Anda di halaman 1dari 12

Nama Irlanggana NIM 071510101054 Tugas Budidaya Tanaman Tembakau Penanaman Tembakau PENDAHULUAN Penanaman dan penggunaan tembakau

u di Indonesia sudah dikenal sejak lama. Komoditi tembakau mempunyai arti yang cukup penting, tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi para petani, tetapi juga bagi Negara. Tembakau (daunnya) digunakan sebagai bahan pembuatan rokok (Hanum, 2008). Tembakau mengandung alkaloid nikotin yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia juga sangat beracun bagi serangga sehingga nikotin dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai bioinsektisida (Susilowati, 2006). Tembakau juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna kain sutera dengan menggunakan daunnya untuk menjadi larutan celup pada proses pencelupan kain sutera (Santosa, 2007). Keistimewaan dan manfaat yang besar dari tembakau membuat tembakau mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam berbagai bidang. Sebagaimana diketahui tanaman tembakau merupakan merupakan salah satu komoditi yang strategis dari jenis tanaman semusim Perkebunan. Peran tembakau bagi masyarakat cukup besar, hal ini karena aktivitas produksi dan pemasarannya melibatkan sejumlah penduduk untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Berbagai jenis tembakau dengan berbagai kegunaannya diusahakan di Indonesia, baik oleh rakyat maupun oleh perusahaan, secara garis besar berdasarkan iklim tembakau yang di produksi di Indonesia dapat dibagi antara lain: a) Tembakau musim kemarau/Voor-Oogst (VO), yaitu bahan untuk membuat rokok putih dan rokok kretek; b) Tembakau musim penghujan/Na- Oogst (NO), yaitu jenis tembakau yang dipakai untuk bahan dasar membuat cerutu maupun cigarillo, disamping itu juga ada jenis tembakau hisap dan kunyah. Penerimaan negara dari komoditi tembakau sangat besar yaitu dari cukai dan setiap tahun terus meningkat, pada tahun 2007 sebesar 42 trilyun, tahun 2008 sebesar Rp. 50,2 trilyun dan tahun 2009 ditargetkan mencapai 52 trilyun, demikian

juga pada periode 5 tahun terakhir devisa yang dihasilkan dari ekspor tembakau senilai US $ 100.627 (48.278 ton). Teknik Budidaya tanaman tembakau sangat penting dalam membentuk unsur-unsur yang mempengaruhi mutu tembakau. Teknik budidaya yang baik harus memperhatikan factor-faktor yang membentuk unsure. Faktor adalah Hal-hal yang secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi mutu tanaman tembakau dan daun tembakau hijau. Unsur adalah hal yang digunakan secara langsung untuk menilai kualitas tembakau kering. TINJAUAN PUSTAKA Teknik Budidaya tanaman tembakau sangat penting dalam membentuk unsur-unsur yang mempengaruhi mutu tembakau. Teknik budidaya yang baik harus memperhatikan factor-faktor yang membentuk unsure. Faktor adalah Hal-hal yang secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi mutu tanaman tembakau dan daun tembakau hijau. Unsur adalah hal yang digunakan secara langsung untuk menilai kualitas tembakau kering.

- Budidaya tembakau di Indonesia yang baik hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh lokasi penanaman dan pengolahan pascapanen. Tanaman tembakau yang dibudidayakan di Indonesia ada yang diberi naungan (tembakau naungan), berupa waring yang berfungsi untuk

menurunkan intensitas sinar matahari serta melokalisir kelembaban. Tanaman tanpa naungan tidak dilingkupi dengan waring, namun dibiarkan terbuka. Pembudidayaan tembakau naungan dan tanpa naungan dilakukan oleh PTPN X. Budidaya tembakau naungan mempunyai keunggulan karena kondisi lingkungan dapet dikontrol dan diatur. 1. Jenis dan varietas Tanaman tembakau (Nicotianae tabacum L) termasuk genus Nicotinae, serta familia Solanaceae. Spesies-spesies yang mempunyai nilai ekonomis adalah Nicotianae Tabocum L dan Nicotianae Rustica dengan rincian sebagai berikut: 1) Nicotiana rustica L mengandung kadar nikotin yang tinggi (max n = 16%) biasanya digunakan untuk membuat abstrak alkoloid (sebagai bahan baku obat dan isektisida), jenis ini banyak berkembang di Rusia dan India. 2) Nicotiana tabacum L mengandung kadar nikotin yang rendah (min n = 0,6%) jenis ini umumnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok. Menurut Cahyono (1998), tanaman tembakau diklasifikasikan sebagai berikut : - Famili : Solanaceae - Sub Famili : Nicotianae - Genus : Nicotianae - Spesies : Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica mempunyai perbedaan yang jelas. Berikut adalah table perbedaan secara fisik tanaman Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica Beberapa varietas tembakau (Nicotiana tabacum) adalah 1. Tembakau Virginia Tembakau Virginia mempunyai sosok ramping, ketinggian tanaman sedang sampai tinggi, daun berbentuk lonjong yang ujungnya meruncing, warna daun hijau kekuningan, daun bertangkai pendek, kedudukan daun pada batang tegak, jarak antara daun satu dengan yang lain cukup lebar sehingga kelihatan kurang rimbun, tanaman memiliki daya adaptasi yang luas terhadap tanah dan iklim.Tembakau ini banyak ditanam di dataran rendah yang panas.Tembakau Virginia yang telah diolah menghasilkan krosok berwarnakuning keemasan hingga kuning jingga, aromanya

sangat berbeda dengan jenistembakau yang lain, memiliki kandungan gula tinggi sehingga terasa manis dan bila dirokok terasa ringan. Daun tengah tembakau Virginia sangat baik digunakan untuk pembuatan rokok sigaret putih.

Gambar 1. Tanaman tembakau Virginia 2. Tembakau Oriental Tembakau Oriental memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenistembakau lain yaitu terletak pada aroma yang harum dan khas. Karena aromanyayang khas, tembakau Oriental/Turki juga disebut sebagai aromatic tobacco.Tembakau Turki digunakan oleh semua pabrik rokok sebagai campuran yangdapat meningkatkan mutu rokok sigaret.

Gambar 2. Tanaman tembakau oriental 3. Tembakau Burley Tembakau Burley bercirikan warna daun hijau pucat, batang dan ibu tulang daun berwarna putih krem, daun tergolong ukuran besar (90160 cm),tanaman lebih banyak berbentuk silindris daripada piramida, tinggi tanamansekitar 180 cm. Krosok daun tembakau Burley setelah pengolahan menjadi tipis, berwarna coklat kemerahmerahan, halus dan lunak, serta beraroma sedap.Tembakau Burley

mengandung nikotin yang banyak terdapat pada daun bawah, daun tengah, dan daun atas.

Gambar.3 Tanaman tembakau Burley Jenis-jenis tembakau yang dinamakan menurut tempat penghasilnya sebagai berikut: Tembakau Deli, penghasil tembakau untuk pembuatan cerutu. Tembakau Temanggung, penghasil tembakau srintil untuk sigaret. Tembakau Vorstenlanden (Yogya-Klaten-Solo), penghasil tembakau untuk cerutu dan tembakau sigaret (tembakau Virginia). Tembakau Besuki, penghasil tembakau rajangan untuk sigaret. Tembakau Madura, penghasil tembakau untuk sigaret. Tembakau Lombok Timur, penghasil tembakau untuk sigaret (tembakau Virginia) (Sulisyono, 2006). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan tanah ditujukan untuk memberi kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan akar tanaman tembakau, sehingga sistem perakaran berkembang baik dan mampu menyerap air serta unsur hara dalam jumlah yang cukup untuk menunjang pertumbuhan yang terjadi dalam waktu singkat. Guna memperoleh perakaran yang baik pengolahan tanah harus mencapai kedalaman olah lebih dari 30 cm, disamping upaya lain kearah terbentuknya struktur tanah yang remah.Sejumlah studi membuktikan bahwa pengolahan tanah intensif menyebabkan penurunan bahan organik tanah (REGANOLD et al., 1988; SOJKA et al., 1991; NAIDU et al., 1996). Pengolahan tanah intensif pada jenis tanah andisol dapat menyebabkan

menurunnya kadar C organik tanah.Bila N terdapat dalam jumlah yang rendah akan menyebabkan menurunnya luas daun, berat kering, dan klorosis sebagai akibat dari menurunya jumlah klorofil. Rendahnya kandungan N ini yang menyebabkan produktivitas tembakau rendah. Sangat rendahnya kadar C organik, selain menyebabkan kebutuhan akan pupuk organik (pupuk kandang) yang semakin meningkat, juga menyebabkan rendahnya efisiensi pemupukan (KARAMA et al., 1991). Dengan meningkatkan kadar C organik tanah, yang dapat dilakukan dengan penambahan pupuk organik. Pengolahan tanah dilakukan 70 hari sebelum penanaman dimana H-70 dilakukan pembersihan jerami, H-60 pembuatan got keliling, H-55 pembajakan 2, H-40 pembajakan 3, H-30 pembajakan 4, H-25 pembersihan rumput di pematang dan H15 dilakukan bajak siap tanam.

Gambar 4. Pengolahan Tanah Adapun jarak tanamnya adalah sebagai berikut:

Tembakau virginia dan tembakau Burley digunakan jarak tanam 110 cm x 50 cm, 120 cm x 50 cm atau 120 cm x 45 cm dengan populasi tanaman berkisar antara 16 000 18 000 pohon /ha.

Tembakau Cerutu Vorstendlanden varietas hibrida TV38XG populasi idealnya adalah 17 480 tanaman/ha, sedang varietas F1K sebesar 16 930 tanaman/ha.

Tembakau rajangan Temanggung Jarak tanam digunakan 100 cm x 50cm (jarak tanam pagar ganda) atau 100 cm x 75 cm. Populasi tanaman berkisar antara 11 000 hingga 18 000 batang/ha.

Tembakau rajangan Madura ditanam dengan populasi berkisar antara 20 000 sampai dengan 33 000 tanaman/ha. Jarak tanam yang paling baik adalah 100 cm x 50 cm atau 100 cm x 45 cm dengan populasi tanaman 33 000 tanaman /ha.

Gambar 5. Jarak Tanam Tembakau Pengelolaan dan perawatan tanaman tembakau Seperti pada umumnya tanaman, tembakau juga memerlukan perawatan agar dapat tumbuh dengan subur dan menghasilkan tembakau yang berkualitas. Pemeliharaaan tanaman tembakau dimulai dari umur tanaman tembakau masih muda. Beberapa langkah pemeliharaan tanaman tembakau yaitu : 1. Pengairan dan penyiraman Pengairan dilakukan 7 hari setelah tanam dengan jumlah air 1-2 liter setiap tanaman. Setelah 7-25 hari frekuensi penyiraman adalah 3-4 liter per tanaman. Pada

umur 25-30 hari setelah tanam, frekuensi pemberian air 4 liter per tanaman. Pada umur 45 hari setelah tanaman pertumbuhan akan semakin cepat. Oleh karena itu diperlukan 5 liter air per tanaman setiap 3 hari. setelah 65 hari dari masa tanam tembakau tidak memerlukan lagi penyiraman, kecali bila cuaca sangat kering. Cara pengairan tembakau pada lahan beririgasi yaitu dengan cara dilep (basin irigation) hingga guludan tempat tanaman cukup basah dan selanjutnya lahan dikeringkan kembali. Waktu pemberian air irigasi dapat ditentukan dengan indikator sebagai berikut : tanaman layu pada pukul 11.00 atau tanah tidak lagi melekat apabila digenggam. Tinggi air irigasi ditentukan berdasarkan umur tanaman yaitu : sampai dengan umur 45 hari setelah tanam volume air buludan, pada 50 65 HST tinggi air guludan dan menjelang panen tinggi air guludan. Pada tanaman tembakau cerutu di bawah naungan, penyiraman dilakukan dengan cara sprinkler irigation. Dengan demikian volume air yang diterima tanaman cukup seragam dan mencukupi volumenya.Pada lahan kering (umumnya tembakau rakyat) pengairan sangat tergantung pada curah hujan. Beberapa petani dengan modal yang cukup melakukan penyiraman dengan sumber air tanah atau sungai dengan sistem pompanisasi. 2. Penyulaman Penyulaman dilakukan setelah seminggu ditanam. Bibit yang kurang baik dapat diganti dengan cara dicabut dan diganti dengan bibit yang baik dengan umur yang sama.

Gambar 6. Tembakau yang disulam

Penyulaman dapat dilakukan mulai umur 3 hari sampai 10 hari. dan pelepasan kerudung bisa dilakukan jika tembaku benar-benar sudah hidup dan tumbuh. Dan pengocoran atau pengairan pada tiap lubang sudah bisa di campur dengan pupuk urea atau phonska yang dilarutkan. Pupuk yang lebik baik juga bisa berupa pupuk mutiara ataupun organik. 3. Pembumbunan (pendangiran) Pendangiran dimaksudkan untuk memperbaiki susunan udara tanah, memudahkan perembesan air, mengendalikan gulma dan memperbaiki guludan. Pendangiran dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman yang berada pada kedalaman 30 cm 40 cm di dalam tanah. Pendangiran dilakukan 3 4 kali tergantung pada kondisi tanah pada lahan dan gulma. Pada tanaman tembakau ceretu Vorstenlanden di bawah naungan misalnya pendangiran dilakukan 3 kali pada umur 7 10 hari setelah tanam (HST), 20 22 HST dan 30 35 HST. Pendangiran umumnya dilakukan setelah pengairan. Pembumbunan tanah pada guludan, untuk merangsang perakaran yang baik. 4. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk menghindari adanya persaingan dalam pengambilan unsur hara pada tanaman, menghilangkan sumber penyakit dan mempermudah pada waktu pemupukan, pengendalian hama penyakit, dan mempermudah pada wakrtu pemetikan/panen, untuk meningkatkan hasil produksi. Penyiangan dilakukan setiap 3 minggu. Dilakukan dengan tangan mencabut gulmanya atau dapat menggunakan herbisida. 5. Pemupukan Penggunaan pupuk yang tepat, baik berupa pupuk organik dan anorganik (M,P dan K). Penggunaan phospor (P) dalam komposisi pupuk karena phospor berfungsi untuk pertumbuhan akar dan penyusunan inti sel, lemak dan protein. Kandungan phospor dalam SP 36 sebesar 36%. Tanda tanaman kekurangan P yaitu daun menjadi nampak tua warnanya menjadi merah kecoklatan. Tepi daun, cabang dan batang terdapat warna kecoklatan yang lama-lama menjadi kuning. Sedangkan Kalium pada KNO3 berfungsi untuk mempengaruhi kwalitas (rasa, warna dan bobot) tanaman, menambah daya tahan tanaman terhadap kekeringan,

hama/penyakit, mempercepat pertumbuhan jaringan meristem, dan membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Tanda-tanda Kekurangan Kalium daun mengerut atau mengeritingterutama pada daun tua, daun akan berwarna ungu lalu mengering lalu mati. Pemupukan dilakukan untuk menjaga tanaman tumbuh dengan baik. Pemupukan susulan dilakukan dua kali. Pemupukan yang dilakukan di PTPN X dilakukan sebanyak 3 tahap yaitu 1) sehari sebelum benih ditanam dalam polibag, pemupukan dilakukan di polibag. Pupuk berupa campuran SP 36 dan KN03 kemudian dilarutkan dalam air sehingga dihasilkan larutan starter 3 gram/liter untuk disiramkan ke polibag. 2) Lima hari sebelum penanaman bibit, dilakukan pemupukan pada lubang calon baris tanam. Pupuk starter yang digunakan yaitu campuran SP 36 sebanyak 4gram/lubang/tanaman x KNO3 2gram/lubang/tanaman). Starter tersebut dilarutkan dalam air sehingga keseragaman pemupukan dengan dosis 2 gr/L atau sekitar 50cc/lubang tanam dapat tercapai. Jumlah tanaman per hektar adalah 18.006 tanaman. 3) Setelah bibit berumur 15 hari di bedegan, pemupukan dilakukan 2x di bedegan yaitu pemupukan I dengan menggunakan pupuk campuran SP 36 x KNO3 dan pemupukan susulan II hanya menggunakan KNO3 saja. 6. Pemangkasan Pangkas tunas ketiak dan bunga dilakukan tiap 3 hari sekali. Pangkas pucuk tanaman saat bunga mekar dengan 3-4 lembar daun bunga di bawah bunga. Pemangkasan hanya dilakukan pada jenis tembakau VO, dilakukan begitu kuncup bunga mulai keluar (80%) dan dilakukan dengan tangan dengan cara dipetik. Pemangkasan dilakukan agar tidak terjadi stagnasi. Pangkas pucuk maupun wiwil pada tanaman tembakau bertujuan untuk menghentikan pengangkutan bahan makanan ke mahkota bunga atau kekuncup tunas sehingga hasil fotosintesis dapat terakumulasi pada daun sehingga diperoleh produksi krosok dan kualitasnya yang tinggi. Pangkas pucuk dan wiwil biasanya dilakukan secara manual. Pangkasan pucuk dilakukan pada saat button stage atau saat daun berjumlah 20 helai di atas daun bibit. 7. Punggel dan wiwil/suli

Punggel dan wiwil/suli memastikan penggunaan bahan gizi tanaman dalam proses pengembangan daun tembakau untuk mendapatkan jumlah daun, berat daun dan kualitas tinggi yang akan memberikan basil maksimal bagi petani. Penggunaan sukirisida alami dilakukan dengan alasan biaya produksi, penerapan teknologi ramah lingkungan yang semua ini dilakukan pada waktuyang tepat. Dalam pelaksanaan wiwilan sangat penting sekali karena akan berpengaruh terhadap ketebalan daun/berat daun (Karama, 1994). KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan: 1. Teknik budidaya yang baik harus memperhatikan factor-faktor yang membentuk unsure. Faktor adalah Hal-hal yang secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi mutu tanaman tembakau dan daun tembakau hijau. Unsur adalah hal yang digunakan secara langsung untuk menilai kualitas tembakau kering. 2. Pengolahan tanah ditujukan untuk memberi kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan akar tanaman tembakau, sehingga sistem perakaran berkembang baik dan mampu menyerap air serta unsur hara dalam jumlah yang cukup untuk menunjang pertumbuhan yang terjadi dalam waktu singkat. 3. Pemeliharaan tanaman tembakau meliputi; Pengairan dan penyiraman , Penyulaman, 4. Pembumbunan (pendangiran), Penyiangan, Pemupukan, Pemangkasan, Punggel dan wiwil/suli. Waktu tanam sebaiknya dilakukan pada sore hari (pukul 14.00 17.00) untuk menghindari kelayuan bibit karena terik sinar matahari. DAFTAR PUSTAKA Eko Sulistyono, S. M. 2006. Pengaruh Sistem Irigasi terhadap Produksi dan Kualitas Organoleptik Tembakau. Buletin Agronomi , vol 3 165 1 Hanum, C. (2008). Teknik Budidaya Tanaman Jilid 3. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional . Karama. 1994. Penggunaan pupuk organik pada tanaman pangan. Makalah dalam Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Penggunaan Pupuk V, (pp. p.395426). Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Makfoeld,Djarir. 1994. Mengenal beberapa Penilaian Fisik Mutu Tembakau di Indonesia edisi ke dua. Liberty. Yogyakarta Santosa. 2007. identifikasi sistem budaya tembakau Deli di PTPN II kebun Helvetia . Deli: USU Repository. Susilowati. 2006. Budidaya Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Menggunakan Pupuk Hayati Bio P 2000 Z. PT. Alam Lestari Maju Indonesia