Anda di halaman 1dari 28

Rusdiansyah

April 2010

Cone Penetration Test / CPT


Di Indonesia dikenal dengan nama SONDIR Digunakan untuk memperkirakan kekuatan geser tanah pada suatu titik lokasi tertentu. Digunakan untuk jenis tanah liat lunak, tanah pasir halus sampai tanah pasir kasar sedang. Tes dengan alat ini dilakukan dengan mendorong/menekan konus standar ke dalam tanah dengan kecepatan 20 mm/detik. Cara penekanan tersebut dilakukan manual (dengan tangan) maupun dengan mesin (listrik).

Tes sondir tanah dilaksanakan untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah. Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas. Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus dalam gaya persatuan luas

PERALATAN YANG DIGUNAKAN UNTUK TES SONDIR :


1.Mesin sondir ringan ( 2 ton ) atau mesin sondir berat ( 10 ton) 2.Seperangkat piipa sondir lengkap dengan batang dalam, sesuai kebutuhan dengan panjang masing masing 1 meter. 3.Manometer masing masing 2 buah dengan kapasitas :
U/ Sondir ringan menggunakan 0 s/d 50 kg/cm2 dan 0 s/d 250 kg/cm2.

U/ Sondir berat menggunakan 0 s/d 50 kg/cm2 dan 0 s/d 600 kg/cm2.

4.Konus dan bikonus 5. Empat buah angker dengan perlengkapan ( angker daun dan spiral). 6.Kunci- kunci pipa, alat-alat pembersih, oli,& minyak hidrolik.

Apabila dipergunakan bikonus maka penetrasi, 1. Pertama-tama akan menggerakan konus ke bawah sedalam 4 cm. Bacalah manometer sebagai perlawanan penetrasi konus (pk). 2. Penekanan selanjutnya akan menggerakan konus beserta selubung ke bawah sedalam 8 cm, bacalah manometer sebagai hasil jumlah perlawanan ( jp), yaitu perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat (HL). 3. Apabila dipergunakan konus maka pembacaan manometer hanya dilakukan pada penekanan pertama (PK). A

Tahanan ujung (qc)

Tahanan friksi/gesekan (qs) B > A

Pembacaan :
30 (conus + biconus) Conus (Cn) = 10 kg/cm2 20

10 (conus) 0
Bacaan 1 Bacaan 2 conus conus + biconus

Conus+cleef (konus+gesekan)= 30 kg/cm2

qc = Cn

Perhitungan :
Isian tabel berdasarkan data lapangan. Hambatan lekat (HL)

A = tahap pembacaan = 20 cm B = faktor alat =

JHP = HL

Isian tabel berdasarkan data lapangan.

1.

Buat grafik perlawanan konus terhadap kedalaman Buat grafik JHP terhadap kedalaman

KEUNTUNGAN-KELEMAHAN SONDIR
Keuntungan : Pelaksanaan MUDAH, MURAH DAN CEPAT Mudah dioperasikan, dapat dibawa ke mana-mana karena berat alat relatif ringan. Biaya operasi murah karena cepat dalam 1 hari dapat dilakukan 2 sondir @30 m Tidak membutuhkan kecermatan dan ketelitian tinggi.
Tidak membutuhkan tes-tes laboratorium untuk penunjang. Begitu tes lapangan selesai, langsung grafik sondir dapat digambar (jadi total biaya hanya untuk tes lapangan saja). Bandingkan dengan bor dalam : 1 titik sampai dengan 30 meter dibutuhkan waktu : Mobilisasi alat : 2 hari Bor : 5 hari ( 6 meter/hari) Jumlah 7 hari Tes-tes di laboratorium Total : 7-14 hari 21 hari = 3 minggu (rata-rata)

(sondir hanya butuh waktu hari + hari menggarap data, total 1 hari)

Sangat cocok untuk Negara berkembang dan untuk daerah-daerah yang terpencil karena mobilisasi alat bor dalam akan sangat mahal. Juga di daerah terpencil biasanya tidak ada laboratorium Mekanika Tanahnya.

Kelemahan
Tidak memberikan data-data tentang sifat-sifat lain dari tanah seperti: Konsolidasi, Jenis tanah sebenarnya, Mengembang/menyusut tanah, tanah, Gs, e, Sr, Dr, LL, PI, , Cu, dan lain-lain Unreliability dari hasil sondir mengingat : Batang yang sangat langsing (d 3,0 cm) disbanding dengan panjangnya (sampai 30,0 meter), kekakuan batang kecil sekali sehingga kemungkinan defleksi yang besar hampir selalu terjadi. Jadi, pembacaan tidak selalu menunjukkan kondisi lapisan tanah arah vertical yang sebenarnya (tetapi lapisan-lapisan arah ke samping)

Defleksi ke samping karena kekakuan batang yang kecil sekali

Seharusnya di sini

Adanya defleksi ke samping menimbulkan hambatan-hambatan dari bergeraknya pipa tekan di sebelah pipa sondir. Akibatnya, pembacaan manometer = pembacaan bokonus + hambatan-hambatan sepanjang pipa.
Misal : Man2 = 20 kg/cm2 Pembacaan ini belum tentu hanya akibat perlawanan ujung (R1) dan dari biconus (R2) saja, tetapi ditambah dengan hambatan akibat bergeseknya pipa-pipa tekan dengan pipa sondir yang melengkung. Catatan : hambatan tersebut dapat diuji dengan menyambung-menyambung pipa sondir di udara (di atas tanah), missal sampai sepanjang 25 meter kemudian kita coba untuk melengkungkan pipa tersebut. Pada kondisi pipa yang melengkung tersebut supaya diukur besarnya hambatan yang terjadi bila pipa tekan (di tengah-tengah batang) dicoba untuk ditekan ke bawah. Makin melengkung pipa, makin sukar batang tersebut untuk ditekan.

Pemancangan tiang yang displacement pile (misal tiang beton, tiang pancang baja pipa dengan ujung tertututp) menyebabkan disturbance terhadap tanah asli. Tanah asli ter-remolded dan kekuatan dukungnya turun. Padahal pada penyondiran, karena luar conus yang kecil maka penyondiran tidak banyak merusak tanah asli sehingga kekuatan tanah masih asli. Jadi data sondir menunjukkan kekuatan tanah yang hampir asli padahal pemancangan tiang banyak merubah kekuatan tanah (mengurangi). Jadi, sondir lebih baik untuk nondisplacement pile (open-ended pipe, H-pile, dan lain-lain).

Bersambung : - Menentukan Jenis Tanah berdasarkan data Sondir (qc vs Friction Ratio) - Menentukan Daya Dukung Tiang Pancang berdasarkan data Sondir - Latihan Soal

Sifat Tanah (berdasarkan Sondir Test)

Ground Pressure Minimum

Slope Stability AREA BLOK 10

Output software X-STABLE Dengan 100 trial and error kelongsoran, didapatkan SF Minimum :

Note : Gambar Tidak BerSkala Satuan dalam meter

Alternatif Desain
Setelah dicoba berbagai dimensi bentuk lereng, hasilnya tetap mengalami kelongsoran (akibat adanya tanah sangat lunak yang cukup tebal serta adanya pengaruh muka air tanah).

Output software X-STABLE Dengan 100 trial and error kelongsoran, didapatkan SF Minimum :

Rekomendasi :
Dari hasil analisa stabililtas lereng pada rencana lereng untuk area Blok 10, menunjukkan bahwa pada bentuk lereng yang akan dibentuk adalah DAPAT MENGALAMI KELONGSORAN. Dengan mempertimbangkan panjang total lereng, tinggi total lereng, serta bentuk kelongsoran yang mungkin terjadi, maka untuk pelaksanaan dapat digunakan bentuk lereng yang sering digunakan oleh PT. Galuh Cempaka, akan tetapi pada bagian lereng yang akan mengalami kelongsoran dapat dipasang CERUCUK (PAKU BUMI) agar kelongsoran yang akan terjadi menjadi tertahan akibat adanya cerucuk tersebut.

Slope Stability AREA BLOK CK-6


DESAIN ALTERNATIF 1
2 3 4 4 3 5

3.5

11

2 4 19

Note : Gambar Tidak BerSkala Satuan dalam meter SF = 0.460

Output software X-STABLE Dengan 100 trial and error kelongsoran, didapatkan SF Minimum :

SF = 0.791

Note : SF < 1.25 ........ Terjadi Kelongsoran

Slope Stability AREA BLOK CK-6


DESAIN ALTERNATIF 2
3 4 4 4 4 4 19 2 4 5 11 3.5

SF = 0.782

SF = 0.941

Note : SF < 1.25 ........ Terjadi Kelongsoran

Rekomendasi :
Berdasarkan hasil analisa stabilitas lereng pada rencana lereng untuk area Blok 6 Cempaka, menunjukkan bahwa pada bentuk lereng yang akan dibentuk adalah DAPAT MENGALAMI KELONGSORAN. Akan tetapi kelongsoran yang terjadi tidak lebih buruk dari model kelongsoran pada area Blok 10. Bentuk lereng DESAIN 1 maupun DESAIN 2 adalah dapat digunakan, akan tetapi pada bagian lereng yang akan mengalami kelongsoran dapat dipasang CERUCUK (PAKU BUMI) agar kelongsoran yang akan terjadi menjadi tertahan akibat adanya cerucuk tersebut.