Anda di halaman 1dari 17

CLINICAL SCIENCE SESSION ASPEK NEUROLOGIS PADA AIDS

Oleh : Shinta Nareswari 0618011034

Pembimbing : Dr. R.A Neilan Amroisa. Sp. S

KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI RSUD. DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG FEBRUARI 2012

I.

PENDAHULUAN

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

Perkembangan jumlah kasus HIV / AIDS dari tahun ke tahun demikian pesat sehingga dalam waktu singkat telah menjadi concentrated level epidemic di beberapa negara termasuk Indonesia. Secara global jumlah kasus HIV / AIDS telah mencapai tidak kurang dari 33,4 juta penderita, yang sebagian besar merupakan usia produktif (WHO, 2009). Sedangkan di Indonesia, jumlah penderita AIDS sampai dengan Juni 2010 sekitar 21.770 orang yang dilaporkan di 32 provinsi dengan rasio laki-laki 3 kali lebih banyak dibandingkan perempuan. Kasus HIV / AIDS merupakan fenomena gunung es. Cara penularan 49,3% secara heteroseksual, 40,4% penggunaan bersama jarum suntik narkoba yang tidak steril, 3.3% lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, dan 2,7% penularan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya (Kemkes RI, 2010).

Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh, termasuk saraf. Infeksi HIV pada manusia dianggap sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO). Dari penemuan pada tahun 1981 sampai 2006, AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta orang. HIV menginfeksi sekitar 0,6% dari populasi dunia. Dengan pertumbuhannya yang semakin pesat, perlu untuk kita mengetahui apa saja komplikasi neurologis yang dapat terjadi.

II.

AIDS TERHADAP SISTEM SARAF

Penyakit saraf sering terjadi pada seseorang yang terinfeksi HIV. Kondisi tersebut terjadi karena dua hal, yakni infeksi oportunistik dan serangan HIV pada sistem saraf. Selain menyerang sistem kekebalan tubuh, infeksi HIV juga berdampak pada sistem saraf dan dapat mengakibatkan kelainan pada saraf. Dampak AIDS terhadap sel saraf yaitu dimana virus tampaknya tidak menyerang sel saraf secara langsung tetapi membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf. Peradangan yang diakibatkan dapat merusak otak dan saraf tulang belakang. Penelitian menunjukkan bahwa infeksi HIV secara bermakna dapat mengubah struktur otak tertentu yang terlibat dalam proses belajar dan pengelolaan informasi.

HIV mungkin juga secara langsung menginfeksi sel-sel saraf, menyebabkan kerusakan neurologis. 31-60% pasien AIDS memiliki kelainan neurologis. Kelainan ini mengenai SSP dan sedikit ke sistem saraf tepi. Infeksi yang mengenai SSP pada AIDS ada dua jenis yaitu infeksi opportunis sekunder atas imunosupresi yang diinduksi oleh hilangnya imunitas sel-T, dan infeksi HIV langsung yang tampil sebagai meningitis atau kompleks dementia AIDS, manifestasi ensefalitis HIV yang secara klinis dan biologis berjangkauan luas.

Infeksi oportunistik dapat terjadi akibat penurunan kekebalan tubuh pada penderita HIV/AIDS, akibatnya mudah terkena penyakit-penyakit lain seperti penyakit infeksi disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa dan jamur dan juga mudah terkena penyakit keganasan. Infeksi tersebut dapat menyerang sistem saraf yang membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf.

CD4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. Sel ini berfungsi dalam memerangi infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, jumlah CD4 berkisar antara 1400-1500 sel/L. Pada penderita HIV/AIDS jumlah CD4 akan menurun dan dapat menyebabkan terjadinya infeksi

oportunistik. CD4 berpengaruh terhadap terjadinya infeksi opportunistik. Semakin rendah kadar CD4, maka peluang untuk terjadinya infeksi opportunistik semakin besar.

Terdapat dua faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit saraf pada penderita HIV/AIDS. Faktor yang pertama adalah infeksi dari HIV sendiri yang menyerang sistem kekebalan tubuh juga berdampak pada sistem saraf dan dapat mengakibatkan kelainan pada saraf. Selain itu, faktor dari infeksi opportunistik yang terdiri dari berbagai macam kuman, virus, jamur, dan parasit.

Berdasarkan penlitian yang dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode 1 Januari 2005-31 Juli 2010, jenis-jenis penyakit saraf yang diderita pasien HIV/AIDS adalah toksoplasmosis otak (58,2%), ensefalitis CMV (9%), meningitis TB (7,5%), HIV ensefalopati (7,5%), stroke non hemoragik (4,5%), meningoensefalitis (2,9%), cephalgia (2,9%), meningitis kriptokokal (1,5%), edema otak (1,5%), mati batang otak (1,5%), atrofi cerebri (1,5%), dan demensia (1,5%). Persentase terbanyak pada toksoplasmosis otak (58,20%). Hal tersebut sesuai dengan penelitian dr. Darma Imran di Jakarta pada tahun 2007 yang menyebutkan bahwa infeksi toksoplasma otak merupakan infeksi yang dominan pada pasien AIDS. Pasien HIV/AIDS di Jakarta didominasi oleh toksoplasmosis (39%), meningitis TB (23%), meningitis kriptokokal (13%), dan sisanya tidak dapat ditentukan (20%).

Pasien-pasien tersebut umumnya memiliki salah satu dari ketiga keluhan utama (nyeri kepala, penurunan kesadaran, kelemahan anggota gerak). Keluhan nyeri kepala yang paling dominan diantara ketiga keluhan utama tersebut. Kadar CD4 pasien umumnya < 100 sel/l.

Di AS, komplikasi saraf terlihat pada lebih dari 40% pasien AIDS dewasa. Komplikasi ini dapat muncul pada segala usia tetapi cenderung berkembang secara lebih cepat pada anak-anak. Komplikasi sistem kekebalan dapat termasuk

penundaan pengembangan, kemunduran pada perkembangan penting yang pernah dicapai, lesi pada otak, nyeri saraf, ukuran tengkorak di bawah normal, pertumbuhan yang lambat, masalah mata, dan infeksi bakteri yang kambuh.

a. Toxoplasmosis Otak Disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa oleh kucing, burung dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan kadang pada daging mentah atau kurang matang. Begitu parasit masuk ke dalam sistem kekebalan, ia menetap disana; tetapi sistem kekebalan pada orang yang sehat dapat melawan parasit tersebut hingga tuntas, mencegah penyakit.

Transmisi pada manusia terutama terjadi bila memakan daging babi atau domba yang mentah yang mengandung oocyst (bentuk infektif dari T.gondii). Bisa juga dari sayur yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan feses kucing. Selain itu dpat terjadi transmisi lewat transplasental, transfusi darah, dan transplantasi organ. Infeksi akut pada individu yang immunokompeten biasanya asimptomatik. Pada manusia dengan imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dari infeksi laten. Yang akan mengakibatkan timbulnya infeksi opportunistik dengan predileksi di otak.

Toxoplasmosis otak muncul pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang tidak diobati. Gejala termasuk ensefalitis, demam, sakit kepala berat yang tidak respon terhadap pengobatan, lemah pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan, kebingungan yang meningkat, masalah penglihatan, pusing, masalah berbicara dan berjalan, muntah dan perubahan kepribadian. Tidak semua pasien menunjukkan tanda infeksi.

Nyeri kepala dan rasa bingung dapat menunjukkan adanya perkembangan ensefalitis fokal dan terbentuknya abses sebagai akibat dari terjadinya infeksi toksoplasma. Keadaan ini hampir selalu merupakan suatu kekambuhan akibat

hilangnya kekebalan pada penderita-penderita yang semasa mudanya telah berhubungan dengan parasit ini. Gejala-gejala fokalnya cepat sekali berkembang dan penderita mungkin akan mengalami kejang dan penurunan kesadaran.

Untuk mendiagnosis toxoplasmosis otak, dapat dilakukan pemeriksaan : Pemeriksaan Serologi Didapatkan seropositif dari anti-T.gondii IgG dan IgM. Deteksi juga dapat dilakukan dengan indirect fluorescent antibody (IFA), aglutinasi, atau enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Titer IgG mencapai puncak dalam 1-2 bulan setelah terinfeksi kemudian bertahan seumur hidup.

Pemeriksaan cairan serebrospinal Menunjukkan adanya pleositosis ringan dari mononuklear predominan dan elevasi protein

Pemeriksaan Polymerase chain reaction (PCR) Mendeteksi DNA T.gondii. PCR untuk T.gondii dapat juga positif pada cairan bronkoalveolar dan cairan vitreus atau aquos humor dari penderita toksoplasmosis yang terinfeksi HIV. Adanya PCR yang positif pada jaringan otak tidak berarti terdapat infeksi aktif karena tissue cyst dapat bertahan lama berada di otak setelah infeksi akut.

CT scan Menunjukkan fokal edema dengan bercak-bercak hiperdens multiple disertai dan biasanya ditemukan lesi berbentuk cincin atau penyengatan homogen dan disertai edema vasogenik pada jaringan sekitarnya. Ensefalitis toksoplasma jarang muncul dengan lesi tunggal atau tanpa lesi.

Biopsi otak Diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi otak

Toksoplasmosis otak diobati dengan kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin. Kedua obat ini dapat melalui sawar-darah otak. Toxoplasma gondii membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat pemerolehan vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat penggunaannya. Dosis normal obat ini adalah 50-75mg pirimetamin dan 2-4g sulfadiazin per hari. Kedua obat ini mengganggu ketersediaan vitamin B dan dapat mengakibatkan anemia. Orang dengan toksoplasmosis biasanya memakai kalsium folinat (semacam vitamin B) untuk mencegah anemia.

Kombinasi obat ini sangat efektif terhadap toksoplasmosis. Lebih dari 80% orang menunjukkan kebaikan dalam 2-3 minggu. Orang yang pulih dari toksoplasmosis seharusnya terus memakai obat antitokso dengan dosis rumatan yang lebih rendah. Jelas bahwa orang yang mengalami toksoplasmosis sebaiknya mulai terapi antiretroviral (ART) secepatnya. Bila CD4 naik menjadi di atas 200 selama lebih dari tiga bulan, terapi rumatan toksoplasmosis dapat dihentikan.

b. Ensefalitis CMV Sitomegalovirus merupakan virus DNA yang tergolong famili herpetoviridae. CMV merupakan patogen opportunistik. Resiko CMV tertinggi adalah pada saat jumlah CD4 di bawah 50/mcl. Manusia adalah satu-satunya inang yang diketahui untuk cytomegalovirus. Penularan memerlukan kontak langsung dari orang ke orang. Virus mungkin dikeluarkan dalam urin, air liur, air susu, dan sekresi servikal dan dibawa dalam sel darah putih yang bersirkulasi. Penyebaran secara oral dan pernapasan kemungkinan merupakan jalur utama penularan sitomegalovirus. Virus ini dapat menyebar melalui placenta, melalui transfusi darah, melalui transplantasi organ, dan melalui kontak seksual.

Demam akut dengan kerusakan jaringan parenkim sistem saraf pusat yang menimbulkan kejang, kesadaran menurun, atau tanda-tanda neurologis fokal. Gejala yang timbul pada sistem saraf tepi termasuk lemas pada lengan dan kaki, masalah pendengaran dan keseimbangan, tingkat mental yang berubah, demensia, neuropati perifer, koma dan penyakit retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Infeksi CMV pada urat saraf tulang belakang dan saraf dapat mengakibatkan lemahnya tungkai bagian bawah dan beberapa paralisis, nyeri bagian bawah yang berat dan kehilangan fungsi kandung kemih. Infeksi ini juga dapat menyebabkan pneumonia dan penyakit lambung-usus.

Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis ensefalitis CMV : 1. Pungsi Lumbal dan pemeriksaan cairan serebrospinal Hasil pemeriksaan cairan menunjukkan cairan yang jernih, tekanannya tinggi, banyak mengandung sel darah putih dan protein, kadar gulanya normal. 2. Elektroensefalografi (EEG) Hasil EEG yang abnormal, kemungkinan adalah suatu ensefalitis, tetapi hasil EEG yang normal tidak bisa menyingkirkan diagnosis ensefalitis.

3. CT Scan dan MRI CT Scan dan MRI dikerjakan untuk memastikan bahwa penyebab dari timbulnya gejala bukan karena abscess otak, stroke, atau kelainan struktural (tumor, hematoma, aneurisma) Jika diduga suatu ensefalitis, CT Scan / MRI ini dikerjakan sebelum pungsi lumbal untuk mengetahui adanya peningkatan intrakranial. 4. Biopsi otak 5. Pemeriksaan darah Pemeriksaan serologis untuk mengukur kadar antibodi terhadap virus.

Pengobatan

ensefalitis

sitomegalovirus

pada

pasien

dengan

AIDS

membutuhkan obat khusus terhadap CMV dan pemulihan fungsi kekebalan melalui penggunaan terapi anti retroviral (ART). Untuk virus CMV nya dapat diberikan asiklovir (5mg/kgBB 2 kali sehari parenteral selama 14-21 hari, selanjutnya 5mg/kgBB sekali sehari dianjurkan sampai CD4>100 sel/ml). Sedangkan pengobatan kausatif dapat diberikan diazepam 10-20 mg iv untuk mengatasi kejang, dan dapat pula diberikan manitol 20% untuk anti udem serebri.

Plain CT Scan - HIV encephalitis.

c. Stroke Stroke yang disebabkan oleh penyakit pembuluh darah otak jarang dianggap sebagai komplikasi AIDS, walaupun hubungan antara AIDS dan stroke mungkin jauh lebih besar dari dugaan. Para peneliti di Universitas Maryland, AS melakukan penelitian pertama berbasis populasi untuk menghitung risiko stroke terkait AIDS dan menemukan bahwa AIDS meningkatkan kemungkinan menderita stroke hampir sepuluh kali lipat. Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan ini. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi HIV, infeksi lain atau reaksi sistem kekebalan terhadap HIV, dapat menyebabkan kelainan pembuluh darah dan/atau membuat pembuluh darah kurang menanggapi perubahan dalam tekanan darah yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan stroke.

d. Meningitis Kriptokokkus Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans, yang umum ditemukan pada tanah dan tinja burung. Jamur ini pertama menyerang paru dan menyebar ke otak dan saraf tulang belakang, menyebabkan peradangan. Risiko infeksi paling tinggi jika jumlah CD4 di bawah 50.

Gejala meningitis termasuk demam, kelelahan, leher pegal, sakit kepala, mual dan muntah, kebingungan, penglihatan kabur, dan kepekaan pada cahaya terang. Gejala ini muncul secara perlahan. Tanda-tanda seperti meningismus, termasuk kuduk kaku, timbul < 40% penderita. Kejang dan defisit neurologik fokal sering timbul dan merupakan tanda koma kriptokokosis dan tromboflebitis sinus venosus. Manifestasi ekstraneural, dapat terjadi

dengan/tanpa meningitis, termasuk infiltrasi pulmoner, lesi di kulit, abses prostat dan hepatitis.

Tes laboratorium dipakai untuk menentukan diagnosis meningitis. Tes laboratorium ini memakai darah atau cairan sumsum tulang belakang. Darah

10

atau cairan sumsum tulang belakang dapat dites untuk kriptokokus dengan dua cara. Tes yang disebut CRAG mencari antigen (sebuah protein) yang dibuat oleh kriptokokus. Tes biakan mencoba menumbuhkan jamur kriptokokus dari sampel. Tes biakan membutuhkan satu minggu atau lebih untuk menunjukkan hasil positif. Cairan sumsum tulang belakang juga dapat dites secara cepat bila diwarnai dengan tinta India (70% positif) dan ditemukan antigen kriptokokus dalam darah dan LCS (95-100% positif). LCS jumlah sel, glukosa, protein dapat terjadi tetapi tidak selalu. Kultur darah dan urin (+).

Meningitis kriptokokus diobati dengan obat antijamur. Beberapa klinisi memakai flukonazol namun ada juga yang memilih kombinasi amfoterisin B dan kapsul flusitosin. Amfoterisin B adalah yang paling manjur, tetapi obat ini dapat merusak ginjal.

Walau jarang, meningitis kriptokokus tampaknya dapat kambuh atau menjadi lebih berat bila terapi antiretroviral (ART) dimulai dengan jumlah CD4 yang rendah. Hal ini disebabkan karena adanya pengembangan sindrom pemulihan kekebalan (immune reconstruction inflammatory syndrome/IRIS). Hal ini karena obat anti-HIV dapat memulihkan kemampuan sistem kekebalan untuk menanggapi infeksi dan menghasilkan pemberantasan bakteri secara cepat. ART sering ditunda hingga terapi awal untuk mengobati infeksi sudah diselesaikan.

Memakai flukonazol waktu jumlah CD4 di bawah 50 dapat membantu mencegah meningitis kriptokokus. Tetapi ada beberapa alasan sebagian besar dokter tidak meresepkannya:

Sebagian besar infeksi jamur mudah diobati Flukonazol adalah obat yang sangat mahal Memakai flukonazol jangka panjang dapat menyebabkan infeksi jamur ragi (seperti kandidiasis mulut, vaginitis, atau infeksi kandida berat pada

11

tenggorokan) yang kebal (resistan) terhadap flukonazol. Infeksi yang resistan ini hanya dapat diobati dengan amfoterisin B.

e. AIDS Dementia Complex (ADC) Muncul terutama pada orang dengan infeksi HIV lebih lanjut. Gejala termasuk ensefalitis (peradangan otak), perubahan perilaku, dan penurunan fungsi kognitif secara bertahap, termasuk kesulitan berkonsentrasi, ingatan dan perhatian. Orang dengan ADC juga menunjukkan pengembangan fungsi motor yang melambat dan kehilangan ketangkasan serta koordinasi. Apabila tidak diobati, ADC dapat mematikan.

ADC adalah sindroma neurologis khas dengan kelainan kognisi, tampilan motor, dan tingkah laku. Gejala biasanya berupa kesulitan konsentrasi dan memori menuju Gerakan tanda demensia yang yang jelas dengan tingkat aurosal intak. dan tandadengan

bergantian cepat lepasan

melambat, hiperrefleksia,

frontal biasanya

dijumpai pada pemeriksaan,

imbalans, ataksia, dan kelemahan aksial menjadi prominen pada tingkat penyakit yang lebih parah. Tingkat akhir ADC mendekati vegetatif dengan pandangan kosong, paraparesis, dan inkontinens. Gambaran ADC adalah khas demensia subkortikal seperti gangguan kognitif yang tampak pada kelainan Parkinson dan Huntington. Ada dan beratnya ADC paralel dengan beratnya kelainan sistemik pasien AIDS. ADC jarang pada pasien seropositif sehat, tampil pada 25-35 % dengan tampilan awal dan timbul pada hampir setengah dari pasien infeksi opportunistik, AIDS lanjut.

dengan

Perkembangan ADC

yang paralel ini, walau HIV tampil awal pada pada

sistema saraf, menunjukkan bahwa walau HIV adalah neurogenik, ia relatif non patogenik terhadap otak disaat tiadanya immunosupresi.

f. Neuropati perifer Neuropati perifer menggambarkan kerusakan pada saraf perifer, jaringan komunikasi yang luas yang mengantar informasi dari otak dan saraf tulang

12

belakang ke setiap bagian tubuh. Saraf perifer juga mengirim informasi sensorik kembali ke otak dan saraf tulang belakang. HIV merusak serat saraf yang membantu melakukan sinyal dan dapat menyebabkan beberapa bentuk neropati. Distal sensory polyneuropathy menyebabkan mati rasa atau perih yang ringan hingga sangat nyeri atau rasa kesemutan yang biasanya mulai di kaki dan telapak kaki. Sensasi ini terutama kuat pada malam hari dan dapat menjalar ke tangan. Orang yang terdampak memiliki kepekaan yang meningkat terhadap nyeri, sentuhan atau rangsangan lain. Pada awal biasanya muncul pada stadium infeksi HIV lebih lanjut dan dapat berdampak pada kebanyakan pasien stadium HIV lanjut.

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK KELAINAN NEUROLOGIS PADA AIDS

Berdasarkan hasil rekam medis pasien dan pemerikaan fisik secara umum, dokter akan melakukan pemeriksaan saraf secara menyeluruh untuk menilai berbagai fungsi saraf: kemampuan motor dan sensor, fungsi saraf, pendengaran dan berbicara, penglihatan, koordinasi dan keseimbangan, status kejiwaan, perubahan perilaku atau suasana hati. Dokter mungkin meminta tes laboratorium dan satu atau lebih tindakan di bawah ini untuk membantu diagnosis kerumitan neurologi terkait AIDS.

Pemetaan dibantu komputer dapat mengungkap tanda peradangan otak, tumor dan limfoma SSP, kerusakan saraf, perdarahan dalam, sumsum otak yang tidak biasa, dan kelainan otak lain. Beberapa tindakan pemetaan yang tidak menyakitkan dipakai untuk membantu diagnosis komplikasi neurologi terkait AIDS.
Computed

tomography (juga disebut CT scan) memakai sinar X dan komputer

untuk menghasilkan gambar tulang dan jaringan, termasuk peradangan, kista dan tumor otak tertentu, kerusakan otak karena cedera kepala, dan kelainan lain. CT scan menyediakan hasil yang lebih rinci dibandingkan rontgen saja.

13

Magnetic

resonance imaging (MRI) memakai komputer, gelombang radio dan

bidang magnetik yang kuat untuk menghasilkan gambar tiga dimensi secara rinci atau - potongan - struktur tubuh dua dimensi, termasuk jaringan, organ, tulang dan saraf. Tes ini tidak memakai radiasi ionisasi (serupa dengan rontgen) dan memberi dokter tampilan jaringan dekat tulang yang lebih baik.
Functional

MRI (fMRI) memakai unsur magnetik darah untuk menentukan

wilayah otak yang aktif dan untuk mencatat berapa lama wilayah tersebut tetap aktif. Tes ini dapat menilai kerusakan otak dari cedera kepala atau kelainan degeneratif contohnya penyakit Alzheimer, dan dapat menentukan serta memantau kelainan neurologi lain, termasuk demensia kompleks terkait AIDS.
Magnetic

resonance spectroscopy (MRS) memakai medan magnet yang kuat

untuk meneliti komposisi biokimia dan konsentrasi molekul berbasis hidrogen yang beberapa di antaranya sangat khusus terhadap sel saraf di berbagai wilayah otak. MRS dipakai sebagai percobaan untuk menentukan lesi otak pada pasien AIDS.
Elektromiografi

atau EMG, dipakai untuk mendiagnosis kerusakan saraf dan

otot (misalnya neuropati dan kerusakan serat saraf yang disebabkan oleh HIV) dan penyakit saraf tulang belakang. Tes ini mencatat kegiatan otot secara spontan dan kegiatan otot yang digerakkan oleh saraf perifer.
Biopsi

adalah pengangkatan dan pemeriksaan jaringan tubuh. Biopsi otak, yang

melibatkan pengangkatan sebagian kecil otak atau tumor dengan bedah, dipakai untuk menentukan kelainan dalam tengkorak dan tipe tumor. Berbeda dengan kebanyakan biopsi lain, biopsi otak memerlukan rawat inap. Biopsi otot atau saraf dapat membantu mendiagnosis masalah saraf otot, sementara biopsi otak dapat membantu mendiagnosis tumor, peradangan dan kelainan lain.

14

Analisis

cairan sumsum tulang belakang dapat mendeteksi segala perdarahan

atau hemoragi otak, infeksi otak atau tulang belakang (misalnya neurosifilis), dan penumpukan cairan yang berbahaya. Contoh cairan diambil dengan jarum suntik dengan bius lokal dan diteliti untuk mendeteksi kelainan.

IV. PENATALAKSANAAN

Tidak ada pengobatan tunggal yang dapat menyembuhkan komplikasi neurologi terkait AIDS. Beberapa kelainan membutuhkan terapi secara giat sementara lainnya diobati sesuai gejala. Nyeri neuropati umumnya sulit dikendalikan. Obat beragam dari analgesik yang dapat dibeli tanpa resep dokter hingga obat antiepilepsi dan beberapa golongan antidepresan. Jaringan yang meradang dapat menekan saraf, menyebabkan nyeri. Peradangan dan kondisi otoimun yang mengakibatkan neuropati mungkin dapat diobati dengan kortikosteroid, dan tindakan misalnya plasmaferesis (atau cuci darah) dapat membebaskan darah dari unsur berbahaya yang menyebabkan peradangan.

Pilihan pengobatan untuk neuropsikiatri terkait AIDS dan HIV atau kelainan psikotik termasuk antidepresan dan antikejang. Psikostimulan mungkin juga memperbaiki gejala depresi dan melawan kelesuan. Obat antidemensia mungkin menghilangkan kebingungan dan memperlambat penurunan mental, dan benzodiazepin dapat diresepkan untuk mengobati kecemasan. Terapi psikologis juga dapat menolong beberapa pasien.

Terapi antiretroviral (ART) dipakai untuk mengobati demensia kompleks terkait AIDS, miopati vakuolar, PML, dan ensefalitis CMV. ART mengkombinasikan sedikitnya tiga jenis obat untuk mengurangi jumlah virus yang beredar dalam darah dan mungkin juga menunda permulaan beberapa infeksi.

Beberapa pilihan pengobatan saraf terkait AIDS termasuk terapi fisik dan rehabilitasi, terapi radiasi dan/atau kemoterapi untuk membunuh atau

15

memperkecil tumor ganas di otak yang dapat disebabkan oleh HIV, obat antijamur atau antimalaria untuk melawan infeksi bakteri tertentu yang terkait dengan kelainan, dan penisilin untuk mengobati neurosifilis saraf.

Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan/rehabilitasi dan edukasi. Pengobatan pada pengidap HIV/penderita AIDS ditujukan terhadap: virus HIV (obat antiretroviral), infeksi opportunistik, kanker sekunder, status kekebalan tubuh, simptomatis dan suportif. Obat-obat antiretroviral dapat memperbaiki morbiditas pada HIV dan dapat memperpanjang survival. Sesuai perkembangan pada terapi HIV terdapat tiga kelas obat antiretroviral yang telah diakui penggunaannya yaitu: nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs), nonnucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs), dan protease inhibitors (PIs). Agar tercapainya penggunaan obat secara potensial maka digunakan paling sedikit tiga jenis obat dari paling sedikit dua kelas obat antiretroviral. Secara khusus meliputi dua obat NRTIs dan lainnya satu NNRTIs atau PIs.

Pengobatan untuk infeksi oportunistik dan kanker sekunder bergantung pada penyakit infeksi atau kanker apa yang ditimbulkan. Pengobatan status kekebalan tubuh dengan menggunakan immune restoring agents, diharapkan dapat memperbaiki fungsi sel limfosit, dan menambah jumlah limfosit.

16

DAFTAR PUSTAKA

Aru W. Sudoyo, dkk. HIV/AIDS di Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006

Sylvia Price dan Lorraine Wilson. Human Immunodeficiency (HIV)/Acquired Immunodeficiency Sindrome). Patofisiologi Penyakit. Volume 1. Edisi 6. Jakarta: EGC,2006 Konsep Klinis Proses-Proses

Patric Davey. Infeksi HIV dan AIDS. At a Glance Medicine. Jakarta: EMS. 2006

Profesor.dr.H.Jusf Misbach, dkk. HIV-AIDS Susunan Saraf Pusat. Neurologi. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia 2006.

Yayasan

Spirita.

2009.

Neuropati

Perifer.

Diunduh

dari

http://spiritia.or.id/hatip/pdf/h01331.pdf

Yayasan Spirita. 2007. Oleh National institude of Neurological Disorders and Stroke. Diunduh dari http://www.spirita.or.id

Yayasan

Spirita.

Agustus

2010.

Meningitis

Kriptokokus.

Di

unduh

dari

http://spiritia.or.id/li/bacali.php?.

Nasronudin. HIV & AIDS. Surabaya : Erlangga University press; 2007

Zubairi D, Samsuridjal D. HIV / AIDS di Indonesia. Dalam : Aru WS,

Bambang S, Idrus alwi, et al editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 4. Jakarta : Pusat Penerbitan FK UI; 2006. 1803-1808.

17