Anda di halaman 1dari 10

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) GENETICALLY MODIFIED ORGANISM

(GMO) PADA PRODUK PANGAN Oleh Miftahul Jannah / 0906640835 Kelompok 10

A. Definisi dan Jenis-Jenis GMO GMO (Genetically Modified Organism) adalah teknologi pengubahan susunan genetik dari organisme yang dilakukan denagan penggabungan gen dari organisme yang berbeda yang dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan, dan organisme yang dihasilkan disebur dengan "genetically modified", "rekayasa genetika," atau "transgenik." WHO (World Health Organization) memberikan definisi yang lebih terperinci lagi tentang GMO, dalam situsnya, WHO memberikan definisi GMO seperti berikut ini, Genetically Modified Organisms (GMOs) can be defined as organisms in which the genetic material (DNA) has been altered in a way that does not occur naturally. The technology is often called modern biotechnology or gene technology, sometimes also recombinant DNA technology or genetic engineering. It allows selected individual genes to be transferred from one organism into another, also between non-related species. Berdasarkan pada WHO diatas, maka GMO merupakan suatu organisme yang DNA-nya telah diubah secara tidak alami melalui suatu teknologi sehingga gen yang dimaksud dapat ditransfer dari satu organisme ke organisme lain dan juga antara organisme yang berbeda spesies. GMO (Genetically Modified Organism) atau organisme transgenik merupakan organisme yang telah mengalami modifikasi bahan genetik, sehingga secara sederhana semua organisme merupakan GMO karena dalam proses reproduksinya terjadi pencampuran bahan genetik kedua inangnya. Organisme yang bereproduksi dengan membelah diri juga mengalami modifikasi terutama dari proses mutasi dan transfer gen. Saat ini pengertian GMO telah bergeser menjadi organisme yang telah mengalami modifikasi bahan genetik dengan menggunakan teknologi DNA.

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) Adapun tanaman hasil rekayasa genetika (GMO) dikelompokan menjadi beberapa jenis, yaitu: a. Tanaman Transgenik Tahan Kekeringan Tanaman tahan kekeringan memiliki akar yang sanggup menembus tanah kering, kutikula yang tebal sehingga mengurangi kehilangan air dan kesanggupan menyesuaikan diri dengan garam di dalam sel. Tanaman toleran terhadap kekeringan ditransfer dari gen kapang yang mengeluarkan enzim trehalose. Tembakau adalah salah satu tanaman yang dapat toleran terhadap suasana kekeringan. b. Tanaman Transgenik Resisten Hama Bacillus thuringiensis menghasilkan protein toksin sewaktu terjadi sporulasi atau saat bakteri membentuk spora. Dalam bentuk spora, berat toksin mencapai 20% dari berat spora. Apabila larva serangga memakan spora, maka di dalam alat pencernaan larva serangga tersebut, spora bakteri pecah dan mengeluarkan toksin. Toksin yang masuk ke dalam membran sel alat pencernaan larva mengakibatkan sistem pencernaan tidak berfungsi dengan baik dan pakan tidak dapat diserap sehingga larva mati. Dengan membiakkan Bacillus thuringiensis kemudian diekstrak dan dimurnikan, maka akan diperoleh insektisida biologis (biopestisida) dalam bentuk kristal. Pada tahun 1985 dimulai rekayasa gen dari Bacillus thuringiensis dengan kode gen Bt toksin (Winarno dan Agustina ,2007). c. Tanaman Transgenik Resisten Penyakit Perkembangan yang signifikan juga terjadi pada usaha untuk memproduksi tanaman transgenik yang bebas dari serangan virus. Dengan memasukkan gen penyandi tanaman terselubung (coat protein) Johnson grass mosaic poty virus (JGMV) ke dalam suatu tanaman, diharapkan tanaman tersebut menjadi resisten apabila diserang oleh virus yang bersangkutan. Potongan DNA dari JGMV, misalnya dari protein terselubung dan protein nuclear inclusion body (NIB) mampu diintegrasikan pada tanaman jagung dan diharapkan akan menghasilkan tanaman transgenik yang bebas dari serangan virus. Virus JGMV menyerang beberapa tanaman yang tergolong dalam famili Graminae seperti jagung dan sorgum yang menimbulkan kerugian ekonomi

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) yang cukup besar. Gejala yang ditimbulkan dapat diamati pada daun berupa mosaik, nekrosa atau kombinasi keduanya. Akibat serangan virus ini, kerugian para petani menjadi sangat tinggi atau bahkan tidak panen sama sekali.

B. Sejarah dan Perkembangan GMO Revolusi hijau ( Green Revolution) yang diperkenalkan awal tahun 1960an yang dianggap sebagai langkah baru dalam dunia pertanian yang ditandai dengan perbaikan bercocok tanam seperti penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk yang sesuai, pemberantasan hama dan penyakit yang lebih intensif serta berbagai tindakan lainnya, memungkinkan peningkatan produksi pangan yang berasal dari tanaman pangan di seluruh dunia. Akibat dari pembangunan fisik yang terus dikembangkan,lambat laun faktor-faktor-faktor produksi pertanian seperti lahan produktif semakin banyak terkonversi menjadi lahan non pertanian. Penggunaan rekayasa genetika memiliki potensi untuk menjadi problem solving dari ancaman krisis pangan tersebut. Tanaman transgenik pertama kalinya dibuat tahun 1973 oleh Herbert Boyer dan Stanley Cohen. Pada tahun 1988 telah ada sekitar 23 tanaman transgenik, pada tahun 1989 terdapat 30 tanaman, pada tahun 1990 lebih dari 40 tanaman. Secara sederhana tanaman transgenik dibuat dengan cara mengambil gen-gen tertentu yang baik pada makhluk hidup lain untuk disisipkan pada tanaman, penyisipaan gen ini melalui suatu vektor (perantara) yang biasanya menggunakan bakteri Agrobacterium tumefeciens untuk tanaman dikotil atau partikel gen untuk tanaman monokotil, lalu diinokulasikan pada tanaman target untuk menghasilkan tanaman yang dikehendaki. Tujuan dari pengembangan tanaman transgenik ini diantaranya adalah; Tahan terhadap serangan insektisida, herbisida, virus Meningkatkan nilai gizi tanaman Meningkatkan kemampuan tanaman untuk hidup pada lahan yang ektrem seperti lahan kering, lahan keasaman tinggi dan lahan dengan kadar garam yang tinggi.

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) Melihat potensi manfaat yang disumbangkan, pendekatan bioteknologi dipandang mampu menyelesaikan problematika pangan dunia terutama di negara-negara yang sedang berkembang seperti yang sudah dilakukan di negara-negara maju (Winarno dan Agustina,2007). Antara tahun 1996-2001 telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan dalam adopsi atau penanaman tanaman GMO (Genetically Modified Organism) di seluruh dunia. Peningkatan luas tanam GMO tersebut mengindikasikan semakin banyaknya petani yang menanam tanaman ini baik di negara maju maupun di negara berkembang. Sebagian besar tanaman transgenik ditanam di negara-negara maju. Amerika Serikat sampai sekarang merupakan negara produsen terbesar di dunia. Pada tahun 2001, sebanyak 68% atau 35,7 juta ha tanaman transgenik ditanam di Amerika Serikat.

C. Dampak Positif dan Negatif GMO Teknologi rekayasa genetika dapat menjadi strategi dalam peningkatan produksi pangan dengan keunggulan-keunggulan sebagai berikut:

Mereduksi kehilangan dan kerusakan pasca panen Mengurangi resiko gagal panen Meningkatkan rendemen dan produktivitas Menghemat pemanfaatan lahan pertanian Mereduksi kebutuhan jumlah pestisida dan pupuk kimia Meningkatkan nilai gizi Tahan terhadap penyakit dan hama spesifik, termasuk yang disebabkan oleh virus. Berbagai keunggulan lain dari tanaman yang diperoleh dengan teknik rekayasa

genetika adalah sebagai berikut : 1. Menghasilkan jenis tanaman baru yang tahan terhadap kondisi pertumbuhan yang keras seperti lahan kering, lahan yang berkadar garam tinggi dan suhu lingkungan yang ekstrim. Bila berhasil dilakukan modifikasi genetika pada tanaman, maka dihasilkan asam lemak linoleat yang tinggi yang menyebabkan mampu hidup dengan baik pada suhu dingin dan beku.

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) 2. Toleran terhadap herbisida yang ramah lingkungan yang dapat mengganggu gulma, tetapi tidak mengganggu tanaman itu sendiri. Contoh kedelai yang tahan herbisida dapat mempertahankan kondisi bebas gulamnya hanya dengan separuh dari jumlah herbisida yang digunakan secara normal 3. Meningkatkan sifat-sifat fungsional yang dikehendaki, seperti mereduksi sifat atau daya alergi (toksisitas), menghambat pematangan buah, kadar pati yang lebih tinggi serta daya simpan yang lebih panjang. Misalnya, kentang yang telah mengalami teknologi rDNA, kadar patinya menjadi lebih tinggi sehingga akan menyerap sedikit minyak bila goreng (deep fried). Dengan demikian akan menghasilkan kentang goreng dengan kadar lemak yang lebih rendah. 4. Sifat-sifat yang lebih dikehendaki, misalnya kadar protein atau lemak dan meningkatnya kadar fitokimia dan kandungan gizi. Kekurangan gizi saat ini telah melanda banyak negara di dunia terutama negara miskin dan negara berkembang. Kekurangan gizi yang nyata adalah kekurangan vitamin A, yodium, besi dan zink. Untuk menanggulanginya, dapat dilakukan dengan menyisipkan den khusus yang mampu meningkatkan senyata-senyawa tersebut dalam tanaman. Contohnya telah dikembangkan beras yang memiliki kandungan betakaroten dan besi sehingga mampu menolong orang yang mengalami defisiensi senyawa tersebut dan mencegah kekurangan gizi pada masyarakat. Namun, produk pangan GMO juga diduga menyebabkan timbulnya dampak negatif, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. kemungkinan terjadinya gangguan pada keseimbangan ekologi 2. Terbentuknya resistensi terhadap antibiotik 3. Dikuatirkan dapat terbentuknya senyawa toksik, allergen atau terjadinya perubahan nilai gizi.

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) D. Contoh Produk Pangan Hasil GMO 1. Kacang Kedelai Kedelai rekayasa genetik pertama ditanam di Amerika Serikat pada tahun 1996. Barulah lebih dari sepuluh tahun kemudian, kedelai GM ini ditanam di sembilan negara mencakup lebih dari 60 juta hektar. Kedelai GM ini memiliki gen yang memberikan resistensi herbisida. Amerika Serikat (85%) dan Argentina (98%) menghasilkan hampir secara eksklusif kedelai GM. Di negara-negara ini, kedelai GM disetujui tanpa pembatasan dan diperlakukan sama seperti kedelai konvensional. Produsen dan pejabat pemerintah di AS dan Argentina tidak melihat alasan untuk membedakan kedelai GM dan konvensional baik pada saat panen, pengiriman, penyimpanan atau pengolahan.

2. Kapas Sebagian besar kapas GM ditanam di India dan Amerika Serikat, tetapi juga dapat ditemukan di Cina, Argentina, Afrika Selatan, Australia, Meksiko, dan Columbia. GM kultivar ditanam saat ini resisten terhadap herbisida orinsek hama.

Lebih dari setengah (68%) dari produksi kapas Cina genetik dimodifikasi untuk menghasilkan zat (Bt toksin) yang melindunginya terhadap hama serangga. Di Indonesia, pernah dilakukan penanaman kapas transgenik yang diprakarsai oleh Monsato. Namun, penanaman uji coba ini akhirnya gagal dilakukan.

3. Beras Golden Rice adalah beras yang berwarna kuning keemasan dan sangat berbeda dengan beras pada umumnya yang berwarna putih. Beras tersebut merupakan hasil rekayasa genetika, melalui penyisipan gen psy atau gen penyandi phytoene synthase, digabungkan dengan gen crtl atau gen penyandi carotene desaturase. Gabungan sisipan kedua gen tersebut berhasil meningkatkan kandungan beta karoten hingga 23 kali kandungan beta karoten pada beras keemasan generasi pertama yang ditemukan 5 tahun yang lalu di Swiss. Bahkan dibandingkan dengan tomat dan cabe yang juga

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) mengandung beta karoten, beras keemasan ini masih memiliki kandungan beta karoten yang lebih tinggi. Selain Golden Rice, peneliti juga mengembangkan varietas baru. Varietas ini dikembangkan di Jepang untuk mengembangkan kultivar padi yang aman dikonsumsi untuk orang-orang yang alergi terhadap beras.

4.

Jagung Upaya peningkatan produksi jagung dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara

lain melalui perbaikan genetik tanaman. Perbaikan genetik jagung bertujuan untuk mengatasi kendala pertumbuhan tanaman, terutama cekaman lingkungan biotik dan abiotik (Sustiprijatno, 2010). Perbaikan genetik jagung dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik (genetic engeenering). Dalam rekayasa genetik jagung, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Herman 1997).

5. Kentang Penyakit Late Blight atau yang biasa dikenal hawar daun pada kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan penyakit yang sering menjadi kendala dalam budidaya kentang. Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans, penyakit ini menjadi salah satu penyakit penting pada tanaman kentang di Indonesia. Saat ini di Indonesia belum terdapat varietas kentang yang tahan terhadap penyakit hawar daun, sehingga menyulitkan petani untuk menghindari penyakit ini. Namun beberapa tahun terakhir ini sudah ada usaha dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), yang bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian baik dalam maupun luar negeri untuk mendapat calon varietas kentang yang tahan terhadap penyakit hawar daun.Varietas Katahdin

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) merupakan kentang transgenik yang berhasil dikembangkan oleh Universitas Wisconsin yang memiliki gen RB, yaitu sebuah gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun. Gen RB tersebut dihasilkan dari isolasi gen yang terdapat pada kerabat kentang liar (Solanum bulbocastanum) yang banyak terdapat di Amerika (Hermawan, 2007).

6. Tomat Transgenik Pada pertanian konvensional, tomat harus dipanen ketika masih hijau tapi belum matang. Hal ini disebabkan akrena tomat cepat lunak setelah matang. Dengan demikian, tomat memiliki umur simpan yang pendek, cepat busuk dan penanganan yang sulit. Tomat pada umumnya mengalami hal tersebut karena memiliki gen yang menyebabkan buah tomat mudah lembek. Hal ini disebabkan oleh enzim poligalakturonase yang berfungsi mempercepat degradasi pektin. Tomat transgenik memiliki suatu gen khusus yang disebut antisenescens yang memperlambat proses pematangan (ripening) dengan cara memperlambat sintesa enzim poligalakturonase sehungga menunda pelunakan tomat. Dengan mengurangi produksi enzim poligalakturonase akan dapat diperbaiki sifat-sifat pemrosesan tomat. Varietas baru tersebut dibiarkan matang di bagian batang tanamannya untuk waktu yang lebih lama sebelum dipanen. Bila dibandingkan dengan generasi tomat sebelumnya, tomat jenis baru telah mengalami perubahan genetika, tahan terhadap penanganan dan ditransportasi lebih baik, dan kemungkinan pecah atau rusak selama pemrosesan lebih sedikit.

E. Tahapan Sampainya Produk Pangan GMO di Pasaran Tahapan sampainya produk pangan hasil rekayasa genetika di pasaran berbeda-beda pada masing-masing negara karena terkait dengan regulasi yang berlaku di masingmasing negara tersebut. Berikut adalah beberapa tahapan yang harus dilalui produk pangan GMO sampai dipasaran di Indonesia, yaitu: 1. Tahapan Pengajuan Produk GMO

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) Pada tahapan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah sebagai berikut: - Pihak yang akan mengajukan atau memasarkan produk pangan rekayasa genetika (GMO) mengajukan permohonan kepada komisi keamanan pangan

BPOM/Kementrian. - Proponen mengisi sesuia format dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan. - Ketidaklengkapan berakibat pada pengembalian dokumen yang harus diisi ulang dan diajukan kembali dalam tempo empat belas hari. 2. Tahapan Pengkajian Produk Mekanisme pengkajian produk dilakukan oleh komisi keamanan pangan. Data yang diterima akan dievaluasi oleh tim teknis yang telah ditentukan dalam jangka waktu 56 hari. Selanjutnya barulah didapatkan hasil evaluasi teknis yang memutuskan produk tersebut bisa atau tidak mendapatkan sertifikat keamanan pangan. Jika Produk tersebut lolos tahap evaluasi dan mendapatkan sertifikat keamanan pangan, dilanjutkan dengan tahapan selanjutnya. 3. Tahap pemberian label dan periklanan Proses pemberian label dan periklanan produk pangan hasil rekayasa genetika (GMO) sebelum sampai dipasaran telah diatur oleh peraturan pemerintah No. 69/1999, yang pada dasarnya mengatur tentang; - Memberikan informasi pangan yang mengandung atau tidak mengandung produk rekayasa genetika kepada konsumen. - Konsumen memiliki hak untuk memilih mengkonsumsi atau tidak produk hasil rekayasa genetika tersebut. - Dilabel jika kandungan produk rekayasa genetika dalam kemasan melebihi ambang batas yang telah ditetapkan pemerintah (5%). 4. Produk hasil rekayasa genetika (GMO) bisa dipasarkan.

Lembar Tugas Mahasiswa (LTM) 2 Mata Kuliah Bioetika Tema : Genetically Modified Organism (GMO) DAFTAR PUSTAKA [1] Suhartono, Maggy Thenawidjaja. Keamanan dan Pelabelan GMO pada Produk Pangan dalam http://scribd.com/Keamanan-Dan-Pelabelan-Gmo-Pada-Produk-Pangan-

Prof-Maggy-Thenawidjaja.htm, diakses pada tanggal 25 Maret 2012. [2] Koswara, Sutrisno. Labelisasi dan Teknik Deteksi GMO dalam www.ebookpangan.com, diakses pada tanggal 25 Maret 2012. [3] Mahasiswa ITP-FTP UB. 2010. Penggunaan Rekayasa Genetika Pada Tanaman (Genetically Modified Organism) Dikaji Dari Sisi Positif dalam http://wordpress.com penggunaan rekayasa genetika pada tanaman (genetically modified organism) dikaji dari sisi positif sir ossiris home site.htm, diakses pada tanggal 19 Maret 2012. [4] Adlhiyati, Zakki. 2009. Produk rekayasa Genetika (GMO/Genetically Modified Organism) sebagai subjek perlindungan paten dan Perlindungan varietas tanaman. Semarang: Universitas Diponegoro (49).

10