Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Dunia tumbuhan dibagi menjadi 5 divisi yaitu : Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta, dan Spermatophyta. Dari kelima divisi tersebut Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta, digolongkan dalam tumbuhan tingkat rendah karena struktur tumbuhan tersebut masih sederhana. Sedangkan divisi Spermatophyta merupakan tumbuhan yang paling tinggi tingkatanya, sehingga digolongkan dalam kelompok tumbuhan tingkat tinggi. Berdasarkan struktur, bentuk dan cirri yang dimiliki oleh masing-masing divisi, tumbuhan tersebut masih dapat dibagi dalam berbagai tingkatan dan golongan mulai dari tingkat bawah divisi yaitu kingdom hingga tingkat yang paling rendah yaitu spesies. Penggolongan tumbuhan ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap yaitu dengan identifikasi, determinasi, deskripsi, dan klasifikasi. Khusus untuk golongan tumbuhan tingkat rendah, langkah

identifikasi,

determinasi,

deskripsi,

dan

klasifikasi

memerlukan ketelitian yang tidak kalah penting dengan identifikasi, determinasi, deskripsi, dan klasifikasi pada tumbuhan tingkat tinggi. Proses identifikasi, determinasi, deskripsi, dan

klasifikasi dapat dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan dengan mengamati secara langsung masing-masing spesies dari tumbuhan. Pengmatan langsung di lapangan akan memberikan pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas bagi para mahasiswa guna membandingkan teori dengan fakta di lapangan. Dengan pengamatan langsung di lapangan dapat diketahui sifat, ciri, struktur masing-masing spesies, sehingga dapat ditemukan klasifikasi dari spesies yang kita identifikasi dengan itu kita dapat mendeskripsikan spesies tersebut. Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan di pantai Krakal Yogaykarta, karena lokasi ini sangat cocok dan banyak sekali ditemukan spesies dari divisi Algae.

B. MANFAAT DAN TUJUAN a) Manfaat 1. Dengan diadakannya PKL ini dapat memberikan manfaat bagi praktikan secara langsung yaitu, memberikan pengalaman belajar secara langsung dengan mengkaitkan antara praktik dengan teori yang didapat dikelas. 2. Praktikan dapat mengenal jenis-jenis Algae,

3. Mahasiswa mampu mengkaitkan teori dan praktik berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Campbel (2001), menyatakan bahwa Bryophyta atau tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang tingkat

Bryophyta, dan Pteridophyta yang tidak hanya dicontohkan dikelas. 3. Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan tentang luasnya pengetahuan dan banyaknya macam Algae yang dapat ditemukan di Krakal. 4. Bagi dosen dan asisten dapat menemukan jenis Algae yang baru yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian. b) Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengenal jenis-jenis dan habitat Algae yang ada di Krakal Yogyakarta. 2. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi,

perkembangnya lebih tinggi daripada Thallophyta. Pada umumnya memiliki warna yang benar-benar hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastid yang mengandung klorofil a dan b. kebanyakan hidup di darat dan sel-selnya memilki dinding yang terdiri atas selulosa. Kimball (1990), menyatakan bahwa tumbuhan lumut disebut juga tumbuhan gametofit. Pada tumbuhan lumut menghasilkan organ reproduksi jantan yang disebut

anteridium dan berisi sperma. Juga menghasilkan organ reproduksi betina disenut arkegonium berbentuk botol, dan menghasilkan ovum. Tumbuhan lumut merupakan generasi gametofit yang membentuk gamet-gamet untuk melakuakan

determinasi, klasifikasi, dan mendeskripsikan Algae, Bryophyta, dan Pteridophyta yang diamati.

reproduksi seksual dan sebagai generasi sporofitnya adalah protonema yang menghasilkan spora. Suwarno (2009) menyatakan bahwa Bryophyta berasal dari bahasa Yunani, katabryum yang berarti lumut danphyta artinya adalah tumbuhan. Tumbuhan lumut memiliki ciri-ciri: a. Memiliki habitat di daerah yang lembap. b. Tumbuhan lumut merupakan peralihan dari thallophyta ke cormophyta, karena tumbuhan lumut belum memiliki akar sejati. c. Akar pada tumbuhan lumut masih berupa rhizoid, selain itu tumbuhan ini belum memiliki berkas pembuluh angkut xylem dan floem, sehingga untuk mengangkut zat hara dan hasil fotosintesisnya menggunakan sel-sel parenkim yang ada. d. Tumbuhan lumut memiliki klorofil atau zat hijau daun sehingga cara hidupnya fotoautotrof. e. Tumbuhan lumut dalam hidupnya dapat bereproduksi secara aseksual dengan pembentukan spora haploid dan reproduksi seksual dengan peleburan gamet jantan dan gamet betina.

f. Dalam siklus hidupnya atau metagenesis tumbuhan lumut, akan didapati fase gametofit, yaitu tumbuhan lumut sendiri yang lebih dominan dari fase sporofit, yaitu sporogonium. Sulistyorini (2009) menyatakan bahwa tumbuhan yang termasuk dalam divisi Bryophyta mempunyai beberapa ciri, antara lain, telah mempunyai lapisan pelindung (kutikuladan gametangia), struktur tubuhnya mempunyai generasi gametofit, sperma diproduksi oleh anteridium dan ovum diproduksi oleh arkegonium. Lumut biasa hidup di tempat-tempat yang lembap dan tidak terkena cahaya matahari, seperti dinding bata basah, tebing, atau di kulit kayu yang lembap. Tumbuhan lumut belum mempunyai batang, daun dan akar yang sebenarnya, tetapi sudah memiliki buluh-buluh halus semacam akar yang disebut rizoid. Selain itu, lumut juga sudah memiliki klorofil. Widayati (2009) menyatakan bahwa lumut memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan tumbuhan lain. Lumut merupakan tumbuhan dengan ukuran relatif kecil, tingginya 2 sampai 50 cm. Tubuhnya tidak memiliki akar, batang, dan daun yang sebenarnya, tetapi mempunyai bagian yang

menyerupai akar (rizoid), batang, dan daun. Pada beberapa jenis lumut hati atau lumut tanduk tubuhnya masih berupa talus (lembaran). Rizoid adalah struktur menyerupai rambut atau benang-benang yang berfungsi untuk melekatkan tubuh pada tempat tumbuhnya dan menyerap air serta garam-garam mineral. Rizoid ini terdiri dari satu deret sel yang memanjang, terkadang dengan sekat yang tidak sempurna. Heywood (2003) menyatakan bahwa warga tumbuhan paku amat heterogen, baik ditinjau dari segi habitus maupun cara hidupnya, lebih lebih bila diperhitungkan pula jenis paku yang telah punah. Ada jenis jenis paku yang sangat kecil dengan daun daun yang kecil kecil pula dengan struktur yang masih sederhana, ada pula yang besar dengan daun daun yang mencapai ukuran panjang sampai 2 m atau lebih dengan struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan garis tengah batang sampai 2 m, dari segi cara hidupnya ada jenis jenis paku yang hidup teresterial (paku tanah), ada paku epifit, dan ada paku air. Dimasa yang silam (jutaan tahun yang lalu), hutan hutan di bumi kita terutama tersusun atas warga tumbuhan paku yang berupa pohon pohon yang tinggi besar, dan kita kenal sisa sisanya sekarang sebagai batu

bara. Jenis jenis yang sekarang ada jumlahnya relative kecil (lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah warga divisi lainnya) dapat dianggap sebagai relic (peninggalan) suatu kelompok tumbuhanyang dimasa jayanya pernah pula merajai bumi kita ini, yaitu dalam zaman paku (Palaeozoicum). Jenis jenis yang sekarang masih ada sebagian sebagian besar bersifat higrofit. Mereka lebih menyukai tempat tempat yang teduh dengan derajat kelembaban yang tinggi, paling besar mencapai ukuran tinggi beberapa meter saja, seperti terdapat pada marga Cyatheadan Alsophila, yang warganya masih berhabitus pohon dan kita kenal antara lain di Indonesia sebagai paku tiang. Budiati (2009) menyatakan bahwa lumut belum memiliki berkas pembuluh sejati (jaringan pengangkut air dan makanan tidak dapat dibedakan menjadi xilem dan floem). Organ penyerap hara dan organ fotosintetik dapat dibedakan dengan mudah, namun belum memiliki akar dan daun sejati. Organ penyerap haranya adalah rizoid. Daun terdiri dari beberapa lapis sel yang disebut mikrofil, umumnya tersusun rapat menutupi batang. Lumut tingkat tinggi telah memiliki sel-sel khusus yang mengangkut air

yang diserap dari dalam tanah yang menyerupai xylem. Semua lumut bersifat fotoautotrof yaitu memperoleh makanan dengan fotosintesis karena daunnya mempunyai kloroplas yang mengandung klorofil a, klorofil b, dan karotenoid. Tjitrosoepomo pteridophyta (2000), menyatakan bersifat bahwa thalus,

masing-masing sporangium terpisah dan anulus terbuka dengan perlahan-lahan, lalu dengan gerak yang cepat anulus meletik kedepan dan mengeluarkan spora-sporanya. Jika spora-spora ini sampai pada habitat yang sesuai, maka spora tersebut akan berkecambah membentuk benang-benang sel. Masing-masing spora akan tumbuh menjadi protalus yang dilengkapi dengan rizoid yang berfungsi untuk membantu penyerapan air dan mineral dari dalam tanah. Sel-sel protalus ini bersifat haploid dan merupakan generasi gametofit yang dewasa. Prosea (2003), Tumbuhan paku dapat hidup dimana saja , pada daerah yang terkena sinar matahari langsung hingga tempat-tempat yang tertutup canopy hutan yang rapat, ditemukan juga di dataran rendah hingga pegunungan, pada kondisi tanah berair hingga kering pada iklim tropis hingga sub tropis. Namun demikian tumbuhan paku lebih

mempunyai

gametofit

sporofitnya dapat dibedakan menjadi akar, batang, dan daun memiliki batang bercabang-cabang menggarpu, akar

mempunyai kaliptra. Pada akar dan batang dijumpai berkas pengangkutan. Pteridophyta dapat tumbuh menjulang ke udara, ada yang berbentuk pohon dan dapat mencapai beberapa meter. Pteridophyta dibedakan menjadi 4 divisi yaitu Psillophytinae, lycopodinae, Equisitinae, dan Filicinae. Moertolo (2004), Pada tumbuhan paku, yang biasa kita lihat adalah generasi sporofit. Pada awal musim panas, akan nampak bercak-bercak kecoklatan pada bagian bawah anak daun tumbuhan paku. Bercak-bercak tersebut disebut sorus dan berisi banyak sporangium. Jika kita lihat lebih dalam, di dalam sporangium ini terjadi pembelahan meiosis dari satu sel induk spora menghasilkan empat sel spora. Jika kelembaban menurun, sel-sel bibir berdinding tipis dari

menyenangi tempat-tempat yang sejuk dan memiliki kelembaban yang tinggi. Pada tempat semacam in populasi paku-pakuan menjadi sangat tinggi. Hutan hujan tropis yang memiliki kelembaban yang sangat tinggi ternyata merupakan salah satu rumah yang terbaik bagi tumbuhan paku. Diduga hutan ini kaya akan berbagai jenis paku-pakuan. Keragaman

jenis paku-pakuan di dunia diduga sebesar 12.000 jenis dalam 225 genera dan di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 1250 jenis. Sementara Papua dengan hutan hujan tropis yang sangat luas diduga menyimpan 187 genera yang memuat sebanyak 1700 1800 jenis bahkan dapat lebih dari 2000 jenis. Putra ( 2006 ), menyatakan bahwa Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu 80.791,42 km. Didalam lautan terdapat bermacam-macam mahluk hidup baik berupa tumbuhan air maupun hewan air. Salah satu mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang di laut adalah alga. Soerawidjaja ( 2005 ), menyatakan bahwa diitinjau secara biologi, alga merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni. Di dalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida, hormon, vitamin, mineral dan juga senyawa bioaktif. Sejauh ini, pemanfaatan alga sebagai komoditi perdagangan atau bahan baku industri masih relatif kecil jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis alga yang ada di Indonesia. Padahal komponen kimiawi yang

terdapat dalam alga sangat bermanfaat bagi bahan baku industri makanan, kosmetik, farmasi dan lain-lain. Setiawan ( 2004 ), menyatakan bahwa berbagai jenis alga seperti Griffithsia, Ulva, Enteromorpna, Gracilaria, Euchema, dan Kappaphycus telah dikenal luas sebagai sumber makanan seperti salad rumput laut atau sumber potensial karagenan yang dibutuhkan oleh industri gel. Begitupun dengan Sargassum, Chlorela/Nannochloropsis yang telah dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat, Osmundaria, Hypnea, dan Gelidium sebagai sumber senyawa bioaktif, Laminariales atau Kelp dan Sargassum Muticum yang mengandung senyawa alginat yang berguna dalam industri farmasi. Pemanfaatan berbagai jenis alga yang lain adalah sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel ataupun sebagai pupuk organik. Harris ( 2001 ), menyatakan bahwa kemampuan alga dalam menyerap ion-ion logam sangat dibatasi oleh beberapa kelemahan seperti ukurannya yang sangat kecil, berat jenisnya yang rendah dan mudah rusak karena degradasi oleh mikroorganisme lain. Untuk mengatasi kelemahan tersebut berbagai upaya dilakukan, diantaranya dengan

mengimmobilisasi biomassanya. Immobilisasi biomassa

dapat dilakukan dengan mengunakan (1) Matrik polimer seperti polietilena glikol, akrilat, (2) oksida (oxides) seperti alumina, silika, (3) campuran oksida (mixed oxides) seperti kristal aluminasilikat, asam polihetero, dan (4) Karbon. Berbagai mekanisme yang berbeda telah dipostulasikan untuk ikatan antara logam dengan alga/biomassa seperti pertukaran ion, pembentukan kompleks koordinasi,

Pemanfaatan senyawa alginat didunia industri telah banyak dilakukan seperti natrium alginat dimanfaatkan oleh industri tektil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri, kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obatobatan. Senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan kristal es. Dalam industri farmasi, alginat digunakan sebagai bahan pembuatan pelapis kapsul dan tablet. Alginat juga digunakan dalam pembuatan bahan biomaterial untuk tehnik pengobatan seperti micro-

penyerapan secara fisik, dan pengendapan mikro. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa

mekanisme pertukaran ion adalah yang lebih dominan. Hal ini dimungkinkan karena adanya gugus aktif dari

encapsulation dan cell transplantation.

alga/biomassa seperti karboksil, sulfat, sulfonat dan amina yang akan berikatan dengan ion logam. Ramellow ( 2000 ), menyatakan bahwa Alginat merupakan konstituen dari dinding sel pada alga yang banyak dijumpai pada alga coklat (Phaeophycota). Senyawa ini merupakan heteropolisakarida dari hasil pembentukan rantai monomer mannuronic acid dan gulunoric acid. Kandungan alginat dalam alga tergantung pada jenis alganya. Kandungan terbesar alginat (30-40 % berat kering) dapat diperoleh dari jenis Laminariales sedangkan Sargassum Muticum, hanya mengandung 16-18 % berat kering.

BAB III METODE PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat : 1) Sub divisi Algae Waktu : 11.00-13.00 Tempat : Krakal Yogyakarta 2) Divisi Bryophyte Waktu : 09.00-1100 Tempat : Taman gedung kesehatan D 1.1 UMS 3) Divisi Pteridophyta Waktu : 15.00-16.00 Tempat : Di rumah Suryati B. Pelaksanaan PKL 1. Alat a) b) c) d) e) f) g) Botol jeem Alat tulis Lembar pengamatan Kamera Buku flora Label Buku petunjuk praktikum

2. Bahan a) b) Larutan formalin Spesies yang di identifikasi Sub divisi Algae : Ganggang hijau (Ulva sp) Ganggang hijau (Halicystis sp) Ganggang merah (Gracilaria sp) Ganggang pirang (Padina sp) Ganggang pirang (Turbinaria sp) Ganggang hijau (Caulerpa sp) Ganggang merah (Corallina sp) Divisi Bryophyta: Lumut hati (Riccia sp) Lumut daun (Andreaea sp) Lumut hati (Riccia nutans) Divisi Pteridophyta: Paku sejati (Nephrolepis exaltata) Paku sejati (Polypodium polycarpon) Paku sejati (Adiantum capillus) Paku sejati (Polystichum filix) Paku sejati (Nephrolepis biserrata)

Cara karja 1. Sub divisi Algae a) Mengamati dan mempelajari morfologi Algae yang dijumpai dilokasi. b) Membuat dokumen dengan foto dari Algae yang ditemukan. c) Memasukan Algae ke dalam botol jeem untuk diidentifikasi sebagai sample. d) Melakukan identifikasi dan determinasi Algae yang ditemukan. e) Menyusun klasifikasi Algae yang ditemukan berdasarkan determinasi yang diketahui. f) Membuat deskripsi dari Algae yang ditemukan berdasarkan cirriciri morfologi, klasisikasinya, determinasinya, serta habitat dari Algae yang ditemukan. 2. Divisi Bryophyta a) Mengamati dan mempelajari morfologi lumut yang dijumpai dilokasi. b) Membuat dokumen dengan foto dari lumut yang ditemukan. c) Melakukan identifikasi lumut yang ditemukan. d) Menyusun klasifikasi lumut yang ditemukan berdasarkan identifikasi yang diketahui. e) Membuat deskripsi dari lumut yang ditemukan berdasarkan ciriciri morfologi, klasisikasinya, serta habitat dari lumut yang

ditemukan.

3. Divisi Pteridophyta a) Mengamati dan mempelajari morfologi tumbuhan paku yang dijumpai dilokasi. b) Membuat dokumen dengan foto dari tumbuhan paku yang ditemukan. c) Melakukan identifikasi dan determinasi tumbuhan paku yang ditemukan. d) Menyusun klasifikasi tumbuhan paku yang ditemukan berdasarkan determinasi yang diketahui. e) Membuat deskripsi dari lumut yang ditemukan berdasarkan ciriciri morfologi, klasisikasinya, determinasi, serta habitat dari lumut yang ditemukan. Pembahasan 1. Sub divisi Algae Algae adalah tumbuhan ganggang yang merupakan tumbuhan thalus, hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidaktidaknya selalu menempati habitat yang basah atau lembab. Yang hidup di air ada yang bergerak aktif ada yang tidak. Jenisjenis yang hidup bebas di air, terutama tubuhnya bersel tunggal

dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun plankton, tepatnya fitoplankton. Yang melekat pada sesuattu yang ada di dalam air, misalnya batu atau kayu disebut bentos. Tubuh ganggang memilki inti dan plastid, dalam plastid terdapat zatzat derivate klorofil. Zat-zat warna tersebut berupa fikosianin, fikosantin, fikoeretrin, disamping itu ada pula warna santofil dan karotin. Diantara ganggang ada yang daur hidupnya memperlihatkan metagenesis. Yang dianggap ganggang adalah yang lebih besar di antara kedua keturunan itu. Bila gametofitnya lebih besar daripada sporofitnya maka tumbuhan ganggangnya adalah pada fase gametofit. Sedangkan jika sporofitnya lebih besar daripada gametofitnya maka tumbuhan ganggang adalah sporofitnya. Ganggang merupakan sumber daya nabati berbagai bahan kebutuhan hidup manusia. Ada yang langsung dimakan sebagai sayuran, menghasilkan agar-agar, dan bahan obat-obatan. Anak divisi ganggang dapat dibedakan menjadi 7 kelas yaitu : kelas Flagelata, Diatomae, Chlorophyceae, Conjugate, Charophyceae, Phaeophyceae, dan Rhodophyceae. Masingmasing clasis memiliki perbedaan mulai dari cirri morfologis sampai perkembangbiakan. Dari ketujuh kelas tersebut hanya 3 kelas akan dipelajari, yaitu kelas Chlorophyceae, Phaeophyceae,

dan Rhodophyceae. Dari hasil penganatan di Krakal Yogyakarta, terdapat berbagai jenis spesies Algae yang dapat ditemukan. Spesies-spesies tersebut adalah : a. Ganggang hijau (Ulva sp) b. Ganggang hijau (Halicystis sp) c. Ganggang merah (Gracilaria sp) d. Ganggang pirang (Padina sp) e. Ganggang pirang (Turbinaria sp) f. Ganggang hijau (Caulerpa sp) g. Ganggang merah (Corallina sp) Dari ketujuh speseis tersebut, ada yang memilki persamaan dalam clasis maupun ordo, yang akan dibahas sebagai berikut : a). Clasis Chlorophyceae Pada clasis Chlorophyceae spesies yang mewakili pada saat Praktik Kerja Lapangan di Krakal Yogyakarta meliputi 3 spesies yaitu Ulva sp, Halicystis sp, dan Caulerpa sp. Secara umum pada clasis chlorophyceae memiliki cirri-ciri thalus berklorofil, hidup berkoloni, tubuh berupa sel tunggal atau banyak, yang berupa sel tunggal hidup berkoloni, yang berupa sel banyak hidup seperti filament. Ulva sp termasuk ordo Ulotrichales sehingga cirri-ciri yang spesifik dari spesies ini

adalah sel-selnya mempunyai satu inti dan kloropals, thalus berbentu seperi daun selada. Ulva sp ditemukan dekat dengan bibir pantai pada jarak sekitar 3-4 meter dari bibir pantai, keberadaan thalusnya agak ke dalam batu karang sehingga ada yang terselip dalam celah-celah karang. Sedangkan pada Halicystis sp dan Caulerpa sp termasuk ordo Siphonales sehingga cirri-ciri umum yang dimilkinya adalah bentuk bermacam-macam, thalusnya tidak mempunyai dinding pemisah yang melintang sehingga dinding selnya menyelubungi massa plasma yang mengandung banyak inti dan kloroplas. Halicystis sp seperti gelembung berwarna hijau dan banyak inti sedangkan Caulerpa sp hampir menyerupai pohon dengan banyak assimilator. Halicystis sp terletak pada batu karang yang jaraknya 3-4 meter dari bibir pantai dengan thalus menempel pada karang yang letaknya agak terselip pada batu karang, hampir sama dengan Halicystis sp, Caulerpa sp letaknya sekitar 3-4 meter dari bibir pantai, speseis ini mudah ditemukan karena melekat di atas batu karang, muncul di permukaan sehingga tidak terselip pada batu karang b). Clasis Rhodophyceae Pada clasis Rhodophyceae spesies yang mewakili pada saat Praktik Kerja Lapangan di Krakal Yogyakarta meliputi 2

spesies yaitu Gracilaria sp dan Corallina sp. Secara umum clasis Rhodophyceae memiliki ciri-ciri berwarna merah, kromatofora berbentuk cakram atau lembaran, termasuk dalam sub clasis Floridae sehingga cirri-cirinya lebih speseifik yaitu thallus masih sederhana, umunya bercabang-cabang dengan beraturan. Percabanagan menyirirp menggarpu. Pada Gracilaria sp memiliki ordo Gigartinales sehingga ciri psesifik spesies ini adalah tubuh silindris dengan garis tengah 2-3 mm, terlatak pada jarak 4-5 meter dari bibir pantai dan melekat pada batu karang dengan rizoidnya, perlekatanya berada di atas karang sehingga tidak terselip pada karang. Corallina sp termasuki ordo Cryptonemiales sehingga cirri spesifik dari spesies ini adalah tubuh seperti kerak menmpel pada batu karang, tubuh mengndung kapur dan bersekat-sekat, terletak pada jarak 4-5 meter dari bibir pantai dan tumbuh melekat di atas batu karang dengan rizoidnya. c). Clasis Phaeophyceae Pada clasis Phaeophyceae spesies yang mewakili pada saat Praktik Kerja Lapangan di Krakal Yogyakarta meliputi 2 spesies yaitu Padina sp dan Turbinaria sp. Clasis Phaeophyceae memiliki cirri secara umum yaitu memiliki warna pirang. Padina sp termasuk ordo Dictyotales sehingga cirri spesifik dari

spesies ini adalah bentunya seperti pita bercabang menggarpu, seperti kipas, pada garis tengah terdapat gari-garis konsentris. Terletak pada jarak 3-4 meter dari bibir pantai dengan perlekatan di atas batu karang dengan rizoidnya, mudah ditemukan karena menempel di atas batu karang. Turbinaria sp termasuk ordo Fucales sehingga spesies ini memilki cirri spesifik yaitu bentuk seperti terompet, bercabang menggarpu melekat dengan alat pelekat yaitu rizoid, terletak agak jauh dari bibir pantai yaitu 8-10 meter dari bibir pantai, spesies ini agak sulit ditemukan karena letaknya yang agak jauh dari pantai dan melekat diatas batu karang, sehingga tidak terselip karang.

reproduksi betina disenut arkegonium berbentuk botol, dan menghasilkan ovum. Tumbuhan lumut merupakan generasi gametofit yang membentuk gamet-gamet untuk melakuakan reproduksi seksual dan sebagai generasi sporofitnya adalah protonema yang menghasilkan spora. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan darat sejati dan jarang sekali hidup di air. Pada umunya masih menyukai tempattempat lembab dan basah. Penyebaranya cukup luas, mulai daerah kutub sampai daerah tropis. Di pegunungan maupun di dataran rendah. Pada pergiliran keturunan tumbuhan lumut sebagai gametofit adalah tumbuhan itu sendiri. Lumut dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu lumut hati dan lumut daun.

2. Divisi Bryophyta Bryophyta atau tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang tingkat perkembangnya lebih tinggi daripada Thallophyta. Pada umumnya memiliki warna yang benar-benar hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastid yang mengandung klorofil a dan b. kebanyakan hidup di darat dan sel-selnya memilki dinding yang terdiri atas selulosa. Tumbuhan lumut disebut juga tumbuhan gametofit. Pada tumbuhan lumut menghasilkan organ reproduksi jantan yang disebut anteridium dan berisi sperma. Juga menghasilkan organ

Pada lumut hati gametofitnya masih berupa thalus. Belum dapat dibedakan bagian batang, akar, dan daun. Dari hasil pengamatan di taman dekat gedung kesehatan UMS terdapat 3 spesies lumut, yaitu : a. Lumut hati (Riccia sp) b. Lumut hati (Riccia nutans) c. Lumut daun (Andreaea sp) Dari ketiga spesies tersebut memilki perbedaan dalam clasis dan ordo yang akan dijelaskan sebagai berikut : a. Clasis Hepaticopsida

Pada clasis ini mewakili 2 spesies yang kita temukan yaitu Riccia sp dan Riccia nutans, secara umum memilki cirri-ciri yaitu gametofitnya berbentuk seperti pita, bercabang-cabang, dorsiventral, menempel pada tanah dengan perantara rizoid. Berhabitat di tempat yang basah, lembab, di atas bebatuan atau cadas, seperti yang kita temukan menempel pada bebatuan dan ada yang terletak pada pinggir selokan, b. Clasis Bryopsida Pada clasis ini meawakili 1 spesies yang kita temukan yaitu Andreaea sp, secara umum memilki cirri-ciri yaitu tubuh gametofit dapat dibedakan antara batang, daun, melekat dengan rizoid. Sporofit terdiri dari seta, dan kapsul. Terletak di tempat yang basah, lembab, terdapat pada bebatuan dan cadas. Yang kita temukan berada diatas tanah yang basah dan lembab. 3. Divisi Pteridophyta Pteridophyta atau tumbuhan paku adalah tumbuhan yang berkembangbiak dengan spora, bukan dengan biij. Sporofitnya memilki sistem pembuluh yang berkembangbiak dengan jaringan xylem dan floem yang berbeda, karena itu secara potensial mampu mencapai ukuran yang jauh lebih besar daripada gametofit Bryophyta. Pteridophyta mempunyai gametofit bersifat thalus, sporofitnya

dapat dibedakan menjadi akar, batang, dan daun memiliki batang bercabang-cabang menggarpu, akar mempunyai kaliptra. Pada akar dan batang dijumpai berkas pengangkutan. Pteridophyta dapat tumbuh menjulang ke udara, ada yang berbentuk pohon dan dapat mencapai beberapa meter. Pteridophyta dibedakan menjadi 4 sub divisi yaitu Psillophytinae, Lycopodinae, Equisitinae, dan Filicinae. Dari hasil Praktik Kerja Lapangan secara mandiri, telah ditemukan 5 spesies dari tumbuhan paku, yaitu : a. Paku sejati (Nephrolepis exaltata) b. Paku sejati (Polypodium polycarpon) c. Paku sejati (Adiantum capillus) d. Paku sejati (Polystichum filix) e. Paku sejati (Nephrolepis biserrata) Dari kelima spesies tersebut terdapat perbedaan dalam clasiss, yang akan dijelaskan sebagai berikut : a. Clasis Filicinae Pada clasis ini spesies yang mewakili adalah Nephrolepis exaltata, Polypodium polycarpon, Polystichum filix, Nephrolepis biserrata. Secara umum memilki cirri-ciri merupaka paku tanah yang epifit, tidak ada batang yang sesungguhnya, akar rimpang bersisik, daun mempunyai

hubungan yang beruas atau tidak dengan akar rimpang. Daun tunggal atau majemuk, daun muda menggulung spiral, dan spora berada di bawah daun kadang-kadang tepi daun berurutan. Berhabitat di tempat yang lembab, teduh, tepi sungai, tanah yang agak berair, dan terlidung dari sinar matahari. b. Clasis Polypodiopsida Pada clasis ini spesies yang mewakili adalah Adiantum capillus, secara umum memiliki cirri-ciri tangkai daun dan porosporosnya hitam, coklat, mengkilat. Sporangia terletak tidak tertancap pada helaian daun sesungguhnya tapi pada sisi selaput daun. berhabitat di tempat yang lembab, basash, diatas tanah, dapat juga ditumbuhkan dalam pot. BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Algae adalah tumbuhan ganggang yang merupakan tumbuhan thalus, hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidaktidaknya selalu menempati habitat yang basah atau lembab. 2. Anak divisi ganggang dapat dibedakan menjadi 7 kelas yaitu : kelas Flagelata, Diatomae, Chlorophyceae, Conjugate, Charophyceae, Phaeophyceae, dan Rhodophyceae. 3. Dari hasil penganatan di Krakal Yogyakarta, terdapat

berbagai jenis spesies Algae yang dapat ditemukan. Spesiesspesies tersebut adalah : a) Ganggang hijau (Ulva sp) b) Ganggang hijau (Halicystis sp) c) Ganggang merah (Gracilaria sp) d) Ganggang pirang (Padina sp) e) Ganggang pirang (Turbinaria sp) f) Ganggang hijau (Caulerpa sp) g) Ganggang merah (Corallina sp) 4. Pada clasis Chlorophyceae spesies yang mewakili pada saat Praktik Kerja Lapangan di Krakal Yogyakarta meliputi 3 spesies yaitu Ulva sp, Halicystis sp, dan Caulerpa sp. 5. Pada clasis Rhodophyceae spesies yang mewakili pada saat Praktik Kerja Lapangan di Krakal Yogyakarta meliputi 2 spesies yaitu Gracilaria sp dan Corallina sp 6. Pada clasis Phaeophyceae spesies yang mewakili pada saat Praktik Kerja Lapangan di Krakal Yogyakarta meliputi 2 spesies yaitu Padina sp dan Turbinaria sp. 7. Bryophyta atau tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang tingkat perkembangnya lebih tinggi daripada Thallophyta.

8. Pada clasis Hepaticopsida mewakili 2 spesies yang kita

temukan yaitu Riccia sp dan Riccia nutans. 9. Pada clasis Bryopsida meawkili 1 spesies yaitu Andreaea sp. 10. Pteridophyta atau tumbuhan paku adalah tumbuhan yang berkembangbiak dengan spora, bukan dengan biji. 11. Pteridophyta dibedakan menjadi 4 divisi yaitu Psillophytinae, Lycopodinae, Equisitinae, dan Filicinae. 12. Dari hasil Praktik Kerja Lapangan secara mandiri, telah ditemukan 5 spesies dari tumbuhan paku, yaitu : a) Paku sejati (Nephrolepis exaltata) b) Paku sejati (Polypodium polycarpon) c) Paku sejati (Adiantum capillus) d) Paku sejati (Polystichum filix) e) Paku sejati (Nephrolepis biserrata) 13. Pada clasis filicinae spesies yang mewakili adalah Nephrolepis exaltata, Polypodium polycarpon, Polystichum filix, Nephrolepis biserrata. 14. Pada clasis polypodiopsida spesies yang mewakili adalah Adiantum capillus.

2. Peserta PKL diharapkan dapat menguasai materi-materi terlebih dahulu, supaya mudah dalam mengamati preparatpreparatnya tersebut . 3. Diharapkan PKL tahun berikutnya lebih baik , tertib , dan disiplin waktu agar PKL dapat berjalan dengan lancar .

DAFTAR PUSTAKA

Budiati, Herni. 2009. Biologi : untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Gema Ilmu. Campbell. 2001. Biologi jilid 2. Jakarta: Erlangga. Harris. 2001. Binding of Metal Ions by Particulate Quadricauda. Universitas Lampung. Bandar Lampung Heywood, Davis. 2003. Taksonomi Tumbuhan. Medan: Universitas Sumatra Utara Press. Kimball , John W. 1990. Biologi Edisi 5 Jilid 2. Erlangga : Jakarta Moertolo, ali. Dkk. 2004. Tumbuhan Paku. Malang: Universitas Negeri Malang.

B. SARAN 1. Diharapkan peserta PKL lebih disiplin waktu , supaya kegiatan PKL dapat berjalan dengan lancar .

Prosea. 2003. Cryptogams Ferns and Ferns Allies. Bogor : IPB. Putra, Sinly Evan. 2006. Tinjauan Kinetika dan Termodinamika Proses

Adsorpsi Ion Logam Pb, Cd, dan Cu oleh Biomassa Alga Nannochloropsis sp. Yang DiImmobilisasi PolietilaminaGlutaraldehid. Laporan Penelitian. Universitas Lampung. Bandar Lampung Ramelow.2000. Kandungan Alga Sebagai Penunjang Makalah Ilmiah. Universitas Lampung. Bandar Lampung Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan Schizophyta, Tahhophyta, Bryophyta dan Pterydophyta.Yogyakarta: UGM Press. Setiawan, Andi. 2004. Potensi Pemanfaatan Alga Laut Sebagai Penunjang Perkembangan Sektor Industri Makalah Ilmiah Ketua Jurusan Kimia. Universitas Lampung. Bandar Lampung Soerawidjaja, Tatang H. 2005. Membangun Industri Biodiesel di Indonesia. Makalah Ilmiah Forum Biodiesel Indonesia. UTB. Bandung Sulistyorini, Ari. 2009. Biologi 1 : Untuk Sekolah menengah Atas/Madrasah Aliyah Kelas X. Jakarta : PT. Balai Pustaka. Suwarno. 2009. Panduan Pembelajaran Biologi : Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Widayati, Sri. 2009. Biologi SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. A. HASIL 1. Algae