Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN (LP) PADA KLIEN ABLASIO RETINA DI RUANG MATA A.

Pengertian Ablasio retina adalah suatu keadaan terlepasnya sehingga terjadi penggumpalan cairan retina antara lapisan basilus (sebatang) dan konus (sel kerucut) dengan sel epitelium pigmen retina (Vera H. Darling Magaret R. 1996 : 73). B. Etiologi Beberapa penyebab terjadinya ablasio retina adalah : a. Miopi, pada miopi berat ukuran anterior posterior mata membesa dan mengakibatkan desakan pada retina, miopi berat muncul pada dua pertiga pada klien ablasio. b. Trauma atau penggunaan fisik yang kuat dan mendadak akan menyebabkan robekan retina. c. Afakia, afakia dapat menyebabkan pergerakan viterus ke depan. C. Klasifikasi Ablasio Retina Berdasarkan asal perkembangannya dibagi menjadi : a. Ablasio Regmatogenus terjadi akibat robekan retina karena kekuatan mekanis yang menyebabkan masuknya vitreus keruang subretina. b. Ablasio Traksi (Traction Detachment) mengikuti kontraksi jaringan fibrous pada vitreus yang mendorong sensori retina keluar dari koroid. c. Ablasio eksudatif (Exudative Detachment) lepasnya retina disebabkan oleh akumulasi cairan pada ruang subretina akibat proses peradangan (seperti uveitis) penyakit sistemik (seperti toksemia) atau tumor olkuler. Ablasio eksudatif dengan putusnya retina jika penyebab yang mendasari dapat diatasi, maka cairan subretina dapat diobservasikan tanpa intervesi namun jika akumulasi cairan berlanjut sensori retina dapat lepas dari retina.

D. Patofisiologi Miopi Trauma Afakia Proses Penyakit peradangan sistemik Tumor okuler Degenerasi

Lepasnya retina

Perlu operasi

Perlu perbatasan aktivitas

Sel darah merah dan sel-sel retina lepas Gangguan penerimaan rangsangan visual

Bayangan titiktitik hitam

Post op Resiko infeksi

Nyeri

Koncersi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat di interprestasikan otak

Hilangnya penglihatan Perubahan sensori perseptual visual Resiko cidera

cemas

Gangguan pemenuhan ADL

Defisit perawatan diri

E.

Gejala Klinis Gejala dini : - Floaters. - Fotopsia. Gangguan lapang pandang. Melihat seperti tirai. Visus menurun tanpa disertai rasa sakit.

Gejala Fisik Visus menurun. Gangguan lapang pandang. Pada pemeriksaan fundus okuli tampak retina yang terlepas berwarna pucat dengan pembuluh retina yang berkelok-kelok disertai atau tanpa adanya sobekan retina. F. Pemeriksaan-Pemeriksaan Pemeriksaan pada klien dengan ablasio retina dilakukan pemeriksaan fundus okuli yaitu dengan cara : 1. Dilatasi pupil dengan jalan pemberian tetes mata. Tetes mata yang digunakan yaitu tropikamide 0,5 % : 1 % (Midriatyi) ditetesi 3 kali dalam lima menit. Kemudian tunggu 20 sampai 30 menit dan tetes mata phenytephrine 10 % (efrisel). 2. Setelah pupil medriasis (dilebarkan), fundus okuli diperiksa dengan : a. Oftalmoskop direk : Pembesaran bayangan 14 kali. Bayangan tegak. Hanya dapat diperiksa bagian posterior. Tidak stereoskopis. Pembesaran bayangan 4 kali. Bayangan terbalik. Dapat diperiksa samapai retina bagian parifen, kalau perlu dapat ditamabah dengan indentasi sklera. Terlihat stereoskopis. Digunakan lensa 55 mm : 16 dioptri : Bayangan besar, lapang pandang sempit. 20 dioptri : Bayangan lebih kecil, lapang pandang luas. Selain untuk pemeriksaan. Alat ini juga dipakan pada waktu oprasi ablasio retina. c. Lensa kontak goldam 3 mirror dengan biomikroskop Pembesaran 10 16 kali. Dengan anetesi lokal : tetracaine 0,5 % (paotocaink) Diberi metil cellukosa (CMC 2 %, Menthol 2 %) untuk lobrikasi lensa kontak. Dapat diperiksa sampai retina bagian perifer.

b. Oftalmoskop indirek binokuler :

Selain untuk pemeriksaan, alat ini juga dipakai untuk Fotokoagulasi retina (dengan laser). d. Lensa hruby dengan biomikroskop Kekuatan lensa : - 55 dioptri. Hanya untuk pemeriksaan bagian Sentral dari fundus okuli. 3. ditentukan lokalisasi ablasio retina (75 % tempural asal). 4. dicari dan ditentukan lokalisasi dari semua robekan retina harus diperiksa kedua mata. Karena ablasio retina merupakan penyakit mata yang cenderung birateral. G. Diagnosa banding 1. Retinoskisi senil 2. Separasi koroid : Terlihat lebih transparan. : Erliahat lebih gelap.

Dapat melawati ora serat Tumor korad (melamona maligna) : perlu pemeriksaan ultra sonografi (usg). H. Penatalaksanan Penderita tirah baring sempurna. Mata yang sehat ditutup dengan bebat mata. Pada penderita dengan ablasio retina non regmatogen, jika penyakit primernya sudah diobati tetapi masih terdapat ablasio retina dapat dilakukan operasi cerlage. Pada ablasio retina regmatogen : a. Fotokoagulasi retina : bila tedapat robekan retina dan belum terjadi separasi retina. b. Plombage lokal : dengan silicone sponge dijahitkan pada epis klera pada daerah robekan retina (dikontrol dengan oftalmoskop indirek binokuler). c. Membuat radang steril pada koroid dan epirtel pigmen pada daerah robekan retina dengan jalan : Pendinginan (eryo therapy ). Diatermi

d. Operasi circlage : Oprasi ini dikerjakan untuk mengurangi tarikan bedah kaca pada keadaan cairan sub retina yng cuku banyak, dapat dilakukan fungsi lewat sklera.

ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan pada klien atau pasien, pada berbagai tatanan Pelayanan Kesehatan denga menggunakan metodologi proses keperawatan berpedoman pada standart keperawatan, dilandasi etika keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan. Asuhan keperawaan klien ablasio retina sebelum operasi. a. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu pengumpulan data, pengelompokan data dan perumusan diagnosa keperawatan. 1. Pengumpulan data Identitas klien meliputi : nama, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pekerjaan, bahasa, nomer register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis. b. Riwayat penyakit sekarang Adanya keluhan pada pengelihatan seperti : pengelihatan menurun melihat seperti ada kilat cahaya dalam lapangan pandang adanya tirai hitam yang menutupi pengelihatan. c. Riwayat penyakit dahulu Apakah klien pernah menderita penyakit ablosio retina sebelumnya miopi, retinopati serta pernahkan klien mengalami trauma. d. Riwayat penyakit keluarga Adakah riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita ablosio retina ataupiun yang menderita miopi. e. Riwayat psikososial dan spiritual Bagaimana hubungan pasien dengan orang-orang disekitarnya serta bagaimana koping mekanisme yang digunakan oleh pasien dalam menghadapi masalah serta bagaimana tentang kegiatan ibadah yang dilakukan. f. Pola-pola funsi kesehatan 1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup Kemampuan merawat diri pasien menurun dan juga terjadi perubahan pemeliharaan kesehatan.

2. Pola nutrisi dan metabolisme Pada klien tidak mengalami perubahan nutrisi dan metabolisme. 3. Pola aktivitas dan latihan 4. Pola eliminasi Pada klien tidak mengalami gangguan dan perubahan eliminasi. 5. Pola tidur dan istirahat Pola tidur klien berubah sampai berkurangnya pemenuhan kebutuhan tidur klien. 6. Pola persepsi dan kognitif Pengelihatan klien kabur, adanya tirai dan adanya kilatan cahaya pada pengelihatan. 7. Pola pesepsi dan konsep diri Klien merasa resah dan cemas akan terjadi kebutaan. 8. Pola hubungan dan peran Hubungan klien dengan orang disekitarnya menurun begitu juga dalam melaksanakan perannya. 9. Pola reproduksi dan seksual Pola ini tidak mengalami gangguan. 10. Pola penanggulangan stress dan klien bertanya kapan akan dilakukan tindakan operasi. 11. Pola tata nilai dan kepercayaan Pola ini tidak mengalami gangguan. 2. Analisa data Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan kosnep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan pasien. b. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (pola interaksi atau status kesehatan yang terganggu actual atau potensial) dari individu atau kelompok yang mana secara legal perawat dapat mengidentifikasi dan merencanakan tindakan tertentu untuk mempertahankan status kesehatan atau mengurangi, membatasi atau mencegah gangguan atau perubahan tersebut. Dari data yang diperolah dapat ditemukan diagnosa pada pasien sebelum operasi, yaitu : 1. Cemas sehubungan dengan ancaman kehilangan pengelihatan.

2. Cemas sehubungan dengan akan dilakukan tindakan operasi. 3. Gangguan persepsi sensori pengelihatan sehubungan dengan lepasnya retina. 4. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya dan pengobatan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. 5. Potensial terjadinya kecelakaan sehubungan dengan penurunan pengelihatan. 6. Resiko terjadinya perluasan robekan retina sehubungan dengan kurangnnya pengetahuan (Informasi) tentang penyakitnya Post op 1. Nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi 2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan adanya proses pembedahan c. Perencanaan 1. Cemas sehubungan dengan anacaman kehilangan pengelihatan. Tujuan KH : : cemas berkurang / hilang. klien tidak menunjukkan tanda-tanda cemas seperti gelisah,

wajah murung, pandangan kosong, klien nampak tenang. Rencana tindakan : 1. Tanyakan faktor penyebab kecemasan. 2. Beri dorongan pada klien untuk mengutarakan perasaannya. 3. Beri informasi tentang hal-hal yang dapat menyebabkan penurunan pengelihatan (karena lepasnya retina). 4. Beri penjelasan tentang tujuan operasi. 5. Beri dorongan pada klien untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME. Rasional : 1. Dengan menanyakan akan didapatkan faktor yang menyebabkan kecemasan klien. 2. Dengan dorongan diharapkan klien dapat mengungkapkan perasaannya sehingga dapat mengurangi kecemasan. 3. Dengan infomasi akan mengurangi kecemasan karena ketidakj tahuan klien. 4. Penjelasan akan menambah pengetahuan dan menambah rasa percaya diri. 5. Perasaan aman dan tenang akan timbul bila klien mendekatkan diri pada Tuhan YME. 2. Gangguan persepsi sensori pengelihatan sehubungan dengan efek dari lepasnya retina. Tujuan KH : : Gangguan persepsi sensori pengelihatan dapat diatasi. - Klien dapat menggambarkan obyek yang dilihat sesuai dengan yang sebenarnya.

- Klien

mengungkapkan

tidak

ada

keluhan

dalam

pengelihatan lebih lanjut. Rencana tindakan : 1. Orientasikan dengan ruangan, pegawai dan penderita lain dalam ruangan. 2. Kunjungilah klien sesering mungkin untuk membantu kebutuhannya terutama pada malam hari. 3. perhatikan penglihatan yang kabur dan suram iritasi mata yang timbul. 4. Beri pengamanan pada samping tempat tidur baik kanan maupun kiri. 5. Bantu klien makan, kebersihan diri dan berjalan bila diperlukan. 6. letakkan bel pemanggil didekat tempat tidur klien. Rasional : 1. Dengan memberikan orientasi untuk meningkatkan rasa nyaman dan rasa kekeluargaan bagi klien sehingga mengurangi dis orientasi. 2. Dengan mengunjungi klien diharapkan kebutuhan klien dapat di bantu. 3. dengan memperhatikan secara dini dapat menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan / komplikasi yang lebih lanjut. 4. Dengan adanya gangguan penglihatan potensial terjadinya cedera / kecelakaan. 5. Untuk memenuhi kebutuhan sehingga klien merasa nyaman. 6. Memudahkan klien untuk memanggil perawat bila memerlukan bantuan. d. Pelaksanaan. Adalah pengelolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah ditentukan, meliputi tindakan dependent, independent, dan interdependent, usaha tersebut dilakukan untuk membantu klien dalam mencegah masalahnya serta membantu untuk memenuha kebutuhan klien. Tahap pelaksanaan dilakukan berdasarkan rencana tindakan yang telah ditentukan pada tahap perencanaan dan juga harus disesuaikan dengan kondisi klien saat dilakukan tindakan.

e.

Evaluasi. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, tahap ini dimaksudkan untuk menilai apakah tujuan, kriteria hasil sudah tercapai atau belum dan untuk melakukan pengkajian ulang. Evaluasi berhasil bila tujuan dan kriteria hasil sudah tercapai, begitu pula sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpanito juall lynda, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8, ECG : 1998. Effendi, Nasrul (1995), Pengantar Proses Keperwatan. EGC, Jakarta. Limidar H, dkk : 1990. Proses Keperawatan. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia.

Pedoman Diagnosa dan Terapi Lab Ilmu Pengetahuan Mata 1994 : RSUD. Dr. Soetomo Surabaya.

PROTAB MEMBERI KOMPRES DINGIN PADA MATA Dilakukan pada Penderita yang mengalami perdarahan pada bilik depan sehubungan karena adanya trauma di mata. Menyiapkan alat Thermos es yang berisi es batu

Mangkok Gaas Penderita tidur terlentang tirah baring Masukkan es batu kedalam mangkok dan isi dengan sedikit air matang Celupkan gaas kedalam aiar es Kemudian tempelkan gaas pada mata yang sakit Gantu gaas yang sudah dingin dengan gaas yang baru sampai perdarahan hilang / diserap kembali

Menyiapkan penderita

PROTAB IRIGASI / MENCUCI MATA

Persiapan Posisi penderita bisa duduk / bisa berbaring, menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan ini.

Pelaksanaan Bila penderita duduk : - Cuci tangan dan petugas memakai sarung tangan - Kepala penderita menengada dan bersandar di kursi - Tetesi mata dengan pantakain 5 % tunggu 3 5 menit - Pasang handuk / alas didada penderita - Pasang bengkok dibawah dagu, tangan penderita memegang bengkok - Spuit 10 cc / 20 cc diisi dengan aduadest / RL sampai penuh dan dipasang jarum tumpul, lalu kelopak mata atas dan bawah di buka untuk pembantu cairan dalam spuit disemprotkan pada mata penderita dan penderita dianjurkan mengerakgerakkan bola mata keatas kebawah, kekiri dan kekanan. - Setelah irigasi, mata dibersihkan dengan kapas basah dan diberikan salf anti biotik. Bila penderita berbaring : - Hal yang perlu dikerjakan apabila irigasi di perlukan terus menerus atas pemberian per drip - Posisi penderita terlentang kepala dimiringkan - Pasng pengalas / handuk - Pasang bengkok disamping dagu penderita - Infus set dipasang pada cairan RL / aquadest - Jarum infus set diambil daria konektor - Konektor dipasang pada pelipis mata yang akan diirigasi dan fiksasi dengan plester - Kelopak mata bagian atas dibuka dengan difiksasi plester - Cairan diteteskan tepat pada bola mata penderita - Tetesan 60 tetes / menit dan diberikan kurang lebih 2 3 jam Perhatian : Jarum suntik yang tumpul jangan sampai lepas dari spuit.