Anda di halaman 1dari 7

Tourist Area Life Cycle

TALC merupakan kepanjangan dari Tourist Area Life Cycle atau siklus kehidupan area wisata. TALC adalah sebuah kota tujuan wisata atau sebuah daerah ekonomi yang memiliki ketergantungan terhadap pendapatan yang signifikan dari kota atau daerah yang dijadikan tempat wisata. Ide dasar mengenai Tourist Area Life Cycle sebanarnya sangat sederhana. Tujuan untuk datang ke suatu daerah wisata yang dapat dikatakan tidak terkenal bahkan mungkin tidak diketahui bahwa tempat tersebut merupakan destinasi wisata. Wisatawan yang datang pun dalam jumlah kecil. Saat melakukan perjalanan atau wisata, wisatawan membutuhkan perjuangan yang lebih dibandingkan pada saat ini. Fasilitas sangatlah sedikit, akses jalan pun kurang baik, dan juga informasi mengenai destinasi tersebut sulit untuk didapatkan. Para wisatawan yang berkunjung dengan kemampuannya sendiri bereksplorasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tourist Area Life Cycle memiliki dua fase yaitu eksplorasi (Exploration) dan keterlibatan (Involvement). Pada fase eksplorasi, para wisatawan diperkenalkan destinasi tertentu. Para wisatawan pun mulai berdatangan mengunjungi destinasi wisata. Kedatangan pengunjung ini baru dalam skala kecil atau hanya sedikit orang yang berwisata. Fase kedua adalah keterlibatan, pada tahap ini turis-turis yang datang pada destinasi wisata mulai banyak. Pengunjung pun mulai membangun sarana terkait yang masih sederhana. Dampak dari pariwisata pun sudah terlihat jelas. Setelah membahas mengenai fase pada TALC, akan dibahas pula mengenai tahapan dalam TALC berdasarkan pada gambar 1. Tahapan pada TALC yaitu pengembangan (Development), konsolodasi (Consolidation), stagnansi/kesendatan (stagnation), dan peremajaan (rejuvenation). Semakin hari semakin banyak orang yang menemukan destinasi wisata, dari sanalah mulai menyebar mengenai atraksi wisata pada sebuah destinasi wisata. Tingkat kunjungan yang semakin meningkat mendorong ditingkatkannya fasilitas-fasilitas pendukung guna menyempurnakan destinasi wisata tersebut. Selain hal tersebut, mulai berkembang pula investasi-investasi dan kebijakan publik yang bertujuan untuk mempertahankan pembangunan

berkelanjutan. Perkembangan-perkembangan ini merupakan tahapan pertama yaitu tahap pengembangan.

Gambar 1 Evolusi hipotetis dari Tourist Area (Diadaptasi dari Miller dan Gallucci, 2004)

Fasilitas yang semakin baik serta atraksi yang semakin beragam mengakibatkan jumlah kunjungan wisatawan semakin meningkat tajam. Perusahaan-perusahaan nasional ataupun internasional pun mulai ambil andil dalam kepariwisataan. Meskipun ada campur tangan dari berbagai perusahaan, masyarakat sekitar masih turut serta dalam mempertahankan destinasi wisata. Dalam situasi ini tahapan pun mulai naik ke taha konsolidasi. Setelah memcapai tahap kedua, tahap selanjutnya merupakan tahap penentu. Dalam tahap ketiga yaitu tahap kesendatan, tingkat kunjungan pengunjung sampai pada puncaknya. Hal ini merupakan titik kritis dimana sebuah keputusan harus segera dibuat untuk mempertahankan destinasi wisata. Perkembangan wisatawan menuntut fasilitas yang lengkap dan dalam kondisi baik. Wisatawan akan sangat tertarik pada sebuah destinasi yang memiliki atraksi bagus dan fasilitas yang memadai. Untuk menjaga dan meningkatkan eksistensi destinasi wisata, kegiatan promosi sangat diperlukan. Promosi yang bagus dan menarik berpenguruh besar terhadap kedatangan wisatawan. Pada

pengembangan sebuah destinasi wisata, dibuatnya produk khas destinasi wisata akan menjadi daya tarik tersendiri. Pemasarannya pun akan dapat meningkat. Sebelum lanjut pada tahap terakhir, sebenarnya ada satu tahap lagi yang merupakan lanjutan dari tahap ketiga/stagnasi. Tahap tersebut adalah tahap penurunan (decline). Tahap ini akan terjadi apabila pada tahap stagnasi tidak diperhatikan secara seksama. Titik kritis dalam dahap ketiga yang tidak ditangani dengan benar dapat mengakibatkan jumlah kunjungan menurun drastis. Tahap ini merupakan tahap yang sangat sulit. Pemasaran yang menurun harus segara dipindah atau dibenahi. Pembuatan promosi harus lebih gencar lagi untuk mencapai titik keseimbangan dan memenuhi kapasitas. Apabila sebuah destinasi wisata tidak mengalami tahap penurunan, akan langsung menuju pada tahap akhir yaitu peremajaan. Pada tahap ini, sebuah destinasi wisata akan semakin disempurnakan. Dalam peremajaan akan dikembangkan teknologi baru dan juga perbaikan infrastruktur yang mengarah ke peningkatan daya dukung. Dari uraian di atas, sebagian besar baru mengarah untuk penjelasan pada poin A dan E pada gambar. Suatu destinasi wisata dapat menuju poin A, B, C, D, atau E. Hal-hal yang mempengaruhi sebuah destinasi wisata mengarah ke poin tertentu contohnya adalah meningkatnya kemacetan dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, menyebabkan sumber daya yang awalnya menarik pengunjung ke tujuan menjadi rusak, atau bahkan tidak lagi ada/hilang. Sebuah destinasi wisata yang berada pada poin-poin bawah masih dapat berbubah dan naik ke poin yang lebih tinggi. Sebaliknya, destinasi wisata yang berada pada poin bagian atas memiliki kemungkinan turun ke poin yang lebih rendah. Kerjasama dari berbagai sektor akan sangat berpengaruh bagi perubahan siklus destinasi wisata.

SISTEM PARIWISATA
Sistem Pariwisata adalah sistem yang lebih menekankan pada pengolahan dan pengelolaan data dan informasi kepariwisataan, dan menyediakan layanan baik administratif maupun teknis, yang mendukungfungsidariorganisasipengelolanya.Sistem ini menyediakan fungsi pengelolaan

pariwisata daerah, dimulai dari promosinya, manajemen pelayanan wisata (sistem pemesanan tiket, koordinasi dengan perhotelan, biro wisata,dll),pengelolaan obyek wisata dll. Sistem ini akan membantu Pemerintah Daerah untuk melakukan inventarisasi data , perencanaan, pemanfaatan,pengelolaan dan pengawasan potensi dan usaha bidang pariwisata daerah. Aplikasi ini lebih bersifat back office. Sebagian informasi yang perlu disampaikan ke publik disajikan melalui sistem informasi potensi daerah. Fungsi Sistem Pariwisata: 1. Melakukan pendataan/inventarisasi sumber-sumber potensi daerah, terutama di sektor Pariwisata,termasukdidalamnya: Pemetaan wilayah pariwisata (raw data) Pembuatan peta tematik daerah wisata dan sebarannya berdasarkan jenis obyek wisata (wisata pantai/laut, gunung/tebing, hutan/kebun atau wisata lainnya), lokasi obyek wisata, dan lain-lain. Pembuatan peta tematik sarana dan prasarana wisata meliputi hotel, restoran, tempat ibadah, spbu, tempat belanja, bank, dan lain-lain (site map wisata). 2. Menyediakan fungsi pengelolaan basis data pariwisata 3. Menyediakan sistem informasi pariwisata, meliputi: Jenis dan deskripsi obyek wisata, letak daerahnya, transportasi menuju ke obyek tersebut,programwisata,danlain-lain. Sarana dan prasarana wisata meliputi hotel, restoran, tempat ibadah, spbu, tempat belanja, bank, dan lain-lain.

4. Menyediakansistemaplikasi kepariwisataan,meliputi: Administrasi pengunjung (tiket masuk, retribusi, statistik pengunjung, dll) Sistem layanan wisata (pemesanan tiket, koordinasi dengan biro perjalanan/biro wisata, koordinasi dengan sistem perhotelan, dsb Pembukuan, administrasi umum, keuangan dan akuntansi (untuk pengelolaan tiap obyek wisata daerah)

Daftar Pustaka

http://www.destinationrecovery.com/destinationlifecycle.html http://www.slideshare.net/hillarypjenkins/tourist-area-lifecycle
http://www.egovtime.com/sistem-pariwisata/

Tugas Matakuliah Geografi Pariwisata Nasional

TLAC (Tourist Area Life Cycle) & TS (Tourism System)

Oleh : Ria Aswin Saputri 10/298829/SA/15217 PARIWISATA (A)

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada 2011

Anda mungkin juga menyukai