengan hasil penelitian lain yang serupa, artinya dengan adanya dewan komisaris dan komite audit belum berhasil mengurangi manajemen laba karena keberadaan mereka manajer dapat melakukan manajemen laba dengan lebih leluasa. Setiawan (2006) menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh signifikan secara positif terhadap kualitas laba (earnings response coefficient), artinya dengan adanya komite audit maka perusahaan dapat meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan. Wilopo (2004) menganalis hubungan dewan komisaris independen, komite audit, kinerja perusahaan dan akrual diskresioner. Dari penelitian tersebut dilaporkan bahwa kehadiran komite audit dan dewan komisaris independen mampu mempengaruhi secara negatif praktik manajemen laba di perusahaan. Hal ini menandakan bahwa mekanisme corporate governance diatas penting untuk menjamin terlaksananya praktik perusahaan yang adil (fair) dan transparan.

34

Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebag ai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, ya kin bahwa manajer tidak akan mencuri/menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek -proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh investor, dan bagaimana para investor mengontrol para manajer (Shleifer dan Vis hny, 1997). H1: Corporate governance berpengaruh positif terhadap manjemen laba.

2.5.2. Corporate Governance dan Kinerja Keuangan Dalam perspektif agency theory, weak governance merupakan bagian dari agency costs yang terjadi dan mencerminkan adanya divergence of interest antara principal (pemilik) dan agen (manajemen) (Riyanto, 2005). Agen yang risk averse dan cenderung mementingkan dirinya sendiri ( self-serving behavior) akan mengalokasikan resources (berinvestasi) yang tidak meningkatkan nilai perusahaan. Di samping itu, agen juga melakukan shirking dengan cara menyalahgunakan ( abuse) resources dalam bentuk pecuniary dan non-pecuniary benefits. Tindakan yang merugikan perusahaan ini bisa terjadi karena adanya information asymmetry antara principal dan agen menyangkut masalah yang berhubungan dengan organisasi. Akibat adanya information asymmetry tersebut, pemilik kesulitan untuk mengetahui (observe) apakah agen sudah bertindak sebagaimana mestinya (Eisenhardt, 1985). Adanya inherent agency problems dalam pengelolaan organisasi modern ini

35

mengindikasikan bahwa nilai perusahaan akan naik jika pemilik bisa mengendalikan perilaku manajemen agar tidak menghamburkan resources perusahaan, baik dalam bentuk investasi yang tidak layak, ataupun dalam bentuk shirking. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkap pengaruh corporate governance terhadap kinerja dan nilai perusahaan. Namun, pada umumnya penelitian yang dilakukan hanya menekankan pada salah satu aspek dari agency costs, yaitu monitoring costs. Menurut Watts dan Zimmerman (1986) agency costs terdiri dari dua, yaitu monitoring costs dan bonding costs. Corporate governance dikatakan dapat menurunkan monitoring costs akibat adanya peningkatan pengawasan dan transparansi (atau penurunan information asymmetry). Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa adanya pengaruh komposisi kepemilikan dan kompisisi dewan komisaris ( board of directors) terhadap kinerja. Penelitian yang dapat menunjukkan adanya manfaat corporate governance elemen kedua dari agency costs, yaitu bonding cost, belum banyak dilakukan. Bonding costs merupakan agency costs yang ditanggung oleh agen, yang mencerminkan upaya manajemen dalam menunjukkan kepada principal bahwa mereka tidak akan

menyalahgunakan kewenangan yang diberikan kepadanya (m anajer akan berbuat demi kebaikan perusahaan). Agen sadar bahwa principal curiga kepada mereka, dan oleh karena itu akan cenderung menyalahkan mereka jika ada sesuatu yang salah. Kesadaran akan hal ini memunculkan upaya ( efforts) dari manajemen agar mereka dipercaya oleh principal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menunjukkan itikad baik dan memberikan laporan yang komprehensif kepada principal.

36

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Booz -Allen & Hamilton (1998) dan McKinsey & Company (2001) menunjukkan seberapa buruknya penilaian pasar terhadap implementasi corporate governance di Indonesia. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat mendorong manajemen untuk meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaan dan memperbaiki citra governance mereka. Manajemen dapat meningkatkan citra mereka dengan menunjukkan compliance atas good corporate governance codes sebagaimana disarankan oleh lembaga yang dipercaya, yaitu Komite Nasional Kebijakan atas Corporate Governance (KNKCG) dan mengungkapkan kepa tuhan tersebut dalam laporan tahunan. Sejauh mana kepatuhan ini membawa dampak positif bagi perusahaan, masih merupakan pertanyaan empiris yang perlu dijawab. Penelitian ini melihat pengaruh kembali atas corporate governance terhadap kinerja. Dengan melihat beberapa contoh kasus tindakan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, maka akan dipertanyakan akan bagaimana efektivitas penerapan corporate governance yang juga akan berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Corporate governanace merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efesiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang s aham dan stakeholders lainnya. C orporate governance juga memberikan suatu struktur yang memfasilita si penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai sarana untuk menentukan teknik monitoring kinerja (Deni, Khomsiyah dan Rika, 2004). H2: Corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

37

2.5.3. Struktur Kepemilikan dan Manajemen Laba Struktur kepemilikan yang menyebar luas umumnya hanya terdapat di Amerika Serikat dan Inggris. Di negara -negara maju lainnya dan negara -negara sedang berkembang, umumnya perusahaan masih dikendalikan oleh keluarga. La Porta dkk (1999), dalam Arifin (2003), melaporkan bahwa 85% dari perusahaan Spanyol mempunyai pemegang saham kendali, dibandingkan Inggris yang hanya 10% dan Amerika Serikat 20%. Begitu pula hasil penelitian Crijns & De Clerck (1997), dalam Van den Berghe & Carchon (2001), di Belgia; S hahira (2003) di Mesir; Wiwattanakantung (2000) di Thailand; Sarac (2002) di Turki; dan Arifin (2003) di Indonesia. Anderson dkk (2002) mengatakan bahwa perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga mempunyai struktur yang menyebabkan berkurangnya konflik ag ensi antara pemegang saham dan kreditur, dimana kreditur menganggap kepemilikan keluarga lebih melindungi kepentingan kreditur. Anderson & Reeb (2002) menunjukkan bahwa pemegang saham minoritas justru diuntungkan dari ad anya kepemilikan keluarga. Arifin (2003) menunjukkan bahwa perusahaan publik di Indonesia yang dikendalikan keluarga atau negara atau institusi keuangan masalah agensinya lebih baik jika dibandingkan perusahaan yang dikontrol oleh publik atau tanpa pengendali utama. Menurutnya, dalam perusahaan yang dikendalikan keluarga, masalah agensinya lebih berkurangnya konflik antara principal dan agent. Jika kepemilikan keluarga lebih efisien, maka pada perusahaan dengan kepemilikan keluarga yang tinggi pengelolaan laba yang oportunis dapa t dibatasi. Tetapi pengendalian yang lebih efisien dalam kepemilikan keluarga tersebut besar kemungkinan tidak berlaku di perusahaan konglomerasi seperti yang banyak terdapat di Indonesia. kecil karena

38

Untuk perusahaan konglomerasi, biasanya sebagian besar kekayaan pemilik tidak berada di satu perusahaan, tetapi tersebar di berbagai perusahaan. Jika hanya sedikit kekayaan pemilik yang berada di perusahaan yang go public, maka walaupun perusahaan go public tersebut dikendalikan keluarga, tetapi pengelolaan laba yang o portunistik mungkin justru tinggi. Kemungkinannya karena perusahaan yang go public tersebut hanya dijadikan sebagai sarana untuk mengumpulkan dana dari masyarakat untuk digunakan oleh kelompok perusahaannya. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Kim & Yi (2005) yang menemukan bahwa besaran pengelolaan laba lebih tinggi untuk perusahaan yang mempunyai kelompok afiliasi dibanding yang tidak mempunyai kelompok afiliasi. Berarti perusahaan dengan kelompok usaha afiliasi memberikan pemegang saham pengendali lebih banyak insentif dan kesempatan untuk melakukan pengelolaan laba. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian tersebut, penulis menduga bahwa pada perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga da n bukan perusahaan konglomerasi akan membatasi pengelolaan laba ya ng oportunis, tetapi akan mendorong pengelolaan laba yang bersifat efisien (berhubungan positif). H3 : Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

2.5.4. Struktur Kepemilikan dan Kinerja Keuangan Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori. Struktur kepemilikan dapat dikelompokkan dalam kepemilikikan terkonsentrasi dan menyebar. Selain itu juga dapat dikelompokkan secara lebih spesifik lagi dalam kategori struktur kepemilikan yang meliputi kepemilikan oleh institusi domestik, institusi asing, pemerintah, karyawan, dan individual domest ik (Xu, 1997). Xu

39

dan Wang (1999) membuktikan bahwa struktur kepemilikan (mix dan konsentrasi) berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan. Fuerst dan Kang (2000) menemukan hubungan yang positif antara insider ownership dengan nilai pasar setelah mengendalikan kinerja perusahaan. Nilai perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi alat monitoring yang efektif (Slovin dan Sushka, 1993). Hubungan antara analysts coverage yang merupakan external monitoring function dan TobinsQ sebagai proksi nilai perusahaan adalah positif dan signifikan (Chen dan Steiner, 2000). Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham, sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Pengeluaran investasi memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan ( signaling theory). Peningkatan hutang diartikan oleh pihak luar tentang kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban di masa yang akan datang atau adanya risiko bisnis yang rendah, hal tersebut akan direspon secara positif oleh pasar (Brigham, 1999). Peningkatan dividen dilakukan untuk memperkuat pos isi perusahaaan dalam mencari tambahan dana dari pasar modal dan perbankan. Dividen mengandung informasi atau sebagai isyarat (signal) akan prospek perusahaan (Roseff, 1982). Pendapat Roseff didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Asquith dan Mullins (1983), bahwa pengumuman meningkatnya dividen telah meningkatkan return saham, dan dapat digunakan untuk menangkal isu -isu yang tidak diharapkan perusahaan di masa mendatang. Masulis (1980) melakukan penelitian dalam kaitannya dengan relevansi keputusan pendanaan, menemukan bahwa sehari sebelum dan sesudah pengumuman

40

peningkatan proporsi hutang terdapat kenaikan abnormal return, sebaliknya pada saat perusahaan mengumumkan penurunan proporsi hutang berpengaruh kepada penurunan abnormal return. Pengaruh dari struktur kepemilikan perusahaan secara l ebih lanjut dapat dijelaskan dari hasil penelitian berikut ini: (1) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemilikan terkonsentrasi dan produktifitas sebagai salah satu proksi dari kinerja perusahaan.(2) Pengaruh kepemilikan terkonsentrasi lebih kuat untuk perusahaan yang didominasi oleh legal person shareholders daripada perusahaan yang didominasi oleh perusahaan. (3) Profotabilitas perusahaan berhubungan positif dengan proksi pemilikan saham oleh legal person tetapi berhubungan negatif dengan proksi pemilikan saham oleh perusahaan (4) Produktifitas tenaga kerja cenderung menurun saat proporsi kepemilikan saham oleh perusahaan meningkat. Kepemilikan saham oleh legal person shareholders dapat memonitor manjemen secara efektif melalui pengendalian oleh board of directors, pemilihan karyawan perusahaan dan pemberian k ompensasi terhadap chief corporate officer. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah: H4 : Struktur kepemilikan berp engaruh positif terhadap kinerja keuangan.

2.5.5. Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan Selama ini dikenal adanya manipulasi kinerja oleh manajemen perusahaan yang merupakan upaya manajemen untuk mengubah laporan keuangan untuk menyesatkan pemegang saham yang ingi n mengetahui kinerja perusahaan atau untuk memp engaruhi hasil kontraktual dengan mengandalkan angka-angka akuntansi yang dilaporkannya

41

(Healey dan Wahlen, 1998; Du Charme et al, 2000). Sikap seperti sering disebut dengan sikap oportunistik dimana hal ini dinilai sebagai sikap curang (fraud) manajemen yang diimplikasikan dalam laporan keuangannya pada saat menghadapi intertemporal choice (Beneish, 2001). Manipulasi kinerja sampai saat ini sering dikenal dengan istilah earnings management (manajemen laba) ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain dengan melakukan penurunan laba (income decreasing), perataan laba (income smoothing) dan penaikan laba (income increasing). Manajemen laba yang pertama yakni degan menggeser pendapatan masa depan (future earnings) menjadi pendapatan sekarang (current earnings) atau sebaliknya. Selanjuntnya, menggeser biaya sekarang (current cost) menjadi biaya masa depan (future cost) atau sebaliknya sehingga mengakibatkan laba pada periode bersangkutan dapat dilaporkan dengan lebih tinggi atau lebih rendah (Espenlaub, 1999). Manajemen laba dilakukan oleh manajer pada faktor -faktor fundamental perusahaan, yaitu dengan intervensi pada penyusunan laporan keuangan berdasarkan akuntansi akrual. Padahal kinerja fundamental per usahaan tersebut digunakan oleh pemodal untuk menilai prospek perusahaan, yang tercermin pada kinerja saham. Manajemen laba yang dilakukan manajer pada laporan keuangan tersebut akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, yang selanjutnya akan mempengar uhi kinerja saham (Haris, 2004). Bryshaw dan Eldin (1989) menemukan bukti bahwa alasan manajemen melakukan manajemen laba adalah: (1) skema kompensasi manajemen yang dihubungkan dengan kinerja perusahaan yang disajikan dalam laba akuntansi yang

42

dilaporkan; serta (2) fluktuasi dalam kinerja manajemen dapat mengakibatkan intervensi pemilik untuk mengganti manajemen dengan pengambilalihan secara langsung. Cornett et al., (2006) menemukan adanya pengaruh mekanisme corporate governance terhadap penurunan discr etionary accruals sebagai ukuran dari manajemen laba dan berhubungan positif dengan CFROA. Hasil ini diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa CFROA merupakan fungsi positif dari indikator mekanisme corporate governance. Mekanisme corporate governance dapat mengurangi dorongan manajer melakukan earnings management, sehingga CFROA yang dilaporkan merefleksikan keadaan yang sebenarnya. Berdasarkan uraian tersebut diatas diajukan hipotesis dengan rumusan sebagai berikut: H5 : Manajemen laba berdampak positif t erhadap kinerja keuangan.

Gambar 1. Model Pengujian


e1
1

e2
1

e3
1

MO
1

BC

AC

GCG e5
1

e4

EM

FP

KEPEM

43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Populasi dan Prosedur Penentuan Sampel Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan di bidang perdagangan,

distribusi dan transportasi yang terdaftar di Bur sa Efek Indonesia (BEI). Periode pengamatan penelitian dilakukan dari tahun 2003 -2006. Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kiteria -kriteria tertentu (purposive sampling), yaitu: (1) Perusahaan yang telah terdaftar di Bur sa Efek Indonesia sebelum tahun 2002 sehingga tersedia data yang lengkap, (2) Perusahaan yang memiliki data kepemilikan manajerial, dewan komisari s, dan komite audit, (2) Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember selama periode 2003-2006.

3.2.

Jenis dan Sumber Data Data-data yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder

yang diambil dari laporan keuangan tahunan perusahaan berupa nilai rata -rata dari tahun 2003-2006. Data sekunder diperoleh dari Pojok BEJ Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Indonesian Capital Market Directory (ICMD), dan situs Bursa Efek Indonesia.

3.3.

Definisi dan Operasional Variabel Penelitian ini akan menguji variabel dependen/endogen (manajemen laba dan

kinerja keuangan), dan variabel independen /eksogen (corporate governance dan struktur kepemilikan).

44

a. Corporate Governance Corporate governance dalam hal ini dapat dijelaskan melalui kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris, dan komite audit. Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola (Gideon, 2005). Indikator yang digunakan untuk mengukur kepemilikan manajerial adalah persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen da ri seluruh modal saham perusahaan yang beredar. Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainn ya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata -mata demi kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2004). Proporsi dewan komisaris independen diukur dengan menggunakan indikator persentase anggo ta dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan dari seluruh ukuran anggota dewan komisaris perusahaan. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik ( good corporate governance), BEJ mewajibkan perusahaaan tercatat wajib memiliki komis aris independen dan komite audit. Keanggotaan komite audit sekurang -kurangnya 3 anggota, seorang diantaranya komisaris independen perusahaan tercatat sekaligus menjadi ketua komite, sedangkan pihak lain adalah pihak ekstern yang independen dan minimal salah seorang memiliki kemampuan di bidang akuntansi dan keuangan. Proporsi komite audit

45

diukur diukur dengan menggunakan indikator presentase anggota komite audit yang berasal dari luar komite audit terhadap seluruh anggota komite audit.

b. Struktur Kepemilikan Struktur kepemilikan terbagi dalam beberapa kategori. Struktur kepemilikan terkonsentrasi dan menyebar. Secara spesifik kategori struktur kepemilikan meliputi kepemilikan oleh institusi domestik, institusi asing, pemerintah, karyawan, dan individual domestik (Xu, 1997). Struktur kepemilikan yang dibahas dalam penelitian ini adalah struktur kepemilikan perusahaan yang menyebar dan terkonsentrasi. Proporsi

kepemilikan diwakili oleh variabel dummy, dimana nilai 1 untuk kepemilikan terkonsentrasi ( mayoritas) dan 0 untuk kepemilikan menyebar.

c. Manajemen Laba Manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi (Schipper, 1989). Manajemen laba dalam penelitian ini dijelaskan menggunakan dasar rasio akrual modal kerja dengan penjualan sebagai berikut.

Akrual Modal Kerja (t) Manajemen Laba (EM) = Pendapatan(Penjualan Periode) (t) Akrual modal kerja = AL HL Kas

46

Keterangan:

AL = Perubahan aktiva lancar pada periode t HL = Perubahan hutang lancar pada periode t Kas = Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t

Data akrual modal kerja dapat diperoleh langsung dari laporan arus kas aktivitas operasi, sehingga investor dapat langsung memperoleh data tersebut tanpa melakukan perhitungan yang rumit.

d. Kinerja Keuangan Kinerja keuangan merefleksikan kinerja fundamental perusahaan. Variabel kinerja keuangan diukur dengan data fundamental perusaha an, yaitu data yang berasal dari laporan keuangan. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan cash flow return on asset (CFROA). CFROA dihitung dari laba sebelum bunga dan pajak ditambah depresiasi dibagi dengan total aktiva.

EBIT + Dep CFROA = Assets Keterangan : CFROA = Cash flow return on assets EBIT = Laba sebelum bunga dan pajak Dep = Depresiasi

Assets = Total aktiva

47

Tabel.1. Operasional Variabel Penelitian


VARIABEL Eksogen: A. Corporate Governance Kepemilikan Manajerial KONSEP VARIABEL Sistem yg mengendalikan dan mengarahkan operasional perusahaan. Jumlah kepemilikan saham oleh pihak manajemen terhadap total saham beredar. Jumlah anggota dari luar perusahaan terhadap jumlah seluruh anggota dewan komisaris. Jumlah anggota dari luar perusahaan terhadap jumlah seluruh anggota komite audit. Bentuk komposisi kepemilikan dalam perusahaan. Tidak ada pemegang saham pengendalai/utama(atau hanya punya < 50% dari total saham). Adanya pemegang saham pengendali/utama(atau punya saham >50% dari total saham). INDIKATOR SKALA

Presentase jumlah saham yang dimiliki manajemen dari total saham beredar. Presentase jumlah anggota outsite director dari seluruh anggota dewan. Presentase jumlah anggota luar komite audit terhadap seluruh anggota.

Rasio

Proporsi Dewan Komisaris

Rasio

Komite Audit

Rasio

B. Struktur Kepemilikan Kepemilikan Tersebar

Kepemilikan Terkonsentrasi

Prosentase jumlah saham yang dimiliki pemegang saham non-pengendali dari total saham beredar. Prosentase jumlah saham yang dimiliki pemegang saham pengendali dari total saham beredar.

Rasio

Rasio

Endogen: C.Manajemen Laba

D. Kinerja Keuangan

o Akrualisasi laba berdasar o Koefisien regresi antara kebijakan manajemen. akrual working capital (selisih perubahan aktiva lancar, hutang lancar dan kas/stara kas) terhadap penjualan satu periode. o Refleksi kinerja o Koefisien regresi antara laba fundamental perusahaan sebelum bunga dan pajak yaitu cash flow return on ditambah depresiasi terhadap asset yang tercermin dalam total aktiva. laporan keuangan .

Rasio

Rasio

48

3.4.

Metode Analisis Dalam penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan model Structural

Equation Model (SEM). Sedangkan teknik analisis yang digunakan da lam penelitian ini meliputi statistik deskriptif dan analisis statistik. Analisis statistik merupakan analisis yang mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka -angka yang dianalisis dengan bantuan komputer melalui program SPSS. Sedangkan sta tistik deskriptif merupakan analisis yang menjelaskan gejala -gejala yang terjadi pada seluruh variabel penelitian untuk mendukung hasil analisis statistik. 3.4.1. Asumsi Asumsi SEM Dengan menggunakan model SEM maka asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terlebih dahulu dalam proses pengumpulan dan pengolahan da ta yang akan dianalisis adalah sebagai berikut: 3.4.1.1.Ukuran Sample Ukuran sample yang harus dipenuhi dalam pemodelan ini adalah minimum berjumlah 100 dan selanjutnya menggunakan perbandingan 5 observasi un tuk setiap estimated parameter. Oleh karena itu, bila kita mengembangkan model dengan 20 parameter, maka minimum sample yang digunakan adalah sebanyak 100 sample. 3.4.1.2. Normalitas dan Linearitas Sebaran data harus dianalisis untuk melihat apakah asumsi normalitas dipenuhi sehingga data dapat diolah lebih lanjut untuk pemodelan SEM ini. Normalitas dapat diuji dengan melihat gambar histogram data atau dapat diuji dengan metode -metode statistik. Uji normalitas ini perlu dilakukan baik untuk normalitas terh adap data tunggal maupun normalitas multivariate dimana beberapa variabel digunakan sekaligus dalam analisis

49

akhir. Uji linearitas dapat dilakukan dengan mengamati scatterplots dari data yaitu dengan memilih pasangan data dan dilihat pola penyebarannya unt uk menduga ada tidaknya linearitas. 3.4.1.3. Outliers Outlier adalah observasi yang muncul dengan nilai -nilai ekstrim baik secara unvariat maupun multivariate yaitu yang muncul ka rena kombinasi kharakteristik unik yang dimilikinya dan terlihat sangat jau h berbeda dari observasi-observasi lainnya. Dapat diadakan treatment khusus pada outliers jika diketahui bagaimana munculnya outliers itu. 3.4.1.4. Multicollinearity dan Singularity Multikolinearitas dapat dideteksi dari determinan matriks kovarians. Nila i determinan matriks kovarians yang sangat kecil (extremely small) memberi indikasi adanya problem multikolinearitas atau singularitas. Pada umumnya program -program komputer SEM telah menyediakan fasilitas warning, setiap kali terdapat indikasi multikolinearitas atau singularitas. Perlakuan data yang dapat dilakukan jika terjadi singularitas maka dapat dikeluarkan variabel tersebut. Bila singularitas dan

multikolinearitas ditemukan dalam data yang dikeluarkan maka perlakuan yang diambil adalah dengan menciptakan composite variables, lalu gunakan composite variabel tersebut dalam analisis selanjutnya. 3.4.2. Uji Kesesuaian dan Uji Statistik Setelah mempertimbangkan asumsi -asumsi di atas maka selanjutnya dilakukan uji kesesuaian dan uji statistic karena dalam analisis SEM tidak ada alat uji statistic tunggal untuk mengukur atau menguji hipotesis model (Hair et al., 1995; joreskog & Sorbom, 1989; Long, 1983; Tabachnick & Fidell, 1996). Penelitian diharapkan untuk melakukan

50

pengujian dengan menggunakan beb erapa fit indeks untuk mengukur kebenaran model yang diajukannya antara lain sebagai berikut: 3.4.2.1. X - Chi Square Statistic Alat uji paling fundamental untuk mengukur overall fit adalah likelihood ratio Chi square statistic. Chi square ini bersifat sensi tive tyerhadap sample yang digunakan. Karena itu bila sample yang digunakan lebih dari 200 sample, maka statistik chi square ini harus didampingi oleh alat uji lainnya. Model yang diuji akan dipandang baik atau memuaskan bila nilai chi squarenya rendah. Se makin kecil nilainya maka semakin baik model tersebut (karena dalam uji beda chi square, X=0 berarti benar -benar tidak ada perbedaan, Ho diterima) dan diterima berdasarkan probabilitas dengan cut off value sebesar p>0.05 atau p>0.10 (Hulland et al, 1996). 3.4.2.2.RMSEA The Root Mean Square Error of Approximation RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk mengkompensasi chi square statistic dalam sample yang besar. Nilai RSMEA menunjukkan goodness of fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi dala m populasi (Hair et al. 1995). Nilai RSMEA yang lebih kecil atau sama dengan 0.08 merupakan indeks untuk dapat diterimanya model yang menunjukkan sebuah close fit dari model itu berdasarkan degrees of freedom (Browne & Cudeck, 1993). 3.4.2.3.GFI Goodness of Fit Index Indeks kesesuaian (fit indeks) ini akan menghitung proporsi tertimbang dari varians dalam matriks kovarians sample yang dijelaskan oleh matriks kovarians populasi yang terestimasikan (Bentler, 1983; Tanaka & Huba, 1989). GFI adalah sebuah ukuran

51

non statistikal yang mempunyai rentang nilai antara 0 (poor fit) sampai dengan 1.0 (perfect fit). Nilai yang tinggi dalam indeks ini menunjukkan sebuah better fit. 3.4.2.4. AGFI Adjusted Goodness of Fit Index Tanaka & Hub (1989) menyatakan bahwa GFI adal ah analog dari R dalam regresi berganda. Fit Index ini dapat diadjust terhadap d egrees of freedom yang tersedia untuk menguji diterima tidaknya model (Arbuckle, 1999). Tingkat penerimaan yang direkomendasikan adalah bila AGFI mempunyai nilai sama dengan a tau lebih dari 0.09 (Hair et al., 1995; Hulland et al., 1996). 3.4.2.5. CMIN/DF Indeks CMIN/DF ini diperoleh dengan membagi The minimum sample discrepancy function dengan degree of freedomnya, yang umumnya dilaporkan oleh para peneliti sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fitnya sebuah model. Dalam hal ini CMIN/DF tidak lain adalah statistik chi square, X dibagi DFnya sehingga disebut X -relatif. X - relatif kurang dari 2.0 atau kadang kurang dari 3.0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data (Arbuckle, 1997). 3.4.2.6.TLI Tucker Lewis Index TLI adalah sebuah alternatif incremental fit index yang membandingkan sebuah model yang diuji terhadap baseline model (Baumgartner & Homberg, 1996). Nilai yang direkomendasikan untuk acuan diterimanya sebuah adalah penerimaan 0.95 (Hair dkk, 1995), dan mendekati 1 menunjukkan a very good fit (Arbuckle, 1997). 3.4.2.7. CFI Comparative Fit Index Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0 1, dimana semakin mendekati 1 mengindikasikan tingkat fit y ang paling tinggi- a very good fit (Arbuckle,

52

1997). Nilai yang direkomendasikan adalah CFI 0.95. Keunggulan dari indeks ini adalah bahwa indeks ini besarnya tidak dipengaruhi oleh ukuran sample karena itu sangat baik untuk mengukur tingkat penerimaan se buah model (Hulland et al., 1996; Tanaka, 1993). Indeks CFI adalah identik dengan Relative Noncentraly Index (RNI) dari MCDonald dan Mars (1990). Dalam penilaian model, TLI dan CFI sangat dianjurkan digunakan karena indeks ini relatif tidak sensitif terha dap besarnya sample dan kurang dipengaruhi pula oleh kerumitan model (Hulland et al., 1996). 3.4.3. Baseline Model Setelah menggunakan beberapa model fit index di atas selanjutnya juga terdapat beberapa indeks yang merupakan pembandingan terhadap sebuah m odel yang lain, yang disebut baseline model. Dalam output AMOS terdapat dua model baseline yang tersajikan dengan model yang dianalisis, disebut default model yaitu : 3.4.3.1. Satured Model Model ini deprogram dengan jumlah parameter yang diestimasi sama dengan jumlah distinct sample moments, sehingga diperoleh degress of freedom sebesar nol. Karena itu, satured model akan menghasilkan chi -square= 0.00 dan df= 0. Itulah sebabnya satured model disebut juga full atau perfect model. Dalam satured model tidak ada constraints yang ditempatkan dalam moments populasi. Dengan chi -square sebesar 0.00, berarti satured model akan menghasilkan sebuah perfect fit terhadap set datamanapun yang dugunakan. 3.4.3.2. Independen Model Model ini diprogram sebagai sebuah model dimana semua variabelnya dibuat tidak berkorelasi (uncorrelated). Dalam model ini jumlah parameter sama dengan jumlah

53

variabel yang diobservasi. Sebagai kebalikan dari satured model, dalam independence model, semua variabel yang diobservasi diasumsikan tidak berkorela si satu sama lain. Karena itu dapat dibayangkan bahwa hasil dari model independens ini adalah poor fit terhadap satu data yang digunakan. Dengan kata lain, chi square yang dihasilkan akan sangat besar. Indeks-indeks yang termasuk dan digunakan untuk meng ukur kesesuaian model yang dianalisis dibandingkan dengan sebuah baseline model adalah TLI (Tucker Lewis Index) dan CFI (Comparative Fit Index).

3.5.

Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat dari koefisien

jalur yang ada. Dan berdasarkan dari penelitian-penelitian sebelumnya, serta mengacu pada hipotesis teori, maka dalam penelitian ini peneliti merumuskan Hipotesis Nol (H0) dan Hipotesis Alternatif (Ha) yang kemudian akan dilakukan pengujian atas Hipotesis Nol (H0) tersebut untuk membuktikan apakah Hipotesis Nol (H0) tersebut ditolak atau gagal ditolak. Hipotesis tersebut dapat dinotasikan sebagai berikut : Ho1 : Ha1 : Ho2 :
1

0;

Corporate governance tidak berpengaruh positif terhadap manjemen laba. Corporate governance berpengaruh positif terhadap manjemen laba. Corporate governance keuangan. tidak berpengaruh positif terhadap kinerja

> 0; 0;

Ha2 : Ho3 : Ha3 : Ho4 :

> 0; 0;

Corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Struktur kepemilikan tidak berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Struktur kepemilikan tidak berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

> 0; 0;

54

Ha4 : Ho5 : Ha5 :

4> 5

0; 0;

Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Manajemen laba tidak berdampak positif terhadap kinerja keuangan. Manajemen laba berdampak positif terhadap kinerja keuangan.

> 0;

Setelah perumusan

hipotesis, selanjutnya dirumuskan mengenai tingkat

signifikansi Level Of Significant dimana ditetapkan sebesar 5%. Dan untuk membuat kesimpulan dari hipotesis ditetapkan kriteria -kriteria pengujian hipotesis sebagai berikut : Jika P < 0.05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Jika P > 0.05 maka Ha ditolak dan Ho diterima.

55

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan menganalisis data yang telah terkumpul. Data yang telah dikumpulkan tersebut berupa laporan keuangan dari perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Hasil pengolahan data berupa informasi untuk mengetahui apakah Corporate Governance dan struktur kepemilikan berpengaruh terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan serta mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap kinerja keuangan perusahaan (CFROA). Sesuai dengan permasalahan dan perumusan model yang telah dikemukakan, serta untuk kepentingan pengujian hipotesis, maka teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi statistik deskriptif dan analisis statistik. Analisis statistik merupakan analisis yang mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka angka yang dianalisis dengan bantuan komputer melalui program SPSS. Sedangkan statistik deskriptif merupakan analisis yang menjelaskan gejala -gejala yang terjadi pada seluruh variabel penelitian untuk mendukung hasil analisis statistik.

4.1. Statistik Deskriptif Berikut ini akan dijelaskan statistik deskriptif yaitu menjelaskan deskripsi data dari seluruh variabel yang akan dimasukkan dalam model penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependent yaitu kinerja perusahaan, variabel eksogen yaitu Corporate Governance, dan struktur kepemilikan serta variabel endogen yaitu manajemen laba dan kinerja keuangan (CFROA). Deskriptif data

56

penelitian ini merupakan deskriptif dari seluruh observasi penelitian yang telah dilakukan pemotongan data ekstrim melalui metode Cooks, dan diperoleh data observasi sebanyak 99. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2 ini: Tabel 2. Hasil perhitungan Mean dan Standar Deviasi dari variabel-variabel penelitian
Descriptive Statistics N MO BC AC STRUK_KEP EM FP Valid N (listwise) 99 99 99 99 99 99 99 Mean .359 .003 .496 .596 -.022 .306 Std. Deviation .135 .011 .291 .493 .499 .208

Sumber : Hasil olah data SPSS, 2008.

Deskriptif terhadap Corporate Governance yang diukur dengan 3 variabel yaitu kepemilikan manajerial (BC) dengan rata -rata sebesar 0,003 yang berarti rata -rata saham yang dimiliki manajerial cukup kecil yaitu hanya sebesar 0,3% dari seluruh saham yang beredar. Pengukur Corporate Governance kedua adalah proporsi dewan komisaris dengan rata-rata sebesar 0,359 atau artinya jumlah komisaris independent yang berada pada dewan komisaris rata-rata sebesar 35,9% dan hasil ini telah sesuai dengan peraturan dalam surat direksi nomor kep-305/BEJ/07/2004 yang menyatakan bahwa komisaris independen yang jumlahnya secara proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan pemegang saham p engendali dengan ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30% dari jumlah seluruh anggota komisaris.

57

Hasil deskriptif variabel komite audit (AC) menunjukkan rata -rata sebesar 0,496 yang berarti jumlah anggota komite audit yang merangkap menjadi komisaris independent (anggota dari luar perusahaan) cukup besar (sebesar 49,6%) dari total seluruh anggota komite audit. Dengan masuknya sebagian anggota komite audit dalam dewan komisaris independent, akan membantu dalam mengontrol manajemen untuk melakukan tindakan manipulasi, sehingga akhirnya akan meningkatkan kinerja perusahaan. Hasil deskriptif variabel struktur kepemilikan memiliki rata -rata sebesar 0,596 yang berarti data kepemilikan cukup terkonsentrasi pada satu atau beberepa pemilik saham saja. Sedangkan untuk variabel manajemen laba menunjukkan nilai rata -rata sebesar -0,022 yang berarti rata-rata perusahaan memiliki akrual modal kerja sebesar 0,022 kali dari total penjualan yang dihasilkan. Rata -rata manajemen laba (akrual) negatif, menunjukkan bahwa rata -rata perusahaan tidak melakukan menejemen laba, hanya sebagian kecil saja yang melakukan manajemen laba. Hasil deskriptif terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan Cash Flow

Return on Assets diperoleh rata-rata sebesar 0,306 yang berarti bahwa rata -rata perusahaan sampel mampu menghasilkan laba bersih sebelum pajak dan depresiasi sebesar 30,6% dari seluruh nilai total aktiva. Hasil ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba sebelum pajak cukup efektif.

4.2.Analisis Statistik Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur ata u Path Analisys dan uji asumsi SEM (Structural Equation Model ). Model analisis jalur ini digunakan analisis SEM yaitu sekumpulan teknik -teknik statistikal yang memungkinkan 58

pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit secara simultan. Analisis i ni dipilih untuk mengetahui pengaruh Corporate Governance dan struktur kepemilikan terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan serta mengetahui dampak manajemen laba terhadap kinerja keuangan pada perusahaan di bidang perdagangan, distribusi dan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2003 sampai 2006. Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu akan dilakukan uji asumsi SEM.

4.2.1. Uji Asumsi-Asumsi SEM Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi dalam prosedur pengumpulan dan pengolahan data yang dianalisis dengan permodelan SEM adalah sebagai berikut :

4.2.1.1. Ukuran Sampel Ukuran sampel yang harus dipenuhi dalam permodel ini adalah minumun berjumlah 100 sampel dan selanjutnya menggunakan perbandingan 5 observasi untuk setiap estimated parameter. Karena itu dalam penelitian ini menggunakan 12 variabel yang terbagi dalam 6 variabel terobservasi, 6 variabel tidak terobservasi, atau terbagi dalam 7 variabel eksogen dan 5 variabel endogen, maka minimum sampel yang harus digunakan adalah sebanyak 5 x 12 = 60 observasi. Dengan menggunakan sampel sebanyak 99 maka jumlah sampel ini telah memenuhi kriteria ukuran sampel minimum, sehingga data penelitian ini telah memiliki kecukupan data.

59

4.2.1.2. Uji Normalitas Data Untuk menguji normalitas distribusi data yan g digunakan dalam analisis, peneliti menggunakan uji statistik yang telah disediakan dalam program AMOS 6 yaitu dengan uji skweness value. Asumsi normalitas terpenuhi jika nilai critical value (cr) lebih kecil dari nilai 2,58 (Arbucle, 1997). Uji normalit as dilakukan dengan memberikan perintah test for normality and outlier dan hasil output dengan program AMOS 6 dapat ditunjukkan seperti pada tabel berikut: Tabel 3. Uji Normalitas Variable KEPEM EM FP AC BC MO Multivariate min .000 -6.139 .068 .000 .000 .000 max 1.000 3.560 4.409 2.580 6.851 .750 skew -.391 -2.991 1.028 -1.117 4.748 .013 c.r. -1.589 -12.149 4.175 -4.537 19.287 .055 kurtosis -1.847 20.364 .383 -.727 23.777 1.443 39.403 c.r. -3.751 41.359 .778 -1.476 48.292 2.930 20.007

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar angka nilai pada colom cr. lebih besar dari 2,58, oleh karena itu dapat dikatakan terdapat bukti bahwa distribusi data ini tidak normal. Baris terakhir uji normalitas di atas yang diberi lavel multivariat adalah koefisien Kurtosis Multivariate Mardia (Arbucle, 1997) diketahui sebesar 20,007 yang nilainya diatas 2,58. Dengan demikian dalam pengujian data untuk pemodelan SEM terlihat dalam tabel 4.2 bahwa baik melalui pengujian univariat maupun penguji an multivariat, ada bukti bahwa data yang digunakan berdistribusi tidak normal, oleh karena itu asumsi normalitas tidak terpenuhi.

60

Hal ini kemungkinan disebabkan karena nilai variabel antara emiten satu dengan emiten yang lain di Bursa Efek Indonesia cukup berbeda dengan perbedaan yang sangat jauh, dimana perusahaan besar akan cenderung memiliki nilai variabel yang besar dibandingkan dengan perusahaan kecil. Selain itu penggunaan skewness sangat sensitif terhadap sampel besar (N=99), sehingga cenderung memi liki nilai yang signifikan. Meskipun nilai kritis > 2,58 (tidak normal), namun analisis dapat tetap dilanjutkan karena sesuai dengan asumsi central limit theorem distribusi penyampelan mean diperkirakan normal apabila observasi lebih dari 30 (Tarjo dalam J ogiyanto, 2003).

4.2.1.3. Uji Multicolinearity dan Singularity Untuk melihat apakah terdapat multicolinierity atau singularity dalam sebuah kombinasi variabel, peneliti perlu mengamati determinan matrik kovarians. Determinan yang benar-benar kecil mengindikasikan adanya multikolinieritas atau singularity (Tabachnick & Fidel, 1998), sehingga data tidak dapat digunakan untuk analisis yang sedang dilakukan. Dalam program AMOS, program SEM ini dapat ditampilkan output Determinan of Sample Covariance Matrik sebagai ber ikut: Determinant of sample covariance matrix = 0.002. Angka ini cenderung mendekati angka nol (sangat kecil) dan karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas atau singularitas dalam data ini, sehingga asumsi multikolinieritas terpenuhi.

61

4.2.2. Uji Goodness of Fit (Uji Ketepatan Model) Berdasarkan hasil pengujian tersebut, indikator -indikator goodness of fit secara umum menunjukkan bahwa model pengukuran yang digunakan dapat diterima. Berikut masing-masing pengujian goodness of fit pada model penelitian. Tabel 4 Measurement Model Goodness of fit Goodness of fit X2 Chi Square Cut off Value Diharapkan nilainya kecil Dengan DF=6 nilai tabelnya = 12,592 > 0,05 > 0,90 > 0,90 >0,90 > 0,95 <2 < 0,08 Hasil Model 4,010 Keterangan Baik

Probability GFI AGFI TLI CFI Cmin/DF RMSEA

0,675 0,987 0,955 1,104 1,000 0,668 0,000

Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

Nilai X2 Chi Square dengan tingkat signifikansi sebesar 0,675. Hal ini menunjukkan bahwa Ho yang menyatakan tidak terdapat perbeda an antara matrik kovarians sampel dengan matrik kovarians populasi yang diestimasi dapat diterima . Artinya matrik kovarians sampel dengan matriks kovarians populasi yang diestimasi adalah sama. Berdasarkan analisis terhadap goodnes of fit GFI mencerminkan tingkat kesesuian model secara keseluruhan. Tingkat penerimaan yang direkomendasikan GFI >

62

0,90. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai GFI sebesar 0,987 >0,9, sehingga model memiliki fit yang baik. Adjusted Goodness of Fit Index AGFI sebagai pengembangan indeks GFI, merupakan indeks yang telah disesuaikan dengan rasio degree of freedom model yang diusulkan dengan dengan degree of fredom dari null model. Hasil penelitian menunjukkan nilai AGFI sebesar 0,955 yang nilainya lebih besar dari nilai AGFI yang direkomendasikan > 0,9, sehingga menunjukkan bahwa model ini memiliki fit yang baik. Tucker Lewis Index TLI merupakan alternatif incremental fit index yang membandingkan model yang diuji dengan baseline. Nilai yang direkomendasikan sebagai tingkat kesesuaian yang baik adalah > 0,90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai TLI sebesar 1,104 sehingga dapat dinyatakan bahwa tingkat kesesuaian berada pada kriteria yang baik. Comparative Fit Index CFI , merupakan indeks kesesuaian incremental yang membandingkan model yang diuji dengan model null. Nilai yang direkomendasikan CFI > 0,95. Sementara hasil pengujian sebesar 1,000 menunjukkan bahwa model adalah baik The minimum Sampel Discrepancy Funcion CMIN/DF merupakan indeks kesesuaian parsimonious yang men gukur hubungan goodnes of fit model dan jumlah koefisien-koefisien yang diestimasi yang diharapkan untuk mencapai tingkat kesesuaian. Hasil CMIN/DF sebesar 0,668 yang nilainya lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan CMIN/DF < 2,0 menunjukkan model fit yang baik. The Root Mean Square Error of Approximation RMSEA, indeks yang digunakan untuk mengkompensasi Chi Square Statistik dalam sampel yang besar. Nilai RMSEA menunjukkan goodnes of fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi dalam 63

populasi. Nilai penerimaan yang direkomendasikan < 0,08 sementara hasil pengujian sebesar 0,000, menunjukkan bahwa model adalah baik.

4.2.3. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dengan Structural Equation Model ( SEM) diperoleh hasil jalur seperti dalam gambar 2 berikut ini: Gambar 2. Hasil Pengujian Hipotes.

e1
.21

e2
.30

e3
.62

MO
.46

BC
-.55 .79

AC

GCG
.45 -.09 .01 .09 .26

e5

e4
.10 .02 .20

EM

FP

KEPEM

Sumber : Hasil Analisis SEM.

64

Berdasarkan gambar diatas maka dapat dijelaskan hasil pengujian hipotesis pertama hingga hipotesis ketiga. Sedangkan estimasi hasil analisis SEM dapat ditunjukkan pada tabel 5 berikut ini:

Tabel 5. Estimasi Hasil Analisis SEM Unstandarized Estimate -1.419 .045 1.000 -8.844 12.748 .091 .405 7.283 Standarized Estimated. -.088 .022 .459 -.547 .789 .091 .200 .451 S.E. 1.985 .206 C.R. -.715 .221 P .475 .825 Label par_3 par_5 par_1 par_2 par_4 par_6 par_7

EM EM MO BC AC FP FP FP

<--<--<--<--<--<--<--<---

GCG KEPEM GCG GCG GCG EM KEPEM GCG

2.709 -3.264 .001 3.915 3.257 .001 .092 .982 .326 .188 2.156 .031 2.448 2.975 .003

Berdasarkan tabel 5. maka dapat ditulis persamaan jalur yaitu : EM = -0,088 GCG + 0,022 KEPEM + e1 FP = 0,451 GCG + 0,091 EM + 0,200 KEPEM e2 4.2.3.1.Pengujian Hipotesis Alternatif Pertama Pada bab sebelumnya telah dikemukakan hipotesis alternatif pertama bahwa Corporate Governance berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Untuk

menganalisis, dilakukan analisis SEM. Hasil analisis SEM menunjukkan nilai bobot regresi (regression weighs) seperti pada tabel 5. Hasil bobot koefisien regresi diatas dapat diinterpretasikan bahwa koefisien jalur sebesar -0,088 dan p=0,475>0,05, menunjukkan bahwa GCG tidak berpengaruh secara

65

signifikan positif terhadap manajemen laba. Dengan demikian hipotesis pertama dalam penelitian ini tidak didukung. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Gabrielsen et al (2002) menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan kandungan informasi laba serta discretionary accrual. Dengan menggunakan data pasar modal Denmark ditemukan adanya hubungan yang positif tetapi tidak signifikan antara kepemilikan manajerial dan discretionary accrual. Hal ini disebabkan karena penerapan Corporate Governance merupakan hal yang baru di Indonesia, sehingga penerapannya belum dapat dilaksanakan secara optimal oleh masing -masing perusahaan. Bahkan hasil penelitian ini menunju kkan arah jalur yang negatif, yang berarti corporate governance yang terdapat didalam perusahaan diyakini akan membatasi pengelolaan laba yang oportunis. Karena itu diduga dengan semakin tingginya kualitas audit, semakin tingginya proporsi dewan komisaris indepeden, dan adanya komite audit maka semakin kecil pengelolaan laba yang oportunis (berhubungan negatif). Tidak signifikannya variabel Corporate Governance kemungkinan disebabkan karena penerapan Corporate Governance baru dirasakan dampaknya dalam waktu yang panjang, setelah semua aturan dilaksanakan sesuai mekanisme yang ada. Dalam penyesuaian ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga belum terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

4.2.3.2.Pengujian Hipotesis Alternatif Kedua Pada bab sebelumnya telah dikemukakan hipotesis alternatif kedua bahwa Corporate Governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Hasil bobot

66

koefisien jalur seperti pada tabe l 5 diatas dapat diinterpretasikan bahwa koefisien jalur sebesar 0,451 dengan probabilitas sebesar 0,003< 0,05. Dengan demikian hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat didukung. Hasil ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dey Report (1994) yang mengemukakan bahwa Corporate Governance yang efektif dalam jangka panjang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan para pemegang saham. Hal ini disebabkan karena Corporate governance merupakan upaya yang dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan untuk menjalankan usahanya secara baik, untuk meningkatkan nilai perusahaan sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing. Corporate Governance adalah prinsip korporasi yang sehat yang diperlukan dalam pengelolaan perusahaan serta dilaksanakan semata -mata demi menjaga kepentingan perusahaan dan mencapa i maksud dan tujuan perusahaan. Dengan adanya menerapkan Corporate Governance maka perusahaan akan memperoleh beberapa manfaat salah satunya adalah peningkatan dalam produktivitas dan efisiensi serta kemudahan dalam memperoleh modal. Hal ini tentunya aka n dengan mudah perusahaan tersebut dalam meningkatkan kinerja operasinal perusahaan. Dengan kemudahan memperoleh modal maka perusahaan dalam meningkatkan tingkat efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

67

4.2.3.3.Pengujian Hipotesis Ketiga Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menyatakan bahwa bahwa Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Hasil bobot koefisien jalur sebesar 0,022 dan p=0,825>0,05, menunjukka n bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan positif terhadap manajemen laba. Dengan demikian hipotesis ketiga dalam penelitian ini tidak didukung. Hal ini disebabkan karena terkonsentrasinya struktur kepemilikan belum mampu memberikan kontrol yang baik terhadap tindakan manajemen atas sikap opportunitiesnya dalam melakukan manajemen laba. Jika kepemilikan saham terkonsentrasi ke publik, maka kepemilikannya dapat berpindah tangan secara tidak terbatas, sehingga terkonsentrasinya kepemili kan publik ini tidak mampu mengontrol kinerja perusahaan. Begitu juga jika kepemilikan terkonsentrasi pada kepemilikan manajerial saja, maka semakin besar pula usaha manajer untuk melakukan kebijakan -kebijakan dalam perusahaan, agar keuntungan yang dipero leh perusahaan juga semakin besar, mengingat kepentingan manajer terhadap keuntungan atas saham yang ditanamkan juga semakin besar, sehingga akan menghindari manipulasi laba. Dan jika kepemilikan ini kehadiran kepemilikan

terkonsentrasi pada kepemilikan institusional saja, maka

institusional yang tinggi membatasi manajer untuk melakukan pengelolaan laba (Machfoed, 2005).

4.2.3.4.Pengujian Hipotesis Keempat Hipotesis keempat dalam penelitian ini menyatakan bahwa bahwa Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhad ap kinerja keuangan. Hasil bobot koefisien jalur 68

sebesar 0,200 dan p=0,031<0,05, menunjukkan bahwa struktur kepemilikan berpengaruh secara signifikan positif terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian hipotesis keempat dalam penelitian ini didukung. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Xu dan Wang (1999) yang menemukan bahwa struktur kepemilikan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan karena kepemilikan saham yang terkonsentrasi dapat memonitor manajemen secara efektif melalui pengendalian oleh Board of director, pemilihan karyawan perusahaan dan pemberian kompensasi. Selain itu kepemilikan saham yang terkonsentrasi menunjukkan rendahnya biaya keagenen, karena konflik yang terjadi antar pemilik menjadi semakin kecil, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja keuangannya.

4.2.3.5.Pengujian Hipotesis Kelima Hipotesis kelima dalam penelitian ini menyatakan bahwa bahwa Manajemen laba berdampak positif terhadap kinerja keuangan. Hasil bo bot koefisien jalur sebesar 0,091 dan p=0,326>0,05, menunjukkan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh secara signifikan positif terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian hipotesis kelima dalam penelitian ini didukung sesuai dengan hasil di atas. Hal ini disebabkan karena sifat manajemen laba dapat berdampak positif maupun negatif terhadap kinerja keuangan. Hal ini tergantung dari efektif tidaknya tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh para manajer. Jika manajemen laba cukup efektif, maka informasi yang terkandung dalam laporan keuangan akan dinilai pemodal akan prospek yang bagus bagi perusahaan sehingga akan meningkatkan kinerja perusahaan. 69

Sebaliknya jika manajemen laba tidak efektif, maka justru sebaliknya, pihak pemakai informasi laporan keuangan seperti investor, kreditur, regulator, publik dan lainnya akan menganggap bahwa manajemen telah bersikap opportunity, atau tindakan manipulasi laba, dan hal ini akan menurunkan nilai perusahaan. Dengan demikian pengaruh manajemen laba ini belum konsisten dalam meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, dan terbukti tidak signifikan.

4.2.3.6. Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung Berdasarkan hasil analisis secara keseluruh an menunjukkan bahwa Corporate Governance tidak terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba, namun berpengaruh secara langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Begitu juga dengan variabel manajemen laba tidak terukti berpengaruh secara langsung terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian manajemen laba bukan sebagai variabel mediasi hubungan antara Corporate Governance dengan kinerja keuangan. Hasil yang sama juga terjadi pada pengaruh struktur kepemilikan terhadap kinerja keuangan adalah signifikan, sedangkan pengaruh struktur kepemilikan terhadap manajemen laba tidak signifikan. Dengan demikian manajemen laba bukan sebagai variabel mediasi hubungan antara struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan. Hasil pengaruh langsung dan tidak langsung seperti pada tabel 6 berikut:

70

Tabel 6. Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung. Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM GCG EM EM .022 -.088 .000 FP .200 .451 .091 AC .000 .789 .000 BC .000 -.547 .000 MO .000 .459 .000 Indirect Effects (Group number 1 KEPEM GCG EM .000 .000 FP .004 -.129 AC .000 .000 BC .000 .000 MO .000 .000 - Default model) EM .000 .000 .000 .000 .000

Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa pengaruh langsung Corporate Governance terhadap kinerja keuangan sebesar 0,451 dan pengaruh tidak langsungny a sebesar -0,129. Begitu juga dengan pengaruh langsung struktur kepemilikan terhadap kinerja keuangan sebesar 0,200 dan pengaruh tidak langsungnya sebesar 0,004. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba tidak mampu memediasi hubungan antara Corporate Governance dan struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan.

71

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis di atas, maka penelitian ini berhasil menemukan bahwa : 1. Variabel Corporate Governance, tidak terbukti berpengaruh secara signifikan positif terhadap terhadap manajemen laba. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur sebesar -0,088 dan p=0,475>0,05. 2. Variabel Corporate Governance, terbukti berpengaruh secara signifikan positif terhadap terhadap kinerja keuangan. Hal ini di tunjukkan dengan koefisien jalur sebesar 0,451 dengan probabilitas sebesar 0,003< 0,05. 3. Variabel struktur kepemilikan , tidak terbukti berpengaruh secara signifikan positif terhadap terhadap manajemen laba. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur sebesar 0,022 dan p=0,825>0,05. 4. Variabel struktur kepemilikan, terbukti berpengaruh secara signifikan positif terhadap terhadap kinerja keuangan. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur sebesar 0,200 dan p=0,031<0,05. 5. Variabel manajemen laba, tidak terbukti berpengaruh secara signifikan positif terhadap terhadap kinerja keuangan. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur sebesar 0,091 dan p=0,326>0,05.

72

5.2. Keterbatasan Penelitian Dalam pengukuran Corporate Governance hanya diproxikan dengan kepemilikan manajerial, dewan komisaris dan komite audit, bukan diukur dengan Indeks Corporate Governance yang pengukurannya melibatkan aspek yang lebih banyak, sehingga hasil kesimpulan ini belum mampu membuktikan pengaruhnya terhadap manajemen laba. Perhitungan manajemen laba hanya diukur dengan nilai akrual modal kerja, bukan diukur dengan discretionary accruals Model Jones dan modifikasi model Jones yang lebih lazim dilakukan oleh peneliti -peneliti sebelumnya Ditemukannnya data tidak normal dalam penelitian ini, mungkin disebabkan karena sampel yang digunakan kurang homogen, sehingga sebaiknya peneliti selanjutnya menggunakan sampel yang memiliki ukuran atau industri yang sama.

5.3. Saran 1. Penelitian ini diharapkan mempunyai kontribusi bagi pihak regulator dalam hal gambaran tentang implementasi good corporate governance dalam pengaruhnya terhadap manajemen laba yang sering dilakukan perusahaan. Hasil penelitian ini diharapkan juga bisa menjadi masukan bagi pihak regulator untuk meregulasi implementasi good corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, terutama perusahaan lembaga keuangan yang dalam penelitian ini ditemukan adanya pengaruh yang signifikan corporate governance terhadap kinerja keuangan. 2. Bagi investor hendaknya memilih perusahaan yang memil iki kepemilikan saham yang terkonsentrasi dan telah menerapka n Corporate Governance dengan baik, dengan melihat jumlah komite audit, komisaris independen, dan kepemilikan

73

manajerial, karena terbukti mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Hal ini agar dalam melakukan peramalan lebih tepat untuk keuntungan di masa yang akan datang. 3. Bagi peneliti yang akan datang sebaiknya melakukan penelitian yang sama dengan metode pengukuran yang lain misa lnya untuk Corporate Governance diukur dengan Indeks Corporate Governance. Begitu juga dengan manajemen laba hendaknya diukur dengan discretionary accruals dengan model Jones.

74

Daftar Pustaka

Ali Irfan (2002). Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agensi. Lintasan Ekonomi Vol. XIX. No.2. Juli 2002. Beasley, Mark S. (1996). An Empirical Analysis of the Relation Between the Board of Director Composition and Financial Statement Fraud. The Accounting Review, Vol.17. No.4, Oktober, hal.443 -465. Beiner. S., W. Drobetz, F. Schm id dan H. Zimmermann (2003). Is Board zise An Independent Corporate Governance Mechanism ?. http://www.wwz.unibaz.ch/cofi/publications/papers/2003/06.03.pdf . Bryshaw, R. E dan Ahmed Eldin.(1989). The Smoothing Hipothesisand The Role of Exchange Differences. Journal of Business, Finance and Accounting , hal. 621-633. Chtourou, SM., Jean Bedard. dan Lucie Courteau. (2001). Corporate Governance and Earnings Management. Working Paper. Universite Laval, Quebec City, Canada. April. Cornett M. M, J. Marcuss, Saunders dan Tehranian H. (2006). Earnings Management, Corporate Governance, and True Financial Performance. http://papers.ssrn.com/ Deni Darmawati, Khomsiyah dan Rika Gelar Rahayu. (2004). Hubungan Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi VII , IAI, 2004. Dechow, Patricia M., R.G. Sloan and A.P. Sweeney, (1995), Detecting earnings management, The Accounting Review 70, 193-225. Dechow, Patricia M., R.G. Sloan hal A.P. Sweeney. (1996). Causes And Consequences Of Earnings Manipulaton: An Analysis Of Firms Subject To Enforcement Actions By The SEC. Contemporary Accounting Research 13, 1-36 Dhaliwal, D. S., Salomon G. L., dan Smith, E. D. (198 2). The Effect of Owner Versus Management Control on the Choice of Accounting Methods. Journal of Accounting and Economics, Vol.4. hal.41 -53. Eisenhardt, Kathleem. M. (1989). Agency Theory: An Assesment and Review. Academy of management Review, 14, hal 5 7-74 Fama. E.F. dan M.C. Jensen. (1983). Separation of Ownership and Control. Journal Of Law and Economics, Vol.26. hal.301 -325. Gabrielsen, Gorm., Jeffrey D. Gramlich dan Thomas Plenborg. (1997). Managerial Ownership, Information Content of Earnings, and Discretionary Accruals in a Non -

75

US Setting. Journal of Business Finance and Accounting, Vol.29. No.7 & 8. September/ Oktober, hal. 967 -988. Gideon SB Boediono. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governace dan Dampak Manajemen L aba dengan Menggunakan Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005. Haris Wibisono. (2004). Pengaruh Earnings Management Terhadap Kinerja Di Seputar SEO. Tesis S2. Magister Sains Akuntansi UNDIP. Tidak dipublikasikan Imam Ghozali. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Badan Penerbit UNDIP. Jennings, M. M. 2004a. "Privilege, Financial Fraud, and Noisy Lawyers." Corporate Finance Review, 8:4 (Januari/Februari, hal.43 -47. Jennings, M. M. 2004b. "Parmalat: Ethical Collapse Goes Global." Corporate Finance Review, 8:5 (Maret/April), hal.43 -46. Jennings, M. M. 2005a. "The Ethical Lessons of Marsh and McLennan." Corporate Finance Review, 9:4 (Januari/Februari), hal.43 -48. Jennings, M. M. 2005b. "Conspicuous Governan ce Failures: Why Sarbanes-Oxley Is not an Ethics Warranty." Corporate Finance Review, 9:5 (Maret/April), hal.41-47. Jensen, M.C. (1993). The Modern Industrial revolution, Exit, and the Failure of Internal Control System. Journal of Finance, Vol. 48. July , hal.831-880. Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. (1976). Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics 3. hal. 305-360. Jiambalvo, J. (1996). Discussion of Causes and Consequences of E arnings Manipulation. Contemporary Accounting Research. Vol. 13. Spring, p.37 -47. Kieso E. Donald, dan Weygandt J Jerry (1995). Akuntansi Intermediate. Jilid Satu, Edisi Ketujuh, Binarupa Aksara. Klein, April. (2002). Audit Committee, Board Of Directo r Characteristics and Earnings Management. Journal of Accounting and Economics, Vol.33. No.3. August, hal.375-400. Komite Nasional Kebijakan Governance, (2004). Pedoman Tentang Komisaris Independen. http://www.governance-indonesia.or.id/main.htm.

76

Morck, R., A. Shleifer dan R.W. Vishny. (1988). Management Ownership and Market Valuation: An Empirical Analysis. Journal of Financial Economics, Vol.20. January/ March, hal.293-315. Peasnell, K.V, P.F. Pope. dan S.Young. (2001). Board Monitoring and Earnings Management: Do Outside Directors Influence Abnormal Accruals. Accounting and Business Research, Vol. 30. hal.41 -63. Pradhono dan Yulius Jogi Cristiawan. (2004). Pengaruh Economic Value Added , Residual Income, Earnings dan Arus Kas Operasi terhadap Return yang diterima oleh Pemegang Saham (Studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 6, No. 2, Nopember. hal 140 166. Pratana Puspa Midiastuty dan Masud Mahfoedz. (2003). Analisis Hubungan Mekanisme Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba. Simposium Nasional Akuntansi VI. IAI, 2003. Richardson, Vernon J. (1998). Information Asymmetry an Earnings Management: Some Evidence. Working Paper, 30 Maret Schipper, Katherine. (1989). Comentary Katherine on Earnings Management. Accounting Horizon. Shleifer, A. dan R.W. Vishny. (1997). A Survey of Corporate Governance. Journal of Finance, Vol.52. No.2. Juni, hal.737 -783. Sylvia Veronica N.P. Siregar dan Siddharta Utama, Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance Terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management) Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005 Theresia Dwi Hastuti. (2005). Hubungan antara Good Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan Dengan Kinerja Keuangan (Studi Kasus pada Perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta) Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005. Warfield, Terry D., J.J. Wild, dan K.L. Wild. (1995). Manager ial Ownership, Accounting Choices, and Informativeness of Earnings. Journal of Accounting and Economics 20, hal. 61-91. Xie, Biao., Wallace N. Davidson and Peter J. Dadalt.(2003). Earning Management and Corporate Governance: The Roles Of The Board and Th e Audit Committee. Journal of Corporate Finance, Vol.9. hal.295 -316. Yermack, D., 1996. Higher Market Valuation of Companies With A Small Board of Directors. Journal of Financial Economics 40, 185 -211.

77

Lampiran 1: Data Penelitian.

DATA PENELITIAN CORPORATE GOVERNANCE TAHUN 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 NAMA PERUSAHAAN PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY ,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. MO 0.3333 0.1667 0.3333 0.4000 0.2000 0.3333 0.2500 0.3333 0.3333 0.3333 0.3333 0.2500 0.3333 0.5000 0.3333 0.0000 0.3333 0.3333 0.3333 0.2500 0.5000 0.3333 0.5000 0.3333 0.4000 0.2500 0.3300 0.1667 0.3333 0.5714 0.5000 0.3333 0.3333 0.3333 0.3333 0.3333 0.3333 0.2500 0.3333 0.3333 0.2500 0.3333 0.3333 BC 0.0013 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0223 0.0000 0.0016 0.0523 0.0000 0.0016 0.0000 0.0000 0.0002 0.0000 0.0000 0.0006 0.0000 0.0000 0.0000 0.0006 0.0012 0.0000 0.0000 0.0013 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0223 0.0000 0.0016 0.0523 0.0000 0.0016 0.0000 0.0000 0.0002 0.0000 AC 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.0000 0.5000 0.0000 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.0000 0.0000 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.0000 0.5000 0.0000 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.0000 0.0000 STRUKTUR KEPEMILIKAN DO 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 CH 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000

MA

78

2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006

PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, T BK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK

0.3333 0.3333 0.2500 0.5000 0.2500 0.7500 0.3333 0.4000 0.2000 0.3300 0.3300 0.3300 0.5714 0.5000 0.5000 0.5000 0.3333 0.4000 0.5000 0.0000 0.3333 0.3333 0.5000 0.3333 0.3333 0.3333 0.3333 0.3333 0.2000 0.5000 0.3333 0.7500 0.3333 0.4000 0.2500 0.3300 0.3333 0.6667 0.5714 0.5000 0.5000 0.5000 0.0000 0.5000 0.5000 0.0000 0.4000 0.3333 0.5000 0.3333

0.0000 0.0006 0.0000 0.0000 0.0000 0.0006 0.0012 0.0000 0.0000 0.0013 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0223 0.0000 0.0016 0.0078 0.0000 0.0016 0.0000 0.0000 0.0002 0.0000 0.0000 0.0006 0.0000 0.0000 0.0000 0.0006 0.0012 0.0000 0.0000 0.0013 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0223 0.0000 0.0029 0.0780 0.0000 0.0016 0.0000 0.0000

0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.7500 0.0000 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.0000 0.6667 0.0000 0.0000 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667

1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000

0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000

79

2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006

PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK.

0.3333 0.3333 0.3333 0.5000 0.2000 0.5000 0.2500 0.5000 0.4000 0.3333 0.5000

0.0001 0.0000 0.0000 0.0060 0.0000 0.0000 0.0000 0.0006 0.0013 0.0000 0.0000

0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667 0.6667

1.0000 0.0000 1.0000 1.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 1.0000 1.0000

0.0000 1.0000 0.0000 0.0000 1.0000 1.0000 1.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.0000

Lampiran 2: Pengukuran Manajemen Laba Dengan Akrual Modal Kerja.

PENGUKURAN MANAJEMEN LABA TAHUN NAMA PERUSAHAAN Perubahan Aktiva Lancar 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTA RI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 57723959 16199268 -710229 -172215000 -996537 39093363 251898000 -9991438 11677412 AKRUAL MODAL KERJA Perubahan Perubahan Hutang Kas/Setara Lancar Kas Akrual Modal Kerja 68407816 -92762713 -10858144 113382000 -11490467 109960029 79408000 1292075 5593687 5433943 8432516 4862945 -174567000 -448319 42028586 -401753 -2091061 -5656690

-16117800

100529465

5284970

-111030000

10942249

-112895252

172891753

-9192452

11740415

80

2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005

PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK . PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INT ERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK.

32865932 817000 174290073 221258458 6661641 60350000 -2734809 -71479178 31748292 124287808 195378 -60424451 -39119841 724905 -89282826 146579000 68723 40181780 28012350 -3287966 530083000 -2210792 -70651611 28466000 -13378677 23031543 14073226 7465455 295707670 125146000 937150 -3655588 10767177 -51215403 9242403 547773194 2085485 44746698 -1821246 1303955 576982272 360142000 8845649 203452136 -28782000 -4710010 -308798000 -1550392 -103182204 -267711000

18700727 783000 94028919 38392920 5248879 18096000 -4302527 -103825947 18099254 356203557 2468950 4640177 -7129048 -17602116 25771759 -125299000 5147997 86110445 71440721 -55153686 70876000 -19250987 85365811 -79150000 -9125162 19263913 68984 7483093 -42450106 317811000 -890553 -5095303 -7732161 -108484635 6995448 544083441 -1136308 101754939 421875 -88509183 73142219 635238000 -14115302 147398063 -30270000 25592704 -38885000 -5626824 23718712 -265145000

-1548213 -325870 40710131 19033584 2371025 23703000 -1378098 -7208693 18913794 -5261598 -1422962 -77905491 -79156274 25475 -55859158 27141000 -805856 6299354 -10772462 -898428 481483000 -1008480 -126534922 -65804000 -6548553 4013110 -35821 -1416866 -16239737 172000 -711183 -1160428 -5338354 -10095858 8215422 453925784 1032007 -37225596 250127 254088 262869626 -13579000 -195735 -119835955 -752044 -4644794 -556985000 436417 -80704316 309775000

15713418

359870

39551023

163831954

-958263

18551000

2945816

39555462

-5264756

-226654151

-850610

12840863

47165481

18301546

-59195427

244737000

-4273418

-52228019

-32655909

52764148

-22276000

18048675

-29482500

173420000

2295038

-245480

14040063

1399228

354397513

-192837000

2538886

2600143

23837692

67365090

-5968467

-450236031

2189786

-19782645

-2493248

89559050

240970427

-261517000

23156686

175890028

2240044

-25657920

287072000

3640015

-46196600

-312341000

81

2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006

PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TO UR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK.

4135025 27602875 21304730 25447997 170477985 115178000 -10583842 122473000 3156362 -38296401 14397242 874008416 3993199 -18342746 5810855 1083250 490574150 540071000 7244119 105487196 65970330 3626785 -425231000 1631565 6787210 192588000 47446119 14930793 19396925 13562357 -129119138 110220000 -1055384 275321830 28136912 -51599809 27984262 -36362721 4076044 -93023065 -14755387 -2315835 -406528 -207607000 2887087

-528977 17315408 20199829 24785526 -39508371 169183000 -7880578 109930000 -13650184 25644313 6855099 501490661 10268894 -41953743 -94363 2390399 138820885 441835000 3254185 205554561 -21940190 -17026848 -47889000 -7828826 191396878 20005000 -8102719 5203081 8640780 8332989 1875318 179690000 402068 238691976 72702275 -76581773 21210122 -88989096 11387912 4886475 8570082 21502758 -30328 -111743000 5161298

-2182810 3690738 137043 -2019075 -69406094 15209000 -337637 13065711 1625837 -9246239 -17296276 312807029 -2657224 56515651 1656347 224244 474692156 134378000 162319 44811612 50892154 205951 -623180000 179261 -11027308 -116614 -5215897 -2442696 331908 -472860 113685609 -23812000 1544616 7994885 9424604 -1293117 19191323 -153945218 2787523 -42374062 -21600126 -368481 -243555 -110441 -339798

6846812

6596729

967858

2681546

279392450

-69214000

-2365627

-522711

15180709

-54694475

24838419

59710726

-3618471

-32904654

4248871

-1531393

-122938891

-36142000

3827615

-144878977

37018366

20447682

245838000

9281130

-173582360

172699614

60764735

12170408

10424237

5702228

-244680065

-45658000

-3002068

28634969

-53989967

26275081

-12417183

206571593

-10099391

-55535478

-1725343

-23450112

-132645

-95753559

-1934413

82

Lampiran 3: Pengukuran Kinerja Keuangan Dengan CFROA.

KINERJA KEUANGAN TAHUN 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2004 2004 2004 2004 NAMA PERUSAHAAN PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTA RI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. EBIT 88217812 2429240 14963056 150856000 233957 144667418 360411000 -22354371 9635593 10502849 1170706 198805192 55604000 2521704 10228696 20039058 -45760207 -3558168 203121580 13442683 265261251 4150545 1437549 97726805 115767 3048192 175969560 1691859 31413591 222720000 DEPRECIATION 566367984 184569907 1667608 710559000 22519874 283789437 314415000 24698331 16160654 7160197 782800 62892937 108564000 2968957 38862418 73831300 155094059 16733445 817807992 125912856 1179409132 23241948 101754496 477559981 34729000 64643444 653931375 225756114 1565101 838940000 ASSETS 1559866961 665034122 73088686 3421436000 118286489 2037791800 2512276000 166079872 116400921 145998804 27542012 1321468862 1228714 65024731 86495518 284578985 710524053 202750229 3010417416 203946229 2014694328 62056701 266082777 2055444455 1485051000 100891080 1690251209 742486527 65418724 4086018000

EBIT+DEPRECIATION

65458579

18699914

1663066

86141500

2275383

42845685

67482600

234396

2579624

1766304

195350

26169812

16416800

549066

4909111

9387035

10933385

1317527

102092957

13935553

144467038

2739249

10319204

57528678

3484476

6769163

82990093

22744797

3297869

106166000

83

2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2006 2006

PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TB K. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. PT.AKR CORPORINDO, TBK. PT.ALFA RETAILINDO, TBK

660745 193383781 323851000 -17228644 11172876 13394950 2297722 244542403 131732000 3622859 1652036 1754428 -50760244 2828960 305432263 8254194 260080626 6271014 1003806 351139759 173641000 7639811 192111587 2674397 5365392 354784000 2397487 236210902 319944000 4186954 13743826 14395758 2900425 283985513 151194000 8664643 25184771 14880904 77887925 4595544 945821606 1054729 266958324 5349049 -8724418 541606998 168326000 11116985 201408507 15885076

23634445 337700591 354968000 35961878 17820763 9430993 1091356 81094682 148940000 3980188 43523377 25072816 168125993 19918905 996023301 146688244 1402785868 24094752 99065072 462345220 39429000 66483237 752011911 266713117 1548958 967433000 24899327 405959945 437912000 57786151 19046900 11804482 1451396 102131687 199899000 4378614 142576532 25072818 159140412 9673824 1355628704 176980430 1614275298 25928466 111417544 325727413 42243000 75341526 857683002 294142830

111751218 2033454733 2558668000 136754423 136789862 159054418 35583366 1653956182 1424973000 65277742 79909140 177738742 506092836 218018205 4361846891 179539516 2380285847 65480322 227814089 2579716477 2178179000 135326720 1979762854 719830328 58260214 5178092000 101783856 1990390870 2338147000 125324062 161425156 180404199 61347659 1858734427 1608866000 49728950 802526484 180276908 419069408 234806414 7908586893 216589736 2319234982 68128788 190827051 3234643296 3011591000 135638073 2377340147 744925795

2429519

53108437

67881900

1873323

2899363

2282594

338907

32563708

28067200

760304

4517541

2682724

11736574

2274786

130145556

15494243

166286649

3036576

10006887

81348497

21307000

7412304

94412349

26938751

691435

132221700

2729681

64217084

75785600

6197310

3279072

2620024

435182

38611720

35109300

1304325

16776130

3995372

23702833

1426936

230145031

17803515

188123362

3127751

10269312

86733441

21056900

8645851

105909150

31002790

84

2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006

PT.PACIFIC UTAMA, TBK. PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. PT.LAUTAN LUAS, TBK. PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK PT.TIRA AUSTENITE, TBK. PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. PT.STEADY SAFE, TBK. PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. PT.TUNAS RIDEAN, TBK. PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK.

6029233 423578000 6012528 215839214 357140000 -50978170 17864054 16612468 2719028 271599381 88018000 344239 44656948 12243465 9527379 6285167 964391795 1209726 224271338 2176361 -17133092 194554700 54073000 -6164431

1653874 116589000 26307417 437111356 530629000 58145877 19410016 13846272 1252902 128317082 249060000 4786585 157917447 34034014 61453290 10806778 1637896701 180768370 1621955087 30698551 122915018 279894405 51595000 93244903

51416036 8895671000 96959424 2238608419 2527942000 66533013 175515547 188637435 68695859 1814793848 1830516000 53464973 1067118832 244958463 279131690 264668938 8205955951 338150770 2014766024 104729005 158299609 3482428789 2857847000 119487881

768310

54016700

3231994

65295057

88776900

716770

3727407

3045874

397193

39991646

33707800

513082

20257439

4627747

7098066

1709194

260228849

18197809

184622642

3287491

10578192

47444910

10566800

8708047

85

86

87

88

89

Lampiran 4: Klasifikasi Desain Riset Manajemen Laba.

1. Model akrual agregat Peneliti Healy (1985) DeAngelo (1986) Dechow et al. (1995) Proksi akrual diskresioner Total akrual Perubahan total akrual Kesalahan residual dari regresi total akrual dengan perubahan penjualan, perubahan piutang dan aktiva tetap (disebut modifikasi Jones) Kesalahan residual dari regresi total akrual dengan selisih antara aktiva lancar non kas dan hutang lancar yang disesua ikan dengan kenaikan pendapatan, beban dan aktiva tetap.

Kang dan Sivaramakrishnan (1995)

2. Model akrual spesifik Peneliti McNichols dan Wilson (1988) Proksi akrual diskresioner Kesalahan residual dari regresi saldo penyisihan piutang ragu-ragu awal dengan penghapusan piutang pada periode berjalan serta periode yang akan datang. Kesalahan estimasi atas penyisihan klaim kerugian yang diukur berdasarkan perkembangan penyisihan kerugian property pada perusahaan penjamin asuransi kerugian Indeks perputaran piutang, indeks laba kotor, indeks kualitas aset, indeks depresiasi, indeks beban penjualan dan administrasi, total akrual terhadap indeks total aset. Korelasi serial dari cadangan kerugian pada perusahaan penjamin asuransi kerugian .

Petroni (1992)

Beneish (1997)

Beavers dan McNichols (1998)

90

3. Distribusi frekuensi Peneliti Burgtahler dan Dichev (1997). Test untuk manajemen laba Test apakah frekuensi realisasi laba tahunan berada dalam daerah di atas (di bawah) laba nol dan laba tahun lalu lebih besar (lebih kecil) dari laba ekspektasi. Test apakah frekuensi realisasi laba kuartalan berada dalam daerah di atas (di bawah) laba nol, laba kuartal terakhir dan ramalan analis lebih besar (lebih kecil) dari ekspektasi. Test apakah banyaknya laba yang berturut turut naik lebih besar dari ekspektasi tidak adanya manajemen laba

Degeorge et al. (1999).

Myers dan Skinner (1999).

Sumber: McNicols (2000: 317).

91

Lampiran 4: Analisis Statistik. Analysis Summary Date and Time Date: Friday, March 21, 2008 Time: 9:27:51 AM Title hipotesis: Friday, March 21, 2008 09:27 AM Notes for Group (Group number 1) The model is recursive. Sample size = 99 Variable Summary (Group number 1) Your model contains the following variables (Group number 1) Observed, endogenous variables MO BC AC EM FP Observed, exogenous variables KEPEM Unobserved, exogenous variables GCG e1 e2 e3 e4 e5 Variable counts (Group number 1) Number of variables in your model: Number of observed variables: Number of unobserved variables: Number of exogenous variables: Number of endogenous variables: 12 6 6 7 5

92

Parameter summary (Group number 1) Weights 6 0 7 13 Covariances 0 0 1 1 Variances 0 0 7 7 Means 0 0 0 0 Intercepts 0 0 0 0 Total 6 0 15 21

Fixed Labeled Unlabeled Total

Assessment of normality (Group number 1) Variable KEPEM EM FP AC BC MO Multivariate min .000 -6.139 .068 .000 .000 .000 max 1.000 3.560 4.409 2.580 6.851 .750 skew -.391 -2.991 1.028 -1.117 4.748 .013 c.r. -1.589 -12.149 4.175 -4.537 19.287 .055 kurtosis -1.847 20.364 .383 -.727 23.777 1.443 39.403 c.r. -3.751 41.359 .778 -1.476 48.292 2.930 20.007

Observations farthest from the centroid (Mahalanobi s distance) (Group number 1) Observation number 10 46 41 5 74 93 30 37 47 56 95 3 1 2 97 29 31 19 33 Mahalanobis d-squared 49.693 39.094 25.755 21.373 20.257 20.182 14.568 11.443 10.965 10.847 10.315 9.614 9.556 9.377 9.066 8.870 8.735 8.512 7.773 p1 .000 .000 .000 .002 .002 .003 .024 .076 .089 .093 .112 .142 .145 .153 .170 .181 .189 .203 .255 p2 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .010 .476 .531 .444 .558 .763 .689 .672 .726 .731 .709 .737 .944

93

Observation number 4 38 67 18 51 36 7 92 24 32 44 64 12 70 57 11 6 34 35 8 82 49 26 21 48 23 25 13 61 15 9 16 17 14 66 65 53 69 20 58 22

Mahalanobis d-squared 7.640 7.438 7.328 7.299 7.103 6.692 6.686 6.611 6.546 6.112 5.955 5.750 5.427 5.422 5.413 5.413 5.386 5.301 5.263 5.220 5.204 5.110 4.856 4.615 4.480 4.447 4.299 3.972 3.943 3.682 3.654 3.597 3.594 3.590 3.557 3.548 3.517 3.457 3.205 3.204 3.115

p1 .266 .282 .292 .294 .311 .350 .351 .358 .365 .411 .428 .452 .490 .491 .492 .492 .495 .506 .511 .516 .518 .530 .562 .594 .612 .616 .636 .680 .684 .720 .723 .731 .731 .732 .736 .738 .742 .750 .783 .783 .794

p2 .943 .955 .951 .931 .947 .986 .976 .972 .966 .994 .996 .998 1.000 .999 .999 .998 .997 .997 .996 .994 .991 .992 .998 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000

94

Observation number 89 98 91 54 55 99 60 39 28 27 80 40 78 68 50 42 43 72 71 73 75 62 52 79 84 76 88 86 94 63 87 59 77 45 81 90 96 85 83

Mahalanobis d-squared 2.893 2.744 2.744 2.711 2.606 2.589 2.574 2.484 2.483 2.466 2.444 2.398 2.366 2.360 2.324 2.285 2.259 2.242 2.192 2.117 2.108 2.085 2.079 1.994 1.809 1.777 1.753 1.728 1.676 1.619 1.605 1.595 1.593 1.559 1.541 1.534 1.428 1.307 1.281

p1 .822 .840 .840 .844 .856 .858 .860 .870 .870 .872 .875 .880 .883 .884 .888 .892 .894 .896 .901 .909 .909 .912 .912 .920 .936 .939 .941 .943 .947 .951 .952 .953 .953 .955 .957 .957 .964 .971 .973

p2 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 .999 .999 .999 .998 .995 .995 .999 .997 .994 .989 .984 .977 .952 .905 .816 .720 .572 .384 .306 .219 .064

95

Notes for Model (Default model) Computation of degrees of freedom (Default model) Number of distinct sample moments: Number of distinct parameters to be estimated: Degrees of freedom (21 - 15): Result (Default model) Minimum was achieved Chi-square = 4.010 Degrees of freedom = 6 Probability level = .675 Estimates (Group number 1 - Default model) Scalar Estimates (Group number 1 - Default model) Maximum Likelihood Estimates Regression Weights: (Group number 1 - Default model) Estimate EM <--- GCG -1.419 EM <--- KEPEM .045 MO <--- GCG 1.000 BC <--- GCG -8.844 AC <--- GCG 12.748 FP <--- EM .091 FP <--- KEPEM .405 FP <--- GCG 7.283 S.E. C.R. 1.985 -.715 .206 .221 2.709 3.915 .092 .188 2.448 -3.264 3.257 .982 2.156 2.975 P Label .475 par_3 .825 par_5 .001 .001 .326 .031 .003 par_1 par_2 par_4 par_6 par_7 21 15 6

Standardized Regression Weights: (Group number 1 - Default model) Estimate EM <--- GCG -.088 EM <--- KEPEM .022 MO <--- GCG .459 BC <--- GCG -.547 AC <--- GCG .789 FP <--- EM .091 FP <--- KEPEM .200 FP <--- GCG .451

96

Covariances: (Group number 1 - Default model) Estimate S.E. C.R. GCG <--> KEPEM .003 .004 .825 P Label .409 par_8

Correlations: (Group number 1 - Default model) Estimate GCG <--> KEPEM .102 Variances: (Group number 1 - Default model) Estimate .004 .241 .982 .014 .693 .374 .729 S.E. .002 .034 .141 .002 .125 .157 .119 C.R. 1.977 7.000 6.977 6.173 5.539 2.380 6.130 P .048 *** *** *** *** .017 *** Label par_9 par_10 par_11 par_12 par_13 par_14 par_15

GCG KEPEM e4 e1 e2 e3 e5

Squared Multiple Correlations: (Group number 1 - Default model) Estimate .008 .263 .622 .300 .210 Matrices (Group number 1 - Default model) Implied Covariances (Group number 1 - Default model) KEPEM .241 .007 .121 .039 -.027 .003 EM .990 .054 -.067 .046 -.005 FP AC BC MO

EM FP AC BC MO

KEPEM EM FP AC BC MO

.990 .362 -.251 .028

.990 -.427 .048

.990 -.034

.018

97

Implied Correlations (Group number 1 - Default model) KEPEM 1.000 .013 .247 .081 -.056 .047 EM 1.000 .055 -.067 .047 -.039 FP AC BC MO

KEPEM EM FP AC BC MO

1.000 .366 -.254 .213

1.000 -.432 .362

1.000 -.251

1.000

Residual Covariances (Group number 1 - Default model) KEPEM .000 .000 .000 .007 .054 .007 EM .000 .000 -.024 -.023 .007 FP AC BC MO

KEPEM EM FP AC BC MO

.000 .004 .012 .000

.000 .003 -.001

.000 -.003

.000

Standardized Residual Covariances (Group number 1 - Default model) KEPEM .000 .000 .000 .140 1.101 .978 EM .000 .000 -.237 -.229 .547 FP AC BC MO

KEPEM EM FP AC BC MO

.000 .035 .115 .025

.000 .026 -.053

.000 -.245

.000

Factor Score Weights (Group number 1 - Default model) KEPEM EM FP AC BC MO GCG -.001 -.002 .010 .036 -.013 .073 Total Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM .045 .409 .000 .000 .000 GCG -1.419 7.154 12.748 -8.844 1.000 EM .000 .091 .000 .000 .000

EM FP AC BC MO

98

Standardized Total Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM .022 .202 .000 .000 .000 GCG -.088 .443 .789 -.547 .459 EM .000 .091 .000 .000 .000

EM FP AC BC MO

Direct Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM .045 .405 .000 .000 .000 GCG -1.419 7.283 12.748 -8.844 1.000 EM .000 .091 .000 .000 .000

EM FP AC BC MO

Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM .022 .200 .000 .000 .000 GCG -.088 .451 .789 -.547 .459 EM .000 .091 .000 .000 .000

EM FP AC BC MO

Indirect Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM .000 .004 .000 .000 .000 GCG .000 -.129 .000 .000 .000 EM .000 .000 .000 .000 .000

EM FP AC BC MO

99

Standardized Indirect Effects (Group number 1 - Default model) KEPEM .000 .002 .000 .000 .000 GCG .000 -.008 .000 .000 .000 EM .000 .000 .000 .000 .000

EM FP AC BC MO

Model Fit Summary CMIN Model Default model Saturated model Independence model RMR, GFI Model Default model Saturated model Independence model RMR .014 .000 .139 GFI .987 1.000 .803 AGFI .955 .724 PGFI .282 .574 NPAR 15 21 6 CMIN 4.010 .000 62.700 DF 6 0 15 P .675 .000 CMIN/DF .668 4.180

Baseline Comparisons Model Default model Saturated model Independence model NFI Delta1 .936 1.000 .000 RFI rho1 .840 .000 IFI Delta2 1.035 1.000 .000 TLI rho2 1.104 .000 CFI 1.000 1.000 .000

Parsimony-Adjusted Measures Model Default model Saturated model Independence model PRATIO .400 .000 1.000 PNFI .374 .000 .000 PCFI .400 .000 .000

100

NCP Model Default model Saturated model Independence model FMIN Model Default model Saturated model Independence model RMSEA Model Default model Independence model AIC Model Default model Saturated model Independence model ECVI Model Default model Saturated model Independence model HOELTER Model Default model Independence model HOELTER .05 308 40 HOELTER .01 411 48 ECVI .347 .429 .762 LO 90 .367 .429 .550 HI 90 .431 .429 1.051 MECVI .371 .462 .772 AIC 34.010 42.000 74.700 BCC 36.318 45.231 75.623 BIC 72.937 96.498 90.271 CAIC 87.937 117.498 96.271 RMSEA .000 .180 LO 90 .000 .135 HI 90 .103 .227 PCLOSE .786 .000 FMIN .041 .000 .640 F0 .000 .000 .487 LO 90 .000 .000 .275 HI 90 .064 .000 .776 NCP .000 .000 47.700 LO 90 .000 .000 26.933 HI 90 6.256 .000 76.021

101

Anda mungkin juga menyukai