Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Mata Kuliah Ilmu Bedah Khusus Veteriner I (KRP 323) Judul Praktikum Bedah Cystotomy Kelompok

V (14.00-15.00) Rahmah Fauziah Rio Aditya Elok Puspita R Susi Susilawati Andrew Manik (B04080176) (B04080179) (B04080190) (B04080196) (B04070034)

Bagian Bedah dan Radiologi Departemen Klinik Reproduksi Dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor 2012 I. PENDAHULUAN Latar Belakang Cystotomy adalah tindakan operasi untuk membuka dinding vesika urinari ( Boden 2005). Dengan kata lain, cystotomy adalah penyayatan pada dinding vesika u rinaria sehingga dapat diketahui bagian dalam dari vesika urinaria. Keperluan me dis yang mengindikasikan dilakukannya cystotomy diantaranya adalah untuk penanga nan di daerah vesika urinaria, seperti kalkuli pada vesika urinaria, neoplasia, memperbaiki kerusakan pada saluran urin, atau untuk terapi traumatik pada vesika urinaria. Adapun sebelum tindakan cystotomy disarankan, hewan harus terlebih da hulu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi atau radiografi untuk meneguhkan diagn osa penyakit tersebut (Maria 2007). Cystotomy dilakukan dengan membuka abdomen di bagian ventral kemudian di lanjutkan dengan membuka vesika urinaria. Cystotomy umum dilakukan pada kasus ur olithiasis (adanya batu/kristal pada vesika urinaria). Pada kasus ini, cystotomy dilakukan untuk mengeluarkan batu di dalam vesika urinaria yang menyumbat salur an urinari hewan. Cystotomy sangat efektif dilakukan pada kasus penyumbatan salu ran urinari, namun juga memiliki resiko. Resiko dilakukannya cystotomy antara la in pendarahan, infeksi post operasi, dan kebocoran urin. Namun hal ini tidak ter jadi apabila dilakukan teknik operasi dan pemeliharaan post operasi yang baik da n intensif (Hayes 2012). Tujuan Tujuan dari praktikum cystotomy ini adalah untuk mengetahui teknik bedah cystotomy, mempelajari letak anatomis dan konsistensi dari vesika urinaria, ser ta perawatan yang baik setelah dilakukannya cystotomy. Dengan begitu, mahasiswa dapat mengerti perkembangan kondisi dari hewan setelah post operasi.

Kegunaan Cystotomy dilakukan guna memperbaiki masalah pada saluran urinari. Indik asi dilakukannya cystotomy antara lain adalah untuk penanganan di daerah vesika urinaria, seperti kalkuli pada vesika urinaria, neoplasia, memperbaiki kerusakan pada saluran urin, atau untuk terapi traumatik pada vesika urinaria. II. METODE 2.1. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah perlengkapan bedah minor yang meliputi towl clamp, sc alpel, pinset anatomi, pinset chyrorgis, gunting, arteri clamp lurus anatomis, a rteri clamp lurus chyrorgis, arteri clamp bengkok anatomis, arteri clamp bengkok chyrorgis, needle holder, benang cat gut chromic (tipe C, nomer 3), benang silk , tampon, kapas, kain penutup (duk), gurita, stetoskop, termometer, perban, ples ter, needle, meja, dan lampu operasi. Peralatan operator meliputi penutup kepala , masker, baju bedah, dan sarung tangan. Bahan dan obat-obatan yang digunakan selama operasi adalah Xylazine 2%, Ketamine 10%, Atropin sulfat, Iodium tincture 3%, alkohol 70%, NaCl fisiologis, penicilin, dan amoksilin. 2.2. Preparasi 2.2.1. Perlengkapan Operasi dan Obat-obatan Alat operasi bedah minor direndam dalam air sabun, disikat, dibilas, dan dikeringkan hingga bersih lalu dimasukkan ke dalam wadah dengan urutan needle h older, arteri clamp bengkok chyrorgis, arteri clamp lurus chyrorgis, arteri clam p bengkok anatomis, arteri clamp lurus anatomis, gunting, pinset chyrorgis, pins et anatomis, gagang scalpel dan blade, serta towl clamp. Wadah alat bedah minor diletakan di tengah kain. Sisi kain dilipat ke tengah wadah dengan urutan sisi b awah, sisi atas, sisi kanan, dan sisi kiri. Selanjutnya wadah dibungkus lagi den gan cara sama. Kain yang dilipat harus disisakan ujungnya agar mudah dibuka. Wad ah instrumen kemudian dimasukkan ke dalam autoclave pada suhu 100oC selama 1 jam atau 121oC selama 15 menit. Perlengkapan operator dan asisten disiapkan dan disusun di atas kain pem bungkus dengan urutan (dari atas ke bawah) tutup kepala, masker, sikat, handuk, baju operasi, dan sarung tangan. Peralatan tersebut dibungkus dengan cara yang s ama seperti membungkus wadah instrumen pada bungkusan pertama. Setelah itu, wada h kembali dibungkus dengan bungkusan ke dua dengan posisi awal kain membentuk be lah ketupat. Sisi kain pembungkus dilipat ke tengah dengan urutan sisi bawah, si si kanan, sisi kiri, dan sisi atas dengan menyisakan ujung kain untuk membantu m embuka bungkusan saat akan digunakan. Wadah kemudian diberi label tanggal lalu d imasukan ke dalam autoclave suhu 60oC selama 30 menit. Obat-obatan yang akan digunakan sebelum, saat, dan sesudah operasi disia pkan berdasarkan jenis obat tersebut. Jenis dan obat-obatan tersebut meliputi di senfektan (alkohol 70%, Iodine tincture 5%); preanastesi (atropin); sedativa (xy lazine 2%), anastetik (ketamine 2%), NaCl fisiologis, dan antibiotik (amoksilin, penisilin). 2.2.2. Ruangan Operasi Lantai operasi disapu dan dipel menggunakan cairan desinfektan (karbol). Meja operasi dilap dengan cairan disenfektan. Ruangan yang telah bersih difumig asi dengan menggunakan formalin 10% dan KMnO4 5% dengan perbandingan 1:2 selama 15-24 jam. 2.3. Hewan dan Pembiusan Persiapan-persiapan yang dilakukan pada hewan meliputi pemeriksaan signa lemen, anamnesa, status present serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Data fisiologis hewan yang harus diambil sebelum operasi yaitu suhu tubuh, frekuensi jantung, frekuensi nafas, keadaan limfonodus, dan selaput lendir. Tahapan selan jutnya adalah restraint hewan kemudian pembiusan yang dimulai dari tahap premedi kasi, sedasi (induksi), anastesi, dan maintenance. Saat hewan sudah mulai terana

stesi, dilakukan pencukuran pada abdomen hewan minimal 10 cm di sekitar sayatan. Setelah itu, daerah sayatan dan sekitarnya dibersihkan dengan alkohol 70%, lalu dikeringkan dengan tampon, kemudian diolesi dengan iodine tincture 3%. Setelah itu hewan siap dibawa ke meja operasi. Ketika berada di atas meja operasi, posis i hewan disesuaikan dengan keadaan. Keempat kaki diikat keujung-ujung meja mengg unakan sumbu kompor dengan simpul Tomfool. Kemudian hewan ditutup dengan duk yan g difiksir dengan towl clamp. Contoh perhitungan dosis saat pembiusan: -BB hewan = 3,2 kg -Dosis Athropine sulfat = 0,025 mg/kg BB (SC/IM) -Dosis Xylazine = 2 mg/kgBB (IM) -Dosis Ketamine = 10 mg/kgBB (IM) Athropine sulfat (0,25 mg) ml Dosis yang dibutuhkan = BB x Dosis Athropine sulfat = 3,2 kg x 0,025 mg/kg = 0,08 mg Dosis yang diberikan = (Dosis yang dibutuhkan)/(Dosis sediaan) = (0,08 mg)/(0,25 mg/ml) = 0,32 ml Xylazine 2% = (2 gr)/(100 ml) = (2ooo mg)/(100 ml) = (20 mg) ml Dosis yang dibutuhkan = BB x Dosis Xylazine = 3,2 kg x 2 mg/kg = 6,4 mg Dosis yang diberikan = (Dosis yang dibutuhkan)/(Dosis sediaan) = (6,4 mg)/(20 mg/ml) = 0,32 ml Ketamine 10% = (10 gr)/(100 ml) = (10ooo mg)/(100 ml) = (100 mg) Dosis yang dibutuhkan = BB x Dosis Ketamine = 3,2 kg x 10 mg/kg = 32 mg Dosis yang diberikan = (Dosis yang dibutuhkan)/(Dosis sediaan) = (32 mg)/(100 mg/ml) = 0,32 ml

ml

2.4. Operator dan Asisten Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh operator dan asisten I adalah menggunakan tutup kepala dan masker, mencuci kedua tangan dengan sabun dan menyi katnya dengan sikat pada air yang mengalir. Pencucian dimulai dari ujung jari ya ng paling steril kemudian dibilas dengan arah dari ujung jari ke lengan yang dil akukan sebanyak 10-15 kali. Setelah selesai mencuci tangan dan membilasnya, kera n ditutup dengan siku untuk mencegah kontaminasi. Kemudian tangan dikeringkan de ngan handuk. Baju operasi dan glove dipakai. Setelah semua langkah dilalui, oper asi siap dilakukan. 2.5. Prosedur Operasi Penyayatan kulit dilakukan pada daerah hipogastrium di sepanjang midline abdomen, yaitu sekitar di bawah umbilikal sampai daerah pubis. Penyayatan kedua dilakukan pada subkutis dan dikuakkan dengan bantuan gu nting ujung tumpul atau scalpel dan difiksir dengan arteri clamp. Pemfiksiran de ngan arteri clamp dilakukan tidak pada kulit, melainkan pada subkutis. Eksplorasi daerah subkutis hingga menemukan linea alba, lalu disayat tep at di atasnya (sayatan tidak boleh melebihi sayatan kulit dan subkutis). Saat omentum telah menyembul keluar, pemfiksiran dipindahkan pada linea alba dengan arteri clamp, kemudian omentum dibuka. Eksplorasi pada daerah hipogastrium dilakukan untuk mendapatkan vesika u rinaria. Konsistensi vesika urinaria yang berundulasi dan berbentuk bulat memuda hkan operator dalam membedakannya dengan organ lain. Setelah vesika urinaria ditemukan, organ ditarik dan dibalikkan ke arah posterior tubuh hewan. Hal ini dilakukan agar posisi organ tidak berubah saat di lakukan reposisi. Tampon persegi kemudian disusun mengelilingi vesika urinari dengan tujua n agar dapat menghalangi urin untuk masuk ke ruang abdomen saat dilakukan cystot omy. Sebelum cystotomy, terlebih dahulu dilakukan cystocentesis untuk menampu

ng urin, sehingga urin tidak keluar saat dilakukan penyayatan pada dinding vesik a urinaria dengan menusukkan syringe (ukuran 5-10 ml, dengan jarum ukuran 26G) p ada vesika urinaria yang tidak terdapat pembuluh darah dan sebaiknya tidak menca but-menusuk jarum berkali-kali. Setelah itu cystotomy dilakukan dengan membuat sayatan pada dinding vesi ka urinaria yang tidak terdapat pembuluh darahnya. Sayatan dilakukan sedikit (pe ndek) saja pada lapis serosa, lapis muskularis, lapis submukosa, dan lapisan muk osa. Penjahitan vesika urinaria dilakukan dengan jahitan yang digunakan adala h sederhana (apabila sayatan kecil) dan diperkuat dengan jahitan Lembert. Benang yang digunakan adalah chromic catgut tipe C ukuran 4. Vesika urinaria yang telah dijahit rapat ditetesi NaCl fisiologis terleb ih dahulu, kemudian direposisi seperti semula. Abdomen kemudian ditutup dengan penjahitan. Penjahitan dilakukan sebanya k tiga kali, yang pertama terhadap lapisan peritoneum sekaligus linea alba denga n menggunakan jarum ujung runcing dan benang cat gut chromic (Tipe C nomer 3). P ola jahitan yang digunakan adalah jahitan sederhana. Sebelum dan sesudah penjahi tan, diberikan penisilin sebagai antibiotik. Jahitan kedua dilakukan pada lemak. Penjahitan dilakukan menggunakan jah itan kontinyu. Benang yang digunakan adalah chromic catgut tipe C ukuran 3. Jahitan ketiga dilakukan pada kulit dengan tipe jahitan sederhana. Benan g yang digunakan adalah silk. Ketika penjahitan telah selesai dilakukan, bekas sayatan dioleskan iodin e tincture 3%. Pada bekas sayatan boleh dioleskan perubalsam untuk mempercepat p ersembukan luka. Setelah itu sayatan ditutup dengan tampon segi empat dan pleste r. 2.6. Monitoring Hewan terlebih dahulu diperiksa preanastesi antara lain pemeriksaan fisik, tempe ratur, pulsus, dan respirasi. Pengukuran temperatur dilakukan dengan menggunakan termometer digital dan didapatkan hasil 38.1 . Pengukuran pulsus dihitung dari arte ri femoralis selama 15 detik pertama dan dikalikan empat sehingga didapati hasil frekuensi nadi 172 kali per menit. Jumlah frekuensi respirasi 40 kali per menit dihitung melalui nafas yang dikeluarkan melalui hidung selama 15 detik kemudian dikalikan empat. Pemeriksaan darah tidak dilakukan terkendala mengenai peralat an dan waktu. Setelah penimbangan hewan dengan berat 3.2 kg, tahapan berlanjut ke pembiusan. T ipe pembiusan tidak menggunakan sediaan inhalasi melainkan injeksi. Premedikasi yang digunakan adalah sediaan Atropin Sulfat 0,25% dengan dosis 0.025 mg/kg BB. Rute pemberian dilakukan secara subkutan sebanyak 0.34 ml. Setelah selang waktu 10 menit, hewan kemudian diinduksikan kombinasi sediaan Ketamin dengan dosis 10 mg/kg BB dan Xylazine dengan dosis 2 mg/kg BB masing-masing sebanyak 0.32 ml sec ara intramuskular. Semua hewan harus dimonitor secara terus menerus selama dalam keadaan te rbius. Tujuan dari monitoring ini adalah untuk mengumpulkan informasi mengenai k ondisi fisiologis hewan yang dapat digunakan sebagai bantuan dalam membuat keput usan sebelum, saat, dan sesudah operasi (Johnson 1999). Monitoring pembiusan dilakukan dengan mengukur frekuensi nafas, frekuensi jantun g, dan juga temperatur setiap 15 menit sekali semenjak diinduksi obat bius dan s ampai berakhirnya operasi. Pada menit ke 75 dilakukan kembali maintenance dengan penambahan setengah dosis Ketamin sebanyak 0.08 ml karena kesadaran hewan sudah mulai kembali pulih. Adapun monitoring anastesinya, dapat dilihat pada tabel 1. 2.7. Perawatan Postoperasi Setelah operasi, dilakukan perawatan postoperasi i pemberian antibiotik topikal dan general selama 5 hari osis 20 mg/kgBB 2 kali sehari. Pemberian pakan dan minum rta perlindungan terhadap luka bekas operasi (jika perlu

pada hewan yang meliput secara peroral dengan d yang cukup dan layak se dilakukan infus). Pembe

rian vitamin tambahan jika dibutuhkan. Kassa diganti setiap hari sambil diberika n iodine tincture 3% pada bekas luka jahitan. Jahitan dibuka setelah 7 hari post operasi. Pengamatan postoperasi yang perlu dilakukan meliputi frekuensi nafas, f rekuensi nadi, suhu tubuh, makan dan minum, feses dan urin3,, dan luka jahitan. Contoh perhitungan dosis antibiotik posoperasi: -BB hewan = 3,2 kg -Dosis Amoxicilin = 20 mg/kgBB per hari (Oral) Amoxicilin 125 mg/5ml = (125 mg)/(5 ml) = (25 mg) ml Dosis yang dibutuhkan = BB x Dosis Amoxiciline per hari x 5 (hari) (untuk 5 hari) = 3,2 kg x 20 mg/kg x 5 = 320 mg Dosis minum = (Dosis yang dibutuhkan)/(Dosis sediaan) = (340 mg)/(25 mg/ml) = 12,8 ml per 5 hari Dosis minum per hari = (12,8 ml)/(5 (hari)) = 2,56 ml per hari Dosis tiap kali minum = (2,56 ml)/(2 (kali)) = 1,28 ml (1,28 ml 2x sehari) III. HASIL&PEMBAHASAN 3.1. Signalement Hewan Nama hewan : Takoyaki Jenis hewan : Kucing Ras : Domestic House Cat Jenis Kelamin : Jantan Berat Badan : 3,2 kg Umur : 3 tahun Warna : putih-kuning

3.2. Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil pengamatan selama operasi Waktu (menit) Frekuensi Napas (kali/menit) enit) Suhu Tubuh (0C) 0 32 176 38,1 15 24 100 39,1 30 20 92 38,7 45 20 140 37,6 60 16 120 37,2 75 24 124 36,6 90 16 112 35,9 105 16 104 35,8

Frekuensi Denyut Jantung (kali/m

Grafik 1. Pengamatan waktu terhadap frekuensi napas, denyut jantung, dan suhu tu buh hewan. Tabel 2. Hasil Pengamatan Selama Post Operasi Waktu (Hari) Frekuensi Napas (kali/menit) Frekuensi Denyut Jantung (kali/m enit) Suhu Tubuh (0C) Defekasi Urinasi 1 16 176 37,2 2 24 180 38,1 3 24 176 38,0 Tabel 3. Kondisi fisiologis normal pada anjing dan hewan (Johnson 1999) Variabel Anjing Hewan Detak jantung (/menit) 50-100 145-200 Jumlah nafas (/menit) 10-20 15-25 Temperatur 37.5-39.2 37.8-39.2 3.3. Dokumentasi Proses Operasi

Gambar 1. Pembukaan medial abdomen pada daerah hipogastrium. Gambar 2. Koleksi urin (cystocentesis). Gambar 3. Penyayatan pada dinding vesika urinaria (cystotomy). Gambar 4. Penjahitan dinding vesika urinari (kiri) dan kulit abdomen (kanan) 3.4. Pembahasan Operasi cystotomy dilakukan pada medial abdomen abdomen di daerah hipogastrium, dimana di daerah tersebut terdapat vesika urinaria. Tindakan yang harus dilakuka n terlebih dahulu adalah pemeriksaan hewan secara umum untuk mengetahui frekuens i jantung, nafas, dan suhu tubuh (Physical Examination). Pada kasus infeksi trak tus urinaria, hewan biasanya diberikan antibiotik preoperasi untuk mencegah kepa rahan dari infeksi (Seim 2000). Pada praktikum ini tidak diberikan antibiotik pr eoperasi, hanya saja hewan diberi preanastesi dengan atropine sulfat untuk mence gah muntah saat operasi karena atropin menyebabkan blockade reversible terhadap kolon dan bersifat kolinomimetik yang mempengaruhi motilitas usus, bronkodilatat or dan mencegah terjadinya hipersalivasi (Katzung 2006). Setelah diberikan prean astesi, maka dilakukan prosedur anastesi dengan ketamin 10% dan xylazin 2%. Keta min memiliki efek, yaitu tidak terjadinya relaksasi otot, sehingga dapat menimbu lkan kekejangan dan depresi ringan pada saluran pernafasan. Oleh karena itu, seb aiknya premedikasi ketamin adalah xylazin (atau muscle relaxant lain seperti dia zepam, midazolam, medetomidin, dll) agar efek ini dapat diperkecil). Setelah hewan terbius dimulai proses penyayatan pada kulit, subkutan, dan linea alba. Kemudian eksplorasi abdomen dapat dilakukan di bawah lapisan peritoneum di mana terdapat omentum yang menutupi organ yang terdapat di ruang abdomen. Dalam cystotomy, pendarahan dapat terjadi apabila pembuluh darah besar tersayat. Vesika urinaria dapat ditemukan pada hipogastrium dimana organ ini memiliki kons istensi yang berundulasi. Dengan bantuan jari, vesika dikeluarkan dengan posisi dibalikkan (bagian dorsal vesika urinaria berhadapan dengan operator). Hal ini d imaksudkan untuk menghindari resiko urin merembes keluar melalui jahitan setelah dilakukan cystotomy. Namun pada beberapa kepentingan, seperti laparoskopi cysto tomy, penyayatan dilakukan pada daerah ventral dari dinding vesika urinaria (Bru n, et al. 2008. Gambar 5. Anatomi pada hewan kucing (Anonim 2006). Vesika urinaria yang sudah dikeluarkan, terlebih dahulu dibalut dengan kassa, ag ar organ dalam tidak terkontaminasi dengan urin apabila dilakukan cystotomi. Seb elum cystotomy, urin di-cytocentesis menggunakan syringe dengan tujuan agar urin tidak keluar saat dilakukan cystotomy (penyayatan dinding vesika urinaria). Cys tocentesis dilakukan pada bagian yang tidak ada pembuluh darah. Hal ini dimaksud kan agar terhindar dari pendarahan yang dapat menyumbat saluran urinaria. Saat d ilakukan cystocentesis, dinding vesika urinaria jangan ditusukkan berkali-kali, agar tidak terjadi luka dan proses radang yang berlebihan. Volume urin yang dita mpung pada praktikum ini adalah 3 ml. Setelah pengeluaran urin, dinding vesika u rinaria disayat dengan blade. Dinding vesika urinaria terdiri atas empat lapis, yaitu lapis serosa (paling luar), lapis muskular, lapis submukosa, serta lapis m ukosa (berhadapan dengan lumen) (Seim 2000). Pada praktikum, dilakukan penyayata n sampai lapis mukosa. Panjang sayatan yang akan dilakukan tergantung dari kebut uhan klinis. Penyayatan dinding vesika urinaria paling sering dilakukan pada kas us kalkuli pada vesika urinaria. Dinding vesika yang sudah disayat sampai lapisan mukosa kemudian ditutup dengan jahitan menggunakan benang chromic catgut tipe C ukuran 4 yang dapat diserap ole h tubuh cukup lama sehingga resiko lepasnya jahitan sebelum luka sembuh dapat di hindari. Penjahitan dinding vesika urinaria dilakukan dua kali. Jahitan pertama dilakukan pada mukosa sampai serosa dengan tipe jahitan sederhana. Untuk mengind ari resiko merembesnya urin melalui jahitan, maka dilakukan jahitan kedua dengan

tipe jahitan Lembert. Adapun teknik penjahitan Lembert dapat dilihat pada Gamba r 2. Tipe jahitan ini mengandalkan lapisan serosa untuk kembali membungkus bagia n organ yang sudah disayat dan dijahit agar terjadi kebocoran dari suatu lumen. Gambar 2. Tipe jahitan Lembert (Carter 2009) Vesika urinaria yang telah dijahit kemudian ditetesi larutan NaCl agar sel-selny a tidak mati, setelah itu organ direposisi seperti posisi awal (bagian dorsal me nghadap punggung hewan). Setelah itu, dilakukan penutupan abdomen. Abdomen ditut up dengan menjahit omentum dan otot perut menggunakan benang chromic catgut tipe C ukuran 3. Benang ini ukurannya lebih besar daripada yang digunakan untuk cyst otomy tadi, karena pada jahitan bagian ini dikhawatirkan benang tidak kuat menop ang luka apabila tipis, sehingga dapat menimbulkan hernia. Penjahitan kedua dila kukan pada lemak hewan, sebab hewan yang dioperasi pada praktikum ini cukup gemu k dan lemaknya tebal. Penjahitan lemak menggunakan benang yang sama dengan sebel umnya, dengan tipe jahitan kontinyu. Untuk penjahitan kulit digunakan benang sil k. Benang ini digunakan karena untuk penjahitan superficial dibutuhkan benang ya ng kuat dan tidak diabsorpsi agar jahitan tidak terlepas. Oleh karena benang sil k tidak diabsorpsi, maka seminggu setelah operasi akan dilakukan pelepasan jahit an pada kulit hewan tersebut. Jahitan yang digunakan adalah jahitan sederhana. J ahitan sederhana ini digunakan agar hasilnya lebih kuat. Tempat jahitan ditutup dengan perban agar proses persembuhan tidak terganggu. Semua hewan harus dimonitor secara terus menerus selama dalam keadaan terbius. M onitoring pembiusan dilakukan dengan mengukur frekuensi nafas, frekuensi jantung , dan juga temperatur setiap 15 menit sekali semenjak diinduksi obat bius dan sa mpai berakhirnya operasi. Monitoring frekuensi pernafasan dapat dilihat pada Gra fik 1, dimana frekuensi nafas menurun setelah dilakukan anastesi. Namun frekuens i nafas secara perlahan kembali meningkat sampai menit ke 75. Peningkatan frekue nsi nafas terjadi seiring dengan berkurangnya efek anastetikum (kesadaran hewan mulai kembali), sehingga pada menit ke 75 inilah dilakukan kembali maintenance d engan penambahan seperempat dosis ketamin sebanyak 0.17 ml. Setelah ditambahkan anastetikum yang kedua, nafas hewan kembali turun. Dari paparan di atas, dapat d ikatakan bahwa frekuensi nafas turun ketika hewan teranastesi penuh. Penurunan f rekuensi nafas yang cepat terjadi setelah anastesi dikarenakan ketamin memiliki onset yang cepat dan dapat mendepres pernafasan (Allen, et al. 1993). Monitoring denyut jantung memiliki pola mirip dengan frekuensi nafas (Grafik 1). Penurunan denyut terjadi saat awal induksi anastetikum, lalu sedikit meningkat sampai menit ke-75. Peningkatan ini terjadi seiring dengan kesadaran hewan yang memulih, sehingga hewan dianastesi lagi dengan ketamin. Induksi ketamin menyebab kan denyut jantung hewan turun kembali. Pola yang sama ini terjadi karena ketami n juga mendepres sistem kardiovaskular (Allen, et al. 1993). Monitoring temperatur digambarkan pada Grafik 1, dimana dapat dilihat bahwa temp eratur terus menurun dari awal induksi, kemudian sedikit meningkat saat efek ana stesi hampir habis yaitu pada menit ke 75. Setelah diinduksi dengan ketamin yang kedua, temperatur hewan kembali turun sampai operasi selesai. Suhu tubuh hewan yang terus menurun menunjukkan efek dari pembiusan, dimana hewan mengalami penur unan pada frekuensi nafas dan jantungnya. Apabila suhu hewan terlalu rendah, hew an perlu dipanaskan dengan lampu infrared ataupun kompres untuk mengurangi drop berlebihan pada hewan (Johnson 1999). Pada pemulihan pasca operasi, frekuensi napas dan denyut jantung serta suhu tubu h berada pada rentang normal. Tetapi pada hari pertama pasca operasi suhu hewan kurang dari normal (Tabel 2). Hal ini kemungkinan dapat disebabkan karena hewan masih sedikit dipengaruhi sisa obat bius. Pada saat itu juga hewan tidak nafsu m akan atau minum, terlihat menahan sakit dengan melengkungkan punggungnya, serta mengalami muntah. Efek ketamin yang berlebihan diantaranya adalah muntah (Allen, et al. 1993) dan pada operasi hewan, terdapat penambahan ketamin. Pada hari ke2, hewan sudah mulai beraktivitas dan mau makan. Pada hari ke-3 dan ke-4, hewan mengalami pemulihan kondisi tubuh yang baik dan nafsu makannya sangat baik. Namu n pada hari ke-3, hewan mengalami kesulitan urinasi. Hal ini ditandai dengan tin

gkah laku hewan yang bolak-balik ke bak pasirnya, namun urinasinya hanya beberap a tetes saja. Efek cystotomy diantaranya adalah peradangan dalam rangka proses p enyembuhan luka pada vesika urinaria, sehingga sel-sel radang atau darah bekas o perasi dapat menyumbat ureter yang menyebabkan hewan sulit urinasi. Untuk mengat asi masalah ini, biasanya post operasi, hewan dipasangkan kateter (Franz, et al. 2009). Namun karena saat itu vesika urinaria tidak terasa penuh saat dilakukan palpasi di ventral abdomen daerah hipogastrium, maka kateterisasi belum disarank an untuk dilakukan, hanya saja hewan tetap terus mengkonsumsi antibiotik. Sore h arinya hewan sudah kembali urinasi. Jahitan mulai kering pada hari ke-3 post ope rasi, yang menandakan bahwa persembuhan luka terjadi dengan baik.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Operasi cystotomy memiliki resiko diantaranya hewan bisa mengalami kesulitan uri nasi yang diakibatkan tersumbatnya saluran urinari oleh sel-sel radang atau dara h. Untuk itu, operasi cystotomy harus dilakukan dengan minimal invasi dan sediki t pendarahan. 4.2. Saran Sebaiknya dipahami terlebih dahulu anatomi topografi dari hewan yang akan dibeda h serta dipahami teori-teori pembedahan dan juga teknik penjahitan. Dengan begit u operasi dapat dilakukan dengan cepat dan aman.

V. DAFTAR PUSTAKA Allen Dana G, Pringle John K, Smith Dale A, Conlon Peter D, Burgmann Petra M. 19 93. Handbook of Veterinary Drugs. Philadelphia: J.B. Lippincott Company. Anonim 2006. Anatomy Digestive Cat. [terhubung berkala]. http://www.biologycomer .com/anatomy/digestive/cat/cat1.jpg. [13 Maret 2012]. Boden E. 2005. Black s Veterinary Dictionary 20th Edition. London: Black Publisher Brun MV, Oliveira ST, Messina SA, Stedile R, Oliveira RP. 2008. Laparoscopic cys totomy for urolith removal in dogs: three case reports. Arq. Bras. Med. Vet. Zoo tec., V.60, n.1, p.103-108. Carter Kip. 2009. Presutures for skin stretching: Step 3B. [terhubung berkala].h ttp://veterinarymedicine.dvm360.com/vetmed/ArticleStandard/Article/detail/. [13 Maret 2012]. Franz S, Dadak AM, Schoffmann G, Khol JL, Baumgartner W, Dupre G. 2009. Laparosc opis-assisted cystotomy: an experimental study in male sheep. Veterinarni Medici na, 54 2009 (8): 367-373. Hayes NJ. 2012. Cystotomy Surgery Photos. [terhubung berkala]. http://www.whitne ysvet.com/cysto/cystoPlain.html. [13 Maret 2012]. Johnson C. 1999. Patient Monitoring. Di dalam: Seymour C, Gleed R. BSVA Manual of Small Animal Anesthesia and Analgesia hlm 43-44 Katzung Bertram G. 2006. Basic and Clinical Pharmacology 10th Edition. San Franc isco: Mc Graw Hill. Maria. 2007. Penanganan Kasus Batu Ginjal Pada Anjing. [terhubung berkala]. http ://www.anjingdanhewan.com/news/?read=617. [8 Maret 2012]. Seim III Howard B. 2000. Management of Cystic and Urethral Calculi in Cats. Walt ham Feline Medicine Symposium-TNAVC 2000.