Anda di halaman 1dari 42

Pendahuluan Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi).

Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu hewan berhenti, hewan tersebut masih dapat bertahan hidup. Sebagai contoh hewan yang diambil organ reproduksinya (testes atau ovarium) hewan tersebut tidak mati (Widayati et al., 2008). Reproduksi merupakan proses yang sangat penting untuk

kelanjutan suatu jenis atau bangsa hewan. Sebagai contoh, untuk menghasilkan telur, susu dan ternak muda, haruslah melalui serangkaian proses reproduksi yang dimulai dengan pembentukan sel telur atau sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai dengan dilahirkan. Era global sekarang banyak peternakan yang membudidayakan ternak untuk mendapatkan bibit yang baik dengan keturunan yang dihasilkan mempunyai genetik yang baik. Dalam hal ini kita perlu mempelajari reproduksi pada ternak betina dan ternak jantan. Adapun tujuan dari praktikum acara anatomi alat reproduksi jantan yaitu praktikan mengetahui bagian-bagian alat reproduksi betina,

mengetahui fungsi-fungsi dari masing-masing alat reproduksi betina, memahami proses pembentukan folikel, terjadinya ovulasi, dan faktorfaktor yang mempengaruhinya, mengetahui ukuran dan faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran masing-masing alat reproduksi jantan. Praktikum dalam acara histologi jantan memiliki tujuan mengetahui bagian dari masing-masing alat reproduksi secara mikroskopis,

mengetahui sel-sel yang membangun alat reproduksi yang ada, dan mengetahi peran sel tersebut dalam rangka membantu fungsi reproduksi secara keseluruhan.

ACARA I ANATOMI ORGAN REPRODUKSI TERNAK JANTAN

Tinjauan Pustaka Testis Testis merupakan alat reproduksi primer bagi hewan jantan karena menghasilkan spermatozoo (jamak; spermatozoa). Testis berbentuk bulat panjang pada sapi, sumbu arah vertikal. Panjang testis sapi dewasa

adalah 12 sampai 15 cm, diameter tengahnya 6 sampi 8 cm, dan beratnya 300 sampai 500 gr (Widayati et al., 2008). Testis terletak di dalam skrotum yang merupakan suatu struktur yang mengatur panas. Sperma yang hidup dalam testis tidak akan dapat berkembang dalam lingkungan suhu tubuh hewan, oleh karena itu testis perlu turun dari dalam rongga tubuh, supaya testis selalu berada pada kisaran suhu yang relatif sempit (Blakely and Bade, 1998). Mediastinum testis terletak di dalam testis, secara sentral septula testis berlanjut dengan jaringan ikat longgar dari mediastinum testis. Mediastinum testis kuda jantan, terbatas pada kutub kranial testis, tetapi pada hewan piaraan umumnya menempati posisi sentral (Delmann, 1992). Testis dari sapi dan domba jantan berlokasi di sebelah crania fleksura sigmoid penis (yang berbentuk huruf S). Sumbu longitudinal dari masing-masing testis hampir vertikal, sehingga skrotum memanjang arah dorso ventral (Frandson,1992). Epididimis Epididimis berbentuk bulat panjang dan melekat pada testis. Epididimis terbagi menjadi 3, yaitu caput (kepala), corpus (badan), dan cauda (ekor). Caput epididimis menelungkupi testis. Epididimis berisi duktus, mulai caput berkelok-kelok rapat sekali. Panjang duktus epididimis bila direntangkan adalah 36 m pada sapi dewasa dan 54 m pada babi dewasa (Widayati et al., 2008).

Kepala epididimis melekat pada bagian ujung dari testis di mana pembuluh-pembuluh darah dan saraf masuk. Badan epididimis sejajar dengan aksis longitudinal dari testis dan ekor epididimis selanjutnya menjadi duktus deferens yang rangkap dan kembali ke daerah kepala, di mana kemudian sampai ke korda spermatic (Frandson, 1992). Duktus deferens Duktus deferens terentang mulai dari cauda epididimis sampai ke uretra. Duktus deferens (vas deferens) adalah pipa berotot yang pada saat ejakulasi mendorong spermatozoa dari epididimis ke duktus ejakulatoris dalam uretra prostatic (Frandson, 1992). Diameter luar duktus deferens sekitar 2 mm dan berdinding yang mengandung muskulus yang tebal. Duktus deferens berjalan ke atas menempel pada corpus epididimis dan salurannya makin lurus, dekat dengan caput epididimis makin halus dan bersama dengan pembbuluh darah, pembuluh limfe dan urat syaraf membentuk feniculus spermaticus, kemudian masuk ke rongga perut dan makin keatas dindingnya makin tebal dan diameternya makin besar membentuk ampulla (ampullae ductus deferant) (Widayati et al., 2008). Uretra Uretra mempunyai fungsi untuk menyalurkan sperma dan urin. Menurut letaknya uretra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pars pelvina, pars bulbouretralis dan pars penis. bagian belakang dari vesica urinaria terdapat bagunan kecil (colcullus seminalis). Bagian depannya adalah muara bersama dari ampula dan saluran kelenjar vesikularis (Widayati et al., 2008). Uretra hewan jantan dibagi dalam segmen prostat, membranosa, dan spingiosa. Segmen prostat menjulur dari kandung kemih ke pinggir caudal kelenjar prostat. Segmen membranosa berawal dari daerah tersebut dan berakhir di uretra yang memasuki bulbus penis, dari permukaan di mana segmen spongiosa berlanjut ke gerbang luar uretra (Dellman, 1992).

Penis Penis merupakan organ kopulatoris pada hewan jantan, berbentuk silinder panjang dan bersifat fibroelastik (kenyal). Penis membentang ke depan dari arcus ischiadicus pelvis sampai ke daerah umbilicus pada dinding ventral perut. Penis ditunjang oleh fascia dan kulit (Widayati et al., 2008). Penis dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, glans atau alat gerak bebas, bagian utama atau badan dan akar yang melekat pada ischial arch pada pelvis yang tertutup oleh otot ischiocavernosus (Frandson, 1992). Penis terdiri dari dua struktur erektil, corpora kavernosa penis, korpus spongiosum penis, mengitari uretra spongiosa dan gland penis (Dellman, 1992). Praeputium Praeputium adalah lipatan kulit di sekitar ujung bebas penis. Permukaan luar merupakan kulit yang agak khas, sementara lapisan dalam menyerupai membrane mucosa yang terdiri dari lapisan preputial dan lapisan penil yang menutup permukaan ekskremitas bebas dari penis (Frandson, 1992). Praeputium merupakan suatu invaginasi berganda dari kulit yang berisi dan menyelubungi bagian bebas penis sewaktu tidak ereksi dan menyelubungi badan penis caudal dari gland penis sewaktu ereksi.

Praeputium melindungi penis dari pengaruh luar dan kekeringan. Fornik preaputii adalah daerah dimana preputii bertaut dengan penis tepat caudal dari gland penis. Kelenjar tambahan Ejakulat mengandung spermatozoa dan cairan dari kelenjar aksesori yang terdiri dari sekreta epididimis dan kelenjar aksesori hewan jantan. Kelenjar aksesori mencakup bagian duktus deferens berkelenjar, glandula vesikulosa, glandula prostata, dan glandula bulbouretralis (Dellman, 1992).

Kelenjar vesicularis. ada sepasang di kanan dan kiri ampula duktus deferens. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara ke dalam uretra, umumnya muaranya menjadi satu dengan ampula sehingga ada dua muara di kiri dan kanan (ostium ejaculatorium). Sekresi kelenjar ini banyak mengandung protein, potasium, fruktosa, asam sitrat, asam askorbut, vitamin dan enzim, warnanya kekuning-kuningan karena banyak mengandung flavin dengan pH 5,7 sampai 6,2 (Widayati et al., 2008). Kelenjar prostata. Pada sapi terdapat sepasang yang bentuknya bulat da tidak berlobus. Terdiri dari dua bagian, bagian badan prostata dan bagian prostata yang cryptik. Sekresinya banyak mengandung ion anorgaik (Na, Cl, Mg, Ca). pada sapi sekresinya mempunyai pH yang basa (7,5 sampai 8,2) (Widayati et al., 2008). Kelenjar bulbouretralis. Tedapat sepasang yang ada di kanan dan kiri uretra bulbouretralis, di bawah musculus bulbo spongius. Kelenjar ini pada sapi sebesar buah kemiri, padat dan mempunyai kapsul dan pada babi ukuran kelenjar ini lebih besar (Widayati et al., 2008). Ujung kelenjarnya dibalut epitel silinder sebaris tinggi dan kadangkadang tampak sel-sel basal. Mereka bermuara dalam saluran pengumpul baik secara langsung atau melalui penghubung yang dibalut oleh epitel kubus atau silinder sebaris, bergabung membentuk saluran dalam kelenjar dengan epitel silinder banyak baris (Dellman, 1992).

Materi dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum anatomi reproduksi hewan jantan adalah pita ukur, timbangan, cutter, penjepit, gunting, kertas kerja, dan alat tulis. Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum anatomi

reproduksi jantan adalah preparat basah berupa organ reproduksi sapi jantan.

Metode Praktikan diharuskan mengamati, mengetahui fungsi,

membedakan, dan mengukur dengan pita ukur bagian-bagian alat reproduksi sapi jantan. apa Setelah yang pengukuran telah selesai oleh praktikan asisten

menerangkan

kembali

diterangkan

pembimbing mengenai bagian-bagian alat reproduksi sapi jantan.

Hasil dan Pembahasan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, jenis ternak yang digunakan dalam praktikum ini adalah sapi dari bangsa Simpo yang berumur 3,5 tahun dengan berat badan 600 kg. Tabel 1.1. Data Hasil Pengukuran Organ Reproduksi Ternak Jantan Organ Testis Duktus deferens Kelenjar Vesikularis Kelenjar Prostata Kelenjar bulbouretralis Penis Testis Berdasarkan hasil pengukuran praktikum didapatkan panjang testis 9 cm, tebal 4 cm, keliling 12 cm, dan berat 60 gram. Menurut Hardjopranjoto (1995), panjang testis pada sapi dewasa 12 sampai 15 cm, diameter tengahnya 6 sampai 8 cm, dan beratnya antara 300 sampai 350 gram. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa testis sapi pada saat praktikum memiliki berat di bawah normal sedangkan panjang dan tebalnya juga berada di bawah kisaran normal. Perbedaan ukuran testis dapat dipengaruhi oleh umur serta berat badan ternak. Ternak yang masih umur muda biasanya ukuran testisnya lebih kecil daripada ternak yang sudah mencapai body maturity atau dewasa tubuh. Semakin besar ukuran berat badan ternak maka ukuran alat reproduksinya juga semakin besar, Hasil Ukur (cm) 9 11 7 8 1,5 62 Literatur (cm) 12 sampai 15 1 (Frandson, 1992).

termasuk ukuran testis. Faktor yang lain yaitu besarnya ukuran testis juga dipengaruhi oleh jenis ternak, sebagai contoh ukuran testis sapi lebih besar daripada ukuran testis kambing maupun babi.
Testes ( dua testis )

Tunica albuginea Retetestis Tubulus seminiferus

Gambar 1.1. Testis Epididimis Epididimis berbentuk bulat panjang dan melekat pada testis. Epididimis terbagi menjadi 3, yaitu caput (kepala), corpus (badan), dan cauda (ekor).caput epididimis menelungkupi testis. Epididimis berisi ductus, mulai caput berkelok-kelok rapat sekali. Panjang duktus epididimis bila direntangkan adalah 36 m pada sapi dewasa (Widayati et al., 2008). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil berat epididimis adalah sebesar 10 gr. Menurut Widayati et al (2008), berat epididimis pada sapi adalah 36 gr. Perbedaan hasil ini disebabkan karena suhu, bangsa, umur, dan lama penyimpanan pada saat akan digunakan dalam praktikum (Widayati et al., 2008).

Gambar 1.2. Epididimis

Duktus deferens Duktus deferens merupakan kelanjutan dari duktus epididimis yang setelah membuat lengkung tajam pada ujung ekor, kemudian berlanjut lurus membentuk ductus deferens dengan ciri histologinya. Bagian awal duktus deferens terdapat dalam funiculus spermatikus (Dellman, 1992). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh adalah panjang duktus deferens adalah 11 cm, sedangkan untuk panjang ampula duktus deferens 9 cm, lebar/tebal 0,5 cm. Menurut Bhima (2009), panjang dan diameter duktus deferens berturut-turut adalah 15 cm dan 1,2 cm. Berdasarkan literatur yang telah dicantumkan di atas, hasilnya mendekati normal hanya panjangnya saja yang berbeda.

Gambar 1.3. Duktus deferens Uretra Uretra mempunyai fungsi untuk menyalurkan sperma dan urin. Menurut letaknya uretra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pars pelvina, pars bulbouretralis dan pars penis. Bagian belakang dari vesica urinaria terdapat bangunan kecil (colcullus seminalis). Bagian depannya adalah muara bersama dari ampula dan saluran kelenjar vesicularis (Widayati et al., 2008). Uretra mempunyai fungsi untuk menyalurkan sperma dan urin. Menurut letaknya urethra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pars pelvina, pars bulbouretralis dan pars penis (Sisson, 1990).

Gambar 1.4. Uretra Penis Penis merupakan organ kopulatoris pada hewan jantan, berbentuk silinder panjang dan bersifat fibroelastik (kenyal). Penis membentang ke depan dari arcus ischiadicus pelvis sampai ke daerah umbilicus pada dinding ventral perut. Penis ditunjang oleh fascia dan kulit (Widayati dkk., 2008). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh panjangnya 65 cm. Penis berukuran kurang lebih 50 cm, sehingga hasil yang diperoleh dari pengukuran berada di atas kisaran normalnya. Semakin besar ukuran berat badan ternak maka ukuran alat

reproduksinya juga semakin besar, termasuk ukuran penis (Sisson, 1990).

Gambar 1.5. Penis Praeputium Praeputium adalah lipatan kulit di sekitar ujung bebas penis. Permukaan luar merupakan kulit yang agak khas, sementara lapisan dalam menyerupai membrane mucosa yang terdiri dari lapisan preputial

dan lapisan penil yang menutup permukaan ekskremitas bebas dari penis (Frandson, 1992). Fungsi dari praeputium adalah untuk melindungi penis dari pengaruh luar dan kekeringan. Fornix praeputii adalah daerah dimana praeputii bertaut dengan penis tepat caudal dari glans penis (Widayati at

Praeputium Glans penis

al., 2008). Gambar 1.6. Praeputium Kelenjar tambahan Kelenjar vesicularis. Kelenjar vesikula yang disebut juga glandula vesikulosa merupakan glandula yang berpasangan, bersifat sebagai kelenjar tubulus majemuk atau tubuloaveolar (Dellmann, 1992). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil panjangnya 7 cm, lebar 1,5 cm, tinggi 1 cm, dan berat 10 gr. Kelenjarkelenjar vesicularis berbeda-beda dalam ukuran dan lobulasi antara individu-individu hewan. kelenjar-kelenjar tersebut pada sapi berukuran panjang 15 sampai 20 cm dan diameter kurang lebih 5 cm (Hardjopanjoto, 1995). Berdasarkan literatur yang telah dicantumkan, hasil yang diperoleh lebih rendah dibandingkan literatur. Perbedaan ini disebabkan adanya faktor yang mempengaruhi beda ukuran alat reproduksi hewan jantan pada sapi, yaitu oleh umur, berat badan ternak, serta jenis ternak (Widayati at al., 2008).

10

Gambar 1.7. Kelenjar Vesicula Kelenjar prostata. Kelenjar Prostata sapi terdapat sepasang yang bentuknya bulat da tidak berlobus. Terdiri dari dua bagian, bagian badan prostata dan bagian prostata yang cryptik. Sekresinya banyak

mengandung ion anorgaik (Na, Cl, Mg, Ca). Kelenjar Prostata sapi sekresinya mempunyai pH yang basa (7,5 sampai 8,2) (Widayati et al., 2008). Badan prostata berukuran lebar 2,5 sampai 4 cm dan tebal 1 sampai 1,5 cm. Kelenjar prostata dapat dipalpasi per rectal sebagai suatu penonjolan lonjong melintang pada ujung cranial urethra pelvis. Pars disseminate mengelilingi uretra pelvis. Kelenjar prostata di dorsal ukurannya mencapai tebal 1 sampai 1,5 cm, panjang 7,5 sampai 10 cm dan tertutup oleh otot uretra (Sisson, 1990). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh panjangnya 8 cm, dan lebarnya 3 cm. Hasil yang diperoleh sudah sama dengan literatur. Perbedaan ini disebabkan adanya faktor yang mempengaruhi beda ukuran alat

reproduksi hewan jantan pada sapi, yaitu oleh umur, berat badan ternak, serta jenis ternak (Widayati at al., 2008).

Gambar 1.8. Kelenjar prostat

11

Kelenjar bulbouretralis. Tedapat sepasang yang ada di kanan dan kiri uretra bulbouretralis, di bawah musculus bulbo spongius. Pada sapi kelenjar ini sebesar buah kemiri, padat dan mempunyai kapsul. Pada babi ulura kelenjar ini lebih besar (Widayati dkk., 2008). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh panjang 2 cm, lebar 1,5 cm, tinggi 1 cm, dan berat 0,1 gr. Kelenjarkelenjar cowper terdapat sepasang, berbentuk bundar, kompak,

berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil daripda kelenjar Cowper kuda yang berukuran panjang kurang lebih 4 cm dan tebal 2,5 cm. Kelenjar-kelenjar tersebut terletak di atas uretra dekat jalan keluar dari cavum pelvis (Sisson, 1990). Hasil yang diperoleh sudah sama dengan literatur.

Gambar 1.9. Kelenjar Cowperi

Kesimpulan Secara anatomi alat reproduksi ternak (sapi) jantan terdiri atas testis, epididimis (terdiri dari caput, corpus dan cauda), duktus deferens, uretra, dan kelenjar tambahan(kelenjar vasikulari, kelenjar prostat, dan kelenjar cowperi/glandula bulbouretralis). Alat-alat reproduksi tersebut mempunyai fungsi masing-masing. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan panjang dan berat organ reproduksi yaitu suhu, bangsa, umur, dan lama penyimpanan pada saat akan digunakan dalam praktikum.

12

Daftar Pustaka Blakely, J dan David H. Bade. 1991. The Science of Animal Husbandry. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Bhima. 2009. Available at http://bhimashraf.blogspot.com/2009/04/olehbhima-wibawa-santoso-nim-a1c407003_8573.html. (Accesion date October 16th 2011. 15.41) Dellman, H. Dieter, Esther M. Brown. 1992. Histology Veteriner. Universitas Indonesia Press. Jakarta Frandson, R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Ternak. Airlangga University Press. Surabaya. Sisson, S.B. 1997. The Anatomy of the Domestic Animals. University of Colombus. Philadelphia and London. Widayati, D.T, Kustono., Ismaya., S. Bintara. 2008. Handout Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

13

ACARA II HISTOLOGI ORGAN REPRODUKSI TERNAK JANTAN

Tinjauan Pustaka Testis Testis adalah suatu alat dengan dua fungsi, selain membuat sperma, juga merupakan organ endokrin. Hormone yang dibentuk adalah testosteron, yang merupakan hormone kelamin jantan yang utama (Kimball, 1992) Testis merupakan alat reproduksi primer bagi hewan jantan karena menghasilkan spermatozoo (jamak; spermatozoa). Testis pada sapi berbentuk bulat panjang, sumbu arah vertikal. Testis sapi dewasa panjangnya 12 sampai 15 cm, diameter tengahnya 6 sampai 8 cm, dan beratnya 300 sampai 500 gr (Widayati et al., 2008). Testis terletak di dalam skrotum yang merupakan suatu struktur yang mengatur panas. Sperma yang hidup dalam testis tidak akan dapat berkembang dalam lingkungan suhu tubuh hewan, oleh karena itu testis perlu turun dari dalam rongga tubuh, supaya testis selalu berada pada kisaran suhu yang relatif sempit (Blakely and Bade, 1998) Testis didalamnya terdapat mediastinum testis, secara sentral septula testis berlanjut dengan jaringan ikat longgar dari mediastinum testis. Mediastinum testis kuda jantan terbatas pada kutub kranial testis, tetapi pada hewan piaraan umumnya menempati posisi sentral (Delmann, 1992) Epididimis Epididimis berbentuk bulat panjang dan melekat pada testis. Epididimis terbagi menjadi 3, yaitu caput (kepala), corpus (badan), dan cauda (ekor). Caput epididimis menelungkupi testis. Epididimis berisi duktus, mulai caput berkelok-kelok rapat sekali. Panjang duktus epididimis

14

bila direntangkan adalah 36 m pada sapi dewasa dan 54 m pada babi dewasa (Widayati et al., 2008). Epididimis memiliki 4 fungsi yaitu : pengangkutan, penyimpanan, pemasakan, dan pengentalan (konsentrasi) sperma. Struktur ini, yanga panjangnya diperkirakan sekitar 40 meter berperan untuk menyalurkan sperma dari testis ke kelenjar kelamin aksesoris (Blakely, 1998). Kepala epididimis melekat pada bagian ujung dari testis di mana pembuluhpembuluh darah dan syaraf masuk. Badan epididimis

selanjutnya menjadi duktus deferens yang rangkap yang kembali ke daerah kepala, dimana kemudian sampai ke korda spermatik

(Frandson,1992) Duktus deferens Duktus deferens terentang mulai dari cauda epididimis sampai ke uretra. Duktus deferens (vas deferens) adalah pipa berotot yang pada saat ejakulasi mendorong spermatozoa dari epididimis ke duktus ejakulatoris dalam uretra prostatic (Frandson, 1992). Diameter luar duktus deferens sekitar 2 mm dan berdinding yang mengandung musculus yang tebal. Duktus deferens berjalan ke atas menempel pada corpus epididimis dan salurannya makin lurus, dekat dengan caput epididimis makin halus dan bersama dengan pembbuluh darah, pembuluh limfe dan urat syaraf membentuk feniculus spermaticus, kemudian masuk ke rongga perut dan makin keatas dindingnya makin tebal dan diameternya makin besar membentuk ampulla (ampullae ductus deferant) (Widayati et al., 2008). Penis Penis merupakan organ kopulatoris pada hewan jantan, berbentuk silinder panjang dan bersifat fibroelastik (kenyal). Penis membentang ke depan dari arcus ischiadicus pelvis sampai ke daerah umbilicus pada dinding ventral perut. Penis ditunjang oleh fascia dan kulit (Widayati et al., 2008).

15

Penis dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, glans atau alat gerak bebas, bagian utama atau badan dan akar yang melekat pada ischial arch pada pelvis yang tertutup oleh otot ischiocavernosus (Frandson, 1992). Penis terdiri dari dua struktur erektil, corpora kavernosa penis, korpus spongiosum penis, mengitari uretra spongiosa dan gland penis (Dellman, 1992)

Materi dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum histologi alat reproduksi hewan jantan antara lain bolpoin, pensil warna, kertas kerja, dan mikroskop cahaya, Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum histologi alat reproduksi hewan jantan antara lain, preparat histologi testis, preparat histologi epididimis, dan preparat histologi penis.

Metode Gambar histologi organ reproduksi sapi jantan diamati untuk kemudian diketahui fungsi dari masing-masing organ reproduksi sapi jantan tersebut. Kemudian gambar tersebut digambar pada kertas kerja yang telah disediakan, kemudian setiap bagian-bagian dari alat reproduksi yang telah digambar dibandingkan dengan preparat yang dilihat melalui mikroskop cahaya, kemudian diamati dan dibedakan, serta diketahui fungsi-fungsinya, dan digambar bagian-bagiannya. Terakhir diterangkan kembali oleh setiap praktikan menurut kemampuannya masing-masing.

Hasil dan Pembahasan Testis Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, testis terdiri dari sel sertoli, sel interstitial (sel leydig), tubulus semeniferus, dan membran basement. Testis yang normal berfungsi dengan cara memproduksi

16

sperma di dalam tubulus konvolusi (saluran berkelok) yang sangat kecil, yang membentuk keseluruhan struktur testis. Tubulus itu direntangkan maka tubulus semeniferus dari sepasang testis sapi pejantan diperkirakan panjangnya 50 kali lapangan bola (Blakely,1998). Testes (testikel) agak bervariasi dari spesies ke spesies dalam hal bentuk, ukuran dan lokasi, tetapi struktur dasarnya adalah sama. Masingmasing testis terdiri dari banyak sekali tubulus semeniferosa yang dikelilingi oleh kapsul berserabut atau trabekula melintas masuk dari tunika albuginea untuk membentuk kerangka atau stroma, untuk mendukung tubulus semeniferosa. Trabekula ini bergabung membentuk korda fibrosa , yaitu mediastinum testis (Frandson, 1992). Testis terdiri dari beberapa jaringan yaitu tubulus seminiferus, sel stroma, dan sel interstitial. Tubulus seminiferus yaitu epitel yang terdiri dar dua macam sel yang bebrbeda yaitu sel sertoli dan sel germinatif. Sel sertoli adalah yang mempunyai bentuk panjang dan kadang-kadang seperti pyramid. Sel ini terletak dekat atau di antara sel-sel germinatif. Sel ini bersifat fagosit karena mereka memakan sel-sel mani yang telah mati atau yang telah mengalami degenerasi. Sel germinatif adalah yang akan mengalami sebelum perubahan-perubahan mereka siap untk selama proses spermatogenesis, Tingkat

mengadakan

fertilisasi.

perkembangannya adalah sebagai berikut ; spermatogonia (sel paling muda) akan mengalami pembagian mitosis beberapa kali menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer membagi diri menjadi spermatosit sekunder. Tiap sel spermatosit sekunder akan membagi lagi dirinya menjadi spermatid, pada saat ini jumlah kromosom akan menjadi setengahnya (haploid). Tiap-tiap sel spermatid akan mendewasakan diri menjadi sel-sel spermatozoa atau sel mani (Hardjopanjoto, 1995). Sel stroma atau tenunan pengikat di luar tubulus seminiferus. Pada jaringan ini terdapat pembuluh darah, limfe, sel saraf, dan sel makrofag. Sel interstitial dan sel-sel leydig dapat menghasilkan hormon testosterone.

17

Namunhormon testosterone ini juga dapat dihasilkan oleh ovarium da kelenjar adrenal (Hardjopanjoto, 1995).

gambar 2.1. Histologi testis Epididimis Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, epididimis terdiri lumen epididimis dan jaringan-jaringan yang mengelilinginya. Kepala epididimis melekat pada bagian ujung dari testis di mana pembuluhpembuluh darah dan saraf masuk. Badan epididimis sejajar dengan aksis longitudinal dari testis dan ekor epididimis selanjutnya menjadi duktus deferens yang rangkap dan kembali ke daerah kepala, di mana kemudian sampai ke korda spermatic (Frandson, 1992). Fungsi epididimis adalah sebagai transportasi sperma, tempat pematangan/pemasakan sperma (mengalami perubahan fisiologi selama perjalanan), tempat pemadatan sperma (mengalami penyerapan air), tempat penimbunan sperma (ditimbun pada cauda epididimis) (Widayati dkk., 2008).

Gambar 2.2. Penampang melintang eididymis.

18

Duktus deferens Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, duktus deferens terdiri dari lumen, musculus cirkuler, sel epitel, lamina propia, musculus longitudinal dalam, musculus longitudinal luar, dan tunika serosa. Duktus deferens meninggalkan ekor epididimis bergerak melalui canal inguinal yang merupakan bagian dari korda spermatik dan pada cincin inguinal internal memutar ke belakang. Terdapat pada beberapa hewan, ada yang homolog dengan uterus, yaitu uterus masculinus yang merupakan lipatan genital di antara dua duktus deferens. Struktur homolog tersebut mempunyai asal-usul embriologi yang sama (Frandson, 1992). Secara histologi duktus deferens tersusun oleh banyak lapisan, dari luar terdapat tunika serosa yang berfungsi untuk melapisi dan melindungi duktus deferens dari luar. Kedalam lagi ada musculus longitudinal luar dan musculus longitudinal dalam, musculus ini berfungsi untuk membantu perjalanan sperma di dalam lubang lumen dengan gerakan maju mundur. Musculus circular yang berfungsi sama dengan musculus longitudinal namun dengan gerakan melingkar. Bagian yang paling dalam ada lumen yang berfungsi sebagai saluran jalannya sperma. Duktus deferens merupakan kelanjutan dari duktus epididimis yang setelah membuat lengkung tajam pada ujung ekor, kemudian lurus membentuk duktus deferens dengan ciri histologinya. Lipatan mukosa duktus deferens dibalut oleh epitel silinder banyak lapis, sebelum mencapai akhir saluran, epitel berubah menjadi silinder sebaris (Dellman, 1992).

Gambar 2.3. Histologi duktus deferens

19

Penis Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, penis terdiri lumen, corpus cavernosum urethra, uretra, tunika albuginea, dan corpus cavernosum penis. Struktur internal penis merupakan jaringan

kavernosum (jaringan erektil) yang terdiri dari sinus-sinus darah yang dipisahkan oleh lembaran jaringan pengikat yang disebut septa, yang berasal dari tunika albuginea, kapsula berserabut disekitar penis (Frandson, 1992). Ruang antara tunika albugenia dan jalinan trubektula diisi oleh jaringan erektil. Ruminansia dan babi jaringan ikat yang mengitari ruang kaverna mengandung sedikit otot polos. Ruang kavaernosa menerima suplai utama darah dari arteria berbentuk mengulir (helical arrangement), sering disebut arteria (arteria helisine) (Dellman, 1992).

Gambar 2.4. Histologi penis

Kesimpulan Bagian-bagian dari alat reproduksi hewan jantan (sapi) secara histologi dapat dibedakan menjadi testis, epididimis, duktus deferens,

uretra, dan penis. Masing-masing bagian tersebut terbentuk dari penyusun sel-sel yang berbeda-beda, juga mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Daftar Pustaka Blakely, J dan David H. Bade. 1998. The Science of Animal Husbandry. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Dellman, H. Dieter, Esther M. Brown. 1992. Histology Veteriner. Universitas Indonesia Press. Jakarta
20

Frandson, R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Ternak. Airlangga University Press. Surabaya. Kimbal, W. 1992. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 2. Erlangga. Yogyakarta. Widayati, D.T, Kustono., Ismaya., S. Bintara. 2008. Handout Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

21

ACARA III ANATOMI ORGAN REPRODUKSI TERNAK BETINA

Tinjauan Pustaka Ovarium Ovarium merupakan organ betina yang homolog dengan testis pada hewan jantan, berada di rongga tubuh dekat ginjal dan tidak mengalami pergeseran atau perubahan tempat seperti pada testis. Ova (telur), yang bisa dibuahi oleh spermatozoa pejantan akan menjadi embrio. Meski jumlah ova diperkirakan sebanyak 75.000 pada 2 ova, hanya sedikit saja yaitu sekitar 20 sampai 30 yang dilepaskan selama hidup seekor sapi, dalam kondisi alamiah normal (Blakely and Bade, 1998). Ovarium digantung oleh suatu ligamentum luas yang disebut broad ligamentum yang banyak terdapat syaraf-syaraf dan pembuluh darah berfungsi untuk memberi suplai zat-zat makanan yang diperlukan oleh ovarium dan saluran reproduksi. Ligamentum yang menggantung ovarium disebut mesovarium. Fungsi ovarium adalah untuk menghasilkan sel telur atau ovum dan menghasilkan kelenjar endokrin seperti hormon estrogen, progesteron, dan inhibin (Widayati et all., 2008). Oviduct (Tuba fallopi) Oviduct terdapat sepasang di kanan dan kiri, digantung oleh ligamentum mesosalpink, merupakan saluran kecil berkelok-kelok

membentang dari depan ovarium berlanjut ke tanduk uterus. Merupakan saluran yang menghantarkan sel telur (ovum) dari ovarium ke uterus (Widayati et all., 2008). Ovari dirangsang untuk melepaskan ovum kedalam infundibulum dari tuba fallopi atau oviduct. Peristiwa ini sebenarnya tertunda sampai 12 jam setelah akhir birahi (estrus). Sel telur bergerak ke infundibulum dari

22

tuba fallopi dengan ciliated action dan kontraksi otot, dan seterusnya ke tanduk uterus. Pembuahan yaitu persatuan antara sel telur dan sperma, terjadi di sepertiga bagian atas tuba fallopi. Peristiwa seperti ini dapat terjadi di kedua sisi sistem pasangan itu (Blakely and Bade, 1998). Uterus Uterus adalah suatu saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus dan stadium permulaan ekspulasi pada waktu kelahiran. Uterus terdiri dari cornu, corpus dan cervix (Feradis, 2010). Uterus terdiri dari struktur yang menyerupai dua tanduk yang melengkung menyerupai tanduk domba, dengan satu badan yang sama. Uterus pada sapi membentuk suatu puntiran spiral yang lengkap sebelum kemudian bersambung dengan tuba fallopi. Tanduk-tanduk uterus biasanya berkembang dengan baik, salah satunya akan merupakan tempat perkembangan fetus (Blakely and Bade, 1998). Cervix Cervix merupakan suatu struktur yang menyerupai sfinger yang memisahkan rongga uterin dengan rongga vagina. Fungsi pokok Cervix adalah untuk menutup uterus guna melindungi masuknya invasi bakteri maupun masuknya bahan-bahan asing. Sfinger itu tetap dalam keadaan tertutup kecuali pada saat kelahiran saja (Blakely and Bade, 1998). Dinding cervix terdiri dari mukosa, muskularis dan serosa. Mukosa cervix tersusun dalam lipatan-lipatan utama yang sebaliknya mengandung lipatan-lipatan sekunder yang kecil. Sel-sel yang menghasilkan mukus pada mukosa mempunyai permukaan sekretoris yang luas. Aktivitas sekretorisnya yang tertinggi ditemukan pada waktu estrus, pada waktu estrus mukos cervix terdapat dalam keadaan yang paling tidak kental (Feradis, 2010) Vagina Vagina berbentuk pipa, berdinding tipis dan elastis. Lapisan luar berupa tunika serosa yang diikuti oleh lapisan otot polos yang

23

mengandung serabut otot longitudinal dan sirkularis. Umunya lapisan mukosa terbentuk dari stratified squamousnepithelial cells. Sel epitel ini berubah menjadi sel epitel yang tanpa nucleus karana pengaruh estrogen (Widayati et all., 2008). Struktur reproduksi internal yang paling bawah (paling luar) adalah vagina yang berperan sebagai organ kopulasi pada betina. Di sinilah semen ditumpahkan oleh penis jantan. Seperti halnya cevix, vagina juga mengembang agar fetus dan membran dapat lewat pada waktunya (Blakely and Bade, 1998). Vulva Vulva merupakan alat kelamin luar yang terdiri dari labia mayora, labia minora, commisura dorsalis dan ventral dan clitoris. Pertemuan antara vagina dan vestibulum ditandai oleh muara uretra externa, orificium uretra externa, dan sering pula oleh lereng hymen. Posterior dari muara uretra pada lantai vestibulum terdapat suatu kantong buntu, diverticulum suburetralis, yang ditemukan pada sapi, domba dan babi (Feradis, 2010) Clitoris Clitoris homolog dengan gland penis pada hewan jantan, berlekasi pada sisi ventral. Sekitar 1 cm di dalam labia . Clitoris mengandung erectile tissue sehingga dapat berereksi. Juga banyak mengandung ujung syaraf perasa, syaraf ini memegang peranan penting pada waktu kopulasi. Clitoris bereaksi pada hewan yang sedang estrus, tetapi hal ini tidak cukup untuk dijadikan sebagai pendeteksi estrus pada kebanyakan spesies (Widayati et all., 2008).

Materi dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum Ilmu Reproduksi Ternak acara anatomi organ reproduksi betina antara lain pita ukur, kertas kerja, dan alat tulis

24

Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum anatomi alat reproduksi hewan betina antara lain preparat basah (preparat segar) yang berupa organ reproduksi sapi betina. Metode Organ reproduksi sapi betina diamati untuk kemudian diketahui fungsi dari masing-masing organ reproduksi sapi betina tersebut.Masingmasing bagian organ reproduksi dibedakan, lalu dilakukan pengukuran dengan seksama menggunakan pita ukur atau mistar ukur pada masingmasing bagiannya.Semua hasil pengukuran dicatat pada kertas kerja. Bagian-bagian dari alat reproduksi yang telah dilihat dari preparat melalui mikroskop cahaya diamati, dibedakan, diketahui fungsi-fungsinya, dan digambar bagian-bagiannya.

Hasil dan Pembahasan Alat reproduksi betina terdiri dari dua buah ovari, dua buah tuba uterin (fallopi), uterus, vagina, vulva (Frandson, 1992), sedangkan menurut Widayati et all. (2008), scara anatomi alat reproduksi hewan betina terdiri (gonad) ovarium, saluran reproduksi (oviduct, uterus, cervix, dan vagina), alat reproduksi luar (vulva dan clitoris). Praktikum dilakukan dengan mengamati organ reproduksi sapi simpo betina induk umur 3,5 tahun dan berat badan 365 kg. Setelah dilakukan pengamatan dan pengukuran terhadap organ reproduksi pada sapi betina tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

25

Tabel 3.1. Hasil Pengukuran Reproduksi Betina Bagian alat reproduksi sapi betina Ovarium Bursa ovari Oviduct Uterus corpus uteri cornu uteri Cervix uteri Vestibulum Portio vaginales cervices Vulva Ovarium Ovari adalah organ primer (esensial) reproduksi pada betina, seperti halnya testis pada jantan. Ovarium dapat dianggap bersifat endokrin atau sitogenik (menghasilkan sel), karena mampu menghasilkan hormon yang akan diserap langsung ke dalam peredaran darah, dan juga ovum yang dapat dilepaskan dari kelenjar (Frandson, 1992). Berdasarkan pengukuran pada saat praktikum didapatkan ukuran ovarium yaitu dengan panjang 4 cm, lebar 2 cm dan tinggi 1 cm. Diameter ovarium berkisar antara 2 sampai 2,5 cm (Frandson, 1992). Menurut literatur maka dapat dibandingkan bahwa preparat ovarium yang digunakan dalam praktikum normal karena lebar ovarium mendekati kesaran normal. Bentuk dan ukuran ovarium berbeda-beda menurut spesies dan fase siklus estrus. Pada sapi dan domba ovarium berbentuk oval menyerupai buah almond, sedangkan pada kuda berbentuk seperti ginjal karena ada fossa ovulatoris. Perbedaan hasil ini disebabkan karena suhu, bangsa, umur, dan lama penyimpanan pada saat akan digunakan dalam praktikum. (Feradis, 2010). Pengukuran Organ Reproduksi (cm) Panjang : 4 Lebar : 2 Tinggi : 1 Panjang : 7 Panjang : 20 Panjang : 8 Panjang : 13 Panjang : 6 Lebar : 5 Panjang : 8 Panjang : 13 Panjang : 10 Kisaran normal (cm) Diameter : 2 - 2,5

25 Tanduk 35 sampai 40 badan2 sampai 4 8 sampai 10, diameter 3 sampai 4 Panjang : 10-12 Frandson (1992)

26

Gambar 3.1. Ovarium Oviduct (Tuba fallopi) Oviduct terdapat sepasang di kanan dan kiri, digantung oleh ligamentum mesosalpink, merupakan saluran kecil berkelok-kelok

membentang dari depan ovarium berlanjut ke tanduk uterus. Merupakan saluran yang menghantarkan sel telur (ovum) dari ovarium ke uterus (Widayati et all., 2008). Tuba fallopi atau oviduct merupakan saluran paling anterior, kecil, berliku-liku dan tersa keras seperti kawat teruama pada pangkalnya. Panjang dan derajat liku-liku berbeda-beda menurut spesies. Berdasarkan pengukuran saat praktikum didapatkan ukuran panjang oviduct adalah 20 cm. Menurut Feradis (2010), pada sapi dan kuda tuba fallopi mencapai 20 sampai 30 cm, dan diameter 1,5 sampai 3 mm. Berdasarkan literatur maka dapat dibandingkan bahwa panjang oviduct berada pada kisaran normal, yaitu 20 cm. Faktor yang mempengaruhi panjang oviduct antara lain spesies, bangsa, umur, dan lama penyimpanan pada saat akan digunakan dalam praktikum.

Vimbria

Oviduct

Gambar 3.2. Oviduct

27

Uterus Uterus adalah suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindunga fetus dan stadium permulaan ekspulsi pada waktu kelahiran. Uterus terdiri dari cornu, corpus, dan cervix. Sapi, domba, dan kuda dengan uterus yang tergolong uterus bipartus, terdapat suatu dinding penyekat (septum) yang memisahkan kedua cornua dan corpus uteri yang cukup panjang. Untuk sapi dara setiap cornua membentuk satu putaran spiral lengkap, sedangkan pada sapi pluripara (sudah sering beranak) spiral tersebut sering hanya mencapai setengah putaran (Feradis, 2010). Uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri dari corpus, cervix, dan dua tanduk atau cornu. Berdasarkan pengukuran pada saat praktikum didapatkan hasil panjang corpus 8 cm sedangkan cornu 13 cm. Panjang corpus dan cornu pada sapi masing-masing adalah 2 sampai 4 cm dan 35 sampai 40 cm, sehingga hasil praktikum tidak berada pada kisaran normal. Proporsi relatif dari tiap-tiap bagian itu bervariasi tergantung

spesies spesies, seperti juga halnya bentuk maupun susunan tanduktanduk tersebut (Frandson, 1992).

Gambar 3.3. Uterus Cervix Cervix atau leher uterus mengarah cauda menuju ke vagina. Dalam kenyataannya, cervix merupakan sfingter otot polos yang kuat dan tertutup rapat, kecuali pada saat birahi atau saat kelahiran. Pada saat birahi cervix rileks sehingga memungkinkan spermatozoa memasuki uterus. Pada saat tersebut, bukannya tidak mungkin cervix mengeluarkan
28

mukus yang kemudian mengalir ke vulva. Suatu peningkatan jumlah mukus juga diproduksi oleh sel-sel goblet pada cervix selama kebuntingan guna mencegah masuknya zat-zat yang membawa infeksi dari vagina kedalam uterus. Pada ruminansia dan juga sampai tingkat tertentu pada babi, permukaan dalam cervix tersusun dalam suatu seri cincin melingkar yang kadang-kadang disebut lipatan-lipatan anular (Frandson, 1992). Berdasarkan pengukuran saat praktikum diperoleh hasil panjang cervix adalah panjang 6 cm dan lebar 5 cm. Menurut Feradis (2010), cervix sapi memiliki ukuran panjang yaitu 8 sampai 10 cm dengan diameter luar 3 sampai 4 cm dan berfungsi untuk mencegah benda-benda asing atau mikroorganisme memasuki lumen uterus. Menurut literatur panjang cervix mendekati kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi panjang cervix antara lain spesies, bangsa, umur, dan lama penyimpanan pada saat akan digunakan dalam praktikum (Frandson, 1992).

gambar 3.4. Cervix Vagina Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak didalam rongga perlvis dorsal dari vesica urinaria dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus. Legokan yang dibentuk oleh penonjolan Cervix kedalam vagina disebut fornix. Ia dapat membentuk suatu lingkaran penuh sekeliling cervix seperti pada kuda atau tidak ada sama sekali seperti pada babi. Suatu fornix dorsal dapat ditemukan pada sapi dan domba (Feradis, 2010).

29

Menurut Hardjopranjoto (1995) panjang vagina pada sapi adalah 17 sampai 25 cm bila sedang tidak bunting. Hasil pengukuran saat praktikum diperoleh panjang vagina adalah 13 cm, sehingga dibandingkan dengan literatur panjamg vagina mendekati kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi panjang vagina antara lain spesies, bangsa, umur, dan lama penyimpanan pada saat akan (Frandson, 1992). digunakan dalam praktikum

Vagina

Saluran kencing

Gambar 3.5. Vagina Vulva dan Clitoris Vulva (pudendum femininum) adalah bagian eksternal dari genetalia betina yang terentang dari vagina sampai ke bagian yang paling luar. Pertautan antara vagina dan vulva ditandai oleh orifis uretral eksternal dan sering juga oleh suatu pematang, pada posisi kranial terhadap orifis uretral eksternal yaitu himen vestigal. Seringkali hymen tersebut demikian rapat hingga mempengaruhi kopulasi (Frandson, 1992). Clitoris homolog dengan gland penis pada hewan jantan, berlekasi pada sisi ventral.Clitoris mengandung erectile tissue sehingga dapat berereksi. Juga banyak mengandung ujung syaraf perasa, syaraf ini memegang peranan penting pada waktu kopulasi. Clitoris bereaksi pada hewan yang sedang estrus, tetapi hal ini tidak cukup untuk dijadikan sebagai pendeteksi estrus pada kebanyakan spesies (Widayati et all., 2008). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengukuran panjang dari vulva adalah 8 cm. Menurut Hardjopranjoto
30

(1995), panjang vulva adalah 7,5 sampai 10 cm. Hasil yang diperoleh sudah sesuai dngan literatur yang berarti bahwa sapi dalam keadaan normal.

Hymen Labia minora Labia mayora Vulva

Gambar 3.6. Vulva

Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa ukuran alat reproduksi sapi simpo, umur 3,5 tahun berbeda dengan ukuran berdasarkan literatur, hal ini disebabkan perbedaan bangsa, umur, jenis ternak, manajemen, dan lingkungan. Alat reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduct, uterus, cervix, vagina dan vulva. Keseluruhan alat reproduksi tersebut memegang peranan penting serta jika ada salah satu alat tidak ada atau tidak berfungsi sebagai mana mestinya maka organ reproduksi betina tidak akan dapat berfungsi.

Daftar Pustaka Blakely, James and David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada Universuty Press. Yogyakarta. Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung. Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

31

Tri, Widayati Diah, kustono, Ismaya, Sigit Bintara. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

32

ACARA IV HISTOLOGI ORGAN REPRODUKSI TERNAK BETINA Tinjauan Pustaka Hipofisis Hipofisis terletak pada lekukan tulang yang disebut Sella Turcica (Pelana Kuda) pada dasar otak. Kelenjar hipofisis secara embriologik berkembang dari ektoderm saluran pencernaan pada atap mulut dan ektoderm neural pada hypothalamus yang sedang berkembang. Hipofisis terdiri dari anterior lobe (adenihipofisis) dan posterior lobe (neurohipofisis). Adenohipofisis dibagi menjadi pars distalis dan pars tuberalis, sedangkan neurohipofisis dibagi menjadi pars intermedia dan pars nervosa (Widayati et al., 2008). Ovarium Ovarium yaitu organ betina yang homolog dengan testis pada hewan jantan, berada didalam rongga rongga tubuh didekat ginjal dan tidak mengalami pergeseran atau perubahan tempat seperti pada testis. Ova (telur), yang bila dibuahi oleh spermatozoa pejantan akan menjadi embrio, ada pada saat lahir. (Blakely and Bade, 1991). Ovarium digantung oleh suatu ligamentum yang luas (broad ligamentum) yang banyak terdapat syaraf-syaraf dan pembuluh darah yang berfungsi memberi suplai zat-zat makanan yang diperlukan oleh ovarium dan saluran reproduksi. Ligamentum yang menggantung ovarium disebut mesovarium (Widayati et al., 2008). Ovarium pada kebanyakan hewan mamalia yang telah mencapai dewasa kelamin, dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian luar disebut korteks dan bagian dalam disebut medulla. Bagian korteks terbagi atas epitel kecambah, folikel dari berbagai ukuran dan tingkat pertumbuhan, korpus luteum, korpus albikans, dan tenunan pengikat. Epitel kecambah (germinal epithelium) menyelimuti permukaan ovarium dan merupakan

33

asal dari folikel yang selalu berkembang secara tetap (Hardjopranjoto, 1995). Oviduct Oviduct terdapat sepasang di kanan dan kiri, digantung oleh ligamentum mesosalpink, merupakan saluran kecil berkelok-kelok

membentang dari depan ovarium berlanjut ke tanduk uterus. Merupakan saluran yang menghantarkan sel telur (ovum) dari ovarium ke uterus (Widayati et all., 2008). Lumen oviduct dibatasi oleh membrana mukosa yang sangat berlipat-lipat. Sel epithelium yang membatasi lumen berbentuk kolumner kompleks dan bersilia. Silia tersebut bergerak menjauhi ovarium, menciptakan suatu gelombang alliran di dalam oviduct kearah uterus. Pada semua mamalia kecuali pada primata selalu didapati silia dan bersifat fungsional sepanjang kehidupan reproduksinya (Nalbandov, 1990). Uterus Uterus adalah suatu saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus dan stadium permulaan ekspulasi pada waktu kelahiran. Uterus terdiri dari cornu, corpus dan cervix (Feradis, 2010). Uterus biasanya memiliki dua buah tanduk dan sebuah tubuh. Seluruh organ tersebut melekat pada dinding pinggul dan dinding perut dengan perantaraan ligamentum uterus yang melebar (ligamentum lata uteri). Melalui ligament inilah uterus menerima suplai darah dan syaraf. Lapisan luar ligamentum lata uteri membentuk ligament uterus yang melingkar (ligamentum teres uteri) (Nalbandov, 1990).

34

Materi Dan Metode Materi Alat. Alat yang digunakan pada praktikum Ilmu Reproduksi Ternak acara histologi organ reproduksi betina antara lain, bolpoin, pensil warna, kertas kerja, dan mikroskop cahaya. Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum histologi alat reproduksi hewan jantan antara lain, preparat histologi ovarium, preparat histologi oviduk, dan preparat histologi uterus. Metode Gambar histologi organ reproduksi sapi betina diamati untuk kemudian diketahui fungsi dari masing-masing organ reproduksi sapi betina tersebut. Kemudian gambar tersebut digambar pada kertas kerja yang telah disediakan, kemudian setiap bagian-bagian dari alat reproduksi yang telah digambar dibandingkan dengan preparat yang dilihat melalui mikroskop cahaya, kemudian diamati dan dibedakan, serta diketahui fungsi-fungsinya, dan digambar bagian-bagiannya. Terakhir diterangkan kembali oleh setiap praktikan menurut kemampuannya masing-masing.

Hasil Dan Pembahasan Hipofisis Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, Hipofisis terdiri dari alpha cell, bheta cell, chromophob cell, dan chromophil cell. Kelenjar hipofisis ini terletak pada lekukan selatursika di bagian tulang baji dan menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan

kelenjar lainnya. Kelenjar hipofisis disebut master gland. Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian anterior, bagian tengah, dan bagian posterior (Anonim, 2009) Hasil praktikum diperoleh diketahui dengan menggambar histologi hipofisis bahwa chromophob cell berwarna putih yang menunjukan bahwa

35

chromophob cell tidak merespon warna dan chromophil cell berwarna merah yang menunjukan merespon warna asam dan basa. Berdasarkan ada atau tidaknya granula-granula yang mengambil warna ditemukan dua macam sel di dalam hipofisis, yaitu sel chromophob dan sel chromophil. Sel chromophob tidak memiliki granula yang mengambil warna, tidak mensekresikan produk hormon, diduga sebagai progenitor (istirahat). Sel chromophil memiliki daya pewarnaan tertentu, dibedakan kedalam dua macam sel yaitu Acidophil yang merespon warna merah, menghasilkan homon STH (Somatotrohs Hormon) atau GH (Growth Hormon) dan Basophil mempunyai respon terhadap warna biru, menghasilkan hormon FSH (Folikel stimulating hormon) dan LH (Luteinizing hormon) (Widayati et al., 2008).

Gambar 4.1. Hipofisis Ovarium Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, ovarium terdiri dari stratum granulosum, theca interna, theca eksterna, membrane basalis dan antrum. Ovarium pada golongan mamalia akan terjadi proses

pembentukan sel kelamin betina yang terjadi sebagai berikut, tahap proliferasi, tahap pertumbuhan, dan tahap pemasakan. Tahap proliferasi terjadi sebelum dilahirkan sampai beberapa saat setelah lahir. Tahap ini sel kecambah membagi diri secara mitosis sehingga terbentuk oogonia. Tahap pertumbuhan oosit akan terjadi secara periodik pada hewan betina setelah lahir sampai mencapai masa remaja dan sesudahnya. Tahap pemasakan terjadi pada hewan betina yang telah mencapai pubertas. Pada fase proestrus sampai estrus dari setiap siklus birahi, terjadi perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder, ootid dan ova sebagai sel telur yang dewasa (Hardjopranjoto, 1995).
36

Bedasarkan praktikum diketahui lapisan penyusun ovarium antara lain teka eksterna, teka interna, selaput basalis, kumulus ooporus, zona pelusida, sel granulosa, rongga follikel, dan sel telur. Ovarium pada kebanyakan hewan mamalia yang telah mencapai dewasa kelamin, dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian luar disebut korteks dan bagian dalam disebut medulla. Bagian korteks terbagi atas epitel kecambah, folikel dari berbagai ukuran dan tingkat pertumbuhan, korpus luteum, korpus albikans, dan tenunan pengikat. Epitel kecambah (germinal epithelium) menyelimuti permukaan ovarium dan merupakan asal dari folikel yang selalu berkembang secara tetap (Hardjopranjoto, 1995).

Gambar 4.2. Ovarium Oviduct Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, oviduct terdiri dari tunica serosa, tunica muscularis, membrane mukosa, dan lumen. Oviduct terdapat sepasang di kanan dan kiri, digantung oleh ligamentum mesosalpink, merupakan saluran kecil berkelok-kelok membentang dari depan ovarium berlanjut ke tanduk uterus. Merupakan saluran yang menghantarkan sel telur (ovum) dari ovarium ke uterus (Widayati et all., 2008). Lumen oviduct dibatasi oleh membrana mukosa yang sangat berlipat-lipat. Sel epithelium yang membatasi lumen berbentuk kolumner kompleks dan bersilia. Silia tersebut bergerak menjauhi ovarium, menciptakan suatu gelombang alliran di dalam oviduct kearah uterus. Pada semua mamalia kecuali pada primata selalu didapati silia dan

37

bersifat fungsional sepanjang kehidupan reproduksinya (Nalbandov, 1990). Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui lapisan oviduct antara lain tunica serosa, tunica muscularis, membrane mucosa, dan lumen. Otot oviduct ternyata terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan dalam yang tersusun secara melingkar dan lapisan luar yang tersusun secara membujur. Kedua gerakan, yakni gerakan peristaltic dan gerakan anti peristaltik terdapat pada oviduct gerakan antiperistaltik ternyata lebih jarang terjadi (kurang umum) dan kemungkinan hanya suatu artefak. Selama perjalanannya dalam oviduct telur tinggal lebih lama di setengah bagian oviduct pada ujung ovarium, dan di sinilah terjadi fertilisasi tidak terjadi di uterus, seperti seringkali dikemukakan (Nalbandov, 1990).

Gambar 4.3. Oviduct Uterus Berdasarkan hasil praktikum secara histologi, uterust terdiri dari perimetrium, myometrium, sel stroma, longitudinal, sirkuler, sel epitel, lumen, sel kelenjar, dan endometrium. Uterus biasanya memiliki dua buah tanduk dan sebuah tubuh. Seluruh organ tersebut melekat pada dinding pinggul dan dinding perut dengan perantaraan ligamentum uterus yang melebar (ligamentum lata uteri). Melalui ligament inilah uterus menerima suplai darah dan syaraf. Lapisan luar ligamentum lata uteri membentuk ligament uterus yang melingkar (ligamentum teres uteri) (Nalbandov, 1990).

38

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui lapisan uterus antara lain perimetrium, myometrium, sel stroma, longitudinal, sirkuler, sel epitel, sel kelenjar, endometrium, dan lumen. Dinding uterus tersusun atas lapisan-lapisan yaitu membrana serosa yang membungkus seluruh organ, miometrium yang terdiri atas tiga lapisan otot dalam yang tersusun melingkar, lapisan otot luar yang tersusun membujur, dan lapisan vaskuler yang memisahkan kedua lapisan otot tersebut, dan endometrium yang terdiri atas lapisan epithelium yang membatasi lumen, lapisan glanduler, dan jaringan pengikat (Nalbandov, 1990).

Gambar 4.4. Uterus

Kesimpulan Bagian-bagian dari alat reproduksi hewan betina (sapi) secara histologi dapat dibedakan menjadi ovarium, oviduct, uterus, cervix, dan vagina. Masing-masing bagian tersebut terbentuk dari penyusunan sel-sel yang berbeda-beda, juga mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Daftar Pustaka Anonim. 2009. http://yusnia-bio.blogspot.com/2009/04/kelenjarhipofisis.html diakses pada tanggal 07 Desember 2011 Blakely, James and David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Edisi ke-4. Gadjah Mada Universuty Press. Yogyakarta. Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.

39

Hardjopranjoto, Soeharto. 1995. Ilmu Kemanjiran pada Ternak. Nalbandov, A. V. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta Tri, Widayati Diah, kustono, Ismaya, Sigit Bintara. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

40

PENUTUP

Kritik. Kritik yang diberikan pada praktikum Ilmu Reproduksi Ternak adalah kurang tepatnya waktu praktikum, alat bedah seperti pisau kurang tajam pada saat digunakan membedah organ, penggunaan

ultrasonography kadang tidak ditemukan fetus serta ada asisten yang terlalu mengulur-ulur waktu.

Saran Saran yang diberikan pada praktikum Ilmu Reproduksi Ternak adalah lebih diperjelas gambar histologi organ yang ada dipapan tulis, lebih diberi penjelasan tentang penggunaan utrasonography karena sering terjadi kesalahan seperti tidak ditemukannya fetus pada ternak bunting dan alat mengalami gangguan.

41

LAMPIRAN

42