Anda di halaman 1dari 8

TINJAUAN PUSTAKA

Pada umumnya senyawa-senyawa organic dianalisis menggunakan metode Kromatografi, termasuk metode Kromatografi Gas ( Gas Chromatography/ GC ). Prinsip dasar kromatografi adalah pemisahan senyawa berdasar fasa diam dan fasa bergerak. Suatu komponen dalam satu campuran dibawa melewati fasa diamnya oleh aliran fasa bergerak, baik itu gas maupun cairan, dimana pemisahan terjadi didasarkan pada perbedaan laju perpindahan komponen sampel ( Skoog,dkk.,1986) Kromatografi Gas-Cair adalah metode pemisahan yang terbaik, dan dapat digunakan untuk berbagai macam kondisi. Sejak penemuannya oleh James dan Martin pada tahun 1952, telah menimbulkan revolusi dalam kimia terutama kimia organic. Pada saat itu, kekurangannya adalah bahwa komponen-komponen sample harus mempunyai beberapa torr di dalam kolom. Ukuran sampel dari yang kurang dari 1 g sampai 100 g dapat diatasi dan runut hingga order 10-15 g.(Pecsok,1976) Kromatografi Gas adalah suatu metode kromatografi dimana fasa bergeraknya adalah gas, fasa diamnya dapat berupa padatan atau cairan. Pemisahan terjadi oleh perbedaan distribusi komponen sampel antara fasa diam dan fasa bergerak, yang menyebabkan masing-masing komponen bergerak melewati kolom dengan laju yang berbeda dan juga waktu yang berbeda. Terdapat banyak metode yang digunakan dalam kromatografi gas, antara lain: Frontal analysis, Displacement analysis, Vacanto chromatography, dan metode elusi. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan metode-metode ini, metode elusi adalah metode yang awam digunakan. Karakterisasi metode elusi terdapat pada aliran fasa bergerak secara kontinyu melewati kolom dimana pemisahan komponen sampel terjadi. Salah satu komponen bersama fasa bergerak (gas pembawa) meninggalkan kolom pada waktu yang berbeda dan secara sensitif dibaca oleh sistem detektor , yang ditampilkan dalam bentuk konsentrasi sebagai fungsi waktu, C=f(t).(Rotzsche,1991) Waktu yang dibutuhkan sampel dari sampel diinjeksi sampai terbaca puncak analitis oleh detektor disebut waktu retensi, dan diberi symbol tR. Setelah diinjeksi dalam suatu kromatograf, komponen sampel dibawa melalui kolom oleh gas pembawa, sebagai fasa bergerak. Dalam proses yang dinamis, tiap komponen sampel didistribusikan (berdasarkan kemungkinan-kemungkinan interaksi denagn fasa diam) antara volume elemen dari fasa diam maupun fasa bergerak.

Gb.1. Diagram Alat Kromatografi Gas Bagian terpenting dari suatu alat kromatografi gas adalah kolom(C), yang mengandung fasa diam. Gas pembawa(G) mewakili fasa bergerak, dibawa dari tabung gas yang mengandung gas terkompres. Konstansi dari laju aliran gas diatur oleh flow controller(F), dan laju alir diukur oleh flowmeter. Sistem injeksi(I) mengatur masuknya sampel secara langsung dan diuapkan di gas stream. Setelah melewati kolom maka akan terbaca pada detektor(D), dimana komponen sampel yang terpisah akan menghasilkan sinyal elektronik analog, yang pada detector ionisasi akan ditampilkan sebagai stripchart, yang berupa kromatogram dimana menampilkan puncak-puncak yang spesifik untuk tiap komponen yang dipisahkan.(Rotzsche,1991) Dalam suatu kolom terbagi menjadi beberapa bagian kesetimbangan fasa uap (theoretical plates), dimana cepat atau lambatnya aliran laju bergerak dalam kolom dipengaruhi oleh faktor kesetimbangan. Komponen akan terpisah secara spasial dari komponen lainnya akibat interaksi dengan kolom berdasar sifat-sifat yang dimilikinya seperti tekanan uap, dan terutama perbedaan polaritas. Kromatografi Gas dapat digunakan untuk analisis kualitatif maupu kuantitatif. Pada analisis kualitatif, dilakukan penambahan sampel pada suatu komponen yang diselidiki pada keadaan murni, dimana terjadinya penambahan tinggi/area peak menunjukkan hasil yang positif adanya senyawa tersebut dalam sampel. Pada analisis kuantitatif didasarkan pada perbandingan baik tinggi maupun area puncak dengan suatu larutan standar. Pada kondisi tertentu kedua parameter ini linier terhadap konsentrasi. Metode yang sering digunakan adalah metode kalibrasi dengan kurva standar dimana diukur puncak-puncak larutan standar pada variasi konsentrasi. Untuk mengeliminasi kesalahan akibat ketidakpastian jumlah sampel yang diinjeksi digunakan metode standar internal, dimana dilakukan penambahan komponen lain yang mirip ke dalam sampel pembanding.(Skoog,dkk.,1986)

I.

PERCOBAAN

II.1 Alat yang digunakan (a). Labu ukur 10 ml (b). Gelas ukur 10 ml (c). Pipet volume (d). Pipet tetes (e). propipet (f). Instrumen Gas Chromatography II.2 Bahan yang digunakan (a). Etanol absolut (b). Akuades (c). Lart. 1-propanol (d). sampel anggur ubi ungu II.3 Cara Kerja 3.1 Pembuatan kurva kalibrasi Digunakan alkohol absolut dan akuades untuk membuat 7 (tujuh) macam konsentrasi (persen volume) masing-masing sebagai berikut : 3,0 ; 6,0 ; 9,0 ; 12,0 ; 15,0 ; 18,0 ; 21,0%. Ke dalam masing-masing larutan ditambahkan 1propanol sehingga konsentrasi propanol dalam larutan menjadi 10% (1ml 1propanol dalam 10 ml campuran etanol-air). Dari larutan ini diambil 0,5-1,0 l dan diinjeksikan pada kromatografi gas. Dari kromatogram yang diperoleh dibuat kurva kalibrasi antara rasio tinggi/area puncak etanol terhadap 1-propanol versus persen etanol. 3.2 Menentukan kadar etanol dalam Bir/Anggur Ke dalam cuplikan yang telah tersedia ditambahkan 1-propanol seperti pada cara 3.1. Ambil sebanyak 0,5-1,0 l dengan syringe dan injeksikan pada kromatografi gas. Dari kromatogram yang diperoleh, ditentukan rasio tinggi/area puncak etanol terhadap 1-propanol. Data yang diperoleh diinterpolasi pada kurva kalibrasi sehingga persen etanol dalam sampel dapat diketahui.

II.

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

III.1. Hasil percobaan III.1.1. Pembuatan kurva kalibrasi Dari kromatogram (terlampir) yang diperoleh data sebagai berikut :

Persen etanol (%) 3 6 9 12 15 18 21

Area puncak etanol 60039 117783 180048 224041 336456 328186 428487

Area 1-propanol 327292 313250 334338 302560 329217 298513 316180

Rasio 0,183 0,376 0,539 0,741 1,022 1,099 1,353

Dari data yang diperoleh dibuat kurva persen etanol versus rasio area etanol terhadap 1propanol.

Gb. Kurva kalibrasi persen etanol versus rasio Dari Kurva yang diperoleh diketahui koefisien-koefisien persamaan adalah ; Slope ( b0 ) = 0.0648 Intersep (b1 ) = -0,0180 Jadi persaman kurva kalibrasi adalah

Y=b0.X + b1 Rasio = 0,0648 (%etanol) 0,0180 III.1.2. Penentuan Sampel Dari kromatogram pada pengukuran sampel diperoleh data Jenis Bir Guiness Balihai Area peak etanol 91766 100578 Area 1-propanol 322614 310546 Rasio 0,264 0,324

Maka dapat dihitung persen etanol dalam sampel : # sampel 1 : Guiness Beer Rasio = 0,0648.(%etanol) 0,0180 0,264 = 0,0648 (%etanol) 0,0180 %etanol = 4,35 % #sampel 2 : Balihai Beer 0,324 = 0.0648 (%etanol) 0,0180 %etanol = 5,28% Kondisi Gas chromatography Jenis kolom : Ultra-2 non polar 30m Suhu program kolom : Suhu awal : 700 Waktu awal : 3l Kenaikan suhu : 0 Suhu akhir :0 Jenis detector : FID Suhu detector : 2700 Suhu injector : 2600 Gas pembawa : N2 Total flow : 40 ml/menit Jumlah injeksi : 0,1 l III.2 Pembahasan Dalam setiap analisis kuanrtitatif suatu senyawa dengan metode kurva kalibrasi selalu digunakan standar dalam variasi konsentrasi. Dalam percobaan ini digunakan etanol absolut yang dibuat dalam variasi konsentrasi 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21% (v/v). Kesalahan yang sering ditemui dalam analisis menggunakan Gas Chromatography adalah ketidakpastian jumlah sampel yang diinjeksikan. Untuk

mengestimasi kesalahan yang terjadi maka digunakan metode standar internal dimana ke dalam larutan etanol ditambahkan larutan tertentu yang mirip dengan etanol pada konsentrasi tetap. Maksud dari penambahan ini adalah sebagai bahan pembanding tinggi/area puncak etanol yang terjadi sehingga berapapun sampel yang terinjeksikan, rasio perbandingan puncak standar akan tetap. Pada percobaan ini standar internal yang digunakan adalah 1-propanol dengan pertimbangan antara lain : - dapat bercampur dengan etanol maupun air - inert dan stabil - dapat diperoleh dalam keadaan murninya - volatilitasnya rendah - memiliki sifat kimia yang hampir mirip dengan etanol - waktu retensi tidak jauh berbeda Untuk analisis kuantitatif dengan menggunakan

instrumen

Gas

Chromatography diperlukan optimasi alat berupa pemilihan kolom maupun detektor yang tepat agar diperoleh hasil yang maksimal. Kolom yang sering digunakan adalah kolom stainless steel, glass, quartz, nikel, dan poly tetra fluor ethylene (PTFE). Pemilihan kolom didasarkan pada interaksi yang terjadi antara uap sampel dengan dinding kolom. Selektivitas GC didasarkan pada interaksi molecular antara molekul yang dipisahkan dengan molekul pada fasa diam. Interaksi yang terjadi dapat berupa gaya dispersi yang terjadi pada interaksi komponen non polar atau polaritasnya rendah. Gaya ini dihasilkan dari dipol terinduksi dan gaya tarik multi polar dari kedua molekul, yang tidak simetri akibat gerakan electron satu molekul seperti dipol yang berfluktuasi mempolarisasi atom tetangganya. Interaksi antara dipolar molekul akibat efek elektrostatik dari jembatan ikatan hidrogen yang terjadi antara proton donor dan proton akseptor yang dipengaruhi oleh elektronegativitas atom. Selain itu, juga dapat diakibatkan oleh gaya induksi akibat gaya Van der Waals. Gaya ini didasarkan pada fakta bahwa medan elektrik dari molekul dipolar menginduksi momen elektrik molekul lain yang terpolarisasi. Pada percobaan ini komponen yang akan dianalisis adalah non polar, maka kolom yang dipilih adalah kolom non polar. Interaksi terjadi dalam kolom didasarkan pada perbedaan polaritas antara etanol dan 1-propanol, dimana semakin panjang rantai karbon maka polaritasnya semakin rendah.

Etanol 1-propanol Dalam hal ini, 1-propanol lebih tidak polar sehingga akan ditahan lebih lama di dalam kolom didasarkan pada kaidah like disolve like. Perbedaan waktu penahanan, sering disebut waktu retensi, menyebabkan perbedaan atau munculnya puncak yang berbeda dalam kromatogram. Sedangkan detektor yang dipilih adalah Flame Ionization Detector (FID). Pada umumnya, senyawa organik ketika dipirolisis menghasilkan intermediet ionik dan elektron yang terlibat dalam mekanisme, dimana spesies yang bermuatan ini akan tertarik dan dikumpulkan dalam collector dan aliran ion yang dihasilkan akan terbaca. Detector FID adalah detektor yang sering digunakan karena sensitivitasnya tinggi ( sekitar 10-13 g/ml ), range responnya besar ( sekitar 107 ), tidak berisik, dan satu kekurngannya adalah bahwa detector ini merusak sampel. Larutan etanol-air yang telah ditambah 1-propanol tadi diambil 0,1 l untuk diinjeksikan ke dalam GC. Rasio puncak etanol terhadap puncak 1-propanol dibuat grafik versus persen etanol sebagai kurva kalibrasi. Hal yang sama, baik preparasi maupun penambahan internal, juga dilakukan terhadap sampel Bir baik Guiness maupun Balihai, sehingga diperoleh data rasio puncaknya. Dengan interpolasi pada grafik akan diketahui persen etanol dalam sampel. Dari data percobaan dan perhitungan diketahui persen etanol dalam sampel Guiness adalah 4,35 % ( kadar pada label adalah < 5 % ) dan kadar etanol dalam Balihai beer adalan 5,28 % ( kadar label tidak tertera ). Adanya perbedaan hasil ini menunjukkan hasil percobaan kurang sempurna, yang kemungkinan dikarenakan : 1. ketidaktelitian dalam preparasi bahan, baik untuk kurva kalibrasi maupun preparasi sampel. Hal ini dapat dilihat dari kurva yang dihasilkan dimana terdapat data yang melenceng sehingga signifikansi data tidak dapat diterima dan kurva yang diperoleh tidak benar-benar linier. 2. kekurangsempurnaan pemisahan pada kolom sehingga terjadi overlapping yang mempengaruhi puncak yang dihasilkan. Selain itu, kesalahan yang umum terjadi adalah saat pengenceran, dimana pencampuran etanol dengan air akan mengakibatkan terjadinya kontraksi dimana volume campuran akan lebih kecil dari volume awal komponen-komponennya. Untuk mengeliminasi

kesalahan ini, maka sebaiknya preparasi standar dan sampel dilakukan dengan penambahan akuades sebagai komponen yang terakhir ditambahkan sampai batas tanda labu ukur, sehingga volume larutan yang diperoleh benar-benar 10 ml.

III.

KESIMPULAN

1. Analisis kualitatif maupun kuantitatif dengan Gas Chromatography didasarkan pada perbedaan waktu retensi komponen dalam kolom kromatografi. 2. Analisis kuantitatif kadar etanol dalam sampel dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen Gas Chromatography, dengan metode kurva kalibrasi dan standar internal. 3. Dari percobaan diperoleh data : Kadar etanol dalam Guiness Beer = 4,35 % Kadar etanol dalam Balihai Beer = 5,28 %

DAFTAR PUSTAKA
Pecsok, R.L., Shields, L.D. ,Cairns, T., Mc. William, I.G., 1976, Modern Methods of Chemicals Analysis, 2nd , John Willey and Sons Inc., New York , hal 4142. Rotzsche, H., 1991, Stationary Phase in Gas Chromatography ( Journal of Chromatography Library volume 48). Elsevier Science Publ. Hal 2-3, 17, 80-83 Skoog, dkk., 1986, Fundamentals of Analytical Chemistry, Sixth Edition, John Willey and Sons, New York, hal 665-667,688-702.