Anda di halaman 1dari 3

Arsitektur Dan Ekologi

Arsitektur sebagai sebuah ilmu tidak hanya berdiri sendiri tetapi memerlukan disiplin ilmu lainuntuk menunjang ilmu arsitektur. Dengan memiliki hubungan dengan ilmuilmu lain, arsitektur semakin menarik untuk diekplorasi karena memiliki variasivariasi dalam penerapan konsepkonsepnya. Salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan arsitektur adalah ekologi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ekologi memiliki arti ilmu mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Berdasarkan pengertian ini, bisa kita lihat hubungan antara ekologi dan arsitektur, yaitu hubungan antara massa bangunan dengan makhluk hidup yang ada disekitar lingkungannya, tak hanya manusia tetapi juga flora dan faunanya. Arsitektur sebagai sebuah benda yang dibuat oleh manusia harus mampu menunjang kehidupan kehidupan dalam lingkugannya sehingga memberikan timbal balik yang menguntungkan untuk kedua pihak. Seorang arsitek bernama Jimmy Priatman yang baru saja mendapatkan gelar LEED GA (Leadership in Energy & Environmental Design Green Associate) dari komunitas green building internasional di Amerika mengatakan bahwa bangunan terbukti merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang signifikan di samping transportasi dan industri. Hal ini terjadi karena bangunan membutuhkan berbagai saran penunjang untuk memberikan kehidupan bagi penghuni di dalamnya, namun efek samping yang diberikan pada lingkungan disekitar sangat tidak baik, contohnya adalah emisi gas rumah kaca, pemakaian air bersih secara berlebihan, penurunan kualitas tanah, dan sebagainya. Hadirnya hubungan antara ekologi dan arsitektur membuat para arsitek kembali berpikir untuk mendasain bangunan mereka supaya tidak merusak lingkungan. Terlebih lagi dengan adanya isu global warming membuat para arsitek harus peka terhadap kondisi lingkungan yang ada saat ini. Karena seperti yang disebut diatas, bangunan juga merupakan salah satu sumber polusi yang ada dibumi ini dengan segala kebutuhan sumber daya yang digunakannya. Pendekatan ekologis dilakukan untuk menghemat dan mengurangi dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari terciptanya sebuah massa bangunan.

Bila kita perhatikan dalam konteks bangunan yang ada di wilayah Jakarta, ratarata bangunan yang dibangun kurang memiliki pendekatan ekologis. Pasalnya, bangunan yang dibangun umumnya penuh dengan bentuk masif dan hanya mengejar estetika belaka. Banyak bangunan yang tidak bisa ditembus cahaya alami (matahari) karena kurangnya bukaan, terlalu banyak menggunakan air tanah sehingga menyebabkan masuknya air laut ke tanah, dan sebagainya. Sekilas tidak terdapat hubungan timbal balik dengan lingkungan. Namun, bila ditilik lebih lanjut maka bisa kita lihat bahwa kurangnya bukaan untuk masuknya cahaya matahari menyebabkan pengunaan yang lampu yang berlebihan pada siang hari sehingga membebani pembangkit listrik yang pada merusak lingkungan dengan melepaskan karbon dioksida yang berlebih. Disinilah ekologi memainkan perannya dalam arsitektur. Ilmu ekologi berusaha tidak mengubah atau merusak apa yang sudah ada dialam, tetapi memanfaatkannya semaksimal mungkin. Contoh terapan ekologi dalam arsitektur adalah munculnya tren green design. Konsep ini muncul setelah terjadi kampanye besar besaan terhadap isu global warming dimana bumi menjadi semakin panas akibat emisi gas karbon dioksida yang sangat berlebih. Memang tidak mungkin untuk tidak menghasilkan gas karbon dioksida (kita bernapas menghasilkan gas karbon dioksida pada saat ekspirasi), namun dalam konsep green design bangunan dibuat sebijaksana mungkin dalam menggunakan sumber sumber daya yang ada pada lingkungannya. Contohnya adalah memaksimalkan penggunaan cahaya matahari pada siang hari. Dengan konsep ini massa bangunan diharapkan memiliki banyak bukaan supaya pada siang hari sinar matahari dapat memasuki ruang ruang dalam bangunan sehingga menghemat pengunaan lampu yang secara otomatis pula menghemat penggunaan listrik. Ada banyak material kaca yang dapat dipilih untuk memaksimalkan cahaya matahari supaya dapat memasuki ruangan tanpa terasa panas. Dengan demikian emisi gas karbon dioksida dapat dikurangi dan penyerapan sinar UV dan inframerah pada kaca membuat lingkungan tidak terlalu panas.

Pada konsep ini, pengunaan material material yang ramah lingkungan juga menjadi penting. Pengunaan bahan bahan yang bisa di daur ulang untuk elemen elemen bangunan tertentu mengurangi jumlah sampah material yang tercipta. Dan juga memanfaatkan tumbuhan tumbuhan untuk membuat lingkungan yang lebih asri, nyaman, dan ramah lingkungan. Sehingga secara otomatis suhu lingkungan menjadi turun dengan adanya tumbuhan tumbuhan dan menciptakan udara segar. Tak hanya pada konsep green building, arsitektur juga harus memperhatikan kondisi lahan yang akan dibangun. Dengan adanya pendekatan ekologi, maka lingkungan yang akan dibangun tetap tidak rusak. Arsitektur lansekap erat hubungannya dengan ilmu ekologi. Dengan adanya pendekatan ekologi, untuk mendirikan bangunan tidak perlu mengubah tipografi lahan yang ada. Sebagai contoh bila bangunan akan didirikan pada lahan yang memiliki kemiringam, maka dengan pendekatan ekologis bisa dicarikan solusinya seperti memperkuat pondasi, atau menggabungkan unsur alam pada lingkungan dengan bangunan yang ada sehingga semakin estetis bangunan yang tercipta. Banyak orang beranggapan pendekatan ekologis justru menghambat kreativitas karena banyak pertimbangan pertimbangan yang muncul untuk menciptakan sebuah bangunan yang ramah lingkungan. Yang terjadi adalah justru sebaliknya, pendekatan ekologis bisa membuat arsitek lebih kreatif dalam menciptakan bangunan. Kita tidak bisa hanya mengejar estetkika dalam arsitektur tetapi juga hubungannya antara estetika dan lingkungan yang mana justru menjadikan arsitektur sebagai bagian dari gerakan globar warming. Dan juga memberikan dampak yang positif untuk lingkungan.