Anda di halaman 1dari 11

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIBRIDA

I.

Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH)


Aplikasi pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan sangat tergantung pada

kondisi alam. Hal ini menyebabkan pembangkit listrik tersebut menjadi kurang handal. Hibridasi (penggabungan) pembangkit energi terbarukan dengan sistem pembangkit konvensional merupakan solusi praktis untuk meningkatkan kehandalan sistem dan menurunkan biaya operasional pembangkit listrik yang menggunakan sumber eergi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) atau sistem hibrida (hybrid system) adalah suatu sistem pembangkit listrik yang memadukan beberapa sumber energi baru dan terbarukan. PLTH merupakan solusi untuk mengatasi krisis BBM dan ketiadaan listrik di daerah terpencil dan yang sukar dijangkau oleh sistem pembangkit besar seperti jaringan PLN. PLTH ini memanfaatkan energi terbarukan (renewable energy) sebagai sumber utama (primer) yang dikombinasikan dengan Diesel Generator ssebagai sumber energi cadangan (sekunder) (Rosyid. O.A, 2011). Sistem ini sangat cocok diterapkan di suatu daerah yang mempunyai sumber energi terbarukan pada komunitas penduduk yang padat dan terkonsentrasi. Kelebihan produksi energi listrik dari sistem PLTH dapat disimpan di dalam baterai (storage systems) sehingga rugi- rugi energi dapat dihindari. Gambar 1 berikut memperlihatkan salah contoh konfigurasi sistem PLTH yang mengkombinasikan Tenaga Surya, Tenaga Angin, dan Diesel Generator.

Gambar 1. Konfigurasi PLTH dengan bi-directional inverter Pada PLTH beban dapat disuplai baik dari genset maupun inverter secara parallel. Disamping itu, genset dapat dioptimalkan. Kelebihan daya dari genset dapat digunakan untuk mengisi baterai. Karena itu jenis inverter yang digunakan adalah bi-directional inverter (BDI) yang digunakan untuk menjembatani antara baterai dan sumber AC. BDI dapat mengisi baterai dari genset (konverter AC-DC) maupun dari sumber energi terbarukan, juga dapat bertindak sebagai konverter DC-AC. Konfigurasi PLTH seperti ditunjukkan pada gambar 1 tersusun dari komponen utama : 1. Hybrid Power Conditioner (HPC) 2. Pembangkit Listrik Tenaga surya (PLTS) 3. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) 4. Penyimpan energi (bank baterai) 5. Generator Diesel

A.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya PLTS merupakan pembangkit yang mengkonversi energi berupa radiasi sinar matahari

menjadi energi listrik dengan efek fotovoltaik menggunakan sel surya. Modul sel surya mengkonversi energi berupa radiasi sinar matahari menjadi energi listrik dengan efek fotovoltaik. Sel surya yang teriluminasi oleh radiasi sinar matahari akan menghasilkan muatan bebas yang memungkinkan arus mengalir melalui beban yang terhubung. Jumlah muatan bebas yang adalah sebanding dengan intensitas radiasi setempat. Beberapa modul sel surya (photovoltaic module) dihubungkan secara seri dan atau paralel membentuk array sel surya untuk mencapai nilai tegangan dan daya listrik yang diinginkan. Daya output modul modul sel surya merupakan fungsi intensitas cahaya matahari dan dipengaruhi oleh temperatur sel surya. Dalam satu hari daya yang dapat dihasilkan modul sel surya akan berubah-ubah tergantung intensitas cahaya matahari yang diterima. Besarnya intensitas cahaya (iradiansi) matahari dalam satu hari umumnya digambarkan dalam kurva insolasi harian matahari (gambar 2).

Gambar 2 Insolasi harian matahari.

Besar daya output yang dapat dibangkitkan oleh sel surya dapat dihitung secara matematis dengan persamaan berikut:

Dimana : PPV PSTC GINC GSTC k Tc Tr B. : daya output modul sel surya pada iradiansi GINC (kW) : daya maksimum modul sel surya pada kondisi standar (STC) (kW) : incident irradiance : iradiansi pada kondisi standar (STC) 1000 W / m2 : koefisien temperature : temperature sel surya : temperature referensi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) PLTB merupakan pembangkit yang mampu merubah energi kinetik dari energi terbarukan angin menjadi energi listrik dengan memanfaatkan turbin angin (wind turbin). Cara kerjanya cukup sederhana, energi angin yang memutar turbin angin, diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini biasanya akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Daya keluaran turbin angin merupakan fungsi kecepatan angin. Daya luaran turbin angin dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.

Dimana Pm = daya output mekanik turbin (kW) Cp = koefisien unjuk kerja turbin = kepadatan udaya

A = luas penampang turbin (m2) v = kecepatan angin (m/s) Gambar 3 menunjukkan tipikal kurva output turbin angin.

Gambar 3 Kurva daya output trubin angin Daya yang dapat dibangkitkan dari generator turbin angin (PWT) mengacu pada kecepatan angin dapat dihitung dengan menggunakan formulasi berikut :

Dimana : PWr v vci vr vco C. : daya rating unit generator turbin angin (kW) : kecepatan angin (m/s) : kecepatan cut-in (m/s) : kecepatan rating (m/s) : kecepatan cut-out (m/s) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) PLTD berupa generator diesel (genset) pada PLTH diperlukan sebagai kombinasi energi untuk dapat mencapai nilai optimalisasi penyaluran sistem energi listrik pada pelayanan beban.

Kelebihan generator diesel adalah dapat dijadwalkan (dispachable). Generator diesel dapat memperbaiki kualitas dan sekuritas layanan karena dapat mengimbangi produksi daya pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermittent. Sebagai contoh generator diesel akan bekerja ketika pembangkit energi terbarukan tidak membangkitkan energi listrik atau saat kondisi state of charge batere rendah. Kegunaaan PLTD adalah sebagai penyedia daya listrik yang antara lain dapat berfungsi untuk : Sebagai unit cadangan (stand by plant) yang dijalankan untuk membatu pada saat unit pembangkit utama tidak dapat mencukupi kebutuhan daya yang ada. Sebagai unit beban puncak (peak load plant). Bila PLTD dioperasikan pada beban puncak biasanya dalam waktu yang tidak lama. Sebagai unit darurat (emergency) yang dijalankan pada saat keadaan darurat atau terjadi pemadaman pada pembangkit utama. Pada PLTH generator diesel umumnya dioperasikan sebagai unit cadangan atau beban puncak. Waktu pengoperasian PLTD adalah lebih kecil sehingga konsumsi dan biaya bahan bakar pun menjadi lebih sedikit. Reduksi pemakaian generator diesel ini memiliki keuntungan tidak hanya terkait biaya dan ketersediaan sumber bahan bakar, akan tetapi juga memberikan keuntungan lingkungan. Genset menghasilkan CO2 dan juga polusi udara lain serta kebisingan. Biaya bahan bakar sebuah generator diesel dapat dinyatakan dimodelkan dalam fungsi polinomial orde 2 (kuadratis) sebagaimana pada persamaan . Fungsi ini menyatakan biaya bahan bakar ($/jam) yang harus dikeluarkan untuk setiap daya yang dihasilkan oleh unit pembangkit.

D.

Bank Baterai Baterai (accu) digunakan untuk menyimpan energi listrik pada siang dan malam hari

yang berasal dari array sel surya dan turbin angin serta energi dari generator diesel yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan sesuai permintaan pada Sistem Management Energy yang ada pada Hybrid Power Conditioner. Pada umumnya jenis baterai yang digunakan untuk sistem PLTH adalah deep cycle tipe lead acid yang mempunyai DOD (depth of discharge) sebesar 80% atau SOC (state of charge) sampai 20%. Fungsi kunci sistem penyimpan energi batere pada PLTH adalah untuk menyediakan energi pada saat sumber energi yang lain tidak tersedia. Beberapa parameter batere terkait dengan operasi batere yaitu : 1. State of Charge (SOC) State of charge (SOC) batere adalah rasio jumlah energi yang tersimpan pada satu saat dengan kapasitas rating nominal batere. Sebagai contoh sebuah batere dengan kapasitas 500 Ah dan 80% SOC, maka energi yang tersimpan pada batere adalah 400 Ah. 2. Depth of Discharge (DOD) Hampir keseluruhan rating batere dinyatakan dalam kapasitasnya. Akan tetapi, energi aktual yang dapat diambil dari batere umumnya lebih kecil dari kapasitas ratingnya. Pada beberapa tipe batere, energi yang tersimpan pada batere tidak dapat dikosongkan (discharge) seluruhnya tanpa menyebabkan masalah serius dan kerusakan pada batere. Pengosongan keseluruhan dari batere dapat mengurangi umur (lifetime) batere secara dramatis. Depth of Discharge (DOD) batere menentukan bagian energi yang dapat diambil dari batere. Sebagai contoh jika DOD batere yang diberikan pabrik adalah 25% maka hanya 25% kapasitas batere yang dapat digunakan oleh beban.

3. Tingkat pengisian dan pengosongan (Charging dan Discharging rates) Agar usia batere dapat bertahan lama laju pengisian (charging) dan pengosongan (discharging) batere tidak boleh terlalu tinggi. Frekuensi siklus pengisian dan pengosongan juga mempengaruhi umur batere secara signifikan. Frekuensi switching antara charging dan discharging yang tinggi dapat secara drastis mengurangi umur batere. E. Hybrid Power Conditioner (HPC) Hybrid Power Conditioner (HPC) berfungsi untuk mengatur aliran daya pada sistem PLTH. HPC pada umumnya tersusun dari: 1) Bi-directional Inverter, merupakan inverter dua arah yaitu merubah tegangan DC dari batere menjadi tegangan AC atau sebaliknya tegangan AC dari keluaran generator ke sistem DC untuk pengisian energi ke batere (charge battery). 2) Solar Charge Conditioner berfungsi untuk mengatur pengisian batere agar batere terkontrol pengisiannya sehingga tidak akan terjadi over charge maupun over discharge. 3) Managemen Energi difungsikan sebagai tujuan utama dari sistem hybrid dimana aliran beban akan selalu dikontrol dari ketiga sumber energi. Jika sumber Genset harus beroperasi maka beban yang dipikul oleh genset harus dioptimalkan pada posisi min 70% dari kapasitas diesel agar tercapai efisiensi pemakaian bahan bakar sesuai kurva SFC Diesel-generator. Semua aliran energi akan dimonitor dan dikontrol untuk dapat mencapai titik efisiensi secara sistem dalam pemakaian BBM. Tanpa Management Energy maka PLTH layaknya hanya berfungsi sebagai switch over atau backup sistem yang tidak akan memperbaiki SFC PLTD.

II.

Prinsip Kerja Sistem PLTH


Prosedur operasi atau cara kerja Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida sangat tergantung

dari bentuk beban atau fluktuasi pemakain energi (load profile) selama 24 jam, dengan distribusi beban tidak merata untuk setiap waktunya. Pada umumnya PLTH bekerja sesuai urutan sebagai berikut : a. Pada kodisi beban rendah (50% dari beban puncak) maka beban disuplai 100% dari baterai dan PV module, selama kondisi baterai masih penuh sehingga diesel tidak perlu beroperasi. Ketiga jenis sumber energi tersebut bekerja secara parallel mensuplai energi listrik ke beban. Aliran daya pada kondisi beban rendah diperlihatkan pada gambar 4

Gambar 4 Aliran daya PLTH kondisi beban rendah b. Jika beban naik sampai diatas 50% (tergantung setting parameter) beban puncak dan kondisi batere sudah kosong sampai level bawah yang disyaratkan, diesel mulai beroperasi untuk mensuplai beban dan sebagian mengisi batere sampai beban yang disaratkan diesel mencapai 70-80% kapasitasnya. Pada kondisi ini inverter bekerja sebagai charger (merubah tegangan AC dari generator menjadi tegangan DC) untuk mengisi batere (fungsi bi-directional Inverter). Aliran daya seperti terlihat pada gambar 5 dapat terjadi selama kapasitas beban yang aktif pada saat itu lebih kecil dari kapasitas diesel generator.

Gambar 5 Aliran daya PLTH kondisi beban menengah c. Pada saat beban mencapai 50% seperti diatas tetapi batere masih mencukupi, maka diesel tidak akan beroperasi dan beban disuplai oleh batere melalui inverter yang akan merubah tegangan DC ke tegangan AC, 50 Hz. d. Pada kondisi beban puncak, seperti ditunjukkan pada gambar 6, baik diesel maupun inverter akan beroperasi bersama-sama untuk menuju paralel sistem dan ini terjadi apabila kapasitas terpasang diesel atau inverter tidak mampu sampai beban puncak. Jika kapasitas genset cukup untuk mensuplai beban puncak, maka inverter tidak akan beroperasi paralel dengan genset. Apabila batere sudah mulai penuh energinya maka secara otomatis genset akan dimatikan dan beban disupali dari batere melalui inverter.

Gambar 6 aliran daya PLTH beban puncak Semua proses kerja tersebut diatas diatur oleh System Command Unit yang terdapat pada Hybrid Power Controller. Proses kontrol ini bukan sekedar mengaktifkan dan menonaktifkan diesel tetapi yang utama adalah pengaturan energi agar pemakain BBM diesel menjadi efisien. Gambar 7 menunjukkan contoh kinerja harian operasi sistem PLTH di Wini NTT (Rosyid, 2010)

Gambar 7 kinerja harian PLTH