Anda di halaman 1dari 2

Mata Kuliah Nama NPM Agribisnis C

: Kelembagaan Agraria : Trisna Monica Sihotang : 150610090134

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran 2012

Ketentuan Pokok, Landasan Hukum serta Tinjauan Historis Hukum Agraria Tanah merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Dimana manusia melakukan aktivitas di atas tanah dan tentunya selalu berhubungan dengan tanah baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pentingnya tanah bagi kehidupan dan kelangsungan hidup manusia ini menyebabkan setiap orang ingin memiliki dan menguasainya. Pada Masa Kolonial, Politik Hukum Pertananahan berasaskan Domein Verklaring dan Agrarische Wet yang ditujukan untuk kepentingan Pemerintah Kolonial, Pemerintah dan Kaula Negara tertentu yang mendapat prioritas dan fasilitas dalam penguasaan dan penggunaan tanah. Politik Hukum Pertanahan yang terjadi pada masa ini adalah Peraturan Cultur Stelsel dimana

diberlakukannya sistem tanam paksa bagi rakyat dan kewajiban untuk menjualnya kepada pemerintah Kolonial. Hukum agraria adalah suatu hukum yang memuat dan mengatur tentang pertanahan. Hukum Agararia dibentuk pada Masa Pemerintahan Soekarno dan mengalami perkembangan pada Masa Pemerintahan Soeharto dan Era Reformasi. Hukum agraria dibuat dengan tujuan untuk mencapai kemakmuran rakyat sehingga menuju masyarakat adil dan makmur yang berdasarkan Pancasila dan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Lahirnya UU No. 5 Tahun 1960 yang berisi tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) merupakan ketentuan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang merupakan sumber hukum dalam pembinaan hukum agraria nasional.

Pengaturan yang diatur dalam UUPA adalah kepemilikan dan kepemimpinan penggunaan tanah harus merupakan perwujudan dan pengamalan Pancasila dan pelaksanaan UUD 45 dan GBHN. UUPA merupakan dasar bagi hukum agraria nasional yang meletakkan dasar dapat membawa kemakmuran, kebahagiaan, keadilan serta kepastian hukum bagi bangsa dan negara. Hukum Agraria diklasifikasikan menjadi dua fase, yaitu fase pertama adalah fase dimana hukum agraria sebelum diberlakukannya UUPA, hukum agraria dibagi menjadi 2 kutub yaitu Hukum Agraria Adat dan Hukum Agraria Barat dimana di kedua kutub ini memiliki perbedaan dalam melahirkan hak atas tanah seperti hak eigendom, hak opsal, dll. Fase kedua adalah fase dimana hukum agraria sudah berlaku sehingga melahirkan hak atas tanah seperti: hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa dan hak atas tanah yang bersifat sementara. Adapun sumber atau bahan yang merupakan pedoman hukum agraria yaitu: Pertama Perundang-undangan yang terdiri dari : Undang-undang Dasar 1945; Undang-undang N0. 5 Tahun 1960, Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria; Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang N0. 56 Tahun 1960, Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian; Peraturan Pemerintah No. 224 Tahun 1961 Tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian; Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1964 Tentang Perubahan dan Tambahan Peraturan Pemerintah No. 224 Tahun 1961 Tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian. Kedua adalah Hukum Kebiasaan yang terdiri dari : Hukum Adat dan Yurisprudensi sebagai rechters gewoonterecht.