Anda di halaman 1dari 16

Muhammad Hasrul Dosen Fakultas Hukum Unhas QUO VADIS PENGAWASAN DPRD DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DAERAH

Abstract :

Latar Belakang Pelaksanaan hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah melahirkan adanya 2 (dua) macam organ pemerintahan di daerah, yaitu pemerintah daerah dan pemerintah wilayah.2 Pemerintah daerah adalah organ daerah otonom yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri dalam rangka desentralisasi. Sedangkan pemerintah wilayah adalah organ pemerintah pusat di wilayah-wilayah administratif dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi yang terwujud dalam bentuk provinsi dan ibukota negara, kabupaten/kota, yang tentu saja tidak terkait dengan kewenangan yang muncul dari otonomi daerah. Asas desentralisasi dalam pelaksanaan otonomi adalah memberikan keleluasaan organ daerah otonom yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri dalam rangka desentralisasi. Dalam asas desentralisasi terjadi penyerahan wewenang sepenuhnya dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah tentang urusan tertentu, sehingga pemerintahan daerah dapat mengambil prakarsa sepenuhnya, baik yang menyangkut policy, perencanaan, pelaksanaan, maupun pembiayaannya. Pemerintahan daerah melaksanakan urusan pemerintahan yang dilimpahkan agar menjadi urusan rumah tangganya sendiri. Era globalisasi menghadapkan Indonesia pada suatu tuntutan untuk melaksanakan pembangunan disegala bidang secara merata, termasuk juga menuntut kesiapan setiap daerah untuk mampu berPengawasan serta didalamnya. Antisipasi terhadap arus globalisasi ini diperlukan setiap daerah, terutama berkaitan dengan peluang dan tantangan penanaman modal asing di daerah dan persaingan global di daerah. Dalam otonomi daerah, daerah menjadi lebih leluasa dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya, dan memberi kesempatan tumbuhnya iklim yang lebih demokratis di daerah. Pemerintahan daerah yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah semacam keleluasaan daerah dalam mewujudkan otonomi yang luas dan bertanggungjawab untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, prakarsa dan aspirasi masyarakat, atas dasar pemerataan dan keadilan, serta sesuai dengan kondisi, potensi dan keanekaragaman daerah. Untuk itu, pemerintah daerah perlu mempunyai kemauan sungguh-sungguh dan kesiapan untuk mampu melaksanakan kebijakan otonomi daerah untuk kepentingan rakyat

daerahnya. Otonomi daerah seharusnya dipandang sebagai suatu tuntutan yang berupaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, menurut James W. Fesler sebagaimana dikutip J. Kaloh, otonomi daerah bukanlah tujuan tetapi suatu instrumen untuk mencapai tujuan. Lembaga Legislatif dalam hal ini adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disingkat DPRD) sebagai salah satu institusi lokal dianggap sebagai wahana untuk bisa memberdayakan masyarakat daerah dalam era otonomi daerah. Sebelum era Reformasi, DPRD yang mewakili rakyat daerah tidak berdaya menghadapi kekuatan pemerintah pusat dan kepala daerah. Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa DPRD bersama rakyat di daerah terpinggirkan dari berbagai proses pembangunan yang sebenarnya menjadi haknya untuk terlibat dan melakukan kontrol. Kehadiran Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (sebagai pelaksanaan amanat Ketetapan MPR Nomor XV/MPR/1998 pada Sidang Istimewa MPR 1998) dan kemudian digantikan oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dinilai dapat memberikan pembaharuan sistem pemerintahan daerah di Indonesia, sehingga diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi daerah dalam rangka menjalankan rumah tangganya sendiri sesuai dengan kepentingan rakyat daerah. Berdasarkan Pasal 19 ayat (2) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, DPRD adalah mitra sejajar dari Kepala Daerah sebagai pemimpin pemerintah daerah, karena kedua lembaga ini merupakan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan daerah, sehingga secara bersama-sama melaksanakan pemerintahan daerah. Besarnya kewenangan yang diberikan oleh Undang-undang kepada DPRD ternyata tidak berbanding lurus dengan pelaksanaan fungsinya yang optimal. DPRD terkesan menutup mata terhadap banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh aparat dalam hal ini pemerintah dan bahkan oleh anggota DPRD sendiri. Kuatnya keterikatan politik, keterikatan kelompok dan keterikatan pribadi membuat DPRD tidak maksimal dalam melaksanakan fungsi dan kewenangannya. B.Kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Salah satu ciri Negara Demokrasi adalah kedudukan rakyat sebagai pemilik pemerintahan (people own government). Sebagai pemilik pemerintahan, maka kedaulatan berada di tangan rakyat. Dalam hal ini rakyat ikut aktif dalam pemerintahan dan memiliki kewenangan untuk melakukan social control terhadap jalannya pemerintahan. Konsekuensinya pemerintah yang terbentuk harus berusaha menyenangkan rakyatnya, sehingga rakyat merasakan bahwa pengelolaan pemerintahan dilakukan secara baik. Hal ini akan menyebabkan dukungan rakyat terhadap pemerintah akan semakin besar (legitimasi). 2

Sisi lain dari reformasi politik ini akan berdampak pada pemerintahan daerah adalah perubahan peran DPRD yang sebelumnya dianggap hanya merupakan stempelnya pemerintah menjadi pihak yang mengawasi pemerintah. Hal ini sebagai konsekuensi dari terlepasnya pengaruh pemerintah dalam rekrutmen anggota legislatif, sehingga para anggota yang terpilih akan lebih setia kepada masyarakat pemilihnya dari pada pihak eksekutif di daerah. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18 (3) menyebutkan pemerintah daerah, daerah kabupaten dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. Kedudukan DPRD merupakan Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah, sebagaimana disebutkan dalam UU NO. 32 Tahun 2004 (pasal 41) DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, hal yang sama juga dijelaskan dalam UU No. 22 Tahun 2003. Peran dan kedudukan DPRD juga jelas diatur dalam UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan MPR, DPR, DPD, DPRD, yang membawa implikasi pada pergeseran peran DPRD secara signifikan, dimana kedudukan DPRD sejajar dengan eksekutif bahkan terkesan kuat. Fungsi yang memberikan kesan kuat dalam kedudukan DPRD adalah adanya hak-hak yang dimiliki seperti hak interpelasi, angket dan menyatakan pendapat. Sedangkan yang menjadi tugas dan wewenang DPRD antara lain membentuk Perda, membahas dan menyetujui Rancangan APBD, melaksanakan pengawasan, mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala/Wakil Kepala Daerah, meminta laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah dan lain-lain. Peran DPRD dalam menjalankan fungsi legislasi merupakan perwujudan lembaga ini sebagai lembaga perwakilan rakyat. Dalam sebuah Negara yang menganut sistem demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahannya maka kekuasaan ini tidak berada pada satu tangan tapi adanya pemisahan kekuasaan. Salah satu diantaranya adalah kekuasaan legislatif. Kekuasaan yang dijalankan lembaga perwakilan ini dalam perwujudannya antara lain pada tingkat pemerintah daerah adalah membentuk program daerah. Peraturan Daerah yang akan ditetapkan oleh Kepala Daerah harus terlebih dahulu diajukan ke DPRD untuk dibahas dan disetujui. Dengan demikian pemerintah tidak dapat membuat kebijakan dengan sewenang-wenang karena DPRD akan membatasinya sesuai dengan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Peran budgetair (anggaran) yang dilaksanakan oleh DPRD terlihat pada tugas dan wewenang DPRD yang salah satunya adalah membahas dan menyetujui rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah bersama dengan Kepala Daerah. Sekalipun APBD ditetapkan oleh Peraturan Daerah, namun usul inisiatifnya harus datang dari pemerintah daerah sebagai pihak pelaksanaan (eksekutif) yang memerlukan anggaran untuk mendukung program dan rencana kerja yang telah dibuat. Keterlibatan DPRD dalam penyusunan APBD ini adalah supaya susunan anggaran yang diusulkan eksekutif sesuai dengan prioritas kebutuhan daerah, dalam hal ini agar anggaran yang ada betul-betul mencerminkan kepentingan rakyat.

Peran pengawasan DPRD secara tegas disebutkan dalam UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 Pasal 42 ayat 1 huruf c bahwa DPRD mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan Kepala Daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Kebijakan Pemerintah, dan kerjasama internasional di daerah. Untuk mengimplementasikan fungsi DPRD tersebut, maka DPRD memiliki hak (pasal 43 ayat 1) yaitu hak interpelasi ialah hak DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara, sedangkan hak angket ialah pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu kepala daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah dan negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangundangan. Hak lainnya yang dimiliki DPRD adalah hak menyatakan pendapat yaitu hak DPRD untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan kepala daerah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. C. Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sebagai jabaran lebih lanjut dari UUD 1945, sejak proklamasi kemerdekaan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia telah dibentuk Undangundang tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah sebagai peletak dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah otonom kemudian di awal reformasi telah dibentuk Undangundang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian lahirlah Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah disebutkan didalamnya pada pasal 40 bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. Lebih lanjut dalam pasal 41 disebutkan bahwa DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Secara garis besar terdapat tugas fungsi pokok DPRD, yaitu : a. Fungsi perundang undangan (legislative function) b. Fungsi penganggaran (budgeting function) c. Fungsi pengawasan (control function) Selanjutnya dikatakan bahwa berdasarkan fungsi-fungsi tersebut melahirkan sejumlah kekuasaan-kekuasaan tertentu, selain itu juga DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. Membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama; b. Membahas dan menyetujui rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah bersama dengan kepala daerah; 4

c. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang undangan lainnya, peraturan kepala daerah, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerja sama internasional di daerah; d. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD dan kepada Menteri dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota; e. Memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah; f. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah; g. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah; h. Meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintah daerah; i. Membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah; j. Melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah; k. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. Jimly Asshiddiqie (2005: 39-40) mengatakan bahwa tugas pokok lembaga parlemen itu di mana-mana adalah: a. Mengambil inisiatif atas upaya pembuatan undang-undang. b. Mengubah atau amandemen terhadap berbagai peraturan perundangan. c. Mengadakan perdebatan mengenai kebijaksanaan umum. d. Mengawasi pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembelanjaan Negara. Priyatmoko (Budiardjo et al, 1997:122) mengemukakan tiga fungsi legislatif, yaitu fungsi representasi, fungsi pembuatan keputusan dan fungsi pembentukan legitimasi. Selanjutnya dijelaskan bahwa fungsi representasi, DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat yang anggotanya mencerminkan keanekaragaman baik demografis (jenis kelamin, umur dan wilayah), sosiologi (strata sosial), ekonomi (pekerjaan pemilikan), kultural (adat, kepercayaan, agama, orientasi sosial dan kesenian), maupun politik di dalam masyarakat. Untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan fungsi representasi, maka beberapa pertanyaan yang perlu dijawab, seperti: seberapa besar keanekaragaman tadi termanifestasikan dalam badan perwakilan ini serta bagaimana wujud interaksi dan komunikasi perwakilan rakyat dengan masyarakat. Sedangkan fungsi pembuatan keputusan berkaitan dengan upaya mengidentifikasikan sekaligus pemecahan masalah dalam konteks mewujudkan kesejahteraan bersama. Pelaksanaan fungsi ini dapat diukur dari kemampuan lembaga perwakilan untuk mengidentifikasi dan memecahkan berbagai masalah dalam upaya mengantisipasi masa depan. Fungsi pembentukan legitimasi yang secara implisit di dalamnya tercakup fungsi pengawasan, yang merupakan fungsi DPRD yang urgen dalam 5

menghadapi eksekutif. Dengan fungsi ini, DPRD dapat membentuk citra pemerintahan umum, maka pimpinan dan atau kebijaksanaan yang dapat diterima atau mendapat dukungan rakyat. Implementasi fungsi akan menentukan stabilitas politik serta suasana kondusif, bagi aktifitas pihak eksekutif dalam menjalankan fungsinya secara efektif. Hotman P. Sibuea (1975: 39 - 40) bahwa Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai fungsi penting dalam sistem ketatanegaraan dan praktek penyelenggaraan Negara. Fungsi dimaksud adalah : pengawasan, legislasi, dan anggaran. Untuk melaksanakan ketiga fungsi ini Dewan memiliki beberapa hak yang diatur dalam tata tertib. Menurut M. Y. Tiyas Tinov (1974 : 92) bahwa menurut UUD 1945 ada tiga jenis kekuasaan yang melekat pada Dewan Perwakilan Rakyat, yaitu kekuasaan dalam bidang perundang-undangan, mengontrol anggaran, serta pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Sesuai tingkatannya maka di daerah terdapat DPRD yang berwenang membuat Peraturan Daerah bersama Kepala Daerah, mengontrol anggaran daerah, serta mengawasi jalannya pemerintahan daerah. D. Hak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam menumbuhkan semangat demokrasi, DPRD dalam menjalankan fungsinya menurut pasal 41 Undang undang No. 32 tahun 2004, DPRD juga diberikan hak menurut pasal 43 ayat (1) dan pasal 44 ayat (1). Pasal 43 ayat (1) DPRD mempunyai hak: a. Interpelasi (hak DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah dan Negara.) b. Angket (adalah pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu kepala daerah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah dan Negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangundangan.) c. Menyatakan Pendapat (adalah hak DPRD untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan kepala daerah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket.) Sedangkan Pasal 44 ayat (1) anggota DPRD mempunyai hak: a. Mengajukan Rancangan Peraturan Daerah; b. Mengajukan pertanyaan; c. Menyampaikan usul dan pendapat; d. Memilih dan dipilih; e. Membela diri; f. Imunitas; g. Protokoler; dan h. Keuangan dan administratif.

Menurut Undang-Undang No. 32 tahun 2004 di satu sisi DPRD diberikan hak-hak yang sangat luas agar dapat mengaktualisasikan fungsi-fungsinya, di sisi lain DPRD dibebani kewajiban-kewajiban, sesuai Pasal 45 yaitu: a. Mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan menaati segala peraturan perundangundangan; b. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah; c. Mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; d. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah; e. Menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat; f. Mendahulukan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan; g. Memberikan pertanggungjawaban atas tugas dan kinerjanya selaku anggota DPRD sebagai wujud tanggung jawab moral dan politis terhadap daerah pemilihannya; h. Menaati Peraturan Tata Tertib, kode Etik, dan sumpah/janji anggota DPRD; i. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait. Kendati Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 secara teoritis menempatkan DPRD pada posisi yang cukup menentukan dalam sistem demokrasi pemerintahan di daerah yaitu sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah disertai peran yang sangat luas, akan tetapi realitasnya bergantung dari komitmen dan tanggung jawab yang didasarkan pada etos dan moralitas yang tinggi (ligh standards of performance) DPRD itu sendiri. Hal ini akan menjadi tolok ukur juga bagi anggota DPRD sebagai wakil rakyat, penyerap sekaligus penyalur aspirasi rakyat di daerah yang mensyaratkan kualitas serta kemampuan intelektual dengan tidak melupakan tekad dan semangat para anggota DPRD itu sendiri. E. Pengawasan DPRD

Pelaksanaan pengawasan DPRD dari sudut implementasi hak sehingga pengawasan DPRD hanya ada dua kemungkinan, yaitu represif, setelah pekerjaan atau kegiatan dilaksanakan dan preventif, sebelum kegiatan dilaksanakan, karena kemungkinan itu terkait dengan substansi apa yang dibahas tatkala DPRD menggunakan fungsinya sehingga sampai pada kesimpulan, menerima atau menolak, yaitu dalam hal penggunaan fungsi pengawasan legislasi, anggaran, fiskal dan politis melalui penggunaan hakhak anggota DPRD. Artinya fungsi pengawasan dapat bermakna jika para anggota DPRD melaksanakan hak-haknya secara eksis sesuai dengan peraturan tata tertib DPRD dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Umumnya pengawasan preventif dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan, artinya segala sesuatu yang masih bersifat rencana. Sehubungan dengan fungsi pengawasan DPRD berarti keterlibatan DPRD sejak awal 7

penyusunan Peraturan Daerah, penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, dan pembuatan kebijaksanaan politik kepala daerah. Menurut Suwarno (1976: 145) bahwa pengawasan preventif dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan: a. Menentukan peraturan yang berhubungan dengan sistem prosedur, hubungan dan tata kerjanya; b. Membuat pedoman/manual sesuai peraturan yang telah ditetapkan; c. Menentukan kedudukan, tugas, dan wewenang, dan tanggung jawabnya; d. Mengorganisasikan segala macam kegiatan, penempatan pegawai dan pembagian kerjanya; e. Menentukan sistem koordinasi, pelaporan dan pemeriksaannya; f. Menetapkan sanksi terhadap pejabat yang menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan; Menurut Laica Marzuki (jasin, 2000: 63) bahwa DPR termasuk DPRD mempunyai beberapa fungsi pengawasan, yaitu: 1. Pengawasan legislasi; dilakukan oleh DPRD untuk mengetahui, memperjuangkan dan menjamin agar dalam penyusunan dan perubahan Peraturan Daerah serta pelaksanaannya selalu sejalan dengan aspirasi masyarakat. Melalui prakarsa pengajuan Peraturan Daerah atau amandemen terhadapnya maka para anggota DPRD dapat menyampaikan, memberikan usul penyempurnaan terhadap rancangan Peraturan Daerah atau perubahan Peraturan Daerah yang disampaikan kepada Daerah atau oleh para anggota DPRD yang bersangkutan. Hak mengadakan perubahan atas rancangan Peraturan Daerah yang sedang dibahas (amandemen) dan hal mengajukan rancangan peraturan daerah (hak prakarsa) merupakan dua hak DPRD dalam melaksanakan fungsi legislatifnya (membuat Peraturan Daerah). Pelaksanaan hak amandemen ini pada umumnya terjadi saat pembicaraan tingkat I, II, dan III, rapat fraksi, rapat-rapat komisi, ataupun rapat panitia khusus. Sedangkan pelaksanaan hak mengajukan rancangan Peraturan Daerah (hak prakarsa) memberi peluang yang besar kepada anggota DPRD untuk menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Hak prakarsa ini memberikan kesempatan kepada DPRD untuk berperan secara lebih aktif dan nyata, tidak hanya sekadar menanggapi apa yang datang dari lembaga perwakilan itu sendiri, sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat. 2. Pengawasan Anggaran; dilakukan oleh DPRD dengan tujuan agar penggunaan anggaran sesuai dengan program yang menyentuh kepentingan rakyat serta mempertimbangkan kemampuan daerah. Pengawasan anggaran dapat dilakukan DPRD saat penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setelah tahun anggaran berakhir. Pelaksanaan fungsi ini dilakukan dengan cara mengadakan rapat dengan unit-unit kerja yang memiliki sumber dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk meminta penjelasan/keterangan tentang

kelancaran atau hambatan pengeluaran dana yang tersedia. Selain itu mengadakan rapat kerja, rapat komisi, ataupun rapat panitia anggaran. 3. Pengawasan fiskal, dilakukan oleh DPRD untuk mengetahui sumber pendapatan yang berasal dari pajak daerah. Oleh karena itu ketika membuat suatu rancangan peraturan daerah tentang Pajak daerah, para anggota DPRD harus memperhatikan : (a) pajak itu belum pernah dipungut, (b) pajak daerah harus dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan instansi vertikal, (c) kemampuan masyarakat wajib pajak, (d) manfaat hasil pemungutan pajak, dan retribusi bagi masyarakat serta konstribusinya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 4. Pengawasan Politis; ditujukan kepada berbagai langkah kebijaksanaan yang ditempuh Pemerintah daerah sehubungan pelaksanaan tugas pemerintah daerah, bidang sosial politik, bidang pembangunan, perekonomian dan kesejahteraan rakyat, keuangan, perangkat wilayah/daerah, peralatan daerah, badan usaha milik daerah serta pembangunan desa agar tidak ada penyimpangan dari rencana atau pengaturan yang telah ditetapkan. Sementara Jimly (2005: 75) untuk lebih mempertegas posisi lembaga perwakilan maka kewenangan di bidang pengawasan diperkuat dengan penerapan hak subpoena yaitu hak untuk memanggil seseorang, disertai dengan ancaman pidana bagi yang tidak memenuhi panggilan tersebut. Pelaksanaan fungsi pengawasan yang dilakukan oleh DPRD merupakan salah satu fungsi yang dimiliki oleh lembaga ini dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD bersifat pengawasan politik, dimana penekanannya terletak pada kebijakan-kebijakan strategis dan bukan pengawasan teknis maupun administratif. Pengawasan merupakan salah satu hal yang dapat menjamin kesuksesan jalannya pemerintahan, akan tetapi tentu saja hal ini memerlukan pengawasan ekstra, mengingat kewenangan yang dimiliki pemerintah sangat luas setelah adanya Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah. DPRD sebagai lembaga legislatif memiliki posisi sentral yang biasanya tercermin dalam doktrin kedaulatan rakyat, hal ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa badan legislatif dapat mewakili rakyat dan memiliki kompetensi untuk memenuhi kehendak rakyat. Berkenaan dengan sistem pengawasan sebagaimana dijelaskan di atas maka kedudukan dan peranan DPRD cenderung menjadi sasaran dan sumber kontroversi. Satu di antara alasan yang mendasari adalah karena paradoks antara cita-cita yang mendasari pembentukannya dengan realitas sosial-politik yang berlaku. Banyaknya penyimpangan yang dilakukan aparat terkait merupakan hal nyata pada tingkatan lokal. Sebagai representasi rakyat di daerah, anggota DPRD mempunyai kewajiban untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah, terutama dalam penyelenggaraan pelayanan publik kepada masyarakat. Pengawasan bisa dilakukan secara individual maupun secara institusional.

Secara sederhana pengawasan DPRD dibedakan menjadi enam jenis: a. Pengawasan oleh Pimpinan DPRD yakni pengawasan yang laksanakan langsung atas nama pimpinan DPRD. b. Pengawasan oleh anggota DPRD, yakni pengawasan yang melekat pada kedudukan setiap anggota DPRD. c. Pengawasan oleh Komisi, yakni pengawasan yang ruang lingkupnya (objeknya) merupakan bidang tugas Komisi dan dilaksanakan oleh Komisi d. Pengawasan oleh Gabungan Komisi, yakni pengawasan yang ruang lingkupnya (objeknya) merupakan bidang yang menjadi tugas lintas Komisi dan dilaksanakan oleh dua Komisi atau lebih. e. Pengawasan oleh Kelompok Kerja (Pokja) dan pengawasan oleh Panitia Khusus (Pansus), yakni pengawasan yang dilakukan oleh alat kelengkapan DPRD yang dibentuk khusus untuk melakukan pengawasan. f. Pengawasan oleh Fraksi. Fraksi sesungguhnya bukan alat kelengkapan DPRD melainkan perpanjangan tangan partai politik untuk mengkomunikasikan agenda atau kepentingan partai politik bersangkutan dalam institusi DPRD. Meski demikian, fraksi memiliki fungsi pengawasan terhadap kebijakan dan kinerja pelayanan publik yang hasilnya dapat disampaikan langsung melalui alat kelengkapan dewan dan atau induk partai masing-masing sebagai sikap politik. F. Bentuk Pengawasan DPRD Bentuk pengawasan DPRD dapat dibagi dalam beberapa kelompok, diantaranya: (a) merespons pengaduan masyarakat, (b) pengawasan ke unit layanan, (c) pengawasan ke SKPD, dan (d) pengawasan kepada Kepala Daerah. (a). Merespons Pengaduan Masyarakat Penerima manfaat langsung pelayanan publik adalah masyarakat, sehingga masyarakatlah yang merasakan langsung apakah pelayanan publik dilaksanakan dengan baik atau tidak. Agar DPRD bisa mendapat informasi yang selalu up to date tentang pelaksanaan pelayanan publik, DPRD harus mempunyai wadah atau mekanisme yang bisa menampung keluhan dan aspirasi masyarakat. Pasal 81 (6) UU No. 22/2003 menyatakan bahwa DPRD mempunyai kewajiban menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Aspirasi masyarakat di sini bisa berarti usulan, kritik, gagasan, bahkan komplain atau pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan maupun kualitas pelayanan publik yang diterimanya. Dalam prakteknya, penyampaian pengaduan masyarakat dilakukan melalui beragam media. Secara formal melalui surat resmi, secara lisan menemui langsung anggota DPRD, melalui SMS, membuat pernyataan di media massa, melalui unjuk rasa, dan lain-lain. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengaduan dari masyarakat yang disampaikan secara sistematis oleh organisasi masyarakat sipil, diantaranya dalam bentuk hasil survei maupun polling pendapat masyarakat. Selain itu, untuk menyerap, menghimpun, dan menampung aspirasi masyarakat DPRD bisa melakukannya secara proaktif melakukan pendekatan ke masyarakat. Secara institusional maupun individual, DPRD juga bisa melakukan langkah responsif dengan menginisiasi dan mengembangkan pos pengaduan. Upaya ini sangat 10

strategis, karena DPRD bisa mendapatkan masukan maupun umpan balik dari masyarakat dan bisa memberikan pengayaan bagi DPRD dalam melakukan pengawasan terhadap pelayanan publik, baik secara prosedural maupun secara substansial. Secara prosedural, dalam arti bahwa input maupun umpan balik yang dihimpun oleh DPRD mempunyai legitimasi prosedural untuk dibahas lebih lanjut dalam mekanisme pembahasan di DPRD dan pengayaan secara substansial dalam arti bahwa pengaduan sebagai masukan dan umpan balik yang diperoleh dari masyarakat menjadi lebih berkualitas. Hal ini dimungkinkan, jika masyarakat merasakan manfaat konkret dari pengaduan yang dilakukannya kepada DPRD. Pengaduan dari masyarakat akan menjadi lebih berkualitas sebagai aspirasi jika didukung oleh mekanisme pengelolaan yang sistematis, baik di aspek penyerapan, menghimpun, maupun menampung. Berdasarkan data pengaduan yang dihimpun secara sistematis, DPRD bisa melakukan tindak lanjut yang lebih mendasar. Mulai dari meminta keterangan kepada pelaksana pelayanan publik, baik di tingkat unit pelayanan maupun ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), maupun membawanya dalam pembahasan di alat kelengkapan DPRD. Banyak jenis pengaduan yang bisa disiapkan oleh DPRD, di antaranya: 1. Membentuk tim penerima aspirasi untuk menerima aspirasi masyarakat yang datang langsung ke gedung DPRD. 2. Mengembangkan posko aspirasi 3. Website yang dibentuk dewan masing-masing daerah. 4. Pesan singkat (SMS) dengan nomor khusus. 5. Bisa bekerjasama dengan media cetak untuk membuka pengaduan layanan publik. 6. Lewat telepon on-line. 7. Persuratan 8. Facsimile. 9. E-mail (b). Pengawasan ke unit layanan Masyarakat mendapatkan pelayanan publik secara langsung melaui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), antara lain sekolah, puskesmas, kantor kelurahan/kecamatan, kantor kependudukan dan catatan sipil, dan lain-lain. Selain itu, masyarakat juga bisa mendapatkan pelayanan publik melalui unit-unit pelayanan publik yang diselenggarakan oleh badan usaha swasta, seperti sekolah swasta, klinik pengobatan atau rumah sakit swasta, dan lain-lain. Untuk menjamin pelaksanaan pelayanan publik berjalan dengan baik dan masyarakat mendapatkan kualitas barang dan jasa dengan baik, yang sesuai dengan standar pelayanan minimal, anggota DPRD bisa melakukan pengawasan langsung ke unit-unit pelaksana teknis daerah. Pengawasan bisa dilakukan secara proaktif dengan melakukan peninjauan lapangan secara acak ke UPTD maupun sebagai respons positif terhadap pengaduan masyarakat. (c) Pengawasan ke SKPD (termasuk unit layanan) SKPD merupakan institusi penentu kebijakan, perencana dan penyelenggara pelayanan publik di sektor tertentu. Dalam pelaksanaan pelayanan publik langsung ke masyarakat, SKPD didukung oleh UPTD (dan service provider swasta). Dalam hal ini, SKPD memberikan mandat dan alokasi anggaran kepada UPTD atau perusahaan 11

penyedia barang dan jasa. Selain itu, SKPD juga melakukan supervisi dan pengendalian kepada UPTD. Dalam konteks ini, jika ada tindakan atau kebijakan UPTD atau penyedia layanan yang merugikan masyarakat sebagai penerima manfaat pelayanan publik, DPRD juga perlu meminta keterangan kepada pejabat SKPD terkait. (d) Pengawasan kepada Kepala Daerah (Bupati/Walikota) Pengawasan oleh DPRD kepada Kepala Daerah dilakukan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik secara keseluruhan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah pada umumnya. Pengawasan terhadap Kepala Daerah oleh DPRD setiap tahun dilakukan terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ). Dalam Pasal 27 (2) UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa Kepala Daerah mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah, dan memberikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban kepada DPRD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. LKPJ dapat memuat mengenai realisasi program dan kegiatan yang telah disepakati dalam arah kebijakan umum APBD sampai dengan akhir tahun anggaran (SE Mendagri No. 903/ 2429/SJ tanggal 21 September 2005,. format, prosedur, tata cara, waktu, isi, jenis laporan ditegaskan dalam Surat Mendagri No. 120/1306/SJ tanggal 7 Juni 2005). Agar bisa menilai LKPJ bupati/walikota dengan baik, anggota DPRD seharusnya melakukan uji petik terhadap beberapa proyek pembangunan infrastruktur, pengadaan barang dan jasa dalam penyelenggaraan bidang pendidikan dan kesehatan, serta mengidentifikasi penerima manfaat anggaran publik di bidang pelayanan dasar, apakah sampai ke masyarakat sebagai penerima manfaat atau tidak. Terutama untuk program maupun proyek yang mendapatkan alokasi anggaran yang besar. Misalnya, jika ada program pemberian beasiswa pendidikan yang anggarannya mencapai miliaran rupiah, anggota DPRD perlu mendapatkan informasi tentang penerima manfaat beasiswa tersebut. Hal ini untuk melihat apakah program beasiswa ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin atau tidak. Dalam proyek pembangunan infrastruktur berupa jalan, saluran irigasi, saluran drainase, maupun pasar, anggota DPRD bisa melakukan penelusuran pelaksanaan proyek dengan melibatkan konstituennya di daerah pemilihan. G. Pertanggungjawaban Hasil Pengawasan Pertanggungjawaban atas hasil pengawasan menjadi penting untuk akuntabilitas suatu pekerjaan. Bahkan dalam Undang-Undang nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk, secara tegas mengharuskan setiap anggota DPRD melakukan pertanggungjawaban atas kinerjanya. Mekanisme pertanggungjawaban tidak secara tegas diatur dalam undangundang nomor 22 tahun 2003 termasuk dalam UU nomor 32 tahun 2004, melainkan diatur dalam tata tertib masing-masing DPRD. Apa yang ingin didorong dalam Undang-Undang tersebut, adalah agar publik dapat mengetahui kinerja wakilnya di DPRD. Publik ingin mendapatkan informasi terhadap realisasi atas aspirasi yang dikeluhkan selama ini melalui lembaga DPRD. Sayangnya, informasi tersebut, selama ini sulit ditemukan sehingga mempengaruhi persepsi publik terhadap DPRD menjadi rendah. 12

Mekanisme pertanggungjawaban dapat dilakukan dalam bentuk: Pengawasan individual yang terencana lebih banyak diterjemahkan dalam bentuk kegiatan reses dengan pola penganggaran yang sudah baku, sehingga pertanggungjawabannya juga sudah baku. Setiap anggota DPRD dibebankan membuat pelaporan hasil pengawasan (selama reses) dan disampaikan kepada Pimpinan DPRD, baik melalui persuratan resmi yang ditembuskan kepada setiap anggota, fraksi, komisi termasuk sekretariat dewan dan media massa, maupun dalam sidang paripurna anggota DPRD. Bahkan anggota DPRD bisa meminta untuk dilakukan rapat resmi fraksi untuk menjadikan hasil pengawasan mereka sebagai agenda politik melalui fraksi di mana mereka bergabung selama ini. Substansinya adalah bagaimana memastikan hasil pengawasan menjadi bagian dari agenda lembaga yang dapat ditindaklanjuti. Pertanggungjawaban hasil pengawasan komisi biasanya dilaksanakan melalui rapat rutin mingguan internal anggota komisi yang biasa disebut rapat kerja mingguan komisi. Meski demikian secara kelembagaan berdasarkan tata tertib DPRD diagendakan rapat pleno DPRD untuk tiga bulan masa sidang (sebagian daerah ada enam bulan masa sidang). Dalam forum ini, masing-masing DPRD melalui sidang pleno paripurna akan menyampaikan hasil kinerja selama tiga bulan masa sidang. Hal yang sama dengan hasil pengawasan yang dilakukan gabungan komisi atau Pansus, dapat dilakukan dalam rapat internal anggota gabungan komisi dan/atau anggota Pansus, dan hasilnya ditujukan kepada pimpinan DPRD. Hasil pengawasan, baik individu, komisi dan gabungan komisi serta Pansus juga dapat dipertanggungjawabkan melalui rapat pimpinan yang diperluas. Hasil pengawasan DPRD bisa dipertanggungjawabkan melalui sidang paripurna atau dengan melibatkan masyarakat luas melalui forum evaluasi satu tahun masa sidang DPRD dan Yang terpenting pula, bagaimana hasil pengawasan tersebut terdokumentasi dalam bentuk laporan yang bagus dan terkelolah dengan baik serta mudah dan murah untuk diakses oleh Publik.

H. Penutup

Hasil pengawasan bisa menjadi bahan pertanggungjawaban kinerja DPRD, baik secara formal kelembagaan, kepada konstituen, maupun kepada publik. Salah satu bentuk pertanggungjawaban adalah menjadikan hasil-hasil pengawasan sebagai bahan untuk menyusun kebijakan publik di masa depan, baik berupa kebijakan anggaran daerah, sistem pelayanan publik, peraturan daerah, maupun rencana strategis daerah. Fungsi pengawasan sangat berkaitan erat dengan tiga fungsi lainnya. Efektifnya fungsi pengawasan akan meningkatkan kualitas fungsi legislasi, fungsi penganggaran, maupun fungsi representasi. Usulan perubahan peraturan maupun pembuatan peraturan baru di daerah akan jauh lebih baik apabila didasarkan pada hasil indentifikasi terhadap kondisi riil penyelenggaraan pelayanan publik. Pembahasan Rancangan APBD yang diajukan oleh pihak eksekutif juga akan 13

memiliki dasar yang kuat apabila didasarkan pada hasil pengawasan oleh DPRD terhadap pelaksanaan pelayanan publik di tahun-tahun sebelumnya Fungsi pengawasan DPRD belum sepenuhnya efektif, efisien dan belum proporsional. Hal tersebut disebabkan oleh melekatnya kepentingan pribadi, melekatnya kepentingan kelompok dan melekatnya kepentingan politik, serta keterbatasan pengalaman dan atau pendidikan baik formal maupun nonformal dalam bidang hukum dan pemerintahan. Hal-hal tersebut menyebabkan lemahnya fungsi pengawasan yg diemban oleh DPRD sehingga akan terjadi penyalahgunaan kewenangan dalam pelaksanaan pemerintahan didaerah. Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan, DPRD masih mengalami hambatan yakni, Pengawasan yang dilaksanakan oleh DPRD tidak ubahnya seperti pemeriksaan; Pengawasan yang dilaksanakan oleh DPRD belum sesuai dengan hak, tugas dan wewenang serta kewajibannya;Hak-hak DPRD belum dilaksanakan sepenuhnya.Bahwa dalam pelaksanaan fungsi pengawasan, DPRD hendaknya melepaskan diri dari kepentingan pribadi, kepetingan kelompok dan kepentingan politik yang nantinya akan mempengaruhi objektivitasnya. Untuk lebih memaksimalkan fungsi dan perannya, Setiap anggota DPRD juga diharuskan memiliki kemampuan dan pengalaman dalam bidang hukum dan pemerintahan baik itu berupa pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti mengikuti workshop, seminar, diklat tekhnis dan sebagainya. Melalui upaya internal peningkatan kedisiplinan dan kemampuan SDM anggota DPRD, maka kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pengawasan dapat dieliminir. Secara kelembagaan dengan adanya upaya-upaya tersebut menunjukkan adanya tekad dan semangat untuk dapat melaksanakan fungsinya secara optimal. Upaya lain dalam mengatasi kendala dalam melaksanakan fungsi pengawasan agar lebih optimal antara lain melalui : a. Peningkatan frekuensi dengar pendapat dan kunjungan kerja komisikomisi. b. Pemenuhan sarana dan prasarana kerja komisi. c. Pembentukan panitia khusus. d. Pembentukan panitia kerja. e. Pembentukan panitia anggaran. Di samping upaya yang bersifat internal juga sebaiknya dilaksanakan upaya yang bersifat eksternal yaitu menjalin hubungan dan kerjasama dengan pihak lain di luar DPRD untuk dapat memberikan masukan-masukan dalam melaksanakan fungsi pengawasan. Berdasarkan hasil-hasil pengawasannya, DPRD bisa mengajukan usulan perbaikan terhadap rencana strategis daerah. Komitmen nasional untuk memberikan pendidikan dasar 9 tahun dan layanan kesehatan gratis secara bertahap misalnya, perlu diwujudkan dengan mengusulkan rencana strategis daerah yang memuat secara bertahap perwujudan komitmen tersebut. Menimbang hal tersebut, sudah sepatutnya apabila DPRD mengalokasikan sumber daya yang lebih besar untuk mengoptimalkan fungsi pengawasan terhadap pelayanan publik, baik anggaran, waktu, maupun agenda kerja.

14

DAFTAR PUSTAKA Ali Faried, 1996. Hukum Tata Pemerintahan dan Proses Legislatif Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Asshiddiqie Jimly, 1994. Gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta. ------------------------, 2004. Format kelembagaan Negara dan Pergesaran Kekuasaan dalam UUD 1945. FH UII Press, Yogyakarta. ------------------------, 2005. Lembaga Negara dan Sengketa Kewenangan antar Lembaga Negara. Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN). Jakarta. --------------------------, 2005. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi . Konstitusi Press. Jakarta. Azhary, 1995. Negara Hukum Indonesia. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Bachrie Syamsul, 2006. Makalah Penerapan Good Governance (Tata Pemerintahan yang Baik) Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Ruang Pola kantor Bupati Maros, Maros. Budiardjo Miriam dan Ambong Ibrahim, 1995. Fungsi Legislatif Dalam Sistem Politik Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Cipto Bambang, 1995. Dewan Perwakilan Rakyat Dalam Era Pemerintahan Modern Industrial. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3).Konsolidasi gerakan menuntut tanggung jawab negara untuk pemenuhan hak dasar melalui penyelenggaraan pelayanan publik yang adil dan berkualitas. Jaringan Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3). Bandung. 2007 Sarundajang, S.H, 2001. Arus Balik Kekuasaan Pusat Ke Daerah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Soedirman Basofi, 2000. Otonomi Daerah Menuju Indonesia baru, Yayasan Pendidikan Tinggi Dakwah Islam, Jakarta Syarifin Pipin dan Jubaedah Dedah, 2005. Hukum Pemerintahan Daerah. Pustaka Bani Quraisy, Bandung. Sujamto, 1988. Otonomi Daerah yang Nyata dan Bertanggungjawab, Ghalia Indonesia, Jakarta. 15

Sujamto, 1990. Perspektif Otonomi Daerah. Bhinneka Cipta, Jakarta. Thaib dahlan, 1994. DPR dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Liberty, Yogyakarta. Una Sayuti, 2004. Pergeseran Kekuasaan Pemerintahan Daerah Menurut Konstitusi Indonesia, UII University Press, Yogyakarta. Pakpahan Muchtar, 1994. DPmR RI Semasa Orde Baru. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Local Governance Support Program, 2000. Pengawasan DPRD terhadap kebijakan publik, LGSP Jakarta. Purnomowati Dwi Reni, 2005. Implementasi Sistem Bikameral dalam Parlemen Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Widodo Joko, 2001. Good Governance. Insan Cendekia, Surabaya. Undang - Undang Dasar 1945 dan Amandemen Lengkap. Polyama Widyapustaka, Jakarta. Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Muh. Hasrul, S.H.,M.H Adalah Dosen Fakultas Hukum Unhas sejak thn 2002, Lahir di Gowa 18 April 1981. Menyelesaikan S1 & S2 di Fak.Hukum Unhas, sementara dalam proses untuk menyelesaikan Pendidikan Doktor (S3) Pada Fakultas Hukum Unhas, Konsultan Hukum Pemilukada, Aktif dibeberapa organisasi, Pengurus KNPI Propinsi Sulsel,Pengurus ICMI Orwil Sulsel, Pengurus HKTI Sulsel, Badan Hukum Kosgoro 1957 Sul-sel, Dewan Pembina HLSC dan Garda Tipikor Unhas, Pembina UKM Pramuka Unhas, serta aktif dibeberapa pusat kajian: CELDIS, Pusat Kajian Hukum dan Otonomi Daerah dll.

16