SOLUSIO PLASENTA

Pemberian kuliah mengenai SP – SOLUSIO PLASENTA mempunyai tujuan : Tujuan Instruksional Umum : Mahasiswa mampu untuk memahami gejala dan tanda Solusio Plasenta sehingga dapat menegakkan diagnosis dan memberikan penatalaksanaan yang tepat. Tujuan Instruksional Khusus : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menyebutkan batasan dan klasifikasi SP Menjelaskan faktor predisposisi dan etiologi SP Menjelaskan Gejala dan Tanda SP Menjelaskan cara menegakkan diagnosis SP Menjelaskan komplikasi SP Menjelaskan prinsip penatalaksanaan SP

SOLUSIO PLASENTA

Solusio plasenta ─ lepasnya plasenta dari tempat implantasi yang normal sebelum anak lahir. Angka kejadian 1 : 80 persalinan ; Solusio plasenta berat angka kejadian = 1 : 500 – 750 persalinan

darah keluar dari ostium uteri. Jenis perdarahan tersembunyi (concealed) : 20% 2. Kadang-kadang. ETIOLOGI Penyebab utama tidak jelas. komplikasi yang diakibatkan biasanya sangat berat dan 10% disertai dengan Disseminated Intravascular Coagulation. perdarahan terperangkap dalam cavum uteri [hematoma retroplasenta] dan seluruh bagian plasenta dapat terlepas. Pada jenis terbuka. Jenis perdarahan keluar (revealed) : 80% Pada jenis tersembunyi. Terdapat beberapa faktor resiko antara lain       Peningkatan usia dan paritas Preeklampsia Hipertensi kronis KPD preterm Kehamilan kembar Hidramnion .Terdapat 2 jenis perdarahan yang terjadi : 1. plasenta tidak lepas semua namun darah yang keluar terperangkap dibalik selaput ketuban (relativelly concealed) 30% perdarahan antepartum disebabkan oleh solusio plasenta. umumnya hanya sebagian dari plasenta yang terlepas dan komplikasi yang diakibatkan umumnya tidak berat.

arteri spiralis desidua pecah sehingga menyebabkan terjadinya hematoma retroplasenta yang menjadi semakin bertambah luas. 5. Bekuan darah dapat masuk kedalam miometrium sehingga menyebabkan uterus couvellair .      Merokok Pencandu alkohol Trombofilia Pengguna cocain Riwayat solusio plasenta Mioma uteri Faktor pencetus : 1. 2. Pada awalnya kejadian ini tak memberikan gejala apapun. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium. Kepala janin umumnya sangat menekan SBR sehingga darah sulit keluar 5. Darah dapat mencapai cavum uteri bila terdapat robekan selaput ketuban 4. Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus maka terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage) Perdarahan tersembunyi ( concealed hemorrhage) 1. Terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh 2. Oleh karena didalam uterus masih terdapat produk konsepsi maka uterus tak mampu berkontraksi untuk menekan pembuluh yang pecah tersebut. Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma desidua yang terjadi. Namun beberapa saat kemudian. Versi luar atau versi dalam Kecelakaan Trauma abdomen Amniotomi ( dekompresi mendadak ) Lilitan talipusat – Tali pusat pendek PATOFISIOLOGI Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis. 4. 3. Plasenta dapat terlepas secara keseluruhan sementara selaput ketuban masih menempel dengan baik pada dinding uterus 3. Daerah plasenta yang terkelupas menjadi semakin luas sampai mendekati tepi plasenta.

GEJALA dan TANDA Gejala klinik tergantung pada luas plasenta yang terlepas dan jenis pelepasan plasenta (concealed atau revealed) 30% kasus. B. Perdarahan yang terjadi biasanya tidak terlampau banyak ( 50 – 150 cc) dan berwarna kehitaman.Disseminated Intravascular Coagulation Renjatan hipovolemik Perdarahan pervaginam ( 80% penderita) Uterus yang tegang (2/3 penderita) Kontraksi uterus abnormal (1/3 penderita Bila separasi plasenta terjadi dibagian tepi. iritabilitas uterus minimal. terjadi nyeri abdomen dan uterus yang tegang disertai dengan :         Gawat janin (50% penderita) Janin mati ( 15%) Tetania uteri DIC. . dan tidak terdapat tandatanda uterus tegang atau gawat janin. daerah yang terlepas tidak terlalu besar dan tidak memberikasn gejala dan diagnosa ditegakkan secara retrospektif setelah anak lahir dengan terlihatnya hematoma retroplasenta Bila lepasnya plasenta mengenai daerah luas.Hematoma Retroplasenta yang terlihat pasca persalinan GAMBARAN KLINIK A. LABORATORIUM Kadar haemoglobin [Hb] atau hematokrit [Ht] sangat bervariasi.

lakukan pemeriksaan “clott observation test”. .Penurunan Hb dan Ht umumnya terjadi setelah terjadi hemodilusi. Tindakan gawat darurat Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang manifestasinya adalah :    Perdarahan bertambah banyak Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi Gawat janin maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi. Sample darah vena ditempatkan dalam tabung dan dilihat proses pembentukan bekuan (clot) dan lisis bekuan yang terjadi. Bila pembentukan clot berlangsung > 5 – 10 menit atau bekuan darah segera mencair saat tabung dikocok maka hal tersebut menunjukkan adanya penurunan kadar fibrinogen dan trombosit. Pemeriksaan laboratorium khusus :      Prothrombine time Partial thromboplastine time Jumlah trombosit Kadar fibrinogen Kadar fibrinogen degradation product Pemeriksaan ultrasonografi tak memberikan banyak manfaat oleh karena pada sebagian besar kasus tak mampu memperlihatkan adanya hematoma retroplasenta PENATALAKSANAAN A. Bila pengukuran fibrinogen tak dapat segera dilakukan. Hapusan darah tepi menunjukkan penurunan trombosit. TERAPI EKSPEKTATIF Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif. adanya schistosit menunjukkan sudah terjadinya proses koagulasi intravaskular. Penurunan kadar fibrinogen dan pelepasan hasil degradasi fibrinogen. B.

C. Merangsang persalinan ( pada janin imature. Akibat penting dari terjadinya koagulasi intravaskular adalah aktivasi plasminogen menjadi plasmin yang diperlukan untuk melakukan lisis mikroemboli dalam mekanisme untuk menjaga keutuhan mikrosirkulasi. SEKSIO SESAR Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan atau anak Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat. . Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC) 2. Atas indikasi ibu maka janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan seksio sesar pada kasus solusio plasenta. Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk : 1. Hipofibrinogenemia ( < 150 mg/dL plasma) yang disertai dengan peningkatan kadar FDP dan penurunan berbagai faktor pembekuan darah terjadi pada 30% penderita solusioplasenta berat yang disertai dengan kematian janin. Koagulopati konsumtif Koagulopati konsumtif dalam bidang obstetri terutama disebabkan oleh solusio plasenta. tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik) Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan. misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm. KOMPLIKASI 1. PERSALINAN PERVAGINAM Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir. D. Mekanisme utama dalam kejadian ini adalah terjadinya koagulasi intravaskular akibat masuknya “tromboplastin” yang berasal dari uterus kedalam darah dan sebagian kecil merupakan akibat dari pembekuan darah retroplasenta.

Rujukan : . 2. mortalitas janin mencapai 50 – 80% Janin yang dilahirkan memiliki morbiditas tinggi yang disebabkan oleh hipoksia intra uterin.5 – 5% dan sebagian besar disebabkan gagal ginjal atau gagal kardiovaskular.Hipofibrinogenemia berat tidak selalu bersamaan dengan trombositopenia. trombositopenia umumnya baru terjadi setelah tranfusi darah yang berulang. Gagal ginjal Gagal ginjal akut sering terlihat pada solusio plasenta berat dan sering disebabkan oleh penanganan renjatan hipovolemia yang terlambat atau kurang memadai. jadi bukan merupakan indikasi untuk melakukan histerektomi PROGNOSIS Mortalitas maternal 0. Drakeley dkk (2002) menunjukkan bahwa penelitian terhadap 72 orang wanita dengan gagal ginjal akut. Pada solusio plasenta berat. Hipofibrinogenemia jarang terjadi pada keadaan dimana solusio plasenta tidak disertai dengan kematian janin intra uterin. ligamentum latum atau ovarium. Ekstravasasi dapat terlihat pada pangkal tuba. Jarang menyebabkan gangguan kontraksi uterus. Uterus couvelaire Ekstravasasi darah kedalam miometrium menyebabkan apopleksia uterus yang disebut sebagai uterus couvelair. 75% kasus gagal ginjal akut akibat nekrosis tubuler akut bersifat tidak permanen Lindheimer dkk (2000) nekrosis kortikal akut dalam kehamilan selalu disebabkan oleh solsuio plasenta 3. 32 kasus disebabkan oleh solusio plasenta Gangguan perfusi renal yang berat disebabkan oleh perdarahan masif. trauma persalinan dan akibat prematuritas.

Ohkuchi A. . Chang YL. In: Creasy RK.108(4):1005-16 7. 2008. Shad H Deering. 2003 5. Nathan L : Third Trimester Bleeding in Current Obstetrics and Gynecologic Diagnosis and Treatment . 5th ed. 3.1. Clark SL. Arch Gynecol Obstet 267:11. Cheng PJ: Perinatal outcome in patiets with abruption plcenta with and without antepartum hemorrhage. Philadelphia. et al. MD. Resnik R. http://emedicine. Pa: WB Saunders. DeCherney AH. Kuraochi O. McGraw-Hill. Placental abruption. 2004:715.medscape. Cunningham FG et al : Obstetrical Hemorrhage in “ Williams Obstetrics” . (2007). Int J Gynaecol Obstet75. retrieved September 24. 2002 6.193. “Fetal heart rate pattern reflecting the severity of placental abruption”. Obstet Gynecol.2001 2.com/article/252810-overview Dec 22. Maternal Fetal Medicine.1007/s00404-007-0471-9. Furushashi M. McGraw Hill Companies. 22nd ed. Oyelese Y. Usui R. 2009 8. Ananth CV. Abruptio Placentae . eds. Placentae previa and abruptio placentae. Chang SD. Matsubara S. Oct 2006. doi:10. 2005 4. Archives of Gynecology and Obstetrics 277: 249. PMID 17896112. Suganuma N: Pregnancy following placental abruption.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful