Anda di halaman 1dari 15

PROJEK PROPOSAL

PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK BERBASIS MASYARAKAT LOKAL DI WILAYAH KORIDOR GUNUNG SALAK-HALIMUN

Submitted By :

Peka Indonesia Foundation


www.peka-indonesia.org - email : kpkai@indo.net.id

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Pendahuluan
Latar Belakang Pertanian memegang peranan yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan Nasional. Terhambatnya produksi pertanian tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi secara politis dapat mengancam stabilitas Nasional. Oleh karena itu selama bertahun-tahun pemerintah berupaya meningkatkan produksi pertanian melalui berbagai pendekatan. Pertanian intensif dengan memaksimalkan produksi tanaman melalui aplikasi pupuk kimia, pestisida sintetis, dan varietas tahan hama telah lama menghiasi potret perkembangan pertanian di Indonesia. Pendekatan ini sesaat memang terlihat mampu mengamankan produksi, tetapi tidak berkelanjutan, bahkan dampak yang ditimbulkan menelan harga yang lebih mahal seperti peledakan hama, munculnya hama sekunder, pemiskinan hara tanah, pencemaran lingkungan, penurunan keanekaragaman hayati, dan kesehatan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mengamankan produksi pertanian, namun di saat yang sama kesehatan ekosistem tetap dapat terjaga?. Berkembangnya pertanian organik dalam 10 tahun terakhir menawarkan suatu pendekatan yang dapat menjembatani kepentingan produksi pertanian untuk kecukupan pangan dan tuntutan konservasi ekosistem. Pada dasarnya, konsep pertanian organik berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan sekitar lahan pertanian, dan meminimalisasikan input luar. Bentuk pertanian organik ini dapat dilihat diantaranya dari pemanfaatan kompos, pupuk kandang, pestisida botanis, dan diversifikasi lahan. Keunggulan lain dari pertanian organik ini adalah mampu bersinergi dengan kegiatan ekonomi lain, misalnya peternakan. Pemanfaatan sumber daya lokal ini secara otomatis mampu menekan biaya produksi, sehingga ketergantungan terhadap modal produksi yang dipinjamkan oleh tengkulak atau pedagang setempat makin berkurang. Produk pertanian organik yang bebas pestisida ini juga dipercaya mampu bersaing di pasar Internasional. Menyadari hal ini, Departemen Pertanian telah mengambil langkah kongkrit dengan

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

mencanangkan visi Go Organic 2010. Upaya untuk mengembangkan pertanian organik ini juga sangat mendukung pencanangan sasaran 4.1 target 2010 yang ditetapkan oleh COP 7 UNCBD tentang pemanfaatan sumberdaya hayati termasuk agroekosistem berkelanjutan, dan implementasi IBSAP 2003. Sebagai negara agraris dengan sumber daya hayati yang begitu besar, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menjadi sentra pertanian organik dunia masa depan. Lebih dari 15 tahun pertanian organik telah berkembang di Indonesia. Produkproduk organik juga telah dapat dinikmati di berbagai pertokoan dan supermarket. Namun sangat disayangkan bahwa harga dari produk organik ini cukup mahal bahkan tidak terjangkau oleh banyak komunitas masyarakat. Selain itu pertanian organik juga banyak dikuasai oleh korporasi yang memiliki modal cukup besar. Bisa dimaklumi tingginya harga ini dikarenakan pengusaha besar memiliki posisi tawar yang kuat terhadap harga untuk mendapatkan untung yang besar. Bagaimana dengan nasib petani kecil dan masyarakat Indonesia lainnya yang juga layak untuk menghasilkan dan mendapat produk pertanian yang sehat?. Pertanian subsisten yang dimiliki oleh petani kecil merupakan ciri khas pertanian di Indonesia. Oleh karena itu, melalui pendampingan langsung ke petani mengenai pembangunan pertanian secara menyeluruh diharapkan peran petani kecil yang menjadi ujung tombak untuk suksesnya pertanian organic di Indonesia dapat tercapai. Oleh karena itu melalui kegiatan ini, akan dikembangkan model-model pengembangan pertanian organik berbasis masyarakat lokal yang mampu menawarkan solusi terbaik untuk pengembangan pertanian organik di Indonesia. Model ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pertanian organik berbasis petani kecil di wilayah pedesaan lainnya di seluruh Indonesia. Masyarakat Lokal di Kawasan Koridor salak-Halimun Kawasan koridor Salak Halimun merupakan habitat penghubung dua kawasan konservasi penting di Jawa Barat yakni pegunungan Halimun dan Salak. Kawasan koridor tersebut memiliki fungsi
2

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

ekologis yang khas dan penting bagi kelestarian dua ekosistem besar tersebut. Oleh karena itu upaya pelestarian kawasan menjadi sangat penting dan harus melibatkan masyarakat lokal disekitarnya. Sejak tahun 2003, Yayasan Peka Indonesia telah mendampingi masyarakat tersebut dan berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan kontribusi dalam pelestarian keanekaragaman hayati lokal. Penguatan institusi lokal merupakan pendekatan yang diterapkan untuk mobilisasi gerakan masyarakat dalam konservasi keanekaragaman hayati. Tahun 2005, terbentuklah Jaringan Masyarakat Hutan Koridor (Jarmaskor), yang hingga sekarang masih terus aktif dalam merespon permasalahan lingkungan. Mata pencaharian sebagian besar masyarakat tersebut adalah bertani. Selama bertahun-tahun, pertanian intensif dengan pestisida dijalankan di kawasan penting ini, sehingga diperkirakan akan mampu mencemari ekosistem koridor. Oleh karena itu, Peka Indonesia berupaya untuk mencari solusi terbaik dengan mengintegrasikan aspek peningkatan ekonomi masyarakat lokal yang berbasis pertanian dengan upaya konservasi ekosistem. Pertanian organik dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip ekologi menawarkan solusi untuk menjembatani pertanian dan konservasi. Saat ini, pertanian organik masih dalam tahap inisiasi dan dalam proses pengembangan berbagai model untuk menjaga konsistensi produksi dan pengembangan pasar. Peka Indonesia. Yayasan Peka Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang konservasi alam untuk kehidupan bumi berkelanjutan. Visi tersebut diupayakan melalui kegiatan penelitian, pendidikan lingkungan hidup, dan pengembangan masyarakat. Secara resmi Yayasan ini didirikan pada Tahun 2000, dan akte telah diperbaharui melalui pencatatan di Departemen Hukum dan HAM No.AHU2988.AH.02.Tahun 2008. Selama lebih dari delapan tahun Yayasan Peka Indonesia telah melakukan berbagai penelitian terkait dengan keanekaragaman hayati, pengendalian hayati, dan layanan ekosistem (ecosystem services). Pendidikan lingkungan juga dikembangkan baik untuk masyarakat perkotaan dan pedesaan. Pendidikan lingkungan pedesaan dikonsentrasikan di wilayah Masyarakat Kasepuhan Halimun dan masyarakat disekitar wilayah Gunung Salak. Pengembangan masyarakat juga merupakan salah satu pilar penting yang diimplementasikan lebih dari lima tahun di kawasan koridor Salak-Halimun. Selama kurun waktu tersebut, pengembangan masyarakat telah mengalami evolusi untuk menuju masyarakat madani yang dimulai dari program penguatan institusi lokal, pengembangan program-program peningkatan kapasitas masyarakat, dan pengembangan ekonomi masyarakat bebasis pertanian.

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Tujuan Umum (Goal): Tujuan umum program ini adalah mewujudkan pertanian hijau berkelanjutan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan mendorong terciptanya ekosistem yang sehat. Tujuan Khusus : (1) Mengembangkan model-model pertanian organik berbasis masyarakat lokal yang mampu menjembatani produksi pertanian dan konservasi lingkungan (2) Mengembangkan pemasaran produk-produk pertanian (3) Meningkatkan kapasitas institusi masyarakat lokal dalam merespon permasalahan-permasalah pertanian dan lingkungan di tingkat global dan nasional (4) Mewujudkan masyarakat madani dalam bidang pertanian

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Lokasi Pelaksanaan Program


Kegiatan akan dilaksanakan di Dusun Cisarua, Cipeteuy, yang terletak di kawasan koridor Salak-Halimun. Kawasan koridor yang membentang sepanjang Gunung Salak sampai dengan Gunung Halimun merupakan salah satu hutan konservasi yang terpenting di Jawa Barat. Bentangan kawasan hutan ini memiliki fungsi ekologis penting sebagai penyangga ketersediaan air dan penyangga penghidupan masyarakat di wilayah Bogor dan Sukabumi, terutama masyarakat desa yang tinggal di sekitar kawasan hutan tersebut. Kawasan hutan Gunung Salak dan Halimun, dihubungkan oleh suatu strip hutan penghubung yang disebut sebagai Kawasan Koridor Salak Halimun. Kawasan koridor ini juga merupakan perbatasan antara dua wilayah administratif yaitu Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Secara gografis hutan koridor Salak-Halimun terletak pada koordinat 6 o4400-6o4630 LS, dan 106o3530-106 o3730 BT. Secara administratif Desa Cipeuteuy mempunyai batas-batas sebagai berikut : sebelah Utara berbatasan dengan hutan lindung Gunung salak, batas sebelah Timur yaitu Desa Kabandungan, batas sebelah Selatan yaitu Desa Cihamerang, dan sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Gendeng.

Gambar 1. Lokasi Kawasan Koridor Gunung Halimun Salak

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Kerangka Program
1. Penguatan Institusi Lokal (kelompok tani) Pembangunan pertanian berbasis masyarakat lokal harus bersifat kolektif dan berpijak pada kelompok-kelompok petani yang terorganisir dengan baik. Oleh karena itu penguatan institusi masyarakat melalui pendampingan menjadi prasyarat penting agar program pengembangan pertanian organik dapat berjalan dengan baik. Upaya penguatan ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui kegiatankegiatan yang mampu meningkatkan daya kritis masyarakat terhadap persoalan lingkungan sekitarnya dan bagaimana mengatasi persoalan tersebut. Pertemuan rutin dilaksanakan untuk memfasilitasi proses belajar, bertukar pendapat dan informasi antara anggota kelompok. Pertemuan akan dikonsentrasikan untuk pemetaan permasalahan, pendekatan masalah, perumusan solusi, dan rencana kerja. Proses ini akan difasilitasi oleh fasilitator lapangan dari PEKA Indonesia sebagai bagian dalam proses belajar bersama petani dan agar bisa mengarahkan diskusi kepada pokok permasalahan yang dihadapi. Setiap minggu, fasilitator akan berada di daerah dampingan selama 2 hari untuk dapat menyerap kebutuhan dan menjaga dinamika kelompok. 2. Peningkatan Kapasitas Para Petani dalam memahami konsep and aplikasi pertanian ramah lingkungan Peningkatan kapasitas masyakarat tentang konsep dan aplikasi pertanian organik dikembangkan untuk mempersiapkan masyarakat dalam implementasi prinsip-prinsip pertanian organik di lapangan. Untuk memfasilitasi tujuan ini akan dilaksanakan beberapa pelatihan: (1) Pelatihan pembuatan pupuk organik (kompos dan pupuk kandang) (2) Pelatihan pengendalian hama ramah lingkungan (3) Pelatihan penanganan pasca panen (4) Pelatihan pembuatan pestisida botani (5) Cross learning dengan pertanian organik yang sudah maju (6) Pendampingan rutin dengan fasilitator/trainer yang secara periodik mengadakan pertemuan untuk teknik-teknik pertanian organik mulai dari persiapan lahan, pembibitan hingga pasca panen. 3. Implementasi Pertanian Organik Berbekal hasil pelatihan, pertanian organik akan diimplementasikan di lapangan. Beberapa langkah yang akan dibangun:

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

-Persiapan Lahan -Pembuatan Kompos Kebutuhan pupuk organik dirasa sangat besar di kalangan petani sehingga diperlukan pelatihan yang baik dan terorganisir sehingga petani dapat memproduksi pupuk organik dengan kualitas yang baik dan jumlah cukup untuk kebutuhan lahan pertanian organik yang mereka kelola. Diharapkan petani terhindar dari ketergantungan terhadap sarana produksi pertanian kepada tengkulak dan penjual saprodi. Belakangan ini juga sudah ada pupuk organik yang diproduksi oleh produsen/pabrik besar, pemasarannya juga sudah sampe ke desa, namun jika petani tidak dapat menghasilkan pupuk organic secara mandiri maka proses ketergantungan terhadap saprodi juga akan terjadi lagi seperti pada pertanian konvensional. Jika ada petani yang memiliki kelebihan pupuk maka ia dapat membantu petani lain yang mungkin membutuhkan bahkan menjual ke daerah, desa lain yang juga memerlukan. Hal ini juga dapat menjadi peluang usaha juga, kelompok tani juga dapat membuat usaha pembuatan pupuk organic untuk dijual kepada kelompok petani lain yang membutuhkan. -Pembuatan Pupuk Kandang -Pembibitan, Penanaman, dan Perawatan Tanaman -Pergiliran jenis tanaman Penanaman satu jenis tanaman yang sama dalam jangka waktu lama di suatu lahan akan meningkatkan resiko terserang hama dan penyakit sehingga produktifitas menurun. Untuk menghindari itu maka pergiliran jenis tanaman juga dilakukan dan diawasi pelaksanaannya oleh sesama anggota kelompok tani. Jenis tanaman yang akan ditanam dalam satu kurun waktu juga merupakan kesepakatan antar anggota kelompok agar jenis dan jumlah produksi yang nantinya akan dipasarkan merupakan hasil dari kelompk sehingga tidak terjadi tumpang tindih jenis tanaman maupun jumlah yang berlebihan. -Pengaturan waktu tanam Kesinambungan suplai menjadi suatu keharusan untuk menghadapi kondisi pasar yang kompetitif. Kelompok tani juga akan mengatur waktu tanam antar anggota sehingga hasil panen untuk satu jenis produk akan berkesinambungan dan tidak terjadi kelebihan suplai. -Pengamatan reguler Hasil menimba pengalaman antar petani di dalam kelompok tani menunjukkan bahwa pertanian organic menuntut pemeliharaan yang lebih telaten.
7

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Pengamatan reguler mengenai pertumbuhan tanaman dan organisme pengganggu tanaman (OPT) akan merupakan proses penting untuk menentukan tindakan preventif dan responsive saat pertanaman diserang hama atau penyakit tumbuhan. 4. Penanganan Pasca Panen Untuk mendukung usaha pemasaran yang efektif maka pengemasan produk organik juga harus dilakukan dengan baik. Kemasan yang baik dapat menjaga produk tetap segar, melindungi kerusakan, dan sekaligus mempercantik penampilan. Untuk beberapa jenis tanaman seperti pisang dan singkong pengolahan menjadi produk olahan yang dapat meningkatkan nilai tambah juga dapat dilakukan seperti telah terlihat dari keripik pisang dan singkong hasil kelompok ibu-ibu di desa dampingan. 5. Pengembangan sarana transportasi Transportasi merupakan sarana utama untuk mengantarkan produk pertanian organik ke pasar konsumen. Pengangkutan hasil panen dari lahan ke kota terdekat yaitu bogor memerlukan waktu 4 jam dengan kondisi jalan aspal rusak. Transportasi umum tidak ada yang melewati daerah desa ini sehingga tetap harus menggunakan ojek dan biaya transportasi menjadi mahal dan tidak ekonomis. Sarana transportasi seperti mobil niaga yang biasa mengangkut hasil dalam jumlah besar sekali jalan dapat menekan biaya pengangkutan sehingga harga jual ke konsumen dapat lebih murah. 6. Pengembangan Pasar Survey pasar Survey dan analisis pasar wajib dilakukan agar diketahui kondisi pasar produk organic, analasis yang dilakukan mencakup: Preferensi konsumen Jenis produk yang diserap pasar Lokasi pemasaran Strategi pemasaran efektif Strategi promosi 7. Pengelolaan Dana Bergulir Salah satu permasalahan penting adalah lemahnya modal petani untuk memulai kegiatan bercocok tanam. Dana bergulir dimaksudkan untuk mengatasi
8

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

permasalahan modal dan menghilangkan ketergantungan petani terhadap tengkulak atau pinjaman modal berbunga. Melalui program ini, sejumlah dana akan digulirkan dan dikelola oleh kelompok tani. Anggota kelompok akan mendapatkan akses pinjaman modal lunak, dan setelah panen dan mendapatkan uang, petani peminjam harus mengembalikan ke uang yang dipinjam ke kelompok untuk digunakan pada periode cocok tanam berikutnya. Modal awal ini harus tetap jumlahnya dan jika mungkin bertambah untuk menjaga keberlanjutan program pertanian organik. . 8. Monitoring dan Evaluasi Monitoring akan dilakukan secara reguler setiap bulan untuk evaluasi kemajuan yang dicapai dari program yang dilaksanakan. Identifikasi permasalahan, dan perumusan alternatif solusi akan dikembangkan. Monitoring dan evaluasi akan dilaksanakan baik di tingkat managemen Peka Indonesia maupun di tingkat petani. 9. Laporan Kemajuan program akan dilaporkan setiap akhir semester.

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Kerangka Berpikir Logis


Program Penguatan Institusi Lokal (kelompok tani) Kegiatan Pertemuan rutin pendampingan fasilitator lapangan Hasil yang diharapkan Indikator Sumber pembuktian -Daftar hadir -Dokumentasi hasil pertemuan. -daftar petani yang mengikuti pelatihan -Dokumentasi proses pembuatan pupuk kandang Tidak ada komponen pembelian pupuk kompos dari luar di laporan keuangan 80% anggota kelompok mengikuti kunjungan belajar 10% pengeluaran untuk pestisida

Adanya kelompok tani yang Terbentuknya kelompok dengan prinsip tani dengan anggota 20 oleh sesuai organisasi teratur orang dengan struktur organisasi yang dipilih langsung Peningkatan Kapasitas Pelatihan pembuatan pupuk Kelompok tani dapat Pupuk kandang hasil Para Petani tentang kandang memproduksi pupuk kandang buatan kelompok pertanian ramah dengan kualitas dan jumlah digunakan pada lingkungan (trainingyang dibutuhkan pertanaman training) Pelatihan pembuatan pupuk Kelompok tani dapat pupuk kompos hasil kompos memproduksi pupuk kompos buatan kelompok dengan kualitas dan jumlah digunakan pada yang dibutuhkan pertanaman Kunjungan belajar ke lahan pertanian organic yang telah mapan Pelatihan pembuatan pestisida botanis Meningkatkan pengetahuan tentang pertanian organic kepada anggota kelompok tani Kelompok tani dapat memproduksi pestisida botanis adanya teknik yang bisa diaplikaskan di kebun Adanya produk pestisida botanis yang dapat

10

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

sesuai kebutuhan

diaplikasikan di lahan kelompok

Desain Pertanian Organik

Pelatihan penggunaan Petani dapat mengetahui jenis Aplikasi organisme organisme berguna utk dan manfaat organisme hidup berguna dapat menekan pengendalian OPT dalam pengendalian OPT kerugian akibat adanya OPT Sentra pupuk organic mandiri Terbentuknya kemandirian Petani tidak membeli petani menghasilkan pupuk pupuk organic dari luar organic yang menjadi bagian desanya penting dalam system pertanaman organic Pergiliran jenis tanaman Menghindari resiko terserang Dampak kerugian akibat OPT serangan OPT menurun Pengaturan waktu tanam Suplai produk kontinyu berjalan Kebutuhan konsumen dapat terpenuhi

Pengamatan reguler

Dapat memonitor perkembangan tanaman dan mengetahui jika ada serangan OPT

Penanganan Pasca Panen

pelatihan pengepakan

Tersedianya data perkembangan tanaman dan dapat terpenuhi jadwal pemeliharaan tanaman Produk yang akan dipasarkan Tidak ada komplain dari

botanis berasal dari pestisida buatan kelompok tani sendiri 40% biaya aplikasi musuh alami berasal dari hasil pelatihan ini 100% pupuk organic yang digunakan merupakan hasil buatan kelompok tani jenis komuditas sesuai dengan yang disepakati bersama anggota kelompok jadwal tanam sesuai dengan yang disepakati bersama anggota kelompok Jadwal pengamatan tanaman sesuai dengan yang dijadwalkan 100% tidak ada

11

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

produk olahan Penguatan infrastruktur Pengadaan kendaraan angkut pendukung pemasaran Cool box

telah dikemas dengan baik Dihasilkannya produk olahan yang memiliki nilai tambah Adanya system pengangkutan yang baik dari kebun sampai ke konsumen Tersedianya wadah penyimpanan sementara produk organic sebelum sampai pada konsumen

konsumen Produk olahan dapat diterima pasar Produk sampai ke konsumen/pasar dalam keadaan baik

Keranjang angkut

Produk yang disimpan tidak berkurang kualitasnya saat disimpan dalam jangka waktu tertentu Tersedianya wadah Adanya keranjang angkut pengangkutan yang baik dan sesuai kapasitas produksi cocok

komplain 80% produk dapat dipasarkan 100% jumlah produk yang akan dijual dapat sampai ke pasar 90% produk tidak mengalami penurunan kualitas Target jumlah produk yang direncanakan sampai ke pasar dapat tertampung oleh keranjang angkut ini Tertampungnya produk yang akan dijual Adanya hasil analisis pasar yang dapat menjadi acuan petani

Meja display Pengembangan Pasar Analisis pasar

Tersedianya ruangan yang cocok dan baik untuk display produk Didapat informasi mengenai: -jenis konsumen -preferensi jenis produk - harga -kemasan

Produk dapat ditata dengan baik pada saat penjualan Informasi untuk menyusun strategi penjualan yang tepat dapat tersedia

12

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Ikut serta dalam pameran yang terbuka kesempatan utk jualan produk organik Pengembangan jaringan mitra pasar membuat expo produk organic

Adanya peluang pembukaan Terjadinya proses pasar yang baru penjualan di ajang tersebut Mendapatkan wadah Adanya jaringan lokasi pemasaran penjualan

10 pameran dapat diikuti Adanya 3 tempat yang bisa dipakai jualan Terselanggaranya 2 kali expo di wilayah yang strategis 1000 lembar brosur dapat tersebar 5 iklan terpasang

Pengelolaan Dana Bergulir

Calon konsumen mendapat informasi mengenai produk yang kita hasilkan pembuatan & penyebaran Pendidikan konsumen Brosur tersebar dan brosur produk dapat dibaca oleh calon konsumen Iklan di majalah, radio, dan Promosi Terpampangnya iklan surat kabar produk di media tersebut Pembentukan kelompok- Terbentuknya kelompok tani Terbentuknya 1 kelompok usaha tani yang akuntabel kelompok dengan anggota 20 orang

pengenalan Promosi

Pelatihan management usaha

Pelatihan pelaporan keuangan

deklarasi pembentukan kelompok usaha tani yang ditandatangani 20 orang Meningkatkan pengetahuan Petani mengetahui fungsi Seluruh anggota petani mengenai system usaha management usaha kelompok mengikuti yang dapat berkesinambungan pelatihan tersebut dan menguntungkan Dapat membuat dan Kelompok tani dapat Laporan keuangan menganalisis kondisi keuangan membuat laporan rutin kelompok

13

Projek Proposal
Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Masyarakat Lokal di Wilayah Koridor Gunung Salak Halimun
Durasi: 1 Tahun Jumlah dana yang diusulkan Rp 415.000.000

Monitoring dan Evaluasi Laporan

internal monitoring kelompok Adanya proses evaluasi untuk tani per bulan mengetahui tingkat kesehatan usaha Laporan tengah tahun Menjadi bahan evaluasi pencapaian kegiatan selama 6 bulan Laporan akhir kegiatan Himpunan proses kegiatan yang merupakan belajar yang tidak terputus Dokumentasi proses belajar petani

keuangan dengan benar Evaluasi berlangsung Lembar sesuai jadwal kelompok Laporan tengah tahun sebuah tepat waktu laporan

evaluasi bundle

Laporan dapat menjadi Sebuah bundle bahan ajar bagi semua laporan pihak yang terlibat -sebuah poster kegiatan -buku bertani organic bagi petani pemula -satu tulisan di media cetak -Satu presentasi di forum seminar

14