Anda di halaman 1dari 30

ANATOMI IKAN NILEM (Osteochillus haselti) DAN ANATOMI IKAN LELE (Clarias batrachus)

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok: 3 Asisten : Ardianti Maya Ningrum : B1J010201 : VII : Fajar Diyaaul Iman

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

ANATOMI KADAL (Mabouya multifasciata)

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok: 3 Asisten : Ardianti Maya Ningrum : B1J010201 : VII : Fajar Diyaaul Iman

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan merupakan organisme akuatik yang memiliki organ yang kompleks dan terdiri atas beberapa sistem organ yang saling bekerja sama melakukan aktivitas hidup. Ikan merupakan hewan vertebrata yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernafasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator (Adisoemarto, 2008). Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) hidup dilingkungan perairan tawar. Ikan ini memiliki bagian tubuh yang dibagi menjadi : caput (kepala) mulai dari moncong hingga batas operculum, truncus (badan) mulai dari belakang operculum hingga anus dan cauda (ekor) mulai dari anus hingga ujung sirip ekor. Kulitnya bersisik dan terdapat sirip pada beberapa bagian yaitu bagian dorsal (punggung), pectoral (dada), caudal (ekor), anal (dubur), dan abdominal (perut). Sirip pada ikan berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan dalam air dan untuk berenang. Ikan nilem mudah berkembang biak pada air yang mengalir. Ikan nilem dapat hidup di daerah atau tinggi dengan ketinggian 200-1000 meter dari permukaan air laut, terutama pada daerah ketinggian 800 meter. Bentuk tubuhnya steram line (langsing seperti torpedo) sehingga mudah bergerak bebas pada air deras (Asmawi, 1982). Ikan Lele (Clarias batrachus) hidup di lingkungan perairan tawar. Ikan ini memiliki bagian tubuh yang bagi menjadi : caput (kepala) mulai dari moncong hingga batas operculum, truncus (badan) mulai dari belakang operculum hingga anus dan cauda (ekor) mulai dari anus hingga ujung sirip ekor. Ikan Lele (Clarias batrachus) juga hidup di air tawar, namun dapat juga hidup di dalam lumpur atau

tempat yang mempunyai kosentrasi air yang sedikit. Seperti halnya ikan lain, Ikan Lele (Clarias batrachus) bernafas dengan insang yang ada di bagian kepala. Dan Ikan Lele (Clarias batrachus) juga memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut arborescent, organ yang merupakan membran yang berlipat-lipat dan penuh dengan kapiler darah, organ ini membantu Ikan Lele (Clarias batrachus) bernafas ketika Ikan berada di dalam lumpur. Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari), dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm (Effendi, 1979). Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dan Ikan Lele (Clarias batrachus) digunakan dalam praktikum ini karena, memilki susunan morfologi dan anatomi yang sederhana dan dapat mewakili dari species dari class Pisces yang mempunyai organ-organ penyusun yang lengkap dan jelas sehingga mudah diamati struktur tubuhnya.

II. KERANGKA PEMIKIRAN

Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) tergolong dalam keluarga Cyprinidae seperti Ikan Mas dan Ikan Tawes. Warna badan Ikan Nilem adalah keperakan namun di bagian punggung terkadang berwarna kehijauan. Ikan Nilem termasuk hewan herbivora karena memakan alga dan fitoplankton, tetapi bisa juga makan dedak dan ampas. Tubuh ikan tersebut terdiri dari caput (kepala), truncus (badan) dan cauda (ekor). Ikan nilem mempunyai ciri-ciri badan agak memanjang dan pipih kesamping (compressed ). Panjang badan antara 2,5 - 3 kali tinggi badan dan bagian moncong tumpul. Panjang badan maksimum mencapai 35 cm. Kulitnya tertutup oleh sisik, mengandung lendir dan memiliki ekor simetris (Djuhanda, 1981). Ikan Nilem merupakan ikan peliharaan yang berasal dari sungai. Ikan Nilem dapat dipelihara dengan baik pada daerah dengan ketinggian sekitar 500-800 meter di atas permukaan laut, dan lebih menyukai daerah perairan yang jernih (Bevelander dan Ramaley, 1998). Ikan jantan memiliki sepasang testis yang bentuknya memanjang yang terletak ventral dari ren. Ujung caudal mulai dari vas deferens yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Ikan betina memiliki sepasang ovarium yang panjang. Ovarium ini mempunyai rongga yang ke caudal kemudian masuk ke dalam oviduk, yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis dan melakukan fertilisasi secara eksternal. Telur dan sperma dilepaskan ke dalam air di sekitarnya dan fertilisasi terjadi diluar tubuh. Fertilisasi ini merupakan fertilisasi yang primitif (Villee et al., 1988). Ikan lele (Clarias batrachus) tergolong dalam keluarga Claridae. Ikan Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air

yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan. Tidak seperti ikan lainya, kita sedikit sulit untuk mengatakan bentuk badan lele secara tepat. Tengah badanya mempunyai potongan membulat, dengan kepala pipih kebawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed), jadi pada lele ditemukan tiga bentuk potongan melintang pipih kebawah, bulat dan pipih kesamping (Haryono, 2004). Ikan Lele dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang kadang-kadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang berguna untuk bergerak di air yang gelap. Ikan Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya. Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan (Haryono, 2004).

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kadal (Mabouya multifasciata) merupakan salah satu jenis reptil yang hidup di darat dan berjalan dengan melata, memiliki dua pasang kaki. Tubuh kadal tertutupi oleh kulit yang kering yang terdapat zat tanduk di sepanjang permukaan tubuhnya. Sisik pada daerah perut warnanya putih kekuning-kuningan, sisik pada daerah punggung berwarna antara kuning sampai coklat tua. Warna kulit pada kadal dapat berbeda-beda berdasarkan lingkungan, usia, keadaan fisiologis dan jenis kelamin kadal itu sendiri (Djuhanda, 1982). Kadal (Mabouya multifasciata) . Kadal merupakan hewan yang biasa hidup di tempat lembab dan mempunyai kebiasaan tinggal di daerah persawahan dan dekat dengan perairan. Tubuh kadal terdiri dari kepala (Caput) yang betuknya pipih dan meruncing ke bagian ujungnya, badan (Truncus) berbentuk bulat memanjang, dan ekor (Cauda) yang berbentuk bulat panjang meruncing ke ujungnya, cukup kukuh dan bersisik. Kadal mempunyai ekor tunggal dan mudah putus sebagai alat perlindungan diri dari predator atau biasa dikenal autotomi. Kadal mempunyai tanduk pada sisik yang berguna untuk mencegah hilangnya kelembaban dari tubuh juga untuk memudahkan bergerak. Kadal memiliki lidah yang bercabang yang mempunyai fungsi untuk mendeteksi adanya mangsa di sekitar lingkungannya (Brotowidjoyo, 1990). Kadal tergolong ordo Squamata yang mencakup 6.000 spesies yang masih hidup. Kadal yang memiliki sub-ordo Lacertilian mencakup kira-kira 180 spesies dan sekitar 20 genius yang tersebar di seluruh benua Eropa, Asia, dan Afrika. Pada praktikum ini menggunakan kadal (Mobouya multifasciata), karena kadal mudah di

dapat dan sebagai wakil dari class Reptilian yang tidak berbahaya, mudah dipelajari dan diamati strukutur anatominya (Storer, 1957).

II.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kadal (Mabouya multifasciata) merupakan hewan berkaki empat, termasuk ordo Squamata dan subordo Lacertilia. Kebanyakan kadal hidup di atas tanah berumput, diantara bebatuan, pepohonan, ada juga yang hidup di gurun pasir. Umumnya kulit mengkilap dan berwarna kehijauan sampai coklat. Kulit hewan ini bersisik sehingga mudah adaptasi di udara kering. Kulit pada reptilia tidak berfungsi untuk pertukaran gas sehingga tidak ada percampuran darah yang berasal dari dalam dan darah yang berasal dari luar (Storer, 1957). Sistem reproduksi dari reptil terjadi secara internal dan sebagian besar dari reptil bersifat ovipar dan telur berkembang di luar tubuh. Kelebihan utama reptil yang paling awal ialah perkembangan telurnya yang bercangkang dan berisi kuning telur yang dapat diletakkan diatas tanah. Cangkangnya selain kedap air juga kedap terhadap sperma. Dengan demikian perkembangan telur yang bercangkang terjadi bersamaan dengan perkembangan fertilisasi internal. Kadal jantan mempunyai 2 hemipenis yang terletak di samping kloaka (Jasin, 1989).

DAFTAR REFERENSI Adisoemarto, S. 2008. Taksonomi Asas, Konsep, dan Metode. Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Asmawi, S. 1982. Pemeliharaan Ikan dalam Karamba. PT Gramedia, Jakarta. Bevelander, G dan J.A., Ramaley.1998. Dasar-dasar Histologi. Erlangga, Jakarta. Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armiko, Bandung. Effendi, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. Haryono, A. 2004. Morphological Comparison among Striped Puntius (Pisces: Cryprinidae) from Indonesia. Biodiversitas 6 (1): 55-58. Hickman. 1992. C.P.Biologi of Animal. Mosay Company, Saint Louis USA. Kimball. 1991. Biologi jilid V. Erlangga, Jakarta. Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifkasi Ikan. Bina Cipta, Jakarta. Soetomo,Moch. 1989. Teknik Budidaya Lele. Algensindo, Bandung. Ville, C. A, Walker, W. F, and Smith, F. E. 1998. General Zoology. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

DAFTAR REFERENSI Brotowidjoyo, M. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta. Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi of Vertebrate Structure. United State Copyright, California.

Jasin. 1989. Sistematika hewan vertebrate dan invertebrate. Sinar Wijaya, Surabaya. Kimball, J. W. 1991. Biologi Jilid 3. Erlangga, Jakarta. Radiopoetro. 1991. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Romer, A.S. 1966. Vertebrate Paleontology Edisi ke-3. Unversity of Chicago Press, Chicago. Soetomo,Moch. 1989. Teknik Budidaya Lele. Algensindo, Bandung. Storer, TI. 1957. General Zoology. Kogashusha Company. LTD, Tokyo. Tjitrosoepomo, G. 1984. Mahluk hidup II. Yayasan Purna Usaha Tama. Departemen P dan K, Jakarta.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.

Kadal termasuk ke dalam phylum chordata, subphylum vertebrata, class reptilia, ordo squamata, subordo lacertilia, familia scincidae, genus mabouya, dengan nama spesies Mabouya multifasciata.

2. Tubuh kadal terbagi tiga yaitu: kepala, badan, dan ekor. Kadal mempunyai sistem pernapasan, reproduksi, ekskresi, peredaran darah, dan persyarafan. 3. Sistem pencernaan pada kadal terdiri dari mulut dilanjutkan ke faring, oesophagus, dan lambung dengan bagian fundus dan pylorus kemudian menuju ke intestinum, rectum, dan kloaka. 4. Jantung Kadal terdiri dari tiga ruangan yaitu dua Atrium dan satu Ventrikel.

5. Respirasi dimulai dengan masuknya udara ke nares externa kemudian masuk ke nares interna. Selanjutnya menuju trakea yang bercabang menjadi dua bronchi yang kemudian masing-masing menuju ke paru-paru. 6. Organ reproduksi kadal betina terdiri dari sepasang indung telur (ovarium) yang berwarna kuning, ovarium kanan pada hewan betina letaknya lebih tinggi dari yang kiri. Ovarium berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan bagian permukaannya benjol-benjol. Letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis, kadal jantan. 7. Sistem Urogenital Kadal Betina yang Organnya adalah Osteum Tuba, Ovarium, Oviduk, Ren, Ureter, Uterus, Vesica urinaria dan Kloaka. 8. Sistem ekskresi pada kadal terdiri dari sepasang ginjal, sepasang ureter, dan rongga kloaka.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.

Tubuh Ikan Nilem terdiri dari kepala (caput), badan (truncus) dan ekor (cauda). Seluruh badannya bersisik dan terdapat gurat sisi.

2.

Sirip pada Ikan Nilem antara lain Caudal fin, Dorsal fin, Anal fin, Abdomen fin, dan Pectoral fin.

3.

Sistem respirasi pada Ikan Nilem terdiri dari insang yang telah sempurna dengan empat ruang antara lain atrium kiri, atrium kanan, ventrikel kiri dan ventrikel kanan.

4.

Sistem pencernaan pada Ikan Nilem terdiri dari lidah, hati, gastrum, intestine, pancreas, kantung empedu.

5.

Sistem genitalia jantan terdiri atas testis, vas defferens yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis.

6.

Ikan nilem memiliki jantung yang terdiri dari arteri branchialis, sinus venosus, bulbul arteriosus, ventrikel, atrium, ductus cuvieri danvena hepatica.

7.

Sistem ekskresi Ikan Nilem terdiri ren, ureter, vesica urinaria, dan sinus urogenitalis.

8.

Ikan Lele (Clarias batrachus) seperti halnya ikan nilem tubuhnya terdiri dari tiga bagian yaitu kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (caudal). Tubuhnya memanjang dan memiliki kulit yang licin, ini karena pada ikan Lele tidak memiliki sisik di sepanjang tubuhnya.

9.

Ikan Lele memiliki alat respirsi tambahan berupa arborescent yang berbentuk seperti bunga karang.

10. Pada Ikan Lele tidak terdapat gelembung renang. Hal ini karena habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.

B. Pembahasan B.1 Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Klasifikasi Osteochillus hasselti menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata Class Ordo Familia Genus Spesies : Pisces : Ostariophysi : Cyprinidae : Cyprinus : Osteochillus hasselti

Hasil pengamatan anatomi Ikan Nilem didapatkan hasil bahwa tubuh Ikan Nilem dibagi menjadi tiga bagian kepala, badan dan ekor. Kepala atau caput yaitu mulai dari moncong sampai dengan batas tutup insang. Badan atau truncus mulai dari belakang tutup insang sampai dengan anus. Ekor atau cauda mulai dari

belakang anus sampai dengan ujung sirip ekor. Seluruh badannya bersisik, pada kiri kanan badan terdapat linea lateris atau gurat sisi, yang memanjang dari belakang tutup insang sampai ekor. Hal itu sesuai dengan pernyataan (Radiopoetro, 1977) bahwa tubuh ikan terdiri atas caput, truncus dan cauda, dimana tidak ada batas nyata sebagai batas antara caput, truncus dipandang tepi caudal operculum dan sebagai batas antara truncus dan ekor dipandang anus. Pernafasan dilakukan dengan menggunakan insang yang memiliki bagian bagian seperti lengkung insang, tapis insang, filamenfilamen insang dan septum branchialis. Organ pada Ikan Nilem yang berperan dalam sistem peredaran darah adalah jantung (cor) yang terdiri atas sinus venosus, atrium, dan ventrikel sedangkan organ yang menyusun sistem urinaria adalah ginjal yang terletak di antara gelembung renang dan tulang vertebrae, juga terdapat ginjal kepala (pronephros) yang terletak anterior dari ujung gelembung udara bagian depan. Sistem genitalia pada ikan terdiri atas sel kelamin jantan dan sel kelamin betina

yang terletak terpisah pada individu yang berbeda. Pembuahannya terjadi di luar tubuh. Otototot pada Ikan Nilem masih segmental dan dinamakan myomere yang dilengkapi dengan selaput pembungkus yang disebut myocomata (Kimball, 1991) Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan sehingga disebut hepatopankreas.Jantung atau cor terdapat di dalam cavum pericardii, terdiri atas sinus venosus, atrium, ventriculus dan bulbus arteriosus. Menurut Villee, et al., (1988), sebagian besar ikan, semua darah masuk ke dalam jantung melalui vena mempunyai kadar oksigen yang rendah dan karbondioksida yang tinggi, yaitu yang disebut darah vena. Jantung terdiri atas sebuah sinus venosus, sebuah atrium, sebuah ventrikel dan sebuah bulbus arteriosus yang tersusun dalam urutan linear. Kontraksi otot jantung meningkatkan tekanan darat yang di dalam vena sangat rendah dan mengeluarkan darah melalui arteri, aorta ventral. Kelima atau enam pasang lung aorta yang menjulur secara dorsal melalui kapiler di dalam insang aorta dorsal. Waktu darah melalui insang

karbondioksida dilepaskan dan oksigen diambil, sehingga darah yang memasuki pembuluh arteri kaya akan oksigen. Arteri dorsal membagi darah ini melalui cabang-cabangnya ke seluruh bagian tubuh. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) tergolong dalam keluarga Cyprinidae seperti Ikan Mas dan Ikan Tawes, mulutnya terpasang dua pasang kumis (barbells). Sistem pencernaannya terdiri atas lidah, hati, gastrum, intestine, pancreas, kantung empedu. Sistem pencernaan ikan terdiri dari: rahang ikan mempunyai banyak gigi kecil berbentuk kerucut untuk mengunyah makanan dan lidah kecil dalam di dasar rongga mulut membantu gerakan respirasi. Faring terdapat insang di sisi dan

samping lalu ke esophagus pendek mengikuti hingga timbul lambung atau gastrum.

Pyloric value terpisah belakang dari intestine. Tiga tubular pyloric caeca, fungsi mengabsorpsi, mengambil ke intestine. Pankreasnya tidak jelas (Asmawi, 1982). Menurut Villee, et al., (1988), pada sejumlah laut dan hewan air tawar, telur dan sperma dilepaskan ke dalam air di sekitarnya dan fertilisasi terjadi diluar tubuh dan fertilisasi ini disebut fertilisasi eksternal. Ikan jantan terdapat testis yang panjang. Mereka terletak ventral dari ren. Ujung caudal mulai vas defferens yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Ikan betina terdapat sepasang ovaria yang panjang. Ovaria ini mempunyai rongga yang caudal melanjutkan diri ke dalam oviduk, yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan. Ikan Nilem mendapat masukan air terus-menerus dari lingkungannya yang heipertonis. Sisik Ikan Nilem tidak tertembus oleh air. Ikan Nilem harus mengeluarkan air yang berlebihan agar terhindar dari pengenceran fluida. Pengeluaran ini dilakukan dengan cara menggunakan energi untuk memasukkan kembali ke lingkungannya (Kimball, 1991).

B.2. Ikan Lele (Clarias batrachus)

Klasifikasi Clarias batrachus (ikan lele) menurut Soetomo (1989), sebagai berikut : Phylum Klas Sub Klas Ordo : : : : Chordata (binatang bertulang belakang) Pisces (bangsa ikan bernapas dengan insang) Telestoi (ikan bertulang sejati) Ossariophyci

Sub Ordo Famili Spesies:

: :

Siluroidae (bentuk tubuh memanjang dan tidak bersisik) Claridae

Clarias batrachus

Di indonesia ada 6 jenis ikan lele yaitu : 1. Clarias Batrachus, yang dikenal sebagai Ikan Lele (Jawa), Ikan Kalang (Sumatera Barat), Ikan Maut (Sumatera Utara), dan Pintet (Kalimantan Selatan). 2. Clarias Teysmanni, yang dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih (Padang). 3. Clarias Melanoderma, yang dikenal sebagai Ikan Duri (Sumatera Selatan), Wais (Jawa Tengah), Wiru (Jawa Barat). 4. Clarias Neiuhofi, yang dikenal sebagai Ikan Lindi (Jawa), Limbat (Sumatera Barat), Kaleh (Kalimantan Selatan). 5. Clarias Loiacanthus, yang dikenal sebagai Ikan Keli (Sumatera Barat), Ikan Penang (kalimantan Timur). 6. Clarias Fuscus, yang dikenal sebagai Lele Dumbo (Lele Domba). King Cat Fish, berasal dari Afrika (Hickman, 1992). Ciri ciri Clarias batrachus yang membedakannya dengan ikan yang lainnya adalah badannya yang bulat memanjang, bagian badannya tinggi dan memipih kearah ekornya, tidak bersisik serta licin mengeluarkan lendir dan alat tambahan yaitu arboresent yang berfungsi untuk menyimpan oksigen pada saat di dalam lingkungan yang kadar oksigennya sedikit. Kepalanya gepeng dan simetris. Mulutnya lebar tidak bergigi. Pada sudut sudut mulut terdapat 4 pasang sungut ( misai atau barble ) sebagai alat peraba dan petunjuk. Ada yang diatas ( superior ) dan yang di bawah ( inferior ) (Villee, et al., 1988).

Punggungnya cembung, perutnya rata, gurat sisi rata sempurna ( merentang dari belakang tutup insang sampai ke pangkal ekor ). Warna tubuhnya seperti lumpur, punggungnya berwarna kehitam hitaman dan pada bagian perutnya berwarna lebih muda. Clarias batrachus mempunyai sirip yang lengkap. Gunanya untuk menggerakkan tubuhnya. Sirip punggungnya panjang, tetapi tidak bersinggungan dengan sirip ekor. Sirip ini terdiri dari jari jari sirip yang lunak. Jumlahnya mencapai 60 76 buah. Bagian tubuhnya yang lain adalah hepar, kantung empedu, gastrum yang sudah dapat dibedakan ( lambung ), intestum, gonad, clasper dan ren ( ginjal ) (Radiopoetro, 1977) Pada pengamatan anatomi, gonad jantannya berwarna putih dan betinanya berwarna kekuningan. Banyak sekali perbedaan umum jantan dan betina, diantaranya lele jantan lebih lincah dibandingkan betinanya, postur tubuh juga berbeda, dari warnanya jantan berwarna kehitaman dan betina abu abu kekuningan, dan dari bentuk gonadnya betina bentuknya bulat telur agak melebar serta jantaannya kelaminnya menonjol. Clarias batrachus mengadakan reproduksi dengan bertelur (Ovipar), memiliki panjang usu lebih sedikit dari pada panjang badannya. Lambungnya reletif lebih besar dan panjang. Jumlah hepar ( hati sepsang ). Jumlah gelembung udara sepasang. Dari segi lingkungan pada saat beristirahat ( tidak mencari mangsa / makan ), ikan lele hidup berkelompok dalam suatu kubangan / lubang perlindungan. Dalam situasi yang demikian hanya sekali saja muncul mengambil oksigen dari udara bebas. Sifat lain yang dimiliki ikan lele adalah suka meloncat dari permukaan air (Kimball, 1991).

B. Pembahasan

Menurut Radiopoetro (1991), Mabouya multifasciata diklasifikasikan sebagai berikut: Phylum Subphylum Class Ordo : Chordata : Vertebrata : Reptilia : Squamata

Subordo

: Lacertilia

Familia: Scincidae Genus : Mabouya

Spesies: Mabouya multifasciata Hasil pengamatan anatomi kadal didapatkan hasil bahwa tubuh kadal (Mabouya multifasciata) terbagi menjadi tiga bgian yaitu kepala, badan, dan ekor. Kadal mempunyai dua pasang kaki yang terletak pada bagian bawah, sepasang di depan, dan sepasang di belakang. Kulit kadal umumnya tertutup oleh lapisan squama epidermal yang menanduk, di bawahnya disokong oleh lamina derminalis yang menulang. Lubang pelepasan berupa celah tranversal (Radiopoetro, 1991). Sistem pencernaan kadal dibangun oleh kelenjar racun dari kelenjar saliva. Mulut mamalia mengeluarkan cairan enzim pencernaan. Modifikasi racun saliva terdapat 2 perbedaan racun, tergantung pada jenis kadal. Sistem pencernaan pada kadal dibantu lidah dan gigi. Lidah dapat dijulurkan keluar dengan mudah, gigigiginya melekat pada rahang. Makanan yang masuk ke mulut dilanjutkan ke faring, oesophagus, dan lambung. Lambung dengan bagian fundus dan pylorus. Dari lambung kemudian ke intestinum, rectum, dan kloaka. Hati dan pangkreas berpembuluh ke intestinum. Kloaka berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa pencernaan, ekskret, dan untuk reproduksi (Brotowidjaya, 1990). Lidah kadal dapat begitu ramping atau bebas melebar, taringnya ada bersama geligi,biasanya sama besar dan pendek Mabouya multifasciata mempunyai kulit yang bersisik dan kering yang kurang menembus air, sehingga cairan yang hilang dari badan melalui kulit sedikit. Cairan dari dalam tubuh kadal sulit untuk keluar, sehingga sulit terjadi penguapan.

Tulang rusuk pada kadal dapat bergantian merenggang kemudian merapat karena terdapat perangkat otot-otot tulang rusuk yang yang berlawanan (Kimball, 1991). Sistem sirkulasi dari kadal berupa jantung yang memperlihatkan kemajuan daripada amphibi meskipun aliran darah arteri dan vena tidak seluruhnya terpisah. Jantung terbungkus oleh suatu membran transparan, yaitu perikardium, dan dibatasi oleh endokardium (Parker and Haswell, 1978). Jantung kadal mempunyai empat ruang, dua atrium, dan dua ventrikel. Akan tetapi, sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum sempurna, sehingga terlihat jantung hanya terdiri dari tiga ruang (Djuhanda, 1982). Sistem urogenital kadal terdiri dari sepasang ginjal. Cairan dari ginjal keluar melalui ureter kemudian bermuara pada kloaka. Pangkal ureter terdapat vesica urinaria, organ urogenital betina terdiri dari sepasang indung telur (ovarium)yang berwarna kuning,seperti halnya testis pada hewan jantan,ovarium kanan pada hewan betina letaknya lebih tinggi dari yang kiri. Ovarium berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan bagian permukaannya benjol-benjol. Letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis. (Iqbal, 2007). Sistem urogenital terdiri dari ginjal sepasang berbentuk tidak teratur, berwarna merah tua, terdiri dari dua lobi anterior dan posterior (Parker and Haswell, 1978). Kadal mempunyai kantong kemih atau kantong urine yang berfungsi membawa air untuk melembabkan tanah yang akan digunakan sebagiai sarang. Ureter bermuara dalam kloaka dan akan diserap kembali ke dalam kantong urine (Djuhanda, 1982). Sistem urogenital kadal terdiri dari sepasang ginjal, dari ginjal keluar ureter yang bermuara di kloaka. Pada pangkal ureter terdapat vesica urinaria. Organ urogenital jantan terdiri atas sepasang testis, epidermis, vas deferens, dan sepasang

hemipenis. Hemipenis merupakan alat kopulasi yaitu untuk memasukkan sperma dalam tubuh kadal betina, sehingga kadal jantan mengadakan fertilisasi internal (Jasin,1989). Kadal merupakan binatang yang beradaptasi dengan lingkungannya mempunyai alat-alat yang sesuai untuk hidup didarat dengan kulit tebal bersisik dan berlendir, dua pasang kaki dengan jari dan cakar yang kokoh untuk bergerak cepat. Lapisan kulit terluar menanduk dan secara periodik akan mengelupas sedikit demi sedikit. Tubuh kadal dapat dibedakan antara lain: kepala (caput), badan (truncus) dan ekor (cauda) (Tjitroseupomo, 1984). Kelebihan utama reptilia paling awal terhadap amphibia adalah perkembangan telur yang bercangkang yang berisi kuning telur yang dapat diletakan di tanah tampa kemungkinana kering. Cangkang yang kedap air juga kedap terhadap sperma dan dengan demikian perkembangan telur yang bercangkang terjadi bersamaan dengan perkembangan fertilisasi internal (Kimball, 1991). Sistem pencernaan pada kadal dimulai dari mulut dilanjutkan ke faring, oesophagus, dan lambung dengan bagian fundus dan pylorus kemudian menuju ke intestinum, rectum, dan kloaka. Hati dan pancreas berpembuluh ke intestinum. Kloaka merupakan tempat bermuaranya sisa pencernaan, ekskresi, dan sel-sel kelamin (Brotowijoyo,1993). Sistem digestorium dibedakan menjadi tractus digestivus dan gladula digestoria. Tractus digestivus terdiri atas cavum oris, pharynx, esophagus, ventriculus, intestinum tenue, cecum, intestinum crassum yang berfungsi sebagai rectum dan kloaka. Gladula digestoria terdiri dari hepar dan pamkreas. Hepar berwarna coklat kemerahan terdiri dari dual obi, dexter dan

sinister. Empedu yang dihasilkan dihasilkan oleh hepar ditampung dalam kantong yang disebut vesica fellea. Pankreas terletak dalam suatu lengkung antara ventrikulus dan duodenum (Jassin, 1989). Respirasi dimulai dengan masuknya udara ke nares externa kemudian masuk ke nares interna. Kemudian melalui glottis sebagai celah lingua menuju ke larink. Larink tersusun atas tiga buah tulang rawan dan berisi beberapa pasang pita suara. Selanjutnya menuju trakea yang bercabang menjadi dua bronchi yang kemudian masing-masing menuju ke paru-paru (Jasin, 1989). Sistem respiratoria kadal terdiri atas rima glottis, laring, trachea yang merupakan lanjutan dari laring yang disusun atas cincin tulang rawan (annulus) trakhealis. Trakhea di daerah thorax bercabang dua menjadi bronchus. Bronchiolis adalah cabang-cabang dari bronchus yang masuk ke dalam pulmo. Percabangan trachea tersebut diatas disebut bifurcation tracheae. Pulmo berjumlah sepasang sinisters dexter dan berbentuk fusiformis (Radiopoetra, 1991). Kadal mempunyai panjang tubuh kurang dari 30 cm. Kulitnya lembab karena mengandung banyak kelenjar mukus dan hanya sedikit sisik yang menyokongnya ( liss = licin ). Lapisan luar yang menanduk dari kulit mengelupas secara berkala. Pada bagian tangan hanya terdapat 4 jari ( Romer, 1966).

III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA A. Alat Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bak preparat, pinset, pisau, gunting bedah dan jarum penusuk.

B. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan Nilem (Osteochillus hasselti ), Ikan Lele (Clarias batrachus), air kran, kloroform, formalin, dan tissue.

C. Cara Kerja Cara kerja praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Ikan dibius dengan menggunakan kloroform atau dimatikan dengan jarum penusuk. 2. Ikan digunting mulai dari lubang dubur ke arah anterior sepanjang medioventral tubuh kearah depan sampai dekat sirip dada (jangan sampai mengenai organ-organ yang terdapat di sebelah dalam). 3. Pengguntingan dilanjutkan dari anus ke arah tubuh bagian dorsal yang dilanjutkan ke arah anterior tubuh sampai ke tutup insang. 4. Organ-organ yang terlihat diamati dan nama-nama organ tersebut ditulis sesuai dengan gambar yang diberikan oleh asisten. 5. Ekor pada ikan dipotong melintang untuk mengamati penampang melintang. 6. Bagian tulang-tulang ekor diamati dan gambar-gambar yang diberikan oleh asisten diberi keterangan sesuai dengan bagian-bagian yang diamati pada preparat.

Gambar 2. Anatomi Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Keterangan Gambar : 1. Cor

2. Insang 3. Nose Stril 4. Pronephros 5. Nephros 6. Gonad 7. Vesica Metatoria 8. Hepar 9. Intestine 10. Porus Urogenitalis

Gambar 5. Tulang Ekor Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Keterangan Gambar : 1. Centrum Vertebrae

2. Taju Neural 3. Taju Haemal 4. Urostyle 5. Hyporalia