Anda di halaman 1dari 9

HUTANG INDONESIA

Posisi utang luar negeri Indonesia


Sejak krisis ekonomi tahun 1997, Indonesia terus menerus dibelit oleh utang. Kurang lebih separuh dari anggaran negaranya adalah untuk pembayaran utang.

Jumlah dan asal utang Indonesia


Utang luar negeri Indonesia lebih didominasi oleh utang swasta. Berdasarkan data di Bank Indonesia, posisi utang luar negeri pada Maret 2006 tercatat US$ 134 miliar, pada Juni 2006 tercatat US$ 129 miliar dan Desember 2006 tercatat US$ 125,25 miliar. Sedangkan untuk utang swasta tercatat meningkat dari US$ 50,05 miliar pada September 2006 menjadi US$ 51,13 miliar pada Desember 2006. Negara-negara donor bagi Indonesia adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Jepang merupakan kreditur terbesar dengan USD 15,58 miliar. Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar USS 9,106 miliar. Bank Dunia (World Bank) sebesar USD 8,103 miliar. Jerman dengan USD 3,809 miliar, Amerika Serikat USD 3,545 miliar Pihak lain, baik bilateral maupun multilateral sebesar USD 16,388 miliar.

Pembayaran utang
utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN) yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52% dari total penerimaan pajak yang dibayarkan rakyat sebesar Rp 219,4 triliun. Jumlah utang negara Indonesia kepada sejumlah negara asing (negara donor)di luar negeri pada posisi finansial 2006, mengalami penurunan sejak 2004 lalu sehingga utang luar negeri Indonesia kini 'tinggal' USD 125.258 juta atau sekitar Rp1250 triliun lebih. Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada IMF. Pelunasan sebesar 3,181,742,918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang seharusnya jatuh tempo pada akhir 2010. Ada tiga alasan yang dikemukakan atas pembayaran utang tersebut, adalah meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak kuartal ketiga 2005 dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen; kemampuan Bank Indonesia (BI) membayar cicilan utang kepada IMF; dan masalah cadangan devisa dan kemampuan kita (Indonesia) untuk menciptakan ketahanan.

Angka kemiskinan dan pengangguran


Sejak krisis, angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Berdasar data Badan Pusat Statistik Nasional Indonesia (BPS) bahwa 17,7 persen atau 39 juta penduduk Indonesia tergolong kategori penduduk miskin. Pengangguran sebanyak 10,4 persen. Diantara 100 juta angkatan kerja menganggur, 10,5 juta pengangguran terbuka.

Perbaikan ekonomi makro


Adanya perbaikan ekonomi makro ditandai dengan:

Rendahnya angka inflasi pada September 2006 yang hanya mencapai 0,38 persen yang membuat ekspektasi inflasi tahun 2006 kembali satu digit dibawah 8 persen. Pembayaran utang yang berimbang (balance of payment) yang membaik Nilai tukar rupiah yang cukup stabil, yaitu sebesar Rp.9.200 per USD.

Angka-angka tersebut cukup menjanjikan bagi peningkatan perekonomian.

Total Utang Negara


Januari, Utang Indonesia USD178,041 Miliar
Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah utang Indonesia hingga Januari 2010 mencapai USD178,041 miliar. Nilai tersebut naik 17,5 persen dari periode sama tahun lalu sebesar USD151,457 miliar. "Utang tersebut dikontribusikan dari utang jangka pendek sebesar USD25,58 miliar dan utang jangja panjang sebesar USD152,45 miliar," ungkap Senior Economic Analyst Investor Relations Unit International Directorate BI Elsya Chani selepas Acara BI Bareng Media di Press Room BI, Jakarta, Jumat(16/4/2010). Selain itu, utang ini juga dikontribusikan dari utang pemerintah sebesar USD93,85 miliar, dari bank sentral sebesar USD8,9 miliar dan dari swasta sebesar USD75,2 miliar. Sedangkan posisi utang tersebut menurut jenis mata uang adalah USD104,58 miliar, JPY35,699 miliar, SDR6,223 miliar, GBP891 juta, EUR8,862 miliar, CHF374 juta, Rp18,773 triliun dan lainnya sebesar USD2,635 miliar. "Memang secara nominal utang Indonesia ada kenaikan namun jika melihat rasio debt to GDP kita terus menurun," tambahnya. Per 2009, rasio Debt to GDP Indonesia mencapai 28,32 persen. Sedangkan per Februari 2010 sudah mencapai 27,08 persen. Padahal pada 2004 masih 56,6 persen. "Hal ini berarti rasio utang Indonesia terhadap pendapatan semakin turun," pungkasnya. Peringkat utang Indonesia meningkat dari level BB menjadi BB plus menurut lembaga keuangan pemeringkat internasional, Fitch Ratings. Itu artinya, Indonesia tinggal satu takik lagi menuju peringkat utang tertinggi yang biasa disebut investment grade atau peringkat investasi. Peningkatan peringkat tersebut penting artinya bagi Indonesia karena akan berdampak pada turunnya biaya penerbitan surat utang. Itu artinya, isu yang sama akan berdampak positif terhadap penerbit obligasi terbesar di Indonesia, yakni pemerintah, karena ongkos penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam bentuk imbal hasil dan kupon akan semakin ringan. Peringkat yang dinaikkan menjadi BB plus adalah level untuk surat utang global (diterbitkan dalam valuta asing) dan yang berdenominasi rupiah. Kenaikan ini menunjukkan bahwa peringkat terhadap adanya peluang gagal bayar atas obligasi dari Indonesia berada di posisi stabil. Pemeringkatan ini merefleksikan bahwa Indonesia sudah mulai pulih dari tekanan krisis keuangan global yang sangat parah pada tahun 2008-2009. Itu didukung oleh peningkatan yang berkelanjutan pada pengelolaan keuangan publik di Indonesia. Demikian dikatakan Ai Ling Ngiam selaku Direktur Tim Pemeringkat.

Total Utang dalam Negeri dalam Bentuk Surat Berharga (Sekuritas) = 1000 Triliun Lebih.

Total Utang LN = 175.493 Juta Dollar US = 1649 Triliun Rupiah ( Dollar = Rp 9400 )

Jadi Grand Total Semua Utang Indonesia adalah sekitar = Rp 1000 T + Rp 1649 T = Rp 2649 T (Dua Ribu Enam Ratus Empat Puluh Sembilan Triliun Rupiah).

Menteri keuangan menjelaskan bahwa utang Indonesia tak mengkhawatirkan


Pemerintah memastikan tidak ada masalah dengan utang, baik utang luar negeri maupun dalam negeri. Bahkan tingkat utang Indonesia semakin membaik meski krisis utang Eropa sedang terjadi. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dalam 5-10 tahun terakhir, ekspektasi atas utang Indonesia menguat signifikan. "Terhadap ekspektasi surat utang Indonesia karena APBN masih dianggap relatif baik, kinerja bonds kita terhadap 5-10 tahun yieldnya menunjukkan pembaikan yang cukup signifikan," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa 9 Februari 2010.

Sri Mulyani juga yakin dari sisi rencana penerbitan surat utang Indonesia tahun ini, kapasitas market yang tersedia diyakini masih bisa menyerap. "Saya tidak melihat ada persoalan yang mengkhawatirkan," kata dia. Dalam kasus krisis utang Eropa, pemerintah masih akan terus melihat penguatan euro terhadap dolar. Pasalnya pada dua tahun lalu, semua orang menganggap euro adalah mata uang yang paling terpercaya karena dia ditopang oleh suatu kawasan yang sehat. Tapi nyatanya sekarang, banyak negara-negara terutama di Eropa barat ekonominya mulai merosot. "Kami akan lihat pengaruhnya akan kelihatan dari nilai tukar. Tapi komposisi melemahnya dolar ini, akan dikombinasikan dengan yen yang juga ikut mempengaruhi," kata dia. Saat ini harga minyak mentah di bursa New York semakin mendekat ke level US$ 72/barel. Para investor melihat harga minyak sudah sedemikian rendah dalam beberapa pekan terakhir sehingga mereka melakukan aksi borong, namun kenaikan harga tersendat oleh kekhawatiran investor atas krisis utang di Eropa. Harga minyak diperkirakan rentan untuk kembali turun. Pasalnya, para investor minyak turut prihatin atas krisis utang di sejumlah negara Eropa, yaitu Yunani, Spanyol, dan Portugal. Kesulitan negara-negara dalam mengatasi besarnya defisit anggaran membuat banyak investor masih mengalihkan investasi mereka dari komoditas dan saham ke perdagangan dolar, yang dipandang lebih aman. Itulah sebabnya kurs dolar mencapai rekor tertinggi dalam delapan bulan terakhir atas euro. Pada perdagangan Senin, kurs dolar atas euro menguat dari US$1,3585 pada Jumat pekan lalu menjadi US$1,3682. Jerman yang merupakan salah satu pemberi utang ke Indonesia mengurangi utang Indonesia sebesar 50 juta euro atau setara dengan USD 72,6 Juta pada tahun 2008, sama hal nya dengan Amerika Serikat yang merupakan salah satu sumber utang terbesar Indonesia menghapuskan utang Indonesia sebesar USD 30 juta untuk jangka waktu delapan tahun pada tahun 2009.

Menteri Keuangan mengatakan lima alas an Pendorong kenaikan nominal utang


Pemerintah mengungkapkan sedikitnya ada lima alasan yang mendorong kenaikan nilai nominal utang dari tahun ke tahun. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, saat menanggapi pandangan fraksi Partai Persatuan Pembangunan dan Gerindra terkait jumlah utang luar negeri dan bunga utang luar negeri yang terus meningkat. Dalam rapat paripurna di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/2/2010), Sri menjelaskan, kenaikan nominal utang disebabkan adanya defisit APBN setiap tahun lalu kebutuhan pelunasan (refinancing) utang lama, perubahan nilai tukar rupiah yang membuat perubahan nilai nominal utang luar negeri dalam rupiah. Penambahan utang, lanjutnya, juga terkait pengeluaran pembiayaan untuk pendanaan risiko fiskal dan partisipasi pemerintah dalam menunjang program pembangunan infrastruktur. "Kelima karena berkurangnya sumber pembiayaan APBN dari non-utang, misalnya privatisasi BUMN dan penjualan aset program restrukturisasi," papar Menkeu. Dia melanjutkan, perkembangan rasio utang terhadap PDB dan rasio bunga utang terhadap total utang negara selama empat tahun terakhir berada dalam tren menurun. Ini, terangnya, menunjukan, kebijakankebijakan ekonomi pemerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi yang baik dengan tambahan utang yang terkendali.

Peringkat Utang Indonesia Naik


Lembaga pemeringkat internasional Standard and Poors (S&P) menaikkan long-term foreign currency rating (peringkat utang) Indonesia menjadi BB dari semula BB- dan long-term local currency tetap di BB+. "Outlook untuk kedua rating ini ditetapkan positif," demikian dikatakan Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Dyah NK Makhijani, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta. Dengan peningkatan rating ini, lanjut dia, Indonesia tinggal dua notch lagi menuju investment grade, dan outlook positif menunjukkan bahwa besar kemungkinan Indonesia untuk memperoleh peningkatan rating lagi dalam satu tahun ke depan. Sovereign Analyst Utama S&P untuk Indonesia Agost Benard, mengatakan bahwa faktor utama peningkatan rating ini adalah rasio utang pemerintah yang secara bertahap terus membaik."Peningkatan cadangan devisa yang menunjang penurunan tingkat kerentanan terhadap shock dan istorikal pengelolaan kebijakan fiskal yang berhati-hati," ujar Bernard alam siaran persnya.

Review Hutang Indonesia


Ada beberapa ilustrasi yang saya dapatkan: Ilustrasi Pertama, Saya memiliki warisan harta yang cukup besar, namun penghasilan saya tidak sanggup menanggung beban keluarga yang sangat banyak dan cukup dinamis, mau tak mau saya harus utang ke orang lain, sekedar untuk menutup defisit anggaran belanja rumah tangga saya, syukur-syukur bisa untuk modal menambah penghasilan keluarga saya. Dan sumpah saya adalah tidak akan menjual harta warisan yang sangat bernilai itu hanya untuk menutup defisit keuangan keluarga saya tersebut. Ilustrasi Kedua, Hampir seluruh negara di dunia saat ini mempunyai utang. Utang memang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara ketika ekonominya melambat, ketika mengalami resesi, menutup kekurangan pembiayaan anggaran, ketika sumber pendapatan dari dalam negeri mengalami masalah akibat keadaan ekonomi yang buruk, maupun untuk membangun proyek infrastruktur besar dimana swasta sulit diharapkan keterlibatannya. Sering kali keuntungan secara komersial dari investasi semacam ini kecil. Namun, dampak realisasi investasi terhadap kesejahteraan masyarakat, keuntungan pelaku bisnis secara tidak langsung, maupun keadaan perekonomian secara keseluruhan biasanya besar. Ilustrasi ketiga, setiap bayi yang lahir dan berkewarganegaraan Indonesia kini sudah harus menanggung utang sebesar tujuh juta rupiah Penjelasan: Awal April 2009 menjelang pesta demokrasi Indonesia lalu, masyarakat kita kembali dibingungkan oleh informasi mengenai utang luar negeri yang disebut-sebut tertinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan

perhitungan yang dilakukan oleh ekonom Tim Indonesia Bangkit (TIB), posisi jumlah utang luar negeri RI per Februari 2009 mencapai Rp 1.667 triliun atau setara dengan 65,72 juta dolar AS. Seperti dikatakan calon presiden yang juga ketua TIB Rizal Ramli waktu itu, bahwa dalam lima tahun terakhir jumlah utang Indonesia meningkat sebesar 31 persen dari Rp 1.275 triliun pada Desember 2003 menjadi Rp 1.667 triliun pada bulan Januari 2009 atau naik kurang lebih sebesar Rp 392 triliun. Selain itu, dalam perhitungan secara beban utang per kapita, beban utang meningkat dari Rp 5,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 7,7 juta per orang per tahun. Dengan kata lain beban masyarakat menjadi lebih besar karena pertambahan beban utang. Ujung-ujungnya, TIB lalu meminta pemerintah, dalam hal ini Presiden mencabut iklan partainya yang mengklaim berhasil menurunkan utang Indonesia. Sekedar catatan, kenaikan utang Indonesia yang signifikan terjadi setelah krisis moneter 1997/1998 lalu. Kenaikan ini terjadi dalam rangka untuk membiayai BLBI dan menyelamatkan perbankan nasional. Pada saat yang bersamaan, pelemahan rupiah terhadap dollar AS sebagai standar kurs utang waktu itu, membuat utang luar negeri kita berlipat-lipat dalam waktu singkat. Utang negara ini naik dari sekitar Rp 129 triliun pada tahun 1996 menjadi sekitar Rp 1.234 triliun pada tahun 2000, atau berlipat sepuluh kali lipat. Sebagai masyarakat tentu kita harus mampu melihat secara kritis. Dalam hal utang tersebut, terkesan perhitungan utang per kapita dan nominal utang kita meningkat. Namun perlu dingat pengukuran yang sering digunakan untuk menganalisis utang luar negeri adalah membandingkannya dengan Produk Domestik Bruto (PDB). Pengukuran rasio utang terhadap PDB merupakan normal practice yang umum digunakan dalam analisa ekonomi secara internasional. Karena utang luar negeri suatu negara dibutuhkan salah satunya untuk mengatasi masalah defisit anggaran negara maupun untuk menstimulus perekonomian. Dan PDB adalah indikator yang tepat untuk mengukur besaran aktivitas perekonomian yang ikut distimulus, salah satunya oleh utang tersebut. Berdasarkan rasio utang luar negeri terhadap PDB, posisi utang Indonesia selama sepuluh tahun terakhir ini tercatat turun tajam. Dari sekitar 88 % pada tahun 2000, lalu turun menjadi 56 % pada tahun 2004, dan pada tahun 2009 lalu, rasio tersebut semakin turun hingga sekitar 32 persen. (www.cdt31.org) Sebenarnya beberapa negara juga menerbitkan surat utang untuk membiayai kegiatan negaranya. Pemerintah Amerika Serikat misalnya, ketika pecah Perang Dunia Kedua, mereka menerbitkan surat utang dalam jumlah yang sangat besar untuk membiayai pasukannya dalam medan perang. Utang pemerintah AS mengalami kenaikan dari 59 milyar dollar pada tahun 1940 menjadi sekitar 260 milyar dollar setelah perang tersebut usai. Begitu juga pemerintah Australia pun menerbitkan utang untuk membiayai keterlibatannya pada Perang Dunia Pertama dan Kedua. Bisa dibayangkan, untuk sekedar biaya perang saja mereka rela utang dalam jumlah besar, apalagi untuk memberi makan rakyatnya. Di sini saya tidak akan membicarakan nominal jumlah utangnya, karena jika data itu yang jadi patokan sama saja saya berpikir sebagai berikut : data 1: masyarakat di kota A berpenghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan data 2: masyarakat di kota B berpenghasilan rata-rata Rp 1 juta per bulan kesimpulan : penghasilan rata-rata kedua kota itu sebesar Rp 5,5 juta per bulan (11 juta/2).

Secara matematis perhitungan tersebut memang benar, tapi jika dihadapkan pada data statistik, sudah dapat dipastikan dosen saya akan memberi nilai E, karena itu data palsu, tidak sesuai parameter ilmu statistika, jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Saya yakin Rizal Ramli yang pernah menjabat Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid sangat paham akan hal itu, namun karena momennya pas menjelang pemilu 2009, konteks langsung berubah. Lucunya, data tentang nominal hutang itu dikutip media massa tanpa penjelasan, adakah upaya penggiringan opini publik? Saya tidak perlu menjawabnya. Saya akan mengulas nominal utang tersebut berdasar normal practice yang dijadikan patokan ekonomi internasional saja, yaitu perhitungan rasio utang terhadap PDB suatu negara. Untuk rasio utang negara Indonesia terhadap PDB-nya silahkan lihat grafik-grafik di bawah :

Rasio utang pemerintah terhadap PDB Keterangan : Pada tahun 2000, sewaktu proses rekapitalisasi perbankan rampung, utang Pemerintah mencapai Rp 1.226,1 triliun (setara USD 60,8 miliar pada waktu itu) atau sekitar 96 % dari PDB. Hingga tahun 2009 rasio itu turun hingga mencapai 30 % dari PDB, diharapkan tahun-tahun ke depan akan seperti itu trendnya. Rasio utang pemerintah tahun 2009 turun menjadi 30 persen, melampaui target yang ditetapkan 31,8 persen. Rasio utang Indonesia terus turun, dari tahun 2000 yang mencapai 89 persen.

Keberhasilan pemerintah menurunkan rasio utang pada 2009 menjadi 30 persen, tercapai seiring kenaikan nilai tukar rupiah,kata Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Lukita Dinarsyah Tuwo di Jakarta baru-baru ini.

Sementara itu, rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Oktober 2009 adalah utang bilateral USD42,6 miliar, utang multilateral USD20,78 miliar,dan utang komersial USD2,2 miliar. Secara jumlah,utang Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Namun secara rasio terhadap produk domestik bruto (PDB), utang terus menurun. Tercatat, utang pemerintah pusat sejak tahun 2005 berikut rasio utang terhadap PDB menunjukkan perkembangan positif. Secara berturut-turut, utang pemerintah mengalami penurunan. Pada 2005 utang pemerintah tercatat sebesar Rp1.313,29 triliun (47 %), tahun 2006 Rp1.302,16 triliun (39 %), tahun 2007 Rp1.389,41 triliun (35 %) dan pada 2008 Rp1.636,74 triliun (33 %). Sumber : http://economy.okezone.com/read/2010/01/04/20/290523/rasio-utang-indonesia-terus-turun Secara ringkas begini perkembangannya :

Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%) Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%) Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%) Tahun 2003: Rp 1.232,04 triliun (61%) Tahun 2004: Rp 1.299,50 triliun (57%) Tahun 2005: Rp 1.313,29 triliun (47%) Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%) Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%) Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%) September 2009 : Rp 1.604,69 triliun (30%) Oktober 2009 : Rp 1602,19 triliun (30%) November 2009 : Rp 1.618,54 triliun (30%)

Bandingkan dengan rasio utang negara lain terhadap PDB-nya. Kemampuan maupun kemauan sering kali dilihat dari beberapa variabel makro ekonomi. Salah satu ukuran ekonomi yang sering digunakan adalah rasio utang terhadap PDB. Semakin kecil rasio ini, semakin mampu suatu negara untuk membayar utangnya, dan semakin aman berinvestasi di negara tersebut. Secara teoritis, tidak ada batasan yang pasti untuk mengatakan rasio utang suatu negara sudah mencapai level yang membahayakan atau tidak. Akan tetapi, negara-negara Eropa bersepakat bahwa rasio utang maksimal yang dapat diterima adalah 60 % dari PDB.

Dilihat dari ukuran ini, keadaan utang Indonesia untuk saat ini masih cukup baik. Dibandingkan dengan negara tetangga pun, keadaan utang kita masih lebih baik. Rasio utang terhadap PDB Malaysia, misalnya,

diperkirakan akan berada pada level 41,6 %. Untuk Thailand rasio ini diperkirakan akan berada pada level 39,9 % pada tahun 2009 lalu. Jadi, dari ukuran rasio ini utang Indonesia masih dalam keadaan yang amat aman. Ukuran lain yang sering digunakan untuk menilai kesinambungan fiskal suatu negara (sekaligus kemampuan membayar utangnya) adalah rasio defisit terhadap PDB. Sekali lagi, secara teoritis tidak ada patokan jangka pendek yang pasti untuk menentukan keadaan fiskal (anggaran) yang aman untuk suatu negara. Namun, negara-negara di Eropa membatasi rasio defisit anggaran maksimum terhadap PDB pada angka 3 %. Keadaan fiskal Indonesia dilihat dari ukuran ini pun cukup baik. Rasio utang terhadap PDB Indonsia dalam beberapa tahun terakhir ini senantiasa berada di bawah 3 %. Pada tahun 2009 lalu, dengan stimulus fiskal yang besar, rasio defisit terhadap PDB Indonesia masih berada pada kisaran 2,5 %. Sebaliknya, keadaan utang negara-negara maju saat ini banyak yang melewati batas prinsip kehati-hatian. Rasio utang terhadap PDB Jepang, misalnya mencapai 217,2 % pada tahun 2009 lalu. Sedangkan AS mencapai 87,0 %. Sebelumnya Central Intellegence Agency (CIA) merilis daftar Public Debt, Country Comparison, jika Zimbabwe dan Jepang berada di posisi satu dan dua untuk ukuran rasio utang terhadap PDB-nya dengan rasio 241,20 % dan 170,40 %, Indonesia berada jauh di bawah, yaitu peringkat 73 dengan rasio hanya 30,10 %.

Catatan :

Sejak 2008, opini BPK terhadap Laporan Keuangan seluruh bagian anggaran (BA) terkait Pengelolaan Utang yang terdiri pembayaran biaya utang (BA-061), pembayaran cicilan pokok utang luar negeri (BA-096), dan pembayaran pokok surat berharga negara (BA-097) adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP); Menurut BPK, akuntabilitas kinerja pengelolaan utang membaik dari segi Sistem Pengendalian Internal (SPI) dan kepatuhan terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku; Pengelolaan APBN dan utang Indonesia relatif lebih baik dibandingkan dengan negara lain, misalnya dalam indicator rasio utang terhadap PDB, PDB per kapita dan rasio utang terhadap Penerimaan Negara. Jika ingin mengetahui variable atau parameter apa saja tentang metodologi statistik, silahkan berkunjung ke situs resmi Badan Pusat Statistik (bps.go.id) Jika ingin mengetahui variable ekonomi dan pergerakannya, silahkan berkunjung ke situs resmi Departemen Keuangan (depkeu.go.id) Apakah anda masih mau diombang-ambingkan opini? Silahkan berkunjung ke rumah nurani kita.

(diolah dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan)