Anda di halaman 1dari 9

Tugas Metode Penelitian Pendidikan RUMUS MENENTUKAN UKURAN SAMPEL Iman (0915051026) Jurusan Pendidikan Teknik Informatika Universitas

Pendidikan Ganesha Singaraja, 2012 A. Pendahuluan Pada statistik inferensial, kesimpulan diambil untuk populasi berdasarkan data yang diperoleh dari sampel. Populasi memberikan data lengkap tentang karakteristik yang ingin dikaji. Namun realitas dilapangan menunjukkan bahwa sangat sulit mendapatkan informasi dari semua anggota populasi. Keterbatasan biaya, waktu, ketarampilan dan sarana pendukung dapat menjadi alasannya. Maka dari itu data diambil dari sebagian anggota populasi yang dapat mewakili populasi. Sebagian anggota populasi yang dapat mewakili populasi dinamakan sampel (Candiasa, 2010). Senada dengan ulasan di atas, Marzuki (2001) dalam bukunya yang berjudul Metodologi Riset menyatakan bahwa terdapat beberapa keuntungan

menggunakan metode sampling, yakni: 1. Penghematan biaya, waktu dan tenaga: Biaya lebih murah, Waktu lebih pendek (singkat), Tenaga yang diperlukan lebih sedikit.

2. Dengan teknik sampling yang baik mungkin akan diperoleh hasil yang lebih baik atau tepat dari pada penelitian terhadap populasi karena: Adanya tenaga-tenaga ahli, Penyelidikan dilakukan lebih teliti, Kesalahan yang mungkin diperbuat lebih sedikit.

Lebih lanjut, dalam menentukan ukuran sampel, terdapat syarat yang harus dipenuhi. Bambang (2012) menyatakan sedikitnya terdapat dua syarat dalam menentukan ukuran sampel, yakni ukuran populasi dan taraf signifikansi yang diinginkan. Dengan adanya dua syarat ini, maka peneliti dapat menentukan jumlah sampel dalam penelitiannya.

1 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

B. Rumus Penentuan Ukuran Sampel Dalam menentukan ukuran sampel dalam penelitian, terdapat beberapa metode praktis yang perlu diterapkan, yaitu: 1) Tabel Kretjie Tabel Krecjie untuk Menentukan Ukuran Sampel Minimum pada Taraf Signifikansi = 0,01 (1 %); 0,05 (5 %); dan 0,10 (10 %).

Nomogram Harry King (lihat Sugiyono, 2007) dalam Bambang, 2012.

2) Rumus Slovin Rumus Slovin untuk menentukan ukuran sampel minimal (n) jika diketahui ukuran populasi (N) pada taraf signifikansi adalah: Rumus

Keterangan: n = ukuran sampel minimal, N = ukuran populasi = taraf signifikansi Contoh: Berapa ukuran sampel minimum yang harus diambil dari populasi yang berukuran: - 1000 dengan taraf signifikansi = 0,05 - 45.250 dengan taraf signifikansi = 0,01 Jawab:

(dibulatkan ke atas)

2 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

-n= (dibulatkan ke bawah) Contoh: Jika dari populasi berukuran N = 10.000 diketahui bahwa 25% berpendidikan SLTA, 15% berpendidikan Diploma. 40% berpendidikan S1, dan 20% berpendidikan S2 dan S3 akan diambil sampel menggunakan rumus Slovin pada taraf signifikansi = 0,05 maka secara proporsional, ukuran sampel untuk masing-masing tingkat pendidikan adalah sebagai berikut: Jawab: Langkah 1: Menentukan ukuran sampel minimum populasi

Langkah 2: Menentukan ukuran sampel setiap objek Ukuran sampel Presentase Slovin pembulatan 25 25% x 385 = 96.25 96 15 15% x 385 = 57.75 58 40 40% x 385 = 154 154 20 20% x 385 = 77 77 385

Pendidikan SLTA Diploma S1 S2 dan S3 Jumlah 3) Uji Proporsi Rumus:

Keterangan: n = ukuran sampel yang diperlukan, p = prosentase hipotesis yang dinyatakan dalam peluang (biasanya 0.50), q = 1-p

Perbedaan antara yang ditaksir pada pada taraf signifikansi tertntu. Contoh:

, dengan

dibagi dengan nilai z

Diketahui dalam suatu penelitian pengaruh penggunaan susu kaleng, terhadap pertumbuhan anak remaja dengan p=0.5, dan

3 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

0,05 orang. Tentukanlah ukuran sampel yang diperlukan dalam penelitian tersebut?. Jawab: Diketahui: P=0.5, =0.05 orang Penyelesaian:

Jadi ukuran sampel yang diperlukan adalah 4) Uji Perbedaan Rata-Rata Rumus:

Keterangan: n = ukuran sampel yang diperlukan, = simpangan baku populasi, = nilai z pada tabel distribusi normal pada taraf signifikansi Tertentu, b = perbedaan antara yang ditaksir dengan tolak ukur penafsiran. Contoh: Diketahui dalam suatu penelitian sampel yang diperlukan adalah? Jawab:

= 5, z=0.8, b=2, maka ukuran

Jadi ukuran sampel yang diperlukan adalah 5) Cross-Sectional Rumus:

Dengan jumlah populasi (N) yang diketahui, maka peneliti bisa melakukan pengambilan sampel secara acak. Namun apabila besar populasi (N) tidak diketahui atau (N-n)/(N-1)=1 maka besar sampel dihitung dengan rumus sebagai berikut:

4 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

(Snedecor GW & Cochran WG, 1967) (Lemeshowb dkk, 1997) dalam Suyatno, 2012)

Keterangan: n = jumlah sampel minimal yang diperlukan, = derajat kepercayaan, P = proporsi anak yang diberi ASI secara ekslusif, q = 1-p (proporsi anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif, d = limit dari error atau presesi absolut. Jika ditetapkan =0,05 atau Z1- /2 = 1,962 atau atau dibulatkan menjadi 4, maka rumus untuk besar N yang diketahui kadang-kadang
diubah menjadi, Rumus:

Misalnya, jika ingin mencari sampel minimal untuk suatu penelitian mencari faktor determinan pemberian ASI secara ekslusif. Untuk mendapatkan nilai p, kita harus melihat dari penelitian yang telah ada atau literatur. Contoh: Diketahui proporsi bayi (p) yang diberi makanan ASI ekslusif sekitar 17,2%. Tentukan besar jumlah sampel yang dibutuhkan jika limit dari error (d) yang ditetapkan 0.05, dan nilai = 0.05. Jawab: Diketahui: p = 17.2% atau 0.172 d = 0.05 = 0.05 Ditanya: n = ..? Penyelesaian:

6) Menurut Taro Yamane Rumus:

Keterangan: n = jumlah sampel N = jumlah populasi yang diketahui,


5 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

d = presesi yang ditetapkan Contoh: Diketahui jumlah populasi rusa dalam suatu kawasan kebun binatang 255 ekor, dengan tingkat presesi ditetapkan sebesar 5%. Tentukanlah jumlah sampel yang akan diteliti? Jawab: Diketahui: N = 255 ekor, d = 0.05 Penyelesaian:

Maka jumlah sampel yang diteliti adalah 156 ekor 7) Menurut Surakhmad Jika jumlah populasi mencapai 100 maka sampel yang diambil minimal 15%, namun jika populasi hanya mencapai 100 orang maka sedikitnya diperlukan 50% dari populasi yang dijadikan sampel. Rumus: Keterangan: S = jumlah sampel, n = jumlah populasi yang diketahui, Contoh: Berdasarkan kriteria dan dengan menggunakan rumus di atas, maka untuk populasi dengan jumlah 119 orang didapatkan sampel berjumlah Jawab:

Dengan demikian, maka jumlah sampel yang akan diteliti adalah: S = 119 x 49.26% = 58.61, dibulatkan menjadi 59 orang.

6 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

8) Case Control dan Khoror Rumus yang digunakan untuk mencari besar sampel baik case control maupun khohor adalah sama, terutama jika menggunakan ukuran proporsi. Hanya saja untuk penelitian khohor, ada juga yang menggunakan ukuran data kontinue (nilai mean). Besar sampel untuk penelitian case control adalah bertujuan untuk mencari sampel minimal untuk masing-masing kelompok kasus dan kelompok kontrol. Kadangkadang peneliti membuat perbandingan antara jumlah sampel kelompok kasus dan kontrol tidak harus 1 : 1, tetapi juga bisa 1: 2 atau 1 : 3 dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Rumus:

(dalam Suyatno, 2012)

Keterangan: n = jumlah sampel minimal kelompok kasus dan control = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan tingkat kemaknaan (untuk = 0.05 adalah 1.96) = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan kuasa (power) sebesar diinginkan (untuk =0.10 adalah 1.28) p0 = proporsi paparan pada kelompok control p1 = proporsi paparan pada kelompok kasus q0 = 1-p0 dan q1=1-p1 Pada penelitian khohor yang dicari adalah jumlah minimal untuk kelompok exposure dan non-exposure atau kelompok terpapar dan tidak terpapar. Jika yang digunakan adalah data proporsi maka untuk penelitian khohor nilai p0 pada rumus di atas sebagai proporsi yang sakit pada populasi yang tidak terpapar dan p1 adalah proporsi yang sakit pada populasi yang terpapar atau nilai p1 = p0 x RR (Relative Risk). Jika nilai p adalah data kontinue (misalnya rata-rata berat badan, tinggi badan, IMT dan sebagainya) atau tidak dalam bentuk proporsi, maka penentuan besar sampel untuk kelompok dilakukan berdasarkan rumus berikut:

(dalam Suyatno, 2012) Keterangan: n = jumlah sampel setiap kelompok

= nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan tingkat kemaknaan (untuk = 0.05 adalah 1.96) = nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan kuasa (power) sebesar diinginkan (untuk =0.10 adalah 1.28)

7 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

= standar deviasi kesudahan (outcome) U1= mean outcome kelompok tidak terpapar U2= mean outcome kelompok terpapar Contoh: Misalnya seorang peneliti ingin mencari sampel minimal pada penelitian tentang pengaruh pemberian ASI eksklusif dengan terhadap berat badan bayi. Dengan menggunakan tingkat kemaknaan 95 % atau = 0,05, dan tingkat kuasa/power 90 % atau =0,10, serta kesudahan (outcome) yang diamati adalah berat badan bayi yang ditetapkan memiliki nilai asumsi SD=0,94 kg (mengacu data dari penelitian yang telah ada), dan estimasi selisih antara nilai mean kesudahan (outcome) berat badan kelompok tidak terpapar dan kelompok terpapar selama 4 bulan pertama kehidupan bayi (U1 U2) sebesar 0,6 kg (mengacu hasil penelitian Piwoz, et al. 1994 dalam Suyatno). Tentukan perkiraan jumlah minimal sampel yang dibutuhkan tiap kelompok pengamatan, baik terpapar atau tidak terpapar? Jawab: Diketahui:
= 1.92 =1.28 =0.94 U1-U2=0.6 Penyelesaian:

Pada penelitian khohor harus ditambah dengan jumlah lost to follow atau akan lepas selama pengamatan, biasanya diasumsikan 15 %. Pada contoh diatas, maka sampel minimal yang diperlukan menjadi n= 52 (1+0,15) = 59,8 bayi atau dibulatkan menjadi sebanyak 60 bayi untuk masing-masing kelompok baik kelompok terpapar ataupun tidak terpapar atau total 120 bayi untuk kedua kelompok tersebut. C. Simpulan Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sedangkan sampling adalah suatu proses memilih sebagian dari unsur populasi yang jumlahnya mencukupi secara statistik sehingga dengan mempelajari sampel serta memahami karakteristik-karakteristiknya (ciri-cirinya) akan diketahui informasi tentang keadaan populasi.

8 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2

Terdapat banyak rumus dalam menentukan ukuran jumlah sampel, dimana setiap rumus digunakan berdasarkan karakteristik atau sifat dari populasi penelitian. Dengan adanya rumus ini, maka secara langsung peneliti akan terbantu dalam mengolah data-data penelitian selanjutnya. D. Rujukan Drs. Marzuki, Metodologi Riset, BPFE-UII Yogyakarta: 2001. Candiasa, I Made, Statistik Univariat dan Bivariat disertai Aplikasi SPSS, Unit Penerbitan Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja: 2010. Ir. Suyatno, MKes. Menghitung Besar Sampel Penelitian Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat-UNDIP Semarang: 2012.http://suyatno.blog.undip.ac.id/files/2010/05/MENGHITUNGBESAR-SAMPEL-PENELITIAN.pdf Martadiputra, Bambang Avip Priatna. Populasi dan Sampel. 2012. http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIK A/196412051990031BAMBANG_AVIP_PRIATNA_M/MENENTUKAN_UKURAN_S AMPEL.pdf http://tesisdisertasi.blogspot.com/2009/12/rumus-rumus-pengambilansampel.html

9 |M e t o d e

P e n e l i t i a n

P e n d i d i k a n

( M P P ) - 2 0 1 2