Anda di halaman 1dari 30

Tugas

Oleh

ANDI MUH. ADNAN S. D 111 04 080

JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2008


1

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan Negara kepulauan besar dengan wilayah perairan yang cukup luas. Dengan wilayah perairan yang cukup luas, maka sarana transportasi laut merupakan salah satu alternatif transportasi yang dibutuhkan oleh masayarakat Indonesia. Selain itu dengan jumlah penduduk yang besar dan sumber daya alam yang banyak, transportasi massal yang menggunakan sarana transportasi yang cukup besar menjadi salah satu kebutuhan. Wilayah perairan yang luas, menghubungkan kepulauan-kepulauan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai Negara Maritim yang telah dikenal di dunia, pembangunan sarana dan prasarana transportasi air menjadi salah satu aspek yang penting untuk perkembangan pembangunan dan perekonomian Negara. Pengembangan sarana dan transportasi laut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saja, tetapi kemudian berkembang untuk memenuhi kebutuhan ekspor-impor yang lebih luas. Pada masa sekarang ini, kegiatan pelayaran, sarana dan prasarana transportasi laut mulai dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat di tempat tersebut. Selain sebagai angkutan penumpang dan barang, pada beberapa daerah tertentu, sarana dan prasarana transportasi laut dikhususkan untuk kebutuhan tertentu seperti untuk mengangkut hasil-hasil sumber daya alam. Salah satu potensi sumber daya alam yang membutuhkan pengembangan fasilitas pelayaran adalah sumber daya minyak bumi. Pertamina sebagai pengelolah potensi sumber daya minyak menyikapi kebutuhan tersebut. Pada daerah penghasil minyak, pembangunan dermaga khusus untuk mengangkut minyak tidak dapat dipungkiri. Pembangunan dermaga khusus minyak harus dibuat karena tidak dapat digabungkan dengan dermaga penumpang, sebab ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama untuk kenyamanan dan keamanan penumpang.

I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari penulisan tugas ini adalah agar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pelabuhan dapat mengerti dan memahami dasar-dasar perencanaan dari suatu pelabuhan.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 PENGERTIAN PELABUHAN Dalam bahasa Indonesia dikenal dua istilah yang berhubungan dengan arti pelabuhan yaitu bandar dan pelabuhan. Bandar(harbour) adalah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang dan angin untuk berlabuhnya kapal-kapal. Suatu estuari atau muara sungai dengan kedalaman air yang memadai dan cukup terlindung untuk kapal-kapal, telah memenuhi kondisi sebagai suatu bandar. Pelabuhan(port) adalah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang, yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas terminal laut meliputi dermaga, kran- kran untuk untuk bongkar muat barang, gudang laut (transito) dan tempat-tempat penyimpanan dimana kapal membongkar muatannya, dan gudang-gudang dimana barang-barang dapat disimpan alam waktu yang lebih lama selama menunggu pengiriman ke daerah tujuan atau pengapalan. Terminal ini dilengkapi dengan jalan kereta api, jalan raya atau saluran pelayaran darat. Daerah pengaruh pelabuhan bisa sangat jauh dari pelabuhan tersebut. Dengan demikian, pelabuhan merupakan bandar yang dilengkapi dengan bangunanbangunan untuk pelayanan bongkar-muat barang dan penumpang. Karena dalam kenyataannya sebuah kapal yang berlabuh juga berkepentinganuntuk melakukan bongkar-muat barang dan menaik-turunkan penumpang, maka nama pelabuhan lebih tepat dibanding bandar. Daerah belakang adalah daerah yang mempunyai kepentingan atau hubungan ekonomi, sosial dan hubungan lainnya dengan pelabuhan. Misalnya DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan bahkan Indonesia merupakan daerah belakang dari Pelabuhan Tanjung Priok. Sedangkan Pelabuhan Panjang mempunyai daerah pengaruh di Propinsi Lampung maupun Sumatera Bagian Selatan. Pelabuhan di Indonesia Kegiatan pelayaran diperlukan untuk menghubungkan antar pulau, penjagaan wilayah 3

laut, penelitian kelautan, dan sebagainya. Salah satu kegiatan pelayaran terpenting adalah pelayaran niaga, yang dapat dibedakan menjadi pelayaran lokal, pelayaran pantai dan pelayaran samudera. Pada pelayaran lokal, pelayaran hanya bergerak dalam batas daerah tertentu di dalam suatu propinsi di Indonesia, atau dalam dua propinsi yang berbatasan. Sebagai contoh adalah pelayaran di wilayah Kepulauan Riau, pelayaran antara Pelabuhan Bakauheni di Propinsi Lampung dan Merak di Propinsi Banten. Luas wilayah operasi pelayaran lokal tidak melebihi 200 mil. Kapal-kapal yang digunakan biasanya adalah kapal kecil, kadangkala bahkan kurang dari 200 DWT. Pelayaran pantai, yang juga disebut pelayaran antar pulau atau pelayaran nusantara mempunyai wilayah operasi di seluruh perairan Indonesia. Pelayaran samudera adalah pelayaran yang beroperasi dalam perairan internasional, dengan membawa barangbarang ekspor dan impor dari satu negara ke negara lain. Dewasa ini sudah sangat jarang ditemui pelayaran internasional untuk angkutan penumpang. Pesawat terbang lebih banyak digunakan untuk keperluan tersebut. Pelayaran internasional untuk penumpang, lebih berorientasi untuk tujuan pariwisata. Selain ketiga jenis pelayaran niaga tersebut, terdapat pelayaran rakyat sebagai usaha rakyat yang bersifat tradisional yang merupakan bagian dari usaha angkutan di perairan. Pelayaran ini menggunakan kapal kecil atau perahu layar. Ditinjau dari fungsinya dalam perdagangan nasional dan internasional pelabuhan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pelabuhan laut dan pelabuhan pantai. Pelabuhan laut bebas dimasuki oleh kapal-kapal asing, banyak dikunjungi oleh kapal-kapal samudera dengan ukuran besar. Pelabuhan pantai hanya digunakan untuk perdagangan dalam negeri sehingga tidak bebas disinggahi oleh kapal asing kecuali dengan ijin tertentu. Perkembangan sosial ekonomi berbagai daerah amat beragam. Sesuai dengan jenis/ukuran kapal yang singgah di pelabuhan dan tingkat perkembangan daerah, maka pemerintah sebagai regulator telah melakukan kebijaksanaan dalam pengembangan jaringan sistem pelayanan angkutan laut dan kepelabuhanan yang didasarkan pada 4th Gate Way Ports System. Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, dilakukan penggolongan pelabuhan sebagai berikut : 1.Gate Way Port; yang terdidi dari pelabuhan berikut : (a). Tanjung priok; (b). Tanjung Perak; (c). Belawan; (d). Ujung Pandang. 4

2.Regional Collector Port; yang terdiri dari pelabuhan berikut : (a). Teluk bayur; (b). Palembang; (c). Balik papan; (d). Dumai; (e). Lembar; (f). Pontianak; (g). Cirebon; (h). Panjang; (i). Ambon; (j). Kendari; (k). Lhokseumawe; (l). Sorong; (m). Bitung; (n). Semarang. 3.Trunk Port; yang dibedakan menjadi dua kategori : - Kategori I : (a). Banjar Masin b. Samarinda c. Meneng d. Cilacap e. Tarakan f. Donggala g. Tenau h. Ternate i. Krueng Raya j. Sibolga k. Jayapura l. Gorontalo m. Bengkulu n. Batam - Kategori II : a. Kuala langsa b. Sampit c. Benoa d. Pekanbaru e. Jambi f. Pare-pare g. Sintete h. Biak i. Merauke j. Toli-toli k. Kalianget

4.Feeder Port; Pelabuhan ini merupakan pelabuhan kecil dan perintis yang jumlahnya lebih dari 250 buah di seluruh Indonesia. Pelabuhan ini melayani pelayaran-pelayaran di daerah terpencil. Pelabuhan perintis ini dimaksudkan untuk membuka kegiatan ekonomi daerah terpencil, seperti Wilayah Barat Sumatera, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku dan Irian Jaya.

2.2. Macam Pelabuhan Terdapat berbagai macam pelabuhan, tergantung dari sudut mana meninjaunya. Sudut tinjau tersebut antara lain : segi penyelenggaraan, segi pengusahaan, segi fungsinya dalam perdagangan nasional dan internasional, segi penggunaan, letak geografis.

2.2.1. Ditinjau dari Segi Penyeleggaraannya a. Pelabuhan Umum Pelabuhan umum diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat umum . Penyelenggaraan pelabuhan umum dilakukan oleh pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut. Di indonesia dibentuk empat badan usaha milik negara yang diberi wewenang untuk mengelola pelabuhan umum diusahakan. Keempat badan usaha tersebut dalah : PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I berkedudukan di Medan, Pelabuhan Indonesia II berkedudukan di Jakarta, Pelabuhan Indonesia III berkedudukan di Surabaya dan Pelabuhan Indonesia IV berkedudukan di Ujung Pandang. 5

Pembagian Wilayah pengelolaan dapat dilihat dalam gambar 1.1. b. Pelabuhan khusus Pelabuhan khusus diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. Pelabuhan ini tidak boleh digunakan untuk krprntingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan ijin pemerintah. Pelabuhan khusus dibangun oleh suatu perusahaan baik pemerintah maupun swasta yang berfungsi untuk prasarana pengiriman hasil produksi perusahaan tersebut. Sebagai contoh adalah pelabuhan LNG Arun di Aceh yang digunakan untuk mengirimkan hasil produksi gas alam cair ke daerah atau negara lain. Pelabuhan pabrik alumunium Asahan di Kuala Tanjung Sumatra Utara digunakan untuk melayni import bahan baku bauksit dan exort alumunium ke daerah / negara lain.

2.2.2. Ditinjau dari Segi Pengusahaannya a. Pelabuhan yang diusahakan Pelabuhan ini sengaja diusahakan untuk memberikan fsilitas-fasilitas yang diperlukan oleh kapal yang memasuki pelabuhan untuk melakukn kegiatan bongkar-muat barang, menaikturunkan penumpang serta kegiatan lainnya. Pemakaian pelabuhan ini dikenakan biaya-biaya , seperti biaya jasa labuh, jasa tambat, jasa pemanduan, jasa penundaan, jasa pelayanan air bersih, jasa dermaga, jasa penumpukan, bongkar-muat, dan sebagainya. b. Pelabuhan yang tidak diusahakan Pelabuhan ini hanya merupakan tempat singgah kapal/perahu , tanpa fasilitas bongkar muat , bea-cukai, dan sebagainya. Pelabuhan ini umumnya pelabunan kecil yang disubsidi oleh 6

pemerintah , dan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jendral Perhubungan Laut.

2.2.3 Ditinjau dari fungsinya dalam Perdagangan Nasional dan Internasional a. Pelabuhan laut Pelabuhan laut adalah pelabuhan yang bebas dimasuki oleh kapal-kapal berbendera asing. Pelabuhan ini biasanya merupakan pelabuhan besar dan ramai dikunjungi oleh kapal-kapal samudra. b. Pelabuhan pantai Pelabuhan pantai adalah pelabuhan yang disediakan untuk perdagangan dalam negeri dan oleh karena itu tidak bebas disinggahi oleh kapal berbendera asing. Kapal asing dapat masuk ke pelabuhan ini dengan memint ijin terlebih dahulu.

2.2.4. Ditinjau dari Segi Penggunaannya. a. Pelabuhan ikan Pada umumnya pelabuhan ikan tidak memerlukan kedalaman air yang besar, karena kapal-kapal motor yang digunakan untuk menangkap ikan tidak besar. Di Indonesia pengusahaan ikan relatif masih sederhana yang dilakukan oleh nelayan- nelayan dengan menggunakan perahu kecil. Jenis kapal ikan ini bervariasi, dari yang sederhana berupa jukung sampai kapal motor. Jukung adalah perahu yang dibuat dari kayu dengan lebar sekitar 1 meter dan panjang 6 7 meter. Perahu ini dapt menggunakan layar atau motor tempel, dan bisa langsung mendarat di pantai. Kapal yang lebih besar terbuat dari papan atau fiberglass dengan lebar 2,0 2,5 m dan panjang 8 12 meter, digerakkan oleh motor. Kapal Ex-Trawl mempunyai lebar 4,0 5,5 m dan panjang 16-19 meter digerakkan oleh motor. Ada pula kapal lebih besar dengan panjang mencapai 30-40 meter. Pelabuhan ikan dibuat disekitar daerah perkampungan nelayan. Pelabuhan ini harus dilengkapi dengan pasar lelang, pabrik/gudang es, persediaan bahan bakar, dan juga tempat cukup luas untuk perawatan alat alat penangkap ikan.

Gambar 1.2 adalah contoh pelabuhan ikan Cilacap.

Pelabuhan ikan Cilacap berada di Pantai Teluk Penyu dan menghadap ke Samudera Indonesia dengan gelombang cukup besar. Pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan dalam yang dibuat dengan mengeruk daerah daratan untuk digunakan sebagai perairan pelabuhan. Dengan membuat kolam pelabuhan di daerah darat, akan dapat mengurangi panjang pemecah gelombang . Tetapi, dengan demikian dibutuhkan pengerukan yang lebih besar. Pemecah gelombang dibuat dari tumpukan batu dengan lapis pelindung dari tetrapod. Biaya pembuatan pemecah gelombang di laut dengan gelombang sangat besar akan mahal. Pemecah gelombang ini hanya berfungsi untuk melindungi mulut pelabuhan (bukan perairan pelabuhan) sehingga bisa lebih pendek dan murah. Pelabuhan ini direncanakan dapat menampung 250 kapal dengan ukuran kapal maksimum 40 GRT, dengan dimensi panjang 30 meter, lebar 5 meter dan draft maksimum 2,3 m. Produksi ikan yang diharapkan adalah 36 ton/hari. Fasilitas-fasilitas yang ada pada pelabuhan ini adalah kantor pelabuhan, kantor syahbandar, pemecah gelombang, dermaga (pier/jetty), tempat pelelangan ikan, penyedian air tawar, persediaan bahan bakar minya, pabrik Es, tempat pelayanan/reparasi kapal (spilway), rambu suar, tempat penjemuran ikan dan perawatan jala.

b. Pelabuhan minyak Untuk keamanan, pelabuhan minyak harus diletakkan agak jauh dari keperluan umum. Pelabuhan minyak biasanya tidak memerlukan dermaga atau pangkalan yang harus dapat menahan muatan vertikal yang besar, melainkan cukup membuatjembatan perancah atau tambatan yang dibuat menjorok ke laut untuk mendapatkan kedalaman air yang cukup besar. Bongkar muat dilakukan dengan pipa-pipa dan pompa-pompa . Gambar 1.3 adalah contoh pelabuhan minyak. Pipa-pipa enyalur diletakkan di bawah jembatan agar lalulintas diatas jembatan tidak terganggu. tetapi pada tempat-tempat di dekat kapal yang merapat, pipa- pipa dinaikkan ke atas jembatan guna memudahkan penyambungan pipa-pipa. Biasanya, di jembatan tersebut juga ditempatkan pipa uap untuk memebersihkan tangki kapal dan pipa air untuk suplai air tawar. Karena jembatan tidak panjang, maka pada ujung kapal harus diadakan penambatan dengan bolder atau pelampung pengikat agar kapal tdak bergerak. Perkembangan ukuran kapal tangker yang cukup pesat mempunyai konsekuensi draft kapal melampaui kedalaman air pelabuhan sehingga kapal tidak bisa berlabuh. Untuk itu kapal tangker membuang sauh di laut dalam dan mengeluarkan minyak dengan mengguakan pipa bawah laut, atau memindahkan minyak ke kapal yang lebih kecil dan mengangkutnya ke pelabuhan.

c. Pelabuhan barang Pelabuhan ini mempunyai dermaga yang dilengkapi dengan fasilitas untuk bongkar muat barang . Pelabuhan dapat berada di pantai atau estuari dari sungai besar. Daerah perairan pelabuhan harus cuku tenang sehingga memudahkan bongkar muat barang. Pelabuhan barang ini bisa dibuat oleh pemerintah sebagai pelabuhan niaga atau perusahaan swasta untuk keperluan transport hasil produksinya seperti baja, alumunum, pupuk, batu bara, minyak dan sebagainya. Sebagai contoh, Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara adalah pelabuhan milik pabrik alumunium Asahan. Pabrik pupuk Asean dan Iskandar Muda juga mempunyai pelabuhan sendiri. Pada dasarnya pelabuhan barang harus mempunyai perlengkapan-perlengkapan berikut ini. a. Dermaga harus panjang dan harus dapat menampung seluruh panjang kapal atau setidaktidaknya 80% dari panjang kapal. Hal ini disebabkan karena muatan dibongkar muat melalui bagian muka, belakang dan ditengah kapal. b. Mempunyai halaman dermaga yang cukup lebar untuk keperluan bongkar muat barang. Barang yang akan dimuat disiapkan di atas dermaga dan kemudian diangkat dengan kran masuk kapal. Demikian pula pembongkarannya dilakukan dengan kran dan barang diletakkan di atas dermaga yang kemudian diangkut ke gudang. c. Mempunyai gudang transito/penyimpanan di belakang halaman dermaga. d. Tersedia jalan dan halaman untuk pengambilan /pemasukan barang dari dan ke gudang serta mempunyai fasilitas reparasi. Sebelum barang dimuat dalam kapal atau setelah diturunkan dari kpal, maka barang muatan tersebut ditempatkan pada halaman dermaga. Bentuk halaman dermaga tergantung pada jenis muatan yang bisa berupa : a. Barang-barang potongan (general cargo) yaitu barang-barang yang dikirim dalam bentuk satuan seperti mobil, truk, mesin, dan barang-barang yang dibungkus dalam peti, karung, drum, dan sebagainya. b. Muatan curah/lepas (bulk cargo) yang dimuat tanpa pembungkus seperti batu bara, bijibijian, minyak dan sebagainya. c. Peti kemas (container) yaitu suatu peti yang ukurannya telah distandarisasi sebagai pembungkus barang-barang yang dikirim. Karena ukurannya teratur dan sama, maka 10

penempatannya akan lebih dapat diatur dan pengangkutannyapun dapat dilakukan dengan alat tersendiri yang lebih efesien. 1. 2. 3. 4. 5. Ukuran 8x8x5 8x8x7 8x8x10 8x8x20 8x8x25 peti kemas ft3 ft3 ft3 ft3 ft3 dibedakan berat berat berat berat berat dalam 6 macam 5 7 10 20 25 yaitu : ton ton ton ton ton

maksimum maksimum maksimum maksimum maksimum

6. 8x8x40 ft3 berat maksimum 40 ton

11

Gambar 1.4, 1.5 dan 1.6 adalah contoh bentuk pelabuhan barang potongan, kontainer dan barang curah.

d. Pelabuhan penumpang Pelabuhan penumpang tidak banyak berbeda dengan pelabuhan barang . Pada pelabuhan barang di belakang dermaga terdapat gudang-gudang , sedang untuk pelabuhan penumpang dibangun stasiun penumpang yang melayani segala kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan orang yang bepergian, seperti kantor imigrasi, duane, keamanan, direksi pelabuhan, maskapai pelayaran, dan sebagainya. Barang-barang yang perlu dibongkar muat tidak begitu banyak, sehingga gudang barang tidak perlu besar. Untuk kelancaran masuk keluarnya penumpang dan barang, sebaiknya jalan masuk/keluar dipisahkan. Penumpang melalui lantai atas dengan menggunakan jembatan langsung ke kapal, sedang barang-barang melalui dermaga.

12

Gambar 1.7 adalah contoh pelabuhan penumpang

e. Pelabuhan campuran Pada umumnya percampuran pemakaian ini terbatas untuk penumpang dan barang, sedangkan untuk keperluan minyak dan ikan biasanya tetap terpisah. Tetapi bagi pelabuhan kecil atau masih dalam taraf perkembangan, keperluan untuk bongkar muat minyak juga menggunakan dermaga atau jembatan yang sama guna keperluan barang dan penumpang. Pada dermaga dan jembatan juga diletakkan pipa-pipa untuk mengalirkan minyak.

f. Pelabuhan Militer Pelabuhan ini mempunyai daerah perairan yang cukup luas untuk memungkinkan gerakan cepat kapal-kapal perang dan agar letak bangunan cukup terpisah. Konstruksi tambatan maupun dermaga hampir sama dengan pelabuhan barang, hanya saja situasi dan perlengkapannya agak lain. Pada pelabuhan barang letak/kegunaan bangunan harus seefisien mungkin, sedang pada pelabuhan militer bangunan-bangunan pelabuhan harus dipisah-pisah yang letaknya agak berjauhan.

2.2.5. Ditinjau Menurut Letak Geografis Menurut letak geografisnya, pelabuhan dapat dibedakan menjadi pelabuhan alam, semi alam dan pelabuhan buatan. a. Pelabuhan alam Pelabuhan alam merupakan daerah perairan yang terlindungi dari badai dan gelombang secara 13

alam, misalnya oleh suatu pulau,jazirah atau terletak di teluk, estuari dan muara sungai. Di daerah ini pengaruh gelombang sangat kecil. Pelabuhan cilacap yang terletak di selat antara daratan Cilacap dan Pulau Nusakambangan merupakan contoh pelabuhan alam yang daerah perairannya terlindung dari pengaruh gelombang yaitu oleh pulau Nusa Kambangan. Contoh dari pelabuhan alam lainnya adalah pelabuhan Palembang, Belawan, Pontianak, New York, San Fransisco, London, dsb yang terletak di muara sungai (estuari). Estuari adalah bagian dari sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada waktu pasang air laut masuk ke hulu sungai. Saat pasang tersebut air sungai dari hulu terhalang dan tidak bisa langsung dibuang ke laut. Dengan demikian di estuari terjadi penampungan air dalam jumlah sangat besar. Pada waktu surut, air tersebut akan keluar ke laut . Karena volum air yang dikeluarkan sangat besar, maka kecepatan aliran cukup besar yang dapat mengerosi endapan di dasar sungai. Lama periode air pasang dan surut tergantung pada tipe pasang surut . Untuk pasang surut tipe diurne periode air pasang dan surut masing-masing adalah sekitar 12 jam . Sedang tipe semi diurne periode adalah 6 jam. Karena adanya pasang surut tersebut maka kedalaman air di estuari cukup besar, baik pada waktu air pasng maupun surut, sehingga memungkinkan kapal-kapal untuk masuk ke daerah perairan tersebut. Di estuari ini tidak dipengaruhi oleh gelombang, tetapi pengaruh arus dan sedimentasi cukup besar.

b. Pelabuhan buatan Pelabuhan buatan adalah suatu daerah perairan yang dilindungi dari pengaruh gelombang 14

dengan membuat bangunan pemecah gelombang(breakwater). Pemecah gelombang ini membuat daerah perairan tertutup dari laut dan hanya dihubungkan oleh suatu celah atau mulut pelabuhan untuk keluar masuknya kapal. Di dalam daerah tersebut dilengkapi dengan alat penambat. Bagunan ini dibuat mulai dari pantai dan menjorok ke laut sehingga gelombang yang menjalar ke pantai terhalang oleh banguan tersebut. Contoh dari pelabuhan ini adalah pelabuhan Tanjung priok , Tanjung Mas dsb.

c. Pelabuhan semi alam Pelabuhan ini merupakan campuran dari kedua tipe di atas. Misalnya suatu pelabuhan yang terlindungi oleh lidah pantai dan perlindungan buatan hanya pada alur masuk. Pelbuhan bengkulu adalah contoh dari pelabuhan ini. Pelabuhan bengkulu memanfaatkan teluk yang terlindung oleh lidah pasir untuk kolam pelabuhan. Pengerukan dilakukan pada lidah pasir untuk membentuk saluran sebagai jalan masuk/keluar kapal. Contoh lainnya adalah muara sungai yang kedua sisinya dilindungi oleh jetty. Jetty tersebut berfungsi untuk menahan masuknya transpor pasir sepanjang pantai ke muara sungai , yang dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan.

15

BAB III PERENCANAAN PELABUHAN


3.1 DATA-DATA YANG DIPAKAI DALAM PERENCANAAN PELABUHAN Untuk dapat merealisasikan pembangunan suatu pelabuhan maka dibutuhkan data yang terbagi atas : Data yang berhubungan dengan fungsi pelabuhan, antara lain : 1. Asal dan tujuan muatan (Original and Destination) jenis muatan. 2. Rencana pembiayaan, ukuran-ukuran keberhasilan secara ekonomis dilihat dari segi investasi. 3. Pendayagunaan modal ditinjau dari segi operasional, terutama penanganan muatan. 4. Kaitan pelabuhan dan kapal yang akan dilayani serta sarana dan prasarana angkutan lain yang mendukung kegiatan pelabuhan dengan pendukung secara keseluruhan (komprehensif). 5. Kaitan pelabuhan dengan pelabuhan lainnya dalam rangka lalu lintas dan sistem jaringan untuk mendukung perdagangan. Kelima data yang berhubungan dengan fungsi pelabuhan tersebut harus diusahakan saling kait mengait agar rencana dasar pelabuhan (port master plan) tersebut secara keseluruhan layak. Berdasarkan data-data yang telah diperoleh seperti yang disebutkan di atas maka perencanaan dermaga dapat dimulai dengan memperhatikan hal-hal di bawah ini : 1. Letak dan kedalaman peralihan dermaga yang direncanakan. 2. Beban yang dapat dipikul oleh dermaga baik beban merata maupun beban terpusat. 3. Gaya-gaya lateral seperti manuver kapal ataupun gaya gempa. 4. Karakteristik tanah, terutama daya dukung tanah, stabilitas tanah dan lingkungan, maupun kemungkinan penurunan bangunan akibat konsolidasi tanah. 5. Sistem angkutan dan penanganan muatan. 6. Manfaat dari bahan-bahan bangunan yang tersedia, melalui penyelidikan bahan agar dapat dicapai biaya investasi yang cukup wajar dan dengan kualitas konstruksi yang baik. 16

7. Tenaga dan peralatan yang tersedia guna pelaksanaan pekerjaan berjalan lancar dan waktu pelaksanaan yang sesuai dengan rencana. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dan dengan kondisi dan tuntutan zaman, maka pada saat ini dibangun bermacam-macam jenis konstruksi dermaga seperti : 1. Dermaga dinding berbobot Dermaga tipe ini dibuat dengan mengandalkan berat dari blok-blok beton. Contoh wharf dinding beton massa dari pelabuhan Zongudalk-Turki. Blok-blok beton beratnya bisa mencapai 50 - 200 ton yang disusun secara vertikal. Dasar bangunan diberi lapisan tumpukan batu sebagai pondasi, sedang bagian belakang juga diisi dengan batu sehingga dapat mengurangi tekanan tanah. 2. Dermaga tiang pancang Dermaga tipe ini dibuat jika lapsan tanah dasar sangat jelek yang berupa endapan baru dan sangat lunak. Wharf dibuat di atas tiang-tiang pancang beton cast in place dengan diameter bervariasi dari 1,2 1,6 m dan panjang antara 20 45 m. Dermaga dibuat dari balok dan slab beton prategang. 3. Dermaga dengan dinding turap dan tiang penahan Dermaga tipe ini dibuat dari turap yang dipancang ke dalam tanah. Turap bisa terbuata dari kayu, beton atau baja. Bagian atas turap biasanya ditahan oleh tiang pancang miring yang dapat menahan tarikan. 4. Dermaga konstruksi kaison Kaison beton juga banyak digunakan sebagai wharf dimana kaison diletakkan pada pondasi dari tumpukan batu. Bagian dalam kaison diiisi dengan batu untuk menambah berat bangunan sehingga lebih stabil terhadap tekanan di belakangnya. 5. Dermaga dengan konstruksi ganda Dermaga ini biasanya menggabungkan tipe-tipe yang ada di atas misalnya dengan membuat dermaga yang menggunakan tiang pancang dan turap.

17

3.2 KRITERIA-KRITERIA PERENCANAAN 1. Kriteria Perencanaan Teknis Dengan kriteria perencanaan teknis ini perencanaan dimulai dari pemilihan lokasi penempatan dermaga. Pemilihan lokasi penempatan dermaga ini berdasarkan keadaan topografi (garis ketinggian tanah dasar) dan kondisi alam yaitu angin, arus dan pasang surut. Dalam kriteria perencanaan teknis ini termasuk juga data-data kapal berupa gross tonnage, panjang kapal, kemudian full load draft dan kecepatan standar. Pembebanan dalam perencanaan teknis ini terdiri dari beban mati yaitu: berat sendiri konstruksi dan beban hidup yang terdiri dari beban merata, beban truk dan beban crane cap. 2. Kriteria Bangunan Atas (Upper Structure) a. Perencanaan Konstruksi Dermaga Dalam perencanaan konstruksi dermaga, hal-hal yang menjdi pokok perhatian adalah perencanaan plat lantai. Dalam perencanaan plat lantai faktor pembebanan sangat menentukan yaitu berupa beban mati, beban hidup, beban bergerak terpusat berupa beban crane dan beban truk. b. Perencanaan Fender Untuk menyerap energi yang ditimbulkan oleh benturan kapal pada dermaga maka digunakan fender. Pada saat ini dikenal ada tiga jenis fender yaitu : Fender hidaraulis (Hidraulic Fender) Fender per baja (Steel Spring) Fender karet (Rubber fender) Dari ketiga jenis fender ini maka fender karetlah yang lebih banyak dipakai karena relatif lebih ringan dan mudah pemasangannya, dibandingkan dengan fender hidraulis yang tidak elastis. Bentuk fender karet ini bermacammacam antara lain berbentuk persegi (rectanguler), silindris, tipe V atau tipe H 18

dan lainnya. Dalam penentuan jenis fender rencana kapal yang akan merapat sangat penting selain data kecepatan berlabuh kapal juga diperlukan.

c. Perencanaan Bollard/Boulder Bollard dipakai untuk memikul gaya-gaya horizontal yang timbul akibat bergesernya kapal yang diakibatkan oleh pengaruh angin dan arus. Bollard biasanya terbuat dari baja dengan bentuk berongga maupun dengan bentuk tanpa rongga. Pada saat akan dipasang di dermaga, bollard dengan berongga diisi dengan campuran beton. Pemilihan jenis bollard yang akan dipakai berdasarkan hal-hal berikut : gaya akibat angin gaya akibat arus tinggi bidang yang terkena angin luas bidang yang terkena angin luas bidang yang terkena arus

19

d. Perencanaan Poer Dalam perencanaan poer, hal yang menjadi pertimbangan utama adalah pembebanan yang terjadi pada poer.

Pembebanan yang terjadi pada poer : berat sendiri poer berat balok berat plat lantai beban hidup beban truk dan crane cap

20

3. Perencanaan Bangunan Bawah (Sub Struktur) a. Perencanaan Tiang Pancang Dermaga Dalam perencanaan tiang pancang diperhitungkan gaya-gaya yang bekerja pada tiang pancang tersebut. Gaya-gaya yan bekerja adalah : gaya horizontal akibat gaya tarik fender gaya horizontal akibat tarikan kapal pada bollard gaya horizontal akibat torsi (momen torsi pada pusat dermaga) gaya horizontal akibat gempa gaya vertikal akibat beban di atas dermaga

b. Perencanaan Tiang Trestle Hal-hal yang diperhitungkan dalam perencanaan tiang pancang trestle sama dengan perencanaan tiang pancang dermaga. Masalah khusus yang biasanya terdapat dalam melaksanakan perencanaan pembangunan pelabuhan adalah : Pembangunan pelabuhan di daerah baru (virgin) / peningkatan pelabuhan lama. Pelaksanaan pengembangan konstruksi pada kondisi tanah lumpur atau terjal. Pelaksanaan pembangunan pelabuhan yang mempunyai kedalaman yang besar (pelaksanaan yang sukar). Pengerukan alur pelayaran untuk kapal-kapal yang diakibatkan kemungkinan terjadinya endapan di dalam kolom atau alur pelayaran. Pemakaian material konstruksi yang baru.

Data yang berhubungan dengan perencanaan : Jenis kapal yang mengunjungi pelabuhan/dermaga tersebut. Kecepatan kapal yang akan dilayani. Data klimatologi yang meliputi : Angin dan tekanan angin. 21

Pasang surut dan elevasi-elevasi. Gelombang dan gaya gelombang. Arus dan gaya arus. Sifat air laut.

Topografi dan struktur tanah. Gaya-gaya yang bekerja pada lantai struktur. Gaya-gaya hidrolik pada dasar laut dan proses pengendapan. Kondisi tanah dasar. Gempa dan gaya gempa. Tekanan tanah. Tekanan air. Beban mati. Muatan merata. Hal-hal lain yang diperlukan seperti pertimbangan dalam segi lingkungan (AMDAL). Mutu beton yang dipakai untuk pembangunan pelabuhan. Mutu baja yang dipakai dalam pembangunan pelabuhan.

Beberapa fasilitas yang ada diterminal adalah : 1. Dermaga Terminal peti kemas memerlukan halaman yang luas, yang biasanya lebih dari 10 ha tiap satu tambatan. Untuk itu maka dermaga harus bertipe wharf, bukan type pier atau pier berbentuk jari. Mengingat kapal-kapal peti kemas berukuran besar maka dermaga cukup panjang dan dalam. Panjang dermaga antara 250 m dan 350 m, sedang kedalamannya dari 12 m 15 m, yang tergantung pada ukuran kapal. 2. Apron Apron terminal peti kemas lebih lebar dibanding apron untuk terminal lain yang biasanya berukuran dari 20 m 50 m. Pada apron ini ditempatkan peralatan bongkar muat peti kemas lainnya. Fasilitas-fasilitas tersebut memberikan perubahan yang

22

sangat besar pada dermaga dan harus diperhitungksn dengan teliti dalam perancangan. 3. Marshaling yard (Lapangan penumpukan sementara) Marshaling yard adalah lapang yang digunakan utnuk menempatkan secara sementara peti kemas yang akan dimuatkan kedalam kapal. Lapangan ini berada didekat apron. 4. Container yard ( Lapangan penumpukan peti kemas) Container yard adalah lapangan penumpukan peti kemas yang berisi muatan FCL dan peti kemas kosong yang akan dikapalkan. Lapangan ini berada didaratan dan permukaannya harus diberi perkerasan untuk biasa mendukung peralatan pengangkat/pengangkut dan beban peti kemas. Beban peti kemas bertumpuk pada keempat sudutnya. Beban tersebut bisa cukup besar, terutama bila peti kemas ditumpuk. Penumpakan dapat dilakukan sampai 2 atau 3 tingkat. Dengan cara penumpukan dapat mengurangi luas container yard, tetapi berakibat bertambahnya waktu penanganan peti kemas paling atas harus dipindahkan pada saat peti kemas dibawahnya akan dikirim lebih dahulu. Container yard harus memiliki gang-gang baik memanjang maupun melintang untuk beroperasinya peralatan penanganan peti kemas. 5. Container freight station ( CFS) Container freighrt station adalah gudang yang disediakan untuk barang-barang secara LCL. Di CFS pada pelabuhan pemuatan barang-barang dari beberapa pengirim dimasukkan jadi satu dalam peti kemas. Di pelabuhan tujuan/pembongkaran, peti kemas yang bermuatan LCL diangkut ke CFS dan kemudian muatan tersebut dikeluarkan dan ditimbun dalam gudang perusahaan pelayaran yang bersangkutan dan peti kemasnya dikembalikan ke kapal. 6. Menara Pengawas Menara pengawas digunakan untuk melakukan pengawasan di semua tempat mengatur serta mengarahakan semua kegiatan di terminal, seperti pengoperasian peralatan dan pemberitahuan arah penyimpanan dan penempatan peti kemas. 23

7.

Bengkel Pemeliharaan Mekanisasi kegiatan bongkar muat muatan diterminal peti kemas menyebabkan dibutuhkannya peralatan dan reparasi peralatan yang digunakan dan juga untuk memperbaiki peti kemas kosong yang akan dikembalikan. Kegiatan tersebut dilakukan di bengkel. Kerusakan peralatan dan kelambatan perbaikan peralatan dapat menyebabkan tertundanya semua kegiatan di terminal. Mengingat pentingnya, maka semua terminal peti kemas harus mempunyai bengkel pemeliharaan.

8.

Fasilitas Lain Di dalam terminal peti kemas diperlukan beberapa fasilitas umumnya lainnya seperti tenaga listrik untuk peti kemas khusus pendingin, suplai bahan bakar, suplai air tawar, penerangan untuk penerangan pada malam hari dan keamanan, peralatan untuk membersihkan peti kosong dan peralatan bongkar muat, listrik tegangan tinggi untuk mengoperasikan kran.

3.3 Data-Data Perencanaan 3.3.1 Data Kapal Panjang, lebar dan sarat (draft) kapal yang akan menggunakan pelabuhan berhubungan langsung pada perencanaan pelabuhan dan fasilitas-fasilitas yang harus tersedia di pelabuhan

d Lpp B Loa

Gambar 2.1 Dimensi kapal Gambar 2.1 menunjukkan dimensi utama kapal yang akan digunakan untuk menjelaskan beberapa defenisi kapal. Selain dimensi kapal, karakteristik kapal seperti tipe dan fungsinya juga berpengaruh terhadap perencanaan pelabuhan. Tipe kapal sesuai fungsinya dapat dibedakan atas : 24

1. Kapal Penumpang Di Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, kapal penumpang masih mempunyai peranan yang penting. Jarak antar pulau yang relative dekat dan mudahnya hubungan antar pulau, masih memungkinkan adanya feri-feri atau kapal penumpang untuk beroperasi. 2. Kapal Barang Kapal barang, khusus dibuat untuk mengangkut barang, yang umumnya memiliki ukuran yang lebih besar dari kapal penumpang. Kapal ini juga dibedakan menjadi beberapa macam sesuai dengan jenis barang yang diangkut, seperti : a) Kapal barang umum (general cargo ship) Kapal ini digunakan untuk mengangkut muatan umum. Kapal jenis ini antara lain kapal yang membawa peti kemas (peti kemas 5-40 ton) dan kapal dengan bongkar muat secara horizontal (pengangkut mobil atau truk) b) Kapal barang curah (bulk cargo ship) Kapal ini digunakan umtuk mengangkut muatan curah yang dikapalkan dalam jumlah banyak sekaligus seperti beras, gandum, dan batu bara. c) Kapal tanker Kapal ini digunakan untuk mengangkut minyak dan umumnya memiliki ukuran yang sangat besar d) Kapal khusus Kapal khusus ini dibuat untuk mengangkut barang tertentu seperti daging dalam keadaan beku, atau kapal pengangkut gas alam cair. Selain itu masih ada jenis kapal penangkap ikan, kapal tunda, kapal suplai, kapal pesiar, kapal perang dan yang lain.

3.3.2 Data Angin Sirkulasi udara yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi disebut angin. Gerakan udara ini disebabkan oleh perubahan temperatur atmosfer. Indonesia mengalami angin musim, yaitu angin yang berhembus secara mantap dalam satu arah 25

dalam satu periode dalam suatu tahun. Angin yang berhembus dikenal dengan Angin Musim Barat dan Angin Musim Timur. Angin Musim Barat berhembus dari Asia menuju Australia, dan biasanya bertiup dari bulan Desember sampai Februari. Angin Musim Timur berhembus dari Australia menuju Asia, dan berlangsung dari bulan Juli sampai Agustus. Selain itu, ada pula angin darat dan angin laut yang dapat menyebabkan penyimpangan arah angin musim. Kecepatan angin diukur dengan anemometer. Apabila tidak tersedia anemometer, kecepatan angin dapat diperkirakan berdasar keadaan lingkungan dengan menggunakan skala Beaufort. Kecepatan angin biasanya dinyatakan dalam knot. Satu knot adalah panjang satu menit garis bujur melalui khatulistiwa yang ditempuh dalam satu jam, atau 1 knot = 1,852 km/jam
Tabel 2.4 Skala Beaufort
Tingkat 0 1 Sifat Angin Sunyi (calm) Angin sepoi Keadaan Lingkungan Tidak ada angin, asap mengumpul Arah angin terlihat pada arah asap, tidak ada bendera angin 2 Angin sangat lemah 3 4 Angin lemah Angin sedang Angin terasa pada muka, daun ringan bergerak Daun/ranting terus menerus bergerak Daun/kertas tertiup, ranting dan cabang kecil bergerak Pohon kecil bergerak, buih putih di laut 5 6 Angin agak kuat Angin kuat Dahan besar bergerak, suara mendesir kawat telpon Pohon seluruhnya bergerak, perjalanan di luar 7 Angin kencang sukar Ranting pohon patah, berjalan menentang angin 8 Angin sangat kuat Kerusakan kecil pada rumah, genting tertiup dan terlempar 9 Badai Pohon tumbang , kerusakan besar pada rumah Kerusakan karena badai terdapat di daerah luas 10 11 12 Badai kuat Angin ribut Angin topan Pohon besar tumbang, rumah rusak berat 48-55 56-63 64 147,5 188,0 213,0 41-47 102,5 34-40 83,2 28-33 60,1 17-21 22-27 26,6 41,0 7-10 11-16 8,1 15,7 4-6 3,5 V (knot) 0-1 1-3 P (kg/m2) 0,2 0,8

Catatan :V : kecepatan angin dan p : tekanan angin

26

3.3.3 Data Gelombang Gelombang merupakan faktor penting di dalam perencanaan pelabuhan. Gelombang di laut bisa dibangkitkan oleh angin (gelombang angin), gaya tarik matahari dan bulan (pasang surut), letusan gunung berapi atau gempa di laut (tsunami), kapal yang bergerak, dan sebagainya. Di antara beberapa bentuk gelombang tersebut yang paling penting dalam perencanaan pelabuhan adalah gelombang angin (untuk selanjutnya disebut gelombang) dan pasang surut. Gelombang digunakan untuk merencanakan bangunan-bangunan pelabuhan seperti pemecah gelombang, studi ketenangan di pelabuhan, dan fasilitas-fasilitas pelabuhan lainnya. Gelombang tersebut akan menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pelabuhan. Selain itu, gelombang juga bisa menimbulkan arus dan transport sediment di daerah pantai. Layout pelabuhan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga sediment di pelabuhan dapat dihindari. Ada beberapa teori dengan berbagai derajat kekompleksan dan ketelitian untuk menggambarkan gelombang di alam, diantaranya adalah teori gelombang Airy, yang juga disebut sebagai teori gelombang linier atau teori gelombang amplitude kecil, yang dikemukakan oleh Airy pada tahun 1845.

Beberapa karakteristik dari gelombang airy adalah : 1. Profil muka air 2. Cepat rambat dan panjang gelombang 3. Klasifikasi gelombang menurut kedalaman relatif 4. Kecepatan partikel air 5. Perpindahan partikel 6. Tekanan gelombang 7. Kecepatan kelompok gelombang 8. Energi dan tenaga gelombang

27

3.3.4 Data Pasang Surut Pasang Surut adalah perubahan kedudukan permukaan air yang berupa naik dan turunnya permukaan air laut. Gerakan permukaan air laut mengakibatkan pula gerakan mendatar yang dapat mempengaruhi tempat-tempat tertentu, seperti sungai yang langsung berhubungan dengan laut. Pengukuran tinggi muka air dilakukan sesuai dengan karakteristik pasut. Kedudukan permukaan air laut tertinggi disebut air tinggi tertinggi dan kedudukan permukaan air laut terendah disebut air rendah terendah. Keadaan tersebut terjadi pada saat bulan baru/bulan purnama (spring tides) dan memiliki tunggang air yang besar. Sebaliknya tunggang air yang kecil terjadi pada saat bulan quarter (neap tides). Di dalam perencanaan pelabuhan diperlukan data pengamatan pasang surut minimal selama 15 hari yang digunakan untuk menentukan elevasi muka air rencana. Dengan pengamatan selama 15 hari tersebut telah tercakup satu siklus pasang surut yang meliputi pasang purnama dan perbani. Pengamatan lebih lama (30 hari atau lebih) akan memberikan data yang lebih lengkap. Pengamatan muka air dengan menggunakan alat otomatis (automatic water level recorder) atau secara manual dengan menggunakan bak ukur dengan interval pengamatan setiap jam ,siang, dan malam. Untuk dapat melakukan pembacaan dengan baik tanpa terpengaruh gelombang, biasanya pengamatan dilakukan di tempat terlindung, seperti muara sungai atau teluk.

3.3.5 Data Beban Secara garis besar, besaran-besaran beban dapat dibagi atas 2 kategori utama, yaitu Beban Horizontal/lateral dan Beban Vertikal. 1. Beban Horisontal a. Beban akibat angin dan arus. Besarnya gaya yang bekerja ini diukur sesuai skala Beaufort, arah angin yang menentukan dan arus yang bekerja. b. Beban akibat benturan kapal Beban ini merupakan energi kinetik yang timbul akibat benturan dari kapal pada saat bertambat. c. Beban akibat gempa d. Beban akibat muatan hidup horizontal 28

Besar muatan hidup horizontal diambil 5-10% dari muatan hidup yang bekerja pada bangunan pelabuhan

2. Beban Vertikal Beban vertikal terdiri dari muatan mati (dead load) dan mutan hidup (live load). Beban mati terjadi akibat berat konstruksi-konstruksi yang terdapat pada bangunan tersebut. Muatan hidup biasanya terdiri atas beban merata, beban terpusat akibat pipa, roda-roda truk, mobil dan peralatan lain yang bekerja untuk melakukan bongkar muat dalam pelabuhan. Muatan hidup merata biasanya untuk menampung beban-beban minyak/air/barang-barang curah dan umumnya diambil 2000-4000 kg/m2

3.4 Fasilitas Dasar Dermaga 3.4.1 Alur Pelayaran Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal yang akan masuk ke kolam pelabuhan. Alur pelayaran dan kolam pelabuhan harus cukup tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus. Perencanaan alur pelayaran dan kolam pelabuhan ditentukan oleh kapal terbesar yang akan masuk ke pelabuhan tersebut. Secara umum, ada beberapa daerah yang dilewati selama perjalanan tersebut, yaitu : 1) Daerah tempat kapal melempar sauh di luar pelabuhan 2) Daerah pendekatan sebelum alur masuk 3) Alur masuk di luar pelabuhan dan kemudian di dalam daerah terlindung 4) Saluran menuju dermaga (apabila berada di dalam daerah daratan) 5) Kolam putar. 3.4.2 Kolam Pelabuhan Kolom pelabuhan harus tenang, mempunyai luas dan kedalaman yang cukup, sehingga memungkinkan kapal berlabuh dengan aman dan cukup memudahkan bongkar muat barang. Pada kolam yang digunakan untuk penambatan di depan dermaga atau tiang penambat, harus ada daerah perairan yang cukup. Panjang kolam tidak kurang dari panjang total kapal (Loa) ditambah dengan ruang yang diperlukan untuk penambatan, yaitu sebesar lebar kapal; sedang lebarnya tidak kurang dari yang diperlukan untuk penambatan dan keberangkatan yang aman. 29

Lebar kolam di antara dua dermaga yang berhadapan ditentukan oleh ukuran kapal, jumlah tambatan dan penggunaan kapal tunda. Apabila dermaga digunakan untuk tambatan tiga kapal atau kurang, lebar kolam di antara dermaga adalah sama dengan panjang kapal (Loa). Sedang dermaga untuk empat kapal atau lebih, lebar kolam adalah 1,5 Loa
Tabel 4.1 Luas Kolam untuk tambatan Tanah Dasar atau Kecepatan Angin Penungguan di lepas Tambatan bisa Pengangkeran baik pantai atau Bongkar berputar 3600 Pengangkeran jelek muat barang Tambatan dengan Pengangkeran baik dua jangkar Pengangkeran jelek Penambatan selama Kec. Angin 20 m/d ada badai Kec. Angin 30 m/d Penggunaan Tipe tambatan Jari-jari (m) Loa + 6H Loa + 6H + 30 Loa + 4,5H Loa + 4,5H + 25 Loa + 3H + 90 Loa + 4H + 145

Tabel 4.2 Luas Kolam untuk tambatan pelampung Tipe Tambatan Tambatan pelampung tunggal Tambatan pelampung ganda Luas Lingkaran dengan jari-jari (Loa + 25 m) Segiempat dengan panjang dan lebar (Loa + 50m) dan L/2

3.4.3 Pemecah Gelombang Pemecah gelombang adalah bangunan yang digunakan untuk melindungi daerah perairan dermaga atau pelabuhan dari gangguan gelombang. Bangunan ini memisahkan daerah perairan dari laut bebas, sehingga perairan tersebut tidak banyak dipengaruhi oleh gelombang besar di laut. Dengan adanya pemecah gelombang ini, daerah perairan pelabuhan menjadi tenang dan kapal bisa melakukan aktivitasnya dengan baik. Dimensi pemecah gelombang tergantung pada beberapa faktor, diantaranya ukuran dan layout perairan, kedalaman laut, tinggi pasang surut dan gelombang, ketenangan pelabuhan dan transport sediment.

30