Anda di halaman 1dari 5

BAHAN TUTORIAL SKENARIO 2 GERIATRI Ngompol Lagi Ngompol Lagi Eyang Karto usia 75 tahun dibawa ke dokter oleh

h putrinya karena ngompol sejak 3 bulan dan diikuti ngobrok selama 2 minggu. Sering marah-marah dan tidak bisa tidur sehingga sering minum obat tidur. Sejak Istri penderita wafat, dia tinggal dengan putrinya. Dalam melakukan aktifitas sehari-hari harus dibantu. Dua tahun yang lalu penderita dirawat akibat stroke. Pemeriksaan neurologi ekstremitas superior dan inferior sinistra kekuatannya menurun (3+/3+). Hasil rectal toucher dan USG didapatkan prostat tidak membesar. Dokter melakukan pemeriksaan indeks barthel. Penderita juga dilakukan pemeriksaan psikiatri. JUMP 1 KLARIFIKASI ISTILAH 1. Ngobrok: BAB di celana 2. Indeks barthel: suatu pengukuran yang terdiri dari 10 nomor yang mengukur fungsi keseharian seseorang terutama aktivitas sehari-hari (ADL) dan mobilitas. JUMP 2 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana hubungan antara proses menua dengan inkontinensia urin? Sebagian besar penderita inkontinensia adalah wanita. Pria lebih jarang mengalami gangguan ini, kecuali pada mereka yang telah menjalani operasi prostat. Banyak faktor pemicu inkontinensia pada orang dewasa, di antaranya yang paling umum adalah akibat kehamilan dan melahirkan. Hal ini biasanya disebabkan adanya perubahan otot di dasar panggul. Perubahan-perubahan akibat proses menua mempengaruhi saluran kemih bagian bawah. Otot-otot VU melemah dan kapasitasnya menurun. Perubahan tersebut merupakan predisposisi bagi lansia untuk mengalami inkontinensia, tetapi tidak menyebabkan inkontinensia. Jadi inkontinensia bukan bagian normal proses menua. Inkotinensia urin dapat terjadi karena adanya faktor-faktor pencetus yang mengurangi perubahan-perubahan pada organ berkemih akibat proses menua/lansia meliputi: a. Kelainan Urologis: misalnya ISK, tumor, divertikel b. Kelainan neurologik: misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis, dimensia, delirium. c. Lain-lain, misalnya hambatan mobilitas, situasi tempat berkemih yang tidak memadai/jauh dan sebagainya. 2. Apa saja yang bisa menyebabkan pasien BAK & BAB di celana (inkontinensia urin & alvi)? Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya, yang mengakibatkan masalah sosial dan higienis penderitanya (Setiati & Pramantara, 2006). Klasifikasi inkontinensia urin

Inkontinensia urin diklasifikasikan menjadi dua kategori: inkontinensia sementara dan menetap Inkontinensia sementara, kadang-kadang disebut inkontinensia akut, terjadi tiba-tiba selama penyakit akut atau eksaserbasi dari masalah atau kondisi medis yang kronis. Ketika penyebab inkontinensia sementara diobati, inkontinensia hilang dengan sendirinya (Rutledge, 2004). Untuk memudahkan mengingat macam inkontinensia yang akut dan biasanya reversibel, antara lain dapat memanfaatkan akronim DRIP, yang merupakan kependekan dari: D: Delirium R: Restriksi mobilitas, retensi I: Infeksi, inflamasi, impaksi feces P: Pharmasi (obat-obatan), poliuri Obat-obatan yang dapat menyebabkan inkontinensia urin 1. Obat hipertensi Orang yang memiliki tekanan darah tinggi dan mengonsumsi obat hipertensi jenis alpha-blocker seperti doxazosin mesylate, prazosin hidroklorida, terazosin hydrochloride, mungkin berisiko mengalami inkontinensia. Mengapa? Karena alphablocker bekerja untuk menurunkan tekanan darah dengan mengendurkan dinding pembuluh darah. Masalahnya, obat ini ternyata juga mengendurkan kandung kemih bersamaan dengan pembuluh darah. Hal ini membuat Anda rentan terhadap stres inkontinensia, yang memungkinkan urin keluar tanpa sengaja ketika Anda bersin, batuk, tertawa, berlari, atau melompat. Apa yang harus dilakukan? Anda dapat memulai dengan melakukan latihan kegel untuk meningkatkan kemampuan Anda untuk mengontrol otot-otot kandung kemih. Kontrol otot yang baik mungkin bisa mengatasi efek relaksasi dari alfa-blocker. 2. Terapi hormon Terapi hormon yang dimaksud bisa dalam bentuk pil oral estrogen saja atau kombinasi antara estrogen dan progesteron. Sejauh ini para peneliti tidak mengetahui secara pasti kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan sampai saat ini, terapi hormon masih dianggap dapat membantu mengobati masalah inkontinensia, tapi sekarang justru dapat memicu atau memperburuk inkontinensia. Untuk beberapa wanita yang menggunakan hormon estrogen dalam bentuk krim atau patch, cara ini dapat membantu mencegah atau mengurangi inkontinensia. 3. Antidepresan dan obat mental lainnya Seperti obat dengan efek antikolinergik, yang berarti obat yang menghambat neurotransmitter seperti nortriptylene, amitriptyline, desipramine, benztropine, haloperidol dan risperidone.Obat-obatan tersebut mempengaruhi elastisitas kandung kemih sehingga urin terus memasuki kandung kemih, yang menyebabkan inkontinensia. Menariknya, beberapa antidepresan trisiklik diketahui dapat membantu masalah inkontinensia. 4. Diuretik Berbagai macam obat diuretik dengan nama merek Bumex, Lasix, Aldactone atau jenis generik seperti bumetanide, spironolactone, furosemid, teofilin, dan semua jenis "thiazides" (seperti hydrochlorothiazide), adalah obat lini pertama yang paling sering diresepkan untuk hipertensi. Namun obat ini diketahui juga dapat memicu inkontinensia. Obat-obatan diuretik dapat merangsang ginjal untuk membuang

kelebihan air dan garam dari dalam tubuh. Karena tubuh memproduksi lebih banyak urin, hal ini membuat adanya peningkatan tekanan pada kandung kemih. Cara mengatasi, Anda dapat mengambil obat diuretik ketika pagi hari, bukan pada malam hari. 5. Dekongestan dan antihistamin Obat dengan kandungan zat aktif seperti pseudoefedrin, diphenhydramine juga dapat merangsang Anda untuk mengompol. Cara kerja: Dekongestan yang mengandung pseudoefedrin dapat memicu kontraksi sfingter uretra, menyebabkan retensi urin, yang pada wanita sering disertai dengan inkontinensia overflow mendadak. Namun, pada pria yang memiliki kebocoran setelah operasi prostat, konsumsi obat Sudafed justru dapat menekan otot-otot kandung kemih, sehingga mencegah kebocoran. Beberapa jenis antihistamin juga dapat membuat Anda mengantuk, yang dapat menyebabkan inkontinensia pada orang tua khususnya. Apa yang harus dilakukan: Cobalah mengambil dekongestan yang berbeda, seperti loratadine, yang tidak memiliki efek samping pada kandung kemih. 6. Obat penenang dan obat tidur Beberapa obat penenang atau tidur seperti Ativan, Valium, Dalmane, Lunesta, Ambien, diazepam, flurazepam, lorazepam, eszopiclone dan zolpidem dapat menjadi pemicu terjadinya inkontinensia. Cara kerja: Konsumsi obat sedatif dapat memperlambat refleks Anda, sehingga Anda tidak mengenali sinyal bahwa sudah waktunya untuk pergi ke kamar mandi. Kebiasaan mengompol mempengaruhi sekitar 10 persen orang dengan inkontinensia, dan para ahli memperkirakan bahwa konsumsi obat tidur turut berkontribusi dalam memicu hal tersebut. Apa yang harus dilakukan: Daripada harus mengambil obat penenang dan tidur, cobalah solusi alami untuk mengatasi masalah kecemasan dan gangguan tidur Anda. Konsumsi melatonin satu jam sebelum tidur dapat menjadi cara yang efektif untuk mengatasi masalah gangguan tidur, karena melatonin merupakan hormon alami yang dapat memberitahu otak Anda untuk segera tidur. 7. Obat penghilang rasa sakit Setiap obat penghilang rasa sakit berbahan dasar opium dapat mengganggu kemampuan kandung kemih untuk berkontraksi penuh. Hal ini dapat menyebabkan retensi urin dan inkontinensia overflow. Obat penghilang rasa sakit opioid juga menyebabkan sembelit. Apa yang harus dilakukan? Hindari obat penghilang rasa sakit opioid jika Anda bisa. Jika Anda memang memerlukan obat penghilang sakit setelah menjalani operasi (pembedahan), mintalah ke dokter Anda untuk memilih obat nonopioid. 3. Apa penyebab gangguan tidur pada usia lanjut? Faktor Ekstrinsik (luar) misal: lingkungan yang kurang tenang. faktor intrinsik, misal bisa organik dan psikogenik. a. Organik, misal: nyeri, gatal-gatal dan penyakit tertentu yang membuat gelisah. b. Psikogenik, misal: depresi, kecemasan dan iritabilitas. 4. Adakah efek negatif yang mungkin terjadi dari sering minum obat tidur pada pasien?

Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal karena obat atau penyakit dapat mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin (Setiati & Pramantara, 2006). Lanjutannya ada di jawaban nomor 2. 5. Bagaimana hubungan antara RPS dengan RPD? Adanya riwayat stroke mengindikasikan terjadi lesi pada otak yang dapat meningkatkan rangsangan parasimpatis. Hal ini menyebabkan adanya stimulus pada otot-otot detrusor kandung kemih. Akan ada rangsang untuk terus berkemih sehingga terjadi inkontinensia urin. Terdapat 3 mekanisme utama yang berperan dalam inkontinensia urin pasca stroke: 1) terganggunya jalur saraf-miksi, sehingga Bandung kemih mengalami hiperefleksi dan inkontinensia urgensi 2) inkontinensia karena stroke yang berhubungan dengan deficit kognitif dan bahasa, dengan fungsi VU normal 3) neuropati atau penggunaan medikasi, menyebabkan hiporefleksi VU dan inkontinensia overflow (Gelber et al., 1993). 6. Bagaimana pemeriksaan neurologi pada lansia dan bagaimana interpretasinya? 7. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan rectal toucher? Kelainan apa yang mungkin terjadi? 8. Bagaimana langkah-langkah pemeriksaan indeks barthel dan bagaimana interpretasinya? 9. Apa indikasi dilakukan pemeriksaan psikiatri? 10. Pemeriksaan psikiatri apa yang dapat dilakukan pada pasien ini? 11. Adakah pemeriksaan lain yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis pada pasien ini? 12. Komplikasi apa yang mungkin terjadi pada inkontinensia urin & alvi? Berbagai komplikasi dapat menyertai inkontinensia urin seperti ISK, kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi, mudah marah, dan rasa terisolasi. Secara tidak langsung masalah-masalah tersebut juga dapat menyebabkan dehidrasi karena umumnya pasien akan mengurangi minum karena khawatir mengompol (Setiati & Pramantara, 2006). 13. Bagaimana penatalaksanaan yang tepat untuk: a. Inkontinensia urin b. Inkontinensia alvi c. tidak bisa tidur 14. Bagaimana peran dan sikap keluarga yang tepat dalam menghadapi kasus seperti pada pasien di atas? DAFTAR PUSTAKA Gelber DA, Good DC, Laven LJ, Verhulst SJ (1993). Causes of urinary incontinence after acute hemispheric stroke. Stroke; 24:378-82 Rutledge DL (2004). Classification and types of incontinence. http://www.medscape.com/viewarticle/488559_3 - Diakses Maret 2012

Setiati S, Pramantara IDP (2006). Inkontinensia urin dan kandung kemih hiperaktif. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI; pp: 13921394