Anda di halaman 1dari 9

KELOID DAUN TELINGA

I. DEFINISI Keloid daun telinga merupakan salah satu tumor jinak pada telinga. Keloid adalah pertumbuhan berlebihan dari bekas kulit yang terluka dan melebihi batas luka itu sendiri, diakibatkan penyembuhan luka yang abnormal.1 II. ANATOMI DAUN TELINGA Daun telinga (auricula) memiliki bentuk yang khas. Auricula terdiri atas bagian yang bertulang rawan elastin dan bagian yang tidak bertulang rawan. Adapun bagian yang bertulang rawan yaitu heliks, antiheliks, tragus, antitragus, konka,dan sulcus retroaurikuler, sedangkan bagian yang tidak memilki tulang rawan adalah lobulus. Fungsi auricula adalah mengumpulkan getaran udara dari luar untuk membantu proses pendengaran.2,3

Gambar 1. Anatomi telinga4

III. PREDILEKSI Lokasi terbanyak keloid daun telinga terdapat pada lobulus telinga, terutama pada bagian posterior. Sebagian besar keloid ditemukan pada orang yang membuat tindikan (piercing) pada telinganya, sehingga ada asumsi bahwa pertumbuhannya dipresipitasi oleh trauma saat membuat tindikan dan pemasangan anting, dan dari infeksi sekunder trauma telinga.5,6 Keloid tidak hanya menyebabkan gangguan kosmetik, namun juga mengakibatkan gangguan simptomatis, dan menambah beban psikososial pasien.5,7 IV. ETIOLOGI Etiologi keloid pada seseorang hingga saat ini masih belum dapat dijelaskan. Trauma merupakan faktor kausatif yang bersifat segera, akan tetapi pertumbuhan keloid pada trauma hanya terdapat pada orang yang memiliki predisposisi untuk terjadinya keloid. Keloid dapat tumbuh dari luka yang ada, bekas tindikan, jerawat, cacar air, atau bahkan dari luka yang ringan seperti tergores.7,8 V. PATOFISIOLOGI Keloid memiliki bentuk yang ireguler, fibrosa, hiperpigmentasi, merah muda atau merah. Pertumbuhan keloid biasanya disebabkan adanya trauma dan luka. Lapisan epidermis sangat tipis, lunak, mengkilat, dan tipis dari penekanan. Mulanya, lesi kemerahan dan nyeri, dengan konsistensi kenyal. Biasanya terdapat erythematous halo di sekelilingnya, dan dapat terjadi telangiektasi pada keloid. Lesi akan terasa nyeri, gatal, dan kadang-kadang terjadi ulserasi.5,7,9 Keloid biasanya multipel, dengan ukuran bervariasi dari yang sebesar ukuran kepala jarum pentul hingga sebesar buah jeruk. Lesi biasanya linear, sering dengan perluasan dari tiap keloid. Permukaannya dapat lebih besar daripada dasarnya, sehingga tepinya tergantung. Keloid daun telinga sering diakibatkan dari tindikan (piercing) daun telinga. Pada ras kulit hitam, keloid biasanya tumbuh lebih besar dibandingkan dengan ras lainnya.8,10 Keloid yang tampak tebal dan runcing, secara histologi merupakan pertumbuhan nodular dari myofibroblast dan kolagen dengan susunan seperti lingkaran menyerupai hypertrophic scar. Pada bagian sentral, terdapat ikatan hialin

tebal dari kolagen, yang membedakan keloid dari hypertrophic scar. Ada kekosongan jaringan elastik pada scar. Apabila dilakukan penekanan, tumor menyebabkan papilla dermis yang normal menjadi lebih tipis dan atrofi bagian di sekitarnya, dan menekan bagian di sebelahnya. Mukopolisakarida meningkat, dan sering didapatkan peningkatan mast cell. Keloid memiliki sifat khas. Keloid memiliki clawlike projection, yang membedakannya dengan hypertropic scar, perluasan lesi melebihi batas luka yang sebenarnya, dan adanya ikatan tebal hyalinized collagen secara histologi. Pada hypertropic scar, sering didapatkan perbaikan spontan seiring berjalannya waktu, yang tidak ditemukan pada keloid. Lesi atipikal harus dibiopsi pada carcinoma en cuirasse yang menyerupai keloid.7,8 Jaringan parut (scar) dibentuk oleh kolagen yang diproduksi fibroblas selama proses penyembuhan luka dalam keadaan normal. Hypertrophy scar terbentuk ketika fibroblas gagal untuk menghentikan produksi kolagen, akan tetapi menyebabkan restriksi dari luka yang sebenarnya. Jika pertumbuhannya melebihi luka yang sebenarnya disebut keloid.5,7,8 VI. GEJALA KLINIS Gejala klinis keloid dapat berupa rasa gatal, nyeri tajam, dan adanya perubahan bentuk. Bentuknya kenyal, mengkilat, dan dapat bervariasi dalam warna seperti merah jambu, merah daging, dan coklat gelap. Keloid tidak ganas dan tidak menular.7,9

Gambar 2. Keloid daun telinga7 VII. PENATALAKSANAAN

Modalitas terapi terbaik untuk keloid hingga saat ini masih belum ditemukan. Lokasi, ukuran, ketebalan lesi, umur pasien, dan lamanya seorang pasien menderita keloid menentukan jenis terapi yang digunakan. Adapun beberapa terapi yang dapat digunakan dalam pentalaksanaan keloid adalah sebagai berikut :5,711

A. GEL Penggunaan gel yang mengandung ekstrak Allium cepa, Heparin dan Allantoin. Contohnya adalah Contratubex atau Hexilak Gel. Gel ini digunakan untuk mengobati luka setelah trauma (luka bakar, jerawat, penindikan, dll), luka setelah operasi, dan keloid. Saat ini, gel ini merupakan lini pertama pengobatan konservatif terhadap keloid. B. KORTIKOSTEROID Terapi awal untuk mengatasi keloid dengan kortikosteroid adalah suntikan intralesi suspense triamcinolone acetonide. Injeksi dilakukan menggunakan spuit tuberculin 1 cc dengan dosis 40 mg/mL triamcinolone acetonide pada terapi awal. Jika sudah terjadi perlunakan lesi, 10 atau 20 mg/mL cukup untuk menyebabkan terjadinya involusi dengan sedikit risiko berupa hipopigmentasi dan atrofi yang berhubungan dengan penyebaran limfatik dari kortikosteroid. Injeksi diulangi 6-8 minggu kemudian sesuai kebutuhan. Terapi ini dapat membuat lesi menjadi datar dan menghilangkan rasa gatal, dan kadang dengan menggunakan kortikosteroid topikal. Lesi tidak pernah menjadi lebih dangkal, walaupun hiperpigmentasi secara umumnya terjadi. Transforming growth factor (TGF)- diketahui memiliki peranan dalam terbentuknya keloid, dan triamcinolone acetonide menginduksi penurunan proliferasi seluler dan produksi kolagen berhubungan dengan penurunan signifikan secara statistik level TGF-1 pada bentuk sel fibroblast normal maupun dengan keloid. Penyuntikan steroid paling bagus dilakukan saat jaringan parut mulai menjadi tebal dan diketahui telah ada keloid sebelumnya. Penyuntikan secara berkala steroid dapat mengurangi ukuran keloid dan iritasi yang terjadi.

C. OBAT-OBAT NON-KORTIKOSTEROID Saat ini, obat yang biasanya digunakan untuk mengobati penyakit autoimun atau kanker ternyata dapat berguna untuk mengobati keloid. Contohnya adalah alpha-interferon, 5-fluorouracil dan bleomycin. Namun, dibutuhkan penelitian lebih lanjut terhadap penggunaan obat-obat ini. Fibroblast berasal dari bagian sentral keloid yang tumbuh lebih cepat daripada bagian perifer keloid dan nonkeloid. Verapamil menunjukkan bahwa penurunan interleukin (IL)-6 dan vascular endothelial growth factor pada kultur sel ini, dan menghambat pertumbuhan sel. D. OPERASI Jika memungkinkan, dan jika membatasi pertumbuhan keloid adalah tujuan yang sangat penting, dapat dilakukan eksisi keloid. Kemungkinan timbulnya keloid kembali setelah operasi masih sekitar 50%. Bahkan, keloid yang timbul dapat lebih besar dari sebelumnya. Namun, tindakan operasi akan lebih berhasil jika dikombinasikan dengan terapi yang lain. Setelah eksisi, injeksi triamsinolone asetonide atau interferon- 2b dapat dikombinasikan dengan radiasi X-Ray post-operasi atau penggunaan irniquimod topikal. Silicone sheeting dan penekanan merupakan metode tambahan yang digunakan untuk mengurangi rekurensi. Hasil dari modalitas ini digabungkan. Terapi silicone gel-sheet menunjukkan bahwa terjadi reduksi jumlah sel mast pada lesi dan berkurangnya rasa gatal. Keloid tindikan daun telinga sering terjadi. Ketika keloid baru terbentuk, injeksi intralesi triamsinolone asetonide cukup untuk mengatasinya. Pada keloid yang sudah lama, eksisi lesi menggunakan lidokain diikuti injeksi triamsinolone asetonide dengan interval 2 minggu memberikan hasil yang memuaskan. Eksisi menggunakan laser CO2 juga memberikan hasil yang baik dalam mengatasi keloid yang sudah lama.

Gambar 3. Keloid preoperasi dan pascaoperasi5 E. KRIOTERAPI Krioterapi merupakan salah satu pilihan, berupa contact, intralesional needle cryoprobe, dan spray cryosurgery. Krioterapi digunakan pada lesi yang lebih kecil, tetapi penggunaannya dibatasi dengan pertimbangan rasa nyeri dan kadang penyembuhan yang lama setelah terapi. Oleh karena terapi multipel sering digunakan, risiko hipopigmentasi pada kulit pasien yang lebih gelap merupakan suatu kekurangan. Krioterapi dilaporkan dapat mengubah sintesis kolagen dan menginduksi diferensiasi fibroblast keloid kea rah fenotip yang lebih normal. Beberapa kepustakaan menyarankan penggunaan krioterapi hanya untuk terapi awal sebelum injeksi kortikosteroid untuk memicu terjadinya edema sehingga memudahkan injeksi steroid. F. RADIOTERAPI Beberapa studi mengenai penggunaan radioterapi sebagai terapi tambahan setelah eksisi bedah telah dilaporkan, akan tetapi tidak adanya regimen standar meyebabkan kesulitan membandingkan antar studi. Berbagai teknik dapat ditemukan pada literatur, diantaranya x-ray superficial, sinar electron, dan brachytherapy dalam dosis rendah dan tinggi. Radioterapi pascaoperasi biasanya segera setelah eksisi. Kombinasi radioterapi dan eksisi bedah mampu meningkatkan

rata-rata keberhasilan, yaitu sekitar 65-99%. Dalam suatu studi retrospektif, fraksi tunggal radioterapi dalam 24 jam eksisi bedah berhubungan dengan tidak adanya rekurensi keloid dalam kurun waktu 5 tahun setelahnya, yaitu sebesar 80%. Dalam studi retrospektif terpisah yang menilai keberhasilan radiasi sinar 15-Gy-electron dengan mengikutinya lebih dari 18 bulan, dilaporkan bahwa angka bebas rekurensi sebesar 77%. Efek samping dari radioterapi antara lain eritema dan hipopigmentasi. Risiko karsinogenesis dari radioterapi keloid sangat rendah, terutama yang menggunakan teknik modern. Kasus yang jarang terjadi di dalam literatur membahas hubungan potensiasi antara malignansi dan radioterapi. tetapi sulit untuk menemukan penyebabnya. Oleh karena risiko radioterapi masih belum jelas, maka beberapa kepustakaan membatasi penggunaan radioterapi dibatasi bagi mereka yang gagal pada eksisi bedah sebelumnya dan untuk pasien usia 21 tahun atau lebih. G. PENEKANAN Cara lain untuk mengobati keloid secara konservatif adalah dengan cara menggunakan perban elastis yang berfungsi sebagai penekan pada keloid. Perban in idapat digunakan selama beberapa bulan. Perban ini berfungsi untuk mencegah terjadinya jaringan parut yang baru. H. LASER Terapi ini merupakan alternatif dari operasi. Laser hanya dapat menghilangkan keloid pada permukaannya saja (yang timbul), dengan mekanisme kerja mengurangi ekspresi TGF -1. VIII. PENCEGAHAN Seseorang dengan riwayat keluarga menderita keloid memiliki risiko tinggi untuk terbentuknya jaringan parut yang abnormal, sehingga disarankan tidak melakukan tindikan dan mencegah prosedur kosmetik yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya jaringan parut. Luka harus ditutup dengan peregangan yang minimal dan diperlukan tindakan tambahan setelahi eksisi, termasuk penggunaan silicone gel sheet yang dapat mengurangi terjadinya rekurensi.11,12

DAFTAR PUSTAKA

1. Boies LR. Penyakit telinga luar. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997. p.85-7. 2.Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2006. p.36-43. 3. Rukmini R, Herawati S. Teknik pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok. Jakarta: EGC; 1999. p.1-2. 4. Netter FH. Atlas oh human anatomy. 4th ed. USA: Sauders Elsevier; 2006. p. 36-43. 5.Yan-ge Z, Ying C, Xiao-xue L, Rong YU and Xue-wen XU. Clinical improvement in the therapy of aural keloids. Chinese Medical Journal. 2009;122(23):2865-8. 6. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala & leher. Edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. p.57-62. 7.James WD, Berger TG, Elston D. Andrews disesase of skin: clinical dermatology. 10th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006; p.602-4. 8.Koley S, Saoji V, Salodkar A. Unusual formation of keloid after each episode of recurrent herpes zoster in an HIV positive patient. Indian J Sex Transm Dis. 2009;30:109-11. 9. Bock O, Schmid-Ott G, Malewski P, et al. Quality of life of patients with keloid and hypertrophic scarring. Arch Dermatol Res. 2006; 297:433-8. 10. Robles DT, Moore E, Draznin M, Berg D. Keloid: patophysiology and management. Dermatology online journal; 2007:13(3):9. 11. Dalkowski A, Fimmel S, Beutler C. et al. Cryotherapy modifies synthetic activity and differentiation of keloidal fibroblasts in vitro. Exp Dermatol. 2003; 12:673-81. 12. Akoz T, Gideroglu K, Akan M. Combination of different techniques for the treatment of earlobe keloids. Aesthetic Plast Surg. 2002; 26:184-8.