Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani. Kata tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian yaitu xitomate atau xitotomate. Tanaman tomat berasal dari negara Peru dan Ekuador, kemudian menyebar ke seluruh Amerika, terutama ke wilayah yang beriklim tropik, sebagai gulma. Tomat ditanam di Indonesia sesudah kedatangan orang Belanda. Dengan demikian, tanaman tomat sudah tersebar ke seluruh dunia, baik di daerah tropik maupun subtropik. Sentra penanaman tomat di dunia adalah di Jepang, China, Taiwan, sedangkan di Indonesia adalah daerah Malang. Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur sekitar 4 bulan. Klasifikasi tanaman tomat adalah sebagai berikut: Ordo Famili Genus : Solanales : Solanaceae : Lycopersicon (Lycopersicum)

Species: Lycopersicon esculentum Mill.

Dari sekian banyak varietas tomat yang ada, yang banyak ditanam petani adalah tomat varietas ratna, berlian, precious 206, kingkong dan intan. Sedangkan dari hasil survei yang telah dilakukan di lapangan varietas yang digunakan adalah varietas Artaloka.

BAB II PEMBAHASAN

Ada beberapa faktor pembatas yang dapat mempengaruhi hasil produksi (limiting factors) di Indonesia. Faktor pembatas itu meliputi faktor air, temperature dan cahaya matahari. Faktor-faktor yang perlu dimaksimalkan untuk mendapatkan hasil yang optimal yaitu : 1. Faktor Air a. Kelebihan air Pada saat kelebihan air, keadaan tanaman tomat akan menjadi kurang baik karena air dapat memadatkan tanah yang akan berdampak pada kemampuan akar untuk menyerap unsur hara yang terdapat didalam tanah. Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya yaitu : Drainase diperbaiki Tanam dengan gulud tunggal Dilakukan pendangiran setelah hujan berlebihan Memakai mulsa plastik hitam perak bila hujan berlebihan b. Kekurangan air Saat tanaman berada dalam kondisi tercekam dimana kadar airsampai pada titik minimum maka tanaman tidak akan dapat berfotosintesis dengan baik. Cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi hal tersebut yaitu : Pompanisasi Penyiraman atau kocor Penggunaan mulsa plastik hitam perak, mulsa jerami atau mulsa sekam padi.

Tanam Tanpa Olah Tanah (TOT), terutama ditanah gambut dan tanah irigasi saat MT III (Musim kemarau). Hujan buatan Pemupukan Dengan pemupukan starter awal tanam, terutama pupuk

organik/kompos dengan alkalitas tinggi ditambah pupuk yang mengandung amino acid dan Zn, akan menjamin terbentuknya Phyto hormon terutama Auxin yang akan menstimulir ter-bentuknya akar yang luas di top soil, sehingga akibat kelebihan air dampaknya dapat dikurangi terutama timbulnya damping off dan kekurangan Oxygen dalam tanah.

2. Faktor Temperatur Temperatur harian termasuk temperatur siang dan malam selama 24 jam. Temperatur siang lebih tinggi dari temperatur malam. Aktivitas temperatur siang/sinar matahari untuk pembentukan makanan dalam jumlah yang besar, temperatur malam mempengaruhi peningkatan turgor sel untuk elongation dan pembentukan sel-sel baru yang didukung dengan absorbsi air tinggi dan transpirasi rendah. Faktor temperatur siang dan malam yang optimal untuk tanaman tergantung varietas tanaman yang ditanam. a. Temperatur siang yang favorable (Optimum Temperatur Range). Optimum Temperatur Range yaitu temperatur antara yang mampu meningkatkan Photosintesa secara maximal dan respirasi yang normal sepanjang siklus hidup tanaman. Tanaman pertanian dan hortikultura di klasifikasi sbb: -Tanaman yang membutuhkan rentangan temperatur rendah untuk meningkatkan hasil secara optimal umpama tanaman Strawberry, Asparagus, lecthuce, kubis, wortel, green pea, kentang dll.

-Tanaman yang membutuhkan rentangan temperatur medium untuk meningkatkan hasil secara optimal contoh: Tomat, paprika, cabe dataran tinggi, terong dataran tinggi, timun dataran tinggi, kacang merah (Bruine bonen) dll. -Tanaman yang membutuhkan rentangan temperatur tinggi untuk meningkatkan hasil secara optimal misalnya: pisang , cacao, mente, kopi, kurma, pepaya, ketela manis, cassava, okra, cucurbitase dataran rendah (Semangka, Melon, ketimun, labu Jepang, waluh, oyong dll), kapas, jagung dataran rendah dll.

b. Temperatur malam yang favorable (Optimum Night Temperature range) dibagi 2 bagian yaitu: Awal malam Akhir malam. Proses biokimia yang biasa terjadi adalah: - Pembelahan sel moderat cepat - Pembelahan sel cepat - Pertumbuhan vegetatif moderat - Pertumbuhan vegetatif cepat - Perombakan karbohidrat dan depotisasi moderat - Perombakan karbohidrat cepat dan depotisasi rendah Dampak positif akan tampak pada pertumbuhan vegetatif dan reproduksi yang terjadi secara optimal dan depotisasi juga akan optimal. Demikian juga hasil produksi akan meningkat secara maximal. c. Temperatur malam yang tidak favorable Temperatur malam diatas temperatur malam yang optimal

Tanaman akan rendah produksinya terutama menjelang pertumbuhan akhir (phase generatif). Hal ini disebabkan temperatur malam yang berada diatas temperatur malam yang optimal dapat menyebabkan peningkatan perombakan karbohidrat untuk respirasi menjadi tinggi, sehingga sisa karbohidrat hasil photosintesa yang untuk pertumbuhan dan reproduksi menjadi rendah. Misalnya akan terjadi penurunan produksi kentang pada saat udara panas.

Temperatur

malam

dibawah

temperatur

malam

yang

optimal.

Produksi rendah disebabkan photosintesa dan respirasi menurun, derajat penurunan photosintesa lebih besar, sehingga yang berfungsi sisa karbohidrat untuk pertumbuhan dan pembentukan/perkembangan tanaman terhambat, sehingga produksi rendah. Tidak tersisanya karbohidrat untuk pertumbuhan lebih diperburuk dengan rendahnya pembentukan protein untuk sel-sel baru mengakibatkan rendahnya tingkat pertumbuhan dan produksi. Memacu timbulnya kelainan pertumbuhan yang disebut bolting, untuk beberapa jenis sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi, akan membentuk bunga dan biji tidak membentuk depotisasi misalnya tidak terbentuknya crop pada tanaman kubis.

3. Faktor Cahaya Matahari Kinetic energi matahari yang optimal untuk kebutuhan tanaman baik pertumbuhan dan produksi berkisar 350 cal/cm2 - 400 cal/cm2 tiap hari (day light). Di daerah sub tropis pencahayaan matahari lebih panjang daripada daerah tropis, dengan perbedaan 100 - 200 cal/cm2 tiaphari. Didaerah dataran tinggi lebih besar dibandingkan dataran rendah, juga tergantung pada musim. Hari berawan juga lebih rendah dibandingkan hari cerah. Faktor cahaya matahari yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi suatu tanaman adalah: a. Faktor intensitas cahaya. Intensitas cahaya ialah jumlah cahaya yang diterima tanaman yang berfungsi untuk pertumbuhan dan pembentukan organ-organ tanaman. Intensitas cahaya makin tinggi saat matahari siang dan mengakibatkan kenaikan kegiatan photosintesa, hingga pada suatu kenaikan tertentu photosintesa akan terhenti. Peristiwa ini disebut Light Saturation Point, dimana kelebihan Intensitas cahaya tidak dimanfaatkan untuk photosintesa ( luxurius light intensity ). Light Saturation didaerah beriklim tropis mencapai 40-50% intensitas cahaya. Umumnya transpirasi melebihi Carbon assimilasi dalam kebutuhan air, akibatnya turgor stomata rendah, stomata akan tertutup dan CO2 tidak bisa masuk dalam daun, photosintesa terhanti,

Bahkan dapat juga timbul kelayuan daun, dimana daun yang layu akan menutup daun dibawahnya, sehingga photosintesa terhambat bagi daun yang belum mencapai titik light saturation. Untuk mencegah dampak negatif light saturated yaitu terjadinya kelayuan varietas tanaman yang tidak tahan intensitas cahaya secara langsung, diusahakan agar penanaman dilakukan dibawah pelindung misalnya tumpangsari dengan tanaman yang lebih tahan.

Kebutuhan intensitas cahaya yang berbeda untuk tiap tanaman dibagi menjadi empat klasifikasi yaitu: *Tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya rendah ( tanaman dibawah pelindung ). Tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi denga baik apabila ditanam dibawah pelindung tanaman lain atau ditutup dengan jaring plastik. Varietas tanaman dibawah pelindung (shade plants) misalnya: Beberapa varietas tembakau, ornamental, African violet, begonia, philodendron dll. *Tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya moderat tinggi yang disebut Partial shade and Sun plants. Tanaman yang termasuk dalam klasifikasi ini : Cacao, kopi, panili, merica, anggrek dll. *Tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi, disebut Sun plants. Tanaman yang termasuk dalam klasifikasi ini: Pisang, jeruk, kelapa, kurma, pepaya, mangga, jambu, paprika, cabe, kapas, jagung, kedelai, kacang hijau, timun, terung, padi, nenas, ketela pohon/manis, beberapa varietas tembakau, carnation, chrysanthenum, gladiola, lily, rose dll. *Tanaman membutuhkan intensitas cahaya yang berentang lebar, disebut shade or sun plants (Slight shade and direct sun tolerant). Termasuk dalam klasifikasi ini: Apel, pear, peach, plum, karet, kobis, kentang, kacang tanah, gardenia dll.

b. Intensitas cahaya dibawah rentang optimal Produksi akan turun akibat photosintesa tidak optimal. Teknologi dalam membentuk tanaman ideal diharapkan mampu meningkatkan photosintesa yaitu dengan membentuk daun yang tebal, lebar tidak melengkung (wavy) dan tidak drop

leaf. Pembentukan tanaman ideal ini dapat dilakukan dengan methoda pemupukan berimbang tiap phase pertumbuhan tanaman, sehingga derajat photosintesa bisa ditingkatkan.

c. Intensitas cahaya diatas rentang optimal Produksi tanaman akan rendah, disebabkan akibat Solarization, yaitu akibat kelebihan intensitas cahaya, kandungan chlorophyl di daun menurun, daunnya berwarna hijau kekuningan, akibatnya penyerapan cahaya rendah dan derajat photosintesa rendah. Intensitas cahaya yang tinggi mengakibatkan temperatur pada daun naik, sehingga dapat meningkatkan transpirasi dan stomata tertutup yang berakibat photosintesa terhambat. Sedang respirasi berjalan terus, sehingga produksi karbohidrat tidak mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan secara cukup, demikian juga aktivitas enzim yang merubah gula menjadi pati terhenti, akibatnya timbul akumulasi gula yang akan berdampak penurunan photosintesa. Tanaman ideal mampu mengurangi dampak negatif tersebut yaitu dengan pembentukan daun erect dengan internote relatif pendek dan meningkatkan ketebalan daun dengan konsentrasi cholorophyl lebih tinggi. Penambahan kandungan silica di cortex daun, mampu mengurangi transpirasi yang berlebihan, sehingga photosintesa masih aktif, enzym perombak gula jadi pati juga aktif. Dampak negatif akibat intensitas cahaya diatas optimal dapat dibatasi dengan pembentukan tanaman yang ideal.

4. Faktor daya dukung tanah dan hara yang esensial untuk tanaman. a. Daya dukung tanah Tanah merupakan mantel alam hasil dekomposisi mineral dan bahan organik yang menutup permukaan bumi. Kandungan yang penting dari tanah ialah tanah mineral dan tanah organik, bila mineralnya dominan disebut tanah mineral, bila organiknya dominan disebut musck soil atau pit soil. Daya dukung tanah sangat dipengaruhi oleh phisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik/kompos yang baik adalah yang memiliki alkalinitas tinggi, organik

yang sempurna dekomposisisnya sehingga kandungan humic acid lebih dominan dibandingkan asam-asam organik yang phyto toxin (acetat, butirat). Kompos yang baik mengandung biomas tinggi yang akan menghasilkan phosphate organik (nucleid acid), asam amino, vitamin yang penting dalam pembentukan enzym, coenzym dan phytohormon dengan bantuan unsur-unsur hara tertentu baik berupa pupuk dan hara tanah. Kompos/pupuk organik disamping meningkatkan aktivitas microbiologis tanah juga sebagai Growth Promoting Factor bagi tanaman dan meningkatkan daya serap air, meningkatkan nilai tukar kation disebabkan kandungan humoidnya tinggi.

b. Hara yang esensial untuk tanah Bisa merupakan pupuk atau hara yang terikat ditanah dan hara terlarut di tanah diantaranya: - Hara makro : N, P, K, Ca, Mg, S dan dalam keadaan khusus hara Si (Untuk meningkatkan pengambilan P dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap disaster dan hama), oxygen, carbon, hidrogen. - Hara meso : Zn (Hara Zn saat kini bukan dalam kategori unsur mikro lagi). - Hara mikro : Mn, Fe, B, Cu, Mo, Co, Cl. Kekahatan pertanian yaitu: - Hara N, umumnya pemberiannya berkelebihan menyebabkan tanaman steril. - Hara P, sangat rendah kelarutan dalam tanah, banyak yang terikat dibandingkan yang tersedia. - Hara K, umumnya kurang, terutama tanaman penghasil karbohidrat dan penghasil protein. - Hara Ca, umumnya tidak diberikan kecuali bila timbul penurunan pH tanah. Ca sangat penting dalam mempertebal sel, dan sangat dibutuhkan bagi tanaman hara akan menimbulkan penurunan produksi.

Kekahatan hara yang perlu dicermati sebagai penyebab levelling down produksi

penghasil biji dengan kandungan protein tinggi misalnya: kedelai, kacang tanah, cabe, tomat dll. - Hara Mg, penting dalam pembentukan chlorophyl a dan b serta membentuk Mgpectate bersama Ca-pectate akan mengikat rantai cellulosa dalam membentuk dinding sel yang kuat sehingga daun menjadi tebal tidak wavy/curva dan mencegah drop leaf, sehingga mampu meningkatkan pemanfaatan solar intensitas untuk photosintesa terutama saat light saturated. Hara S, umumnya tersedia cukup akibat penggunaan pupuk ZA.

Hara S merupakan unsur pembentuk asam amino dalam pembentukan sel baru. - Hara Zn, merupakan penghambat produksi yang perlu dicermati bila tanaman mengalami kekahatan. Zn penting dalam bio sintesa tryptophan sebagai bahan pembentuk phytohormon Indole Acetic Acid (IAA=Auxin), dan sebagai pembentuk enzym dalam bio sintesa protein, hidrolisis glucosa untuk energi respirasi. Jadi fungsi Zn tidak lepas dari fungsi Auxin yaitu untuk pengembangan sel, phototropisme, geotropisme, apical dominansi, pertumbuhan akar, parthenocarpy, pembentukan callus bila ada luka dan respirasi. Insekta pengisap maupun perusak daun dan jamur parusak akar, juga insektisida, fungisida, herbisida bila diaplikasikan pada tanaman walau tidak menimbulkan phytotoxic, tetapi tetap menimbulkan luka, baik lukan mikroskopis maupun makroskopis. Luka ini akan memacu timbulnya callus yang membutuhkan auxin, sehingga kandungan auxin berkurang, tanaman akan mensintesa lagi, membutuhkan unsur hara Zn dan asamasam amino. Akibatnya Zn akan mengalami kekahatan yang diperparah dengan mudah-nya unsur Zn ini tercuci ditanah. Tanda-tanda kekahatan Zn, terutama tampak diujung pertumbuhan mengalami klorosis, rozete, pertumbuhan pucuk dan akar sangat terhambat. Di Indonesia Zn merupakan faktor penghambat produksi yang paling tinggi. - Unsur hara mikro yang mulai kahat ialah Mo, kekahatan Mo terutama terjadi pada tanaman leguminose (kacang-kacangan). Bersama Co, Mo berfungsi dalam Nitrogen Fixasi mikroba. Pemupukan dengan pupuk nitrate juga dapat menimbulkan kekahatan Mo, akibat Mo banyak digunakan dalam sintesa

perombakan NO3 menjadi NH4. Akibat kekahatan Mo, tanaman akan terhenti pertumbuhannya, daun mengecil dan relatif panjang (whip tail syndrome). Untuk menutup kekahatan yang timbul dalam menyediakan hara bagi tanaman, dibutuhkan pemupukan berimbang baik makro, meso dan mikro secara dressing. Tetapi pemupukan melalui daun sangat ekonomis dan effisisen terutama hara Mg, Ca, Zn, Mo dll. Prediksi kekahatan Zn tampak ditanah yang diusahakan secara intensif, tanah berpasir dan saat curah hujan diatas normal.

Ada beberapa syarat pertumbuhan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tanamana tomat dengan hasil yang optimal. Syarat pertumbuhan tersebut yaitu : Iklim 1. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 750 mm1.250 mm/tahun. Keadaan ini berhubungan erat dengan ketersediaan air tanah bagi tanaman, terutama di daerah yang tidak terdapat irigasi teknis. Curah hujan yang tinggi (banyak hujan) juga dapat menghambat persarian. 2. Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit, baik parasit maupun non parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi. Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat jam/hari, akan dicapai selama apabila 12-14 intensitas pencahayaan

sedangkan

cahaya yang dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam. 3. Suhu udara rata-rata harian yang optimal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah suhu siang hari 18-29 derajat C dan pada malam hari 10-20 derajat C. Untuk

negara yang mempunyai empat musim digunakan heater (pemanas) untuk mengatur udara ketika musim dingin, udara panas dari heater disalurkan ke dalam green house melalui saluran fleksibel warna putih. 4. Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan untuk tanaman tomat yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak. Tetapi, kelembaban relatif yang tinggi juga merangsang mikro organisme pengganggu tanaman. Media Tanam 1. Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik serta unsur hara dan mudah merembeskan air. Selain itu akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen, oleh karena itu air tidak boleh tergenang. 2. Tanah dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5,5-7,0 sangat cocok untuk budidaya tomat. 3. Dalam pembudidayaan tanaman tomat, sebaiknya dipilih lokasi yang topografi tanahnya datar, sehingga tidak perlu dibuat teras-teras dan tanggul.

Ketinggian Tempat Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah, tergantung varietasnya. Tanaman tomat yang sesuai untuk ditanam di dataran tinggi misalnya varietas berlian, varietas mutiara, varietas kada. Sedangkan varietas yang sesuai ditanam di dataran rendah misalnya varietas intan, varietas ratna, varietas berlian, varietas LV, varietas CLN. Selain itu, ada varietas tanaman tomat yang cocok ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi antara lain varietas tomat GH 2, varietas tomat GH 4, varietas berlian, varietas mutiara.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Pembibitan Persyaratan Benih Kriteria-kriteria teknis untuk seleksi biji/benih tanaman tomat adalah: a) Pilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat biasanya sulit tumbuh. b) Pilih biji yang sehat, artinya biji tidak menunjukkan adanya serangan hama atau penyakit. c) Benih atau biji bersih dari kotoran. d) Pilih benih atau biji yang tidak keriput. Penyiapan Benih Pengadaan benih tomat dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara membeli benih yang telah siap tanam atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih dilakukan dengan membeli, hendaknya membeli pada toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih-benih yang bermutu baik dan telah bersertifikat. Teknik Penyemaian Benih Benih atau biji-biji tomat yang telah terpilih sebelum disemaikan didesinfektan. Caranya, dengan merendam benih kedalan larutan fungisida agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati. Ada beberapa cara menyemai pada bedeng persemaian. Cara pertama, benih tomat ditaburkan merata pada permukaan bedeng, kemudian ditutup tanah tipistipis. Bedeng dibuat guritan sedalam 1 cm dengan jarak antar guritan 5 cm, lalu biji ditaburkan kedalan guritan secara merata dan tidak saling tumpuk, kemudian ditutup kembali dengan tanah tipis-tipis. Cara kedua, dengan menanamkan benih pada lubang-lubang tanam yang dibuat dengan jarak 5 cm dan kedalaman lubang tanam sekitar 1 cm. Dalam satu lubang tanam dapat diisikan 1 atau 2 benih, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Cara ketiga, penyemaian dapat langsung dilakukan pada kantong-kantong polybag yang telah diisi media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setiap kantong polybag diisi satu benih saja dan

tanamkan benih dengan kedalaman sekitar 1 cm. Setelah biji ditanam, media semai sebaiknya dibasahi dengan air. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian Selama awal pertumbuhan, pemeliharaan bibit tanaman di persemaian harus dilakukan secara intensif dengan pengawasan kontinyu. Pemeliharaan bibit meliputi kegiatan-kegiatan: 1. Penyiraman Penyiraman dilakukan sejak benih ditaburkan ke bedeng pesemaian sampai tanaman siap dipindah ke kebun. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat/gembor yang memiliki lubang halus, agar tidak merusak bibit tanaman yang sudah atau baru tumbuh. 2. Penyiangan Penyiangan dapat dilakukan dengan cara langsung mencabuti tanaman pengganggu 3. Pemupukan Pada media persemaian selain diberikan pupuk kandang, sebaiknya juga diberikan pupuk kimia NPK secukupnya sebagai pupuk tambahan yang diberikan setelah benih tumbuh menjadi bibit.
4. Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit

tanpa

peralatan.

Penyiangan

sebaiknya

dilakukan

seperlunya saja dengan melihat keadaan tanaman.

Hama yang umumnya menyerang benih atau bibit di pesemaian berasal dari golongan serangga, seperti semut dan golongan nematoda, seperti cacing tanah. Penyakit yang sering menyerang dari golongan cendawan. Untuk mencegah berkembangnya hama dan penyakit dapat dilakukan sterilisasi tanah. Untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang dapat disemprotkan obat-obatan. Insektisida untuk memberantas hama dari golongan serangga dan fungisida untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur. Namanama formulasi yang dapat digunakan antara lain Furadan 3 g, Dithane Hostathion dan Antracol.

Pemindahan Bibit Bibit tomat dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 30-45 hari di persemaian. Pada saat dilakukan penanaman ke kebun, sebaiknya dilakukan lagi terhadap bibit-bibit yang telah berumur 30-45 hari agar diperoleh tanaman yang baik pertumbuhannya dan memiliki daya produktivitas tinggi dalam menghasilkan buah. Untuk itu, bibit yang dipilih sebaiknya yang berpenampilan menarik dan baik., yaitu penampakannya segar dan daun-daunnya tidak rusak. Pilihlah bibit yang kuat, yaitu tegak pertumbuhannya dan pilihlah bibit yang sehat, artinya bibit tidak terserang hama dan penyakit. Waktu yang baik untuk menanam bibit tomat di kebun adalah pagi atau sore hari. Pada saat itu keadaan cuaca belum panas sehingga mencegah kelayuan pada tanaman. Ketika memindah bibit di kebun, hendaknya memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan bahkan mati. Ada beberapa cara pemindahan bibit dari persemaian yaitu : 1. Sistem cabut, yakni bibit yang telah tumbuh di persemaian dan cukup umur dicabut dengan hati-hati. Namun, sebelum dilakukan pencabutan bedeng persemaian harus dibasahi dengan air untuk memudahkan pencabutan dan tidak merusak akar. 2. Sistem putaran, yaitu bibit diambil beserta tanahnya. Namun, sebelum bibit diambil tanah dibasahi dengan air telebih dahulu. Kedua cara tersebut terutama ditujukan untuk pembibitan yang secara langsung dilakukan pada bedeng tanah persemaian sedangkan untuk bibit yang disemaikan dalam bumbung atau polybag cara pemindahannya adalah basahi bumbung terlebih dahulu, kemudian keluarkan bibit dari bumbung beserta tanahnya dengan menyobek kantong polybag. Pengolahan Media Tanam Persiapan

Pengolahan tanah untuk penanaman bibit di kebun produksi harus memperhitungkan waktu, antara lain lamanya bibit di persemaian hingga dapat dipindah ditanam ke kebun dengan lamanya proses pengolahan tanah sampai siap tanam. Lamanya waktu pembibitan sekitar 30-45 hari, sedangkan lamanya pengolahan tanah yang intensif sampai siap tanam adalah 21 hari. Oleh karena itu, agar tepat waktu penanamannya di kebun, jadwal pengolahan tanahnya sebaiknya dilakukan 1-2 minggu setelah benih disemaikan. Pembukaan Lahan Pengolahan tanah yang intensif pada dasarnya melalui 3 tahap, yaitu : a. Tahap pertama adalah membalik agregat tanah sehingga tanah yang berada pada lapisan dalam dapat terangkat ke permukaan. Pengolah tanah tahap ini sebaiknya dilakukan dengan bajak yang ditarik oleh tenaga hewan atau dengan menggunakan traktor. Tanah diolah dengan kedalaman 25 cm-30 cm. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 1 minggu agar bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan cukup terkena angin, terkena cahaya matahari, dan supaya terjadi proses oksidasi (pemasaman) zat-zat beracun dari dalam tanah seperti asam sulfida yang sangat membahayakan kehidupan tanaman. b. Tahap kedua, tanah digemburkan dengan cara dicangkul tipis-tipis sehingga diperoleh struktur tanah yang gembur atau remah, sekaligus untuk meratakannya. Selanjutnya, tanah hasil pengolahan tahap ini dibiarkan selama 1 minggu. c. Tahap ketiga, dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15-20 ton/ha. Pemberian pupuk kandang yang belum masak dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bahkan dapat mematikan tanaman karena akar tanaman tidak kuat menahan panas. Pada tahap ini, tanah yang telah ditaburi pupuk kandang dicangkul kembali tipis-tipis dan diratakan.

Pembentukan Bedengan Setelah pengolahan tanah selesai dilakukan, selanjutnya dibuat bedengbedeng membujur ke arah Timur Barat agar penyebaran cahaya matahari dapat

merata ke seluruh tanaman. Disamping pembuatan bedeng, juga dibuat parit-parit atau selokan untuk irigasi. Bedengan dapat dibuat lebar dengan ukuran lebar 1-1,2 m, panjang disesuaikan dengan keadaan lahannya dan tinggi bedeng 30 cm. Jika penanaman tomat dilakukan pada musim penghujan, bedengan dapat dibuat lebih tinggi yaitu 40-45 cm. Sedangkan ukuran parit dibuat lebar 20-30 cm dan kedalamannya 30 cm. Dengan demikian jarak antar bedeng adalah 20-30 cm. Kemudian pada sekeliling petak-petak bedengan dibuat saluran pembuangan air dengan ukuran lebar 50 cm, dan kedalamannya 50 cm. Pengapuran Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan lahan atau penyiapan lahan adalah pengapuran pada tanah-tanah yang terlalu asam dan tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman. Pengapuran ini diberikan bersamaan dengan saat pengolahan tanah, sebab pada umumnya akar tanaman tidak kuat terhadap pengapuran secara langsung, tanaman dapat menderita gangguan pertumbuhan bahkan dapat mati. Kapur yang dapat digunakan adalah kapur tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Pengapuran, selain menaikkan nilai pH tanah juga dapat memperbaiki struktur tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme tanah dalam membantu proses penguraian bahan organik tanah dan menurunkan zat yang bersifat racun tanpa menghilangkan zat-zat penting yang lain. Dosis pengapuran harus memperhatikan nilai pH tanah setempat. Pemupukan Sebelum tanaman tomat ditanam, lahan harus diberi pupuk dasar. Pemupukan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: 1. Kompos atau pupuk kandang yang telah jadi tanah dan TSP ditabur secara merata ke seluruh bedengan. Selanjutnya, tanah dicangkul sampai homogen agar kompos atau pupuk kandang dan TSP tercampur merata dengan tanah.
2. Pada jarak yang telah ditentukan dibuat lubang sedalam + 15 cm dan

bergaris tengah + 20 cm. Lubang-lubang tersebut kemudian diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5 kg (satu genggam besar) dan diberi TSP

sebanyak + 5 gram. Lubang ditimbun tanah, kemudian diaduk-aduk sehingga kompos atau pupuk kandang, TSP dan tanah tercampur rata. Pemberian Mulsa Dewasa ini penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa (penutup tanah) telah banyak dipergunakan oleh para petani. Penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa lebih praktis dibandingkan dengan penggunaan sisa-sisa tanaman yang telah mati, misalnya jerami padi. Teknik Penanaman Penentuan Pola Tanam Tomat dapat ditanam dengan 2 macam jarak tanam yaitu dengan sistem dirempel dan sistem bebas.
1. Sistem dirempel

Jarak tanam sistem ini adalah 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm, bujur sangkar atau segitiga sama sisi. Cara menanam dengan sistem ini maksudnya yaitu tunas-tunas yang tumbuh diambil (dipotong) sedini mungkin, sehingga tanaman hanya memiliki satu batang tanpa cabang. 2. Sistem bebas Ukuran jarak tanam sistem bebas adalah 80 cm x 100 cm; 80 cm x 80 cm; 80 cm x 100 cm; 100 cm x 100 cm. Bentuk yang digunakan dapat berupa bujur sangkar, segipanjang atau segitiga sama sisi. Selain itu dapat juga dibuat antar barisan berjarak 100 cm, dan dalam barisan berjarak 50-60 cm. Cara menanam dengan sistem ini bertujuan membiarkan tunas-tunas yang tumbuh menjadi cabang-cabang besar dan dapat berubah. Pembuatan Lubang Tanam

Bedengan yang telah dipersiapkan untuk penanaman bibit, sehari sebelumnya hendaknya diairi terlebih dahulu supaya basah. Kemudian pada bedeng yang telah tertutup mulsa plastik dibuat lubang tanam dengan diameter 7-8 cm sedalam 15 cm. Lubang-lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Cara Penanaman Penanaman dapat dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau pakailah mulsa plastik hitam perak atau kertas alumunium.Mulsa tersebut harus sudah dipasang di bedengan sebelum bibit ditanam. Apabila tomat ditanam pada musim hujan pasanglah lebih dahulu atap plastik transparan (tembus cahaya) pada bedengan yang akan ditanami. Pemeliharaan Tanaman Penjarangan dan Penyulaman Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya tidak normal, misalnya tumbuh kerdil. Penyulaman sebaiknya dilakukan seminggu setelah tanam. Namun jika satu minggu sudah terlihat adanya tanaman yang mati, layu, rusak atau pertumbuhannya tidak normal, penyulaman sebaiknya segera dilakukan. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam penyulaman adalah bibit yang digunakan. Bibit yang digunakan untuk menyulam diambil dari bibit cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan bibit lain yang bukan bibit cadangan. Cara penyulamannya adalah apabila tanaman yang telah mati, rusak, layu, atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru ditempat tanaman terdahulu, dibersihkan dan diberi Furadan 0,5 gram bila dipandang perlu. Setelah itu, bibit yang baru ditanam pada tempat tanaman terdahulu dengan cara penanaman bibit terdahulu. Penyiangan Gulma yang tumbuh di areal penanaman tomat harus disiangi agar tidak menjadi pesaing dalam mengisap unsur hara. Gulma yang terlalu banyak akan mengurangi unsur hara sehingga tanaman tomat menjadi kerdil. Gulma juga dapat

menjadi sarang hama dan penyakit yang akan menyerang tanaman tomat. Pemberian mulsa plastik atau daun-daunan akan mengurangi gulma. Waktu penyiangan dapat dilakukan 3-4 kali tergantung kondisi kebun. Pembubunan Tujuan pembubunan adalah memperbaiki peredaran udara dalam tanah dan mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun yang ada di dalam tanah sehingga perakaran tanaman akan menjadi lebih sehat dan tanaman akan menjadi cepat besar. Tanah yang padat harus segera digemburkan. Pembubunan dilakukan dengan hatihati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya. Perempalan 1. Tunas yang tumbuh di ketiak daun harus segera dirempel/dipangkas agar tidak menjadi cabang. Perempalan paling lambat dilakukan 1 minggu sekali. Pada tanaman tomat yang tingginya terbatas, perempalannya harus dilakukan dengan hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel supaya tanaman tidak terlalu pendek. 2. Perempalan yang baik dilakukan pada pagi hari agar luka bekas rempalan cepat kering dengan cara: ujung tunas dipegang dengan tangan yang bersih, lalu digerakkan ke kanan kiri sampai tunas tersebut lepas. Apabila terlambat merempel, tunas akan cabang yang besar dan sukar putus. 3. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting tajam yang bersih. 4. Ketinggian tanaman tomat dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah sudah mencapai 5-7 buah.

Pemupukan

Pemupukan

bertujuan

merangsang

pertumbuhan

tanaman.

Tata

cara

pemupukan adalah: 1. Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu setelah ditanam, harus segera diberi pupuk buatan. Dosis pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan dilakukan di sekeliling tanaman pada jarak 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Pupuk Urea dan KCl tidak boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman. 2. Pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl sebanyak 5 gr. Pemupukan dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh 5 cm dan dalamnya 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. 3. Bila pada umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh yaitu 7 cm. Penyiraman Pengairan Kebutuhan air pada budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman tomat dapat menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman tomat dapat mati keracunan karena kandungan oksigen dalam tanah berkurang. Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah menjadi proses reduksi. Keadaan tanah yang demikian menyebabkan kerontokan bunga dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan sehingga mengurangi pertumbuhan dan perkembangan generatif (buah). dan

Kekurangan air yang berkepanjangan pada pertanaman tomat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah apabila kekurangan air terjadi pada stadia pembentukan hasil dan dapat menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode pembungaan. Pemasangan Ajir Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh. Halhal yang perlu diperhatikan: 1. Ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara 100-175 cm, tergantung dari varietasnya. Untuk penanaman dalam green house yang modern dapat menggunakan tali (warna putih) seperti yang terlihat dalam gambar sebelah. 2. Pemasangan ajir dilakukan

sedini mungkin, ketika tanaman masih kecil akar masih pendek, sehingga akar tidak putus tertusuk ajir. Akar yang luka akan memudahkan tanaman terserang penyakit yang masuk lewat luka. Jarak ajir dengan batang tomat 10-20 cm. 3. Cara memasang ajir bermacam-macam, misalnya ajir dibuat tegak lurus atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Agar tidak dimakan rayap, ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah. 4. Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir. Pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman tomat dapat berdiri.

Pengikatan dilakukan dengan model angka 8 sehingga tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih. Setiap bertambah tinggi 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi agar batang tomat selalu berdiri tegak.

STUDY KASUS Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2003 sampai dengan Oktober 2003 di Kebun Percobaan Politani Negeri Lampung dilanjutkan di Laboratorium Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk majemuk NPK dan kalsium terhadap mutu fisik buah tomat. Perlakuan disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan. Sebagai faktor pertama adalah dosis pupuk majemuk NPK (15 15 15) dengan taraf 0, 150, 300, 450, dan 600 kg/ha,

sedangkan sebagai faktor kedua adalah dolomit (CaCO3 .MgCO3) dengan taraf 0, 1, 2, dan 3 ton/ha. Dolomit (CaCO3 .MgCO3) dicampur dengan tanah sebagai media tumbuh 2 minggu sebelum tanam dengan dosis sesuai perlakuan. Pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 0,5 kg per pot dicampurkan dengan tanah sesaat setelah pelaksanaan pencampuran dolomit merata. Benih tomat (3 4 butir) varietas `Epoch ditanam langsung pada tiap-tiap pot yang berukuran 10 kg dan berisi tanah PMK Lampung. Penjarangan tanaman menjadi 1 tanaman/pot dilakukan setelah munculnya daun ke dua. Jarak antarpot dalam barisan 50 cm, sedangkan antarbarisan adalah 80 cm. Pertumbuhan tanaman dibatasi sampai dengan cluster bunga ke 6 (Veliath dan Ferguson, 1972). Semua tunas ketiak (sucker) dicabut atau tidak dibiarkan berkembang sedini mungkin, sehingga hanya batang utama yang berkembang. Irigasi tanaman dilakukan dengan pemberian air sebanyak sampai dengan 2 liter/potlhari (tergantung umur tanaman). Separuh dari dosis pupuk majemuk diberikan pada saat tanam, sedangkan sisanya diberikan pada saat tanaman menjelang berbunga. Pemanenan buah tomat dilakukan 2 3 kali seminggu. Buah tomat dipanen pada fase semburat (breaker).Pengamatan yang dilakukan adalah meliputi: 1) bobot kering (BK) akar, batang, dan daun, 2) tingkat kehijauan daun (leaf greeness), 3) jumlah buah pertanaman, 4) bobot per buah, 5) volume buah, 6) bobot buah per tanaman, 7) ukuran buah: kecil (< 4,5 cm), sedang ( 4,5 5,5 cm), besar (5,5 6,5 cm), dan sangat besar (> 6,5 cm), bobot buah layak jual, 9) mutu fisik (meliputi gangguan fisiologis maupun non-fisiologis) Data dianalisis dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada selang kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi kalsium (dalam bentuk dolomit) bersamaan dengan pupuk majemuk NPK mempengaruhi pertumbuhan perakaran, seperti terlihat dari nilai distribusi bahan kering ke akar. Hasil buah tertinggi diperoleh dari kombinasi perlakuan 450 kg/ha pupuk majemuk NPK dan 3 ton dolomit/ha, hasil ini terlihat secara konsisten pada komponen-komponen basil buah (jumlah buah, bobot buah, volume buah, dan bobot buah per tanaman). Hasil analisis juga menunjukkan bahwa meningkatnya tingkat kehijauan daun,

sebagai penduga kandungan klorofil, secara linier dapat meningkatkan basil bobot buah per tanaman. Aplikasi dolomit (mulai 2 ton/ha) dan pupuk majemuk NPK (mulai 150 kg/ha), masing-masing dapat menurunkan persentase buah berukuran kecil dan sebaliknya meningkatkan persentase buah ukuran besar. Aplikasi dolomit (mulai 1 ton/ha) dan pupuk majemuk (mulai 150 kg/ha), masing-masing dapat menurunkan persentase kejadian busuk ujung buah dan retak buah, yang berakibat pada meningkamya bobot buah layak jual (marketable fruit).

DAFTAR PUSTAKA Hadi, Syamsoel. 2007. UPAYA PENINGKATAN MUTU FISIK BUAH TOMAT(Lycopersicon Esculentum Mill.) MELALUI APLIKASI KALSIUM DAN PUPUK MAJEMUK. Di download pada tanggal 12 april 2010 pada pukul 15.48 di http://pustakailmiah.unila.ac.id/2009/07/06/upayapeningkatan-mutu-fisik-buah-tomatlycopersicon-esculentum-mill-melaluiaplikasi-kalsium-dan-pupuk-majemuk/

Tjandramukti. OPTIMALISASI PERTANIAN DENGAN DUKUNGAN TANAMAN IDEAL DALAM USAHA MENINGKATKAN PRODUKSI HASIL PERTANIAN DI DAERAH TROPIS/INDONESIA. Di download pada tanggal 12 april 2010 pada pukul 14.55 di http://www.tanindo.com/abdi4/hal0901.htm Pudjiatmoko. 2008. Budi Daya Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.). available at http://atanitokyo.blogspot.com/2008/12/budi-daya-tomat-lycopersiconesculentum.html diakses pada 12 April 2010 pukul 20.38. Prabowo, abror yudi. 2007. BUDIDAYA TOMAT. Available at http://teknisbudidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-tomat.html. di akses pada 12 April 2010 pukul 20.31