Anda di halaman 1dari 20

HUKUM OHM

I. II. TUJUAN Memahami rangkaian listrik seri dan paralel Menentukan hambatan ekuivalen untuk rangkaian seri dan pararel Mengetahui arti warna pada resistor Belajar merangkai rangkaian seri dan rangkaian parallel Belajar membaca skala voltmeter dan ampermeter DASAR TEORI Arus listrik adalah aliran partikel listrik bermuatan positif didalam suatu penghantar. Arah aliran arus listrik berlawanan dengan arah aliran elektron. Arus listrik mengalir dari potensial tinggi ke potensial yang lebih rendah sedangkan elektron mengalir dari potensial rendah ke potensial yang lebih tinggi. Dalam rangkaian elektronika selalu mengandung komponen-komponen dasar elektronika, seperti resistor, kapasitor, inductor, semi konduktor, diode, transistor, dan untai terpadu (IC). Untuk kali ini akan dibahas tentang komponen dari suatu hambatan , yaitu resistor. Resistor atau hambatan adalah komponen elektronika yang digunakan untuk menghambat arus listrik dalam suatu rangkaian. Dapat dikatakan bahwa hambatan memiliki fungsi sebagai pengatur atau pengatur dan pembagi tegangan. Kemampuan hambatan dalam menghambat arus disebut dengan resistansi. Jika diklasifikasikan berdasarkan hambatannya, dikenal tiga jenis resisitor, yaitu : 1. Resistor tetap, yakni resistor yang nilai hambatannya tetap 2. Resistor otomatis, yakni resistor yang nilai hambatannya dapat berubah dengan sendirinya. 3. Resistor variable, yakni resistor yang nilai hambatannya dapat diubahubah Besar kuat arus sebanding dengan beda potensial. Selanjutnya, oleh ohm, ahli fisika berkebangsaan jerman, dinyatakan bahwa Kuat arus yang mengalir 1

melalui suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar, asal suhu penghantar tersebut tidak berubah. Pernyataan tersebut dikenal dengan hukum ohm. Selanjutnya dari grafik tersebut juga dapat dilihat bahwa: R= V atau R = tan I

Perbandingan tegangan (V) dan kuat arus (I) disebut hambatan atau resistensi (R). Secara umum, hukum ohm dinyatakan dengan rumus: V = I.R Keterangan: V = beda potensial (V) I = kuat arus (A) R = tahanan/hambatan (ohm) Satuan hambatan dalam SI adalah volt per ampere (V/A) atau disebut ohm () jadi, 1 ohm = 1 volt per ampere (V/A). Komponen-komponen yang menurut (sesuai) hukum ohm disebut komponen ohmic (grafik hubungan V dan I berupa garis lurus). Komponen yang tidak menurut hukum ohm disebut komponen non-ohmic (grafik hubungan V dan I berupa garis lengkung. Hambatan sebuah kawat penghantar ditentukan oleh jenis bahan kawat, luas penampang kawat serta panjang kawat. Dari hasil pengamatan diperoleh: a. b. c. d. Kawat yang panjang mempunyai hambatan lebih besar dari kawat yang pendek. Kawat yang tipis mempunyai hambatan lebih besar dari kawat yang tebal Untuk bahan kawat berbeda, walaupun panjang dan luas penampangnya sama, dapat mempunyai hambatan yang sama. Kawat yang panas atau suhunya tinggi mempunyai hambatan yang lebih besar dari kawat yang dingin. Dari hasil pengamatan diatas, akan didapatkan suatu perumusan secara matematis: R= l RA atau = A l 2

keterangan : R = hambatan penghantar (ohm = ) = hambatan jenis penghantar (ohm mm2/m atau ohm m) l = panjang penghantar (m) A = luas penampang penghantar (m2) Hambatan jenis suatu bahan adalah hambatan suatu bahan yang panjangnya 1 m dan luas penampangnya 1m2. misalnya hambatan jenis baja adalah 1,5 x 10-7 ohm, artinya kawat baja dengan panjang 1 m dan luas penampang 1m2 mempunyai hambatan 1,5 x 10-7 ohm, atau kawat baja panjang 1, dengan luas penampang 1 mm2 mempunyai hambatan 0,15 ohm. Nilai hambatan jenis suatu penghantar bergantung pada jenis penghantar dan suhu. Penghantar logam, hambatan jenisnya akan naik jika suhunya bertambah, sesuai dengan rumus berikut: t = (1 + T) Keterangan: t = hambatan jenis akhir (ohm mm2/m atau ohm. M) = hambatan jenis awal (ohm mm2/m atau ohm.m) = koefisien suhu hambatan jenis (0C-1 atau K-1) T = perubahan suhu (0C atau K) Pada umumnya hambatan kawat juga akan naik jika suhunya bertambah. Dalam suatu batas perubahan suhu tertentu, perubahan fraksi hambatan (/0) sebanding dengan perubahan suhu (T) sehingaa: = .T atau R = R. .T R Hambatan listrik suatu penghantar dapat disusun secara seri atau pararel atapun dengan susunan gabungan seri pararel

A.

Susunan seri

Tujuan penyusunan hambatan secara seri adalah untuk mendapatkan hambatan pengganti yang lebih besar.

R1

R2

R3

V Pada hambatan yang disusun seri berlaku ketentuan-ketentuan berikut: 1. Hambatan pengganti sama dengan jumlah hambatan tiap-tiap komponen tegangan pada ujung-ujung R1R2 adalah Vab = IR dan Vbc = IR2 sehingga tegangan antara a dan c: Vac = Vab + Vbc IRs = IR1 + IR2 Oleh karena kuat arus yang melalui tiap bagian dari rangkaian seri sama besar, diperoleh persamaan hambatan pengganti sebagai berikut: RS = R1+R2+R3+.+ Rn 2. Kuat arus yang melalui tiap-tiap hambatan sama dengan kuat arus yang I1 = I2 = I3 = IN = I 3. Tegangan pada hambatan pengganti sama dengan jumlah tegangan tiap-tiap V = V1 + V2 + V3 + ...+ Vn 4. Tegangan pada tiap-tiap hambatan sebanding dengan hambatannya V1:V2:V3:VN = R1:R2:R3:RN B. Susunan Paralel R1 4 hambatan melalui hambatan pengganti seri.

R2

V Susunan Paralel bertujuan untuk memperkecil hambatan rangkaian. Pada hambatan yang disusun paralel berlaku ketentuan-ketentuan berikut: 1. Besar hambatan pengganti dapat dihitung dengan persamaan : 1 1 1 1 1 = + + + ... + R P R1 R2 R3 RN Apabila hanya ada dua hambatan yang disusun paralel, maka : RP = 2. R1 R2 R1 R2

Tegangan pada tiap-tiap hambatan sama besar yaitu sama dengan tegangan pada hambatan pengganti paralel V1=V2=V3=VN=V

3.

Kuat arus yang melalui hambatan pengganti parallel sama dengan jumlah kuat arus yang melalui tiap-tiap hambatan. I = I1+I2+I3++IN

4.

Kuat arus yang melalui tiap-tiap hambatan sebanding dengan kebalikan hambatannya. 1 1 1 : : R1 R2 R3

I1:I2:I3 =

III. ALAT 5

Satu set peralatan untuk percobaan rangkaian listrik sederhana

IV. CARA KERJA Rangkaian Seri 1. Rangkaian peralatan sebagaimana gambar 1. Catat hambatan/resistansi yang digunakan. 2. Hubungkan rangkaian dengan sumber arus 3. Atur alat pengukur arus pada skala current DC 4. Atur alat pengukur tegangan pada skala voltage DC 5. Hidupkan sumber arus, atur sedemikian rupa arus I= 0,25A 6. Catat tegangan yang dihasilkan 7. Lakukan langkah 5 dan 6 untuk arus I yang lain

Gambar 1

Rangkaian paralel

1. Rangkaian peralatan sebagaimana gambar 2. Catat hambatan/resistansi yang digunakan 2. Hubungkan rangkaian dengan sumber arus 3. Atur alat pengukur arus pada skala current DC 4. Atur alat pengukur tegangan pada skala voltage DC 5. Hidupkan sumber arus, atur sedemikian rupa arus I= 0,25A 6. Catat tegangan yang dihasilkan 7. Lakukan langkah 5 dan 6 untuk arus I yang lain

Gambar 2

V. PERHITUNGAN 7

R= R=

V I 1,5 = 428,6 x10 3 3 3,5.10

Dengan cara sama maka akan diperoleh : No Arus (ampere) 1 3,5 x 10-6 Seri Tegangan (volt) 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 Hambatan () 428,6 x 103 428,6 x 103 428,6 x 103 428,6 x 103 428,6 x 103 500 500 500 500 500 444,4 444,4 444,4 444,4 444,4 Arus (ampere) 0,6 x 10-3 Paralel Tegangan (volt) 1 1 1 1 1 2,6 2,6 2,6 2,6 2,6 4 4 4 4 4 Hambatan () 1666,67 1666,67 1666,67 1666,67 1666,67 1857,1 1857,1 1857,1 1857,1 1857,1 1818,2 1818,2 1818,2 1818,2 1818,2

6 x 10-3

1,4 x 10-3

9 x 10-3

2,2 x 10-3

GRAFIK RANGKAIAN SERI


TEGANGAN (VOLT) 5 4 3 2 1 0 0 3,5.10 6.1 9.1

KUAT ARUS (AMPERE)

GRAFIK RANGKAIAN PARALEL


TEGANGAN (VOLT) 5 4 3 2 1 0 0 0,6.10 1,4.10 2,2.10

KUAT ARUS (AMPERE)

2. Regresi Linear Rangkaian Seri Sxx = ( Xi X )


i =1 n

n Xi 2 n = Xi 2 i =1 n i =1

15,0035 x10 3 = 0,0035 x10 + 6 x10 + 9 x10 3 6 6 6 6 = 1,225 x10 + 36 x10 + 81x10 25,011688 x10

3 2

) (

3 2

) (

3 2

= 91,988 x10 6 n n Xi Yi n n 2 Sxy = ( Xi X ) Yi = XiYi i =1 i =1 n i =1 i =1 15,0035 x10 3 x8,5 = 0,0035 x10 3 x1,5 + 6 x10 3 x3 + 9 x10 3 x 4 3 3 3 3 3 = 0,00525 x10 + 18 x10 + 36 x10 42,5099 x10

{( (

) (

) (

)}

) (

= 11,495 x10 3 Sehingga diperoleh Bi = SXY SXX = 11,495 x10


3

Bo = Y BiX = 3 125 6 x10 3 = 2,25 Y = 2,25 + 125 X X = 0,0035 x10 3 , makaY = 1,49 X = 6 x10 3 , makaY = 2,85 X = 9 x10 3 , makaY = 2,875

91,988 x10 6

= 125

Rangkaian Paralel Sxx = ( Xi X )


i =1 n

n Xi 2 n = Xi 2 i =1 n i =1 10

4,2 x10 3 = 0,6 x10 + 1,4 x10 + 2,2 x10 3 6 6 6 6 = 0,36 x10 +1,96 x10 + 4,84 x10 1,96 x10

( (

3 2

) (

3 2

) (

3 2

= 5,2 x10 6 n n Xi Yi n n 2 Sxy = ( Xi X ) Yi = XiYi i =1 i =1 n i =1 i =1 4,2.10 3 x 7,6 = 0,6.10 3 x1 + 1,4.10 3 x 2,6 + 2,2.10 3 x 4 3 3 3 3 3 = 0,6 x10 + 3,64 x10 + 8,8 x10 10,64 x10

{( (

) (

) (

)}

) (

= 2,4 x10 3 Sehingga diperoleh = 462 5,2 x10 3 Bo = Y BiX = 2,6 462( 0,0014 ) = 1,9532 Y = 1,9532 + 462 X SXX X = 0,6 x10 3 , makaY = 0,7228 X = 1,4 x10 3 , makaY = 1.9532 X = 2,2 x10 3 , makaY = 2,9836 Bi = SXY = 2,4 x10
3

3. Hambatan R dari gradien Y X Rangkaian seri M = Y = X

2,875 1,495 1,38 = = 153,39 3 3 9 x10 0,0053 x10 8,99 x10 3

Rangkaian paralel M = Y X

11

2,9836 0,7228 2,2608 = = 1,413 3 3 1,6 2,2 x10 0,6 x10

4. Rangkaian ekuivalen Rangkaian seri Rs = Ri = R1 + R2 + R3 + R4 = 428,57 + 500 + 444,4 = 1372,97 Rangkaian paralel I I I I I = + + + R R1 R 2 R 3 R 4 Dari poin ke 3 didapatkan bahwa hambtan pada rangkaian seri dari hasil gradien grafik adalah 112,2 , namun berdasarkan poin ke 4 yakni dengan menghitung hambatan ekuivalen diperoleh nilai hambatan sebesar 2373,3 . Hasil ini sangat berbeda jauh yakni mempunyai selisih sebesar 2261,2 . Begitu pula untuk rangkaian paralel, dimana dari hasil gradien diperoleh nilai hambatan sebesar 0,274 sedangkan dari hasil hambtan ekuivalen diperoleh nilai hambatan sebesar . Perbedaan kedua hasil ini mungkin disebabkan karena resistor yang digunakan pada saat percobaan agar sedikit rusak, sehingga nilai hambatan yang tertera pada resistor tersebut tidka sesuai dengan nilai hambatan yang diperoleh melalui percobaan.

12

VI. RALAT KERAGUAN Ralat keraguan percobaan rangkaian seri Untuk kuat arus (I) I 3,5.10-3 3,5.10-3 3,5.10-3 3,5.10-3 3,5.10-3 ( I I ) n( n 1)
2

I 3,5.10-3 3,5.10-3 3,5.10-3 3,5.10-3 3,5.10-3

(I I )
0 0 0 0 0

(I I )
0 0 0 0 0

( I I ) = 0
2

I = =

0 0 = =0 5(5 1) 20 I 0 x100% = x100% = 0 Ralat nisbi = I 3,5.10 3 Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100% Dengan cara yang sama maka akan diperoleh : Perc 1 2 3 I 3,5.10-3 6.10-3 9.10-3 I 3,5.10-3 6.10-3 9.10-3

(I I )
0 0 0

I 0 0 0

Kebenaran prak 100% 100% 100%

Untuk tegangan (V) V 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 (V V ) n( n 1)


2

V 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5

(V V )
0 0 0 0 0

(V V )
0 0 0 0 0

(V V ) = 0
2

I = =

0 = 5(5 1)

0 =0 20

13

Ralat nisbi =

V 0 x100% = x100% = 0% V 1,5

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100% Dengan cara yang sama maka akan diperoleh : Perc 1 2 3 R R = V 1,5 3 4 V V I I V V I I 1,5 0 3,5.10 3 0 1,5 1,5 3 3,5.10 3,5.10 3 V 1,5 3 4 Kebenaran praktikum 100% 100% 100%

(V V )
0 0 0

0 0 0

Untuk percobaan I R R = = =

0 0 + 1,5 3,5.10 3 3 3 = 428 x10 428 x10 (0) = 428 x10 3 0 Ralat nisbi = = R x100% R 0 x100% = 0% 428 x10 3

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%

Dengan cara yang sama maka akan diperoleh: Perc 1 2 3 V I 1,5 + 0 3+0 4+0 I I 0,0035.10-3 + 0 6.10-3 + 0 9.10-3 + 0 R R 428.103 + 0 500 + 0 444,4 + 0 Kebenaran praktikum 100% 100% 100%

Ralat keraguan percobaan rangkaian paralel 14

Untuk kuat arus (I) I 0,6.10-3 0,6.10-3 0,6.10-3 0,6.10-3 0,6.10-3 ( I I ) n( n 1) 0 5(5 1) I 0 x100% = x100% = 0 I 0,6.10 3
2

I 0,6.10-3 0,6.10-3 0,6.10-3 0,6.10-3 0,6.10-3

(I I )
0 0 0 0 0

(I I )
0 0 0 0 0

( I I ) = 0
2

I = = =0

Ralat nisbi =

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100% Dengan cara yang sama maka akan diperoleh : Perc 1 2 3 I 0,6.10-3 1,4.10-3 2,2.10-3 I 0,6.10-3 1,4.10-3 2,2.10-3

(I I )
0 0 0

I 0 0 0

Kebenaran praktiktikum 100% 100% 100%

Untuk tegangan (V) V 1 1 1 1 1 V 1 1 1 1 1

(V V )
0 0 0 0 0

(V V )
0 0 0 0 0

(V V ) = 0
2

I =

(V V ) n( n 1)

15

= =0

0 = 5(5 1)

0 20

Ralat nisbi =

V 0 x100% = x100% = 0% V 1

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100% Dengan cara yang sama maka akan diperoleh : Perc 1 2 3 V 1 2,6 4 V 1 2,6 4 Kebenaran praktikum 100% 100% 100%

(V V )
0 0 0

0 0 0

R R =

V V I I V V I I 1 0 0,6.10 3 0 1 1 3 0,6.10 0,6.10 3

Untuk percobaan I R R = = =

0 0 + 1 0,6.10 3 = 1666,67 1666,67(0) = 1666,67 0 Ralat nisbi = = R x100% R 0 x100% = 0% 1666,67

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100% Dengan cara yang sama maka akan diperoleh: Perc 1 V I 1+0 I I 0,6.10-3 + 0 R R 1666,67 + 0 16 Kebenaran praktikum 100%

2 3

2,6 + 0 4+0

1,4.10-3 + 0 2,2.10-3 + 0

1857,1 + 0 1818,2 + 0

100% 100%

VII. PEMBAHASAN Percobaan Hukum Ohm ini menggunakan satu set peralatan untuk rangkaian seri dan paralel. Percobaan ini bertujuan untuk membantu memahami rangkaian seri dan paralel, menentukan hambatan ekuivalen untuk rangkaian seri dan paralel, dan belajar merangkaikan hambatan rangkaian seri dan pararel. Percobaan ini dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada susunan hambatan seri dan susunan hambatan paralel Pertama-tama kami menyusun rangkaian peralatan seperti yang tertera pada buku penuntun praktikum.Pada saat tersebut kami menggunakan resistor dengan nilai 680, 2K7, 5K6. Sesudah merangkai peralatan sesuai dengan gambar pada buku penuntun, ternyata alatnya tidak dapat berfungsi dengan baik. Terdapat salah satu alat yang tidak dapat berfungsi. Apabila ampermeternya berfungsi, voltmeternya tidak berfungsi begitu sebaliknya. Kami juga sudah menggunakan berbagai jenis amperemeter dan voltmeter.yang digunakan oleh kelompok lain yang dapat berfungsi dengan baik, ternyata hasilnya tetap sama, salah satu dari alat tersebut tidak berfungsi. Karena keterbatasan waktu sehingga percobaan kami dianggap gagal. Dan dari percobaan yang gagal tersebut kami hanya memperoleh nilai tegangan (V) yaitu sebesar 2,5 A. Dari data ini kami hanya bisa menghitung nilai kuat arus (I). Dimana besarnya kuat arus yang diperoleh pada susunan seri dan paralel adalah sama sesuai dengan nilai hambatannya. Dimana untuk R=680 diperoleh nilai I= 3,6x 10-3A., untuk R=2K7 nilai I = 1,24x 10-3A, untuk R= 5K6 nilai I = 4,9 x 10-4A. Karena keterbatasan data sehingga kami tidak dapat menghitung nilai ralat keraguannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa percobaan kami kali ini mengalami kegagalan. Hai ini disebabkan karena alat yang tersedia berada dalam kondisi yang kurang baik. VIII. KESIMPULAN 1. hukum Ohm menyatakan bahwa tegangan V pada ujung-ujung sebuah komponen ohmik (komponen yang memenuhi hukum Ohm) adalah sebanding dengan kuat arus listrik I yang melalui komponen itu asalkan suhu komponen dijaga tetap. 17

V+IxR 2. Besarnya hambatan suatu penghantar dipengaruhi oleh panjang (L) luas penampang (A), dan hambatan jenis ( ) penghantar R= L A

3. Nilai hambatan jenis suatu penghantar bergantung pada jenis penghantar dan suhu. Penghantar logam, hambatan jenisnya akan naik jika suhunya bertambah.

t = (1 + T )
4. Pada hambatan susunan seri berlaku empat prinsip yaitu : Susunan seri bertujuan untuk memperoleh hambatan suatu rangkaian. Kuat arus yang melalui tiap-tiap komponen sama yaitu sama dengan kuat I1 = I2 = I3 = ..= Iseri Tegagan pada ujung-ujung hambatan pengganti seri sama dengan jumlah Vseri = V1 + V2 + V3 + .. Susunan seri berfungsi sebagai pengganti tegangan dimana tegangan pada V1 : V2 : V3 : ..= R1 : R2 : R3 : .. 5. Hambatan untuk pengganti seri adalah Rseri = R1 + R2 + R3 + .+ Rn 6. Hambatan pengganti yang disusun secara pararel dapat dihubungkan dengan persamaan: Rp =
n 1 1 1 1 R1 xR2 = + + + .... atau R p i =i R1 R2 R3 R1 xR2

arus yang melalui hambatan pengahantar serinya.

tegangan pada ujung-ujung tiap komponen

ujung-ujung tiap komponen sebanding dengan hambatannya.

7. Pada hambatan susuna pararel berlaku empat prinsip yaitu: Susunan paralel bertujuan untuk memperkecil hambatan suatu rangkaian. Tegangan pada ujung-ujung tiap komponen sama, yaitu sama dengan V1 = V2 = V3 .. = Vpararel

tegangan pada ujung-ujung hambatan pengganti pararelnya.

18

Kuat arus yang melalui hambatan pengganti pararel sama dengan jumlah Ipararel = I1 + I2 + I3 +

kuat arus yang melalui tiap-tiap komponen Susunan pararel berfungsi sebagai pengganti arus diamana kuat arus yang 1 1 1 : : R1 R2 R3

melalui tiap-tiap kompnen sebanding dengan kebalikan hambatannya. I1 : I2 : I3 =

8. Suatu rangkaian listrik umumnya dicirikan oleh adanya satu atau lebih sumber yang dihubungkan dengan satu atau lebih beban sebagai penerima tegangan listrik. 9. Berdasarkan grafik rangkaian seri dan pararel diperoleh bahwa kuat arus (I) sebanding tegangan (V) dimana grafiknya garis lurus condong ke atas dan melalui titik asal 0 (0,0).

19

DAFTAR PUSTAKA 1. Foster, Bob. 2003. Fisika SMU Kelas 2. Bandung: Erlangga. 2. Kanginan, Marthen. 2003. Fisika 2000 Kelas 2A. Jakarta: Erlangga. 3. Paramita, Ida Bagus Alit. 2004. Diktat Kuliah Fisika Dasar II. Bali: Universitas Udayana. 4. Wibawa Satriya, M.Si, Drs. I Made. 2006. Penuntun Praktikum Fisika Dasar II. Bali: Universitas Udayana.

20