Manajemen Pembiayaan Pendidikan SD

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman
Makalah ini membahas manajemen pembiayaan pendidikan, termasuk konsep dasar, sumber-sumber dana, dan perencanaan anggaran lembaga pendidikan. Pembiayaan pendidikan dianggap sebagai investasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan keberhasilan proses belajar mengajar. Penulisan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang pengelolaan dana pendidikan yang efisien dan efektif.

Diunggah oleh

Aku Temanmu
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Manajemen Pembiayaan Pendidikan


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pendidikan
Dosen Pengampu:
Ana Nurhasanah, [Link]., [Link]
Reksa Adya Pribadi, [Link]

Disusun oleh kelompok 6


Kelas 6A:

Muhammad Rifki Supyadi (2227210024)


Annisa Rahma Septiani (2227210026)
Iis Komariah (2227210034)
Alviani Lingga Luthfika (2227210095)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Kepribadian dan
Kecakapan ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan di prodi Pendidikan Guru Sekolah
Dasar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan dan pandangan kami tentang materi manajemen pembiayaan
Pendidikan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ana Nurhasanah, [Link]., [Link] dan Bapak
Reksa Adya Pribadi, [Link] selaku Dosen pengampu mata kuliah Manajemen Pendidikan yang
telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan menegenai
manajemen pembiayaan Pendidikan yang akan berguna bagi nantinya . Penugasan ini pula
memberi kami kesempatan untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan topik ini
sekaligus memberitahukan pula kepada teman-teman di kelas 6A.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
pengetahuannya melalui buku, artikel jurnal, dan E-book sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini. Semoga apa yang telah dibagi menjadi ladang pahala kelak Aamiin.

Serang, 29 Febuari 2024

Kelompok 6
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu kunci bagi kemajuan bangsa dan
negara. Karena pendidikan merupakan ujung tombak dalam rangka meningkatkan
kualitas sumbe daya manusia yang berkualitas agar mampu bersaing di tengah
kompetisi kehidupan berbangsa yang semakin maju da modern. Dalam proses
pendidikan, pendidikan tidak akan dapat berjalan tanpa adanya dukungan dari biaya
yang dapat membantu proses pendidikan, agar pendidikan dapat berjalan dengan baik.
Pembiayaan pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) jangka
panjang. Pembiayaan pendidikan ini sangat diperlukan untuk program sekolah,
pengadaan sarana dan prasarana, gaji guru, gaji pegawai, keperluan untuk menunjang
tercapainya visi dan misi sekolah dan menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas.
Dalam peneyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan
potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam
kajian manajemen pembiayaan pendidikan. Komponen keuangan dan pembiayaan
pada satu sekolah merupakan komponen produksi konsumtif yang menentukan
terlaksananya kegiatan-kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Dengan kata lain
setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya atau dana.
Pembiayaan pendidikan merupakan komponen yang pentimg dan tidak dapat
terpisahkan dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar di sekolah. Dalam
rangka pembentukan potensi sumber daya manusia (SDM), penggunaan anggaran
atau pembiayaan pendidikan yang efektif dan efisien dapat menghasilkan SDM yang
tepat guna dan berhasil. Salah satu kunci keberhasilan dalam pembangunan
pendidikan, terletak pada kemampuan SDM dalam mengelola dana yang tersedia
dengan mengacu pada kebutuhan pokok dan skala prioritas program pembangunan
pendidikan dari tahun ke tahun secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan
perencanaan program yang ingin dicapai.
Biaya pendidikan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: besar kecilnya
sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru atau dosen yang
disebabkan oleh bidang keahlian atau tingkat pendidikan, ratio siswa berbanding
guru/ dosen, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk (khususnya di negara
berkembang), perubahan kebijakan dari penggajian/pendapatan (revenue theory of
cost). Pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut sumber-sumber dana, tetapi
juga meliputi penggunaan dana secara efisien. Semakin efisien sistem pendidikan,
maka semakin berkurang biaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan suaut lembaga
pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Dasar pembiayaan Pendidikan?
2. Darimanakah sumber-sumber pembiayaan Pendidikan?
3. Bagaimanakah perencanaan dan belanja Lembaga Pendidikan?
4. Bagaimanakah pelaksanaan anggaran Pendidikan?
5. Bagaimana pengawasan pembiayaan Pendidikan?
6. Kasus apa yang dapat terjadi dalam pembiayaan Pendidikan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui konsep dasar pembiayaan Pendidikan
2. Untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan Pendidikan
3. Untuk mengetahui perencanaan anggaran dan belanja Lembaga Pendidikan
4. Untuk mengetahui pelaksanaan pembiayaan Pendidikan
5. Untuk mengetahui pengawasan pembiayaan Pendidikan
6. Untuk mengetahui kasus dalam pembiayaan Pendidikan
BAB II

PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Pembiayaan Pendidikan
1. Pengertian Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan Pendidikan terdiri dari dua kata utama yaitu pembiayaan dan
Pendidikan. Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah
ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya.
Pembiayaan yaitu pendanaan yang diberikan oleh satu pihak lain untuk mendukung
investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga
(Mesiono, 2020: 23). Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang
dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang
secara langsung dapat menunjang keefektifan dan efisiensi pengelolaan suatu
Lembaga. Sedangkan Pendidikan adalah usaha dasar terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya.
Menurut Akdon, dkk (2015: 23) pembiayaan Pendidikan merupakan aktivitas
yang berkenaan dnegan dana (pendapatan) yang diterima dan bagaimana
penggunaan dana tersebut untuk membiayai seluruh program Pendidikan yang
telah ditetapkan. Menurut Nurhalimah (2019: 4) pembiayaan pendidikan
merupakan jumlah uang yang dihasilkan dan dibelanjakan untuk berbagai
keperluan penyelenggaraan pendidikan yang mencakup gaji guru, peningkatan
profesional peralatan, pengadaan alatalat dan buku pelajaran, alat tulis kantor
(ATK), kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan, dan supervisi
pendidikan.
Dari beberapa pendapat yang telah disampaikan dapat disimpulkan bahwa
pembiayaan pendidikan adalah dana yang diberikan kepada Lembaga Pendidikan
(sekolah) untuk memfasilitasi setiap kegiatan proses pembelajaran di sekolah dan
berbagai keperluan dalam penyelenggaraan pendidikan.
2. Konsep pembiayaan Pendidikan
Dalam kegiatan umun keuangan, kegiatan manajemen pembiayaan pendidikan
meliputi 3 hal, yaitu:
a. Budgeting (Penyusunan Anggaran)
Penganggaran merupakan kegiatan atau proses penyusunan anggaran (budget).
Budget merupakan rencana operasional yang dinyatakan secara kuantitif dalam
bentjk satuan uang uang digunakan sebagai pedoman dalam kurun waktu
tertentu. Oleh karena itu, dalam anggaran tergambar kegiatan-kegiatan yang
akan dilaksanakan suatu lembaga.
b. Accounting (Pembukuan)
Pengurusan pembukuan meliputi 2 hal, yaitu:
a) Mengurusi hal yang menyangkut kewenangan menentukan kebijakan
menerima atau mengeluarkan uang.
b) tindak lanjut dari point pertama, yaitu menerima, menyimpan, dan
mengeluarkan uang atau dikenal dengan istilah pengurusan bendaharawan.
c. Auditing (Pemeriksaan)
Auditing adalah semua kegiatan yang menyangkut pertanggungjawaban
penerimaan, penyimpanan, pembayaran atau penyerahan uang yang dilakukan
bendaharawan kepada pihak-pihak yang berwenang.
B. Sumber-Sumber Pembiayaan Pendidikan
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayab Republik Indonesia No. 44 Tahun
2012 tentang Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan pada Satuan Pendidikan Dasar
adalah sebagai berikut :
Sumber biaya pendidikan pada satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh
Pemerintah dan atau pemerintah daerah yang tercantum dalam pasal 5 adalah anggarab
pendapatan dan belanja negara, anggaran pendapatan dan belanja daerah, sumbangan dari
peserta didik di luar pesert didik atau orang tua/walinya, bantuan lembaga lainnya yang tidak
mengikat, bantuan pihak asing yang tidak mengikat, dan sumber lain yang sah.
Kemudian dalam Pasal 6 menjelaskan sumber biaya pendidikan pada satuan pendidikan dasar
yang diselenggarakan oleh masyarakat adalah bantuan dari penyelenggara atau satuan
pendidikan yang bersangkutan; pungutan, atau sumbangan dari peserta didik atau orang
tua/walinya; bantuan dari masyarakat di luar pesert didik atau orang tua/walinya; bantuan
Pemerintah; bantuan pemerintah daerah; bantuan pihak asing yang tidak mengikat; bantuan
lembaga lain yang tidak mengikat; hasil usaha penyelenggara atau satuan pendidikan;
dan/atau sumber lain yang sah.
Adapun sumber-sumber pembiayaan pendidikan di sekolah menurut Amirin (2013:92)
dikategorikan menjadi 5, yaitu :
a. Anggaran rutin dan APBN (anggaran pembangunan)
b. Dana penunjang pendidikan (DPP)
c. Bantuan/sumbangan dari BP3
d. Sumbangan dari pemerintah daerah setempat (kalau ada)
e. Bantuan lainnya

Untuk terselenggaranya suatu pendidikan, diperlukan pembiayaan yang bersumber baik dari
pemerintah, orang tua, murid, masyarakat, maupun institusi-institusi lainnya seperti
organisasi regional maupun internasional. Pemerintah merupakan penanggung dana terbesar
diantara yang lain (sekitar 70%), selanjutnya orang tua murid (sekitar 10-24%) dan
masyarakat (sekitar 5%) serta yang terakhir pihak lain baik yang berbentuk hibah maupun
pinjaman.
Upaya-upaya yang dilakukan untuk menggali dana ke semua pihak sumber pembiayaan
pendidikan antara lain :
1. Pemerintah pusat dan daerah : Mengusahakan agar alokasi untuk sektor pendidikan
diperbesar, pemanfaatan dana secara efektif dan efisien, dan mengusahakan adanya alokasi
bagi sektor pendidikan yang diambil dari pajak umum.
2. Orang tua peserta didik : Menyadarkan orang tua agar mau dan tertib membayar SPP
dan pendanaan lainnya yang diijinkan pemerintah, pemanfaatan dana dari orang tua peserta
didik seefektif dan seefisien mungkin.
3. Masyarakat : Mengajak dunia usaha untuk berusaha sebagai fasilitator praktik peserta
didik, menghimbau dunia usaha agar bersedia memberikan dana yang lebih besar untuk dunia
pendidikan.
4. Pihak lain (institusi) : Mengusahakan bentuk kerja sama yang tidak saling mengikat
namun menguntungkan serta mempetimbangkan bentuk-bentuk pinjaman agar tidak
memberatkan di kemudian hari.
5. Dana hasil usaha sendiri yang halal : seperti penyewaan alat, koperasi, kopma.

C. Perencanaan Anggaran dan Belanja Lembaga Pendidikan


Pengertian perencanaan pendidikan adalah suatu usaha melihat ke masa depan dalam
menentukan kebijakan, prioritas dan biaya pendidikan dengan mempertimbangkan
kenyataan-kenyataan yang ada dalam bidang ekonomi, sosial dan politik untuk
mengembangkan potensi sistem pendidikan nasional, memenuhi kebutuhan bangsa dan anak
didik yang dilayani oleh sistem tersebut.
Untuk semua jenis sekolah, pada setiap tahun harus membuat perencanaan anggaran yang
disebut Rencana Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah. Tujuan penyusunan anggaran ini
di samping sebagai pedoman pengumpulan dana dan pengeluarannya, juga sebagai
pembatasan dan pertanggung jawaban sekolah terhadap uang-uang yang sumbangan dari
orang tua siswa (BP3) dan sebaliknya BP3 menjadi puas mengetahui arah penggunaan dana
yang mereka berikan.
Sekolah swasta tidak terikat oleh dana pemerintah terlalu banyak. Oleh karenanya, mereka
lebih leluasa menyusun RAPBS-nya. RAPBS disusun dengan melalui proses tertentu, yang
besar kecilnya didasarkan atas kebutuhan minimum setiiap tahun, dan perkiraan
pendapatannya berpedoman pada penerimaan tahun yang lalu.
Dalam perencanaan pembiayaan, terlebih dahulu harus memahami jenis-jenis biaya dalam
istilah pembiayaan. Jenis-jenis biaya tersebut yaitu :
1. Biaya langsung (direct cost)
Merupakan biaya pendidikan yang diperoleh dan dibelanjakan oleh sekolah sebagai suatu
lembaga meliputi biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan proses belajar mengajar, sarana
belajar, biaya transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua, atau
diri sendiri.
2. Biaya tidak langsung (indirect cost)
Biaya tidak langsung merupakan keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk
biaya kesempatan yang hilang yang dikorbankan oleh siswa selama belajar.

Istilah lain yang berkenaan dengan dua sisi anggaran yakni penerimaan dan pengeluaran.
Anggaran penerimaan merupakan pendapatan yang diperoleh setiap tahun oleh sekolah dari
berbagai sumber resmi. Anggaran dasar pengeluaran merupakan jumlah uang yang
dibelanjakan setiap akhir tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Berdasarkan sifatnya, pengeluran dikelompokkan menjadi 2 , yaitu:
1. Pengeluaran yang bersifat rutin, misalnya pengeluaran pelaksananaan pelajaran,
pengeluaran tata usaha sekolah, pemeliharaan sarana/prasarana sekolah, kesejahteraan
sekolah, kesejahteraan pegawai, administrasi, pembinaan teknis edukatif, pendataan.
2. Pengeluaran yang bersifat tidak rutin/pembangunan, misalnya pembangunan gedung,
pengadaan kendaraan dinas, dll.
Dalam mengukur biaya pendidikan ada yang dinamakan total cost dan unit cost. Total cost
adalah biaya pendidikan secara keseluruhan. Sedangnya unit cost adalah biaya satuan per
peserta didik. Untuk menentukan biaya satuan terdapat 2 pendekatan yaitu pendekatan makro
dan mikro. Pendekatan makro berdasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran
pendidikan yang diterima dari berdasar pada alokasi pengeluaran perkomponen pendidikan
yang digunakan peserta didik.
Untuj menyusun suatu perencanaan pembiayaan atau yang biasa disebut dengan rencana
anggaran, hal-hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode anggaran
2. Mengidentifikasi sumber-sumber yang dinyatakan dalam uang, jasa, dan barang
3. Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang sebab uang pada dasarnya merupakan
pernyataan finansial
4. Memformulasikan anggaran dalam bentuk format yang telah disetujui dan
dipergunakan oleh instansi tertentu
5. Menyusun usulan anggaran untuk memperoleh persetujuan pihak yang berwenang
6. Melakukan revisi usulan anggaran
7. Persetujuan revisi anggaran
8. Pengesahan anggaran

Ditingkat sekolah, kita mengenal adanya RAPBS. Penyusunan RAPBS sebaiknya


menggunakan analisa SWOT, baik dari segi hukum, tuntutan zaman, keberadaan sekolah
(visi dan misi), dan output yang diharapkan. Tujuan penyusunan anggaran ini selain sebagai
pedoman pengumpulan dana dan pengeluarannya, juga sebagai pembatasan dan
pertanggungjawaban sekolah terhadap uang-uang yang diterima. Dengan adanya RAPBS ini
maka sekolah tidak dapat seenaknya memungut sumbangan dari orang tua siswa (BP3) dan
sebaliknya, BP3 menjadi puas tentang arah dan penggunaan dana yang mereka berikan.
Sekolah swasta tidak terikat oleh dana pemerintah yang terlalu banyak. Karena mereka lebih
leluasa menyusun RAPBS-nya. RAPBS disusun dengan melalui proses tertentu, yang besar
kecilnya didasarkan atas kebutuhan minimum setiap tahun, dan perkiraan pendapatannya
berpedoman pada penerimaan tahun lalu.
D. Pelaksanaan Anggaran Pendidikan
Dalam pelaksanaan anggaran pendidikan, hal yang harus dilakukan adalah kegiatan
membukukan atau accounting. Pembukuan ini mencakup 2 hal yaitu : Pengurusan yang
menyangkut kewenangan menentukan kebijakan menerima atau mengeluarkan uang, serta
tindak lanjutnya, yakni menerima, menyimpan dan mengeluarkan uang. Jenis pengurusan ke
dua disebut juga dengan pengurusan benharawan. Ada beberapa komponen yang peleh
dibiayai dengan menggunakan uang dari dana belajar. Komponne tersebut ialah :
1. Honorium untuk memimpin/penanggung jawab edukatif
2. Honorium untuk sumber belajar
3. Honorium untuk pemimpin umum lembaga diklusemas
4. Honorium untuk pinata usaha dan pembantu-pembantunya
5. biaya perlengkapan dan peralatan
6. Biaya pemeliharaan prasarana dan sarana
7. Biaya sewa/kontrak
8. Dana untuk pengembangan usaha lembaga diklusemas
9. Biaya-biaya lain untuk pengembangan dan biaya tidak terduga

Strategi suatu lembaga pendidikan secara administrasi dengan bagaimana seseorang


memimpin untuk berupaya memberikan pengelolaan sumber daya dan sumber biaya yang
terdapat di lingkungan suatu lembaga. Pengelola pendidikan harus mampu sebaik mungkin
mencari pemasukan keuangan guna memenuhi kbutuhan dalam pendanaan pendidikan.
Startegi tersebut dapat direalisasikan melalui penyelenggaraan berbagai kehitan seperti :
1. Melakukan analisis internal dan eksternal terhadap potensi sumber daya
2. Mengidentifikasi, mengelompokkan, dan emmperkirakan sumber-sumber dana yang
dapat digali dan dikembangkan
3. Menetapkan sumber dana melalui musyawarah dengan roang tua siswa pada tahun
ajaran
4. Menggalang partisipasi masyarakat melalui komite sekolah
5. Menyelenggarakan olah raga dan kesenian siswa untuk mengumpulkan dana dengan
memanfaatkan fasilitas sekolah.

Oleh karena itu, pengaturan biaya pendidikan berhubungan dengan keputusan-keputusan


organisasi. Secara umum dapat dibedakan dalam :
1. Keputusan tentang alokasi dana ke berbagai macam aktifitas
2. Keputusan optimalisasi sumber-sumber pemasukan yang berdasarkan pemasukan
yang berdasarkan aturan
3. Keputusan pemanfaatan yang efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang
maksimal.

Sehingga melakukan analisis dan pengambilan keputusan-keputusan organisasi atau lembaga


merupakan tugas fungsional bagian keuangan. Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut
seorang pengelola keuangan harus memenuhi ke-4 aspek berikut :
1. Mengestimsi secara tepat nilai nominal sunber-sumber keuangan
2. Mencermati tentang pengaruh waktu dan ketidakpastian
3. Memperhitungkan efisiensi pengaruh waktu dan ketidakpastian
4. Menghitung efisiensi pengekuaran secara cermat.
E. Pengawasan Pembiayaan Pendidikan
Auditing, atau pengauditan, adalah istilah yang mengacu pada aktivitas
pengawasan terkait dengan tanggung jawab penerimaan, penyimpanan, serta
pembayaran atau penyerahan uang oleh Bendaharawan kepada pihak yang memiliki
kewenangan.
1. Pengawasan
Untuk memastikan bahwa suatu kegiatan berjalan sesuai dengan
rencana, tujuan, dan sasaran yang telah ditetapkan, diperlukan pengawasan
yang berkelanjutan. Pengawasan merupakan aspek penting dalam pelaksanaan
rencana, dimana upayanya adalah untuk memastikan bahwa pembangunan
berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Tujuan pengawasan adalah
untuk mencegah penyimpangan keuangan dan mengoreksi kesalahan
pencatatan yang mungkin terjadi. Pengawasan dapat dilakukan baik secara
internal maupun eksternal, dan dapat mencakup berbagai metode seperti
pemeriksaan, pembinaan, dan evaluasi.
2. Pengendalian
Dalam serangkaian kegiatan perencanaan, pengendalian adalah salah
satu tahap yang dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program sesuai
dengan rencana yang telah dibuat. Pengendalian digunakan untuk
mengidentifikasi kemajuan, perkembangan, hambatan, dan penyimpangan
yang mungkin muncul, dengan tujuan untuk mengurangi dampak negatifnya.
Pengendalian merupakan langkah krusial dalam memastikan bahwa
pengelolaan biaya berjalan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
Biasanya, pengendalian dilakukan oleh pimpinan atau atasan langsung sebagai
strategi kreatif dan antisipatif dalam mengelola tugas pengelolaan tersebut.
3. Pemeriksaan dalam Pembayaran
Manajemen biaya melibatkan penggunaan sejumlah dana yang
dialokasikan untuk mendukung program dan aktivitas tertentu. Setiap tindakan
yang dilakukan oleh pengelola harus dapat dipertanggungjawabkan, baik
dalam hal pelaksanaan program maupun penggunaan dana. Oleh karena itu,
manajemen biaya harus dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Menurut Nanang Fatah, pengawasan pembiayaan pendidikan bertujuan
untuk menilai, membandingkan, dan mengukur alokasi biaya serta tingkat
penggunaannya. Secara sederhana, proses pengawasan terdiri dari:
a. Monitoring (memantau)
b. Evaluasi
c. Melampirkan hasil temuan, baik dalam kinerja aktual maupun hasilnya.
Berikut adalah langkah-langkah atau tahapan dalam proses pengawasan:
a. Menetapkan standar atau pedoman, yang dapat berupa ukuran kuantitas, kualitas,
biaya, atau waktu yang diharapkan.
b. Melakukan pengukuran dan perbandingan antara realitas yang terjadi dengan
standar yang telah ditetapkan.
c. Mengidentifikasi tindakan perbaikan atau koreksi yang diperlukan, yang kemudian
akan menjadi bahan untuk merekomendasikan perbaikan dalam proses tersebut.
Dalam struktur pemerintahan, setiap unit di dalam departemen bertanggung
jawab atas pengelolaan uangnya dan melaporkannya kepada BPK (Badan Pengawasan
Keuangan) melalui departemen yang bersangkutan. Tujuan pemeriksaan meliputi kas,
yang diperiksa untuk memastikan keakuratan jumlah uang yang ada dengan
membandingkannya dengan catatan yang ada. Selain itu, pemeriksaan juga mencakup
pengelolaan barang, yang tidak hanya membandingkan jumlah barang yang ada dengan
yang seharusnya ada, tetapi juga meninjau cara penyimpanan, pemeliharaan, dan
penggunaannya.
Auditing dilakukan untuk menindaklanjuti jika terdapat penyimpangan, dengan
tujuan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kerugian. Pemeriksaan
tidak hanya dilakukan setelah anggaran dijalankan, tetapi juga sebelumnya
(pemeriksaan anggaran pre-audit). Pemeriksaan ini mencakup evaluasi kematangan
rencana atau anggaran yang terkait dengan kebijakan dan metode yang digunakan
dalam penggunaan dana.
F. Kasus Pembiayaan Pendidikan
Sebuah situasi mengenai pembiayaan pendidikan dapat melibatkan berbagai
aspek, mulai dari ketersediaan akses, kecukupan dana, pengelolaan anggaran, hingga
pemerataan pendidikan. Berikut adalah contoh kasusu pembiayaan pendidikan yaitu:
“Ketimpangan Akses Pendidikan Berdasarkan Pembiayaan”
Di berbagai negara, masalah ketimpangan akses terhadap pendidikan masih
menjadi perhatian serius. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk
kondisi ekonomi, geografis, dan sosial masyarakat. Beberapa contoh situasi yang
muncul adalah:
1. Ketimpangan Ekonomi: Keluarga dengan pendapatan rendah sering
menghadapi kesulitan dalam membiayai pendidikan anak-anak mereka. Biaya
sekolah, buku, seragam, dan biaya tambahan lainnya bisa menjadi beban yang
berat bagi mereka. Akibatnya, anak-anak dari latar belakang ekonomi yang
kurang mampu cenderung lebih rentan terhadap putus sekolah atau menerima
pendidikan yang kurang memadai.
2. Ketimpangan Geografis: Di daerah terpencil atau pedesaan, akses terhadap
pendidikan sering kali terbatas karena kurangnya infrastruktur pendidikan
yang memadai. Sekolah-sekolah mungkin berjarak jauh dari tempat tinggal
siswa, transportasi yang tidak memadai, atau bahkan kurangnya sekolah di
daerah tersebut. Kondisi ini dapat menghambat kemampuan anak-anak untuk
mengakses pendidikan secara menyeluruh.
3. Ketimpangan Sosial: Anak-anak dari kelompok minoritas, suku, atau latar
belakang etnis tertentu mungkin menghadapi kesulitan dalam mengakses
pendidikan karena adanya diskriminasi atau perlakuan yang tidak adil. Mereka
mungkin mengalami kesulitan dalam memperoleh beasiswa atau dukungan
finansial lainnya yang disediakan oleh pemerintah atau lembaga swadaya
masyarakat.

Solusi untuk kasus semacam ini melibatkan berbagai langkah, seperti:


1. Program bantuan keuangan atau beasiswa bagi keluarga dengan
pendapatan rendah.
2. Peningkatan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil atau pedesaan.

3. Kebijakan afirmatif atau program khusus untuk mendukung anak-anak dari


kelompok minoritas atau latar belakang etnis tertentu.

4. Kampanye kesadaran dan advokasi untuk meningkatkan kesetaraan akses


terhadap pendidikan.

Dengan mengatasi ketimpangan akses pendidikan berdasarkan pembiayaan,


kita dapat memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk
mendapatkan pendidikan berkualitas dan membangun masa depan yang lebih baik.
Contoh lainnya yakni kasus Kesenjangan Pembiayaan Pendidikan Antar
Wilayah. Di banyak negara, ada ketidaksetaraan yang mencolok dalam pembiayaan
pendidikan antar wilayah. Daerah perkotaan atau yang lebih makmur sering kali
mendapatkan lebih banyak dukungan keuangan untuk pendidikan dibandingkan
dengan daerah pedesaan atau yang lebih miskin. Faktor-faktor yang menyebabkan hal
ini antara lain perbedaan dalam pendapatan per kapita, kurangnya infrastruktur
pendidikan yang memadai, dan kesulitan akses terhadap sumber daya pendidikan.
Sebagai contoh, di suatu negara, sekolah-sekolah di kota besar mungkin
menerima alokasi dana yang lebih besar dari pemerintah lokal atau sumbangan
swasta, sementara sekolah-sekolah di pedesaan hanya mendapatkan sedikit atau
bahkan tidak ada dukungan tambahan. Akibatnya, sekolah-sekolah di daerah pedesaan
sering kali kekurangan sumber daya seperti buku teks, peralatan laboratorium,
fasilitas olahraga, atau bahkan jumlah guru yang cukup.
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan meratakan
pembiayaan pendidikan antar wilayah. Pemerintah dapat mengalokasikan dana secara
adil berdasarkan kebutuhan pendidikan di setiap daerah, dengan mempertimbangkan
faktor-faktor seperti tingkat kemiskinan, jumlah siswa, dan kondisi infrastruktur
pendidikan yang ada. Selain itu, program bantuan atau insentif khusus dapat diberikan
kepada sekolah-sekolah di daerah yang kurang berkembang untuk membantu mereka
meningkatkan kualitas pendidikan yang mereka sediakan.
Tingkatkan pula transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana
pendidikan sangat penting dalam kasus seperti ini. Pemerintah dan lembaga terkait
harus memastikan bahwa dana yang dialokasikan untuk pendidikan digunakan dengan
efisien dan efektif, dan bahwa hasilnya dapat diukur dan dipantau secara teratur.
Dengan demikian, upaya untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam pembiayaan
pendidikan antar wilayah dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kemajuan
pendidikan secara keseluruhan dalam suatu negara.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen pembiayaan pendidikan adalah segenap kegiatan yang berkenaan dengan
penataan sumber penggunaan dan pertanggungjawaban dana pendidikan di sekolah atau
lembaga pendidikan. Kegiatan yang ada dalam manajemen pembiayaan pendidikan meliputi
3 hal, yaitu : penyusunan anggaran, pembukuan, dan pemeriksaan.
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Akdon, dkk. (2015). Manajemen pembiayaan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya Offset

Kurniawan, L. Y. (2019). Konsep Dasar Pembiayaan Pendidikan.

Mesiono, M., & Haidir, H. (2020). Manajemen Pembiayaan Pendidikan (Analisis


Konsep dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu
Pendidikan). Hikmah, 17(2), 61-73.

Nurhalimah, S. (2019). Konsep dan Jenis Pembiayaan Pendidikan. Management of


Education: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 5(1).

Solehan, S. (2022). Manajemen Pembiayaan Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu


Lembaga Pendidikan Islam. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 98-105.

Anda mungkin juga menyukai