Strategi Pembelajaran PAI Multikultural
Strategi Pembelajaran PAI Multikultural
Disusun Oleh:
LATAR BELAKANG
Dalam era globalisasi yang semakin kompleks, keberagaman budaya dan agama menjadi realitas
sosial yang tidak dapat dihindari. Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai mata pelajaran yang
bertujuan membentuk karakter dan moral peserta didik memiliki peran strategis dalam
menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama. Namun, berbagai penelitian
menunjukkan bahwa pembelajaran PAI masih menghadapi sejumlah tantangan dalam
mengakomodasi keberagaman siswa dan membentuk karakter inklusif yang menghargai
perbedaan (Artikel et al., 2025). Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tantangan ini adalah
keterbatasan metode pengajaran, kurangnya pelatihan guru dalam pendidikan multikultural, serta
minimnya integrasi teknologi dalam pembelajaran PAI (Rahayu, 2023). Tanpa strategi yang tepat,
peserta didik mungkin kurang mendapatkan pengalaman belajar yang mendorong pemahaman
dan penghormatan terhadap perbedaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru dalam
pengajaran PAI yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan keberagaman
sosial. Hal ini menjadi dasar bagi penelitian ini untuk mengembangkan strategi optimalisasi
pembelajaran PAI berbasis multikultural.
Berbagai studi telah menyoroti pentingnya pendidikan multikultural dalam pembelajaran PAI.
Pendekatan ini dinilai efektif dalam membentuk karakter toleran dan inklusif bagi siswa, yang
sangat relevan dalam masyarakat yang semakin plural (Pembelajaran et al., n.d.) . Namun,
sebagian besar implementasi pendidikan multikultural dalam PAI masih terbatas pada aspek
kurikulum dan metode konvensional. Strategi pembelajaran yang digunakan masih bersifat
tradisional dan belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan siswa dengan latar belakang
budaya dan agama yang berbeda. Selain itu, pemanfaatan teknologi sebagai instrumen
pembelajaran inovatif masih kurang dioptimalkan dalam proses pengajaran
(muslim & tang, 2024)
. Penggunaan teknologi yang tepat dapat membantu dalam menciptakan pengalaman
belajar yang lebih interaktif dan mendalam bagi siswa. Oleh sebab itu, penting untuk
mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat diintegrasikan dalam strategi pembelajaran PAI
berbasis multikultural guna meningkatkan efektivitasnya.
Beberapa penelitian telah membahas strategi pembelajaran berbasis multikultural dalam PAI,
seperti melalui pendekatan kooperatif, analisis nilai, dan pembelajaran berbasis proyek
(Artikel et al., 2025)
. Metode-metode ini terbukti dapat meningkatkan interaksi antar siswa dan mendorong
pemahaman yang lebih luas tentang keberagaman agama dan budaya. Namun, penelitian-
penelitian ini cenderung tidak secara eksplisit mengintegrasikan teknologi digital sebagai alat
pendukung utama dalam pembelajaran. Padahal, teknologi digital memiliki potensi besar dalam
membantu siswa mengakses informasi lebih luas dan memahami nilai-nilai moderasi beragama
secara lebih mendalam (Agama & Ramadani, 2024). Selain itu, nilai moderasi beragama sering
kali belum menjadi bagian integral dalam strategi pembelajaran yang diterapkan di berbagai
institusi pendidikan. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan akan kajian yang lebih
komprehensif untuk menghubungkan antara teknologi, pendidikan multikultural, dan nilai
moderasi beragama dalam PAI. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha untuk mengisi
kesenjangan tersebut dengan mengembangkan model pembelajaran yang lebih holistik dan
terintegrasi. Kelemahan utama dalam literatur yang ada adalah kurangnya kajian yang
menghubungkan secara sistematis antara teknologi digital, strategi pembelajaran berbasis
multikultural, dan nilai moderasi beragama dalam PAI (Ridwan et al., 2024).
Banyak penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti aspek individual dari pendekatan tersebut
tanpa memberikan model yang dapat diterapkan secara luas. Hal ini menyebabkan kurangnya
panduan praktis bagi para pendidik dalam mengadaptasi metode yang lebih sesuai dengan
kebutuhan siswa. Selain itu, belum banyak studi yang mengkaji bagaimana teknologi dapat
dimanfaatkan untuk mengajarkan nilai-nilai moderasi beragama dalam konteks pendidikan
multikultural. Kurangnya instrumen evaluasi yang terstandarisasi juga menjadi kendala dalam
mengukur efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk menyusun strategi yang dapat mengatasi kekurangan tersebut dengan
pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis bukti. Dengan demikian, hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam perbaikan pembelajaran PAI.
Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menawarkan strategi optimalisasi pembelajaran PAI
berbasis multikultural melalui integrasi teknologi dan nilai moderasi beragama.
I. Rumusan Masalah
1. Bagaimana strategi optimalisasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis
multikultural melalui penggunaan teknologi digital?
2. Bagaimana pendekatan multikultural dalam pembelajaran PAI dapat diterapkan untuk
meningkatkan sikap toleransi dan inklusivitas siswa?
3. Apa saja Tantangan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan multikultural dalam
PAI, dan bagaimana cara mengatasinya?
Model dan strategi pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) terus berkembang seiring
dengan perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Nurfirdausi menyoroti implementasi E-
Modul sebagai inovasi dalam pembelajaran PAI yang berorientasi pada peningkatan aksesibilitas
dan efektivitas melalui teknologi digital (Nurfirdausi et al., 2022) . Sejalan dengan itu, Nurlaili
menekankan bahwa pembelajaran berbasis multikultural dapat membangun kesadaran
keberagaman sejak dini dengan mendorong interaksi sosial yang lebih inklusif
(Pembelajaran et al., n.d.)
. Namun, kedua pendekatan ini belum secara eksplisit mengkaji tantangan implementasi
dalam konteks keberagaman peserta didik, kesiapan pendidik, serta efektivitas jangka
panjangnya. Sementara itu, Sigalingging menelaah peran strategi pembelajaran PAI dalam
menumbuhkan nilai moderasi beragama di sekolah multikultural dan menemukan bahwa strategi
berbasis dialog serta studi kasus efektif dalam membangun toleransi, meskipun masih terdapat
hambatan seperti minimnya pelatihan guru serta pengaruh lingkungan sosial (Sigalingging, n.d.).
Jika dibandingkan, penelitian Nurfirdausi lebih berfokus pada aspek teknologi dalam
pembelajaran PAI, sementara Nurlaili menitikberatkan pada pendekatan sosial-multikultural, dan
Sigalingging menelaah tantangan moderasi beragama di sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini
berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan merancang strategi pembelajaran PAI yang
mengombinasikan digitalisasi, pendekatan multikultural, serta nilai moderasi beragama dalam
satu kerangka pembelajaran yang holistik dan kontekstual. Penerapan metode Active Learning
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam terbukti mampu meningkatkan aktivitas belajar
peserta didik dengan menciptakan suasana yang lebih interaktif, menyenangkan, serta
mendorong keterlibatan aktif siswa dalam memahami materi ajar. (fauzi nasrul, 2022)
Peran Guru dalam Pendidikan Multikultural pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
berperan penting dalam membentuk sikap toleransi dan kesadaran terhadap keberagaman sosial
serta budaya. Guru memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai multikultural
melalui kurikulum serta metode pembelajaran yang interaktif, seperti role playing dan
cooperative learning. Implementasi pendidikan multikultural bertujuan agar siswa tidak hanya
memahami ajaran Islam secara tekstual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan
bermasyarakat yang beragam. Selain itu, pendidikan Islam yang berbasis multikultural
menekankan nilai-nilai keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan yang harus diterapkan dalam
interaksi sosial. Oleh karena itu, guru perlu menjadi teladan dalam bersikap adil, objektif, serta
menggunakan bahasa yang santun tanpa menyinggung perbedaan agama atau suku. Kurikulum
PAI juga harus lebih inklusif dengan menanamkan kesadaran terhadap keberagaman melalui
diskusi reflektif dan studi kasus (Huda, 2021). Dengan demikian, pendidikan multikultural dalam
PAI dapat membentuk karakter siswa agar lebih terbuka dan mampu hidup berdampingan secara
harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.
Pendidikan multikultural merupakan pendekatan dalam dunia pendidikan yang bertujuan untuk
membangun kesadaran akan keberagaman dan mendorong sikap toleransi serta penghargaan
terhadap perbedaan budaya, agama, dan latar belakang sosial. Penelitian yang dilakukan di SMK
Ulil Albab dan SMK Al-Musyawirin menunjukkan bahwa implementasi pendidikan agama Islam
berbasis multikultural dapat membantu membentuk karakter peserta didik yang lebih religius,
toleran, dan memiliki nilai-nilai moral yang kuat (Rahayu, 2023). Melalui pendekatan ini, siswa
tidak hanya dibekali dengan aspek kognitif, tetapi juga dengan keterampilan sosial yang
memungkinkan mereka untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang heterogen.
Sementara itu, penelitian di SMA Islam Terpadu Ar-Rahmah Makassar menyoroti pentingnya
pengembangan kurikulum yang inklusif dengan materi pembelajaran yang mencerminkan
keberagaman budaya dan agama (muslim & tang, 2024). Evaluasi terhadap penerapan kurikulum
ini menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pendidikan berbasis multikultural cenderung
memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap konsep keberagaman dan menunjukkan sikap
yang lebih terbuka terhadap perbedaan. Namun, kedua penelitian ini juga mengidentifikasi
beberapa tantangan dalam implementasi pendidikan multikultural, seperti kurangnya pelatihan
bagi tenaga pendidik dan keterbatasan sarana serta metode pembelajaran yang efektif.
implementasi budaya toleransi beragama melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam
berbasis multikultural di sekolah dasar dengan mengintegrasikan nilai keberagaman dalam
kurikulum dan kegiatan pembelajaran (Ridwan et al., 2024) . Oleh karena itu, diperlukan upaya
berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas kurikulum serta memberikan pelatihan bagi guru
agar pendidikan multikultural dapat diterapkan secara optimal dalam lingkungan pendidikan.
Guru memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan nilai multikultural dalam Pendidikan
Agama Islam untuk membangun sikap toleransi dan menciptakan lingkungan belajar yang
harmonis. (Fauzi et al., 2022)
Pendidikan karakter dalam Islam berfokus pada pembentukan akhlak luhur dan nilai moral untuk
menciptakan individu yang beriman dan bertanggung jawab. Dalam pendidikan agama Islam
(PAI), pendekatan multikultural menjadi strategi penting dalam menanamkan sikap toleransi di
tengah keberagaman. (Agama & Ramadani, 2024) Penelitian di SD Swasta Melati Kota Medan
menunjukkan bahwa PAI berbasis multikultural menciptakan lingkungan belajar inklusif yang
mengajarkan penghormatan terhadap keberagaman. Studi di SMP Negeri 5 Sambas juga
menegaskan bahwa kebijakan penerimaan siswa tanpa diskriminasi dan pembelajaran berbasis
saling menghargai berkontribusi pada budaya toleransi. Namun, masih ada tantangan seperti
kurangnya pemahaman guru tentang multikulturalisme dan keterbatasan bahan ajar
(Pendidikan Islam et al., n.d.)
. Inovasi dalam pembelajaran PAI melalui penggunaan media digital seperti e-
modul terbukti meningkatkan keterlibatan siswa dan efektivitas pembelajaran, namun tantangan
seperti kesiapan guru dan keterbatasan infrastruktur harus diatasi melalui pelatihan dan kebijakan
pendidikan yang mendukung pemanfaatan teknologi secara optimal (Suharnianto, 2020) . Oleh
karena itu, pengembangan kurikulum inklusif serta pelatihan guru diperlukan untuk
mengoptimalkan pendidikan Islam. Upaya ini penting untuk membentuk karakter peserta didik
yang toleran dan berkeadaban. Inovasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
mencakup penerapan model berbasis multikultural yang mengintegrasikan nilai-nilai toleransi,
sikap inklusif, serta pendekatan interaktif guna membentuk karakter siswa yang mampu
menghargai keberagaman, meskipun implementasinya menghadapi tantangan seperti
keterbatasan sumber daya dan kurangnya pemahaman guru. (Tinggi et al., n.d.)
Inovasi pembelajaran PAI dapat dilakukan dengan melalui berbagai pendekatan, seperti
penggunaan e-modul berbasis teknologi, metode active learning, dan model pembelajaran
kontekstual atau disebut Contextual Teaching and Learning disingkat TCL. Penggunaan e modul
berbasis teknologi dalam pembelajaran PAI telah terbukti menjadi solusi inovatif untuk
meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. E-modul yang dikembangkan berbasis aplikasi
dapat membantu siswa memahami materi secara lebih interaktif melalui fitur visual menarik
seperti gambar, video, dan kuiz interaktif. Selain itu e-modul memungkinkan pembelajaran yang
lebih mandiri dan fleksibel, terutama dalam situasi pembelajaran terbatas seperti pada saat
pandemi kemarin. (Nurfirdausi et al., 2022) Sementara itu, penerapan metode active learning
dalam pembelajaran PAI berfokus pada peningkatan keterlibatan siswa. Metode ini terbukti
efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa karena menghindari model pembelajaran
yang dilakukan secara ceramah yang monoton. Dengan strategi seperti diskusi, kerja kelompok,
dan tanya jawab, siswa lebih aktif dalam memahami materi, menunjukkan peningkatan
keterlibatan secara signifikan dari satu siklus ke siklus berikutnya (Pembelajaran et al., n.d.) .
Adapun penggunaan model CTL dalam pembelajaran PAI juga memberikan manfaat besar.
Model ini menekankan keterkaitan antara materi ajar dengan kehidupan sehari-hari siswa,
sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pendekatan CTL juga membantu menanamkan
nilai-nilai multikulturalisme dan toleransi melalui konteks sosial yang nyata, menciptakan
suasana belajar yang lebih inklusif dan interaktif. (Sigalingging, n.d.)
Berdasarkan pengamatan pustaka yang ada, penelitian ini berusaha untuk mengisi kekurangan
yang ada pada penelitian sebelumnya tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
berbasis multikultural. Penelitian-penelitian sebelumnya sering terfokus pada aspek tertentu,
seperti penggunaan teknologi dalam pembelajaran (seperti e-modul), atau hanya menekankan
pada pentingnya pendekatan sosial dalam pendidikan multikultural. Namun, penelitian ini ingin
menyatukan keduanya dengan cara yang lebih komprehensif. Dalam hal ini, penelitian ini
menggabungkan teknologi digital, pendekatan multikultural, dan nilai moderasi beragagama.
Penelitian sebelumnya juga belum banyak membahas tantangan yang ada dalam penerapan
pendidikan multikultural, seperti bagaimana mengatasi hambatan pemahaman yang terbatas dari
guru tentang keberagaman dan kurangnya pelatihan bagi pendidik. Selain itu, kurikulum yang
ada juga sering kali belum sepenuhnya mendukung pembelajaran multikultural yang efektif.
Oleh karena itu, penelitian ini fokus untuk merancang strategi pembelajaran yang mengatasi
tantangan-tantangan tersebut, dengan cara meningkatkan kualitas kurikulum, memberikan
pelatihan untuk guru, dan menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif serta inklusif.
Tujuannya adalah agar pendidikan agama Islam bisa menjadi lebih baik.
Integrasi teknologi dalam pembelajaran PAI berbasis multikultural berperan sebagai alat bantu
dalam menyampaikan materi secara lebih interaktif dan mudah diakses. Teknologi
memungkinkan penyampaian nilai-nilai keberagaman melalui berbagai media, seperti e-learning,
multimedia interaktif, dan forum diskusi daring. Platform pembelajaran digital, seperti Google
Classroom, Moodle, dan Edmodo, dapat digunakan untuk menyampaikan materi berbasis
multikulturalisme dan moderasi beragama dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan dinamis.
Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan big data dalam pembelajaran memungkinkan
personalisasi materi sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga pembelajaran dapat lebih
efektif dan relevan dengan konteks sosial-budaya mereka
Nilai moderasi beragama menjadi elemen penting dalam pembelajaran PAI berbasis
multikultural. Moderasi beragama bertumpu pada konsep keseimbangan dalam memahami ajaran
Islam, menghindari ekstremisme, serta membangun sikap toleran terhadap keberagaman.
Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa moderasi beragama mencakup empat prinsip utama,
yaitu tawassuth (jalan tengah), tawazun (keseimbangan), i’tidal (keadilan), dan tasamuh
(toleransi). Dalam implementasi pembelajaran PAI, nilai-nilai moderasi ini dapat diterapkan
melalui materi ajar yang inklusif serta metode pembelajaran yang berbasis dialog antar budaya.
(Wathon, 2025)
Teknologi digital juga dapat digunakan sebagai sarana penyebaran nilai-nilai
moderasi melalui aplikasi edukasi, media sosial, serta konten digital berbasis kajian Islam yang
moderat.
Dalam penelitian ini, strategi optimalisasi pembelajaran PAI berbasis multikultural dibangun di
atas tiga pilar utama: teori multikulturalisme, integrasi teknologi, dan nilai moderasi beragama.
Model teoritis yang diusulkan menempatkan teori multikulturalisme sebagai dasar dalam
pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran PAI. Integrasi teknologi berfungsi sebagai
media dalam penyampaian materi dan membangun keterlibatan peserta didik secara lebih luas.
Sementara itu, moderasi beragama menjadi nilai utama yang harus diinternalisasikan dalam
setiap aspek pembelajaran untuk memastikan bahwa peserta didik memahami Islam sebagai
agama yang damai, inklusif, dan menghargai perbedaan.
Dengan pendekatan ini, diharapkan pembelajaran PAI dapat menjadi lebih relevan dengan
kebutuhan zaman serta mampu membentuk generasi yang tidak hanya memahami Islam secara
tekstual, tetapi juga kontekstual dalam kehidupan bermasyarakat yang multikultural. Integrasi
antara teori multikulturalisme, teknologi, dan nilai moderasi beragama akan membantu
menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan harmonis, sesuai dengan prinsip Islam
sebagai rahmatan lil ‘alamin.
- Jumlah Sampel: 2 kelas dari sekolah (kelas eksperimen dan kelas kontrol).
• Sekolah memiliki akses terhadap teknologi pembelajaran. Sampel ini memungkinkan penelitian
untuk menguji efektivitas pendekatan yang diterapkan.
4. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini berbentuk hipotesis kausal, yaitu:
a. H₁ (Hipotesis utama ): Pembelajaran PAI yang mengintegrasikan teknologi dan nilai
moderasi beragama diterima secara positif oleh siswa dan memperkuat sikap toleransi serta
inklusivitas mereka dalam konteks multikultural.
b. H₁ (Hipotesis Turunan): dari penelitian ini mencakup beberapa pernyataan yang
mendukung hipotesis utama. Pertama, H₁a menyatakan bahwa siswa menilai bahwa penggunaan
teknologi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mempermudah pemahaman dan
meningkatkan motivasi belajar. Selanjutnya, H₁b menunjukkan bahwa siswa merasakan
penguatan nilai multikultural melalui materi dan metode pembelajaran PAI. H₁c menegaskan
bahwa pembelajaran PAI telah menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan
sehari-hari siswa. Terakhir, H₁d mengemukakan bahwa integrasi teknologi dan nilai
multikultural membuat siswa lebih aktif dan terbuka terhadap perbedaan. Dengan demikian,
hipotesis-hipotesis ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak positif dari pendekatan
pembelajaran yang inovatif dan inklusif dalam konteks pendidikan agama.
5. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini dibagi menjadi dua kategori utama:
a. Variabel Independen (X) Variabel yang diberikan perlakuan, yaitu:
Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran PAI
Definisi:
Penggunaan media digital, aplikasi edukasi, dan platform pembelajaran daring dalam mengajar
PAI.
Sub-variabel: Pemanfaatan Learning Management System (LMS). Penggunaan aplikasi edukasi
Islam interaktif. Integrasi video pembelajaran interaktif.
Nilai Multikultural dalam Pembelajaran PAI
Definisi:
Penguatan nilai keberagaman, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Sub-variabel: penghargaan terhadap perbedaan budaya dan agama
• Nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran PAI
Definisi:
Nilai-nilai seperti tawassuth, i’tidal, dan tasamuh yang diajarkan dalam PAI.
Sub-variabel: Sikap moderat dalam beragama (tawassuth), Keteladanan guru dalam sikap
toleran, Penghargaan terhadap keyakinan berbeda, Penolakan terhadap fanatisme dan
intoleransi.
Variabel Dependen (Y) Variabel yang diukur sebagai dampak dari penerapan intervensi:
• Efektivitas Pembelajaran PAI Berbasis Multikultural
Definisi:
Persepsi siswa tentang kemudahan memahami materi, partisipasi, dan relevansi pembelajaran.
Sub-variabel: Pemahaman terhadap Islam yang inklusif. Sikap toleransi dalam kehidupan sehari-
hari. Partisipasi siswa dalam diskusi keberagaman agama.
V. HASIL PENELITIAN
Dari table di atas diketahui bahwa, nilai rata-rata (mean) hasil pra tes adalah 80,13,
sedangkan nilai rata-rata hasil pos tes adalah 84,00. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan
skor setelah pelaksanaan pembelajaran berbasis multikultural dan integrasi teknologi.
Peningkatan ini mengindikasikan adanya perubahan pemahaman atau sikap siswa setelah
mengikuti pembelajaran.
N Correlation Sig.
Dari table di atas diketahui bahwa, terdapat korelasi yang cukup kuat (r = 0.508)
antara skor pra-tes dan pos-tes dengan tingkat signifikansi 0.000 (< 0.05), yang menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua skor tersebut. Artinya, perubahan
skor dari sebelum ke sesudah perlakuan tidak terjadi secara kebetulan.
Paired Differences
Pair 1 Pra Tes - -3.867 8.879 1.324 -6.534 -1.199 -2.921 44 .005
Pos Tes
Dari table di atas diketahui bahwa, nilai perbedaan rata-rata adalah -3.867 (nilai
pos tes lebih tinggi), dengan nilai t sebesar -2.921 dan signifikansi (p-value) 0.005. Karena nilai
signifikansi lebih kecil dari 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan antara hasil pra tes dan pos tes. Artinya, pembelajaran PAI berbasis multikultural
yang terintegrasi dengan teknologi dan nilai-nilai moderasi beragama terbukti efektif dalam
meningkatkan pemahaman siswa.
Dalam konteks penelitian ini, variabel independen (X) adalah pembelajaran PAI berbasis
multikultural melalui integrasi teknologi dan nilai moderasi beragama, sementara variabel
dependen (Y) adalah efektivitas pembelajaran, yang diukur dari perbedaan skor pre-test dan
post-test siswa.
Tabel Statistik Deskriptif dan Korelasi (Tabel 1 & 2) menggambarkan variabel Y dalam dua
kondisi (sebelum dan sesudah perlakuan).
Tabel Uji t (Tabel 3) merupakan analisis inferensial yang menunjukkan pengaruh variabel
X terhadap variabel Y, di mana terdapat peningkatan signifikan hasil belajar siswa setelah
mengikuti pembelajaran berbasis multikultural yang terintegrasi dengan teknologi.
D. Pembahasan
Temuan ini memperkuat hipotesis penelitian bahwa pembelajaran PAI yang terintegrasi
dengan pendekatan multikultural, teknologi, dan nilai-nilai moderasi beragama memberikan
dampak positif terhadap efektivitas pembelajaran siswa. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan
multikultural Banks (2001), yang menekankan pentingnya penghargaan terhadap keragaman
dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Selain itu, integrasi teknologi terbukti
meningkatkan keterlibatan siswa dan mempermudah penyampaian materi ajar.
Peningkatan hasil post-test menunjukkan bahwa siswa lebih memahami materi PAI dalam
konteks multikultural yang relevan dengan kehidupan mereka. Selain itu, nilai moderasi seperti
toleransi, keadilan, dan keseimbangan lebih mudah diinternalisasi melalui pendekatan
pembelajaran yang bersifat interaktif dan kontekstual.
Sebagai bagian dari pendekatan Participatory Action Research (PAR), peneliti melakukan
tindakan dalam bentuk inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dan nilai-nilai
multikultural serta moderasi beragama. Tindakan ini dilakukan melalui pembelajaran berbasis
video, di mana peneliti menayangkan sebuah video pengajaran yang membahas secara tematik
tentang nilai-nilai moderasi beragama seperti tawassuth (jalan tengah), tasamuh (toleransi),
i’tidal (keadilan), dan tawazun (keseimbangan). Pemutaran video ini bertujuan untuk
menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual, serta membantu
siswa memahami pentingnya sikap moderat dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat
yang multikultural. Konten video berisi ilustrasi kasus nyata, wawancara singkat, dan narasi
tentang bagaimana umat beragama dapat hidup berdampingan secara damai tanpa meniadakan
keyakinannya masing-masing.
Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik siswa generasi digital, yang
cenderung lebih tertarik pada media visual dan audiovisual daripada metode ceramah
tradisional. Selain itu, video menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan-pesan moral
secara mendalam dan menyentuh aspek afektif siswa, sehingga mereka tidak hanya memahami
konsep secara kognitif, tetapi juga mengalami dan merenungkannya secara emosional dan
sosial. Setelah menonton video, siswa diajak berdiskusi dan merefleksikan isi video tersebut
melalui pertanyaan-pertanyaan kritis yang mendorong mereka untuk mengaitkan materi dengan
kehidupan nyata mereka. Proses ini bertujuan untuk memperkuat nilai toleransi, sikap terbuka,
dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai bagian dari implementasi moderasi beragama.
Dengan strategi ini, pembelajaran PAI tidak hanya menjadi sarana penguatan pengetahuan,
tetapi juga sebagai alat untuk pembentukan karakter moderat, yang sangat penting dalam
membangun masyarakat yang damai dan inklusif.
F. Pembahasan Umum
Hasil tindakan dan analisis kuantitatif menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam
pembelajaran PAI, khususnya media video, memberikan kontribusi positif terhadap efektivitas
pembelajaran. Selain meningkatkan hasil belajar secara signifikan, pendekatan ini juga
membantu memperkuat nilai-nilai karakter moderat yang penting dalam konteks kehidupan
sosial yang multikultural. Dengan demikian, strategi pembelajaran PAI berbasis multikultural
melalui integrasi teknologi bukan hanya inovatif dari sisi metode, tetapi juga transformasional
dalam tujuan pendidikan, yakni membentuk pribadi siswa yang toleran, inklusif, dan mampu
hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang plural.
VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di MA Madania Bantul mengenai
efektivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis multikultural melalui integrasi
teknologi dan nilai moderasi beragama, dapat disimpulkan hal-hal berikut:
3. Hasil evaluasi kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa secara
signifikan setelah intervensi pembelajaran dilakukan. Berdasarkan hasil uji paired
sample t-test, terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test
siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis multikultural yang
diintegrasikan dengan media teknologi (video) memberikan dampak positif terhadap
efektivitas pembelajaran PAI.
Agama, P. P., & Ramadani, S. (2024). PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS
MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN TOLERANSI DI SEKOLAH DASAR SWASTA MELATI KOTA
MEDAN. In Adabiyah Islamic Journal (Vol. 2, Issue 2).
[Link]
Artikel, S., Hakim, S., Lukman, H., & Maujud, F. (2025). Implementasi Budaya Toleransi Beragama
melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Berbasis Multikultural. 9(1).
[Link]
Aulia, A., Muqit, A., & Luqna Hunaida, W. (n.d.). INTEGRASI NILAI MULTIKULTURALISME DALAM
PEMBELAJARAN PAI DI SMA NEGERI 3 SIDOARJO.
[Link]
Fauzi, N., Rusdin, R., & Akmal, A. (2022). Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SD/MI. JEMARI (Jurnal Edukasi Madrasah Ibtidaiyah), 4(1), 73–79.
[Link]
fauzi nasrul. (2022). implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran pendidikan agama
islam di SD/MI. Jemari : Jurnal Edukasi Madrasah Ibtidaiyah, 4(implementasi pendidikan
multikultural dalam pembelajaran pendidikan agama islam Di SD/MI), 73–79.
Huda, M. (2021). Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengembangkan Pendidikan
Multikultural. Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 70–90. [Link]
Kakesha Rajabiah, E., & Wardan, K. (2024). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Berbasis
Multikultural. Rayah Al-Islam, 8(4), 2845–2859. [Link]
Masrukin, A., Institut, M., Islam, A., & Kediri, T. (n.d.). Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam Berbasis Multikulturalisme Di SMK Al Khoiriyah Baron Nganjuk. [Link]
[Link]/[Link]/IJHSS
Membentuk, U., Toleran, K., Stai, S. N., & Al-Jawami Bandung, Y. (n.d.). Siti Nurhasanah : Integrasi
Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam INTEGRASI PENDIDIKAN
MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) UNTUK
MEMBENTUK KARAKTER TOLERAN.
muslim, & tang, muhammads. (2024). LEARNING : jurnal inovasi penelitian pendidikan dan
pembelajaran. Pasca Sarjana Program Studi Pendidikan Agama Islam, STAI Al Furqon Makassar,
4.
Nurfirdausi, S., Rukajat, A., & Ramdhani, K. (2022). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis
Aplikasi E-Modul Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII.
Educate : Jurnal Teknologi Pendidikan, 7(2), 249. [Link]
Pembelajaran, S., Agama, P., Berbasis, I., Nurlaili, M., Mariza, E., Nopitasari, M., Islam, P. A., &
Bengkulu, F. (n.d.). Nomor 2 Tahun 2023| 471 JOTE Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023 Halaman
471-478 JOURNAL ON TEACHER EDUCATION Research & Learning in Faculty of Education. 5.
Pendidikan Islam, J., MENUMBUHKAN SEMANGAT KEBHINNEKAAN Kaspullah, D., & Agama Islam
Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas, I. (n.d.). Al-Tadzkiyyah: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BERBASIS MULTIKULTURAL.
Rahayu, S. (2023). Implementasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural dalam Membentuk
Karakter Peserta Didik pada SMK Ulil Albab dan SMK Al-Musyawirin Kabupaten Cirebon. Al
Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, 17(5), 3297.
[Link]
Ridwan, M. F., Nawir, Muh. S., & Huda, M. (2024). Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Multikultural di SMK Hikmah Yapis Jayapura. Al-Fiqh, 2(1), 12–17. [Link]
fiqh.v2i1.472
Rohadi Rahman, L., & Jadid Al Idruse, A. (2024). Strategi Inovasi Pendidikan Agama Islam Berbasis
Multikultural dalam Menanggapi Tantangan Global Article Info. JIGE, 5(4), 2769–2777.
[Link]
Sidiq Ardyatna, M. (n.d.). TAMADDUN: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL: STUDI KASUS DI SMK NURUL ISLAM
GRESIK. 23(2).
Sigalingging, S. I. (n.d.). KHIDMAT: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Peran Pendidikan Agama Islam
Dalam Menumbuhkan Toleransi Antar Umat Beragama di Sekolah. 3(1), 2025.
[Link]
Tinggi, S., Blambangan, I., Munaqasyah, B., Rifqi, A. S., Syahid, M., & Fitria, M. (n.d.). Implementasi
Model Pembelajaran PAI Berbasis Multikultural dalam Membina Siswa Bertoleransi Agama
pada Siswa di SMP Negeri 3 Genteng.
Wathon, A. (2025). Manajemen Nilai Moderasi Beragama dalam Teknologi Pembelajaran. FONDATIA,
9(1), 1–21. [Link]
Zamathoriq, D., & Subur. (2022). jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME). UIN Prof. K.H Saifuddin
Zuhri Purwokerto, 8.