Anda di halaman 1dari 32

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 2.1.1

Keputihan (Fluor Albus) Definisi Menurut dr. Sugi Suhandi (2009), spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RS Mitra Kemayoran Jakarta, keputihan (flour albus) adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina. Keputihan bisa bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) namun bisa juga bersifat patologis (karena penyakit). Dan keputihan tidak mengenal batasan usia. Berapa pun usia seorang wanita, bisa terkena keputihan. Secara definisi keputihan (fluor albus) adalah cairan tubuh (bukan darah) yang keluar dari organ reproduksi wanita. Keadaan ini dapat bersifat fisiologis atau patologis. Keputihan yang fisiologis dapat timbul saat terjadi perubahan siklus hormonal, seperti sebelum pubertas, stress psikologis, sebelum dan setelah datang bulan, kehamilan, saat menggunakan kontrasepsi hormonal, atau saat menopause (Moctar R, 1986). Keluarnya cairan dari vagina merupakan salah satu keluhan yang sering dinyatakan oleh kaum wanita. Beberapa rembesan adalah umum dan normal, dengan bahan yang dikeluarkan hanya terdiri atas lendir yang disekreasi oleh kelenjar-kelenjar di dalam rahim dan leher rahim, serta cairan yang keluar melalui dinding vagina dari jaringan di sekitarnya. Sebagian wanita menganggap cairan yang keluar dari vagina masalah biasa ada juga yang menganggap masalah keputihan mengganggu aktivitas sehari-hari

(Cunningham, Gary, dkk. 2005).

Keputihan (fluor albus) sudah menjadi masalah yang banyak ditemui para wanita. Penyebabnya mulai dari bakteri, jamur, parasit, sampai dengan virus (Moctar, 1986). Gaya berpakaian yang salah juga dapat mempengaruhi datangnya keputihan. Banyak para wanita, khususnya para pelajar dan mahasiswa yang menginginkan penampilan terlihat seksi, sehingga

mengenakan pakaian yang cenderung ketat yang memiliki pori-pori pakaian sangat rapat yang dapat menyebabkan peningkatan suhu di daerah perianal. Selain itu masuknya benda asing dalam vagina, kanker dan menopause, juga dapat menjadi penyebab datangnya keputihan. Dari upaya menghilangkan gejala, memberantas penyebab dan mencegah, pencegahan merupakan upaya efektif. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa keputihan (fluor albus) yang banyak dikeluhkan wanita dari segala umur merupakan cairan tubuh bukan darah yang keluar dari vagina, yang dapat bersifat fisiologis maupun patologis, dengan berbagai penyebab. 2.1.2 Etiologi Keputihan (Flour albus) fisiologik pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina. (Amiruddin, 2003). Fluor albus fisiologik ditemukan pada : 1) Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari. Disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin. 2) Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Leukore disini hilang sendiri akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya.

3) Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina. 4) Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer. 5) Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri. 2.1.2.1 Penyebab patologis Keputihan (fluor albus) patologik disebabkan oleh karena kelainan pada organ reproduksi wanita. Dapat berupa infeksi, adanya benda asing, dan penyakit lain pada organ reproduksi. 1) Infeksi Infeksi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh. Salah satu gejalanya adalah keputihan. a) Vaginitis Penyebabnya adalah pertumbuhan bakteri normal yang berlebihan pada vagina. Dengan gejala cairan vagina encer, berwana kuning kehijauan, berbusa dan bebau busuk, vulva agak bengkak dan kemerahan, gatal, terasa tidak nyaman serta nyeri saat berhubungan seksual dan saat kencing. Vaginosis bakterialis merupakan sindrom klinik akibat pergantian Bacillus Duoderlin yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi seperti Bacteroides Spp, Mobiluncus Sp,

Peptostreptococcus Sp dan Gardnerella vaginalis bakterialis yang dapat dijumpai di tubuh vagina dengan bau yang khas seperti bau ikan, terutama waktu berhubungan seksual. Bau tersebut disebabkan adanya amino yang

10

menguap bila cairan vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa menimbulkan terlepasnya amino dari perlekatannya pada protein dan vitamin yang menguap menimbulkan bau yang khas. b) Candidiasis Penyebab berasal dari jamur Candida albican. Candida albican menyebabkan adanya erupsi di dinding vagina sehingga terjadinya iritasi. (Kenneth A, Jeffrey T, 2007). Gejalanya adalah keputihan berwarna putih susu, begumpal seperti susu basi, disertai rasa gatal dan kemerahan pada kelamin dan disekitarnya. Infeksi jamur pada vagina paling sering disebabkan oleh Candida,spp, terutama Candida albicans. Gejala yang muncul adalah kemerahan pada vulva, bengkak, iritasi, dan rasa panas. Tanda klinis yang tampak adalah eritema, fissuring, sekret menggumpal seperti keju, lesi satelit dan edema. Usaha pencegahan terhadap timbulnya kandidiasis vagina meliputi penanggulangan faktor predisposisi dan penanggulangan sumber infeksi yang ada. Penanggulangan faktor predisposisi misalnya tidak menggunakan antibiotika atau steroid yang berlebihan, tidak menggunakan pakaian ketat, mengganti kontrasepsi dengan kontrasepsi lain yang sesuai, memperhatikan hygiene. Penanggulangan sumber infeksi yaitu dengan mencari dan mengatasi sumber infeksi yang ada, baik dalam tubuhnya sendiri atau diluarnya. Dalam Suprihatin (2002), dijelaskan faktor-faktor yang dihubungkan dengan meningkatnya kasus kandidiasis antara lain disebabkan oleh : 1. Kondisi tubuh yang lemah atau keadaan umum yang buruk, misalnya: bayi baru lahir, orang tua renta, penderita penyakit menahun, orangorang dengan gizi rendah

11

2. Penyakit tertentu, misalnya: diabetes mellitus 3. Kehamilan 4. Rangsangan setempat pada kulit oleh cairan yang terjadi terus menerus, misalnya oleh air, keringat, urin atau air liur. 5. Penggunaan obat di antaranya: antibiotik, kortikosteroid dan sitostatik. c) Trichomoniasis Berasal dari parasit yang disebut Trichomonas vaginalis. Gejalanya keputihan berwarna kuning atau kehijauan, berbau dan berbusa,kecoklatan seperti susu ovaltin, biasanya disertai dengan gejala gatal dibagian labia mayora, nyeri saat kencing dan terkadang sakit pinggang. Trichomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah. Pada wanita sering tidak menunjukan keluhan, bila ada biasanya berupa duh tubuh vagina yang banyak, berwarna kehijauan dan berbusa yang patognomonik (bersifat khas) untuk penyakit ini. Pada pemeriksaan dengan kolposkopi tampak gambaran Strawberry cervix yang dianggap khas untuk trichomoniasis. Salah satu fungsi vagina adalah untuk melakukan hubungan seksual. Terkadang mengalami pelecetan pada saat melakukan senggama. Vagina juga menampung air mani, dengan adanya pelecetan dan kontak mukosa (selapu lendir) vagina dengan air mani merupakan pintu masuk (Port dentre) mikro organisme penyebab infeksi PHS. d) Gonokokus Cairan yang keluar dari vagina pada infeksi yang lebih dikenal dengan nama gonore ini berwarna kekuningan yang sebetulnya merupakan nanah

12

yang terdiri dari sel darah putih yang mengandung Neisseria gonorrhoeae berbentuk pasangan dua-dua pada sitoplasma sel. Gambaran ini kadang dapat terlihat pada pemeriksaan Pap smear, tetapi biasanya bakteri ini diketahui pada pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan Gram. Bakteri ini mudah mati bila terkena sabun, alkohol, deterjen dan sinar matahari. Cara penularan penyakit kelamin ini melalui senggama (Asbill, 2000). e) Klamidia trakomatis Bakteri ini sering menyebabkan penyakit mata yang dikena dengan penyakit trakoma. Bakteri ini dapat juga ditemukan pada cairan vagina dan terlihat melalui mikroskop seteah diwarnai dengan pewarnaan Giemsa. Bakteri ini membentuk suatu badan inklusi yang berada dalam sitoplasma sel-sel vagina. Pada pemeriksaan Pap smear sukar ditemukan adanya perubahan sel akibat infeksi klamidia ini karena siklus hidupnya yang tak mudah dilacak (Sianturi, 1996). f) Treponema pallidum Bakteri ini merupakan penyebab penyakit sifilis. Pada perkembangan penyakit dapat terlihat sebagai kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang disebut kandiloma lata. Bakteri berbentuk spiral dan tampak bergerak aktif pada pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap (Sianturi, 1996). 2) Benda asing Adanya benda asing dan penyebab lain. Infeksi ini timbul jika penyebab infeksi (bakteri atau organisme lain ) masuk melalui prosedur medis, saperti; haid, abortus yang disengaja, insersi IUD, saat melahirkan,

13

infeksi pada saluran reproduksi bagian bawah yang terdorong sampai ke serviks atau sampai pada saluran reproduksi bagian atas. 3) Neoplasma / keganasan Kanker akan menyebabkan fluor albus patologis akibat gangguan pertumbuhan sel normal yang berlebihan sehingga menyebabkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuuh darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut. Pada keadaan seperti ini akan terjadi pengeuaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan tadi dan sering kali disertai oeh adanya darah yang tidak segar. 4) Iritasi : a. Sperma, pelicin, kondom b. Sabun cuci dan pelembut pakaian c. Deodoran dan sabun d. Cairan antiseptik untuk mandi. e. Pembersih vagina f. Celana yang ketat dan tidak menyerap keringat g. Kertas tisu toilet yang berwarna 5) Penyebab lain a. Psikologi : Volvovaginitis psikosomatik b. Tidak diketahui : Desquamative inflammatory vaginitis Penyebab terjadinya keputihan (fluor albus) yang lainnya menurut Clayton (1986) adalah :

14

a) Penggunaan celana dalam yang tidak menyerap keringat Jamur tumbuh subur pada keadaan yang hangat dan lembab. Celana dalam yang terbuat dari nilon tidak menyerap keringat sehingga menyebabkan kelembaban. Campuran keringat dan sekresi alamiah vagina sendiri mulai bertimbun, sehingga membuat selangkangan terasa panas dan lembab. Keadaan ini menjadi tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur kandida dan bakteri lain yang merugikan. b) Penggunaan celana panjang yang ketat Celana panjang yang ketat juga dapat menyebabkan keputihan karena merupakan penghalang terhadap udara yang berada di sekitar daerah genetalia dan merupakan perangkap keringat pada daerah selangkangan. Bila pemakaian jeans digabungkan dengan celana nilon di bawahnya, efeknya sangat membahayakan. c) Penggunaan Deodoran Vagina Deodoran vagina sebenarnya tidak perlu karena dapat mengiritasi membran mukosa dan mungkin menimbulkan keputihan. Deodoran tidak dapat bekerja semestinya karena deodoran tidak mempengaruhi kuman kuman di dalam vagina. Deodoran membuat vagina menjadi kering dan gatal serta dapat menyebabkan reaksi alergi. Mandi dengan busa sabun dan antiseptik sebaiknya dihindari karena alasan yang sama. Keduanya dapat mematikan bakteri alamiah dalam vagina dengan cara yang mirip dengan antibiotika. d) Asupan gizi Diet memegang peranan penting untuk mengendalikan infeksi jamur. Dengan makan makanan yang cukup gizi kita bisa membantu tubuh kita

15

memerangi infeksi dan mencegah keputihan vagina yang berulang. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat dengan kadar gula tinggi seperti, tepung, sereal dan roti. Makanan dengan jumlah gula yang berlebihan dapat menimbulkan efek negatif pada bakteri yang bermanfaat yang tinggal di dalam vagina. Selaput lendir dinding vagina mengeluarkan glikogen, suatu senyawa gula. Bakteri yang hidup di vagina disebut lactobacillus (bakteri baik) meragikan gula ini menjadi asam laktat. Proses ini menghambat pertumbuhan jamur dan menahan perkembangan infeksi vagina. Gula yang dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan bakteri lactobacillus tidak dapat meragikan semua gula ke dalam asam laktat dan tidak dapat menahan pertumbuhan penyakit, maka jumlah gula menjadi meningkat dan jamur atau bakteri perusak akan bertambah banyak. Keputihan tetap terkendali bila makanan yang dikonsumsi adalah karbohidrat dengan kadar gula yang rendah misalnya kol, wortel, ketimun, kangkung, bayam, kacang panjang, tomat dan seledri. Makanan ini rendah dalam kalori dan banyak mengandung vitamin dan mineral. 2.1.2.2 Penyebab Keputihan (Fluor Albus) Pada Remaja : 1. Daerah vagina yang lembab akibat penggunaan celana dalam yang tidak menyerap keringat. 2. Penggunaan celana panjang ketat dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan.. 3. Kebersihan vagina yang kurang. 4. Stress dan kelelahan 5. Hormon yang tidak seimbang 6. Informasi mengenai personal hygiene yang kurang

16

7. Tidak mejalani pola hidup sehat (makan tidak teratur, tidak pernah olah raga, kurang tidur) 2.1.3 Patogenesis Keputihan (fluor albus) yang fisiologik terdiri atas cairan yang kadangkadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedang pada keputihan yang patologik terdapat banyak leukosit. Keputihan (fluor albus) yang fisiologik dapat ditemukan pada: 1. Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin. 2. Waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh dari estrogen; keputihan disini dapat menghilang dengan sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan kecemasan pada orang tua. 3. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudat dari dinding vagina. 4. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer. 5. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri. Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas dan mucus serviks, yang akan

17

bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB (Amiruddin, 2003). Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri patogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain (Amiruddin, 2003). Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp. terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan progesterone karena kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan Candida albicans pada sel epitel vagina dan merupakan media bagi prtumbuhan jamur. Candida albicans berkembang dengan baik pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat immunosupresan juga menajdi faktor predisposisi kandidiasis vaginalis (Jarvis, 1994).

18

Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis (Amiruddin, 2003). Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial, diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis dan Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial (Amiruddin, 2003). Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis, anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan dengan keadaan umum yang jelek , higiene yang buruk dan pada perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat (Amiruddin, 2003). 2.1.4 Gejala klinis Ciri-ciri dari cairan lendir yang normal adalah berwarna putih encer, bila menempel pada celana dalam maka warnanya kuning terang,

19

konsistensinya seperti lendir (encer kental) tergantung dari siklus hormon, tidak berbau dan tidak menimbulkan keluhan. Sebaliknya, bila terjadi gejala antara lain: gatal pada organ intim perempuan, rasa terbakar, kemerahan, nyeri selama berhubungan intim, nyeri saat berkemih, keluar cairan berlebihan dari organ intim perempuan (baik berlendir ataupun bercampur darah), dan berbau. Pada Vaginosis bacterial, sekret vagina keruh, encer, putih abu-abu hingga kekuning-kuningan dengan bau busuk atau amis. Bau semakin bertambah setelah hubungan seksual . Pada Trikomoniasis, sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan, berbusa dan berbau amis. Pada kandidiasis, sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang hingga berat dan rasa terbakar kemerahan dan bengkak didaerah genital. Infeksi klamidia biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang abnormal (Wiknjosastro, dkk, 1999). 2.1.5 Diagnosis a. Keputihan (Fluor Albus) Fisiologis Keputihan (Fluor albus) fisiologis biasanya lendirnya encer, muncul saat ovulasi, menjelang haid dan saat mendapat rangsangan seksual. Keputihan normal tidak gatal, tidak berbau dan tidak menular karena tidak ada bibit penyakitnya. b. Keputihan (Fluor Albus) Patologis Keputihan (Fluor Albus) patologis dapat didiagnosa dengan anamnese oleh dokter yang telah berpengalaman hanya dengan menanyakan apa keluhan pasien dengan ciri-ciri; jumlah banyak, warnanya seperti susu basi,

20

cairannya mengandung leukosit yang berwarna kekuning-kuningan sampai hijau, disertai rasa gatal, pedih, terkadang berbau amis dan berbau busuk. Pemeriksaan khusus dengan memerikskan lendir dilaboratorium, dapat diketahui apa penyebabnya, apakah karena jamur, bakteri atau parasit, namun ini kurang praktis karena harus butuh waktu beberapa hari untuk menunggu hasil (Jones, 2005). Amsel et al merekomendasikan diagnosa klinik vaginosis bakterialis berdasarkan adanya tiga tanda-tanda berikut : 1. Cairan vagina homogen, putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding vagina. 2. Jumlah pH vagina lebih besar dari 4,5. 3. Sekret vagina berbau seperti bau ikan sebelum atau sesudah penambahan KOH 10% (whiff test). Adanya clue cells pada pemeriksaan mikroskop sediaan basah. Clue cell merupakan sel epitel vagina yang ditutupi oleh berbagai bakteri vagina sehingga memberikan gambaran granular dengan batas sel yang kabur karena melekatnya bakteri batang atau kokus yang kecil. Penegakan diagnosis harus didukung data laboratorium terkait, selain gejala dan tanda klinis yang muncul dan hasil pemeriksaan fisik seperti pH vagina dan pemeriksaan mikroskopik untuk mendeteksi blastospora dan pseudohifa. Diagnosis Trichomonoasis ditegakan bila ditemukan Trichomonas vaginalis pada sediaan basah. Pada keadaan yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan dengan biakan duh tubuh vagina. 2.1.6 Komplikasi Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah naik ke panggul sehingga terjadi penyakit yang dikenal dengan penyakit radang panggul. Komplikasi jangka panjang lebih mengerikan lagi yaitu kemungkinan wanita

21

tersebut akan mandul akibat rusak dan lengketnya organ organ dalam kemaluan terutama tuba fallopii. Akibat yang sering ditimbulkan karena keputihan adalah sebagai berikut: Infeksi alat alat genetalia, menurut Manuaba (1998) : a) Vulvitis Sebagaian besar dengan gejala keputihan dan tanda infeksi lokal, penyebab secara umum jamur. Bentuk vulvitis adalah infeksi kulit berambut dan infeksi kelenjar bartholini. Infeksi kulit berambut terjadi perubahan warna, membengkak, terasa nyeri, kadang-kadang tampak bernanah dan menimbulkan kesukaran bergerak. Infeksi kelenjar bartholini terletak di bagian bawah vulva, warna kulit berubah, membengkak, terjadi penimbunan nanah di dalam kelenjar, penderita sukar untuk berjalan dan duduk karena sakit. b) Vaginitis Vaginitis merupakan infeksi pada vagina yang disebabkan oleh berbagai parasit atau jamur. Infeksi ini sebagian besar terjadi karena hubungan seksual. Tipe vaginitis yang sering dijumpai adalah vaginitis candidiasis dan trikomonalis vaginalis. Vaginitis candidiasis merupakan keputihan kental bergumpal, terasa sangat gatal dan mengganggu, pada dinding vagina sering dijumpai membran putih yang bila dihapus dapat menimbulkan perdarahan, sedangkan trikomonalis vaginalis merupakan keputihan yang encer sampai kental, kekuningan, gatal dan terasa membakar serta berbau. c) Serviksitis Serviksitis merupakan infeksi dari servik uteri. Infeksi serviks sering terjadi karena luka kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi

22

karena hubungan seksual. Keluhan yang dirasakan terdapat keputihan, mungkin terjadi kontak bleeding saat berhubungan seksual. d) Penyakit radang Panggul (Pelvic Inflammantory Disease) Penyakit radang Panggul merupakan infeksi alat genetalia bagian atas wanita, terjadi akibat hubungan seksual. Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun atau akhirnya akan menimbulkan berbagai penyulit yang berakhir dengan terjadinya perlekatan sehingga dapat menyebabkan kemandulan. Tanda-tandanya yaitu nyeri yang menusuk-nusuk di bagian bawah perut, mengeluarkan keputihan dan bercampur darah, suhu tubuh meningkat dan pernafasan bertambah serta tekanan darah dalam batas normal. 2.1.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan keputihan (fluor albus) meliputi usaha pencegahan dan pengobatan yang bertujuan untuk menyembuhkan seorang penderita dari penyakitnya, tidak hanya untuk sementara tetapi untuk seterusnya dengan mencegah infeksi berulang. Apabila keputihan (fluor albus) yang dialami adalah yang fisiologik tidak perlu pengobatan, cukup hanya menjaga kebersihan pada bagian kemaluan. Namun bila keputihan (fluor albus) yang patologik, sebaiknya segera memeriksakan ke dokter, tujuannya menentukan letak bagian yang sakit dan dari mana keputihan itu berasal. Melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu akan lebih memperjelas. Kemudian merencanakan pengobatan setelah melihat kelainan yang ditemukan. Keputihan yang patologik yang paling sering dijumpai yaitu keputihan yang disebabkan Vaginitis, Candidiasis, dan Trichomoniasis. Penatalaksanaan yang adekuat dengan menggabungkan terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi.

23

a. Terapi farmakologi Pengobatan keputihan (fluor albus) yang disebabkan oleh Candidiasis dapat diobati dengan anti jamur atau krim. Biasanya jenis obat anti jamur yang sering digunakan adalah Imidazol yang disemprotkan dalam vagina sebanyak 1 atau 3 ml. Ada juga obat oral anti jamur yaitu ketocinazole dengan dosis 2x1 hari selama 5 hari. Apabila ada keluhan gatal dapat dioleskan salep anti jamur (Jones, 2005). Pengobatan Fluor albus yang disebabkan oleh Trichomoniasis mudah dan efektif yaitu setelah dilakukan pemeriksaan dapat diberikan tablet metronidazol (Flagy) atau tablet besar Tinidazol (fasigin) dengan dosis 3x1 hari selama 7-10 hari. Pengobatan keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh vaginitis sama dengan pengobatan infeksi Trichomoniasis. yaitu dengan memberikan metronidazol atau Tinidazol dengan dosis 3x1 selama 7- 10 hari. Pengobatan kandidiasis vagina dapat dilakukan secara topikal maupun sistemik. Obat anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk yaitu: gel, krim, losion, tablet vagina, suppositoria dan tablet oral. Nama obat adalah sebagai berikut: (1) Derivat Rosanillin, Gentian violet 1-2 % dalam bentuk larutan atau gel, selama 10 hari. (2) Povidone iodine, Merupakan bahan aktif yang bersifat antibakteri maupun anti jamur. (3) Derivat Polien; Nistatin 100.000 unit krim/tablet vagina selama 14 hari. Nistatin 100.000 unit tablet oral selama 14 hari. (4) Drivat Imidazole: Topical ( Mikonazol : 2% krim vaginal selama 7 hari, 100 mg tablet vaginal selama 7 hari, 200 mg tablet vaginal selama 3 hari, 1200 mg tablet vaginal dosis tunggal. Ekonazol 150 mg tablet vaginal selama 3 hari. Fentikonazol 2% krim vaginal selama 7 hari, 200 mg tablet vaginal selama 3 hari, 600 mg tablet vaginal dosis tunggal. Tiokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari, 6,5 % krim

24

vaginal dosis tunggal. Klotrimazol 1% krim vaginal selama 7 14 hari, 10% krim vaginal sekali aplikasi, 100 mg tablet vaginal selama 7 hari, 500 mg tablet vaginal dosis tunggal. Butokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari. Terkonazol 2% krim vaginal selama 3 hari). Sistemik ( Ketokanazol 400 mg selama 5 hari. Trakanazol 200 mg selama 3 hari atau 400 mg dosis tunggal. Flukonazol 150 mg dosis tunggal.. b. Terapi Nonfarmakologi 1) Perubahan Tingkah Laku Keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di lingkungan yang hangat dan basah maka untuk membantu penyembuhan menjaga kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat (Jones,2005). Keputihan bisa ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang terinfeksi oleh karena itu sebaiknya pasangan harus mendapat pengobatan juga. 2) Personal Hygiene Memperhatikan personal hygiene terutama pada bagian alat kelamin sangat membantu penyembuhan, dan menjaga tetap bersih dan kering, seperti penggunaan tisu basah atau produk pantyliner harus betul-betul steril. Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan

sembarangan, misalnya tanpa kemasan ditaruh dalam tas bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja pantyliner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi. Memperhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil. Setelah bersih, mengeringkan dengan tisu kering atau handuk khusus. Alat kelamin jangan dibiarkan dalam keadaan lembab.

25

Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. 3) Pengobatan Psikologis Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan. Tidak jarang keputihan yang mengganggu, pada wanita kadang kala pemeriksaan di laboratorium gagal menunjukkan infeksi, semua pemgujian telah dilakukan tetapi hasilnya negatif namun masalah atau keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak disebabakan oleh infeksi melainkan karena gangguan fsikologi seperti kecemasan, depresi, hubungan yang buruk, atau beberapa masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan konsultasi dengan ahli psikologi. Selain itu perlu dukungan keluarga agar tidak terjadi depresi. 4) Alat pelindung Memakai alt pelindung terhadap kemungkinan tertularnya PHS dapat dilakukan dengan menggunakan kondom. Kondom cukup efektif terhadap penularan PHS , termasuk AIDS. 5) Pemakaian obat atau cara profilaksis Pemakaian antiseptik cair untuk membersihkan vagina pada hubungan yang dicurigai menularkan penyakit kelamin relatif tidak ada manfaatnya jika tidak disertai denagn pengobatan terhadap mikroorganisme penyebab penyakitnya. Pemakaian obat antibiotik dengan dosis profilaksis atau dosis yang tidak tepat juga akan merugikan karena selain kuman tidak terbunuh juga terdapat kemngkinan kebal terhadap obat jenis tersebut.

26

Pemakaian obat mengandung estriol baik cream maupun obat minum bermanfaat pada pasien menopause dengan gejala yang berat. Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim sebagai tindakan mencegah berulangnya keputihan yaitu dengan: 1. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan. 2. Setia kepada pasangan. 3. Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasakan untuk mengganti pembalut, pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak. 4. Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang. 5. Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina. 6. Hindari penggunaan bedak talkum, tisu atau sabun dengan pewangi pada daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi. 7. Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi dan sebagainya. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.

27

2.1.8

Dampak kejiwaan Wanita yang menderita keputihan acapkali mempunyai masalah dengan reaksi kejiwaannya apalagi yang memang sudah mempunyai status kejiwaan yang labil. Reaksi kejiwaan ini bermanifestasi sebagai rasa kecemasan yang berlebihan. Kecemasan ini muncul akibat rasa malu atau sedih akibat terkena penyakit, atau tumbuhnya perasaan taku atau khawatir kibat dari penyakit ini yang dapat menyebabkan kanker. Kadang kadang wanita yang menderita keputihan (fluor albus) enggan bersenggama dengan suaminya karena kekhawatiran akan mengotori suami atau takut suami merasa jijik dengan dirinya. Seringkali pula wanita merasa suaminya yang bersalah sehingga menyebabkan dirinya menderita keputihan sehingga enggan melakukan senggama. Ada pula wanita tertentu yang berusaha membatasi kegiatan sosialnya dalam pergaulan seharihari karena khawatir tidak mampu melakukan tugasnya lagi dengan baik, dan berusaha menjauhi kesenangannya sehari hari seperti berolahraga atau mengerjakan hobinya karena merasa dirinya sakit, takut ketahuan orang ain, atau takut akan merugikan lingkungan dengan menimbulkan bau yang tidak sedap (Sianturi, 1996).

2.2 2.2.1

Penggunaan Celana Ketat (Jeans) Sejarah Celana Jeans Jeans adalah simbol dari gaya hidup barat liar (AS). Jeans terus disukai oleh para penambang, petani, peternak, pekerja kereta api dan intelektual karena daya tahan material serta stroke kuat. Sejak akhir abad ke-70, Jeans menjadi terkenal di dunia dan menjadi pernyataan fashion untuk kekayaan

28

dan kemakmuran. Dari sana, jeans dicintai oleh semua usia untuk membentuk gaya flow jeans dari waktu ke waktu. Pemakai jeans pertama kali adalah pelaut dan penambang emas di California. Denim sendiri berasal dari kata Serge de Nmes yang merupakan sebuah kota di Perancis, sedangkan jeans berasal dari Genoese yang merupakan sebutan bagi para pelaut dari Italia yang selalu memakai baju berwarna biru saat berlayar. Dulu, denim sebenarnya merupakan paduan dari wool dan cotton atau wool dan silk (tidak tahu mana yg benar) tetapi setelah abad ke-19, hanya memakai cotton saja. Warna biru dari jeans merupakan hasil dye dari tanaman indigo yang telah dipergunakan sejak 2500 tahun sebelum masehi. Pabrikpabrik jeans mengimport indigo plant dari India sampai akhirnya sintetik indigo diciptakan. Sebuah sumber mengatakan bahwa Indonesia dulu merupakan salah satu penyuplai Indigovera (emas biru). Ambarawa dan sekitarnya merupakan ladang terbesar Indigovera. Natural indigo sangat mahal tetapi masih bisa ditemui pada jeans-jeans sekarang. Namun, disertai dengan harga yang melambung tinggi. Sintetik indigo ditemukan oleh Adolf Von Baeyer pada tahun 1878. Jeans mulai populer pada tahun 1950, dan pada tahun 1957, mencapai penjualan sebesar 150 juta pasang di seluruh dunia. Tahun 1967, 200 juta pasang terjual di Amerika, 500 juta di tahun 1977, dan puncaknya 520 juta pada tahun 1981. Jeans pun menjadi salah satu item fashion paling populer.

29

2.2.2

Macam-Macam Bahan Jeans a. Arcuate Arti harafiahnya yaitu sesuatu yg menyerupai sebuah lengkungan. Pertama kali digunakan oleh Levis di kantong belakang jeans dengan doublestitching. Dikenal sebagai salah satu clothing trademark tertua di dunia. Levis mempatenkan arcuate stitching sejak tahun 1943. b. Broken Twill Dibuat pertama kali oleh Wrangler. Pada dasarnya merupakan gabungan antara left hand twill dan right hand twill. Dibuat untuk mencegah leg twisting yang terjadi natural karena arah rajutan yg mengarah ke kanan atau ke kiri. c. Chain Stitch Merupakan teknik jahit yang paling penting pada jeans. Pada teknik jahit ini, dibutuhkan 2 buah benang yang akan saling mengunci satu sama lain dan membuat pola seperti rantai. Teknik jahitan ini merupakan salah satu teknik jahit yang akan menjamin kekuatan yang lebih dibanding jahitan biasa. Biasanya chainstitch digunakan di bagian-bagian yang merupakan stress point seperti inseam dan pinggang. Selain karena kekuatannya, jenis jahitan ini juga akan memberikan roping effect di bagian hem. Salah satu mesin jahit yang sudah digunakan sejak jaman dulu dan terkenal karena kemampuan membuat chainstitch-nya adalah Union Special. d. Distress / Washed / Pre-washed Proses untuk membuat jeans memiliki efek sudah dipakai sebelumnya. Bisa berupa bentuk-bentuk lobang kecil, robek-robek, atau paling minimum warna garis-garis muda dan efek denim bleed.

30

e. Downsizing Downsizing jeans rata2 dikarenakan oleh perusahaan yg membuat jeans dalam vanity size (bukan true waist). Tidak ada specific rule untuk downsizing karena setiap orang mempunyai bentuk tubuh yg berbeda. Downsize sendiri dilakukan orang juga untuk mendapatkan fit yang lebih slim ato lebih skinny. Banyaknya stretch juga harus dipertimbakan dalam downsizing. f. Hem Bagian dimana 2 potongan bahan menjadi satu. Ada lagi istilah hemmed, biasanya digunakan ketika kita ingin memotong jeans kita ke panjang yang diinginkan. g. Honeycomb / Whiskers Efek yang didapatkan ketika bahan denim yang keras terlipat di bagian tertentu seperti bagian belakang lutut dan paha bagian atas. lipatan-lipatan ini akan membentuk seperti sebuah pattern. h. Indigo Salah satu jenis pewarna yang paling tua di dunia ini yang bisa dilacak dari 10 tahun sebelum masehi dan masih digunakan sampai saat ini. Awalnya merupakan jenis pewarna yang dapat diekstrak dari tanaman indigofera, tetapi pada akhir abad 19, Adolf von Baeyer melakukan riset untuk membuat jenis pewarna yang sama yang dapat dicapai melalui proses sintesis kimiawi. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari kedua jenis natural dan sintesis ini, bahkan ahli indigo pun tidak dapat melihat perbedaannya. i. One-wash Istilah yang pada umumnya dipakai untuk jeans unsanforized yang sudah di rendam sekali di air untuk menghilangkan penyusutan.

31

j. Raw Raw/Dry denim adalah bahan denim yang belum mendapatkan posttreatment, dalam hal ini yaitu denim yang baru selesai dibuat langsung dijual. Hal yang dapat dilihat untuk membedakan bahan raw dengan yg tidak adalah bahan raw cenderung keras dan warnanya lebih gelap. Biasanya setiap vendor jeans akan memberikan info lebih lanjut mengenai raw atau tidaknya produk mereka. Uniknya raw/dry denim adalah memudarnya warna dyenya seiring dengan frekuensi pemakain. Dan efek pemudaran natural inilah yang menjadi daya tarik bagi para denim afficianado. Lain dengan denim yg prewashed dimana efek memudarnya telah dibuat secara artificial dengan mesin2 dan bahan2 kimia, raw denim akan membentuk efek pemudarannya sesuai dengan bentuk tubuh dan aktivitas si pemakai. Untuk memfasilitasi proses ini, biasanya raw denim jarang dicuci (pada umumnya setelah 6 bulan pemakaian effektif baru dicuci). k. Rivets Sebuah benda kecil berbentuk bundar yang dipasang di daerah seperti pinggiran kantong, sebagai penambah kekuatan (supaya tidak cepat copot). Biasanya terbuat dari tembaga. Levis pertama kali memperkenalkan Hidden Rivets di kantong belakang, karena sebelumnya rivets di kantong belakang dianggap menggangu karena merusak sofa yang biasa diduduki dan juga saddle pada saat berkuda. l. Rope Dyeing Teknik pewarnaan dimana ratusan benang dipilin bersama sehingga membentuk seperti tali (rope), lalu direndam di suatu kolam pewarna, setelah itu diangkat dan dioksidasi. Proses ini dilakukan beberapa kali sampai warna

32

yang diinginkan tercapai. Salah satu keuntungan teknik ini adalah bagian permukaan benang memiliki warna yg lebih gelap dibanding bagian dalamnya, sehingga menimbulkan efek fading seperti vintage denim. m. Selvedge / Selvage Selvedge line itu berasal dari Amerika or USA tahun 1800an. Awalnya orang orang Amerika memperkenalkan metode ini karena dulu belum ada mesin Obras. Oleh karena itu mereka menutup pinggir fabric supaya hasil tenunnya tidak lepas. Di era penrindustrian yg di mulai 1930s, di mana pabrik pabrik denim di Amerika mulai memakai mesin loom yg otomatis alias yg lebih maju. Orang -orang jepang saat itu mulai membeli beberapa mesin dr USA, dan sampai sekarang masih di lestarikan di Jepang terutama di desa Okaya atau Rampuya dan mesin loom itu sudah puluhan tahun masih di pakai. Hasil produksi dari old loom itu hanya bisa menghasilkan lebar denim 70-80 cm saja karena jaman dulu tidak bisa bikin denim lebar lebar Selvedge adalah untaian atau uliran pinggir yg paralel. tujuan dari pembuatan selvedge untuk menghindari kain yg sudah di tenun agar tidak dedel atau tenunnannya tidak terlepas. Untuk itu setiap pinggirnya akan di woven. Untuk industri besar terutama bagi mills yg sudah mengunakan Big Loom atau machinery loom akan tidak dapat memproduksi selvedge line. Biasanya mesin tenun tua dari tahun perakitan 1890-1930 masin tenunnya masih bisa membuat selvedge line. 2.2.3 Trend Jeans di Kalangan Masyarakat Jeans telah dikenal secara luas oleh para remaja. Celana panjang berbahan denim tersebut pertama kalinya dibuat untuk keperluan angkatan laut pada tahun 1560-an di Genoa, Italia agar dapat digunakan dalam keadaan

33

kering atau basah. Bahan denim itu disebut jeans ceritanya berasal dari bahasa Perancis, bleu de Genes atau celana biru dari Genoa, dan kita kenal hingga sekarang dengan Blue Jeans. Pada abad 18 jeans mulai masuk Amerika Serikat, karena bahannya yang tidak mudah sobek disukai oleh kaum buruh yang pada waktu itu banyak memakainya. Jeans dirancang sebagai pakaian wajib untuk buruh kasar yang bekerja di lapangan karena teksturnya yang merupakan katun kasar yang terdiri dari serat-serat kasar berwarna putih dan biru, bahan ini memiliki kekuatan yang tangguh, awet dan dianggap sangat pas untuk medan di lapangan. Satu abad kemudian, seorang pengusaha sukses Amerika pada waktu itu akhirnya mengangkat jeans menjadi pakaian yang tidak hanya kaum buruh saja, tapi juga dari berbagai golongan. Jeans mulai berkembang dengan berjalannya waktu. Pada abad 19 jeans digunakan oleh para penambang emas di California. Para penambang emas ingin mempunyai pakaian yang kuat dan tidak mudah robek. Pada tahun 1853, Leob Strauss memulai bisnis grosir dan menyediakan pakaian. Tahun 1930-an, western koboi yang sering mengenakan jeans di film-film menjadi sangat populer. Tahun 1940-an jeans akhirnya juga disukai oleh para serdadu Amerika pada Perang Dunia II yang memakainya saat sedang tidak bertugas. Tahun 1950-an, jeans mendadak menjadi sangat digemari di kalangan anakanak muda berkat penampilan James Dean, seorang bintang belia yang meninggal muda karena kecelakaan di saat namanya sedang di puncak ketenaran dengan celana jeans-nya. Namun, beberapa sekolah di Amerika Serikat melarang siswa memakai denim. Di tahun 1960-an dan awal 1970-an tren pemakain jeans mulai kembali karena pada saat itu sedang marak gaya hidup hipies yang memakai

34

jeans dengan berbagai aksesori, manik-manik, sulaman, bahkan dilukis dengan cat. Pada akhir tahun 1970 hingga 1980 penggunaan jeans makin marak karena makin banyak artis dan pesohor yang memakainya.Celana jeans menjadi pakaian fashion yang tinggi sehingga penjualan jeans semakin meningkat. Sekitar tahun 1990-an, pasar kaum muda tidak terlalu tertarik pada gaya jeans. Generasi terbaru pemberontak pemuda tertarik pada bahan kain dan gaya celana kasual. Pada tahun 2000, produk baru telah diluncurkan di Eropa dan diperkenalkan kepada pasar Amerika Serikat. Oleh karena itu, sampai saat ini jeans sudah menjadi bagian dari perkembangan mode dunia. Seiring dengan perjalannya waktu penggunaan dan popularitas jeans sekarang semakin meningkat. Jeans mulai digunakan oleh perancang Internasional. Saat ini, variasi program jeans semakin beragam dengan berbagai gaya dan campuran warna sandwhesed, model jeans juga terus berganti dari gaya baggy, melebar di ujung pipa bawah, ketat membalut kaki, sebagai celana panjang, celana tiga perempat, hingga hotpants dan hipster. Warna jeans juga beraneka ragam tidak terbatas hanya pada warna biru. Bukan hanya penampilan, kenyamanan mengenakannya juga bertambah dengan

ditemukannya serat Lycra. Harga jeans pun variatif tergantung dari pembuatnya, mulai dari Rp 120.000 per celana sampai lebih dari 200 dollar AS. Dengan kata lain, denim sebagai produk generik bisa disebut sebagai pakaian yang paling egaliter karena semua orang mau memakai dan bisa memakai. Beberapa tahun terakhir, menggunakan celana jeans ketat (model pensil) menjadi tren di kalangan anak muda di Indonesia. Bahkan, salah satu band papan atas di Indonesia menjadi salah satu pecinta celana jenis ini.

35

Celana ini bukan sekedar ketat, tapi juga menempel seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya. Memang tak terhitung banyaknya pengguna celana jeans ketat. Namun, mungkin hanya segelintir yang mengerti efek negatif memakai celana jenis itu. 2.2.4 Efek Penggunaan Celana Ketat Dr. Malvinder Parmar dari Timmins & District Hospital, Ontario, Kanada, baru-baru ini menyatakan celana ketat sepinggul berpeluang menimbulkan penyakit paresthesia. Istilah paresthesia sendiri, menurut Kamus Kedokteran Dorland, berarti perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar dan sejenisnya. Dalam tulisannya di Canadian Medical Association Journal, Parmar mengaku, setahun terakhir ini kedatangan cukup banyak pasien yang bisa dikategorikan sebagai korban paresthesia. Dia sudah mengobati sedikitnya tiga wanita berusia 22-35 tahun yang mengeluhkan rasa panas dan gatal di sekitar paha. Gangguan saraf ringan itu terjadi lantaran mereka suka sekali memakai celana ketat sebatas pinggul, setidaknya dalam enam bulan terakhir. Pendapat ahli medis tersebut itu diamini tenaga medis lokal Dr. Andradi Suryamiharia Sp.S(K), spesialis saraf yang sehari-harinya bertugas di RSUPN Cipto Mangun Kusumo, Jakarta. Menurut beliau, paresthesia gampang dikenali dan dua gejalanya kesemutan dan lama-kelamaan berubah menjadi mati rasa. Kesemutan terjadi lantaran terganggunya saraf tepi, yakni saraf yang berada di luar jaringan otak di sekujur tubuh. Umumnya karena tertekan, infeksi, maupun gangguan metabolisme. Menurut Dr. Kusmarinah Bramono SpKK (2002), spesialis kulit dan kelamin RSCM, pada dasamya semua jenis pakaian ketat berpotensi

36

menimbulkan gangguan kulit. Salah satunya masalah kelembapan yang memungkinkan jamur subur berkembang biak. Belakangan ini, pasien korban jamur yang berobat ke Klinik Kulit dan Kelamin RSCM meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2002, sekitar 35% pasien terbukti kena serangan jamur. Usia mereka berkisar 15 - 45 tahun. Meski tak semuanya berhubungan dengan kebiasaan berbusana, tetapi kecenderungan meningkatnya jamur sebagai sumber penyakit kulit mesti diwaspadai. Idealnya, di negara tropis seperti Indonesia, pakaian ketat atau terlalu tebal memang sebaiknya dihindari. Kulit jadi kurang ruang untuk bernafas, sementara cairan yang keluar dari tubuh lumayan banyak. Akibatnya, permukaan kulit menjadi lembap. Jika tak diimbangi busana yang tepat, jamur akan lebih mudah berkembang biak. 2.3 Hubungan Celana Jeans Dengan Keputihan (Fluor Albus) Semua jamur tumbuh subur pada kedaan yang hangat dan lembab. Sirkulasi udara segar di sekitar vulva (genital luar) penting karena dapat menghambat pertumbuhan abnormal jamur. Kain sintetik seperti nilon dan jeans menahan kelembapan karena jalinan serat-seratnya terlalu halus dan rapat sehingga sirkulasi yang normal tidak dapat berlangsung karena udara tidak dapat melewatinya. Dengan menggunakan celana panjang dan celana yang ketat kita menghalangi permukaan organ seksual untuk mendapatkan udara segar agar permukaan itu tetp kering, sehingga keputihan dan infeksi lainnya dapat dicegah. Celana panjang yang ketat juga dapat menyebabkan keputihan (fluor albus) karena merupakan penghalang terhadap udara yang berada di sekitar

37

daerah genetalia dan merupakan perangkap keringat pada daerah selangkangan. Saat berjalan, celana jeans yang bergesek menimbulkan panas dapat memperburuk keadaan. Lapisan yang tebal denim itu sendiri sudah cukup jelek. Bila pemakaian jeans digabungkan dengan celana nilon dibawahnya, efeknya sangat membahayakan (Clayton, 1986). Apabila hal ini terjadi terus menerus maka, daerah itu akan menjadi lembab dan mudah sekali memicu tumbuhnya jamur dimana jamur tersebut merupakan pencetus terjadinya keputihan. Disamping itu resiko untuk terjadinya iritasi maupun infeksi juga bertambah besar. Penelitian bagi masalah keputihan telah dilakukan di Kota Malang, Indonesia oleh dr. Prita Muliarini, SpOG pada wanita yang pernah mengalami keputihan di Kota Malang. Responden yang dilibatkan sejumlah 180 orang. Sasaran penelitian terutama wanita Kota Malang yang pemah mengalami keputihan. Menurut penelitian tersebut, kebiasaan menggunakan pakaian ketat menjadi factor predisposisi terjadinya keputihan. Penggunaan celana ketat akan meningkatkan kelembaban dan suhu di daerah perineal. Kondisi itu bisa mempemudah tumbuh kembangnya jamur. Penggunaan busana, seperti korset, stoking, atau celana yang ketat dan terbuat dari bahan tidak menyerap keringat juga bisa menimbulkan keputihan. Hasilnya, keputihan (fluor albus) ini bisa karena 25%-50% candidiasis, 20%-40% bacterial vaginosis dan 5%-15% trichomoniasis. Penilitian lain yang membahas masalah hubungan penggunaan celana jeans dengan kejadian keputihan (fluor albus) juga pernah dilakukan oleh Amelia Indah Mawarrini pada tahun 2004. Penelitian dilakukan di Poliklinik Rawat Jalan Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, dengan jumlah responden

38

yang diteliti sebanyak 80 orang wanita berusia antara 15-45 tahun. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemakaian celana dalam yang ketat dengan kejadian kandidasis vaginalis dengan OR=5,17; ada hubungan antara bahan celana dalam dengan kejadian kandidasis vaginalis dengan OR=3,00; dan ada hubungan antara pemakaian celana jeans yang ketat dengan kejadian kandidasis vaginalis dengan OR=5,29.