Anda di halaman 1dari 20

1

I. Pendahuluan
Laju reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi bukan konsentrasi
hasil reaksi. Seperti yang dikemikakan oleh Gulberg dan Wooge dalam hukum
Aksi Massa berikut Laju reaksi dalam suatu sistem pada suatu temperatur
tertentu berbanding lurus dengan konsentrasi dipangkatkan dengan
koefisiennya dalam persamaan yang bersangkutan. Misalnya pada reaksi:
mA+nB pC+qD

Secara teoritis hukum laju reaksi dirumuskan dengan persamaan
berikut.
| | | |
m n
A B v k =

Keterangan:
v = laju reaksi (m/dt)
k = konstanta atau tetapan konsentrasi laju reaksi [L/mol.dt]
[A] = konsentrasi zat A (mol/L)
[B] = konsentrasi zat B (mol/L)
Eksponen m dan n merupakan hubungan spesifik antara konsentrasi
reaktan A dan B dengan laju reaksi. Penjumlahan eksponen ini menghasilkan
orde reaksi total, m+n.
Orde reaksi memungkinkan kita untuk mengetahui keberganutungan
reaksi terhadap reaktan. Misalnya kita memiliki persamaan laju reaksi sebagai
berikut.
| || |
2
laju= A B k

Reaksi ini memiliki orde satu terhadap A dan orde dua terhadap B
sehingga orde reaksi totalnya adalah tiga.
Untuk reaksi tertentu, harga orde reaksi terhadap salah satu pereaksi
(A) pada persamaan laju dapat sama dengan nol, m = 0 dan orde reaksi
terhadap reaksi yang lainnya (B) sama dengan 1, n = 1 maka persamaan laju
reaksinya dituliskan sebagai berikut.
| | | |
| |
o 1
Laju A B
B
k
k
=
=

Reaksi ini merupakan orde nol terhadap A dan orde satu terhadap B
2

sehingga orde reaksi totalnya adalah orde satu. Pada reaksi yang berlangsung
bertahap, orde reaksi ditentukan oleh tahapan reaksi yang paling lambat.
Orde reaksi merupakan pangkat dari konsentrasi sehingga bentuk
grafiknya merupakan grafik perpangkatan. Misalnya x hasil reaksi,
merupakan reaksi pengurangan zat x, maka persamaan laju reaksinya
| |
m
v= x k

a. Reaksi Orde Nol
Reaksi orde nol merupakan reaksi-reaksi yang mempunyai kecepatan
reaksi tetap, dan tidak dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan. Pada reaksi ini,
kecepatan reaksi ditentukan oleh faktor lain seperti intensitas sinar atau
katalis. Persamaan laju reaksi: v = k [x]o = k. Grafik laju reaksinya:




b. Reaksi Orde Satu
Persamaan laju reaksi: v = k [x]
1
= k [x]. Grafik laju reaksinya:





c. Reaksi Orde Dua
Persamaan laju reaksi: v = k [x]
2
. grafik laju reaksinya:





Sukrosa yaitu gula biasa. Sukrosa terjadi pada semua tanaman yang
mengalami fotosintesis, yang fungsinya adalah sebagai sumber energi. Gula
ini diperoleh dari tanaman tebu yang menyusun sebanyak 14-20% dari
v
[x]
v
[x]
v
[x]
3

cairannya. Hidrolisis sukrosa menghasilkan D-Gluikosa dan gula keto D-
fruktosa dalam jumlah yang sama. Sukrosa tak dapat bermutaroyasi karena tak
ada lagi gugus aldehida yang bebas, sukrosa tak dapat mereduksi lagi
mereduksi pereaksi-pereaksi Tollens, Fehling dan Benedict, karena itu sukrosa
dinamakan gula non pereduksi.
Sukrosa mempunyai putaran optik [
o
] = +66
o
. Jika sukrosa
dihidrolisis terdapaty campuran D-Glukosa dan D-Fruktosa dalam jumlah
yang sama, dan rotasi optiknya berubah tanda menjadi [
o
] = -20
o
. Hal ini
disebabkan oleh campuran kesetimbangan anomer D-glikosa (
o
dan
|
)
mempunyai rotasi +52
o
, tetapi anomer fruktosa mempunyai rotasi negatip
yang kuat yaitu [
o
] = -92
o
. Karena hidrolisis sukrosa menukar (=invert) tanda
rotasi optik, enzim yang melakukan hidrolisisnya adalah invertase, dan
hasilnya berupa campuran sebanding glukosa dan fruktosa dinamakan gula
invert.
Enantiomer yang memutar cahaya terpolarisasi kekanan diberi tanda
(+) atau d (dextro), sedangkan yang memutar kekiri diberi tanda (-) atau l
(levo). Besarnya sudu putar/ sudut rotasi (
u
) tergantung pada jenis senyawa,
suhu, cahaya terpolarisasi dan banyaknya molekul pada jalan yang dilalui
cahaya rotasi spesifik ialah putaran/ rotasio yang dihasilkan oleh 1gram
senyawa dalam mol larutan dalam 1 sel sepanjang 1 dm.
.
A
e c
o =




Gula merupakan zat optis aktif. Bila cahaya terpolarisasi linier jatuh
pada bahan optis aktif, maka cahaya yang keluar bahan akan tetap terpolarisasi
linier dengan arah bidang getar terputar terhadap arah bidang getar semula
Sifat optis aktif zat dispesifikasikan dengan sudut putar jenis.Sudut
putar bidang polarisasi sebanding dengan sudut putar jenis dan konsentrasi
bila sudut putar jenis diketahui dan sudut putar bidang polarisasi dapat diukur,
maka konsentrasi (kadar) zat optis aktif dapat ditentukan (hal ini merupakan
Dimana, A = sudut rotasi yang diamati
e = panjang (dm)
c = koefisien larutan
4

prinsip yang digunakan untuk menentukan kadar zat optis
Gula inversi adalah campurn D-glukosa dan D- fruktosa yang diperoleh
dengan hidrolisis asam dari sukrosa. Berdasarkan teori bahwa mayoritas gula
adalah fruktosa dan fruktosa membelokkan cahaya ke kiri. Gula yang terdiri
dari Sukrusa mauopun Glukosa memutar cahaya ke kanan. Sukrosa memiliki
rotasi+66,5 (positif) produk yang dihasilkan glukosa[]= +52,7 dan fruktosa
[] = -92
o
( negatif). Dengan mengetahui pembelokan cahaya yang dihasilkan
oleh larutan gula, dapat di analisa jenis/komposisi gula yang ada dalam larutan
tersebut.
Orde reaksi dari inverse gula merupakan orde ke satu. Pada reaksi ini
laju reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu [C
12
H
22
O
11
]
sedangkan H
2
O tidak berpengaruh dalam reaksi tersebut.

II. Tujuan
Menentukan orde reaksi dari reaksi inversi gula menggunakan polarimeter.

III. Dasar Teori
A. Inversi Gula
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hidrogen dan oksigen
yang terdapat dalam alam. Karbohidrat sangat beranekaragam sifatnya.
Misalnya, sukrosa (gula pasir) dan kapas, keduanya adalah karbohidrat.
Salah satu perbedaan utama antara pelbagai tipe karbohidrat ialah ukuran
molekulnya.
Inversi sukrosa dapat terjadi karena adanya enzim invertase dan
didukung suasana asam dan suhu yang optimal. Inversi terjadi pada kodisi
asam (pH dibawah 7) dan juga tergantung pada kondisi temperatur:
a.Pada temperatur tinggi reaksi inverse dapat berlangsung lebih cepat
b.Dengan waktu reaksi yang lama reaksi inversi dapat berlangsung lebih
cepat
Untuk menghindari terjadinya inversi maka pada proses pemurnian pH
diatur pada 7,8-8,0, tetapi tidak boleh lebih dari 8. Karena apabila lebih dari
8 maka akan timbul kerusakan warna dari sukrosa. Selain itu waktu untuk
5

proses juga harus berlangsung dengan cepat. Laju inersi sukrosa akan
semakin besar pada kondisi pH rendah dantemperature tinggi dan berkurang
pada pH tinggi (pH 7) dan temperature rendah. Laju inversi yang paling
cepat adalah pada kondisi pH asam (pH 5).
Invertase adalah suatu enzim yang dapat mengkatalisis reaksi
inversi. Pada umumnya proses inversi sukrosa dipengaruhi oleh :
a. Sifat asam dari lingkungan
b. Suhu lingkungan
c. Keberadaan enzim invertased.
d. Kebersihan lingkungan
Gula invert (glukosa + fruktosa) terbentuk karena adanya enzim
invertase. Enzim ini tumbuh dengan cepat pada kondisi lingkungan yang
kurang bersih apalagi didukung oleh suasana pHdan suhu yang optimal.
Karena pada umumnya pH Nira tebu sekitar 5.0 5.5 makakemungkinan
aktifitas enzim invertase cukup besar.Kerugian dari gula invert antara lain,
mudah menyebabkan produk menjadi basah, afinitas dalam air tinggi,
memberikan efek karamelisasi, menyebabkan warna menjadi kecoklatan.
Pada dasarnya reaksi inversi sukrosa menjadi gula reduksi adalah reaksi
hidrolisis. Pengaruh inversi sukrosa terhadap komponen lain pada nira
ditunjukkan pada gambar 1.












6

B. Polarimeter
Berbagai struktur transparan tidak simetris memutar bidang polarisasi
radiasi. Materi tersebut dikenal sebagai zat optik aktif, misalkan kuarsa, gula, dan
sebagainya. Pemutaran dapat berupa dextro-rotary (+) bila arahnya sesuai dengan
arah jarum jam atau levo-rotary (-) bila arahnya berlawanan dengan jarum jam.
Derajat rotasi bergantung pada berbagai parameter seperti jumlah molekul pada
lintasan radiasi, konsentrasi, panjangnya pipa polarimeter, panjangnya gelombang
radiasi dan juga temperatur. Rotasi spesifik didefinisikan sebagai []t = , di mana
adalah sudut bidang cahaya terpolarisasi dirotasi oleh suatu larutan dengan
konsentrasi c gram zat terlarut per mL larutan, pada suatu bejana dengan panjang
d desimeter. Panjang gelombang yang umumnya dispesifikkan adalah 590 nm,
berupa garis spektrum natrium (Khopkhar,2008 : 302).
Polarisasi merupakan proses mengurung vibrasi vektor yang menyusun
gelombang transversal menjadi satu arah. Dalam radiasi tak terkutubkan, vektor
berosilasi ke semua arah tegak lurus pada arah perambatan. Polarisasi cahaya
merupakan vektor gelombang cahaya ke satu arah. Dalam cahaya tak terpolarisasi,
medan listrik bervibrasi ke semua arah, tegak lurus pada arah perambatan.
Sesudah dipantulkan atau ditransmisikan melalui zat tertentu, maka medan listrik
terkurung ke satu arah dan radiasi dikatakan sebagai cahay terkutub bidang.
Bidang cahaya yang terkutub-bidang dapat diputar bila melewati zat tertentu
(dantith, 1990 : 342-343).
Menurut Soekardjo (2002 :430) polarisasi dapat dibagi menjadi dua
yaitu:
1. Polarisasi konsentrasi yang disebabkan oleh perubahan konsentrasi di
sekitar elektrode.
2. Polarisasi overvoltage atau tegangan lebih yang disebabkan oleh jenis
elektrode dan proses yang terjadi di permukaan.
Gelombangcahaya terpolarisasi terletak pada satu bidang yaitu bidang
getar cahaya. Apabila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada larutan salah satu
enansiomer, maka bidang getarnya akan mengalami perubahan posisi, yaitu
berputar ke arah kanan atau kiri. Proses pemuutaran bidang getar cahaya
terpolarisasi, yang untuk selanjutnya disebut pemutaran cahaya terpolarisasi
7

dinamakan juga rotasi optik, sedangkan senyawa yang dapat menyebabkan
terjadinya pemutaran cahaya terpolarisasi itu dikatakan mempunyai aktivitas optik
(Poedjiadi, 1994 : 16).
Rotasi spesifik suatu senyawapada suhu 20
o
C dapat diperoleh dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Dalam rumus tersebut
= rotasi spesifik menggunakan cahaya D natrium pada suhu 20
o
C.
= sudut rotasi yang diamati pada polarimeter
l = panjang sel dalam dm
c = konsentrasi larutan dalam gram/mL
apabila rotasi spesifik telah diketahui dari tabil yang telah ada, maka
dengan rumus di atas dapat dihitung konsentrasi larutan. Analisis kuantitatif ini
dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut polarimeter (Poedjiadi,1994 :
16-17).
Polarimeter adalah alat yang didesain untuk mempolarisasikan cahaya
dan kemudian mengatur sudut rotasi bidang polarisasi cahaya oleh suatu senyawa
aktif optis yang prinsip kerjanya didasarkan pada pemutaran bidang polarisasi
(Anonim, 2010). Jadi polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk
mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif. Senyawa optis aktif adalah
senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi.
Menurut Anonim (2010), besarnya perputaran bidang polarisasi
tergantung pada :
1. Struktur molekul
2. Panjang gelombang
3. Temperatur
4. Konsentrasi
5. Panjang pipa polarimeter
6. Banyaknya molekul pada jalan cahaya, dan
7. Pelarut
Di industri gula di Indonesia, polarimeter digunakan ada yang manual
dan ada yang digital. Yang manual menggunakan pengukuran sudut putar
8

international suugar scale (), sedangkan yang digital umumnya sudah
menunjukkan atau (Anonim,2010).
Jika cahaya terpolarisasi-bidang dilewatkan suatu larutan yang
mengandung suatu enantiomer tunggal maka bidang polarisasi itu diputar
kekanan atau kekiri. Perputaran cahaya terpolarisasi-bidang ini disebut
rotasi optis. Suatu senyawa yang memutar bidang polarisasi suatu senyawa
terpolarisasi-bidang dikatakan bersifat aktif optis. Karena inilah maka
enantimer-enantiomer kadang-kadang disebut isomer optis. Prinsip kerja
alat polarimeter adalah sebagai berikut, sinar yang datang dari sumber
cahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma
terpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan. Dan
akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua (analizer). Polarizer tidak dapat
diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di putar sesuai keinginan.
Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga tega
lurus), maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium diantara
prisma polarisasi. Pristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifat
optis aktif ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prisma
terpolarisasi maka sinar akan ditransmisikan. Putaran optik adalah sudut
yang dilalui analizer ketika diputar dari posisi silang ke posisi baru yang
intensitasnya semakin berkurang hingga nol. Untuk menentukan posisi yang
tepat sulit dilakukan, karena itu digunakan apa yang disebut setengah
bayangan (bayangan redup). Untuk mancapai kondisi ini, polarizer diatur
sedemikian rupa, sehingga setengah bidang polarisasi membentuk sudut
sekecil mungkin dengan setengah bidang polarisasi lainnya. Akibatnya
memberikan pemadaman pada kedua sisi lain, sedangkan ditengah terang.
Bila analyzer diputar terus setengah dari medan menjadi lebih terang dan
yang lainnya redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman dan
terang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada saat itu intensitas
kedua medan sama. Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan diantara
polarizer dan analizer maka bidang polarisasi akan berputar sehingga posisi
menjadi berubah. Untuk mengembalikan ke posisi semula, analizer dapat
diputar sebesar sudut putaran dari sampel. Sudut putar jenis ialah besarnya
9

perputaran oleh 1,00 gram zat dalam 1,00 mL larutan yang berada dalam
tabung dengan panjang jalan cahaya 1,00 dm, pada temperatur dan panjang
gelombang tertentu. Panjang gelombang yang lazim digunakan ialah 589,3
nm, dimana 1 nm = 10
-9
m. Sudut putar jenis untuk suatu senyawa (misalnya
pada 25
o
C) Macam macam polarisasi antara lain, polarisasi dengan absorpsi
selektif, polarisasi akibat pemantulan, dan polarisasi akibat pembiasan
ganda.
1. Polarisasi dengan absorpsi selektif, dengan menggunakan bahan yang akan
melewatkan (meneruskan) gelombang yang vektor medan listriknya
sejajar dengan arah tertentu dan menyerap hampir semua arah polarisasi
yang lain.
2. Polarisasi akibat pemantulan, yaitu jika berkas cahaya tak terpolarisasi
dipantulkan oleh suatu permukaan, berkas cahya terpanyul dapat berupa
cahaya tak terpolarisasi, terpolarisasi sebagian, atau bahkan terpolarisasi
sempurna.
3. Polarisasi akibat pembiasan ganda, yaitu dimana cahaya yang melintasi
medium isotropik (misalnya air). Mempunyai kecepatan rambat sama
kesegala arah. Sifat bahan isotropik yang demikian dinyatakan oleh indeks
biasnya yang berharga tunggal untuk panjang gelombang tertentu. Pada
kristal kristal tertentu misalnya kalsit dan kuartz, kecepatan cahaya
didalamnya tidak sama kesegala arah. Bahan yang demikian disebut bahan
anisotropik ( tidak isotropik). Sifat anisotropik ini dinyatakan dengan
indeks bias ganda untuk panjang gelombang tertentu. Sehingga bahan
anisotropik juga disebut bahan pembias ganda.
Sukrosa (gula ) dapat terhidrolisis karena pengaruh asam atau
enzim invertase, membentuk glukosa dan fruktosa. Pada hidrolisis sukrosa
terjadi pembalikan sedut (inversi) dari pemutaran kanan menjadi
pemutaran kiri. Sukrosa adalah pemutaran kanan (putaran jenis +66,53),
glukosa juga pemutaran kanan putaran jenis +52,7), tetapi fruktosa adalah
pemutaran kiri (putaran jenis -92,4), daya pemutaran kiri fruktosa ternyata
lebih besar dari daya pemutaran kanan glukosa.

10

Sukrosa glukosa + Fruktosa
+66,53 +52,7 -92,4
(Sumarno, 1994 : 80)

Cara Kerja Polarimeter












IV. ALAT DAN BAHAN
ALAT :
Erlenmeyer 1 buah
Pipet tetes 2 buah
Stopwatch 1 buah
Gelas ukur 10ml 1 buah
Gelas kimia 200ml 1 buah
Labu ukur 25 ml 1 buah
Polarimeter dan komponennya

BAHAN :
Gula pasir 2,5 gram
Larutan HCl 2M 10 ml
Aquades

11

V. ALUR KERJA





















2,5 gram
Gula pasir
- dimasukan dalam labu ukur 25 ml
- ditambahkan air sampai tanda batas
vol total 25 ml
- dikocok sampai larut.
Larutan gula
10%
Kuvet
- dibersihkan
- dicuci dengan zat yang akan
diukur sudut putarnya
Kuvet Bersih
- dikeluarkan dari polarimeter
- dicuci dengan akuades
- dikeringkan
- dicuci dengan pelarut
- dimasukkan polarimeter
- dibaca skalanya
Kuvet siap
dipakai
- ditambahkan lart.gula 10%
- Diukur sudut putarnya
Hasil Pengamatan
12

VI. PEMBAHASAN
Pada percobaan yang bertujuan untuk menentukan orde reaksi dari reaksi
inversi gula dengan menggunakan alat polarimeter ini, langkah pertama yaitu
menimbang sebanyak 2,5 gram gula pasir yaitu sukrosa, kemudian
dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml. Ditambahkan sedikit air ke dalam labu
ukur berisi sukrosa kemudian dikocok hingga larut, setelah itu ditambah lagi
air hingga mencapai tanda batas. Dalam hal ini akan dihasilkan sampel berupa
10% larutan sukrosa (gula pasir).
Selanjutnya terdiri dari beberapa tahap, antara lain adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan apparatus polarimeter.
Dalam mempersiapkan apparatus polarimeter, yang pertama kali dilakukan
adalah mengeluarkan kuvet dari polarimeter kemudian dicuci dengan aquades
sebersih mungkin dan dikeringkan. Untuk memperkecil kemungkinan
kesalahan terjadi dalam pengamatan maka lebih baik tabung (kuvet) dibilas
dengan pelarut yang akan dipakai sebagai pelarut zat optis aktif yang akan
dianalisis. Setelah bersih dan dikeringkan, kuvet siap dipakai.
b. Menentukan titik nol
Dalam menentukan titik nol pelarut, dalam percobaan ini adalah air, yang
pertama kali dilakukan adalah mengisi kuvet dengan air dengan
menggunakan pipet dan diusahakan tidak ada gelembung udara dalam kuvet
yang berisi air tersebut, agar hasil pengamatan yang diperoleh lebih akurat.
Kuvet yang berisi air dimasukkan kedalam polarimeter, lalu mencari cahaya
gelap terang yang ditunjukkan pada polarimeter. Setelah ditemukan cahaya
gelap terang, kemudian melihat skala yang ditunjukkan pada polarimeter.
Pada pengamatan ini diketahui putaran yang diamati adalah 0
o
.
c. Menentukan sudut putar jenis sampel
Pada penentuan sudut putar jenis sampel, pertama mengeluarkan kuvet yang
berisi air kemudian dikosongkan dan diisi lagi dengan larutan gula 10%.
Kuvet yang telah berisi larutan gula 10%, dimasukkan kedalam polarimeter
kemudian diamati cahaya gelap terangnya dan dilihat skalanya. Dari
pengamatan ini diketahui putaran yang diamati. Kemudian menghitung sudut
13

putar jenis sampel (), yang diperoleh dari perbedaan skala pengukuran titik
nol air dan sudut putar larutan gula 10% :
7,9
o
0
o
= 7,9
o

Dengan menggunakan rumus :
[] =
) ( mol per gram kadar dm dalam tabung panjang
diamati yang putaran


=
1 , 0 13 , 1
9 , 7


= 69,91
Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa sudut putar sukrosa sebesar 69,91
o
,
sudut putar yang kami peroleh berbeda dengan sudut putar sukrosa sesuai teori
yaitu sebesar 66,5
o
. Hal ini kemungkinan terjadi karena kurang teliti dalam
menggunakan polarimeter, yaitu pada saat menentukan cahaya gelap terang
yang nampak pada polarimeter yang menyebabkan putaran yang diamati
kurang tepat sehingga diperoleh sudut putar yang berbeda dengan teori.

d. Menentukan sudut putar sampel dari waktu ke waktu
Dalam menentukan sudut putar sampel dari waktu ke waktu, pertama adalah
mengosongkan kuvet kemudian mengisi dengan larutan yang dibuat dengan
cara mencampurkan 25 ml larutan gula 10% dengan 10 ml larutan HCl 2N.
Penambahan HCl adalah sebagai katalis yang dapat mempercepat reaksi
terurainya sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa, dimana pada akhir reaksi
akan terbentuk kembali. Kemudian kuvet yang berisi campuran larutan gula
dan HCl dimasukkan kedalam polarimeter dan melakukan pengamatan sudut
putar dari waktu ke waktu yaitu pada waktu : 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45,
50, 55 dan 60 menit. Pada percobaan ini tidak dilakukan pengamatan pada
interval waktu 24 jam.

Selanjutnya disiapkan apparatus polarimeter. Kuvet dikeluarkan dari dalam
bak polarimeter untuk dilakukan pencucian hingga bersih serta dikeringkan.
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan, maka lebih baik kuvet
14

dibilas dengan pelarut yang akan dipakai sebagai pelarut zat optis aktif yang
akan dianalisis.
Agar mendapat hasil yang akurat, kuvet diisi hingga tidak ada gelembung
udara di dalamnya. Kuvet diisi larutan sampai tanda batas bawah, alat
polarimeter juga diarahkan pada sumber cahaya yang terang agar pada alat
polarimeter dapat terlihat batas terang dan gelap. Selanjutnya adalah
menentukan titik nol pelarut air yang pasti akan didapatkan putaran optik
sama dengan nol. Kemudian dilakukan pengukuran sudut sampel yaitu larutan
gula 10%, tetapi sebelumnya kuvet dibilas terlebih dahulu dengan larutan gula
10% dan akan didapat skala. Nilai skala yang didapat dapat digunakan untuk
menghitung nilai o dengan menggunakan rumus berikut :
| |
( ) /
putaran yang diamati
panjang tabung dalamdm kadar gr mL
o =



Misalnya, diketahui panjang tabung 1,1 dm ; kadar 0,1 gr/ml; serta nilai skala
larutan gula yang didapat sebesar 6,6.
Sehingga dapat dihitung nilai o dari larutan gula 10% (0 menit) sebagai
berikut:
| | 9 , 110
1 , 0 1 , 1
2 , 12
= =
x
o
Maka didapat [] sebesar 110,9
o
.
Selanjutnya yaitu dilakukan pengukuran sudut putar dari waktu ke
waktu dengan membuat campuran 25 ml larutan sukrosa dengan 10 ml larutan
HCl 2N. Tujuan dari hal ini ialah untuk mengetahui reaksi hidrolisis yang
terjadi pada gula dengan menggunakan suatu asam (HCl) sebagai katalis.
Setelah itu, putaran optik diukur menggunakan polarimeter dengan cara
yang sama dengan sebelumnya ketika mengukur putaran optik larutan blanko.
Pengamatan sudut putar dilakukan dari waktu ke waktu yaitu 5, 10, 15, 20, 25,
30, 35, 40, 45, 50, 55, 60 menit dan setelah 24 jam. Terjadinya reaksi
hidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa ditandai dengan semakin
turun nilai putaran optik dari waktu ke waktu. Pada sukrosa yang memiliki
putaran optik +66
o

jika terhidrolisis

akan terdapat campuran D-Glukosa dan D-
15

Fruktosa dalam jumlah yang sama, dan rotasi optiknya berubah tanda menjadi
[o ] = -20
o
. Hal ini disebabkan oleh campuran kesetimbangan anomer D-
glukosa (o dan | ) mempunyai rotasi +52
o
, tetapi anomer fruktosa mempunyai
rotasi negatif yang kuat yaitu [o ] = -92
o
, karena hidrolisis sukrosa menukar
(=invert) tanda rotasi optik.
Reaksi inversi gula :
C
12
H
22
O
11
+ H
2
O C
6
H
12
O
6
+ C
6
H
12
O
6

Reaksi ini disebut juga orde reaksi satu pseudo.
Orde reaksi dari inversi gula merupakan orde ke satu. Pada reaksi ini laju
reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu [C
12
H
22
O
11
] sedangkan
H
2
O tidak berpengaruh dalam reaksi tersebut.
Jika hasil dari percobaan sesuai dengan teori menghasilkan data sebagai
berikut:
Waktu (menit) skala
0 +12,2 110,90
5 +10,7 97,87
10 +9,5 86,37
15 +8,4 76,22
20 +7,4 67,27
25 +6,5 59,36
30 +5,8 52,39
35 +5,1 46,23
40 +4,5 40,80
45 +3,9 36,01
50 +4,0 31,77
55 +3,1 28,04
60 +2,7 24,74
setelah 24 jam + 1,1 10

16

t a (a-x) (a-x)
2
ln(a-x) 1/(a-x) 1/2(a-x)
2

0 110,9
5 110,9 97,87 9578,5369 4,5836
0,010217636 4789,26845
10 110,9 86,37 7459,7769 4,4586
0,011578094 3729,88845
15 110,9 76,22 5809,4884 4,3336
0,013119916 2904,7442
20 110,9 67,27 4525,2529 4,2087
0,014865468 2262,62645
25 110,9 59,36 3523,6096 4,0836
0,016846361 1761,8048
30 110,9 52,39 2744,7121 3,9587
0,019087612 1372,35605
35 110,9 46,23 2137,2129 3,8336
0,021630976 1068,60645
40 110,9 40,8 1664,64 3,70868
0,024509804 832,32
45 110,9 36,01 1296,7201 3,5838
0,027770064 648,36005
50 110,9 31,77 1009,3329 3,4585
0,031476235 504,66645
55 110,9 28,04 786,2416 3,3336
0,035663338 393,1208
60 110,9 24,74 612,0676 3,2084
0,040420372 306,0338

Data tersebut dapat digunakan untuk mencari nilai k dengan integral metode
grafik maupun non grafik sebagai berikut.


A. METODE INTEGRAL GRAFIK
Orde 1 : Hubungan antara ln(a-x) terhadap waktu.








y = -0,025x + 4,708
R = 1
0
1
2
3
4
5
0 20 40 60 80
l
n

(
a
-
x
)

waktu (t)
Grafik Orde 1
Grafik Orde 1
Linear (Grafik Orde 1)
17




Orde 2: Hubungan antara 1/(a-x) terhadap waktu.











Orde 3: Hubungan antara 1/2(a-x)
2
terhadap waktu.






Dari ketiga grafik diatas, diketahui bahwa yang paling memenuhi
syarat ialah grafik pada orde 1 ditinjau dari nilai gradien(m) menunjukkan
nilai k serta nilai R
2
adalah sama dengan 1. Sehingga dalam hal ini
diketahui dari grafik didapatkan harga k sebesar 0,025 dan orde reaksinya
adalah satu. Sehingga persamaan laju inversi gula ini adalah:
ln (a-x) = 1 0,025t dan v = 0,025 [x]

Dengan menggunakan formula differensial untuk
( )
dx
k a x
dt
=
y = 0.0005x + 0.0048
R = 0.9653
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
0.04
0.045
0 20 40 60 80
1
/
(
a
-
x
)

Waktu (t)
Grafik Orde 2
Grafik Orde 2
Linear (Grafik Orde 2)
y = -75.042x + 4153.4
R = 0.88
-1000
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
0 20 40 60 80
1
/
(
a
-
x
)
2

Waktu (t)
Grafik Orde 3
Grafik Orde 3
Linear (Grafik Orde 3)
18

Maka didapat rumus tetapan laju k bagi inversi gula, yaitu:
( )
ln
a
a x
k
t

=
Dimana, k = tetapan konsentrasi laju reaksi
a = konsentrasi mula-mula
(a-x) = konsentrasi setiap reaksi
t = waktu
Sehingga dapat dihitung konstanta atau tetapan konsentrasi laju reaksi gula
tiap 5 menit.

B. METODE INTEGRAL NON GRAFIK
Orde 1. Untuk mencari harga k dapat digunakan rumus :
( )
( )
ln
ln
a
kt
a x
a
a x
k
t
=

=






t = 5 menit
025 , 0
5
1331 , 1
5
87 , 97
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t = 10 menit
025 , 0
5
2840 , 1
5
37 , 86
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t = 15 menit
025 , 0
5
45499 , 1
5
22 , 76
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t = 20 menit t =25 menit t =30 menit
19

025 , 0
5
6487 , 1
5
22 , 76
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

025 , 0
5
8682 , 1
5
36 , 59
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

025 , 0
5
1170 , 2
5
39 , 52
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =35 menit
025 , 0
5
3988 , 2
5
23 , 46
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =40 menit
025 , 0
5
7182 , 2
5
8 , 40
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =45 menit
025 , 0
5
0802 , 3
5
01 , 36
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =50 menit
025 , 0
5
49 , 3
5
77 , 31
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =55 menit
025 , 0
5
955 , 3
5
04 , 28
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k

t =60 menit
025 , 0
5
4816 , 4
5
74 , 24
9 , 110
ln
1
1
= =
=
k
k


Dari perhitungan menggunakan rumus orde 1 tersebut dihasilkan nilai k
yang sama atau konstan. Hal ini membuktikan bahwa orde reaksi inversi
gula adalah 1.







VII. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah :
- Pada percobaan ini terjadi hidrolisis gula menjadi glukosa dan fruktosa
ditandai dengan sudut putar dari waktu ke waktu menurun secara berturut
turut.
20

- Pada percobaan ini orde reaksi yang terjadi adalah orde reaksi satu (pseudo)
karena laju reaksi hanya tergantung pada satu kosentrasi saja yaitu
[C
12
H
22
O
11
] sedangkan H
2
O tidak berpengaruh dalam reaksi tersebut.