Anda di halaman 1dari 78

OUTLOOK

PERBANKAN SYARIAH INDONESIA

2011

OUTLOOK PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 2011 DIREKTORAT PERBANKAN SYARIAH - 2010 a
OUTLOOK PERBANKAN SYARIAH INDONESIA 2011 DIREKTORAT PERBANKAN SYARIAH - 2010 a

DIREKTORAT PERBANKAN SYARIAH - 2010

a

Penanggung Jawab:

Mulya E. Siregar Direktur Direktorat Perbankan Syariah

Tim Penyusun:

- Dhani Gunawan Idat

- Agus Fajri Zam

- Nasirwan

- Dadang Muljawan

- Setiawan Budi Utomo

- Ali Sakti

- Dahnila Dahlan

- Janu Dewandaru

- Eko A. Irianto

- Luci Irawati

- M. Irfan Sukarna

- Siti Nurfalinda

- Riska Jatmika

- Laura Rulida

- Andri Gunawan KP

- Pingki Rita Dewi

Tim Penyusun mengucapkan terima kasih atas partisipasi, sumbang saran dan informasi dari semua pihak yang terlibat dalam penyusunan Outlook Perbankan Syariah 2011

b

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas perkenan-Nya, Out look Perbankan Syariah Tahun 2011 ini dapat diseselesaikan dengan lancar.

Kita telah menyaksikan bahwa sejak terbentuknya Biro Perbankan Syariah pada tahun 2003 maka

upaya untuk menyampaikan proyeksi perkembangan perbankan syariah atau Outlook Perbankan Syariah telah mulai dilakukan, dengan tujuan untuk memberikan informasi prospek dan peluang industri perbankan syariah selama satu tahun kedepan.

Adanya indikasi pemulihan ekonomi global yang semakin menguat di akhir tahun 2010 telah memberikan optimisme perkembangan ekonomi yang juga diharapkan baik pada tahun 2011. Sebagaimana kita cermati bahwa sepanjang tahun 2010 perbankan syariah tumbuh dengan volume usaha yang tinggi dengan diiringi pula pertumbuhan dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2009.

Pertumbuhan volume usaha dan kinerja perbankan syariah pada tahun 2010 yang menggembirakan ini didorong oleh beberapa faktor seperti: pengaturan perpajakan yang lebih kondusif, peningkatan credit rating Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi di tingkat global, pendirian bank-bank syariah baru, serta semakin gencarnya program edukasi dan diseminasi perbankan syariah oleh Bank Indonesia, perbankan syariah, maupun pihak-pihak terkait lainnya.

Adanya perkembangan industri yang positif di tahun 2010, perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil serta sasaran inflasi yang relatif rendah pada tahun 2011, semakin meneguhkan hati kita bahwa prospek perbankan syariah pada tahun depan akan tetap cerah, dengan tetap melaksanakan regulasi yang kondusif, pengawasan yang cermat, dan arah kebijakan yang berorientasikan kepada pertumbuhan industri yang tetap agresif, prudent dan profesional.

Mengamati perkembangan persaingan usaha kedepan yang semakin ketat, maka strategi pengembangan daya saing bank syariah akan semakin diarahkan kepada Coopetition Strategy yang memadukan semangat kerjasama dalam persaingan terutama terhadap bank induk dan subsidiarinya, sehingga akan tercipta win-win solution dalam menjalankan bisnis bank dengan

tujuan

masyarakat.

akhir

adalah

kemanfaatan

industri

perbankan

syariah

yang

sebesar-besarnya

bagi

Akhir kata kami mengharapkan semoga publikasi Outlook ini dapat bermanfaat, dimana ktitik dan masukan untuk penyempurnaan kedepan akan kami terima dengan penuh penghargaan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, karunia, dan rahmat-Nya kepada kita semua dalam rangka pengembangan industri perbankan syariah.

Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Jakarta,

November 2010

DIREKTORAT PERBANKAN SYARIAH

Mulya E.Siregar

Direktur

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GRAFIK

iv

DAFTAR TABEL

v

BAB 1. Pelaksanaan Kebijakan Perbankan Syariah 2010

1

1.1. Kegiatan Penelitian

2

1.2. Kegiatan Pengembangan

13

1.3. Kegiatan Pengaturan

17

1.4. Kegiatan Pengawasan

23

1.5. Kegiatan Perizinan

27

BAB 2. Perkembangan Perbankan Syariah 2010

30

2.1. Gambaran Umum

30

2.2. Perkembangan Kelembagaan

31

2.3. Penghimpunan Dana

32

2.4. Penyaluran Dana

35

2.5. Profitabilitas dan Permodalan

37

2.6. Pembiayaan UMKM dan BPRS

38

BAB 3. Prospek dan Arah Kebijakan

41

3.1. Prospek Kondisi Makroekonomi

41

3.2. Dampak Makroekonomi Terhadap Perbankan Syariah dan Proyeksi 2011

44

3.3. Arah Kebijakan

53

3.4. Prospek Perbankan Syariah 2009

63

Lampiran 1. Daftar Regulasi Perbankan Syariah Tahun

66

Lampiran 2. Produk dan Jasa Perbankan Syariah

68

Lampiran 3. Indikator Perkembangan Perbankan Syariah

71

DAFTAR GRAFIK

Grafik

2.1. Perkembangan

Aset, DPK dan PYD

30

Grafik

2.2. Perkembangan

DPK Perbankan Syariah

32

Grafik 2.3. Perbandingan Rata-rata Bunga Deposito Bank Konvensional dan Equivalen Return Deposito iB Bank Indonesia

33

Grafik

2.4. Proporsi

Portofolio Perbankan Syariah

33

Grafik

2.5. Proporsi

DPK Perbankan Syariah

34

Grafik 2.6. Perkembangan Rekening DPK Per Golongan Nasabah

35

Grafik 2.7. Perkembangan Non Performing Financing

36

Grafik 2.8. Ekuivalen Rate PYD Perbankan Syariah dan Rate Kredit Perbankan

36

Grafik

2.9. Perkembangan Profitabilitas Perbankan Syariah

37

Grafik 2.10. Rasio BoPo dan Pertumbuhan Net Margin

38

Grafik 2.11. Pembiayaan UMKM oleh Perbankan Syariah

39

Grafik 3.1. Pertumbuhan Pembiayaan Bank Syariah

45

Grafik 3.2. Pertumbuhan DPK BS, PYD BS, Suku Bunga dan Inflasi

46

Grafik 3.3a PDB Sektoral dan Pergeseran Portofolio

47

Grafik

3.3b. Perbandingan

Komposisi Portofolio

49

Grafik

3.3c. Perbandingan

NPF Persektor

50

Grafik 3.4. Pertumbuhan Aset Berdasarkan Jenis Kelembagaan Perbankan Syariah

51

Grafik 3.5. Permodalan dan CAR Perbankan Syariah

52

Grafik

3.6. Aset 10

Bank Terbesar

54

Grafik

3.7a.

Ilustrasi

Segment Champions

61

Grafik 3.7b. Posisi Aset iB Perbankan Syariah

61

DAFTAR TABEL

Tabel

2.1. Jaringan Kantor

32

Tabel 2.2.

Profil Keuangan BPRS

40

Tabel 3.1.

Proyeksi PDB Dunia

42

Tabel 3.2.

Proyeksi Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional 2010

63

Tabel 3.3.

Proyeksi Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional 2011

63

Tabel 3.4

Proyeksi Pertumbuhan Berdasarkan Beberapa Skenario

65

BAB 1

PELAKSANAAN KEBIJAKAN PERBANKAN SYARIAH 2010

Sejalan dengan tugas pokok dan peran Bank Indonesia serta arahan umum kebijakan di bidang perbankan yang telah disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia pada awal tahun 2010, selama tahun 2010 telah dilaksanakan berbagai kegiatan terkait dengan penelitian, pengembangan, pengaturan dan pengawasan perbankan syariah. Pelaksanaan kebijakan dibidang perbankan syariah selain mengacu kepada kebijakan umum dibidang perbankan juga memperhatikan arahan dan kebijakan khusus terkait dengan perbankan syariah yang merupakan sub-sektor perbankan yang masih perlu didorong agar dapat bertumbuh lebih cepat agar peran dan konstribusinya dalam mencapai sasaran kebijakan dibidang perbankan dan kebijakan Bank Indonesia secara umum dapat lebih besar.

Dalam tahun 2010, secara umum Bank Indonesia telah menetapkan sejumlah arah kebijakan dibidang perbankan dengan pendekatan insentif dan disinsentif. Hal ini antara lain mencakup peningkatan ketahanan sistem perbankan yang perlu ditempuh melalui penguatan pengaturan, pemantapan sistem pengawasan bank, penataan kembali tingkat kompetisi di industri perbankan Indonesia, serta pendalaman pasar keuangan. Selain itu upaya untuk mendorong peningkatan intermediasi perbankan melalui penyempurnaan peraturan dan penyediaan infrastruktur pendukung. Secara spesifik kebijakan untuk perbankan syariah dalam tahun 2010 diarahkan untuk meningkatkan peran perbankan syariah terhadap perekonomian nasional dan penguatan ketahanannya. Kebijakan untuk perbankan syariah ini diupayakan dengan meningkatkan insentif untuk mendorong peningkatan modal, memfasilitasi pengembangan unit usaha syariah dan anak perusahaannya, serta memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan SDM perbankan syariah yang kompeten.

Sejumlah kegiatan yang merupakan implementasi arah kebijakan tahun 2010 dibidang perbankan syariah dilaksanakan oleh Bank Indonesia, khususnya Direktorat Perbankan Syariah dengan mencakup berbagai kegiatan dalam bidang penelitian, pengaturan dan pengembangan, perizinan, dan pengawasan perbankan syariah sebagaimana dijelaskan secara ringkas pada bagian dibawah ini. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan sebagai satu kesatuan dalam upaya mengembangkan perbankan syariah yang efisien, prudent dan sejalan dengan prinsip syariah.

1.1

KEGIATAN PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan selama tahun 2010 difokuskan kepada kajian/penelitian

yang menyangkut penyempurnaan regulasi, pengembangan produk dan penguatan

infrastruktur bank syariah di masa mendatang. Sejumlah penelitian yang dilaksanakan dalam

tahun 2010 adalah :

1. Kajian Metodologi Risk Based Supervision (RBS) dan Mapping Information Technology (IT)

Perbankan Syariah dalam Rangka Implementasi Roadmap RBS Perbankan Syariah.

2. Kajian Pemetaan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Identifikasi Kebutuhan Pasar

Perbankan Syariah

3. Kajian Lanjutan Penyusunan Model Indeksasi Return Sektor Riil Sebagai Benchmark

Pricing dan Informasi Kinerja Sektor Ekonomi Bagi Perbankan Syariah

4. Kajian Permasalahan Perpajakan dan Alternatif Tax Incentives bagi Perbankan Syariah

5. Kajian Kebijakan dan Strategi Pengembangan Human Capital Perbankan Syariah Nasional

dalam Rangka Persiapan Industri Perbankan Syariah Menghadapi AEC 2015

1.1.1 Penelitian Dalam Rangka Regulasi

Kajian Metodologi Risk Based Supervision (RBS) dan Mapping Information Technology (IT) Perbankan Syariah dalam Rangka Implementasi Roadmap RBS Perbankan Syariah

Kajian RBS yang dilakukan pada tahun 2010 merupakan kelanjutan dari kajian

Roadmap RBS yang telah dilakukan pada tahun 2009. Adapun fokus kegiatan yang dilakukan

adalah proses inventarisasi pola pengukuran yang mencakup modul Early Warning System,

Profil Risiko dan Tingkat Kesehatan. Kajian mencakup penyusunan flow informasi dan proses

perhitungan, interpretasi hasil pengukuran, pengambilan kesimpulan dari hasil analisis yang

dilakukan serta strategi implementasi yang dapat dilakukan. Program implementasi RBS

merupakan program inisiatif yang dilakukan secara multiyears mengingat proses

implementasinya membutuhkan kesiapan dari berbagai infrastruktur pendukung secara

terintegrasi.

Secara umum modul-modul pengukuran dikelompokan berdasarkan kepentingan

pengawas untuk melihat pergerakan bank syariah yang diawasinya secara efisien dan

terfokus. Modul EWS pada dasarnya menguji integritas data, dinamika variabel yang sensitif

terhadap perubahan dan logika pergerakan variabel pengukuran. Modul profil risiko

mengakomodasi kesimpulan yang telah dibuat pada modul EWS dan dilengkapi dengan

beberapa hasil analisis tambahan yang dapat menggambarkan tingkat risiko bank serta

kualitas manajemen dalam mengantisipasi setiap permasalahan yang timbul dan komitmen

dalam mengatasi permasalahan tersebut. Untuk menilai kualitas manajemen secara objektif,

akan dikembangkan suatu sesi interaktif yang berfungsi sebagai sarana klarifikasi dan

konfirmasi antara pelaku industri dengan otoritas pengawasan untuk mendapatkan persepsi

yang sama.

Upaya implementasi tersebut tentunya memerlukan tingkat pengertian yang sama

mengenai tujuan dan cara implementasi dari seluruh pelaku industri serta komitmen untuk

penyediaan infrastruktur berupa sistem informasi yang memadai. Untuk mencapai hal

tersebut disarankan agar industri membentuk beberapa working group yang bertugas untuk

menyusun metadata sistem pelaporan, pengembangan metoda pengukuran secara lebih

mendetail serta working group pada high level untuk menyamakan visi pengembangan

sistem pengawasan secara jangka panjang. Pengembangan RBS secara strategis juga telah

dilakukan dengan mamperhatikan platform pengembangan sistem teknologi informasi

pengawasan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia secara umum.

1.1.2 Penelitian Yang Berkaitan Dengan Pengembangan Produk

Kajian Pemetaan Fatwa Dewan Syariah Nasional dan Identifikasi Kebutuhan Pasar Perbankan Syariah

Dalam rangka mendukung upaya inovasi produk yang dapat meningkatkan daya

saing perbankan syariah baik secara domestik, regional maupun kompetisi global di era pasar

bebas dengan antisipasi berbagai peluang dan tantangannya ke depan, Bank Indonesia pada

tahun 2010 telah melaksanakan Kajian Pemetaan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI (DSN)

dan Identifikasi Kebutuhan Pasar Perbankan Syariah. Kajian ini dilakukan melalui survey

kepada pelaku industri untuk memetakan fatwa DSN yang terkait dengan produk perbankan

syariah. Pemetaan tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi sejauh mana implementasi

fatwa yang ada dalam produk perbankan syariah, fatwa apa saja yang terkendala dalam

implementasinya dan produk apa saja yang diperlukan industri yang memerlukan fatwa

ataupun penegasan syariah yang belum difatwakan oleh DSN.

Dari hasil kajian disimpulkan bahwa Fatwa yang Terkendala dalam Implementasi

Produk Perbankan Syariah adalah:

1. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 12/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Hawalah. Fatwa ini

dalam implementasinya masih terkendala oleh berbagai peraturan teknis terkait secara

komprehensif dan saat ini dalam proses penyusunan ketentuan dimaksud.

2. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam. Fatwa

ini dalam implementasinya terkendala oleh sistem di internal perbankan dan belum ada

pengembangan untuk implementasinya mengingat minimnya respon masyarakat dan

pasar yang belum kondusif. Selain itu ketentuan yang lebih bersifat teknis operasional masih perlu disempurnakan.

3. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 30/DSN-MUI/VI/2002 tentang Pembiayaan Rekening Koran Syariah. Implementasi fatwa ini terkendala oleh sistem internal bank yang belum tersedia dan petunjuk teknis regulasi yang masih merujuk kepada perbankan konvensional.

4. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 73/DSN-MUI/XI/2008 Tentang Musyarakah Mutanaqisah. Fatwa ini baru diterbitkan oleh DSN sehingga masih perlu dilakukan sosialisasi kepada industri dan masyarakat mengenai mekanisme kerjanya serta disusun ketentuan teknis pelaksanaannya baik dalam bentuk PBI, PAPSI dan PSAKS.

5. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor: 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn dan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor: 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas. Pelaksanaan kedua fatwa ini belum dipasarkan secara meluas mengingat ada keinginan dari pihak perbankan untuk dapat memperoleh marjin atas pembiayaan yang diberikan, sementara di dalam fatwa disebutkan bahwa pendapatan bank hanya berasal dari fee atas penyimpanan barang rahn, dan ongkos yang besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.

6. Fatwa tentang al-Qardh. Fatwa ini belum diimplementasikan dalam pembiayaan komersial dengan pertimbangan adanya moral hazard serta batasan ketentuan yang memungkinkan pelaksanaan transaksi tersebut. Dalam prakteknya akad Qardh dikombinasikan dengan akad lain sehingga terdapat optimalisasi penggunaan dana pihak ketiga dan pembagian hasil keuntungan dari pembiayaan dengan skema tersebut (fee based income) Hasil survey kepada kalangan perbankan syariah juga mengungkap keinginan industri

terhadap keberadaan beberapa fatwa tambahan yang mengatur mengenai produk-produk penyaluran dana/ pembiayaan, pengimpunan dana dan produk treasury serta sistem

pembayaran. Fatwa tersebut dirasakan perlu untuk segera diterbitkan sehingga dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan produk perbankan syariah. Fatwa bagi produk-produk penyaluran dana/ pembiayaan yang diperlukan industri meliputi:

1. Fatwa tentang Produk Mudharabah atau Musyarakah untuk Pembiayaan Modal Kerja yang bersifat variable untuk memenuhi kebutuhan nasabah sebagaimana pada produk Kredit Rekening Koran di Bank Konvensional. Produk ini underlying transaction-nya tidak dilakukan per penarikan, namun dalam perhitungan secara global per plafond yang disediakan (termasuk yang belum dicairkan). Industri memandang produk ini mendesak dan penting dengan alasan bahwa saat ini banyak pengusaha kecil yang memerlukan

pembiayaan tersebut, namun menjadi terkendala karena diwajibkan memberikan bukti underlying transaction setiap melakukan penarikan, sementara nasabah belum memiliki catatan/pembukuan yang tertata dengan baik.

2. Fatwa tentang Produk Pembiayaan seluruh BPIH. Pembiayaan ibadah haji diharapkan dapat dilakukan oleh bank tidak hanya sebatas talangan (Qardh), tetapi dilakukan secara keseluruhan penyelenggaraan haji. Industri memandang produk ini mendesak dan penting dengan alasan bahwa kebutuhan dan permintaan masyarakat akan produk tersebut sangat tinggi.

3. Fatwa tentang Produk Alih Debitur/Novasi Debitur. Industri memandang produk ini penting meskipun tidak mendesak dengan alasan sebagai cara penyelamatan pembiayaan dan/atau debitur/mudharib yang mengalami kendala secara syar’i antara lain cacat tetap atau sakit berkepanjangan atau meninggal dunia.

4. Fatwa tentang Produk Garansi Bank. Produk ini dipandang penting tapi belum mendesak

5. Fatwa tentang Grace Period dalam Produk Jual Beli Murabahah. Meskipun saat ini belum dipandang mendesak tetapi penting untuk difatwakan sebagai landasan pengembangan ke depan dengan alasan karena diperlukannya waktu yang memadai bagi bank untuk menyiapkan barang modal/investasi (pra operasional) sebelum operasi secara komersial berjalan efektif.

6. Fatwa tentang Produk tentang Sale and Buy Back dengan akad Bai Al-‘Inah. Produk ini sudah dalam proses rancangan dan belum diajukan ke BI. Pelaku memandang bahwa produk ini sekalipun tidak mendesak tapi penting dengan alasan transaski tersebut telah diaplikasikan di Malaysia walaupun terdapat perbedaan madzab (sharia opinion).

7. Fatwa tentang Pembiayaan dengan Multiakad/Kombinasi Akad yang menggunakan Al- Qardh. Fatwa ini dibutuhkan dengan semakin berkembangnya inovasi produk hybrid/kombinasi. Perlu kepastian hukum syariah terkait penggunaan Dana Pihak Ketiga dan pembagian hasil berupa fee-based income dari pembiayaan tersebut seperti talangan dalam rahn, talangan dalam pengurusan haji dsb. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor:

19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh hanya mengatur pembiayaan yang bersifat sosial dan bukan komersial sehingga belum memungkinkan penggunaan dana pihak ketiga.

Selain fatwa-fatwa tersebut di atas, kalangan industri juga membutuhkan beberapa fatwa lain dan telah mempersiapkan rancangan produk serta telah menyampaikan rancangan tersebut kepada Bank Indonesia untuk mendapatkan persetujuan. Fatwa yang digolongkan mendesak untuk diterbitkan tersebut adalah:

1. Fatwa tentang Pembiayaan dengan Akad Murabahah Variasi. Produk ini sudah dalam proses rancangan pelaku dan sudah diajukan ke BI. Kalangan industri menganggap

produk ini mendesak dan penting dengan alasan bahwa kebutuhan dan permintaan masyarakat akan produk tersebut sangat tinggi.

2. Fatwa tentang Produk Pembiayaan Pola Kemitraan, baik pola Chanelling maupun

Executing seperti dengan Multifinance, Koperasi, BPRS dan Baitul Maal wa Tamwil (BMT). Pelaku memandang produk ini sebagai diversifikasi produk untuk mempercepat bisnis bank dalam penyaluran dana. Fatwa yang diperlukan dalam pengembangan produk-produk penghimpunan dana meliputi produk berikut:

1. Fatwa tentang Produk Tabungan Haji. Bank memandang perlu mengingat animo masyarakat untuk menunaikan ibadah haji sangat tinggi.

2. Fatwa tentang Produk Wakaf Uang Tunai.

3. Fatwa tentang Pemberian Reward/ Hadiah Langsung Pada Waktu Pembukaan Rekening. Industri memandang fatwa untuk produk ini penting meskipun tidak mendesak dengan alasan adanya nature nasabah tabungan yang pada umumnya menyukai hadiah langsung dimuka sebagaimana nasabah di perbankan konvensional.

4. Fatwa tentang Pemberian Hadiah kepada Nasabah Penyimpan Secara Undian. Fatwa ini diperlukan untuk menjawab keraguan bank maupun nasabah, mengingat belum ada fatwa DSN-MUI yang mengatur secara khusus tentang pemberian hadiah kepada kepada nasabah meskipun beberapa bank syariah sudah melakukannya.

5. Fatwa tentang Produk Tabungan Emas. Beberapa bank sudah merancang skema operasionalnya dan sudah diajukan ke BI.

6. Fatwa tentang Produk Pendanaan dengan Commodity Murabahah. Industri sudah mengajukan permohonan fatwa ke DSN-MUI dan telah merancang produknya namun

belum diajukan ke BI. Fatwa ini dibutuhkan dengan alasan memiliki competitiveness atau daya saing dengan produk pendanaan konvensional, bahkan bisa mengungguli fitur yang ditawarkan bank konvensional. Fatwa yang diperlukan dalam pengembangan produk treasury dan system pembayaran meliputi produk berikut:

1. Fatwa tentang Produk Lindung Nilai Syariah (Tahawwuth/Islamic Hedging). Produk ini sudah dalam proses rancangan dan belum diajukan ke BI. Industri memandang bahwa fatwa produk ini mendesak dan penting dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam transaksi perbankan yang berbasis valuta asing.

2. Fatwa tentang Jualah untuk Penerbitan Sertifikat IMA. Produk ini sudah dalam proses rancangan dan belum diajukan ke BI. Pelaku memandang produk ini mendesak dan penting dengan alasan untuk mendapatkan counterpart bank lain seperti konvensional

dimana kepastian pemberian rate jualah sebagai fixed income sangat menarik bagi bank

konvensional.

3. Fatwa tentang Produk Repurchase Agreement (REPO). Produk ini digunakan sebagai fitur

untuk produk berbasis efek syariah. Bank menganggap produk ini diperlukan dengan

alasan adanya mekanisme REPO akan memudahkan bank dalam mengelola efek atau

portofolio secara optimal yang dimilikinya.

4. Fatwa tentang Transaksi on-line dan real time antara Bank Syariah dengan Bank

Syariah/Konvensional. Perbankan memerlukan fatwa ini agar dapat memenuhi kebutuhan

nasabah konvensional agar KCS BUK dapat melayani transaksi KCK.

5. Fatwa tentang Kartu Kredit dengan Akad Murabahah.

Terkait dengan kajian ini, kegiatan penelitian juga dielaborasikan dengan

pemanfaatan dan optimalisasi Kodifikasi Produk Perbankan Syariah Internasional yang telah

diserahkan kepada DSN-MUI pada tahun sebelumnya untuk memilih dan memilah produk

dalam kodifikasi tersebut yang dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di Indonesia.

Diantara produk yang memerlukan fatwa yang diusulkan sudah terdapat dalam kodifikasi

produk internasional tersebut.

Diharapkan pada tahun 2011 telah dapat ditetapkan prioritas dari usulan fatwa

produk yang disesuikan dengan kebutuhan masyarakat penggunanya.

1.1.3 Penelitian Dalam Rangka Penguatan Infrastruktur Bank Syariah

A. Kajian Lanjutan Penyusunan Model Indeksasi Return Sektor Riil Sebagai Benchmark Pricing dan Informasi Kinerja Sektor Ekonomi Bagi Perbankan Syariah

Dalam rangka menjawab kebutuhan akan tersedianya benchmark pricing perbankan

syariah yang berdasarkan kegiatan sektor riil, pada tahun 2009 yang lalu DPbS telah

menyusun “Kajian Konsep Awal Indeksasi Return Sektor Riil Sebagai Acuan Pricing Perbankan

Syariah”. Pada kajian konsep awal tersebut telah dihasilkan dua alternatif model return

sektor riil, yaitu model Structure Conduct Performance (SCP) yang lebih merepresentasikan

kondisi atau struktur pasar secara keseluruhan, dan model Struktur Biaya (Cost Structure)

yang mencerminkan rata-rata tertimbang return perusahaan di suatu industri. Pada kajian

awal tersebut telah dihasilkan alternatif model untuk sektor pertanian dan pertambangan.

Sebagai rangkaian dari kajian multiyears, pada tahun 2010 pembahasan dilanjutkan

dengan fokus pada pengumpulan dan penyiapan data, dan pemodelan lanjutan dengan

menggunakan data sub sektor industri. Pada tahun kedua ini dilakukan perbaikan-perbaikan

pada konsep awal yang telah disusun, dan pengembangan model lebih lanjut pada sampel

industri yang sama, yaitu sektor pertanian dan pertambangan dengan pendalaman sub

sektor (5 subsektor pertanian dan 5 subsektor pertambangan), disamping itu dipersiapkan

pula kerangka pemutakhiran (updating) data dan proyeksi model untuk tahap selanjutnya.

Model pengukuran imbal hasil sektor riil yang dibentuk, telah mempertimbangkan variabel-

variabel pada tingkat perusahaan (firm level) dalam industri yang dikaji yaitu industri

pertanian dan industri pertambangan. Untuk meminimalkan faktor variasi data atas waktu

seperti faktor trend, siklus dan musiman, data yang digunakan adalah data atas dasar harga

konstan. Untuk perhitungan, kerangka yang digunakan didasarkan pada metode Cash

Recovery Rates (CRR) karena perhitungannya tidak melibatkan faktor diskonto yang

merupakan jalur penilaian aset keuangan berbasis bunga, perhitungan CRR ini diadopsi dari

penelitian Baber dan Kang (1996).

Dalam penelitian ini, perhitungan CRR dilakukan secara empiris dengan 3 (tiga)

kelompok, yaitu: (i) pada seluruh perusahaan yang termasuk dalam sektor Pertanian dan

Pertambangan di Bursa Efek Indonesia maupun perusahaan yang tidak masuk bursa, (ii) pada

Perbankan Syariah dengan menggunakan laporan keuangan perbankan syariah yang secara

regular dilaporkan ke BI, dan (iii) dari sisi debitur bank syariah. Tujuan pengukuran pada 3

(tiga) kelompok berbeda ini adalah agar didapatkan imbal hasil sektor riil yang dihitung

berdasarkan kemampuan sebuah bisnis dalam menghasilkan pemulihan kas dari investasi

yang dilakukan pada waktu tertentu.

Konsep yang dibangun saat ini, pada perhitungannya melibatkan perusahaan yang

listed dan non listed sehingga indeks imbal hasil tersebut merupakan cerminan dari aktifitas

ekonomi di Indonesia. Selain itu, dari pengukuran CRR pada bank syariah akan didapatkan

cost of fund yang menjadi floor rate untuk penetapan margin dan nisbah pada produk bank

syariah. Pada akhirnya, informasi dari kedua sisi bisnis yaitu debitur dan perbankan akan

mengurangi ketidakseimbangan informasi sehingga meningkatkan transparansi bisnis dalam

sebuah sistem ekonomi syariah.

B.

Kajian

PerbankanSyariah

Permasalahan

Perpajakan

dan

Alternatif

Tax

Incentives

bagi

Peraturan perpajakan merupakan salah satu aspek penting dalam menentukan

struktur biaya, yang selanjutnya akan mempengaruhi daya saing produk dan minat investor

maupun pengguna jasa keuangan untuk memanfaatkan jasa perbankan syariah.

Sebagaimana banyak dialami oleh negara-negara yang baru mengembangkan perbankan

syariah, terdapat berbagai permasalahan dalam pengaturan perpajakan transaksi keuangan

syariah. Permasalahan tersebut timbul antara lain karena peraturan/perundang-undangan

yang berlaku belum secara spesifik mengatur mengenai perpajakan transaksi keuangan

syariah, yang relatif masih baru bertumbuh. Peraturan perundang-undangan terkait jasa

perbankan yang disusun sebelum industri perbankan syariah berkembang bisa jadi menggunakan kerangka fikir dan terminologi untuk pengaturan bank konvensional. Padahal secara prinsip dasar dan juga terminologi, terdapat sejumlah perbedaan penting antara bank syariah dengan bank konvensional. Terkait dengan hal diatas maka dalam rangka memperjelas dan mengidentifikasi berbagai kemungkinan ‘grey-area’ dalam pengaturan perpajakan bagi transaksi perbankan syariah maka pada tahun 2010 ini dilakukan kajian untuk memetakan berbagai ketentuan/perundang-undangan perpajakan yang berlaku bagi transaksi perbankan syariah. Pemetaan ini diharapkan akan bermanfaat untuk penyusunan peraturan pelaksanaan dan petunjuk teknis yang jelas dan sejalan dengan prinsip tax neutrality antara transaksi perbankan syariah dengan produk jasa keuangan yang memiliki karakteristik finance serupa (peering), dan menghindari potensi permasalahan ketidak-pastian hukum perlakukan ketentuan perpajakan transaksi-transaksi keuangan syariah. Berdasarkan kajian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan perpajakan untuk kegiatan usaha berbasis syariah mengalami beberapa perubahan penting pasca perubahan UU PPh (dengan diundangkannya UU Nomor 36 Tahun 2008) dan UU PPN (dengan diundangkannya UU Nomor 42 Tahun 2009). Meskipun ketentuan perpajakan telah mengakomodir aspek perpajakan tentang industri syariah, namun pengaturan dalam peraturan dan perundang-undangan perpajakan masih sangat minim dan belum secara tegas serta spesifik mengatur perlakuan perpajakan terhadap produk dan transaksi keuangan bank syariah. Penggunaan terminologi mutatis mutandis yang memang menjadi cerminan semangat tax neutrality, namun berpotensi menimbulkan keragu-raguan dan perbedaan penafsiran terhadap perlakuan perpajakan produk dan transaksi keuangan syariah. Dengan demikian, dalam upaya untuk meningkatkan transparansi dan kejelasan aturan maka diperlukan penyempurnaan ketentuan peraturan pelaksanaan yang memuat aturan tentang penjelasan mutatis mutandis sehingga jelas pandanan antara produk bank syariah dengan produk bank konvensional. Kajian ini memberikan tawaran tentang padanan tersebut. Penyempurnaan aturan pelaksanaan perpajakan tersebut seharusnya dapat mengakomodir prinsip level playing field dalam berusaha bahkan diharapkan dapat lebih banyak mendorong daya saing dan perkembangan perbankan syariah nasional. Pada sisi lainnya, sejalan dengan keinginan untuk menumbuh kembangkan perbankan syariah, maka Bank Indonesia juga melakukan joint research dengan Badan Kebijakan Fiskal – Kementrian Keuangan RI untuk melakukan mengkaji berbagai alternatif perpajakan yang diyakini dapat mendorong akumulasi modal dan secara efektif mengakselerasi pertumbuhan industri perbankan syariah agar dapat berkontribusi secara lebih luas dalam pembangunan ekonomi nasional. Oleh karena pemberian tax incentives

merupakan suatu perlakuan khusus (preferential treatment) bagi sektor atau kegiatan ekonomi tertentu, maka pada kajian banyak ditekankan analisis dan rasionalitas yang dapat secara meyakinkan bahwa kebijakan insentif yang diusulkan bersifat fair dan memberi manfaat lebih besar bagi perekonomian dari pada potensial lost yang mungkin ditimbulkan.

Sejumlah gagasan terkait kebijakan insentif pajak yang dapat diusulkan dan diskusikan lebih lanjut dengan otoritas fiskal diusulkan dalam kajian terkait insetif pajak yang meliputi insentif terkait PPh dan PPN. Secara umum terdapat dua kerangka pendekatan dalam pengajuan insentif, pertama yang bersifat jangka pendek dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku. Dalam hal in tentu pilihan alternatifnya relatif terbatas, umumnya dari aspek PPh, karena dari aspek PPN Undang-udang yang ada relatif ketat mengatur sehingga ruang gerak pengusulan insentif agak terbatas. Kedua adalah yang bersifat lebih jangka panjang dengan kondisi dimana undang-undang perpajakan dapat disesuaikan untuk memberikan landasan hukum bagi pemberian perlakuan istimewa yang telah dipertimbangkan cost-benefit-nya dari berbagai sisi kepentingan. Beberapa bentuk insentif perpajakan yang dapat diusulkan antara lain:

(i)

Pemberian fasilitas penurunan tarif PPh Badan sebesar 5% lebih rendah daripada tarif normal bagi perbankan syariah; ini beranalogi pada insentif pajak yang ditujukan untuk mendorong perusahaan agar lebih banyak go public - masuk bursa yang (minimal 40% sahamnya dimiliki oleh publik). Secara prinsip bank syariah bisa dianggap sebagai industri strategis yang perlu didorong demi kepentingan nasional khususnya dengan mempertimbangkan sumbangannya pada stabilitas sistem keuangan yang pengalaman menunjukan betapa besarnya beban yang ditanggung pembayar pajak saat terjadi krisis perbankan, serta sumbangannya pada peningkatan derajat Usaha mikro dan kecil yang menjadi fokus utama pembiayaan bank syariah.

(ii)

Insentif perlakuan PPh secara khusus berdasarkan Pasal 31D UU PPh yang antara lain menegaskan bahwa ketentuan perpajakan bagi bidang usaha berbasis syariah diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Industri perbankan syariah mempunyai peluang besar untuk mendapatkan perlakuan perpajakan secara khusus. Perlakuan khusus ini bisa lebih menarik dibanding fasilitas PPh berdasarkan Pasal 31A UU PPh atau bahkan fasilitas tax holiday. Semua tergantung kepada bagaimana keinginan Pemerintah terhadap industri perbankan syariah.

(iii)

Fasilitas Tax Holiday berdasarkan UU Penanaman Modal, dimana pada Pasal 18 ayat (5) UU Penanaman Modal menjanjikan fasilitas pembebasan atau pengurangan PPh Badan dalam jumlah dan waktu tertentu kepada penanaman modal baru yang merupakan industri pionir, yaitu industri yang memiliki keterkaitan yang luas,

memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru,

serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional.

(iv)

Pemberian subsidi pajak dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP). Insentif

PPh DTP merupakan bentuk subsidi pajak oleh Pemerintah kepada Wajib Pajak

tertentu yang didasarkan pada UU APBN. Apabila Pemerintah bermaksud untuk

memberikan insentif PPh DTP, Pemerintah harus mengalokasikan insentif tersebut

pada anggaran belanja subsidi pajak setiap tahunnya.

(v)

Pemberlakuan double tax deductable untuk beberapa biaya-biaya yang dapat

dibebankan double untuk kepentingan perhitungan beban pajak PPh Badan, misalnya

biaya pengembangan human capital perbankan syariah, biaya edukasi masyarakat/iB

Campaign dalam rangka mengakselerasi pertumbuhan industri perbankan syariah.

(vi)

Pemberian insentif terkait dengan penghapusan PPN, BPHTB dan PPh karena

pengalihan harta (khususnya berupa tanah dan bangunan) dalam kaitan pelaksanaan

spin off Unit Usaha Syariah (UUS) bank umum konvensional menjadi bank umum

syariah. Hal ini dengan pertimbangan bahwa spin-off pada dasarnya adalah amanah

dan dorongan yang diamanahkan oleh UU No 21 tahun 2008 tentang perbankan

syariah yang tujuan pokoknya mempercepat pertumbuhan perbankan syariah

nasional, sehingga selayaknya pemerintah dapat mengecualikan dalam mengambil

manfaat pajak dari aktifitas spin-off UUS ini.

C.

Kajian Kebijakan dan Strategi Pengembangan Human Capital Perbankan Syariah Nasional dalam Rangka Persiapan Industri Perbankan Syariah Menghadapi Asean Economi Community (AEC) 2015

Kesadaran mengenai pentingnya pembangunan human capital guna mencapai visi

pengembangan perbankan syariah nasional sudah tercantum dalam Cetak Biru Perbankan

Syariah Nasional. Pada Cetak Biru tersebut, pengembangan human capital merupakan salah

satu pilar terpenting dari tujuh pilar startegis pengembangan perbankan syariah nasional. Di

samping itu, bertumbuh pesatnya industri perbankan syariah baik dari sisi jumlah bank,

jaringan kantor, maupun meningkatnya volume usaha dan ragam produk perbankan syariah

menuntut tersedianya sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang semakin

meningkat. Fenomena terjadinya kekurangan sumberdaya manusia telah dirasakan sebagai

faktor yang menghambat pertumbuhan industri perbankan syariah nasional saat ini. Hal ini

antara lain tercermin dari kekurangan supply pemimpin cabang bank, calon direksi BPRS, dan

sejumlah strategic job positions di perbankan syariah nasional.

Pentingnya penyusunan rencana strategis pengembangan human capital industri

perbankan syariah nasional juga didorong oleh kenyataan bahwa dalam jangka pendek

kedepan terlaksananya kesepakatan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015 akan berpengaruh pada eksistensi dan berbagai aspek daya saing industri perbankan syariah nasional. AEC yang mempromosikan terlaksananya pasar bebas (free flow) barang, jasa, modal, investasi, dan tenaga kerja terdidik sudah tentu akan menimbulkan pengaruh berupa tantangan, namun juga membuka peluang bagi industri perbankan syariah nasional. Sebagai salah satu upaya awal mempersiapkan dan industri perbankan syariah Indonesia menghadapi AEC 2015, pada tahun 2009 DPbS Bank Indonesia telah melakukan kajian untuk memetakan daya saing perbankan syariah Indonesia di kawasan ASEAN dengan memperbandingkan daya saing industri serupa di negara yang memiliki industri keuangan syariah signifikan di kawasan ini, yaitu Malaysia, Singapura dan Brunei. Hasil komparasi dan pemetaan memperlihatkan bahwa kondisi ke empat negara relatif dekat, terutama untuk Indonesia dan Malaysia. Namun, posisi Indonesia berada dibawah Malaysia baik untuk faktor eksternal industri maupun faktor internal industri. Indonesia hanya memiliki rating lebih baik dari Malaysia pada dua aspek daya saing, yaitu sistem regulasi, khususnya dari sisi kelengkapan acuan peraturan prudential, prinsip syariah dan prinsip akuntansi (namun tidak untuk sisi pemberian insentif), dan pada aspek kondisi keuangan, khususnya dari tingginya financing to deposit ratio dan profitabilitas usaha perbankan syariah Indonesia.

Sejalan dengan argumentasi di atas serta memperhatikan realitas sumber daya insani industri perbankan syariah Indonesia saat ini, maka penyusunan rencana strategis pengembangan human capital industri perbankan syariah nasional menjadi sangat penting. Human Capital Strategic Plan (HCSP) Perbankan Syariah Indonesia disusun untuk menjelaskan visi dan misi pengembangan human capital perbankan syariah nasional dan keterkaitannya dengan visi dan misi pengembangan perbankan syariah yang ditetapkan dalam Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah, serta mengidentifikasi isu-isu strategis dibidang human capital, penetapan inisiatif-inisiatif strategis yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan sasaran pengembangan berdasarkan kondisi. Secara khusus HCPS Perbankan Syariah Nasional diharapkan dapat diposisikan sebagai:

Masukan dan acuan dalam perencanaan kebijakan dan strategis dibidang human capital bagi pelaku industri perbankan syariah, lembaga pendidikan dan pelatihan terkait perbankan syariah serta stakeholders lainnya agar dapat secara bersama-sama mendorong terwujudnya tujuan pengembangan human capital perbankan syariah Indonesia. Pedoman bagi Bank Indonesia melaksanakan fungsinya dalam menetapkan peraturan bagi industri perbankan syariah khususnya yang terkait dengan pengaturan dan pengembangan human capital industri perbankan syariah, melaksanakan fungsi

koordinasi dengan pihak terkait, melakukan fungsi fasilitasi dalam pengembangan institusi terkait (institutional building, dan pengembangan kapasitas human capital (capacity building) terkait dengan perbankan syariah, maupun lembaga yang memiliki peran penting dalam pengembangan perbankan syariah nasional; Masukan dan acuan bagi para pihak terkait dan stakeholders perbankan syariah secara umum agar secara bersama-sama dapat melakukan sinergi dan upaya pengembangan human capital secara terencana dan berkesinambungan guna mencapai sasaran dan tujuan pengembangan perbankan syariah khususnya dari aspek human capital;

Sejalan dengan tujuannya, HCSP Perbankan Syariah ini memuat visi, misi, serta inisatif-inisiatif staregis pengembangan human capital perbankan syariah nasional dengan kerangka waktu 2011-2015. Visi dan misi pengembangan human capital perbankan syariah nasional merupakan derivasi dari misi dan visi pengembangan perbankan syariah nasional, dengan terlebih dahulu dilaksanakan elaborasi berbagai referensi dan pemikiran terkait dengan pengembangan human capital dalam sistem perbankan syariah. Penyusunan Human Capital Strategic Plan Perbankan Syariah Nasional 2011 – 2015, diawali dengan penggalian informasi terhadap isu-isu strategis pada industri perbankan syariah, yang meliputi perkembangan bisnis, yaitu gambaran tentang perkembangan industri perbankan syariah nasional. Perkembangan bisnis merupakan isu yang harus diperhatikan karena diperlukan human capital yang mampu meningkatkan daya saing nasional maupun internasional. Selanjutnya adalah melakukan pendalaman aspek-aspek Human Capital Management yang meliputi (i) Model Kompetensi, (ii) Human Capital Acquisition, (iii) Human Capital Development, (iv) Human Capital Retention , dan (v) Human Capital Engagement. Dengan metode SWOT analysis, isu-isu strategis yang terkait dengan human capital, kemudian dikaji kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatannya. Langkah berikutnya adalah mengembangkan inti Human Capital Strategic Plan Perbankan Syariah Nasional 2011 – 2015, yang meliputi penjabaran tentang (i) visi, misi, dan sasaran Human Capital Management (HCM) perbankan syariah, (ii) menyusun inisiatif strategi Human Capital Management dan Program Human Capital Management Strategy.

1.2. KEGIATAN PENGEMBANGAN

Kegiatan pengembangan perbankan syariah pada tahun 2009 tetap fokus pada upaya melakukan penyempurnaan positioning-differentiation-branding (PDB) perbankan syariah dengan mengacu pada Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah 2009-2012. Dalam rangka mendukung implementasi Grand Strategy tersebut, kegiatan pengembangan pasar dilakukan dalam tiga area kebijakan meliputi edukasi dan sosialisasi, aliansi strategis, serta pengembangan internal.

1.2.1

Edukasi dan Pengembangan Pasar

Dalam rangka mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah, strategi komunikasi yang ditempuh Bank Indonesia melalui pelaksanaan berbagai aktivitas komunikasi dan edukasi guna menciptakan dan memperbesar demand terhadap produk dan layanan perbankan syariah, yang tertuang dalam media plan program sosialisasi dan edukasi masyarakat (iB Campaign) tahun 2010. Program-program sosialisasi (komunikasi) dan edukasi masyarakat yang dilakukan selama tahun 2010 antara lain :

A. Penyelenggaraan “iB Expo” dan/atau partisipasi “iB Paviliun” di beberapa event-event nasional dan terkemuka, baik di Jakarta maupun di beberapa kota besar di Indonesia. Kegiatan ini merupakan refocusing dari kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FES) yang telah dilaksanakan tahun 2008 dan 2009. Tujuan dari kegiatan ini iB Expo/iB Paviliun adalah untuk mendekatkan masyarakat (interaksi langsung) dengan produk-produk perbankan syariah sekaligus mendorong pengenalan produk serta mengakomodir aktivasi langsung masyarakat terhadap produk dan layanan perbankan syariah.

Konsep iB Paviliun merupakan penyediaan tempat khusus (pulau) untuk stand-stand bank syariah di daerah sebagai salah satu bentuk kegiatan kampanye (iB Campaign) bersama perbankan syariah, terutama bank-bank syariah yang memiliki budget terbatas untuk kegiatan promosi dan komunikasi.

Sepanjang tahun 2010 telah terselenggara beberapa kegiatan iB Paviliun antara lain:

a. iB Paviliun di Mega Bazar Computer di Yogyakarta (3-7 Maret 2010), diikuti oleh seluruh bank syariah di wilayah kerja KBI Yogyakarta dengan pencapaian nilai transaksi perbankan syariah sebesar Rp. 7.1 Milyar

b. Rumah iB di Real Estate Indonesia (REI) Expo 1-9 Mei 2010 di Jakarta, yang diikuti oleh 9 bank syariah terkemuka berhasil membukukan transaksi pembiayaan KPR-iB sebesar Rp.249 Milyar.

c. IB Showcase di Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2010, diikuti oleh 9 bank syariah dengan nilai transaksi mecapai Rp.150 Milyar.

d. iB Paviliun di Islamic and Halal Business Festival (IHBF) di Jakarta diikuti oleh 5 bank syariah terkemuka dan 12 stakeholder perbankan syariah antara lain: Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), Masyarkat Ekonomi Syariah (MES), IAEI, BWI, ASBISINDO, ABSINDO, Perempuan Ekonomi Syariah (PES),

e. Real Estat Ekspo 2010 di Jakarta (Oktober 2010)

f. Franchise dan License Expo Indonesia (FLEI) 2010 di Jakarta (November 2010)

g. Bursa Properti iB di Surabaya (Desember 2010)

B. Technical Assistance untuk meningkatkan kompetensi SDM perbankan syariah. Pelaksanaan edukasi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan personil/SDM bank syariah dalam menganalisis dan memanfaatkan setiap peluang ekspansi pembiayaan serta kemampuan merancang dan menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Kegiatan yang dilakukan meliputi serangkaian pelatihan analisis pembiayaan serta pelatihan strategic marketing (iB Marketeers Club). Tujuan pembentukan club tersebut adalah memberikan technical assistance yang mendalam terhadap ilmu marketing modern yang diharapkan dapat membantu para iBankers untuk melakukan praktek pemasaran yang lebih inovatif. Berbeda dengan pelatihan lainnya, personil bank yang menjadi peserta pelatihan strategic marketing juga menjadi anggota marketeers club sehingga berkesempatan untuk bertukar pengalaman dan menambah wawasan dari praktisi dan pemerhati marketing yang bergerak di berbagai sektor usaha.

C. Kegiatan Training of Trainers (TOT) pendidik, terutama dosen perguruan tinggi. Tujuan kegiatan TOT adalah untuk meningkatkan ketersediaan pengajar perbankan syariah. Selama tahun 2010 kegiatan TOT telah dilaksanakan di 7 kota, yaitu Yogyakarta, Palu, Surabaya, Banda Aceh, Ternate, Tasikmalaya dan Depok.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan TOT tersebut diupayakan secara terintegrasi dengan sosialisasi melalui event-event seperti Festival Nusantara ke-5, seminar dan pameran, sehingga proses komunikasi yang dilakukan berdampak lebih luas. Selain itu, sejalan dengan strategi komunikasi yang mengedepankan pengalaman langsung masyarakat berinteraksi dengan bank syariah, maka dalam setiap TOT disertakan wakil dari perbankan syariah. Secara umum antusiasme peserta terhadap kegiatan komunikasi terintegrasi ini cukup tinggi, termasuk di lokasi yang karena belum terdapat operasi bank syariah, maka untuk mendukung rangkaian kegiatan TOT penyelenggara mendatangkan bank syariah dari kota terdekat.

D. Sosialisasi perbankan syariah kepada masyakarat luas, dilakukan dengan strategi sosialisasi berbasis komunitas yaitu strategi komunikasi lebih terfokus terhadap segmen nasabah sesuai dengan grand strategy pengembangan pasar perbankan syariah (5 segmen nasabah : segmen pokoknya syariah, segmen ikut arus, segmen sesuai manfaat dan kebutuhan, segmen terpaksa dan segmen pokoknya konvensional). Untuk tahun 2010 prioritas komunitas yang menjadi sasaran utama kegiatan sosialiasasi adalah:

komunitas wanita dan pemuda (women and youth), komunitas pengusaha (entrepreneurs) dan komunitas pengguna internet (netizen).

Bentuk-bentuk kegiatan yang telah terlaksana sepanjang tahun 2010 antara lain:

a. Sosialisasi mengenai produk-produk perbankan syariah (product knowledge) kepada masyarakat luas melalui media massa (Above The Line) dalam bentuk Iklan Layanan Masyarakat (ILM) di media cetak (koran, majalah, tabloid, dll), media elektronik (radio, TV, inflight vison, TV Bandara, TV Bandara, TV Kereta Api, Megatron dll) dan media online/internet.

b. Seminar, Workshop, gathering seperti: Workshop Mahasiswa, Blogshop (pelatihan penulisan di media online), Workshop Wirausaha, gathering dengan komunitas wanita, komunitas pendengar radio, co-branding dengan kegiatan komunitas dan lain-lain akan dilaksanakan secara terintegrasi dengan beberapa kegiatan sosialisasi.

Selain kegiatan yang diprakarsai langsung, Bank Indonesia secara aktif juga melakukan sosialisasi dan edukasi melalui dukungan penyelenggaraan berbagai kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh stakeholder dalam bentuk bantuan penyelenggaraan dan narasumber. Permintaan terhadap kegiatan-kegiatan tersebut juga cukup besar, sehingga memasuki triwulan terakhir telah dilaksanakan lebih dari 120 kegiatan sosialisasi.

1.2.2 Kerjasama Kelembagaan

Pelaksanaan strategi pengembangan pasar melalui kegiatan komunikasi dan edukasi tidak terlepas dari sinergi dan kerjasama yang terus dikembangkan dengan berbagai institusi domestik seperti perguruan tinggi dan lembaga pelatihan, pemerintah daerah, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO), Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), serta media massa.

Dalam konteks yang berbeda, Bank Indonesia juga menjalin kerjasama strategis dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) – MUI dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Kerjasama dimaksud dilaksanakan antara lain melalui program benchmarking ke otoritas dan perbankan internasional, diskusi fatwa / standar akuntansi, dan pelatihan perbankan dan sertifikasi kepada DPS perbankan syariah. Melalui kerjasama tersebut, diharapkan koordinasi, kesepahaman dan sinergi yang terbentuk dapat secara efektif memberikan solusi dan mendorong berkembangnya produk perbankan syariah yang lebih variatif dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Disamping pengembangan aliansi domestik, Bank Indonesia juga secara aktif mengembangkan kerjasama dengan organisasi/forum internasional seperti Islamic Financial Services Board (IFSB), International Islamic Financial Market (IIFM), Asia Middle East Dialogue (AMED) melalui perantaraan Departemen Luar Negeri RI, dan Asia Pacific Rural and

Agricultural Credit Association (APRACA). Sebagai salah satu pendiri, Bank Indonesia berpartisipasi dalam pengambilan keputusan strategis di IFSB dan IIFM. Selain itu, partisipasi dan kerjasama juga dilaksanakan melalui keanggotaan dalam sejumlah working group perumusan standar keuangan syariah internasional, serta penyelenggaraan seminar dan pertemuan regular di kedua lembaga internasional tersebut. Sementara itu kerjasama dengan AMED dan APRACA dilakukan melalui program pelatihan bagi negara-negara anggota. Pada tahun 2010 APRACA telah memberikan penghargaan Center of Excellence dan bersama AMED menjadikan Bank Indonesia sebagai pusat pelatihan perbankan syariah bagi negara-negara anggotanya.

1.3. KEGIATAN PENGATURAN

Kegiatan pengaturan pada tahun 2010 masih merupakan kelanjutan dari penyusunan dan penyempurnaan ketentuan yang telah menjadi amanat Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Beberapa ketentuan yang telah disusun pada tahun 2010 merupakan petunjuk pelaksanaan dari pengaturan perbankan syariah yang telah disusun pada tahun 2009 yaitu Peraturan Bank Indonesia mengenai Uji Kemampuan Dan Kepatutan (Fit And Proper Test) bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah serta Peraturan Bank Indonesia mengenai pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Selain itu, terdapat beberapa ketentuan yang akan dikeluarkan untuk mengakomodasi perkembangan yang terjadi sesuai dengan kondisi perbankan syariah, antara lain berupa perubahan atas ketentuan – ketentuan yang telah berlaku yaitu ketentuan mengenai restrukturisasi pembiayaan bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, kualitas aktiva bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, dan kualitas aktiva bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dan ketentuan yang baru bagi perbankan syariah yaitu Peraturan Bank Indonesia mengenai Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Penyusunan ketentuan–ketentuan tersebut diharapkan dapat dikeluarkan pada akhir tahun 2010. Disamping melakukan penyusunan ketentuan dalam rangka petunjuk pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia di tahun 2009 dan dalam rangka mengakomodasi perkembangan sesuai kondisi perbankan syariah, terdapat pula penyusunan ketentuan yang dilakukan bekerjasama dengan satuan kerja lain diluar Direktorat Perbankan Syariah, karena ketentuan dimaksud berlaku baik bagi perbankan konvensional maupun perbankan syariah.

1.3.1.

Ketentuan

pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia sebelumnya.

ketentuan

yang

telah

diterbitkan

dalam

rangka

petunjuk

A. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/6/DPbS tanggal 28 Maret 2010 perihal Uji

Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah

(UUS).

Ketentuan ini merupakan aturan teknis mengenai pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia

No.11/31/PBI/2009 tentang Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) Bank

Syariah dan Unit Usaha Syariah yang diterbitkan pada tanggal 28 Agustus 2009.

Beberapa aturan teknis yang diatur dalam Surat Edaran tersebut, antara lain:

1. Uji kemampuan dan kepatutan terhadap PSP, anggota Dewan Komisaris, anggota

Direksi, dan Pejabat Eksekutif Bank Syariah; dan Direktur UUS dan Pejabat Eksekutif

UUS (existing) dilakukan untuk menilai keterlibatan dan/atau keterkaitan yang

bersangkutan (clearance test) atas pelanggaran atau penyimpangan, termasuk

tindakan fraud (penipuan, penggelapan dan/atau kecurangan), yang terkait dengan

faktor: (1) integritas dan kelayakan keuangan bagi PSP Bank Syariah; (2) integritas,

kompetensi dan reputasi keuangan bagi anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi

dan/atau Pejabat Eksekutif Bank Syariah dan Direktur UUS dan/atau Pejabat Eksekutif

UUS.

2. Pelaksanaan uji kemampuan dan kepatutan terhadap PSP, anggota Dewan Komisaris,

anggota Direksi dan Pejabat Eksekutif Bank Syariah; dan Direktur UUS dan Pejabat

Eksekutif UUS (existing) dilakukan melalui langkah-langkah pengumpulan data dan

informasi, konfirmasi hasil, penyampaian hasil penilaian, penerimaan tanggapan dan

penetapan hasil.

3. Penentuan predikat hasil akhir uji kemampuan dan kepatutan ditetapkan sebagai

berikut: a) Memenuhi Persyaratan (Lulus), apabila hasil akhir uji kemampuan dan

kepatutan bernilai kurang dari 5 (lima); atau b) Tidak Memenuhi Persyaratan (Tidak

Lulus), apabila hasil akhir uji kemampuan dan kepatutan bernilai sama dengan atau

lebih dari 5 (lima).

4. Pihak-pihak yang diberikan predikat Tidak Memenuhi Persyaratan (Tidak Lulus)

dilarang menjadi: a) PSP dan/atau pengendali pada seluruh Bank Syariah; b) Pemilik

saham lebih dari 10% (sepuluh persen) pada seluruh Bank Syariah; dan/atau c)

Anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi dan/atau Pejabat Eksekutif pada seluruh

Bank Syariah.

5. Penetapan jangka waktu pengenaan sanksi larangan dihitung berdasarkan faktor

materialitas atas kerugian yang ditimbulkan oleh yang bersangkutan terhadap

permodalan dan tingkat keuntungan Bank Syariah atau UUS. Pengukuran tingkat

materialitas atas kerugian yang ditimbulkan tersebut dilakukan dengan cara

mengukur pengaruh kerugian terhadap posisi terakhir atas KPMM, ROA, dan rata-

rata gross income.

B. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/13/DPbS tanggal 30 April 2010 perihal

Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha

Syariah.

Ketentuan ini merupakan aturan teknis pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia (PBI)

No.11/3/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009 tentang Bank Umum Syariah, PBI

No.11/10/PBI/2009 tanggal 19 Maret 2009 tentang Unit Usaha Syariah, dan PBI

No.11/33/PBI/2009 tanggal 7 Desember 2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate

Governance bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Beberapa aturan teknis yang diatur dalam Surat Edaran tersebut, antara lain:

1.

Kriteria independensi dari Komisaris Independen, Direktur Utama, dan Pihak

Independen dalam keanggotaan Komite

2.

Petunjuk self assessment pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) yang

dilengkapi dengan kertas kerja;

3.

Uraian atas hal-hal yang perlu diungkapkan dalam Laporan Pelaksanaan GCG bagi

BUS dan UUS; dan

4.

Tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah (DPS) dilengkapi dengan kertas

kerja.

1.3.2.

Ketentuan – ketentuan yang dikeluarkan DPbS (sampai akhir tahun 2010)

A. Penyempurnaan atas Ketentuan mengenai Restrukturisasi Pembiayaan Bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah.

Penyempurnaan Ketentuan Bank Indonesia mengenai Restrukturisasi Pembiayaan Bank

Syariah dan Unit Usaha Syariah, selain dilakukan dalam rangka harmonisasi dengan

ketentuan perbankan konvensional dalam melakukan restrukturisasi dengan tetap

memperhatikan kesesuaian dengan Prinsip Syariah, juga mempertimbangkan hasil

assessment yang dilakukan dalam rangka Financial Sector Assessment Program (FSAP)

terhadap pengaturan perbankan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Beberapa hal yang menjadi alternatif perubahan ketentuan, antara lain restrukturisasi

pembiayaan dapat dilakukan terhadap pembiayaan dengan kolektibilitas Lancar, Dalam

Pengawasan Khusus, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet, dengan jumlah maksimal

restrukturisasi dan jarak waktu antar restrukturisasi yang tidak dibatasi. Namun demikian,

dengan mempertimbangkan hasil assessment FSAP maka diusulkan agar terdapat

pengendalian atas pelaksanaan restrukturisasi, yaitu pembatasan restrukturisasi untuk

pembiayaan dengan kolektibilitas L dan DPK yaitu sebanyak 1 (satu) kali, serta adanya

pengaturan untuk menetapkan batas maksimum jumlah restrukturisasi untuk

pembiayaan dengan kolektibilitas tertentu.

B. Penyusunan Ketentuan mengenai Kualitas Aktiva bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah serta Kualitas Aktiva bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Ketentuan mengenai Kualitas Aktiva bagi BUS dan UUS yang akan diterbitkan pada tahun

2010 ini akan menggantikan Peraturan Bank Indonesia sebelumnya yang telah diterbitkan

pada tahun 2006, 2007 dan 2008. Sedangkan ketentuan Kualitas Aktiva bagi Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah menggantikan Peraturan Bank Indonesia serupa yang

diterbitkan pada tahun 2006.

Beberapa materi pengaturan yang akan disempurnakan, antara lain:

a. Penyempurnaan definisi pembiayaan dan jenis-jenis akad yang digunakan serta

ketentuan mengenai Agunan Yang Diambil Alih sesuai dengan Undang-Undang

Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

b. Harmonisasi ketentuan dengan ketentuan Bank Konvensional dan ketentuan lain

yang terkait, antara lain peningkatan limit pembiayaan yang penilaian kualitasnya

hanya didasarkan atas kemampuan membayar, insentif atas penggunaan

independent appraisal atas agunan pembiayaan, pengaturan mengenai properti

terbengkalai, dan penambahan jenis agunan yang dapat diperhitungkan sebagai

pengurang PPA.

c. Penghapusan frekuensi revisi Proyeksi Pendapatan (PP) dan pembedaan penetapan

angsuran untuk Mudharabah dengan Musyarakah untuk menghilangkan kendala

penyaluran pembiayaan mudharabah/musyarakah agar dapat mendorong

pertumbuhan pembiayaan yang berbasis bagi hasil.

d. Peningkatan penerapan kepatuhan prinsip syariah pada BPRS dengan melarang BPRS

melakukan penempatan dalam bentuk deposito di Bank Umum Konvensional.

Pembukaan rekening giro dan/atau tabungan di Bank Umum Konvensional

dimungkinkan, dalam rangka melayani kepentingan transfer dana bagi BPRS dan

nasabah BPRS.

C. Ketentuan mengenai Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Sampai saat ini, dalam menerapkan manajemen risiko Bank Umum Syariah menggunakan

ketentuan sebagaimana diatur dalam perbankan konvensional. Namun, mengingat dalam

Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Bank Syariah dan UUS

diwajibkan untuk menerapkan manajemen risiko dan berdasarkan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Direktorat Perbankan Syariah mengenai manajemen risiko bagi Bank

Syariah serta best practices/guidance mananajemen risiko perbankan syariah di dunia

internasional seperti Islamic Financial Services Boards (IFSB), maka dipandang perlu untuk

menyusun ketentuan tersendiri mengenai manajemen risiko untuk Bank Umum Syariah.

Beberapa pengaturan yang menunjukkan karakteristik khas perbankan syariah, antara lain

mengakomodasi peranan Dewan Pengawas Syariah dalam manajemen risiko bank,

penerapan manajemen risiko seperti mitigasi risiko yang tidak bertentangan dengan

Prinsip Syariah dan adanya risiko kepatuhan (terutama kepatuhan terhadap aspek syariah),

rate of return risk dan equity investment risk. Peraturan Bank Indonesia mengenai

manajemen risiko tersebut diharapkan dapat dikeluarkan pada tahun 2010 dan petunjuk

teknis pelaksanaan penerapan manajemen risiko tersebut diharapkan pula dapat

dikeluarkan dalam bentuk Surat Edaran Bank Indonesia pada tahun 2011.

1.3.3. Ketentuan – ketentuan yang disusun bekerjasama dengan satuan kerja diluar DPbS dan berlaku bagi perbankan konvensional maupun perbankan syariah

A. Peraturan Bank Indonesia No.12/20/PBI/2010 tanggal 4 Oktober 2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Peraturan ini dikeluarkan, dilatarbelakangi adanya pertimbangan bahwa semakin

berkembangnya industri BPR dan BPRS yang disertai dengan perkembangan produk serta

pelayanan BPR/BPRS terutama yang berbasis teknologi informasi, maka risiko

pemanfaatan BPR dan BPRS dalam pencucian uang dan pendanaan terorisme semakin

tinggi. Sehingga diperlukan pengaturan mengenai Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah

(Know Your Customer Principles/KYC) yang mengacu pada prinsip-prinsip umum yang

berlaku secara internasional dalam mendukung upaya pencegahan tindak pidana

pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.

Pokok-pokok pengaturannya antara lain adalah sebagai berikut :

a. BPR dan BPRS wajib menerapkan program Program Anti Pencucian Uang (APU) dan

Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT).

b. BPR dan BPRS wajib membentuk unit kerja khusus dan/atau menunjuk pegawai BPR

dan BPRS yang bertanggung jawab atas penerapan program APU dan PPT dan

bertanggung jawab terhadap Direktur.

c. BPR dan BPRS wajib memelihara Daftar Teroris berdasarkan data yang diterima dari

Bank Indonesia setiap 6 (enam) bulan berdasarkan data yang dipublikasikan oleh

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

d. BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pencatatan dan memelihara profil Nasabah.

e. BPR dan BPRS wajib menolak transaksi, membatalkan transaksi dan atau menutup

hubungan usaha dengan Nasabah dalam hal tidak memenuhi kelengkapan informasi

dan dokumen, diketahui menggunakan identitas dan/atau memberikan informasi

yang tidak benar, serta BPR dan BPRS ragu terhadap kebenaran informasi Nasabah

atau penggunaan rekening tidak sesuai dengan profil Nasabah.

B. Peraturan Bank Indonesia No. 12/21/PBI/2010 tanggal 19 Oktober 2010 tentang Rencana Bisnis Bank

Peraturan ini dikeluarkan dengan pertimbangan bahwa dalam rangka mengarahkan

kegiatan operasional bank sesuai visi dan misinya, bank perlu menetapkan sasaran

strategis dan seperangkat nilai perusahaan (corporate values) yang dijabarkan lebih lanjut

dalam bentuk rencana bisnis. Selain itu, ketentuan ini mengakomodasi pengaturan yang

dirasakan perlu untuk pengembangan dan arah kedepannya bagi Unit Usaha Syariah

(UUS) yang dicantumkan dalam bentuk rencana bisnis.

Pokok-pokok pengaturannya antara lain adalah sebagai berikut:

a. Dalam menyusun Rencana Bisnis, bank memperhatikan: (1) faktor eksternal dan

internal yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha Bank, (2) prinsip kehati-

hatian, (3) penerapan manajemen risiko, dan (3) azas perbankan yang sehat.

b. Rencana Bisnis paling kurang meliputi: (1) ringkasan eksekutif, (2) kebijakan dan

strategi manajemen, (3) penerapan manajemen risiko dan kinerja bank saat ini, (4)

proyeksi laporan keuangan beserta asumsi yang digunakan, (5) proyeksi rasio-rasio

dan pos-pos tertentu lainnya, (6) rencana pendanaan, (7) rencana penanaman dana,

(8) rencana permodalan, (9) rencana pengembangan organisasi dan sumber daya

manusia, (10) rencana penerbitan produk dan/atau pelaksanaan aktivitas baru, (11)

rencana pengembangan dan/atau perubahan jaringan kantor, dan (12) informasi

lainnya.

c. Pencatuman rencana pemisahan (spin off) UUS dalam rencana bisnis Bank Umum

Konvensional yang memiliki UUS.

d.

Rencana bisnis UUS harus disusun dan menjadi bagian dari rencana bisnis Bank Umum Konvensional yang menjadi induk UUS.

e.

Rencana bisnis wajib disampaikan kepada Bank Indonesia, paling lambat pada akhir bulan November (untuk rencana bisnis tahun 2011, paling lambat akhir bulan Desember 2010).

1.3.4.

Pengaturan Yang Berlaku bagi Perbankan Syariah pada Periode Mendatang

Dalam penyusunan ketentuan yang berlaku bagi Perbankan Syariah di periode mendatang, Bank Indonesia akan tetap berpedoman kepada Undang Undang Perbankan Syariah dan peraturan perundang-undangan lainnya. Pengaturan yang diharapkan akan dikeluarkan pada periode mendatang antara lain adalah pengaturan terkait penyempurnaan laporan bulanan bank dan transparansi kondisi bank, yang berkaitan dan diharapkan memiliki implikasi terhadap efektivitas kerangka pengawasan perbankan syariah berdasarkan risiko di masa mendatang.

1.4 KEGIATAN PENGAWASAN

Pengembangan perbankan syariah yang tengah diupayakan saat ini perlu diikuti dengan langkah-langkah pengawasan yang efektif untuk memastikan bahwa perbankan syariah telah tumbuh dan berkembang secara sehat, memperhatikan prinsip kehati-hatian, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, memiliki manajemen risiko yang efektif, dan memenuhi prinsip-prinsip syariah secara konsisten. Terkait hal tersebut, Bank Indonesia dengan berdasarkan kepada kerangka kerja pengawasan berdasarkan risiko, telah melaksanakan pengawasan secara langsung (on-site) maupun tidak langsung (off-site) dengan fokus pada aktivitas fungsional yang memiliki risiko tinggi.

Risiko Kredit dan Risiko Operasional masih menjadi fokus utama pengawasan selama tahun 2010. Hal ini sistem pengendalian risiko bank-bank syariah dinilai masih memiliki kelemahan dalam hal implementasi kebijakan dan prosedur pada aktivitas pembiayaan dan operasional, masih minimnya jumlah SDM bank syariah yang kompeten dan perangkat sistem informasi manajemen risiko, serta belum optimalnya sistim pengendalian intern yang dilaksanakan oleh bank. Meskipun demikian, kondisi perbankan syariah secara keseluruhan pada tahun 2010 masih dapat dikategorikan stabil dan terkendali.

1.4.1 Permasalahan Perbankan Syariah Pada Tahun 2010

1.4.1.1. Pengendalian Risiko Kredit

Dalam rangka mengejar pertumbuhan aset, berdasarkan RBB selama tahun 2010 rata-rata bank syariah akan tumbuh minimal 20% per tahun dan dalam mengejar pertumbuhan tersebut sStrategi bisnis bank-bank syariah pada tahun 2010 secara umum lebih mengarah pada penyaluran pembiayaan untuk segmen usaha konsumer dan mikro, yang dinilai memiliki risiko relatif rendah dan dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi. Namun pada kenyataannya pada pembiayaan mikro berupa gadai ditemukan kasus-kasus pelanggaran pada penyaluran pembiayaan mikro dan gadai dalam frekuensi dan jumlah yang cukup signifikan mempengaruhi kinerja bank. Hal ini merupakan dampak dari kuatnya tekanan dari stakeholder kepada manajemen untuk mencapai target rencana bisnis, sehingga mengabaikan mitigasi risiko operasional maupun penyediaan infrastruktur pendukung sistem pengendalian intern yang menyebabkan terjadinya praktik-praktik perbankan yang kurang prudent dan atau kekurangsesuaian dengan etika bisnis bank.

Selain permasalahan pada penyaluran pembiayaan mikro dan gadai, Bank Indonesia juga mencatat adanya pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian yang dilakukan oleh bank akibat lemahnya pemahaman bank terhadap ketentuan kehati-hatian antara lain ketentuan BMPK dan restrukturisasi.

Atas permasalahan-permasalahan tersebut, Bank Indonesia telah melakukan pembinaan dan meminta komitmen bank-bank terkait untuk melakukan tindakan korektif antara lain melakukan perbaikan pada kebijakan dan prosedur, penyempurnaan teknologi sistem informasi, penguatan manajemen risiko, peningkatan kontrol dan monitoring terhadap usaha debitur, serta mengoptimalkan fungsi Divisi Kepatuhan, Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Audit Intern.

Rasio Non Performing Financing (NPF) perbankan Syariah posisi September 2010 menunjukkan kondisi yang relatif stabil yakni tercatat sebesar 3,95% dibandingkan posisi Desember 2009 yakni sebesar 3,99%. Bank-bank syariah pada prinsipnya telah berupaya melakukan perbaikan antara lain melalui proses restrukturisasi dan pencarian investor baru dalam rangka memperkuat struktur keuangan debitur bermasalah. Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya dapat menekan rasio NPF ke level minimal mengingat beberapa bank memiliki permasalahan debitur yang bersifat struktural, sehingga upaya perbaikan belum dapat menunjukkan hasil optimal dalam jangka pendek.

Risiko kredit diperkirakan masih akan menjadi fokus perhatian pengawasan pada tahun mendatang mengingat perbaikan kelemahan sistem pengendalian risiko kredit akan

membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan format yang ideal yang sesuai dengan skala usaha masing-masing bank syariah.

1.4.1.2 Pengendalian Risiko Operasional

Hal-hal yang secara signifikan mempengaruhi risiko operasional perbankan syariah adalah teknologi sistem informasi khususnya core banking system, dan kompetensi sumber daya manusia. Secara umum, core banking system yang dimiliki oleh perbankan syariah saat ini masih belum memadai apabila dibandingkan dengan skala usaha bank, apalagi untuk mampu bersaing dengan perbankan konvensional. Hal ini telah disadari oleh kalangan perbankan syariah, sehingga pada saat ini bank-bank syariah tengah gencar melakukan pengembangan pada core banking system tersebut. Namun, hal ini menemui beberapa kendala seperti proses dan implementasi yang membutuhkan waktu yang cukup panjang, disamping biaya investasi yang relatif besar.

Di sisi lain pertumbuhan perbankan syariah belum didukung oleh penambahan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Keterbatasan SDM tersebut telah menimbulkan fenomena turn over antar bank syariah yang cukup tinggi, sehingga bank-bank syariah yang memiliki SDM yang kompeten dan memadai hanyalah bank-bank yang mampu memberikan insentif yang lebih tinggi atau memiliki program pengembangan SDM syariah secara mandiri. Keterbatasan kompetensi SDM tersebut, menyebabkan masih terjadinya kesalahan dan kelemahan dalam pelaksanaan operasional bank dan mempengaruhi kepatuhan bank melaksanakan ketentuan yang berlaku.

Kelemahan pada operasional bank-bank syariah antara lain tercermin dari tingkat pengaduan nasabah yang diterima oleh bank. Berdasarkan pemantauan Bank Indonesia, selama tahun 2010 terjadi peningkatan pengaduan nasabah terutama terkait sistem jaringan bank (ATM), atau pelaksanaan operasional pembiayaan berupa pelanggaran prosedur yang merugikan nasabah baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mengingat permasalahan-permasalahan tersebut di atas hanya dapat diatasi dengan pengembangan infrastruktur operasional bank secara berkesinambungan, maka diperkirakan pada tahun 2011, risiko operasional masih menjadi salah satu risiko utama yang mempengaruhi profil risiko perbankan syariah secara umum. 1.4.2 Kinerja Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Permasalahan utama yang dialami oleh BPR Syariah selama tahun 2010 secara umum berkaitan dengan risiko kredit dan risiko operasional. Risiko pembiayaan BPR Syariah cenderung meningkat antara lain disebabkan oleh mekanisme penyaluran pembiayaan yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip kehati-hatian terutama analisis kondisi usaha dan

kemampuan keuangan calon nasabah yang masih lemah dan hanya mengutamakan agunan, distribusi penyaluran pembiayaan belum merata dan terpusat pada nasabah inti yang sebagian diantaranya dilakukan dengan praktek-praktek yang tidak sehat dalam rangka menghindari pelanggaran BMPK melalui pemecahan rekening atau atas nama orang lain.

Dalam aspek operasional, beberapa bank masih mengalami kendala dalam penghimpunan dana dari masyarakat yang relatif aman dan murah, sehingga sumber dana berasal dari antarbank berupa penempatan maupun pembiayaan yang relatif berbiaya lebih tinggi dan sangat mempengaruhi kondisi likuiditas bank. Selain itu permasalahan utama yang masih dihadapi adalah persaingan yang semakin ketat baik dari perbankan maupun lembaga keuangan non bank, dukungan dari pemilik BPRS yang masih rendah atau sebaliknya adanya intervensi yang kuat dari pemilik/pengurus terhadap operasional bank sehingga tidak dapat melakukan pengembangan usaha yang lebih sehat, kualitas sumber daya manusia BPRS yang belum memadai, serta penerapan good corporate governace oleh BPR Syariah yang masih rendah.

Terkonsentrasinya pembiayaan BPRS membuat risiko kredit BPRS dapat bersifat sistemik yang memiliki dampak pada laba-rugi bank dan kecukupan permodalan bank. Memburuknya kualitas pembiayaan akan berdampak pada meningkatnya penyisihan penghapusan aktiva produktif yang akan mengurangi laba yang akan berdampak pada aspek permodalan BPRS sehingga rasio CAR berada dibawah batas minimal.

Masih terdapatnya sebagian BPRS yang masih belum dapat memenuhi permodalan minimal Rp. 1,4 milyar pada September 2010 antara lain disebabkan oleh pesimisnya para pemilik BPRS atas kinerja usaha bank yang dinilai belum berkembang dan tingkat pengembalian/ return berbanding risiko usaha BPRS yang tidak seimbang. Permodalan BPRS yang tidak kuat membuat kemampuan BPRS menjalan usahanya menjadi kurang memadai. Mahalnya biaya dana yang salah satunya disebabkan oleh persaingan menyebabkan BPRS menjadi tidak kompetitif dalam menyalurkan dana.

Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka diperlukan tindakan-tindakan pengawasan dan pembinaan BPRS yang tepat dalam rangka menjaga industri BPRS antara lain melakukan review yang lebih ketat mengenai kecukupan permodalan saat pendirian BPRS, melakukan review/kajian dan mempersiapkan basis investor (calon pemegang saham) dan basis nasabah BPRS yang tepat, mempersiapkan kecukupan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia BPRS, melakukan penelitian mengenai portofolio pembiayaan BPRS yang efektif, melakukan review atas upaya-upaya perbaikan kualitas pembiayaan BPRS dan melakukan upaya korektif yang tegas atas proses pemberian pembiayaan yang tidak sehat serta praktek pengelolaan bank yang mengesampingkan good corporate governance.

Situasi persaingan perbankan yang semakin ketat dalam menghimpun dana, membuat BPRS melakukan berbagai pengembangan usaha dalam rangka memperkuat posisinya dalam persaingan dan melakukan efisiensi biaya. Kerjasama co branding ATM antara BPRS dengan Bank Umum Syariah telah dimulai oleh sebagian BPRS. Layanan co branding ATM oleh BPRS tersebut sebaiknya diiiringi oleh kecukupan likuiditas dan internal control BPRS yang memadai.

Dalam upaya melakukan efisiensi biaya sebagian BPRS berupaya untuk melakukan pengembangan sistem operasi core banking sehingga dapat berfungsi secara online. Pengembangan tersebut sebaiknya dilakukan dengan melakukan analysis cost benefit yang baik (terkait biaya investasi IT yang tinggi) dan persiapan mitigasi risiko IT (antara lain penyiapan SOP, sumber daya manusia, prosedur backup, keamanan sistem) yang memadai.

1.5

KEGIATAN PERIZINAN

1.5.1

Perizinan Kelembagaan

Selama tahun 2010, jumlah Bank Umum Syariah (BUS) bertambah 5 dengan diterbitkannya izin usaha 5 BUS yaitu PT Bank Victoria Syariah, PT Bank BCA Syariah, PT Bank Jabar Banten Syariah, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Maybank Syariah Indonesia. Dari 5 izin BUS baru tersebut 3 diantaranya adalah izin konversi (perubahan kegiatan usaha bank konvensional menjadi bank syariah) dan 2 lainnya adalah izin BUS hasil spin-off (pemisahan). Izin konversi diberikan kepada PT Bank Victoria Syariah (semula adalah PT Bank Swaguna), PT Bank BCA Syariah (semula adalah PT Bank UIB) dan PT Bank Maybank Syariah Indonesia (semula adalah PT Bank Maybank Indocorp), sedangkan izin usaha BUS hasil spin-off diberikan kepada PT Bank Jabar Banten Syariah dan PT Bank BNI Syariah.

Dengan disetujuinya spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) PT BPD Jawa Barat dan Banten dan UUS PT Bank BNI, maka jumlah UUS di tahun 2010 berkurang 2, sehingga secara keseluruhan jumlah BUS dan UUS pada tahun 2010 menjadi 11 BUS dan 23 UUS. Sampai dengan Oktober 2010 tidak terdapat permohonan izin pendirian BUS baru, konversi BUK menjadi BUS, maupun spin-off UUS yang masih dalam proses sehingga diperkirakan di awal tahun 2011 tidak ada penambahan BUS baru. Namun demikian, sebagai implikasi dari ketentuan dalam UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang mewajibkan Bank Umum Konvensional (BUK) untuk melakukan spin-off UUS yang dimilikinya menjadi BUS jika nilai asset UUS telah mencapai paling sedikit 50% dari total nilai asset bank induknya atau paling lambat 15 tahun sejak berlakunya UU ini maka di masa yang akan datang jumlah BUS akan bertambah.

Jaringan kantor BUS dan UUS hingga September 2010 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebanyak 330 kantor. Pada tahun 2011 diperkirakan jumlah jaringan kantor terus mengalami peningkatan sebagai upaya BUS/UUS untuk mempertahankan /meningkatkan pangsa pasarnya. Sedangkan untuk Layanan Syariah (office channelling) dari UUS, karena adanya spin-off 2 UUS maka jumlahnya menurun dari 1.792 pada akhir tahun 2009 menjadi 1.140 pada September 2010. Penurunan jumlah office channeling sebagai akibat dari spin-off UUS tersebut diperkirakan tidak akan menurunkan jangkauan pelayanan kepada nasabah mengingat saat ini BUS telah diperbolehkan untuk memiliki delivery channel di bank konvensional yang menjadi parent/sister company dari BUS dimaksud.

Sampai dengan September 2010, telah diterbitkan 8 izin usaha pendirian Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) baru yang berlokasi di wilayah Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Terkait dengan perizinan pendirian BPRS, dalam rangka menciptakan BPRS yang tangguh dan sustainable, Bank Indonesia dalam proses penilaian feasibility study pendirian BPRS menekankan pada kecukupan modal BPRS dimaksud. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, apabila Bank Indonesia menilai bahwa modal dalam rangka pendirian BPRS perlu diperkuat maka Bank Indonesia dapat meminta tim pendiri BPRS untuk menambah modal disetor meskipun BPRS telah memenuhi syarat modal minimum pendirian BPRS di masing-masing lokasi pendirian.

Selama tahun 2010 tidak terdapat pencabutan izin usaha BPRS namun saat ini Bank Indonesia sedang memproses permohonan self liquidation 1 BPRS yang berada di wilayah kerja KBI Cirebon. Dengan demikian, jumlah BPRS sampai dengan posisi September 2010 adalah 146 BPRS. Pada tahun 2011 jumlah BPRS akan terus bertambah mengingat pada posisi September 2010 terdapat 30 permohonan izin pendirian BPRS yang masih dalam proses.

1.5.2 Perizinan Produk

Perizinan produk bank syariah dan UUS dibedakan menjadi dua kegiatan utama yaitu:

(i) penegasan atas laporan produk yang telah tercantum dalam Buku Kodifikasi Produk

Perbankan Syariah, dan (ii) persetujuan/penolakan atas produk baru yang yang belum tercantum dalam Buku Kodifikasi dimaksud. Selama tahun 2010, Bank Indonesia telah memberikan penegasan atas 38 laporan produk bank syariah dan UUS serta memberikan persetujuan atas 2 produk baru bank syariah. Produk-produk bank syariah dan UUS yang telah diberikan penegasan tersebut merupakan produk yang telah ada di perbankan syariah yang tidak disertai maupun yang disertai dengan tambahan fitur.

Produk baru yang diberikan persetujuan oleh Bank Indonesia adalah Produk Pembiayaan Mudharabah Musytarakah dan Produk Term Finance. Produk pembiayaan mudharabah musytarakah yang didasarkan pada fatwa DSN MUI No.50/DSN-MUI/III/2006 tanggal 23 Maret 2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah merupakan pengembangan produk yang sebelumnya telah ada di bank tersebut yaitu pembiayaan mudharabah mutlaqah. Apabila dalam produk mudharabah mutlaqah keseluruhan dana berasal dari bank (shahibul maal), maka dalam pembiayaan mudharabah musytarakah terdapat bagian dana nasabah yang ditanamkan dalam suatu usaha/proyek.

Produk pembiayaan Term Finance adalah produk pembiayaan dengan akad IMBT dengan aset atas nama nasabah sejak awal masa pembiayaan. Pembiayaan ini terutama untuk pembiayaan untuk aset yang bersifat “registered asset’ seperti building, aircraft, dan kendaraan bermotor non HE (heavy equipment). Karena bukti kepemilikan aset sejak awal diatasnamakan nasabah maka sebagai mitigasi risiko aset tersebut diikat dan dijaminkan ke bank dengan jenis pengikatan sesuai aset yang dijaminkan.

BAB 2

PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH 2010

2.1. GAMBARAN UMUM Pemulihan ekonomi global yang semakin menguat di akhir tahun 2009 memberikan optimisme perkembangan ekonomi di tahun 2010 meskipun sempat diwarnai oleh krisis Yunani yang terjadi awal triwulan II 2010 namun krisis tersebut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kondisi perbankan syariah nasional. Kondisi perbankan syariah nasional yang masih dalam perkembangan awal dan belum memiliki tingkat integrasi yang tinggi dengan sistem keuangan global serta tidak signifikannya eksposur valas yang dimiliki perbankan syariah nasional, berdampak pada terhindarnya bank syariah dari pengaruh langsung krisis tersebut. Sepanjang tahun 2010 perbankan syariah tumbuh dengan volume usaha yang tinggi yaitu sebesar 43,99% (yoy) meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 26,55% (yoy) dengan pertumbuhan dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang juga relatif tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2009. Secara umum efektivitas fungsi intermediasi perbankan syariah tetap terjaga seiring pertumbuhan dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang relatif tinggi dibandingkan perbankan nasional, serta penyediaan akses jaringan yang meningkat dan menjangkau kebutuhan masyarakat secara lebih luas sehingga masih memiliki fundamental yang cukup kuat untuk memanfaatkan potensi membaiknya perekonomian nasional.

Grafik 2.1. Perkembangan Aset, DPK dan PYD

yang cukup kuat untuk memanfaatkan potensi membaiknya perekonomian nasional. Grafik 2.1. Perkembangan Aset, DPK dan PYD

Kondusifnya situasi perekonomian nasional mendorong perbankan syariah untuk melakukan ekspansi usahanya baik dalam bentuk penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran pembiayaan. Sampai dengan triwulan III 2010, pertumbuhan PYD perbankan syariah mencapai 34,85% jauh meningkat dibanding periode yang sama tahun 2009 yang hanya mencapai 18,16%. Dari sisi penghimpunan dana, pertumbuhan DPK perbankan syariah juga mengalami peningkatan menjadi sebesar 39,16% dibandingkan periode yang sama tahun 2009 sebesar 35,19%. Peningkatan DPK yang tidak diimbangi penyaluran PYD berdampak pada penurunan profitabilitas bank syariah. Meski begitu, efektivitas intermediasi bank syariah masih tetap terjaga dengan financing to deposit ratio mencapai 95%. Dari sisi jangkauan pelayanan, perbankan syariah dalam periode laporan secara geografis telah menjangkau masyarakat di lebih dari 103 kabupaten/kota dan 33 propinsi di Indonesia, walaupun porsi pembiayaan terbesar masih berada di DKI Jakarta sebesar Rp.24,46 trilyun dari total pembiayaan perbankan syariah yang diberikan secara nasional. Pengembangan kapasitas layanan tersebut telah meningkatkan partisipasi masyarakat yang menjadi pengguna jasa perbankan sebagaimana diindikasikan oleh peningkatan jumlah rekening nasabah pendanaan yang hingga September 2010 telah mencapai 5,76 juta rekening.

2.2. PERKEMBANGAN KELEMBAGAAN

Sampai dengan triwulan III 2010 jumlah bank yang melakukan kegiatan usaha syariah meningkat seiring dengan munculnya pemain-pemain baru baik dalam bentuk Bank Umum Syariah (BUS) maupun Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). BUS yang pada akhir tahun 2009 berjumlah 6 BUS bertambah 4 BUS dimana 2 BUS merupakan hasil konversi Bank Umum Konvensional dan 2 BUS hasil spin off Unit Usaha Syariahnya (UUS) sehingga jumlah UUS di tahun 2010 ini berkurang menjadi 23 UUS.

Peningkatan jaringan kantor BUS dan UUS sampai triwulan III 2010 meningkat sebanyak 387 kantor, peningkatan ini terutama dari pembukaan kantor cabang terutama kantor cabang pembantu. Sedangkan untuk layanan syariah mengalami penurunan sebanyak 652 menjadi 1140 pada triwulan III 2010. Penurunan ini dikarenakan adanya penutupan 2 UUS akibat spin off yang secara kelembagaan juga menutup layanan syariahnya. Namun demikian, penurunan jangkauan layanan syariah ini tidak akan menurunkan jangkauan layanan bank syariah kepada nasabah, mengingat penyebaran jaringan kantor bank syariah yang luas dan diperkirakan akan semakin bertambah di akhir tahun 2010 menyusul dikeluarkannya izin usaha PT. Bank Maybank Syariah pada Oktober 2010.

Tabel 2.1. Jaringan Kantor

   

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

Kelompok Bank

2007

08

08

09

09

09

09

10

10

10

Bank Umum Syariah

3

3

5

5

5

5

6

8

10

10

Unit Usaha Syariah

26

28

27

26

25

24

25

25

23

23

Jumlah Kantor BUS & UUS

597

713

822

888

899

924

998

1208

1279

1388

Jumlah Layanan Syariah

1195

1440

1470

1486

1543

1667

1792

1787

1140

1140

2.3. PENGHIMPUNAN DANA

Sampai dengan pertengahan tahun 2010 kinerja penghimpunan dana Perbankan Syariah sempat melambat hingga pertengahan 2010, namun memasuki triwulan III 2010 mulai mengalami perkembangan dengan laju pertumbuhan 39,16% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2009 sebesar 35,19% (yoy). Perkembangan DPK Perbankan Syariah ditunjukkan pada Grafik 2.2

Grafik 2.2. Perkembangan DPK Perbankan Syariah

Grafik 2.2 Grafik 2.2. Perkembangan DPK Perbankan Syariah Tingginya pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh semakin

Tingginya pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh semakin kompetitifnya imbal bagi hasil yang ditawarkan bank syariah, meskipun secara umum sepanjang tahun 2010 suku bunga Deposito Bank Konvensional cenderung meningkat namun dengan peningkatan kinerja pembiayaannya, Bank Syariah dapat memberikan imbal bagi hasil yang tinggi (lihat Grafik

2.3).

Grafik 2.3. Perbandingan Rata-rata Bunga Deposito Bank Konvensional dan

Equivalen Return Deposito iB Bank Syariah

Konvensional dan Equivalen Return Deposito iB Bank Syariah Imbal bagi hasil bank syariah yang menarik terutama

Imbal bagi hasil bank syariah yang menarik terutama pada produk Deposito iB membuat produk tersebut lebih diminati masyarakat dibandingkan alternatif penempatan dana lainnya yaitu Tabungan Wadiah iB. Per September 2010 porsi dana masyarakat yang ditempatkan dalam Deposito iB mencapai 57,76%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2009, yang porsinya mencapai 55,77% namun porsi Tabungan Wadiah iB dan Giro Wadiah iB sedikit menurun dari 32,12% menjadi 30,59% untuk Tabungan Wadiah iB dan 12,10% menjadi 11,65% untuk Giro Wadiah iB. (lihat Grafik 2.4.)

Grafik 2.4. Proporsi Portofolio Perbankan Syariah

dan 12,10% menjadi 11,65% untuk Giro Wadiah iB. (lihat Grafik 2.4. ) Grafik 2.4. Proporsi Portofolio

Grafik.2.5 memperlihatkan bahwa produk simpanan berjangka lebih diminati masyarakat dibandingkan produk lainnya dengan komposisi lebih besar pada Deposito 1 bulan. Pada triwulan III 2010 ini juga terlihat adanya perubahan preferensi masyarakat terhadap deposito berjangka 12 bulan yang semula 8,38% menurun menjadi 4,93%. Dengan komposisi dana yang cenderung lebih besar pada dana jangka pendek menyebabkan bank syariah mengalihkan sebagian portofolionya pada instrument yang lebih likuid. Strategi penempatan pada berbagai instrumen likuid dimaksud bukan tanpa risiko, sebab dengan return yang relatif lebih rendah dibandingkan return PYD, dalam jangka menengah daya saing return bank syariah akan menurun sehingga potensi nasabah DPK mancairkan investasinya akan meningkat.

Grafik 2.5. Proporsi DPK Perbankan Syariah

akan meningkat. Grafik 2.5. Proporsi DPK Perbankan Syariah Walaupun dari sisi komposisi dana, deposito masih memiliki

Walaupun dari sisi komposisi dana, deposito masih memiliki porsi yang lebih besar bila dibandingkan jenis DPK lainnya, namun terlihat terjadi pegeseran komposisi dimana untuk produk deposito dan giro wadiah proporsinya sedikit menurun pada triwulan III 2010 dan tabungan wadiah meningkat menjadi 3,08% dibandingkan tahun 2009 yang sebesar 1,67%. Peningkatan jumlah tabungan wadiah ini didorong dengan munculnya para pemain baru di perbankan syariah dan munculnya produk tabunganku yang dapat menjangkau masyarakat bawah sehingga produk tabungan semakin diminati. Meskipun terdapat kecenderungan pergeseran preferensi ke arah tabungan wadiah namun secara keseluruhan tidak berpengaruh signifikan terhadap komposisi dana, karena secara nominal jumlahnya relative kecil yaitu Rp.2,66 trilyun dibandingkan jumlah DPK yang sebesar Rp.63 trilyun.

Bila dilihat dari golongan nasabah, umumnya jumlah rekening individu maupun korporasi trendnya cenderung meningkat walaupun terdapat lonjakan yang cukup signifikan untuk rekening individu pada pertengahan tahun 2010 namun kembali menurun. Secara

keseluruhan, selama 2010 rekening DPK perbankan syariah bertambah 1,2 juta rekening sehingga totalnya mencapai 5,76 juta rekening. (lihat Grafik 2.6)

Grafik 2.6. Perkembangan Rekening DPK Per Golongan Nasabah

) Grafik 2.6. Perkembangan Rekening DPK Per Golongan Nasabah 2.4. PENYALURAN DANA Kegiatan penyaluran dana perbankan

2.4. PENYALURAN DANA

Kegiatan penyaluran dana perbankan syariah dalam bentuk pembiayaan meningkat

significant dengan laju pertumbuhan 34,85% (yoy) lebih tinggi dari periode yang sama di tahun 2009 sebesar 18,16% (yoy). Peningkatan pembiayaan ini mengindikasikan peningkatan kinerja sektor riil mengingat bahwa PYD perbankan syariah sebagian besar disalurkan ke sektor riil. Membaiknya kinerja sektor riil terutama didukung oleh semakin kondusifnya perekonomian nasional pasca krisis, menguatnya kinerja ekspor dan dukungan pemerintah dalam pengembangan sektor tersebut. Peningkatan kinerja tersebut juga tercermin pada menurunnya pembiayaan bermasalah sebagaimana ditunjukkan pada Grafik 2.7 .

Grafik 2.7. Perkembangan Non Performing Financing

Grafik 2.7. Perkembangan Non Performing Financing Penurunan pembiayaan bermasalah ini tercermin pada rasio non performing

Penurunan pembiayaan bermasalah ini tercermin pada rasio non performing financing (NPF) yang menurun menjadi sebesar 4,10%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa bank syariah semakin berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaannya dan kemampuan pengelolaan risiko perbankan syariah semakin membaik.

Bila dilihat dari ekuivalen rate PYD perbankan syariah terhadap rate kredit perbankan, terlihat bahwa perbankan syariah kurang sensitive dalam merespon penurunan suku bunga bank konvensional, hal ini perlu dicermati mengingat dapat berdampak pada pengalihan nasabah pembiayaan ke bank konvensional.

Grafik 2.8. Ekuivalen Rate PYD Perbankan Syariah dan Rate Kredit Perbankan

nasabah pembiayaan ke bank konvensional. Grafik 2.8. Ekuivalen Rate PYD Perbankan Syariah dan Rate Kredit Perbankan

2.5. PROFITABILITAS DAN PERMODALAN

Pertumbuhan pembiayaan yang meningkat dan membaiknya kinerja pembiayaan bank syariah mampu meningkatkan profitabilitas perbankan syariah sebagaimana tercermin pada ROA yang meningkat dari 1,40% per September 2009 menjadi 2,01% per September 2010. Membaiknya kinerja pembiayaan sebagaimana tercermin dari penurunan NPF, menurunkan beban biaya bank syariah yang dicadangkan untuk biaya penyisihan penghapusan aktiva produktif tercermin dari menurunnya biaya operasional hingga mencapai 19,25%, kondisi ini mampu menurunkan rasio BOPO menjadi 79,17% pada September 2010 yang sebelumnya pada periode yang sama sebesar 83,91%.

Grafik 2.9. Perkembangan Profitabilitas Perbankan Syariah

Grafik 2.9. Perkembangan Profitabilitas Perbankan Syariah Dari sisi pendapatan, upaya bank syariah menjaga

Dari sisi pendapatan, upaya bank syariah menjaga profitabilitas terlihat dari adanya peningkatan pendapatan operasional yang cukup tinggi dari Rp.5,65 triliun pada September 2009 menjadi Rp.6,9 triliun per September 2010 atau tumbuh sebesar 22,09%(yoy). Pendapatan dari penyaluran dana, khususnya dalam bentuk piutang murabahah tetap menjadi sumber utama, namun upaya diversifikasi pendapatan juga tampak intensif dilakukan tercermin dari fee based income yang tumbuh sebesar 18,4% (yoy).

Walaupun rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional saat ini menurun hingga 79,17% seperti yang ditunjukkan oleh grafik 2.10., namun seiring dengan munculnya para pemain baru perbankan syariah yang sedang giat melakukan ekspansi, perbankan syariah tetap perlu mengimbangi pertumbuhan biaya dengan pertumbuhan pendapatan secara umum untuk menjaga efisiensi operasional bank syariah. Hal ini perlu dicermati karena bila ekspansi tidak dibarengi dengan prinsip kehati-hatian terutama dalam penyaluran pembiayaan maka efek yang akan timbul dikemudian hari adalah adanya

peningkatan aset bermasalah yang dapat mengakibatkan penurunan kecukupan permodalan, walaupun sampai saat ini rata-rata kecukupan modal bank umum syariah masih memadai pada posisi 14,58%.

Grafik 2.10. Rasio BoPo dan Pertumbuhan Net Margin

14,58%. Grafik 2.10. Rasio BoPo dan Pertumbuhan Net Margin 2.6. PEMBIAYAAN UMKM DAN BPRS Usaha Mikro

2.6. PEMBIAYAAN UMKM DAN BPRS

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai sektor yang lekat dengan perbankan syariah tetap menjadi prioritas penyaluran dana perbankan syariah, hal ini tercermin pada alokasi pembiayaan baik modal kerja maupun investasi ke sektor tersebut yang mencapai Rp.47,17 triliun dengan porsi 77,37% dari total PYD bank umum dan unit usaha syariah. Dominasi pembiayaan kepada sektor UMKM ini tidak mengherankan mengingat nature bank syariah yang dekat ke UMKM dan potensi pasar sektor tersebut terbesar dan tersebar diseluruh pelosok tanah air.

Grafik 2.11. Pembiayaan UMKM oleh Perbankan Syariah

Grafik 2.11. Pembiayaan UMKM oleh Perbankan Syariah Sejalan dengan pertumbuhan PYD yang meningkat, laju pertumbuhan

Sejalan dengan pertumbuhan PYD yang meningkat, laju pertumbuhan pembiayaan (modal kerja dan investasi) sektor UMKM juga meningkat pesat dari 19,86% (yoy) pada September 2009 menjadi 44,81% per September 2010. Peningkatan laju pertumbuhan pembiayaan sektor UMKM sejalan dengan program pemerintah yang semakin memberikan kemudahan pada sektor UMKM untuk semakin berkembang.

Penyaluran pembiayaan kepada nasabah UMKM dapat dilakukan secara langsung maupun dengan cara bermitra (linkage program) dengan lembaga keuangan lain seperti BPRS dan koperasi. Linkage program ini bisa dilakukan melalui skema channeling, executing, atau joint financing. Disamping itu bank syariah juga menjadi agen pemerintah untuk kredit program bagi nasabah UMKM seperti Kredit Usaha Kecil (KUK), Kredit Usaha Tani (KUT), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dengan demikian diharapkan potensi nasabah UMKM dapat tergarap merata.

Selain itu, dukungan BPRS dalam menyalurkan pembiayaan UMKM semakin kuat seiring dengan peningkatan jumlah BPRS yang beroperasi di sebagian wilayah nusantara. Per September 2010 jumlah BPRS telah mencapai 146 BPRS, dimana 8 BPRS diantaranya baru beroperasi tahun ini yaitu BPRS Gunung Slamet, BPRS Amanah Insan Cita, BPRS Artha Pamenang, BPRS Mitra Harmoni Yogyakarta, BPRS Rahmania Dana Sejahtera, BPRS Rahma Syariah, BPRS Mitra Harmoni Kota Semarang, BPRS AR Raihan. Total pembiayaan yang disalurkan BPRS bertumbuh 24,76% dengan nilai nominal sebesar Rp.1,98 trilyun dimana 56% diantaranya merupakan pembiayaan kepada UMKM.

Sedangkan perkembangan lain yang cukup menggembirakan adalah meningkatnya volume usaha BPRS sebesar 18,84% sehingga total assetnya per September 2010 mencapai Rp.2,52 trilyun dengan intermediasi yang berfungsi baik tercermin dari rasio Financing to Deposit (FDR) sampai dengan September 2010 telah mencapai 135,82%. Selain itu kualitas pembiayaan BPRS pada periode yang sama cenderung membaik dimana rasio NPF net sebesar 6,12%, atau lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama tahun 2009 sebesar 6,65%.

Tabel 2.2. Profil Keuangan BPRS

Keterangan

2006

2007

2008

2009

I-2010

II-2010

III-2010

Jumlah Kantor

105

114

131

138

143

146

146

Total Aset

906.325

1.207.198

1.693.363

2.122.187

2.203.483

2.373.598

2.480.444

Total Pembiayaan

636.287

879.744

1.256.610

1.586.919

1.690.571

1.873.570

1.964.560

Total DPK

529.821

717.858

975.815

1.250.353

1.309.987

1.385.733

1.421.802

FDR

120,02%

123,69%

128,78%

126,92%

129,05%

135,20%

138,17%

NPF (Gross)

8,29%

7,99%

8,38%

7,06%

7,37%

6,92%

7,34%

NPF (Netto)

7,09%

6,62%

6,19%

5,64%

5,98%

5,63%

5,90%

BAB 3 PROSPEK DAN ARAH KEBIJAKAN

Volume usaha perbankan syariah pada tahun 2010 menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang meningkat. Peningkatan volume usaha dan kinerja perbankan syariah didorong oleh beberapa faktor seperti: pengaturan perpajakan yang lebih kondusif (UU No.42 tahun 2009 tentang PPN), peningkatan credit rating Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi di tingkat global, pendirian bank-bank syariah baru, serta semakin gencarnya program edukasi dan diseminasi perbankan syariah oleh Bank Indonesia, perbankan syariah, maupun pihak-pihak terkait lainnya. Meskipun tahun 2011 kondisi perekonomian global menunjukkan kecenderungan melemah, perekonomian nasional diperkirakan masih akan mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspektasi pertumbuhan ini khususnya didukung oleh akselerasi permintaan domestik dan tingginya kinerja perdagangan luar negeri (ekspor). Peningkatan konsumsi rumah tangga diperkirakan akan terjadi secara merata di berbagai wilayah di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi domestik tersebut akan juga diperkuat oleh pertumbuhan investasi yang diperkirakan juga mengalami percepatan. Perkiraan mengenai percepatan investasi didasarkan pada peningkatan peningkatan rating Indonesia di tingkat global sebagai salah satu negara tujuan utama untuk penanaman modal.

3.1. PROSPEK KONDISI MAKROEKONOMI

Secara umum ekonomi dunia mengalami ekspansi pada tahun 2010, setelah mengalami kontraksi berturut-turut akibat krisis keuangan global pada tahun 2008 dan 2009. Tahun 2010 menjadi tahun pemulihan ekonomi di seluruh kawasan dari krisis yang mulai merebak sejak semester kedua tahun 2008. Pemulihan ini salah satunya didorong oleh kinerja ekonomi negara-negara emerging market di kawasan Asia. Indikasi ekspansi ekonomi terlihat pada angka pertumbuhan negara-negara maju yang telah mencapai angka positif. Namun demikian, tingkat pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2011 diperkirakan akan mengalami perlambatan. Hal tersebut didasarkan pada kondisi tingkat pengangguran di Amerika Serikat yang tinggi dan kondisi keuangan negara-negara Eropa yang masih tertekan Beberapa negara Eropa telah mengalami posisi utang luar negeri yang lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya. Dengan kuatnya sentimen yang muncul, perlambatan pertumbuhan ini

akan menyebar ke seluruh kawasan dunia. Proyeksi yang dilakukan IMF dalam World Economic Outlook pada Oktober 2010 dan Consensus Economics Inc. pada survei Oktober 2010 memperkirakan perekonomian dunia tahun depan akan mengalami perlambatan pertumbuhan di seluruh kawasan (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 Proyeksi PDB Dunia

 

2009

Proyeksi 2010

Proyeksi 2011

 

Consensus 1)

WEO 2)

Consensus 1)

WEO 2)

PDB Dunia

-1.8

3.7

4.8

3.1

4.2

Negara Maju

Amerika Serikat

-2.6

2.7

2.6

2.4

2.3

Kawasan Eropa

-4.0

1.6

1.7

1.4

1.5

Jepang

-5.2

3.0

2.8

1.2

1.5

Negara Berkembang

Eropa Timur

-5.2

4.0

3.7

3.9

3.1

Asia Tenggara

1.4

7.7

0.7

5.4

4.0

Asia Pacific

1.9

6.4

-

5.1

-

China

9.1

9.9

10.5

9.0

9.6

India

7.4

8.3

9.7

8.4

8.4

Indonesia

4.5

6.0

6.0

6.2

6.2

Amerika Latin

-1.7

5.4

5.7

4.0

4.0

1) October Survey, Consensus Economics Inc. 2010 2) World Economic Outlook October 2010, IMF

Indonesia sebagai salah satu negara emerging market di kawasan Asia, menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi pada tahun 2010. Seperti yang telah diperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif digerakkan oleh sektor-sektor ekonomi berbasis domestik, misalnya sektor pertambangan, perdagangan, konstruksi dan pertanian. Selanjutnya pada tahun 2011, kondisi yang kondusif dari perekonomian domestik ini diharapkan tetap terjaga. Di samping itu, dengan bergesernya secara perlahan negara tujuan ekspor indonesia dari negara kawasan Eropa dan Amerika Serikat ke negara-negara Asia, diharapkan pada tahun 2011 kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih terjaga untuk berkontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Dengan begitu, pelemahan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat tidak berimbas pada pelemahan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.

Dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang cukup terjaga, kinerja ekonomi nasional secara umum tahun 2011 diperkirakan masih akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut terutama didukung oleh pertumbuhan konsumsi swasta yang masih kuat dan kinerja ekspor. Kinerja konsumsi swasta yang masih kuat ini didukung oleh tingkat keyakinan konsumen yang tinggi akibat tingkat inflasi dan suku bunga yang kondusif yang diperkirakan tidak berubah jauh dari tahun 2010. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2011 dapat mencapai kisaran 6,0 – 6,5%. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai dalam proses pemulihan ekonomi global, terutama yang terjadi di negara-negara kawasan Eropa sebagai negara mitra dagang Indonesia, seperti antara lain krisis utang luar negeri yang telah memurukkan ekonomi Yunani. Selain itu, masih buruknya kondisi pengangguran di Amerika Serikat , telah memberikan gambaran bahwa hantaman krisis keuangan global lalu ternyata lebih buruk dari yang diprediksikan. Dari sisi perkembangan harga, untuk tahun 2011, inflasi IHK diperkirakan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1% sejalan dengan mulai meningkatnya kegiatan ekonomi dalam negeri, meningkatnya imported inflation sehubungan dengan kenaikan harga komoditas di pasar global, serta adanya peningkatan ekspektasi inflasi. Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 yang meningkat dibandingkan tahun lalu, didukung oleh kecenderungan pada indikator-indikator makro ekonomi nasional, seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, ekspor dan impor. Konsumsi rumah tangga dan pemerintah pada tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh masing-masing mencapai 5.0-5.5% dan 2.3-2.8%. Khususnya konsumsi rumah tangga, diperkirakan akan menjadi motor penggerak bagi indikator makro yang lain. Dengan membaiknya lingkungan investasi dan kondisi bisnis, diperkirakan Investasi akan mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada tahun 2011 yaitu 11.7-12.2%, khususnya akibat investasi baru, mesin dan peralatan, baik dari penanaman modal asing (PMA) maupun dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). Kenaikan investasi diperkirakan pula akibat tren suku bunga kredit investasi yang menurun dan sentimen positif dari lembaga internasional. Hal ini dpengaruhi pula oleh persepsi terhadap risiko domestik dan ekspektasi akan tercapainya peringkat investment grade yang semakin kuat bagi Indonesia. Sementara itu, ekspor diperkirakan masih tumbuh 7.3-7.8% yang dipengaruhi oleh kenaikan harga ekspor pertambangan dan perbaikan indeks produksi di beberapa negara tujuan ekspor utama, seperti China dan India. Sedangkan impor diperkirakan akan mengalami

pertumbuhan 8.8-9.3% yang dipengaruhi oleh tingginya konsumsi rumah tangga dan kebutuhan investasi terhadap barang modal. Untuk memanfaatkan kecenderungan yang masih positif pada tahun 2011, pemerintah diharapkan dapat kebijakan sektor riil yang mendukung seperti kebijakan fiskal yang kondusif dan perbaikan infrastruktur publik serta kondisi birokrasi yang semakin efisien. Terkait dengan upaya pengembangan industri perbankan syariah, atmosfer bisnis kondusif yang kondusif yang didukung oleh operasionalisasi UU Perbankan Syariah dan UU Perpajakan, berbagai kebijakan operasional yang diarahkan oleh otoritas pengawasan, pemerintah dan pelaku bisnis diharapkan akan dapat ditentukan, seperti penetapan standar pengaturan yang lebih longgar namun tetap berhati-hati, kebijakan insentif pajak, dan peningkatan efisiensi operasional pelaku pasar. Kondisi kondusif itu diharapkan semakin mengundang investor baru untuk masuk industri perbankan syariah nasional serta semakin banyaknya masyarakat baik masyarakat umum maupun komunitas usaha memilih perbankan syariah untuk mendapatkan jasa pelayanan perbankan.

3.2.

DAMPAK

MAKROEKONOMI

TERHADAP

PERBANKAN

SYARIAH

DAN

PROYEKSI 2011

 

3.2.1

Dampak Makro dan Proyeksi 2011 Berdasarkan Perkembangan Organik

Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan tidak akan mempengaruhi kinerja ekonomi nasional yang tengah mengalami kecenderungan meningkat. Seperti telah disampaikan pada sub-topik sebelumnya, proyeksi kinerja makroekonomi akan dapat terjaga dengan cukup baik. Hal ini diharapkan akan memberikan pengaruh yang positif pada kinerja industry perbankan nasional, dimana proyeksi kinerja perbankan 2011; asset, kredit dan dana pihak ketiga, akan lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja tahun lalu. Optimisme Kecenderungan positif yang diproyeksikan pada perekonomian nasional dan industry perbankan nasional diperkirakan juga akan terjadi pada industry perbankan syariah. Industri perbankan syariah diharapkan akan dapat mempetahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi pada tahun 2011. Kaitan yang yang erat antara kondisi perekonomian dan pertumbuhan industri perbankan syariah dalam bentuk pertumbuhan pembuayaan, ditunjukkan pada Grafik. 3.1. Dengan demikian, perkembangan industri perbankan syariah nasional secara organik (existing industry) akan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian makro

Indonesia dan dinamika lingkungan sektor perbankan. Beberapa faktor yang diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan industri perbankan syariah nasional, diantaranya adalah: (i) berdirinya BUS baru baik yang muncul dari pelaku pasar (investor) baru maupun konversi UUS menjadi BUS, sebagai akibat dari sentimen positif akibat pengaruh UU Perpajakan dan UU Perbankan Syariah; (ii) ekspektasi akan tercapainya peringkat investment grade yang semakin kuat bagi Indonesia; (iii) kuatnya sektor konsumsi domestik, kinerja investasi dan kemampuan ekspor yang mampu mendukung kinerja sektor riil nasional, sehingga menyebabkan kinerja ekonomi Indonesia mampu tumbuh positif dengan angka pertumbuhan yang relatif tinggi di bandingkan negara kawasan; (iv) keberhasilan program promosi dan edukasi publik tentang perbankan syariah.

Grafik 3.1. Pertumbuhan Pembiayaan Bank Syariah

syariah. Grafik 3.1. Pertumbuhan Pembiayaan Bank Syariah Sementara itu, dari sisi mobilisasi dana masyarakat (DPK),

Sementara itu, dari sisi mobilisasi dana masyarakat (DPK), perkembangan di tahun 2010 memperlihatkan fluktuasi pertumbuhan DPK yang cukup bervariatif dengan tren meningkat pada saat suku bunga (SBI) tidak berubah. Hal ini mengindikasikan prilaku DPK yang tergambar pada fluktuasinya lebih dipengaruhi oleh faktor musiman seperti tahun ajaran baru, hari besar agama dan musiman bisnis lainnya, daripada pengaruh fluktuasi tingkat return pasar seperti suku bunga. Sedangkan tren yang relative meningkat diyakini merupakan akibat dari membaiknya kondisi perekonomian nasional secara umum. Selain itu secara khusus tren tersebut terjadi karena berhasilnya program kampanye dan promosi perbankan syariah serta

edukasi publik yang dilakukan, baik oleh Bank Indonesia sebagai regulator maupun praktisi perbankan. Secara nasional Bank Indonesia memperkirakan pada tahun 2011 DPK tumbuh 16-17%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya. Kecenderungan peningkatan pertumbuhan DPK diperkirakan akan dialami pula oleh industri perbankan syariah, mengingat tahun 2011 secara makro perekonomian nasional akan tumbuh lebih baik dan secara mikro jaringan kantor perbankan syariah akan signifikan meningkat sebagai implikasi dari munculnya bank syariah baru pada tahun 2009 dan 2010. Tingkat suku bunga yang relative tidak berubah dengan kondisi perekonomian yang membaik pada dasarnya akan menguntungkan posisi perbankan syariah dalam hal daya saing produk pendanaannya. Karena pertumbuhan ekonomi yang membaik merefleksikan pula kinerja sektor riil nasional, dimana kinerja tersebut akan tergambar pula pada tingkat return (bagi hasil) produk pendanaan perbankan syariah yang semakin kompetitif. Jika nasabah pendanaan bank, khususnya nasabah mengambang (floating customers) yang utamanya korporasi, mengalihkan dananya ke bank syariah yang menawarkan return yang lebih tinggi, maka diperkirakan kondisi ini dapat mendorong pertumbuhan DPK bank syariah. Namun hal ini sangat bergantung pada upaya pemerintah dalam memelihara tingkat inflasi (Grafik 3.2).

Gambar 3.2 Pertumbuhan DPK BS, PYD BS, suku bunga dan Inflasi

3.2 Pertumbuhan DPK BS, PYD BS, suku bunga dan Inflasi Seperti halnya sisi pendanaan (DPK), sisi

Seperti halnya sisi pendanaan (DPK), sisi pembiayaan perbankan syariah (PYD) diperkirakan akan pula mengalami peningkatan pertumbuhan yang tinggi. Seperti yang

telah pula dijelaskan pada sub-topik sebelumnya, kinerja perekonomian nasional yang membaik, khususnya di sektor konsumsi domestik dan investasi akan mendorong aktifitas pembiayaan perbankan syariah. Dengan geliat yang cukup menonjol pada konsumsi rumah tangga dan investasi, maka diperkirakan perbankan syariah masih focus pada pembiayaan di sektor retail (consumer), jasa dan perdagangan. Pada tahun 2011, secara nasional Bank Indonesia memprediksikan PYD tumbuh sebesar 24% atau lebih tinggi dari pertumbuhan tahun lalu dan juga lebih tinggi dari pertumbuhan DPK. Kecenderungan nasional ini diperkirakan terjadi pula di perbankan syariah nasional. Jika dilihat lebih spesifik pada perkembangan porsi portfolio pembiayaan bank syariah dan pertumbuhan PDB untuk masing-masing sektor ekonomi, data memperlihatkan bahwa portfolio pembiayaan bank syariah mengalami pertumbuhan porsi yang signifikan di sektor kelistrikan, retail dan manufaktur, sebaliknya pertumbuhan porsi portfolio di sektor jasa sosial, konstruksi dan pertambangan mengalami penurunan (Grafik 3.3a).

Grafik.3.3a.PDB Sektoral dan Pergeseran Portofolio

3.3a). Grafik.3.3a.PDB Sektoral dan Pergeseran Portofolio Keterangan: AGR : Agriculture MIN : Mining

Keterangan:

AGR

: Agriculture

MIN

: Mining

MAN

: Manufacturing

ELK

: Electricity, water and gases

CONS

: Construction

TRD

: Trading

TRNS

: Transportation and hotel

SVBIS

: Service

SVSOC

: Social service

Jika dilihat dari pertumbuhan PDB sektoral, seluruh sektor tersebut mengalami pertumbuhan yang positif, dimana sektor transportasi, perdagangan dan konstruksi mengalami pertumbuhan yang tertinggi. Sementara sektor pertanian dan pertambangan mengalami pertumbuhan yang terendah. Dari Grafik 3.3a tersebut terlihat bagaimana pola pertumbuhan pembiayaan perbankan, baik nasional maupun syariah relatif berbeda dengan pola pertumbuhan sektoral ekonomi nasional. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan sektoral yang dilakukan oleh Bank Indonesia 1 untuk tahun 2011, sektor transportasi dan perdagangan akan kembali mengalami pertumbuhan yang tertinggi diikuti oleh sektor konstruksi. Selanjutnya, dari sisi perbandingan komposisi portofolio pembiayaan antara industri perbankan secara nasional dan syariah, terlihat bahwa pembiayaan syariah, yang didominasi transaksi berbasis jual-beli, di mana risikonya relatif rendah, terutama disalurkan untuk sektor retail, jasa usaha dan perdagangan (Grafik 3.3b). Pola ini juga sebenarnya identik dengan komposisi portfolio kredit yang dimiliki oleh perbankan secara nasional. Untuk tahun 2011, diperkirakan perlambatan pertumbuhan perekonomian global akan mendorong alokasi pembiayaan tertumpu pada sektor usaha domestik. Kecenderungan ini sepatutnya dioptimalkan pula oleh perbankan syariah mengingat pada tahun 2010 pada dasarnya pola alokasi pembiayaannya masih sama dengan pola alokasi tahun lalu. Diharapkan agar perbankan syariah dapat lebih mengeksplorasi dan mendiversifikasikan pembiayaannya pada sektor yang memiliki prospek pertumbuhan baik yang selama ini masih rendah porsi penyaluran pembiayaan oleh perbankan syariah, seperti sektor usaha transportasi dan konstruksi.

1 Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Proyeksi PDB Sektoral, Oktober

2009

Grafik.3.3b. Perbandingan komposisi portofolio

Grafik.3.3b. Perbandingan komposisi portofolio Keterangan: AGR : Agriculture MIN : Mining MAN :

Keterangan:

AGR

: Agriculture

MIN

: Mining

MAN

: Manufacturing

ELK

: Electricity, water and gases

CONS : Construction

TRD

TRNS : Transportation and hotel SVBIS : Service

SVSOC

: Trading

: Social service

Pada aspek tingkat pembiayaan bermasalah pada setiap subsektor ekonomi, secara umum pembiayaan industri perbankan syariah menunjukkan kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan kualitas pembiayaan perbankan secara nasional di hampir semua subsektor ekonomi kecuali sektor jasa sosial (Grafik 3.3c). Tingkat pembiayaan bermasalah dalam industri perbankan syariah nasional tertinggi terletak pada sub-sektor transportasi, manufaktur dan konstruksi. Namun demikian kedepan selain upaya internal bank-bank syariah dalam menekan tingkat pembiayaan bermasalah, pertumbuhan PYD yang lebih tinggi dapat saja menekan tingkat pembiayaan bermasalah. Tetapi hal ini perlu dicermati dengan lebih detil dan berhati- hati, mengingat struktur industri perbankan syariah belum merata dari sisi besar aset, pembiayaan dan pendanaannya. Artinya jika ada satu bank syariah besar yang memiliki tingkat pembiayaan bermasalah, akan secara signifikan mempengaruhi tingkat pembiayaan bermasalah industri. Hal ini akan membuat data industri menjadi cenderung bias dan tidak menunjukkan kecenderungan umum perbankan syariah secara tepat.

Grafik.3.3c.Perbandingan NPF Persektor

Grafik.3.3c.Perbandingan NPF Persektor Keterangan: AGR : Agriculture MIN : Mining MAN : Manufacturing

Keterangan:

AGR

: Agriculture

MIN

: Mining

MAN

: Manufacturing

ELK

: Electricity, water and gases

CONS

: Construction

TRD

: Trading

TRNS

: Transportation and hotel

SVBIS

: Service

SVSOC

: Social service

Meskipun begitu, praktisi perbankan dan regulator perbankan syariah hendaknya memperhatikan permasalahan kelancaran pembiayaan ini mengingat perbankan syariah menghadapi intensitas permasalahan yang lebih tinggi di hampir semua sektor dibandingkan apa yang dihadapi industri perbankan secara nasional. Kecenderungan NPF yang meningkat selain menjadi masalah yang harus dituntaskan oleh manajemen perbankan syariah, khususnya akibat kelemahan dari aspek prudential banking yang dilaksanakan oleh SDM bank syariah, dapat juga dilihat sebagai sebuah konsekuensi dari proses pembelajaran untuk lebih mengenal lingkungan usahanya. Dengan kondisi ekonomi yang terjaga baik pada tahun 2011, diharapkan tingkat pembiayaan bermasalah akan mampu ditekan hingga tingkat yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

3.2.2 Dampak Makro dan Proyeksi 2011 Berdasarkan Pertumbuhan Kelembagaan Seperti yang telah diprediksikan pada tahun lalu, Tax neutrality yang ditetapkan dalam UU PPN yang baru, arah kebijakan pengembangan perbankan syariah yang

tertuang dalam UU Perbankan Syariah dan membaiknya country risk serta perekonomian makro secara perlahan mulai berpengaruh positif bagi industri perbankan syariah nasional. Ketiga faktor utama tadi mendorong tumbuhnya bank syariah baru berupa Bank Umum Syariah (BUS), baik yang berasal dari pendirian bank syariah baru maupun konversi Unit Usaha Syariah (UUS) yang sudah ada. Secara umum kondisi kondusif tadi telah berhasil menarik minat investor baru untuk masuk ke industri perbankan syariah. Pada tahun 2010 ini saja berdiri 5 BUS baru, sehingga total BUS kini menjadi 11 bank. Dari 5 BUS baru ini, 3 bank berasal daru pelaku atau investor baru sedangkan sisanya merupakan konversi dari UUS yang telah ada. Pendirian BUS baru ini memang tidak serta merta akan mendorong volume industry perbankan syariah secara signifikan. Bank-bank tersebut setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun untuk menyiapkan infrastruktur, operasional dan SDM untuk kemudian melakukan akselerasi usaha. Grafik 3.4 menunjukkan pertumbuhan asset BUS yang cukup signifikan, sementara asset UUS mengalami pertumbuhan negatif akibat beberapa UUS yang memiliki asset cukup besar melakukan spin-off menjadi BUS. Namun secara keseluruhan pertumbuhan asset perbankan syariah mengalami pertumbuhan positif yang relative tinggi.

Grafik 3.4 Pertumbuhan Aset Berdasarkan Jenis Kelembagaan Perbankan Syariah

pertumbuhan positif yang relative tinggi. Grafik 3.4 Pertumbuhan Aset Berdasarkan Jenis Kelembagaan Perbankan Syariah 51

Tetapi implikasi lain yang dapat saja terjadi adalah dengan masuknya pelaku baru diperkirakan akan pula mendorong bank-bank syariah yang lebih dulu ada untuk menambah kapasitas usahanya melalui penambahan modal seiring dengan upaya perluasan jaringan kantor dalam rangka menjaga posisi share industri mereka. Sehingga tahun 2011 diperkirakan pertumbuhan perbankan syariah akan tetap tinggi, minimal sama seperti pertumbuhan tahun 2010. Tetapi jika respon bank syariah agresif melakukan ekspansi usaha karena memanfaatkan momentum perekonomian nasional yang cukup kondusif, serta penyesuaian dan akselerasi cepat yang dilakukan oleh bank-bank syariah baru, maka sangat dimungkinkan pertumbuhan industri perbankan syariah nasional akan lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2010.

Implikasi lainnya adalah kecenderungan ekspansif tadi berupa peningkatan modal diharapkan dapat mendorong perbankan syariah untuk menjaga kecukupan CAR-nya mengingat perluasan jaringan kantor, yang diharapkan akan berkorelasi positif pada peningkatan DPK, akan membutuhkan tingkat permodalan yang memadai (Grafik 3.5). karena memang peningkatan modal bank syariah mencerminkan pula batas ekspansif yang dapat dilakukan bank syariah. Jika dilihat data CAR yang meningkat, maka hal itu merefleksikan kemampuan ekspansi bank syariah yang juga meningkat. Penambahan modal dan jaringan kantor tentu diharapkan pada akhirnya mampu meningkatkan volume industri perbankan syariah nasional pada tingkat yang signifikan. Perlu diakui bahwa proyeksi peningkatan volume industri perbankan syariah sangat tergantung pada asumsi-asumsi yang digunakan mengingat banyaknya faktor- faktor penentu yang terlibat. Namun demikian, secara umum pertumbuhan industri perbankan syariah pada tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan masih akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan perbankan nasional.

Gambar 3.5 Permodalan dan CAR Perbankan Syariah

yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan perbankan nasional. Gambar 3.5 Permodalan dan CAR Perbankan Syariah 52

3.3. ARAH KEBIJAKAN

3.3.1. Peningkatan kualitas Human Capital bagi industri perbankan syariah

Dalam perspektif manajemen modern, sumber daya manusia atau human capital menjadi elemen terpenting dan penentu dalam mencapai visi dan keunggulan bersaing organisasi. Human capital yang diasosiasikan dengan ilmu, pengetahuan dan skill yang terkandung dalam sumberdaya insani, bila dianggap sebagai elemen produksi, memiliki keunikan, dimana hukum the law of decreasing marginal returns yang berlaku pada faktor produksi lain tidak berlaku pada faktor human capital. Semakin banyak ilmu pengetahuan digunakan dalam suatu sistem produksi, semakin banyak pula ilmu pengetahuan baru yang dihasilkan. Sumber daya ilmu pengetahuan adalah sumberdaya yang tak pernah tergerus habis, bahkan semakin bertambah/membesar bila dipakai. Jadi pengembangan potensi human capital merupakan strategi penting karena dengan itu pertumbuhan dan pencapaian yang dapat dihasilkan oleh suatu sistem atau organisasi dapat didorong pesat, bahkan hingga menjadi tidak terbatas.

Kesadaran mengenai pentingnya pengembangan human capital guna mencapai visi perbankan syariah nasional sudah tercantum dalam Cetak Biru Perbankan Syariah Nasional 2010-2015. Pada Cetak Biru tersebut, pengembangan human capital merupakan salah satu pilar penting dari tujuh pilar startegis pengembangan perbankan syariah nasional. Di samping itu, bertumbuh pesatnya industri perbankan syariah yang dari sisi jumlah bank dan jaringan kantor maupun meningkatnya volume usaha dan ragam produk perbankan syariah menuntut tersedianya sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang semakin meningkat. Grafik 3.6 mengilustrasikan jumlah kumulatif satu industri perbankan syariah yang telah menduduki posisi 8 besar dibandingkan dengan aset individual 11 bank terbesar. Dengan tingkat pertumbuhan yang dapat dipertahankan tinggi, industri perbankan syariah diharapkan akan segera mencapai posisi 5 besar.

Grafik 3.6 Aset 10 Bank Terbesar

Grafik 3.6 Aset 10 Bank Terbesar Jumlah bank umum syariah dalam satu tahun terakhir meningkat dari

Jumlah bank umum syariah dalam satu tahun terakhir meningkat dari 5 bank menjadi 10 bank, dan kantor bank syariah dalam 5 tahun terkahir meningkat rata-rata 24,5% pertahun. Secara kuantitas tentu saja bank membutuhkan sumberdaya insani untuk memenuhi kebutuhan diberbagai posisi dan jabatan. Dari sisi mutu dan kompetensi SDI, kebutuhannya tentu saja sejalan dengan semakin meningkatnya kompleksitas dan persaingan usaha. Peningkatan kompleksitas dan persaiangan usaha ini menuntut semakin tingginya kualifikasi dan keahlian pada bidang-bidang yang masuk dalam startegic jobs dalam perbankan syariah seperti pada fungsi-fungsi manajemen risiko, treasury, pengembangan produk, marketing, IT dan operational banking lainnya.

Fenomena terjadinya kekurangan sumberdaya manusia telah dirasakan sebagai faktor yang critical dalam pertumbuhan industri perbankan syariah nasional beberapa waktu belakangan ini khususnya akibat bertumbuhnya bank-bank baru. Hal ini antara lain tercermin dari kekurangan supply pemimpin cabang bank, calon direksi BPRS, dan sejumlah strategic job positions di perbankan syariah nasional yang fit dan proper untuk memenuhi kualifikasi jabatan-jabatan penting di bank. Perencanaan strategis dibidang pengembangan sumberdaya insani perbankan syraiah nasional juga menjadi lebih penting bila dikaitkan dengan kenyataan bahwa dalam jangka pendek kedepan terlaksananya kesepakatan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015 akan berpengaruh pada eksistensi dan berbagai aspek daya saing industri perbankan syariah nasional. AEC yang mempromosikan terlaksananya pasar bebas (free flow) barang, jasa, modal, investasi, dan tenaga kerja terdidik sudah tentu akan menimbulkan

pengaruh berupa tantangan, namun juga membuka peluang bagi industri perbankan syariah nasional. Sebagai salah satu upaya awal mempersiapkan dan industri perbankan syariah Indonesia menghadapi AEC 2015, pada tahun 2009 lalu DPbS Bank Indonesia telah melakukan kajian untuk memetakan daya saing perbankan syariah Indonesia di kawasan ASEAN dengan memperbandingkan daya saing industri serupa di negara yang memiliki industri keuangan syariah signifikan di kawasan ini, yaitu Malaysia, Singapura dan Brunei.

Sejalan dengan berbagai argumentasi di atas serta memperhatikan realitas sumber daya insani industri perbankan syariah Indonesia saat ini, maka pada tahun 2010 Bank Indonesia menyusun rencana strategis pengembangan human capital (Human Capital Strategic Plan – HCSP) industri perbankan syariah nasional yang merupakan derivasi atau penjabaran rinci yang bersifat sektoral dari cetak biru pengembangan perbankan syariah nasional.

Tujuan HCSP Perbankan Syariah

Human Capital Strategic Plan (HCSP) Perbankan Syariah Indonesia disusun untuk menjelaskan visi dan misi pengembangan human capital perbankan syariah nasional, serta mengidentifikasi isu-isu strategis dibidang human capital, penetapan inisiatif-inisiatif strategis yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan sasaran pengembangan berdasarkan kondisi. Secara khusus HCPS Perbankan Syariah Nasional diharapkan dapat diposisikan sebagai:

(1)

Acuan dalam perencanaan kebijakan dan strategis dibidang human capital bagi pelaku industri perbankan syariah, lembaga pendidikan dan pelatihan terkait perbankan syariah serta stakeholders lainnya agar dapat secara sinergis mendorong terwujudnya tujuan pengembangan human capital perbankan syariah Indonesia.

(2)

Pedoman bagi Bank Indonesia melaksanakan fungsinya dalam: (a) Menetapkan peraturan bagi industri perbankan syariah khususnya yang terkait dengan pengaturan dan pengembangan human capital industri perbankan syariah, (b) melaksanakan fungsi koordinasi dengan pihak terkait dan melakukan fungsi fasilitasi dalam pengembangan institusi terkait (institutional building), dan pengembangan kapasitas human capital (capacity building) terkait dengan perbankan syariah, maupun lembaga yang memiliki peran penting dalam pengembangan perbankan syariah nasional;

Inisiatif Pengembangan Human Capital Perbankan Syariah 2011

Sejalan dengan tujuannya maka HCSP Perbankan Syariah ini maka didalam HCSP Perbankan syariah ditetapkan arah pengembangan humas capital perbankan syariah nasional secara umum adalah “mengembangkan dan mengelola human capital secara inovatif sehingga dapat mendukung tercapainya sasaran dan strategi perbankan syariah nasional melalui peningkatan produktivitas sumber daya insani, keberagaman, efektifitas kepemimpinan, dan pengembangan individu”. Kedepan, dalam upaya mencapai tujuan pokok pengembangan human capital perbankan syariah yaitu tersedianya sumberdaya insani dalam jumlah dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan menjadi faktor kekuatan pada daya industri perbankan syariah akan dilaksanakan sejumlah inisiatif yang meliputi:

1. Competency model – mengembangkan model kompetensi bagi strategic job positions pada industri perbankan syariah, yang selanjutnya diikuti dengan inventarisasi level of readiness sumberdaya insani industri sehingga dapat menjadi dasar dalam menyusun prioritas program pengembangan baik oleh bank/pelaku industri, lembaga pendidikan dan pelatihan serta bentuk-bentuk asistensi Bank Indonesia dalam rangka turut mengembangan kualitas SDI perbankan syariah dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Pengembangan program-program pembelajaran diharapkan pula mengadopsi berbagai kemajuan teknologi informasi agar pelaksanaannya dapat lebih efisien dan efektif.

2. Program link and match – menyusun program koordinasi dan fasilitasi dalam upaya mendorong agar lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan terkait keuangan dan perbankan syariah dapat berkembang secara baik, dimana program link and match dan sinergi antara pelaku industri dengan lembaga diklat bisa dikembangkan secara lebih intensif misalnya mewujudkan pool of talent tenaga pengajar dan instruktur yang relatif sangat terbatas. Dalam hal ini upaya-upaya yang mengarah pada pengembangan kelembagaan (institutional building) akan dikoordinasikan dengan otoritas, asosiasi dan pihak terkait yang memiliki concern dibidang diklat perbankan dan keuangan syariah.

3. Regulasi - menyusun regulasi yang dapat secara efektif mendorong bank untuk melakukan investasi yang cukup bagi pengembangan human capital dengan tetap memperhatikan aspek efisiensi operasional bank, termasuk dalam hal ini penjajagan mengenai perlunya berbagai sertifikasi pada jabatan-jabatan strategis

dalam perbankan syariah, mengembangkan berbagai regulatory incentives (misalnya usulan untuk penetapan biaya pengembangan SDI perbankan syariah dapat ditetapkan sebagai komponen double tax deductable cost), dan mengembangkan kompetisi program peningkatan SDI bank melalui pemberian award dan sebagainya.

4. Capacity building – melaksanakan program-program yang dapat meningkatkan capacity building khususnya pada level menengah hingga top management yang memberi pengaruh besar dalam business leaderhsip perbankan syariah nasional, serta untuk training/workshop/seminar bidang-bidang keahlian khusus yang dapat memberikan impact signifikan dalam meningkatkan efisiensi operasi dan kualitas layanan perbankan syariah.

Selain program inisiatif yang secara langsung terkait dengan peningkatan human capital dari industri, bentuk kerjasama dengan institusi pendidikan dapat juga dilakukan melalui pelatihan ekonomi/keuangan/perbankan syariah bagi para dosen, rekomendasi kurikulum dan penyediaan literatur seperti buku teks ekonomi/keuangan/perbankan syariah. Dalam rangka meningkatkan awareness kalangan akademisi, Bank Indonesia akan terus aktif mengajak dan mendorong lembaga pendidikan dan penelitian untuk terlibat dalam upaya-upaya eksplorasi pengetahuan dan kemampuan keuangan atau perbankan syariah.

3.3.2. Peningkatan Kualitas Sistem Pengawasan Pertumbuhan industri yang tinggi harus diikuti oleh kualitas sistem pengawasan yang semakin baik. Sesuai dengan arah pengembangan secara umum, sistem pengawasan perbankan syariah akan diarahkan agar memenuhi standar pengawasan secara internasional dalam bentuk regulasi yang semakin compatible dengan standar

internasional dan efektif serta didukung oleh mekanisme dan infrastruktur pengawasan yang semakin lengkap dan efisien. Beberapa program inisiatif yang akan dilaksanakan mencakup:

1. Regulatory convergence – secara konsisten terus menyesuaikan ketentuan- ketentuan pelaksanaan terhadap standar internasional seperti IFSB, AAOIFI serta Basle. Proses konvergensi secara aktif dilakukan juga dengan cara ikut secara aktif dalam working group penyusunan standar ketentuan secara internasional.

2. Integrated supervisory platform – melanjutkan penyusunan program pengawasan secara terintegrasi yang menggabungkan fungsi-fungsi early warning, risk profile

dengan paket analisis lain guna melengkapi proses penilaian operational soundness bank syariah secara lebih efisien dan timely. Untuk mencapai hal tersebut, Bank Indonesia akan mengaktifkan keberadaan working group yang beranggotakan pengawas, pelaku perbankan dan beberapa pakar pengawasan untuk menyusun strategi implementasinya.

3.3.3. Penguatan infrastruktur industri

Penguatan infrastruktur industri pada tahun 2011 difokuskan pada pengembangan pasar keuangan syariah melalui upaya pengayaan produk yang diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan likuiditas oleh perbankan syariah. Upaya ini juga akan dilakukan melalui penggunaan forum komunikasi antara pelaku perbankan dengan otoritas pengawasan dan moneter secara lebih intensif dan reguler. Pengembangan instrumen secara lebih progresif pada prakteknya akan juga melibatkan Dewan Syariah Nasional yang berkepentingan untuk menerbitkan fatwa memastikan kepatuhan pada prinsip syariah tetap terjaga.

3.3.4. Penguatan modal dan struktur industri

Perkembangan industri perbankan syariah yang cepat harus secara konsisten diikuti oleh perkembangan modal yang memadai. Upaya penguatan modal tersebut dapat dilakukan melalui dividend policy yang pro pertumbuhan dan mendorong investor untuk lebih memperkuat permodalan bank syariah. Penguatan modal dapat juga dilakukan melalui himbauan kepada holding yang memiliki bank syariah untuk membuat komitmen penguatan modal bank syariah yang dimilikinya. Selain itu, sejalan dengan rencana pengembangan struktur institusi bank syariah yang seluruhnya merupakan full fledge, upaya-upaya persiapan ke arah penguatan kualitas operasi secara mandiri terus didorong melalui proses komitmen dengan manajemen bank induknya. Dalam hal sinergi antara pelaku perbankan syariah dan konvensional, telah terlihat berbagai aktivitas operasional dan promosi di antara UUS dengan BUK pusatnya, maupun antara BUS dengan BUK induknya (parent company) yang mencerminkan penerapan one bank concept atau one firm concept di internal bank- bank dimaksud. Dalam konsep tersebut, UUS ataupun BUS diposisikan sebagai business unit atau product owner dari bank pusat/bank induknya. Kecenderungan ini merupakan respon kebijakan dari grup/korporat untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar, dengan memanfaatkan momentum trend meningkatnya minat masyarakat

terhadap produk bank syariah. Dari perspektif pengembangan pasar, fenomena coopetation ini (cooperation-competition) dinilai telah semakin meningkatkan kualitas layanan bank syariah kepada masyarakat. Penguatan modal bank syariah oleh bank pusat/bank induknya, telah memperkuat kapasitas bank syariah untuk melayani masyarakat. Sementara itu, melalui office channeling masyarakat semakin mudah mengakses layanan perbankan syariah di kantor-kantor bank konvensional. Dapat dimanfaatkannya jaringan ATM dan fasilitas teknologi yang sama oleh bank syariah, telah memungkinkan bank syariah untuk memberikan tingkat pelayanan yang luas dan sama modern-nya.

Melihat dampak positif dari fenomena coopetation terhadap pengembangan pasar perbankan syariah, maka Bank Indonesia akan semakin mendorong sinergi tersebut melalui kebijakan-kebijakan serta insentif baik pada sisi perbankan syariah ataupun sisi perbankan konvensional. Salah satunya adalah kebijakan Bank Indonesia yang kini membuka kesempatan bagi bank-bank konvensional untuk dapat ikut menawarkan produk dan layanan syariah kepada masyarakat melalui jaringan kantornya (delivery channel) mulai awal 2011. Dengan kebijakan delivery channel ini, maka masyarakat akan semakin mudah mendapatkan produk iB perbankan syariah di seluruh jaringan kantor bank konvensional yang berada di dekatnya.

Program pengembangan pasar secara lebih tajam akan dilakukan bersama- sama dengan bank syariah untuk setiap segmen pelayanan yang lebih terfokus. Jenis segmen/kluster dimaksud akan dirumuskan bersama-sama dengan industri perbankan syariah sesuai dengan positioning masing-masing bank, misalnya segmen layanan internasional, layanan korporasi, layanan individu, micro finance, sektor retail dan lain- lain. Untuk setiap segmen/kluster tersebut industri perbankan syariah secara bersama- sama akan didorong untuk memilih segment champion, yang selanjutnya disepakati menjadi model pengembangan bagi bank syariah lain dalam kluster yang sama.

Secara umum, pengembangan jangka menengah dari industri perbankan syariah diarahkan kepada penguasaan pasar domestik dengan kualitas operasional berstandard internasional. Paradigma pengembangan yang berorientasi domestik ini dinilai sesuai dengan potensi pasar domestik yang sangat besar dan belum sepenuhnya dieksplorasi. Potensi tersebut pada saat yang sama merupakan modal utama bagi industri perbankan syariah Indonesia, untuk menjadi tujuan investasi paling menarik di kawasan Asia sejalan dengan meningkatnya credit rating Indonesia menuju investment

grade pada 2011. Masuknya investor asing ke dalam industri perbankan syariah, maupun pembukaan outlet layanan di negara-negara sumber dana investasi, dengan demikian perlu dilihat dalam konteks penguatan kapasitas industri agar semakin mampu melayani kebutuhan pasar domestik yang sangat besar, dan dalam kesadaran untuk ikut mendukung pengembangan potensi ekonomi daerah dalam rangka pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia seluruhnya.

Dimensi spasial dari arah kebijakan pengembangan tersebut mengisyaratkan terjadinya persebaran outlet layanan bank syariah yang menjangkau seluruh daerah di Indonesia secara merata. Proses perizinan untuk pembukaan kantor cabang bank syariah maupun pendirian BPRS akan diarahkan untuk menjamin persebaran lokasi layanan bank syariah, agar sesuai dengan besarnya kebutuhan untuk pengembangan potensi ekonomi masing-masing daerah. Peran BPRS tetap diarahkan sebagai community banking, dengan semakin meningkatkan efisiensi operasionalnya melalui pola aliansi strategis dengan BUS/UUS maupun dengan pola Apex Bank. Dimensi kedalaman finansial dari arah kebijakan pengembangan mendorong inovasi produk dan layanan bank syariah agar mampu melayani beragam lapisan masyarakat, mulai dari segmen ekonomi mikro, usaha kecil dan menengah (UKM) hingga segmen korporasi.

Keberagaman produk yang merupakan diferensiasi bank syariah ini akan terus ditingkatkan melalui eksplorasi akad dan skema-skema keuangan yang semakin inovatif. Pemetaan akurat terhadap potensi ekonomi daerah perlu dilakukan sebagai rujukan bagi proses pengembangan produk yang sesuai oleh bank syariah di daerah. Berbagai proyek berskala besar ataupun mega proyek di daerah, perlu dilihat sebagai peluang bagi bank syariah untuk memanfaatkan tricle-down effect-nya dengan cara mengembangkan produk dan jasa bagi sektor-sektor ekonomi pendukungnya.

Grafik 3.7a Ilustrasi Segment Champions

Grafik 3.7a Ilustrasi Segment Champions Grafik 3.7b. Posisi Aset iB Syariah 3.3.5. Penjajagan kerjasama secara cross

Grafik 3.7b. Posisi Aset iB Syariah

Segment Champions Grafik 3.7b. Posisi Aset iB Syariah 3.3.5. Penjajagan kerjasama secara cross sector Interaksi

3.3.5. Penjajagan kerjasama secara cross sector Interaksi perbankan syariah dengan sektor keuangan syariah yang lain telah menjadi salah satu target pengembangan industri yang akan dicapai secara bertahap. Kerjasama dengan sektor voluntary (Zakat, Infaq dan Sadaqah) untuk meningkatkan kemampuan industri perbankan syariah untuk lebih menjangkau sektor mikro akan mulai dijajagi melalui berbagai kegiatan penelitian. Adapun arah tujuan kegiatan penelitian tersebut akan digunakan sebagai acuan arah kebijakan kerjasama pembiayaan yang dapat memaksimalkan outreach industri dalam menjangkau segmen unbankable dan meminimalkan potensi risiko yang muncul dari kegiatan pembiayaan tersebut.

3.3.6. Program pengembangan pasar perbankan syariah

Di sisi permintaan, antusiasme masyarakat untuk menggunakan produk dan jasa perbankan syariah semakin meningkat, sebagaimana terlihat dalam dua tahun belakangan ini. Perkembangan menggembirakan tersebut menunjukkan, bahwa masyarakat telah semakin mengenal dan merasakan kemanfaatan dari kehadiran bank syariah. Citra baru yang lebih universal dan inklusif dari industri perbankan syariah, yang kini populer dikenal sebagai iB (ai-Bi), telah berhasil menempatkan bank syariah sebagai alternatif sistem perbankan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali.

Dengan melihat perkembangan tersebut, maka program sosialisasi iB Campaign pada 2011 akan tetap mengedepankan PDB (positioning, differentiation, branding) dari industri perbankan syariah sebagai “Lebih Dari Sekedar Bank” (Beyond Banking), melalui komunikasi yang inklusif dan terfokus tentang kelebihan bank syariah dalam hal fitur (functional benefits), keberagaman produk, dan kekayaan variasi skema keuangan yang dimilikinya.

Program sosialisasi/edukasi publik yang inovatif dan terintegrasi akan dilanjutkan pada 2011, menggunakan berbagai media komunikasi (media mix) untuk semakin mendorong aktivasi masyarakat dalam menggunakan layanan perbankan syariah:

Partisipasi bank syariah dalam pameran/expo populer untuk mendekatkan masyarakat umum dengan produk bank syariah sesuai kebutuhannya (otomotif, properti, elektronik/komputer, franchise, agrikultur, pendidikan, UMKM, dan lain- lain)

Sosialisasi/edukasi masyarakat berbasis komunitas (muda,wanita/keluarga, profesional muda, netizen dan hobi) tentang produk perbankan syariah secara lebih terfokus sesuai kebutuhan komunitas.

Dialog dengan stakeholder perbankan syariah (pengelola bank syariah, asosiasi industri/pengusaha, pemerintah daerah, akademisi, media, pengamat ekonomi dan perbankan, organisasi masyarakat) melalui pembentukan Working Groups dan Focus Groups dalam rangka semakin meningkatkan pelayanan serta mendorong inovasi produk (co-creation).

Iklan Layanan Masyarakat dan program/rubrik khusus di berbagai media cetak, elektronik, media online dan media luar ruang.

Upaya untuk mengembangkan pasar perbankan syariah yang secara efektif juga memiliki dimensi edukasi dan perlindungan masyarakat, Bank Indonesia telah mengembangkan kerangka Market Development Strategic Plan (MDSP) yang berusaha untuk memposisikan industri perbankan syariah sebagai salah satu pilar ekonomi nasional yang kokoh di masyarakat.

3.4. PROSPEK PERBANKAN SYARIAH 2010

Berdasarkan hasil analisa terhadap kondisi fundamental makroekonomi nasional yang cukup kuat dan tumbuh positif ditengah situasi perekonomian dunia yang diprediksikan cenderung melambat, diperkirakan industri perbankan syariah pada tahun 2011 akan mengalami pertumbuhan yang sama atau bahkan lebih baik dari pertumbuhan tahun sebelumnya. Mengingat bahwa perkembangan industri perbankan syariah sampai dengan akhir tahun 2010 diperkirakan akan berada pada proyeksi skenario moderat (Tabel 3.2), dan berdasarkan pertimbangan dinamika makroekonomi dan industri perbankan syariah terkini, maka proyeksi untuk tahun 2011 masih akan tetap tinggi (Tabel 3.3).

Tabel 3.2. Proyeksi Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional 2010

Skenario Pesimis

Skenario Moderat

Skenario Optimis

Nilai aset: 72 T Pertumbuhan aset: 26%

Nilai aset: 97 T Pertumbuhan aset: 43%

Nilai aset: 124 T Pertumbuhan aset: 70%

Tabel 3.3. Proyeksi Pertumbuhan Perbankan Syariah Nasional 2011

Skenario Pesimis

Skenario Moderat

Skenario Optimis

Nilai aset: 131 T Pertumbuhan aset: 35%

Nilai aset: 141 T Pertumbuhan aset: 45%

Nilai aset: 150 T Pertumbuhan aset: 55%

Perkembangan perbankan syariah diharapkan didukung oleh berbagai faktor yang antara lain meliputi:

1. Bertambahnya pemain baru - Kecenderungan windows untuk melakukan spin-off sehingga industri perbankan syariah didukung oleh pemain-pemain baru yang telah memiliki otoritas penuh untuk menentukan target pertumbuhannya sendiri. Selain melalui spin-off, masuknya beberapa investor yang mengkonversi beberapa bank konvensional menjadi bank syariah telah pula berkontribusi terhadap perkembangan usaha industri perbankan syariah. Pembenahan secara operasional diharapkan terus terjadi sejalan dengan asumsi para investor baru yang menempatkan industri perbankan syariah sebagai new growth area. Dengan bertambahnya pemain baru, tingkat kompetisi dalam industri akan semakin tinggi yang akan memacu para pemain lama untuk tetap mempertahankan market sharenya dengan upaya yang lebih tinggi lagi.

2. Kondisi makro yang semakin kondusif – Perkembangan industri perbankan syariah tentunya akan dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi yang pada tahun 2011 diperkirakan akan semakin kondusif untuk lebih terus mendorong pertumbuhan industri.

3. Program pengembangan pasar yang semakin terstruktur – Dengan tersusunnya program sosialisasi industri perbankan syariah yang semakin baik, diharapkan positioning perbankan syariah di masyarakat akan semakin baik. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah tentunya diharapkan akan semakin meningkat dengan skala demografi yang semakin luas diharapkan memiliki kontribusi signifikan dalam membesarkan industri perbankan syariah pada tahun 2011.

4. Peningkatan kualitas SDM - Pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas baik dan dengan kuantitas yang cukup, diyakini akan berpengaruh signifikan pada pertumbuhan aset sekaligus perluasan jaringan pelayanan perbankan syariah pada tahun 2011.

5. Dukungan otoritas yang semakin kuat - Pengembangan keuangan dan perbankan syariah menjadi program pemerintah secara terpadu yang tertuang dalam

kebijakan-kebijakan seperti; pengelolaan dana haji oleh bank syariah, BPD syariah holding dan adanya konversi bank BUMN.

Dengan mempertimbangkan beberapa kondisi di atas, disusun beberapa skenario perkembangan industri berdasarkan asumsi pesimis, moderat maupun optimis. Penyusunan tersebut didasarkan pada proyeksi realisasi asumsi pendukungnya yang ditunjukkan pada Tabel 3.4 sebagai berikut:

Tabel 3.4. Proyeksi pertumbuhan berdasarkan beberapa skenario

yang ditunjukkan pada Tabel 3.4 sebagai berikut: Tabel 3.4. Proyeksi pertumbuhan berdasarkan beberapa skenario 65

Lampiran 1. Daftar Regulasi Perbankan Syariah Tahun 2009

1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/3/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009 tentang Bank Umum Syariah.

2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/10/PBI/2009 tanggal 19 Maret 2009 tentang Unit Usaha Syariah.

3. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/11/PBI/2009 tanggal 13 April 2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu.

4. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tanggal 13 April 2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money).

5. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/15/PBI/2009 tanggal 29 April 2009 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Konvensional menjadi Bank Syariah.

6. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/19/PBI/2009 tanggal 4 Juni 2009 tentang Sertifikasi Manajemen Risiko bagi Pengurus dan Pejabat Bank Umum.

7. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/23/PBI/2009 tanggal 1Juli 2009 tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

8. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/24/PBI/2009 tanggal

2009

tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah Bagi Bank Umum Syariah.

1

Juli

9. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/29/PBI/2009 tanggal 7 Juli 2009 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah Bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

10. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/30/PBI/2009 tanggal 7 Juli 2009 tentang Fasilitas Likuiditas Intrahari Berdasarkan Prinsip Syariah.

11. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/31/PBI/2009 tanggal 28 Agustus 2009 tentang Uji Kemampuan Dan Kepatutan (Fit And Proper Test) Bank Syariah Dan Unit Usaha Syariah.

12. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/24/DPbS tanggal 29 September 2009 tentang Konversi Bank Umum Konvensional menjasi Bank Umum Syariah.

13. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/25/DPbS tanggal 29 September 2009 tentang Konversi Bank Pembiayaan Rakyat menjadi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

14. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/28/DPbS tanggal 5 Oktober 2009 tentang Unit Usaha Syariah.

15. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/33/DPbS tanggal 7 Desember 2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

16. Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/34/DPbS tanggal 23 Desember 2009 tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Lampiran 2. Produk dan Jasa Perbankan Syariah

NAMA PRODUK

AKAD

PENDANAAN

GIRO iB

Giro USD iB

Wadiah

Giro iB

Wadiah

TABUNGAN iB

Tabungan iB

Wadiah

Tabungan Haji iB

Wadiah

Tabungan Haji iB

Mudharabah

Tabungan Emas iB

Mudharabah

Tabungan Berencana iB

Mudharabah

Tabungan Pendidikan iB

Mudharabah

Tabungan Perencanaan iB

Mudharabah

Tabungan Syariah Arisan iB

Mudharabah

Tabungan Umrah iB

Mudharabah

Tabungan iB

Mudharabah

Tapenas iB (1)

Mudharabah

Tabungan Untuk Anak iB (17)

Mudharabah

Tabungan Multiguna iB (27)

Mudharabah

DEPOSITO iB

Deposito iB

Mudharabah

Deposito USD iB

Mudharabah

Deposito iB

Mudharabah Muqayyadah

Deposito Special Investment Deposit iB

Mudharabah Muqayyadah

JASA iB

Jasa Kirim Uang Antar Negara iB

Ijarah

Jasa Bank Garansi iB

Kafalah

Jasa SKBDN iB

Kafalah, Wakalah bil Ujroh

Jasa Syariah Card iB

Kafalah, Qard, Ijarah

Jasa Deposit Box Emas iB

Qard dan Ijarah

Jasa Pengalihan Hutang iB

Gard, bai, murabahah

Jasa Penukaran Uang iB

Sharf

Jasa Kirim Uang iB

Wakalah

Jasa Kiriman Uang Valas iB

Wakalah

Jasa Bancassurance iB

Wakalah bil ujrah

Jasa L/C Ekspor iB

Wakalah bil ujrah, bai dan kafalah

Jasa L/C Impor iB

Wakalah kafalah

Gadai iB

Qard dan Ijarah

Gadai Emas iB

Qard, Rahn dan Ijarah

PEMBIAYAAN iB

JUAL BELI

Pembiayaan iB

Ijarah

Pembiayaan Multijasa iB

Ijarah

Pembiayaan Multijasa Pendidikan iB

Ijarah

Pembiayaan Menengah dan Korporasi iB

Ijarah

Pembiayaan Mikro dan Kecil iB

Ijarah

Pembiayaan Modal Kerja iB

Ijarah

NAMA PRODUK

AKAD

Pembiayaan Serba Guna iB

Ijarah

Pembiayaan Rumah iB

Ijarah

Pembiayaan Multijasa Pendidikan, Keluarga, Kesehatan iB

Ijarah

PEMBIAYAAN iB

JUAL BELI

Pembiayaan Multijasa Umrah iB

Ijarah

Pembiayaan Kebutuhan Barang iB

Ijarah Wal Wakalah

Pembiayaan iB

IMBT

Pembiayaan Sewa Equipment iB

IMBT

Pembiayaan Channeling iB

IMBT

Pembiayaan iB

Istishna

Pembiayaan Rumah iB

Istishna

Pembiayaan iB

Istishna Paralel

Pembiayaan KPR iB

Istishna Paralel

Pembiayaan Pembangunan Perumahan iB

Istishna Paralel

Pembiayaan iB

Salam

Pembiayaan iB

Murabahah

Pembiayaan Kavling Siap Bangun iB

Murabahah

Pembiayaan Kebutuhan Barang iB

Murabahah

Pembiayaan Konsumtif iB

Murabahah

Pembiayaan Menengah dan Korporasi iB

Murabahah

Pembiayaan Mikro dan Kecil iB

Murabahah

Pembiayaan Modal Kerja iB

Murabahah

Pembiayaan Channelling iB

Murabahah

Pembiayaan Konsumer iB

Murabahah

Pembiayaan Pemilikan Kendaraan iB

Murabahah

Pembiayaan Renovasi Rumah iB

Murabahah

Pembiayaan Rumah iB

Murabahah

Pembiayaan Serba Guna iB

Murabahah

Syariah Card iB

Kafalah, Qard, Ijarah dan Wadiah

INVESTASI iB

Investasi Emas iB

Wakalah

Pembiayaan iB

Musyarakah

Pembiayaan Dana Berputar iB

Musyarakah

Pembiayaan Menengah dan Korporasi iB

Musyarakah

Pembiayaan Mikro dan Kecil iB

Musyarakah

Pembiayaan PRK iB

Musyarakah

Pembiayaan Sindikasi iB

Musyarakah

Pembiayaan iB

Mudharabah

Pembiayaan Menengah dan Korporasi iB

Mudharabah

Pembiayaan Mikro dan Kecil iB

Mudharabah

Pembiayaan Modal Kerja iB

Mudharabah

Pembiayaan MTN BSMI iB

Mudharabah

Pembiayaan Channeling iB

Mudharabah Muqayyadah

Pembiayaan Executing iB

Mudharabah Muqayyadah

Pembiayaan Musyarakah Mutanaqisah iB

Musyarakah Mutanaqisah

Pembiayaan Many to One iB (11)

 

Pembiayaan Musyarakah USD iB (13)

Musyarakah

NAMA PRODUK

AKAD

Pembiayaan Kepada Pensiun iB (11)

Pembiayaan Sektor Pertanian iB (20)

QARD iB

Pembiayaan iB

Qard