Anda di halaman 1dari 24

Bulletin Paguyuban Paskibraka Nasional 1978 Edisi Juni 2007

1995

Mengenang Husein Mutahar
H
ari Rabu sore, 9 Juni 2004, pukul 16.30 WIB, anak Pandunya, serta Paskibraka. Ia menjalani kehi-
Paskibraka harus kehilangan orang yang pa- dupannya tanpa pendamping dengan ikhlas sampai ajal
ling mereka cintai, Husein Mutahar. Sebenar- menjemputnya.
nya, bukan saja Paskibraka yang merasa kehilangan, Buletin Paskibraka ’78 edisi ini memang khusus diper-
tapi juga kalangan Pandu, Pramuka dan bahkan seluruh sembahkan untuk Kak Mut. Isinya merupakan rekaman
bangsa Indonesia. Itu semua, karena pria yang humoris memori sejumlah orang yang pernah mengenalnya da-
dan rendah hati ini terlalu besar jasanya untuk Ibu Indonesia. lam berbagai macam cara dan kesempatan. Termasuk, bebe-
Kini, tiga tahun sudah ”Maestro Pandu” Indonesia ini me- rapa foto yang pernah terekam dari kamera kita sewaktu Kak
ninggalkan kita. Tak banyak tulisan yang pernah kita baca Mut begitu antusiasnya menyambut Reuni Paskibraka ’78
tentang dirinya, karena ia memang tak suka publikasi. Tak tahun 1994, serta pelantikan Pengurus Purna Paskibraka
banyak gambar atau fotonya yang dapat kita lihat karena ia Indonesia (PPI) tahun 1995.
”ogah” dipotret dan selalu memalingkan muka atau pura-pura Hanya ini yang dapat kita berikan. Semoga Kak Mut diterima
bicara dengan seseorang bila kamera diarahkan padanya. di sisi Al-Khalik dan beristirahat dengan tenang... n
Di masa tuanya ia lebih memilih menyepi dan bertafakur.
Sesekali ia menerima kedatangan kolega-koleganya semasa Gambar Sampul: Kak Mut selalu bersemangat ketika bicara tentang Al-
bertugas di Depertemen Luar Negeri dan Depertemen Pendi- Khalik, Tuhan Pencipta semesta alam dan kekuasaan-Nya dan kita
dikan & Kebudayaan. Atau teman-teman, adik-adik dan anak- semua pasti akan kembali kepada-Nya. (Foto: Syaiful Azram)

Bulletin ini diterbitkan oleh ”Paguyuban Paskibraka 1978” dan dikelola oleh para Purna Paskibraka
1978 yang ada di Jadebotabek dengan tujuan untuk menggalang kembali rasa persaudaraan (brother-
hood) sesama teman seangkatan.
Sebagian atau seluruh isi buletin ini dapat dikutip/diperbanyak atau dibagikan kepada Purna Paskibraka
angkatan lain bila dianggap perlu. Harapan kami, buletin sederhana ini juga dapat menjadi media komunikasi
alternatif antar Purna Paskibraka, meski ruang gerak dan edarnya sangat terbatas.

Surat-surat/tulisan dapat dialamatkan ke:
SYAIFUL AZRAM, PondokTirta Mandala E4 No. 1 Depok 16415, atau
BUDIHARJO WINARNO, Gema Pesona AM-7, Jl. Tole Iskandar 45, Depok 16412 , atau
SMS ke 0818866130 dan 08161834318 atau e-mail ke: muztbhe_depok@yahoo.com.
Bulletin Paskibraka ’78

”Mutahar Itu Kakak Saya...”
H
ARI Rabu sore, 9 Juni 2004 pukul siapa pun. Beliau adalah Bapak Pas-
17.00, telepon di rumah saya H. Idik Sulaeman kibraka.
berdering. Ternyata dari Niniek, Sebagai adiknya, saya merasa ber-
sahabat anak saya, yang juga putrinya kewajiban untuk meneruskan perjuang-
Pak Dibyo (alm). Niniek memberi tahu an Kak Mut dalam membina para pe-
bahwa Oom Mut meninggal dunia sete- muda Paskibraka. Bahkan sampai saat
ngah jam yang lalu. ini, sekalipun saya tidak bisa lagi terlibat
Setengah jam kemudian, anak angkat langsung.
Kak Mut, Sunyoto, juga menelepon Di mata saya, Kak Mut adalah pribadi
mengabarkan hal yang sama. ”Inna lillahi yang unik. Ia seorang humoris yang
wa inna ilaihi rojiun,” saya mengucap. Tak mampu membuat kita tertawa pada saat
ada yang dapat saya lakukan kecuali kita belum sadar ada sesuatu yang lucu.
memberitahu tetangga dan kawan- Ia sering memberikan kejutan pada saat
kawan lain yang sekantor dengan Kak kita belum siap.
Mut —ketika menjadi Dirjen Udaka dulu. Sekali waktu, pernah ada peristiwa
Ketika sampai di rumah duka, di jalan menggelikan. Saat ia ulang tahun di Tahta
Damai No.20 Cipete, telah berkumpul Suci Vatikan, saya menulis surat ulang
Pramuka Trisakti dan Paskibraka '78. tahun ukuran setengah halaman, surat-
Ada mantan Kakwarnas Mashudi dan nya 4 halaman. Surat tersebut dibalas
mantan Sekjen Kwarnas Syaukat. Masih sigap, Paskibraka dan Pramuka meng- oleh beliau dengan tulisan di atas gu-
banyak lagi orang yang berkumpul di gotong jenazah dari ambulans menuju lungan kertas selebar 1 cm dengan lima
sana dan saya tidak bisa mengenali pekuburan. Langsung dimasukkan ke warna (merah, putih, biru, jingga, dan
semuanya. Sementara, alrnarhum liang lahat dan diuruk tanah. Tak lama kuning). Kelima gelondong kertas yang
terbujur di atas tempat tidur di teras kemudian, yang terlihat hanyalah gun- dimasukkan ke dalam amplop itu panjang
depan dukan tanah dengan nisan terpancang seluruhnya 45 meter.
Keesokan harinya, tanggal 10 Juni bertuliskan nama Husein Mutahar. Terlalu banyak kenangan manis yang
2004, kami bertiga —dengan Pak Bagi saya, kepergian Kak Mut adalah ditinggalkan Kak Mut. Rasanya tidak
Maryono dan Pak Juli— hadir di Taman sebuah ”kehilangan” yang sangat besar. cukup dirangkai dalam tulisan sepan-
Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Mutahar adalah kakak saya. Dalam jang apapun. Berusaha untuk selalu jujur,
Selatan untuk menyaksikan pemakanan pembinaan Paskibraka, pada tahun sabar, bijaksana, ikhlas dan bertang-
Kak Mut. Sejak pukul 11.00 - 13.00 WIB, 1969-1973 saya pernah menjadi pe- gungjawab adalah nilai-nilai yang
terdengar raungan mobil dan sepeda nerus —ketika beliau ditunjuk menjadi diberikan kepada kami sebagai bekal.
motor silih berganti. Begitu banyak orang Duta Besar Luar Biasa dan berkuasa Kini semuanya tinggal kenangan. Se-
yang ingin ikut menyaksikan tubuh renta penuh di Tahta Suci Vatikan. Tapi, eksis- moga beliau tenang di tempat peristira-
itu dimasukkan ke liang lahat. tensi seorang Mutahar di mata Pas- hatannya dan kita bisa mewarisi sema-
Tak lama ambulans datang. Dengan kibraka tak pernah bisa digantikan oleh ngat beliau dalam membina Paskibraka.*

”Jangan Lupa Saya Diajak...”
S
aya sedang berada di depan kom- tentang siapa yang akan dan mau menjadi Kak Trisno/Merry— untuk membicarakan
puter untuk menyelesaikan bagian penerus Kak Husein Mutahar dan Idik Sula- apa yang terbaik buat Paskibraka, Kak Idik
akhir buku ”Derap Langkah Paski- eman dalam membina Paskibraka. menyatakan rasa syukur dan berharap
braka”, ketika tiba-tiba handphone saya Di usianya yang kini hampir 74 tahun (lahir Purna Paskibraka tetap mau memikirkan
bergetar. Tak biasanya ada orang yang di Kuningan, 20 Juli 1933), suara Kak Idik kepentingan sesamanya. ”Memang itu tugas
menghubungi lewat HP, karena telepon di terdengar tetap lembut dan empuk walau- kalian sebagai kakak yang lebh tua. Kalau
rumah juga tak terlalu kerap berdering. pun agak terbata-bata. Kepada beliau lalu bukan kalian, siapa lagi?” ujarnya bertanya.
Lumayan kaget, di layar terlihat nama saya ceritakan tentang Paskibraka 1978 Memang, dalam beberapa pertemuan
seseorang yang tidak asing, namun sudah yang masih tetap mengadakan pertemuan terakhir Paskibraka 1978, ada niat untuk
lama juga tidak bertemu: Idik Sulaeman. walaupun tak sesering dulu. Lalu soal ren- mengajak Kak Idik seperti sebelumnya. Saya
Biasanya saya yang menghubungi beliau cana menerbitkan buku untuk menyem- juga ingin menyampaikan kalau bulan Juni
terutama bila ada perlu, tapi kali ini seba- purnakan ”Buku Kenangan 25 Tahun Pas- ini akan ziarah ke makam Kak Mut, untuk
liknya. Ada apa gerangan? kibraka”. memperingati tiga tahun wafatnya beliau.
”Opul, apa kabar? Kamu bener, saya juga ”Mau dicetak berapa banyak?” Kak Idik Namun, belum niat itu saya sampaikan, beliau
lagi nyari-nyari siapa ya yang bisa jadi o- bertanya antusias. Saya tidak bisa menja- telah lebih dulu bilang, ”Kalau kumpul-kumpul
rang ketiga,” ujar Kak Idik dengan logat wab pasti, tapi cuma bilang sekitar seribu lagi, jangan lupa saya diajak ya....”
Sunda yang khas. atau dua ribu barangkali. ”Yah, memang Ucapan halus itu ibarat palu godam me-
Mula-mula saya tidak terlalu ngeh dengan masih banyak yang harus ditulis tentang nimpa kepala saya. Kadang, kita memang
komentar Kak Idik. Tapi, setelah agak lama Paskibraka. Sayang, saya sudah tidak bisa terlalu asyik dengan diri kita sendiri, se-
dan beliau mengatakan bahwa buletinnya banyak membantu,” katanya merendah. hingga lupa mengajak ”orangtua” yang ma-
sudah diterima, saya baru mengerti. Ter- Ketika saya singgung soal pertemuan sih peduli dan sayang kepada kita untuk
nyata beliau telah membaca tulisan saya Purna Paskibraka di Halim —yang difasilitasi ikut urun rembuk. n Syaiful Azram

2 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Husein Mutahar : Bapak Paskibraka!
P
ERISTIWA itu terjadi beberapa hari gedung Departemen PTIP di Jalan Pe- bahwa belum mungkin untuk menda-
menjelang peringatan Hari Ulang gangsaan Barat, Ditjen Udaka akhirnya tangkan mereka ke Jakarta. Akhirnya di-
Tahun Kemerdekaan Republik In- menempati gedung eks Departemen Te- peroleh jalan keluar dengan melibatkan
donesia pertama. Presiden Soekamo naga Kerja dan Transmigrasi (Naker- putra-putri daerah yang ada di Jakarta
memanggil ajudannya, Mayor (Laut) M. trans) Jalan Merdeka Timur 14 Jakarta. dan menjadi anggota Pandu/Pramuka
Husain Mutahar dan memberi tugas agar Tepatnya, di depan Stasiun Kereta Api untuk melaksanakan tugas pengibaran
segera mempersiapkan upacara peri- Gambir. bendera pusaka.
ngatan Detik-Detik Proklamasi Kemer- Dari sana, Mutahar dan jajaran Udaka Semula, Mutahar berencana untuk
dekaan Indonesia 17 Agustus 1946, di kemudian mewujudkan cikal bakal latih- mengisi personil kelompok 45 (Penga-
halaman Istana Presiden Gedung Agung an kepemudaan yang kemudian diberi wal) dengan para taruna Akademi Ang-
Yogyakarta. nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber- katan Bersenjata Republik Indonesia
Ketika sedang berpikir keras menyu- Pancasila”. Latihan itu sempat diujicoba (Akabri) sebagai wakil generasi muda
sun acara demi acara, seberkas ilham dua kali, tahun 1966 dan 1967. Kurikulum ABRI. Tapi sayang, waktu liburan perku-
berkelebat di benak Mutahar. Persatuan ujicoba ”Pasukan Penggerek Bendera liahan yang tidak tepat dan masalah
dan kesatuan bangsa, wajib tetap diles- Pusaka” dimasukkan dalam latihan itu transportasi dari Magelang ke Jakarta
tarikan kepada generasi penerus yang pada tahun 1967 dengan peserta dari menjadi kendala, sehingga sulit
akan menggantikan para pemimpin saat Pramuka Penegak dari beberapa gugus terwujud.
itu. "Simbol-simbol apa yang bisa diguna- depan yang ada di DKI Jakarta. Usul lain untuk menggunakan anggota
kan?" pikirnya. Latihan itu mempunyai kekhasan, teru- Pasukan Khusus ABRI seperti RPKAD
Pilihannya lalu jatuh pada pengibaran tama pada metode pendidikan dan (sekarang Kopassus), PGT (sekarang
bendera pusaka. Mutahar berpikir, pengi- pelatihannya yang menggunakan pen- Paskhas), Marinir dan Brimob, juga tidak
baran lambang negara itu sebaiknya dekatan sistem "Keluarga Bahagia" dan mudah dalam koordinasinya. Akhirnya,
dilakukan oleh para pemuda Indonesia. diterapkan secara nyata dalam konsep diambil jalan yang paling mudah yaitu
Secepatnya, ia menunjuk lima pemuda "Desa Bahagia". Di desa itu, para peserta dengan merekrut anggota Pasukan
yang terdiri dari tiga putri dan dua putra. latihan (warga desa) diajak berperan Pengawal Presiden (Paswalpres), atau
Lima orang itu, dalam pemikiran Mutahar, serta dalam menghayati kehidupan sekarang Paspampres, yang bisa segera
adalah simbol Pancasila. sehari-hari yang menggambarkan peng- dikerahkan, apalagi sehari-hari mereka
Salah seorang pengibar bendera pu- hayatan dan pengamalan Pancasila. memang bertugas di lingkungan Istana.
saka 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Saat Ditjen Udaka difusikan dengan Pada tanggal 17 Agustus 1968, apa
Dewi Atmono Suryo, pelajar SMA asal Ditjen Depora menjadi Ditjen Olahraga yang tersirat dalam benak Husain
Sumatera Barat yang saat itu sedang me- dan Pemuda, lalu berubah lagi menjadi Mutahar akhirnya menjadi kenyataan.
nuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta. Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda Setelah tahun sebelumnya diadakan
Sampai peringatan HUT Kemerdekaan dan Olahraga (Diklusepora), salah satu ujicoba, maka pada tahun 1968 dida-
ke-4 pada 17 Agustus 1948, pengibaran direktorat di bawahnya adalah Direktorat tangkanlah pada pemuda utusan daerah
oleh lima pemuda dari berbagai daerah Pembinaan Generasi Muda (PGM). Di- dari seluruh Indonesia untuk mengibar-
yang ada di Yogyakarta itu tetap dilak- rektorat inilah yang kemudian mene- kan bendera pusaka.
sanakan. ruskan latihan dengan lembaga penye- Selama enam tahun, 1967-1972, ben-
Sekembalinya ibukota Republik Indo- lenggara diberi nama ”Gladian Sentra dera pusaka dikibarkan oleh para pemu-
nesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pe- Nasional”. da utusan daerah dengan sebutan “Pa-
ngibaran bendera pusaka dilaksanakan Tahun 1967, Husain Mutahar kembali sukan Penggerek Bendera”. Pada tahun
di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu dipanggil Presiden Soeharto untuk di- 1973, Drs Idik Sulaeman yang menjabat
pengibar dibentuk dan diatur oleh Ru- mintai pendapat dan menangani masa- Kepala Dinas Pengembangan dan Latih-
mah Tangga Kepresidenan Rl sampai lah pengibaran bendera pusaka. Ajakan an di Departemen Pendidikan dan Kebu-
tahun 1966. Para pengibar bendera itu itu, bagi Mutahar seperti "mendapat dayaan (P&K) dan membantu Husain
memang para pemuda, tapi belum mewa- durian runtuh" karena berarti ia bisa Mutahar dalam pembinaan latihan me-
kili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. melanjutkan gagasannya membentuk lontarkan suatu gagasan baru tentang
Mutahar tidak lagi menangani pengi- pasukan yang terdiri dari para pemuda nama pasukan pengibar bendera pu-
baran bendera pusaka sejak ibukota ne- dari seluruh Indonesia. saka.
gara dipindahkan dari Yogyakar ta. Mutahar lalu menyusun ulang dan me- Mutahar yang tak lain mantan pem-
Upacara Peringatan Proklamasi Kemer- ngembangkan formasi pengibaran de- bina penegak Idik di Gerakan Pramuka
dekaan diadakan di Istana Merdeka ngan membagi pasukan menjadi tiga ke- setuju. Maka, kemudian meluncurlah se-
Jakarta sejak 1950 sampai 1966. Ia pun lompok, yakni Kelompok 17 (Pengiring/ buah nama antik berbentuk akronim
seakan hilang bersama impiannya. Na- Pemandu), Kelompok 8 (Pembawa/Inti) yang agak sukar diucapkan bagi orang
mun, ia mendapat "kado ulang tahun ke- dan Kelompok 45 (Pengawal). Formasi yang pertama kali menyebutnya: PASKI-
49" pada tanggal 5 Agustus 1966, ketika ini merupakan simbol dari tanggal Prok- BRAKA, yang merupakan singkatan dari
ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Uru- lamasi Kemerdekaan Republik Indone- Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
san Pemuda dan Pramuka (Dirjen Uda- sia Republik Indonesia 17 Agustus 1945 Memang, Idik Sulaeman yang mem-
ka) di Departemen Pendidikan & Kebuda- (17-8-45). beri nama Paskibraka. Tapi pada hake-
yaan (P&K). Saat itulah, ia kembali ter- Mutahar berpikir keras dan mencoba katnya penggagas Paskibraka tetaplah
ingat pada gagasannya tahun 1946. mensimulasikan keberadaan pemuda Husein Mutahar, sehingga ia sangat pan-
Setelah berpindah-pindah tempat ker- utusan daerah dalam gagasannya, kare- tas diberi gelar ”Bapak Paskibraka”.
ja dari Stadion Utama Senayan ke eks na dihadapkan pada kenyataan saat itu n Syaiful Azram

Edisi Juni 2007 3
Bulletin Paskibraka ’78

”In Memoriam” Husein Mutahar
Pemakaman Sederhana untuk
Seorang Luar Biasa
M
ENDUNG menggayut, membuat simbolisme, ia betul-betul memanfaatkan
langit Jakarta kelabu Kamis pagi Oleh BondanWinarno “getaran” angka 20-02-2002 itu— Muta-
(10/6) lalu. Sesekali gerimis Wartawan Senior, Penulis, dan har pergi ke notaris untuk mendiktekan
merenai. Di sebuah ruas jalan sempit, di Pramuka wasiatnya. Wasiat tertulis itu sebetulnya
sebelah Pasar Cipete, beberapa mobil persis seperti yang pernah saya dengar
silih berganti berhenti di depan langsung dari mulutnya pada
rumah duka. Mantan Menses- akhir tahun 1970-an. Ia ingin
neg Moerdiono telah hadir dikebumikan sebagai rakyat
malam sebelumnya. biasa dalam tata cara Islam.
Pagi itu tampak Menlu Has- Berdasar surat wasiat itu,
san Wirajuda, mantan Hakim Indradjit Soebardjo dan Sang-
Agung Benjamin Mangkoe- kot Marzuki —dua anak didik
dilaga, dan beberapa mantan Mutahar di kepanduan dulu—
pejabat lain-seperti Fuad Has- yang langsung datang ke ru-
san, Kusnadi Hardjasumantri mah duka, segera memutus-
(Ketua Umum PADI, Red), Mas- kan untuk memakamkan jena-
tini Hardjoprakoso dan ratusan zah di Taman Pemakaman
kerabat dan sahabat. Banyak di Umum (TPU) Jeruk Purut tanpa
antaranya memakai seragam upacara kenegaraan, tradisi
Pramuka dan Paskibraka. kepanduan, ataupun ritus
Alam bagai sedang ikut ber- lainnya.
kabung. Di ruang tamu rumah Setelah sembahyang zuhur,
sederhana itu, terbujur layon di bawah gerimis, keranda
renta seorang laki-laki yang se- yang membawa layon Mutahar
dang menerima penghormatan Husein Mutahar, Ny. Tien Soeharto dan Sri Sultan dibawa keluar dan diangkut de-
terakhir dari orang-orang yang Hamengkubuwono IX dalam acara serah terima andalan nasional. ngan mobil jenazah ke TPU
mengagumi dan mencintainya. (Koleksi Hs Mutahar; 39A/110/1982; 20040723) Jeruk Purut. Dua bus Kopaja
Tidak sedikit yang datang yang sederhana —bukan Big
dengan berlinang air mata. rang pantas dikenakan. Bird ber-AC— mengangkut anggota
Husein Mutahar, pencipta lagu Syukur Mutahar terlihat sangat kurus dalam keluarganya. Diiring sekitar 50 mobil
dan puluhan lagu lain, penyelamat Ben- foto itu. Kedua bola matanya sedang pelayat lainnya.
dera Pusaka, tokoh kepanduan dan pen- melihat ke atas, seolah-olah ia sedang Upacara pemakaman berlangsung
diri Gerakan Pramuka, mantan pejabat menyapa Al Khalik yang ada di sana. Se- khidmat dan sederhana. Persis seperti
tinggi negara, mantan Duta Besar RI di jak rumah kediamannya di Jalan Prapan- yang diingini Kak Mut. Gerimis merenai.
Takhta Suci Vatikan, penerima anugerah ca Buntu terbakar habis sekitar lima ta- Air mata berderai. Tanah kembali kepada
Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, hun silam, ia tampak seperti “mengun- tanah!
meninggal dunia Rabu petang (9/6) durkan diri” dari pergaulan ramai. Ia bah- ***

H
pukul 16.30, dua bulan menjelang ulang kan menolak kembali ke rumah yang te- USEIN Mutahar seharusnya berhak
tahunnya yang ke-88. lah dibangun kembali oleh anak-anak dimakamkan di TMP Kalibata
Di dekat jenazah diletakkan sebuah pandunya. Ia memilih tinggal di rumah dengan upacara kenegaraan.
foto berwarna berukuran besar. Mutahar anak semangnya yang sederhana. Ia pun Lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916,
dalam seragam Pramuka, lengkap de- mulai tampak semakin kurus karena sebagai pemuda pejuang Mutahar ikut
ngan tanda jasa Bintang Gerilya dan Bin- nafsu makannya pun menurun drastis. dalam “Pertempuran Lima Har i” yang
tang Mahaputra, serta tanda kemahiran Beberapa bulan yang lalu, ia terjatuh heroik di Semarang. Ketika Pemerintah
Pramuka sebagai pembina bertaraf inter- ketika hendak bangkit dari kursi. Sebetul- Bung Karno hijrah ke Yogyakarta, ia diajak
nasional. Foto itu baru diambil dua ming- nya tak ada tulang yang patah atau retak. Laksamana Muda Mohammad Nazir
gu yang lalu oleh cucunya, dengan ka- Tidak juga keseleo. Tetapi, sejak itu ia yang ketika itu menjadi Panglima Ang-
mera digital pinjaman. menjadi sulit berjalan. Ia lebih banyak katan Laut. Sebagai sekretaris panglima,
Foto itu sendiri merupakan firasat be- berbaring di tempat tidur. Selama se- ia diberi pangkat kapten angkatan laut.
sar. Mutahar tidak pernah suka dipotret. bulan terakhir ia semakin enggan makan. Ketika mendampingi Nazir itulah Bung
Ia selalu mencari alasan untuk pergi se- Praktis hanya susu dan madu saja yang Karno mengingat Mutahar sebagai
tiap kali melihat orang bersiap membuat membuatnya bertahan hidup dalam hari- “sopir” yang mengemudikan mobilnya di
potret. Tiba-tiba ia ingin dipotret dengan hari terakhirnya. Semarang, beberapa hari setelah “Per-
berbagai atribut. Sebetulnya ia juga ingin Ia bahkan seperti men-skenario- kan tempuran Lima Hari”. Mutahar kemudian
dipotret dengan jas hitam, tetapi jasnya prosesi pemakamannya. Pada 20 Febru- “diminta” oleh Bung Karno dari Nazir un-
sudah sangat kebesaran sehingga ku- ari 2002 —sebagai seorang pengagum tuk dijadikan ajudan, dengan pangkat

4 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

mayor angkatan darat.
Sesaat sebelum Bung Karno dibuang
ke Sumatera, setelah serangan Belanda
yang melumpuhkan Yogyakar ta pada
1948, Mutahar diserahi bendera merah
putih yang pertama kali dikibarkan pada
proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan
Timur. Bendera itu aslinya dijahit oleh
Fatmawati, istr i Bung Karno, ibunda
Presiden RI Megawati. Mutahar menye-
lamatkan bendera itu, yang kemudian
dikenal sebagai Bendera Pusaka.
Nama Mutahar harus dicatat dalam
sejarah sebagai orang yang berjasa
dalam gerakan pendidikan kepanduan.
Pada awal 1960-an, Partai Komunis In-
donesia berusaha menyetir kepanduan
menjadi mirip pionir di Uni Soviet. “Ber-
konspirasi” dengan PM Djuanda, ia ke-
mudian berhasil membelokkannya jadi Jenazah Husein Mutahar diusung oleh anggota Paskibraka dan keluarga, didahului sebuah foto
kompromi yang lebih netral, Gerakan terakhirnya dengan pakaian seragam Pramuka lengkap. (Foto: ANTARA / Jefri Aries)
Pramuka.
Ia biasa dipanggil dengan sebutan Kak hayu Indonesiaku (diterima sebagai lagu ketika istri saya membuat sebuah “tesis”
Mut, sesuai dengan tradisi kepanduan. resmi peringatan 50 tahun Indonesia musikal tentang Tuhan, dengan menam-
Ia masih akrab dengan bekas anak Merdeka), Himne Universitas Indonesia, pilkan berbagai interpretasi tentang Tu-
didiknya dan sering menyelenggarakan dan beberapa himne yang lahir dari han menurut berbagai komponis dan
reuni bersama mereka. Karena Kak Mut keprihatinannya atas kehancuran alam penyanyi.
tidak menikah seumur hidupnya, semua Indonesia. Ia juga suka membina anak-anak mu-
anak pandu Kak Mut adalah anaknya. Ia tampak amat terharu ketika ciptaan- da yang berbakat seni. Ia hampir tak
Otomatis, anak-anak mereka semua nya berjudul Syukur dan Hari Merdeka pernah absen menghadiri pergelaran
menjadi cucu-cucu Eyang Mutahar. digarap ulang Addie MS dengan orkes orkestra remaja Perguruan Cikini. Pada
Mutahar juga mempunyai sembilan o- filharmoni di Australia. Matanya terkatup, pergelaran mereka Agustus mendatang,
rang anak semang —istilah yang lebih beberapa tetes air mata meleleh di pipi- pastilah absennya Om Mutahar akan te-
disukainya ketimbang anak angkat atau nya yang renta, beberapa tahun silam rasa sangat mencekam.
anak asuh. ketika Addie MS memperdengarkan Ya, kita semua memang harus me-
*** rekaman itu di rumahnya. Kak Mut se- nerima realita ini. Kak Mut telah tiada. Ia

M
UTAHAR penggemar berat musik ngaja membeli tape recorder baru untuk telah pulang ke Timur Abadi —sebuah
klasik. Ia hampir selalu hadir pada mendengarkan karya megah itu. kata sandi yang suka dipakainya untuk
setiap pergelaran musik di Ja- Perhatiannya pada dunia seni suara menyebut Hadirat Allah.
karta. Karena itu pulalah Addie MS dari sangat tinggi. Ia tak segan merogoh uang Selamat jalan, Kak Mut. Allah Sang
Twilite Orchestra tak pernah lupa me- dari koceknya sendiri untuk keperluan Maha Pencipta telah membebaskanmu
ngundang Kak Mut ke pementasannya. itu. Belasan tahun yang silam, contohnya, dari segala derita dunia. Hati ikhlas kami
Sebagai pencipta lagu, ia bisa dibilang ia pernah menunjukkan kepada saya penuh. Pergilah dalam damai!
spesialis himne. Karya puncaknya ada- makalahnya tentang hubungan seni su-
lah Syukur yang hampir setiap malam ara dengan Nuzulul Quran. Ia menangis (Kompas, Senin, 14 Juni 2004)
kita dengar sebagai lagu penutup TVRI.
Syukur, menurutnya, diciptakan pada
1944, adalah sebuah puji syukur yang 1994
dipersiapkannya untuk kemerdekaan RI
yang ketika itu diduganya sudah hampir
tercapai.
Lagu Hari Merdeka yang sering diper-
dengarkan pada aubade HUT Prok-
lamasi, menurut pengakuannya sendiri,
diciptakan di dalam toilet Hotel Garuda
Yogyakarta. Ketika itu ia sekamar dengan
Hugeng —kemudian menjadi Kepala
Polr i— yang sama-sama mengawal
Bung Karno. Hugeng kebingungan men-
carikan kertas dan pulpen karena Muta-
har tergopoh-gopoh hendak menuang-
kan gagasannya ke atas kertas.
Lagu-lagu ciptaan Husein Mutahar
hampir mencapai seratus. Karya-karya Kak Mut di antara para Purna Paskibraka seusai memimpin Ulang Janji Paskibraka 1978 pada
terakhirnya, antara lain, adalah Dirga- tahun 1994. (Foto: Syaiful Azram)

Edisi Juni 2007 5
Bulletin Paskibraka ’78

Potret Seorang Musikus Ulung
E
UFORIA nasionalisme dan patriot- bernafaskan nasionalisme dan patri- daraskan pada bait kedua:
isme (cinta tanah air) bangsa Indo otisme, pendidikan (lagu anak-anak “Dari yakinku teguh, cinta ikhlasku
nesia seakan meledak-ledak ke dan pramuka). penuh, akan jasa usaha
permukaan tatkala kita merayakan HUT Ia pernah menjadi pelopor kepan- Pahlawanku yang baka, Indonesia
Proklamasi Kemerdekaan RI dari tahun duan bangsa Indonesia pada masa pra Merdeka, syukur aku hunjukkan, ke
ke tahun. Mulai dari RT/RW, desa/kelu- kemerdekaan yang kalau itu lazim bawah duli tuan.”
rahan, kecamatan, kabupaten/kota, disebut Pandu Rakyat Indonesia. Dari Dia menutup syair-syair lagunya itu
propinsi hingga istana negara, gedung- sinilah, dalam kiprah kepanduan Indo- dengan sebuah apresiasi pada Gerak-
gedung sekolah, kampus, kantraktor, nesia selanjutnya, lahir nama baru “Pra- an Pramuka Indonesia. Ia melihat inst-
pertokoan, tempat-tempat keramaian u- muka” (praja muka karana). Berbagai itusi kepramukaan itu tidak sekadar
mum termasuk rumah-rumah pendu- jabatan yang pernah diemban H Muta- sebuah organisasi pemuda/i tapi lebih
duk terpancang umbu-umbul warna har menunjukkan bahwa ia adalah seo- dari itu sebuah model perjuangan bang-
warni yang mencuar-cuar ke langit rang abdi negara sejati yang punya sa menuju kemerdekaan dengan satu
menghiasi wajah tanah air ini. kredibilitas, dedikasi dan akuntabilitas prinsip perjuangan yaitu kerukunan:
Sayangnya nuansa ini tak dibarengi (istilah yang marak dipakai pejabat-pe- “Dari yakinku teguh, bakti ikhlasmu
lagu-lagu perjuangan dan nasional jabat era reformasi sekarang ini) diser- penuh, akan azas rukunmu.
yang menggelegar di mana-mana. Ke- tai ketulusan, kesederhanaan, keren- Pandu bangsa yang nyata, Indone-
cuali di lingkungan sekolah. Para siswa dahan hati dan keindahan (seni musik). sia merdeka, Syukur aku hunjukkan, ke
sering melantunkan kembali lagu-lagu Lagu Syukur yang termasuk jenis la- hadapanmu tuan”
wajib seperti: Dari Sabang Sampai gu himne (gita puja), pujian kepada Tu- Lagu-lagu Indonesia masa sebelum
Merauke, Maju Tak Gentar, Rayuan Pu- han, merupakan lagu pertama ciptaan kemerdekaan masuk kategori musik
lau Kelapa, Bangun Pemuda Pemudi, Mutahar dan untuk pertama kalinya di- perjuangan dengan penekanan pada
dll. Musik gaul, lagu-lagu kelompok perkenalkan kepada khayalak ramai aspek sosial dan politik, berbicara ten-
band sekarang cenderung menjadi fa- pada Januari 1945. Itu berarti beberapa tang identitas dan kesatuan bangsa,
vorit kaum remaja Indonesia masa kini. bulan menjelang Proklamasi RI (17 merefleksi kembali fase-fase berat ma-
Pada 9 Juni 2004, seorang musikus Agustus 1945) yang diumumkan oleh sa lalu, bertutur tentang korban berja-
Indonesia era pra kemerdekaan telah Soekarno-Hatta, Mutahar ingin meng- tuhan di medan perang. Jadi termi-
meninggalkan dunia di Jakarta. Dialah ungkapkan magnifikasi (pernyataan nologi untuk musik/lagu-lagu perjuang-
Mutahar yang nama lengkapnya Hu- pujian) yang agung ke seluruh penjuru an masa itu disebut “musik fungsional”
sein Mutahar, kelahiran Semarang 5 tanah air lewat lagu Syukur itu. atau “musik berguna” dengan tujuan
Agustus 1916. Beliau adalah pencipta Tembang dengan syair yang bernu- utama pada makna dan isi teks, mudah
lagu Himme Syukur dan mars Hari Mer- ansa magnificant ini mau menegaskan dicerna, gampang dinyanyikan oleh
deka yang merupakan lagu-lagu wajib kepada kita bahwa tanah air Indonesia semua lapisan masyarakat.
nasional. Kepergian almarhum ini me- yang sebentar lagi akan merdeka ada- Di tahun 1946 Mutahar berhasil
mang nyaris tersaput oleh gegap gem- lah sebuah karunia Tuhan: menggubah lagu mars Hari Kemerde-
pita kampanye pemilihan Presiden. Pu- “Dari yakinku teguh, hati ikhlasku kaan yang berkarakter brio (bersema-
blik pun tak banyak tahu siapa gerang- penuh, akan karuniaMu ngat) sehingga selalu dinyanyikan de-
an Mutahar itu. Tanah air pusaka, Indonesia Mer- ngan semangat pula (con brio). Sedang-
Tempo edisi 14-20 Juni 2004 menu- deka, syukur aku sembahkan ke hadi- kan judul-judul seperti Gembira, Tepuk
runkan rubrik khusus obituari mengi- rat-Mu Tuhan”. Tangan Silang-silang, Mari Tepuk,
ringi kepergian Mutahar dengna judul Makna yang dalam serta nilai musikal Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat
“Mutahar Sudah Merdeka”. Ia dilukiskan yang kuat dalam lagu himne Syukur ini Berpisah dan Pramuka adalah deretan
sebagai seorang pribadi yang santun, seringkali membuat banyak orang tere- lagu anak-anak ciptaan Mutahar.
jujur dan cerdas. Inilah prototipe kelom- nyuh dan terpesona bahkan mencucur- Inilah sosok seorang Mutahar. Potret
pok muda intelektual Indonesia umum- kan air mata ketika dinyanyikan kelom- musikus ulung yang rada tenggelam
nya era pra kemerdekaan yang memi- pok paduan suara dengan penuh pen- dalam keruwetan negeri ini. Ketika
liki ciri-ciri kecerdasan tinggi. Mereka jiwaan. Tak heran lagu berwatak serin- bangsa ini merayakan usia emas 50
rata-rata menguasai bidang matemati- dai ini selalu menjadi salah satu lagu tahun (1995) sekali lagi ia diberi keper-
ka, sejarah, bahasa, musik, dan sastra. utama (prime song) pada parade lagu- cayaan oleh pemerintah pusat untuk
Memiliki mental bersiplin tinggi, taat lagu perjuangan perayaan 17 Agustus menggubah lagu khusus yang berjudul
aturan, punya standar moral dan patri- atau hari besar nasional lainnya. “Dirgahayu Indonesiaku” sebagai lagu
otisme hingga akhir hayat mereka. Wawasan kebangsaan dan tema ke- resmi ulang tahun kemerdekaan ke-50
Karakteristik ini juga ada dalam diri merdekaan selalu terdepan dalam de- RI. Inilah karyanya yang terakhir sebe-
seorang Mutahar. Jejak langkah beliau rap perjuangan bangsa Indonesia ma- lum ia tutup usia.
mencerminkan keterlibatan dan dedi- sa pra kemerdekaan. Itulah sebabnya Mutahar memang telah tiada, namun
kasinya dalam hidup berbangsa dan seorang Mutahar tahu betul dan yakin lagu-lagunya akan hidup sepanjang
bernegara. Sebagai seorang “pelayan bahwa tanpa pengorbanan putra-putri masa, sebab itulah hakekat seni ‘ars
negara” (civil servant) ia berkecimpung terbaik bangsa (para pahlawan) di me- longa, vita brevis ” kata adagium
di bidang pemerintahan, kemasyara- dan perang, niscaya kemerdekaan itu Latin.***
katan, diplomasi dan lebih khusus lagi berhasil direngkuh dan direbut dari ta- n Willem B Berybe
di bidang komposisi lagu-lagu yang ngan penjajah sebagaimana ia Guru SMAK Giovanni Kupang

6 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Riwayat Hidup Husein Mutahar
Nama : Haji Husein Mutahar 2. Anggota Partai Politik, 1938-1942
Lahir : Semarang, Tanggal 5 Agustus 3. Kepala Sekolah Musik di Semarang,
1916 sebagai tempat penanaman, penye-
baran, dan pengobaran semangat ke-
Sekolah: bangsaan Indonesia, sebagai gerakan
1. ELS (Europese Lagere School) (SD melawan penyebaran semangat Je-
Eropa 7 tahun), merangkap mengaji/ pang dan bungkus gerakan subversi
membaca Al-Quran pada guru wanita, lawan Jepang, 1942-1945
Encik Nur. 4. Anggota AMKRI (Angkatan Muda Ke-
2. MULO (Meer Uitgebreid Lager reta Api Indonesia) di Semarang, 1945.
Ondewwijs) atau SMP 3 tahun di 5. Anggota BPRI (Badan Pemberontak
Semarang, merangkap mengaji pada Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945.
Kiai Saleh. 6. Anggota redaksi majalah ”Revolusi
3. AMS (Algemeen Midelbare School) 1995 Pemuda”, 1945-1946.
atau SMA, jurusan Sastra Timur, khusus 7. Gerilya, 1948-1949
bahasa Melayu, di Yogyakarta. 8. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai
4. Universitas Gajah Mada, Jurusan Hukum merangkap pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota
Jurusan Sastra Timur, khusus Jawa Kuno di Yogyakarta Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan
(sesudah 2 tahun drop out karena perjuangan). Kepanduan Nasional Indonesia ”Pandu Rakyat Indo-
5. Semua Kursus/Training Pemimpin Pandu di Indonesia nesia”, 28-12-1945 s.d. 20-5-1961.
dan di London. 9. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pra-
6. Training School Diplomatic and Consulair Affairs di muka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Ge-
Nederland. rakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latih-
7. Training School Diplomatic and Consulair Affairs di an,1961-1969.
kantor PBB (United Nation Organization/UNO), New York. 10. Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional
Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa,
Pekerjaan: 1978-2004.
1. Guru Bahasa Belanda di SD swasta Islam di 11. Alumni Penataran P-4 Tingkat Nasional XIX,1980.
Pekalongan. 12. Ketua Umum organisasi sosial di bidang pendidikan
2. Wartawan berita kota, surat kabar Belanda "Het Noor- ”Parani Dharmabakti Indonesia” (PADI), 1987–2004.
den" di Semarang, 1938. 13. Ketua Dewan Pengawas ”Yayasan Idayu”.
3. Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor
Noord Midden Java , Departement Ekonomische Hobi:
Zaken, 1939-1942. 1. Seni Suara
4. Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) 2. Studi Agama Islam dan perbandingan agama-agama
Kantor Gubernur Jawa Tengah, 1943. serta organisasi kerohanian, baik di dunia Timur maupun
5 Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Barat.
Tengah Utara) di Semarang, 1943-1948.
6. Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indone- Keluarga:
sia, 1945-1946. l Tidak menikah, namun mempunyai 8 anak semang (6
7. Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik In- laki-laki dan 2 perempuan). Sebagian merupakan ”se-
donesia, 1946-1948. rahan” dari ibu mereka —yang janda— atau bapak me-
8. Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indone- reka —beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Ada
sia, 1969-1979. pula bapak/ibu yang sukarela menyerahkan anaknya
9. Diperbantukan pada Depar temen Pendidikan dan untuk diakui sebagai anak sendiri. Semua sudah beru-
Kebudayaan sebagai Direktur Jenderal Urusan mah tangga dan mempunyai 15 orang cucu (7 laki-laki
Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen dan 8 perempuan).
P&K, 1966-1968.
10. Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia Meninggal dunia:
pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973. l Hari Rabu, 9 Juni 2004, pukul 16.30 WIB, dalam usia 87
11. Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap tahun di Jln. Damai No.20 Cipete, Jakarta Selatan. Dima-
Protokol Negara, 1973-1974 kamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Ja-
12. InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan sela- karta Selatan. Sebetulnya, beliau berhak dimakamkan
ma 16 bulan, merangkap Direktur Protokol dan Konsu- di Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki tanda
ler Departemen Luar Negeri, merangkap Kepala kehormatan ”Mahaputera” atas jasa menyelamatkan
Protokol Negara, 1974. bendera pusaka Merah Putih dan ”Bintang Gerilya” atas
13. Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IVe. jasanya ikut perang gerilya tahun 1948-1949. Tetapi,
beliau tidak mau, bahkan mengurus hal itu kepada
Pergerakan: pengacara dengan membuat surat wasiat.
1. Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969 llll

Edisi Juni 2007 7
Bulletin Paskibraka ’78

Sederhana, Watak Mulia Seorang Pandu
M
ASIH ingatkah kita bagaimana senjanya bunda Bunakim masih men-
menyenandungkan lagu “ Syu-
Zeverina@kompas.com cuci, membersihkan rumah, dan mema-
kur” karya H. Mutahar? sak sendiri. Pakaiannya pun dia buat
”Biarkanlah orang tertawa, sendiri. Wanita tua ini ke mana-mana
Dari yakinku teguh naik bus, ia selalu berjalan kaki dari ru-
hati ikhlasku penuh ketika engkau memulai mahnya ke tempat pemberhentian bus,
Akan karunia-Mu kehidupan ini dengan jeritan dan dari pemberhentian bus ke tempat
yang ditujunya. Itulah mengapa ia masih
Tanah Air pusaka tangis, begitu engkau keluar sanggup naik gunung di usia uzur. Dah-
Indonesia Merdeka dari rahim ibumu. Tetapi syat!
Syukur aku sembahkan (Zeverina lupa menyebutkan bahwa
ke hadirat-Mu Tuhan...
buatlah mereka menangis, Bunda Bunakim juga telah meninggalkan
sedangkan engkau tertawa, kita pada Juli 2005, juga di usia 88 tahun,
Mudah-mudahan masih ada yang bisa ketika engkau mengakhiri Red)
menggumamkannya, jika sungkan Manusia-manusia berhati mulia dan
dengan orang-orang sekitar, cukup hidupmu di dunia ini, tatkala terhormat seperti Om Mutahar dan Bunda
bernyanyi dalam hati saja ya... ajal menjemputmu”. Bunakin, menyiratkan jati diri seorang
Lagu patriotik jaman dulu ini sering kita pramuka yang sesungguhnya, yang
nyanyikan ketika mengheningkan cipta (Petuah Seorang Bijak) begitu meyakini ungkapan yang di-
dalam acara-acara resmi, namun pernah- tinggalkan Stephenson Smyth Baden
kah kita membayang- Powell, beberapa saat sebelum ia me-
kan keseharian Husein ninggal dunia. Sebuah tulisan terakhir
Mutahar, atau Kak Mut yang ditemukan di antara tumpukan
atau Om Mutahar? 1994 kertas, setelah Bapak Pandu Sedunia itu
Penyelamat Bendera wafat.
Pusaka, tokoh kepan-
duan dan pendiri Gerak- ”Kebahagiaan tidaklah timbul dari
an Pramuka ini di akhir kekayaan, juga tidak dari jabatan yang
masa hidupnya meng- menguntungkan ataupun dari kesenang-
huni sebuah rumah se- an itu sendiri. Jalan menuju kebahagiaan
derhana di ruas jalan ialah membuat dirimu lahir dan batin
sempit di sebelah Pasar sehat dan kuat pada waktu kamu masih
Cipete. Ia memang tak kanak-kanak, sehingga kamu dapat
membutuhkan penghar- berguna bagi sesamamu dan dapat
gaan berlebihan, bila memaknai hidup, jika kamu kelak telah
perlu merelakan diri dewasa. Usahamu menyelidiki alam
agar orang lain selamat. akan menimbulkan kesadaran dalam
Begitulah watak mulia hatimu, betapa banyaknya keindahan
Pramuka yang dibawa- dan keajaiban yang diciptakan oleh
nya hingga wafat 9 Juni Tuhan di dunia supaya kamu dapat me-
2004, dua bulan menje- nikmatinya.”
lang ulang tahunnya
yang ke-88. Yah, seorang pandu, bagaimanapun
Ada sebuah foto ber- akan tetap seorang pandu. Mereka,
Sosok Pandu yang sederhana: Bunda Dari Bunakim dan Kak
warna berukuran besar manusia-manusia yang mampu berlayar
Husein Mutahar. (Foto: Syaiful Azram)
di dekat jenazahnya, dengan memanfaatkan matahari. Orang-
dalam balutan seragam orang yang membuat banyak orang me-
Pramuka, lengkap dengan tanda jasa pemakaman persis seperti yang diingini- nangis tatkala ajal menjemput. Mereka
Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, nya, khidmat dan sederhana. Bondan yang membawa ketenangan di tengah
serta tanda kemahiran Pramuka sebagai sendiri, adalah juga seorang Pramuka. kerusuhan, membawa damai bila terjadi
pembina bertaraf internasional. Menurut Kesederhaan, adalah kehidupan yang kekalutan, membawa kegembiraan di
penuturan war tawan senior, Bondan juga dijalani seorang bunda bernama tengah kesedihan, membawa kepastian
Winarno, foto itu baru diambil dua minggu Dari Bunakim, yang hampir sepanjang bila terjadi kebimbangan, dan menjadi
sebelurnnya oleh cucunya, dengan umurnya dihabiskan untuk kegiatan penyelamat di tengah bahaya.
kamera digital pinjaman. pramuka, mendaki gunung, menjelajahi Salam Pramuka!!
”Ia telah pulang ke Timur Abadi — se- hutan, juga berkemah. Pramuka dike-
buah kata sandi yang suka dipakainya nalnya tahun 1928, saat ia berumur 11
untuk menyebut Hadirat Allah. Selamat tahun.
Jalan,” tulis Bondan di Harian Kompas, Sejak tahun 1968, ia menjadi salah Dicuplik dari: Kolom Kita
lima hari setelah kematiannya. Ya, Om satu pembina pasukan pengibar ben- Kompas Cyber Media Community
Mutahar telah mendapatkan upacara dera pusaka (Paskibraka). Hingga usia Jumat, 08 September 2006, 17:33 wib

8 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Sang Penyelamat Bendera Pusaka
P
ROKLAMASI Kemerdekaan Republik nya dan berdoa, Tanggungjawabnya te- Bung Karno sengaja tidak memerin-
Indonesia dikumandangkan pada rasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil tahkan Mutahar sendiri datang ke Bang-
hari Jum'at, 17 Agustus 1945, jam memecahkan kesulitan dengan menca- ka dan menyerahkan bendera pusaka
10.00 pagi, di Jalan Pegangsaan Timur but benang jahitan yang menyatukan ke- itu langsung kepadanya. Dengan cara
56 Jakarta. Setelah pernyataan kemer- dua bagian merah dan putih bendera itu. yang taktis, ia menggunakan Soedjono
dekaan Indonesia, untuk pertama kali se- Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, ke- sebagai perantara untuk menjaga kera-
cara resmi bendera kebangsaan merah dua carik kain merah dan putih itu berha- hasiaan perjalanan bendera pusaka dari
putih dikibarkan oleh dua orang pemuda, sil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah Jakarta ke Bangka.
Latief Hendraningrat dan Suhud. Bende- dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua Itu tak lain karena dalam pengasingan,
ra ini dijahit tangan oleh Ibu Fatmawati tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian Bung Karno hanya boleh dikunjungi oleh
Soekarno dan bendera ini pula yang ke- dan kelengkapan miliknya dijejalkan di anggota delegasi Republik Indonesia
mudian disebut "bendera pusaka". atas kain merah dan putih itu. Ia hanya dalam perundingan dengan Belanda di
Bendera pusaka berkibar siang dan bisa pasrah, dan menunggu apa yang bawah pengawasan UNCI (United Na-
malam di tengah hujan tembakan sampai akan terjadi selanjutnya. tions Committee for Indonesia). Dan Su-
Ibukota Republik Indonesia dipindahkan Yang ada dalam pemikiran Mutahar djono adalah salah satu anggota dele-
ke Yogyakarta. Pada tanggal 4 Januari saat itu hanyalah satu: bagaimana agar gasi itu, sedangkan Mutahar bukan.
1946, karena aksi teror yang dilakukan pihak Belanda tidak mengenali bendera Setelah mengetahui tanggal kebe-
Belanda semakin meningkat, presiden merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha- rangkatan Soedjono ke Bangka, Muta-
dan wakil presiden Republik Indonesia nya kain biasa, sehingga tidak melaku- har berupaya menyatukan kembali ke-
dengan menggunakan kereta api me- kan penyitaan. Di mata seluruh bangsa dua helai kain merah dan putih dengan
ninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Indonesia, bendera itu adalah sebuah meminjam mesin jahit tangan milik seo-
Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta “prasasti” yang mesti diselamatkan dan rang istri dokter —yang ia sendiri lupa
dan dimasukkan dalam koper pribadi tidak boleh hilang dari jejak sejarah. namanya. Bendera pusaka yang tadinya
Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipin- Benar, tak lama kemudian Presiden terpisah dijahitnya persis mengikuti lu-
dahkan ke Yogyakarta. Soekarno ditangkap oleh Belanda dan bang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati.
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir Tetapi sayang, meski dilakukan dengan
melancarkan agresinya yang kedua. Pre- danau Toba) sebelum dipindahkan ke hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan
siden, wakil presiden dan beberapa peja- Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi- jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.
bat tinggi Indonesia akhirnya ditawan den Mohammad Hatta langsung dibawa Dengan dibungkus kertas koran agar
Belanda. Namun, pada saat-saat genting Bangka. Mutahar dan beberapa staf ke- tidak mencurigakan, selanjutnya bende-
dimana Istana Presiden Gedung Agung presidenan juga ditangkap dan diangkut ra pusaka diberikan Mutahar kepada
Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe- dengan pesawat Dakota. Ternyata mere- Soedjono untuk diserahkan sendiri kepa-
karno sempat memanggil salah satu ka dibawa ke Semarang dan ditahan di da Bung Karno. Hal ini sesuai dengan
ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. sana. Pada saat menjadi tahanan kota, perjanjian Bung Karno dengan Mutahar
Sang ajudan lalu ditugaskan untuk untuk Mutahar berhasil melarikan diri dengan sewaktu di Yogyakar ta. Dengan
menyelamatkan bendera pusaka. Penye- naik kapal laut menuju Jakarta. diserahkannya bendera pusaka kepada
lamatan bendera pusaka ini merupakan Di Jakarta Mutahar menginap di rumah orang yang diperintahkan Bung Karno
salah satu bagian “heroik” dari sejarah Perdana Menteri Sutan Syahrir, —yang maka selesailah tugas penyelamatan
tetap berkibarnya Sang Merah putih di sebelumnya tidak ikut mengungsi ke yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak
persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe- Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, ia itu, sang ajudan tidak lagi menangani
karno berucap kepada Mutahar: kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di masalah pengibaran bendera pusaka.
”Apa yang terjadi terhadap diriku, aku rumah Bapak R. Said Soekanto Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekar-
sendiri tidak tahu. Dengan ini aku mem- Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI no dan Wakil Presiden Mohammad Hatta
berikan tugas kepadamu pribadi. Dalam yang pertama). kembali ke Yogyakarta dari Bangka de-
keadaan apapun juga, aku memerintah- Selama di Jakarta Mutahar selalu ngan membawa serta bendera pusaka.
kan kepadamu untuk menjaga bendera mencari informasi dan cara, bagaimana Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pu-
kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh ja- bisa segera menyerahkan bendera pusa- saka dikibarkan lagi di halaman Istana
tuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika ka kepada presiden Soekarno. Pada su- Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
Tuhan mengizinkannya engkau me- atu pagi sekitar pertengahan bulan Juni Naskah pengakuan kedaulatan lndo-
ngembalikannya kepadaku sendiri dan 1948, akhirnya ia menerima pemberita- nesia ditandatangani 27 Desember 1949
tidak kepada siapa pun kecuali kepada huan dari Sudjono yang tinggal di Oranje dan sehari setelah itu Soekamo kembali
orang yang menggantikanku sekiranya Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) ke Jakarta untuk memangku jabatan
umurku pendek. Andaikata engkau gugur Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan Presiden Republik Indonesia Serikat
dalam menyelamatkan bendera ini, per- bahwa ada surat dari Presiden Soekarno (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan,
cayakanlah tugasmu kepada orang lain yang ditujukan kepadanya. Jakarta pun kembali menjadi ibukota
dan dia harus menyerahkannya ke ta- Sore harinya, surat itu diambil Mutahar Republik Indonesia. Hari itu juga, ben-
nganku sendiri sebagaimana engkau dan ternyata memang benar berasal dari dera pusaka dibawa kembali ke Jakarta.
mengerjakannya.” Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah Untuk pertama kalinya setelah Prok-
Sementara di sekeliling mereka bom agar ia segera menyerahkan kembali lamasi bendera pusaka kembali dikibar-
berjatuhan dan tentara Belanda terus bendera pusaka yang dibawanya dari kan di Jakarta pada peringatan Detik-
mengalir melalui setiap jalanan kota, Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba- detik Proklamasi 17 Agustus 1950.
Mutahar terdiam. Ia memejamkan mata- wa ke Bangka. n Syaiful Azram

Edisi Juni 2007 9
Bulletin Paskibraka ’78

Catatan BudihardjoWinarno tentang Husein Mutahar

Pembina, Guru, Bapak dan Sahabatku
S
EPERTI lirik lagu Sheila on 7 yang saya sih sayang sebelum mencoba membuka
kutip, Husein Mutahar memang Melihat tawamu mendengar mata kami tentang wawasan kebang-
sebuah anugerah terindah yang senandungmu saan, nasionalisme dan persaudaraan.
pernah saya miliki. Saya bahagia bisa Beberapa tahun kemudian saya ber-
Terlihat jelas dimataku warna-warna
mengenalnya bukan saja sebagai seo- temu lagi dengan Kak Mutahar. Bersama
rang bijak yang selalu memberikan pe- indahmu Bunda Boenakim saya hadir untuk ikut
tuah berharga, tapi juga seorang guru Menatap langkahmu, meratapi kisah merayakan ulang tahunnya pada tang-
yang mampu mendidik dengan kasih sa- hidupmu gal 5 Agustus. Tahun 1980, setelah pin-
yang, seorang Bapak yang dapat menen- Terlukis jelas bahwa hatimu, dah dan berdomisli di Jakarta, saya se-
teramkan hati anaknya di kala gundah makin sering sowan ke rumahnya yang
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
serta seorang sahabat yang bisa diajak asri di Prapanca Buntu.
berdiskusi tentang masalah pribadi. Ucapan khas selalu meluncur dari bibir
Saya pertama kali bertemu dengan Sifatmu nan s’lalu redakan ambisiku Kak Mut setiap kali saya muncul di de-
Kak Mut pada tahun 1978, saat ia mem- Tepikan khilafku dari bunga yang layu pan pintunya. ”Eee.... Pak Budi Yogya to
berikan ceramah kepada anggota Pas- Saat kau disisiku kembali dunia ceria ini. Piye kabarmu Bud?” Kalimat yang sa-
kibraka 78 di Asrama Haji Cempaka ma dan diucapkan dengan kocak itu
Tegaskan bahwa kamu
Putih. Saya, begitu juga teman-teman juga tak pernah ketinggalan saat saya
lain, yang sudah kelelahan akibat latihan Anugerah terindah yang pernah kumiliki menghubunginya melalui telepon.
keras siang harinya, sebenarnya sudah _____________________ Dengan segala kerendahan hati,
sangat ingin beristirahat. Tapi, malam itu ”Anugerah Terindah yang izinkan saya menuliskan kembali sejum-
kami harus berhadapan dengan seorang Pernah Kumiliki ” lah kenangan yang pernah saya dapat-
tinggi besar berwajah Arab dan sangat Sheila on 7 kan dari Kak Mut, baik sebagai Pembina,
berwibawa. Guru, Bapak maupun Sahabat. Semoga
Tapi, ketika pria yang tadinya menye- na gerak wajah, hidung, mulut maupun dapat menjadi gambaran betapa seo-
ramkan itu memulai ceramahnya, sua- tubuhnya yang sangat lucu. Pria yang rang Mutahar pantas disebut seorang
sana menjadi cair. Kak Mut mampu mem- kelihatan seram itu ternyata kocak dan ”manusia istimewa” di bumi Indonesia.
buat kami santai dan tertawa lepas kare- humoris. Dia menyapa kami dengan ka- n Budiharjo Winarno

Tentang Foto, Mata dan Nama

I
SENG-ISENG, suatu kali saya nyaman di mata maupun hati. Rasanya ”Akupun tidak ingin mengubah nama
pernah bertanya kepada Kak Mut, seperti ada yang hilang, gitu. Apa karena supaya kelihatan keren sebagai penga-
mengapa ia tidak suka difoto. ”Kan mataku sudah tidak bagus kondisinya rang lagu Syukur. Biarlah namaku tetap
banyak sekali orang yang ingin berfoto atau sebab lain aku tidak tahu.” jelasnya. Husein Mutahar seperti yang diberikan
bersama dengan Kak Mut, apalagi wajah ”Alasan kedua, jika aku difoto dan oleh orangtuaku dan itu adalah salah
Kak Mut cukup ganteng dan menarik, mereka menyimpannya, maka kenangan satu peninggalan dari leluhurku yang
pasti hasilnya selalu bagus!” itu tidak akan berumur panjang. Kalau harus kujaga kehormatannya, karena
”Wah ngenyek (meledek) kamu. Ma- orang yang menyimpan fotoku sudah jika nama itu jelek maka sama saja aku
sak wajah jelek seperti ini mau difoto dan bosan atau tak memerlukannya, foto itu tidak menghargai kedua orangtuaku
hasilnya bagus?” jawab kak Mut sambil pasti tidak akan dirawat atau malah yang telah memberikan nama itu.”
tertawa. Ia lalu menggerakkan wajahnya dibuang ke tong sampah. Jadi tidak ada Dengan penjelasan itu, akhirnya saya
dari melotot, menutup mata, memajukan artinya apa-apa lagi.” mengerti mengapa Kak Mut selalu
mulut, menggerakkan pipi, kuping dan ”Kamu pasti tahu arti pepatah gajah memalingkan muka ketika difoto. Saat
semua anggota tubuh, hingga akhirnya mati meninggalkan gading, macan mati ramah tamah seusai menjadi pembicara
kami berdua tertawa ngakak dengan meninggalkan belang dan manusia mati pada Sarasehan Paskibraka 1995 di Ho-
perut kenyal dan keluar air mata. meninggalkan nama. Begitu juga aku. tel Sahid Jakarta, Kak Mut menggamit
Setelah agak reda, Kak Mut melanjut- Jika pada saatnya nanti aku harus tangan saya dan berkata, ”Bud, nanti
kan. ”Ada beberapa alasan kenapa aku menghadap Al-Khalik, maka aku ingin kalau ada yang mau memotret, aku dan
nggak mau difoto. Bukan semata-mata meninggalkan nama yang baik bukan kamu pura-pura ngobrol ya, biar mereka
soal teknis, tapi juga soal prinsip.” sekadar foto. Misalnya ada orang yang tidak bisa memotret dari depan. Biar
”Pertama, kalau aku difoto apalagi menyanyikan lagu Syukur, kemudian mereka tidak tahu kelemahan mataku.”
memakai lampu blitz, maka dalam bebe- ditanya siapa pengarangnya, maka akan Saat itu, saya terpaksa memenuhi
rapa saat pasti mataku mengalami kejut- dijawab lagu Syukur dikarang oleh permintaan Kak Mut. Tentu saja dengan
an sinar yang sangat terang. Aku akan Mutahar, bukan ini foto pengarangnya. alasan yang sama, tak ingin Kak Mut
kehilangan keseimbangan dalam bebe- Jadi yang aku tinggalkan adalah nama kaget karena kilatan blitz, lalu hilang
rapa detik, dan rasanya sangat tidak dan itu akan abadi.” keseimbangan dan sempoyongan.***

10 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Jeda Aktivitas Beberapa saat saya terdiam. Beliau
kemudian melanjutkan, ”Kan sayang
Muda untuk perbaikan pembinaan Pas-
kibraka, saya berpandangan sebaiknya
Bud, kalau angkatanmu ’78 sudah kom- Paskibraka ’78 berdiri di luar organisasi
pak dan mau maju, tiba-tiba kamu nggak PPI tapi selalu memberi masukan yang

S
UATU hari seusai Munas Purna mau aktif lagi. Susah lho menemukan membangun. Dengan demikian, kami
Paskibraka Indonesia (PPI) ke-2 di Purna Paskibraka seperti angkatanmu bebas dari kepentingan pribadi pada saat
Lembang, Bandung, saya mene- yang begitu akrab dan tulus.” memberikan kritik dan saran.”
lepon Kak Mutahar. Karena sudah lama Sambil minum teh dan makan jajan ”Tapi ada sebagian teman yang mem-
tidak bertemu, beliau lalu menyuruhku pasar yang dihidangkan, saya lalu mem- punyai pandangan berbeda. Kami diang-
datang. ”Ada yang ingin kubicarakan de- berikan penjelasan dengan hati-hati. gap bisa meletakkan dasar-dasar pembi-
nganmu,” pesannya. ”Sebenarnya saya nggak ngambek atau naan organisasi hanya bila kami ada di
Hari Minggu berikutnya saya benar- nggak mau aktif lagi di Paskibraka ’78 dalamnya. Nah, di saat mereka sibuk di
benar datang berkunjung dengan berta- dan PPI. Banyak alasan yang membuat PPI, tentu tidak bisa aktif di Paskibraka
nya-tanya dalam hati apa gerangan yang saya sementara waktu harus menarik diri. ’78. Jadi saya memilih berada di luar dan
ingin dibicarakan. Seperti biasa kami Bukan karena tidak cinta Paskibraka dan tetapmemberikan kritik membangun.
ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya memutuskan persaudaraan,” jawab saya. Nanti kalau mereka sudah tidak sibuk lagi
beliau bertanya. ”Setelah Munas teman- ”Lha, dadi alasanmu opo?” Kak Mut di PPI, saya pasti ngumpul lagi dengan
temanmu datang ke sini. Kamu nggak ikut mendesak. Saya terpaksa menjelaskan mereka di 78,” papar saya.
dan katanya mengundurkan diri dari pandangan saya lebih detail. Kak Mut manggut-manggut. ”Ooo... ya
kepengurusan. Ono opo tho le... ayo crito ”Sejak Reuni Paskibraka ’78 pada ta- sudah kalau itu maumu, asal jangan
karo aku (ada apa nak, coba ceritakan hun 1994 dan kami membuat rekomen- ngambek aja. Ngambek sedikit ya boleh,
padaku),” pinta Kak Mut. dasi ke Direktorat Pembinaan Generasi asal jangan terlalu lama,” pintanya. ***

Tetap Jadi Pandu karena PEP harus berubah menjadi PPI
dan sekaligus mengganti AD dan ART-
braka. Kamu boleh kecewa tapi jangan
terus-terusan menarik diri. Kasihan adik-
nya —yang telah dibuat dengan susah adikmu yang butuh perhatian,” pintanya.
payah. ”Semoga saja organisasi ini ber- Untuk mengantisipasi kemungkinan

B
ILA dikatakan Kak Mut tidak suka kembang dengan baik dan menjadi wa- ada Purna Paskibraka yang tidak men-
dengan organisasi Purna Paski- dah bagi Paskibraka di daerah terutama dapat tempat di PPI karena organisa-
braka Indonesia (PPI), tentu ke- yang tidak bisa menjadi Paskibraka di sinya berbentuk organisasi massa (bu-
nyataannya berbeda. Tahun 1995, ia rela tingkat nasional,” kata kak Mut penuh kan lagi organisasi alumni) yang berba-
datang ke Direktorat Binmud untuk me- harap. sis daerah, Kak Mut lalu memberi jalan.
nyaksikan pengukuhan Pengurus PPI Kenyataan terbalik bahwa PPI kini ”Kamu sudah menulis buku tentang
hasil Munas II. lebih mementingkan urusan ”besar” soal Paskibraka, jadi kamu tidak boleh ber-
Namun, sebelum itu ia pernah meng- organisasi sehingga melupakan hal-hal henti. Bimbinglah adik-adikmu karena
ungkapkan ketidak-setujuannya pada kecil yang menyangkut alumninya sendiri kamulah tempat mereka bertanya. Kalau
alasan dibentuknya PPI. Pertama, nama dan pembinaan Paskibraka, sepertinya teman-temanmu sudah kumpul lagi, ben-
PPI seharusnya tidak dipilih karena sangat disadari Kak Mut. Hal yang sama tuklah paguyuban angkatan 78, lalu ajak
sudah dipakai oleh Persatuan Pelajar dialaminya sendiri dalam gerakan kepan- angkatan lain melakukan hal serupa. Da-
Indonesia. Kedua, bila harus membentuk duan, ketika nama Pandu harus diubah ri hal yang kecil, dan keinginan yang mur-
organisasi di tingkat nasional, mengapa menjadi Pramuka. ni dari dalam hati hasilnya akan jauh le-
harus mengubah organisasi alumni ”Kami yang bergerak lebih dahulu de- bih baik.”
tingkat daerah yang telah lebih dulu lahir ngan nama Pandu yang dasar keanggo- ”Pastikan semua Purna Paskibraka
seperti Purna Eka Paskibraka (Yogya) taannya adalah panggilan hati nurani, mendapatkan kesempatan dalam mem-
dan Reka Purna Paskibraka (Jakarta). tiba-tiba berganti nama menjadi Pramu- bina adik-adikmu. Jangan ada yang di-
”Itu berarti, organisasi PPI berdiri atas da- ka yang anggotanya bersifat wajib untuk tinggalkan, termasuk kakak-kakakmu
sar perintah dari atas bukan karena kei- semua angkatan sekolah sesuai dengan penggerek bendera sebelum tahun
nginan para Purna Paskibraka sendiri se- instruksi pemerintah,” kisahnya. ”Waktu 1967. Mereka semua juga Paskibraka,”
perti PEP DIY maupun Reka Purna di itu aku juga sangat sedih, bahkan sem- jelas Kak Mut.
DKI,” ujarnya. pat menarik diri.” Lalu, gambaran sikap yang aktivitas
Kak Mut berpendapat, sebaiknya orga- ”Tetapi, seiring dengan perjalanan yang dilakukan organisasi alumni Pas-
nisasi lahir dari keinginan anggotanya, waktu dan tidak mungkin mengubah kibraka dicontohkan Kak Mut seperti ia
bukan karena perintah atasan atau orang nama itu lagi karena merupakan kebijak- membentuk Parani Dharma Bhakti Indo-
lain. Cikal bakal yang sudah ada tak perlu sanaan pemerintah, maka aku akhirnya nesia (Padi). Organisasi ini berjiwa Pan-
dilebur jadi satu, tapi biarkan berkem- dapat menerima. Untungnya waktu itu du dan bergerak di bidang sosial dan
bang ke atas dan mengakar ke bawah. aku diangkat menjadi Duta Besar di pendidikan.
”Ya seperti Indonesia ini, walaupun ber- Vatikan sehingga dapat melupakan ”Kita harus selalu berlapang dada dan
beda-beda tetapi tetap satu, jadi biarlah sejenak permasalahan itu. berjiwa besar untuk mengikuti arus per-
organisasi yang sudah ada tetap eksis Kak Mut merasa tenang setelah dalam kembangan zaman yang kadang-ka-
karena organisasi tersebut sudah bera- perkembangannya arah pembinaan Pra- dang tidak sesuai dengan keinginan kita.
kar di bawah, sayang kalau harus dibu- muka ternyata tidak menyimpang dari Jangan selalu marah, apalagi putus asa,
barkan atau harus ganti nama,” lanjutnya. jiwa Pandu, walaupun ada penurunan dan teruslah membina adik-adikmu Pas-
Kak Mut juga kemudian memahami kualitas. ”Cobalah kamu belajar untuk kibraka,” lagi-lagi Kak Mutahar memom-
bagaimana perasaan saya yang sedih berpikir positif untuk kemajuan Paski- pa semangatku. ***

Edisi Juni 2007 11
Bulletin Paskibraka ’78

kan untuk seks dan berapa kuat kamu ”Jika suatu saat istrimu badannya tidak
Tentang Keluarga melakukannya dalam satu hari yang 24
jam? Padahal kamu hidup puluhan tahun
ramping dan tidak cantik lagi, ya harus
kamu terima karena dialah garwo-mu,
dan sebagian besar waktumu dihabis- Jika tidak terpuaskan dalam kehidupan

S
UATU hari, kami berdiskusi tentang kan untuk bekerja mencari nafkah dan seksual, kamu tak perlu menyeleweng.
hidup dan akhirnya sampai pada kehidupan sosial lainnya. Jika belum dikaruniai keturunan jangan
soal rumah tangga. Tiba-tiba Kak ”Jadi, tidak masuk akal dan terlalu ma- saling menyalahkan atau bahkan saling
Mut bertanya, ”Bud kapan kamu me- hal jika seks harus didapatkan dengan meninggalkan.
nikah?” menikah. Sebaliknya, hehidupan yang ”Jangan kamu sia-siakan istrimu ka-
Saya yang saat itu sedang memper- mendewakan seks juga tidak baik karena rena dia titipan Allah yang dianugerah-
siapkan pernikahan, kaget dengan per- bisa merusak kesehatan maupun kehar- kan kepadamu. Kamu sudah berniat
tanyaan itu. Soalnya, Kak Mut sendiri monisan keluarga. membentuk keluarga dengan menikah,
tidak menikah —sampai akhir hayatnya. ”Kedua, kalau kamu menikah hanya maka apapun yang terjadi harus kamu
”Ya rencananya beberapa bulan lagi untuk mencari keturunan atau anak ma- jalani. Biarlah semuanya mengalir sesuai
Kak,” jawab saya tergagap. ka sebaiknya tidak usah menikah, kare- kehendak-Nya. Banyak keindahan dan
Setelah menanyakan persiapan men- na dapat dilakukan dengan adopsi. Ba- kebahagiaan yang dikaruniakan Tuhan
jelang pernikahan, termasuk kursus per- nyak sekali anak yang tidak terawat dan kepada kita, tapi kadang-kadang sangat
kawinan di gereja —yang diharuskan membutuhkan kasih sayang karena di- susah untuk kita pahami. Karena itu,
bagi umat Katholik— saya dan Kak Mut tinggalkan orang tuanya dengan berba- sayangilah istrimu dan keluargamu
lalu terlibat obrolan serius tentang perka- gai alasan. Kamu bebas merawat anak dengan penuh cinta kasih sampai Allah
winan, keluarga dan rumah tangga. itu sesuai keinginanmu tanpa campur memanggilmu.
”Aku hanya mau berpesan kepadamu. tangan orang lain. ”Jalanilah kehidupan rumah tangga-
Kalau benar-benar mau menikah, kamu ”Ketiga, jika kamu ingin membentuk mu sesuai keinginanmu dan istrimu. Jika
harus tahu arti dan maksud dari perni- keluarga dalam ikatan cinta kasih yang dikaruniai momongan, cintai dan rawat-
kahan sehingga kehidupan keluargamu suci tanpa mempersoalkan seks, anak lah dia dengan baik sehingga dapat
nanti dapat bahagia dan langgeng,” kata dan lain-lainnya, maka pilihan kamu be- menjadi anak yang sholeh dan selalu
Kak Mut membuka nasihat. Selanjutnya, nar. Isteri didalam falsafah Jawa adalah bersandar pada ajaran-Nya. Jika tidak
saya menerima sebuah wejangan pan- Garwo atau Sigaraning Nyowo yaitu diberi, jangan sedih dan kecil hati karena
jang yang sekalilgus menjelaskan belahan dari nyawamu sendiri. Oleh memang tidak semua orang harus punya
prinsip-prinsip yang dianut Kak Mut da- sebab itu, cintailah istrimu dengan tulus momongan. Mungkin ada maksud lain
lam soal perkawinan. dan setia karena dia adalah pilihanmu dari Allah yang nanti akan kamu pahami
”Pertama, jika kamu menikah hanya yang akan mendampingimu selamanya, seiring dengan berputar dan berjalannya
untuk tujuan seksual, sebaiknya tidak ”Jangan sia-siakan istrimu, rawatlah kehidupanmu.
usah menikah. Akan lebih mudah kalau dia dengan sebaik-baiknya. Jika dia Aku hanya terdiam sepanjang Kak Mut
kamu ’jajan’, karena dapat memilih sesu- mempunyai kekurangan, kamu harus menyampaikan wejangannya. Suatu pe-
ai selera, banyak variasi dan gampang bisa menerimanya, baik dari soal seks, tunjuk kehidupan dengan gaya bahasa
mendapatkannya, asal kamu punya duit. keturunan maupun kecantikannya. Se- sederhana tetapi bermakna sangat da-
”Tetapi kamu harus ingat bahwa seks baliknya, istrimu juga harus dapat me- lam. Kak Mut memang konsisten dengan
itu hanyalah sebagian kecil dari hidup. nerima semua keadaanmu dengan pe- prinsipnya itu didampingi 8 anak semang
Coba, berapa lama waktu yang dibutuh- nuh cinta kasih. (adopsi) sampai ajal menjemputnya.***

untuk dijadikan beras.”
Menghargai Karya Cipta Lagu tersebut diciptakan Kak Mut untuk menggambarkan
ungkapan syukur para petani sehabis panen. Ibu-ibu menum-

K
AK Mutahar bertanya kepada saya, apakah waktu buk gabah dengan sukacita, lalu ditampi dengan tambir (sema-
sekolah ikut kegiatan Pramuka. Tentu saja saya jawab cam tampah) untuk mendapatkan beras. ”Indah sekali me-
”ya” karena merupakan kegiatan wajib di SD dan SMP. mang, tapi akhirnya aku minta agar lagu itu tidak dinyanyikan
”Kamu pernah dengar nggak lagu Padi Ditumbuk?” ujarnya lagi,” kenang Kak Mut. Tapi mengapa?
bertanya. ”Setelah lagu itu sering dinyanyikan di acara perkemahan
”Ya jelas dong. Itu kan... yang syairnya begini: ”Ayo padi dan aku dengarkan baik-baik, aku sangat terkejut karena tanpa
ditumbuk dijadikan beras . Ayo padi ditumbuk dijadikan beras. aku sadari intronya dipengaruhi atau bahkan hampir sama
Ayo padi ditumbuk dijadikan beras. Yo ditumbuk, yo ditumbuk... dengan irama lagu Beethoven yang iramanya trettttt tet tet tet
dan dinyanyikan dengan riang,” jawab saya. trettttttttt tet tet tet, tet tet tet tet tet,” kata kak Mutahar sambil
”Benar sekali, kok ingat kamu,” jawab Kak Mutahar. Lagu itu bernyanyi dan tangannya memencet tuts piano.
memang sangat dikenal terutama oleh para penggalang yang Setelah berhenti sejenak kak Mutahar melanjutkan. ”Melodi
ikut dalam Jambore Nasional I tahun 1973 di Cibubur. Namun, lagu Beethoven itu terlalu akrab denganku, sehingga tanpa
beberapa waktu kemudian, lagu itu seolah hilang, tidak terus sadar mempengaruhiku saat menciptakan Padi Ditumbuk.
bertahan seperti lagu lainnya semisal Di Sini Senang di Sana Karena merupakan karya komponis lain, maka dengan suka-
Senang. rela aku minta lagu itu tidak dinyanyikan lagi,” papar Kak Mut.
Menurut Kak Mut, Padi Ditumbuk adalah lagu tentang Sejak itu, Padi Ditumbuk memang tak pernah lagi dinyanyi-
kenangan masa kecil di kampung. ”Kami anak-anak disuruh kan, padahal lagu itu sendiri sudah sempat begitu menyatu
menari seolah-olah habis menuai padi di sawah dengan dengan Pramuka. Semua itu didasari sikap hormat Kak Mut
memakai celana pendek, sarung diselempangkan di pundak terhadap karya cipta seni yang agung. Sikap tahu malu dan
dan memakai topi caping. Terus kami bernyanyi dan menari menghargai sesama komponis yang tak ingin menjiplak karya
dengan riang gembira sambil menumbuk padi beramai-ramai pendahulunya hanya untuk membesarkan namanya sendiri.***

12 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Buku dan Sejarah Paskibraka

P
ADA tahun 1989, Kak Mut pernah karta dengan judul “Isi dan Dinamika
mengemukakan keinginannya Purna Eka Paskibraka”. ”Biar kubaca
kepada saya. Sebuah keinginan dulu buku ini. Nah, sekarang untuk me-
sangat wajar, mengingat umur Paski- lengkapinya, apa yang ingin kamu keta-
braka sudah lebih dari 20 tahun, dan hui tentang Paskibraka dari saya?”
alumninya sudah banyak. Pembina su- Sejak itu, hampir setiap hari Minggu
dah sering bercerita tentang Paskibraka, saya datang untuk berdiskusi. Kak Mut
tetapi belum ada yang berkeinginan un- banyak bercerita tentang sejarah Pas-
tuk menuliskannya dalam sebuah buku. kibraka dan perkembangannya setelah
”Aku khawatir, jika suatu saat Paski- diestafetkan kepada Kak Idik Sulaeman,
braka berkembang dan ada yang ingin Kak Dharminto Surapati dan Bunda Boe- pribadi, beberapa bulan kemudian baru
mengetahui tentang Paskibraka, mereka nakim. saya bisa datang. Kak Mut menyambut
tak bisa menemukan dokumentasinya,” Setelah tuntas membaca draft buku saya dengan tersenyum.
ungkap Kak Mut. saya, suatu hari Kak Mut berkomentar, ”Bud, rencana pembuatan buku ten-
Menurut Kak Mut, buku tersebut sangat ”Bukumu tentang Purna Eka Paskibraka tang Paskibraka akan segera terwujud,
dibutuhkan untuk menghindari penyim- cukup bagus isinya dan memang seperti karena Direktorat Pembinaan Generasi
pangan atau salah penafsiran tentang itu yang seharusnya Paskibraka. Tetapi Muda akan menerbitkannya. Kemarin
Paskibraka dan pembinaannya di selu- kamu harus siap untuk menjelaskan jika Kak Idik Sulaeman, Kak. Dharminto dan
ruh Indonesia. Sebagai sebuah model ditanya orang, terutama tentang kepe- Bunda Bunakim sebagai Pembina Pas-
pembinaan yang baik, latihan Paski- mimpinan. Konsep yang kamu tulis sa- kibraka berkumpul disini dan minta kepa-
braka dapat dikembangkan untuk terus ngat ideal dan berguna bagi tiap individu da saya untuk bercerita sebagai bahan
menumbuhkan rasa nasionalisme kepa- untuk mengembangkan diri menjadi penulisan buku tersebut. Ya sudah, draft
da generasi muda. pemimpin yang bertanggungjawab dan bukumu aku serahkan saja kepada me-
Pucuk dicinta ulam tiba. ”Saya bersedia mumpuni. Tapi, yang seperti itu sulit dite- reka agar dilengkapi dan segera diter-
mengabulkan permintaan Kakak. Saya mui dalam kenyataan, karena kepemim- bitkan. Toh apa yang akan saya omong-
punya draft buku yang Kakak maksud- pinan kerap bergantung ke atas seperti kan semuanya sudah kamu tulis.” kata-
kan, namun masih harus dilengkapi de- militer yang harus patuh dan taat pada nya bersemangat.
ngan data dan cerita dari Pembina, kare- komandan walaupun komandannya ti- Akhirnya, buku Paskibraka yang dii-
na baru mengupas isi dan jiwa Paskibra- dak mampu dan berbuat salah.” nginkan Kak Mutahar dapat juga terwu-
ka, sejarah berdirinya dan bendera Me- Dari pertemuan intensif dengan Kak jud, meski bentuk dan isinya masih sa-
rah Putih,” balas saya. Mut dan Pembina yang lain, draft buku ngat sederhana. Buku tersebut diterbit-
Saya lalu menyerahkan satu salinan pun semakin sempurna. Hasil akhir itu kan Direktorat Pembinaan Generasi Mu-
buku yang saya tulis tentang organisasi saya serahkan untuk dikomentari dan di- da pada tahun 1993 dengan judul “Bu-
Paskibraka di Daerah Istimewa Yogya- koreksi. Karena kesibukan kerja dan ku Kenangan 25 Tahun Paskibraka”. ***

di Vatikan, sering para petugas keaman- saya minum kopi sangat enak dan benar-
Vodka Rasa Kopi an mampir dan mengecek kondisi kea- benar dapat menghangatkan badan. Ba-
manan kedutaan. Nah, waktu itu pas ma- gaimana caranya membuat kopi bisa se-

S
AAT saya sowan pada suatu siang, lam hari serta musim dingin. Ada dua pe- enak ini?” tanya mereka.
Kak Mut menyajikan ’jajan pasar’, tugas kepolisian yang datang ke kedu- Sambil tersenyum Kak Mut menjawab,
yakni makanan kecil tradisional taan Indonesia, dan setelah ngobrol kuli- “Oo... itu gampang. Memang ada resep
yang biasa ditemukan di desa. Di sana hat mereka agak kedinginan. Untuk khusus cara membuatnya. Saya akan
ada grontol (jagung rebus yang sudah menghangatkan badan, aku tawari mi- beritahu pada tuan-tuan, tapi jangan
dipipil dari tongkolnya dicampur dengan num kopi dan mereka tidak menolak.” disebarluaskan. Ini warisan leluhur kami,
kelapa parut), klepon, dan tiwul (tepung Tapi, mereka pesan kopinya tidak jadi jangan sampai ditiru banyak orang.”
gaplek dari ketela yang dicampur gula pakai gula. ”Aku berbisik kepada ajudan- Mereka mengangguk setuju, lalu sam-
merah lalu dikukus dan disajikan dengan ku, ’Buatkan kopi tiga, yang dua dicam- bil berbisik Kak Mut bilang, “Tuan bikin
kelapa parut). Jajan pasar itulah yang pur vodka agak banyak.’ Setelah kopi kopi setengah cangkir, dan campurkan
amat digemari Kak Mut. datang, aku berikan kopi yang ada vodka setengah cangkir juga. Maka
”Kalau di desa, kamu pasti ingat de- vodkanya pada mereka sedang aku jadilah kopi enak dan badan tuan-tuan
ngan wedang bajigur, ronde atau dawet. mengambil kopi murni,” ujar Kak Mut. pasti akan hangat.”
Nah, minuman-minuman itu sangat saya Kak Mut dan kedua polisi itu ngobrol Mereka kaget dan tertawa terbahak-
sukai. Apa kamu suka kopi?” tanya Kak dengan penuh canda tawa sambil mi- bahak. “Untung baru minum dua cangkir.
Mut ketika kami sedang asyik ngemil. num kopi. Udara dingin dan kopinya ha- Coba kalau habis sepuluh cangkir, pasti
”Wah kalau kopi saya hampir tiap hari ngat, dua hal yang sangat klop. Tak heran mabuk,” kata mereka.
minum Kak, terutama kopi pahit yang saat cangkir pertama kosong, mereka Di lain waktu, Kak Mut bertemu lagi
kasar,” jawab saya. malah minta lagi. ”Aku beri dua cangkir dengan mereka di sebuah coffee-shop.
”Kalau vodka rasa kopi kamu pernah lagi kopi campur vodka seperti yang tadi “Tuan Dubes, mari kita minum kopi yang
minum belum?” tanya kak Mut lagi. ”Kopi dan tak lama ludes lagi,” papar Kak Mut. sangat menghangatkan badan,” kata
apa itu?” saya balik bertanya. Saat mau pulang, kedua polisi itu mereka bercanda. Kami pun tertawa lagi
”Aku jadi ingat, waktu jadi duta besar penasaran. “Pak Dubes, baru sekali ini bersama-sama.***

Edisi Juni 2007 13
Bulletin Paskibraka ’78

Makam Sederhana untuk
Seorang yang Luar Biasa
M
ESKI tadinya ada sedikit
mendung menggantung, Ja-
karta sore itu terlihat cerah.
Sinar matahari masih mampu menem-
bus sela-sela awan dan menyentuh
rumput yang baru saja digunting rapi di
atas pusara. Taman Pemakaman Umum
(TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan di hari
Sabtu itu terlihat tidak seseram dalam
film ”Hantu Jeruk Purut”.
Di tempat itulah, di salah satu dari ribu-
an makam yang tersebar dalam bebe- ”Blad 17, Blok AA II, No. 456”.
rapa blok, beristirahat dengan tenang ja- Seperti juga makam-makam lain di
sad M. Husein Mutahar. Dipanggil oleh kompleks itu, makam Kak Mut menem-
Al-Khalik tiga tahun lalu, jenazah Kak pati kavling berukuran sama. Tidak ada
Mut dikebumikan di sana dengan alamat sesuatu yang istimewa, bahkan sangat agar jasadnya tidak dimakamkan di Ta-
sederhana dibanding beberapa makam man Makam Pahlawan. Di Jeruk Purut
lain di kiri dan kanannya. Hanya sebuah pun, ia dikebumikan tanpa derap gen-
gundukan tanah yang ditanami rumput derang, tembakan salvo, atau upacara
Jepang, tanpa dinding dari batu atau resmi apa. Padahal, sebagai seorang
semen. Di atasnya ada sebuah nisan dari yang berjasa besar kepada negara, ia
batu granit dengan tulisan: berhak atas semua itu.
Tepat tiga tahun hari wafatnya, 9 Juni
Inna lillahi wainna ilaihi rajiuun 2007, kami sengaja menyediakan waktu
H. HUSEIN MUTAHAR untuk berziarah ke makam Kak Mut. Me-
bin SALIM MUTAHAR. ngenang kembali saat-saat kami bertemu
Lahir: Semarang 5-8-1916, dan berbincang dengannya, atau begitu
Wafat: Jakarta, 9-6-2004. bersemangatnya ia ketika menyanyikan
lagu-lagu ciptaannya sambil memainkan
Sederhana, memang itulah yang dii- piano, di rumahnya Prapanca Buntu 119.
nginkan Kak Mut. Sebelum wafat, ia telah Dari kesederhanaan makam yang ka-
membuat surat wasiat yang meminta mi lihat, dan ketenangan yang terpancar
dari dalamnya, kami akhir semakin yakin
bahwa pilihan hidup bersahaja layaknya
seorang Pandu, adalah jauh lebih baik
Rumputnya Selalu Subur... dan mulia daripada ikut berkubang da-
lam hiruk-pikuknya manusia yang sibuk
”MAKAM ini ngerawat- anak semangnya. ”Dia bia- mengejar kesenangan dunia.
nya enak Pak. Rumputnya sanya datang ziarah ke sini. Dari sana pula, kami tahu bahwa keba-
selalu subur walaupun ti- Apalagi sekarang sudah ti- hagiaan hidup ada pada hati yang tente-
dak di musim hujan. Bapak ga tahun, dan kontrak ma- ram dan damai. Jauh dari nafsu atau
lihat sendiri kan, itu baru kam harus diper panjang,” angkara yang hanya hiasan palsu bela-
saja saya gunting kemarin. katanya. ka. Bila untuk Indonesia ia telah mencip-
Sebelumnya rumput itu sa- Subur tak tahu, siapa-sia- takan lagu ”Indonesia Merdeka”, maka
ngat tebal dan hijau.” pa saja yang sering menzi- untuk dirinya Kak Mut telah mendapat-
Itulah kisah Ahmad Su- arahi makam Kak Mut. Pa- kan ”kemerdekaan” dengan caranya
bur, petugas yang mengu- ling-paling, pas hari Pramu- sendiri pula. Sebuah kemerdekaan abadi
rus makam-makam di TPU Ahmad Subur ka ada rombongan bersera- yang membuatnya mampu mengangkat
Jeruk Purut. Laki-laki ber- gam Pramuka yang datang. kepala ketika bertemu dengan Sang
kumis ini tahu betul soal makam Kak ”Ramai sekali biasanya,” jelasnya. Pencipta.
Mut, sejak hari wafatnya, 9 Juni 2004. Pramuka memang dipenuhi anak Makam Kak Mut yang tanpa apa-apa
”Waktu penguburan, tempat ini penuh didik Kak Mut, anak-anak Pandu yang hanya berbeda blok dan berjarak sekitar
karangan bunga, dari sana sampai kemudian menjadi seperti anaknya 20 meter dari makam almarhum Chrisye
sana,” katanya menunjuk ujung ma- sendiri. yang berdindingkan marmer dari Italia.
kam sebelah kiri dan kanannya. Kak Mut adalah Bapak Paskibraka, Makam Husein Mutahar adalah sebuah
Menurut Ahmad Subur, selama ini tapi apakah Kak Mut juga punya anak- makam sederhana untuk seorang yang
makam Kak Mut diurus oleh Sunyoto, anak Paskibraka seperti Pramuka? luar biasa...
n Budi Winarno & Syaiful Azram

14 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Lagu ”Syukur”, Bahasa Mutahar Lagu ”Syukur”
IKA diamati dengan seksama, kata- nya. Tapi yang pasti, hampir semua

J kata yang banyak terungkap dalam
bahasa yang digunakan di berbagai
konsep tertulis Paskibraka adalah meru-
lagunya adalah lagu kebangsaan —
selain lagu-lagu Pramuka.
Lagu Syukur, misalnya, yang ditulis
versi Iklan
S
ETIAP tahun setelah selesai
pakan ”bahasa Mutahar”. Konsep-kon- Mutahar di Semarang pada 7 Septem- menyaksikan upacara bende-
sep Paskibraka, juga menggunakan ”ba- ber 1944, lahir dari sebuah kepedihan ra di TV maka saya selalu me-
hasa” itu, termasuk di antaranya tolok yang dalam. Sebagai pemuda ia mera- nelepon Kak Mutahar dan mengu-
atau Kata-Kata Dharma Mulia Putra In- sakan betapa pahitnya penjajah Belanda capkan salam Merdeka dan Dirga-
donesia dan Ikrar Putra Indonesia. Tata memperlakukan bangsa Indonesia. hayu Republik Indonesia. Jawab-
dan gaya bahasa Sansekerta yang se- Bahkan, Belanda merekayasa keadaan annya pasti ucapan bersemangat:
lalu dekat dengan sastra, terlihat begitu sebegitu rupa sehingga orang Indone- ”Merdeka!!” tapi disambung dengan
kuatnya melekat. sia selalu tergantung kepada mereka. ucapan ”Tapi belum seluruhnya mer-
Dari sana pula, terlihat betapa kental- ”Jepang yang datang kemudian dan deka lho...Apapun hasilnya, tetap ha-
nya sikap kebangsaan dalam diri Muta- mengaku sebagai ’saudara tua’, toh tak rus disyukuri karena Negara Indone-
har. Baginya, Indonesia adalah ”seorang lebih dari sebuah siasat. Karena di mata sia tetap semakin maju dalam sega-
Ibu” yang melahirkan, membesarkan dan mereka, orang Indonesia tetap manusia la hal dibanding zaman perang du-
menghidupi anak-anaknya, setiap menu- kelas dua. Rakyat susah mencari nafkah, lu,” tutur beliau.
sia Indonesia. Karena itu, sudah sepan- susah mendapatkan makanan dan Pernah suatu kali, dalam selingan
tasnya seorang anak berbakti dan mem- pakaian,” kisah Mutahar. siaran upacara bendera, ditayang-
balas budi pada Ibunya, setelah ber- Mutahar tak tahu lagi apa jadinya rak- kan lagu Syukur sebagai backgro-
syukur dan berterima kasih kepada Al- yat Indonesia bila Sekutu datang atau und iklan yang menggambarkan
Khalik, Sang Pencipta yang telah mem- penjajah lain muncul setelah Jepang. dinamika kemerdekaan Indonesia
berikan begitu banyak karunia-Nya kepa- Pada saat itulah, tiba-tiba ia ”bermimpi” persembahan sebuah pabrik rokok.
da umat manusia. . menyaksikan Indonesia merdeka. Maka, Deskripsinya memang sangat me-
Jauh sebelumnya, hal yang sama juga ia pun menuliskan sebuah lagu yang nyentuh kalbu, tapi terasa ada
telah ditunjukkan Mutahar melalui lagu- menggambarkan rasa terima kasih ke- sesuatu yang lain.
lagu yang diciptakannya, terutama Syu- pada Tuhan dengan judul ”Syukur”. Mim- Melalui telepon saya bertanya,
kur dan Hari Merdeka. Ia sendiri pernah pi Mutahar pun akhirnya menjadi kenya- ”Kak Mut, sepertinya ada yang ber-
mengaku, sudah tak ingat berapa ba- taan setahun kemudian.*** beda dalam lagu Syukur di iklan itu.”
nyak lagu yang telah ditulis dan digubah- n Syaiful Azram Kak Mut menjawab sambiltertawa,
”Jeli juga kamu Bud. Memang, pro-
dusernya yang tanya sama aku ba-

”Aku Dikerjaiin...” gaimana sebaiknya menyanyikan
lagu Syukur agar lebih menyentuh.
Maka aku suruh nyanyikan refrain

A
KU cukup lama mengenal kak untuk tidak menyinggung perasaan pertama dua kali dan nyanyikan re-
Mut dan banyak kenangan beliau, aku pun teruskan mengobrol. frain kedua lebih lembut namun de-
bersama beliau sebagai anak Ada saja yang diomongkan Kak Mut ngan akhir nada yang lebih tinggi.
didiknya di Paskibraka. Tetapi yang pa- dan ia tak pernah kehabisan kamus Ternyata paduan suaranya mampu
ling aku ingat adalah saat aku meng- sehingga obrolan tidak pernah putus. menghayati lagu tersebut dan me-
antarkan undangan pernikahanku ke- Waktu semakin larut dan akhirnya me- nyanyikan dengan sangat bagus.”
pada beliau. nembus dinihari, tapi obrolan masih Kak Mut lalu menjelaskan lagi
Sepulang kantor aku datang ke ru- berlanjut. Mataku semakin berat, aku bahwa lagu Syukur harus dinyanyi-
mah beliau, lalu kami ngobrol tentang mengobrol sambil terkantuk-kantuk. kan dengan penuh penghayatan
berbagai hal. Tak terasa, jam sudah Tiba-tiba aku dikejutkan oleh Kak karena merupakan ungkapan terima
menunjukkan pukul 22.00, maka aku Mut. ”Ya udah Li, kamu pulang sana! kasih kepada Tuhan Yang Maha Ku-
mohon pamit untuk pulang. Tetapi Wong kamu sudah ngantuk berat, asa atas segala karunia-Nya bagi
beliau menahanku jangan pulang dulu besok masih masuk kerja lagi kan? bangsa Indonesia.
karena masih banyak yang diobrolkan. Tapi aku nggak ngusir lho. Kapan- ”Seperti pernah aku ceritakan, la-
Tak bisa mengelak, akupun tak jadi kapan main lagi ke sini ya dan kita gu tersebut aku ciptakan sebelum In-
pulang dan kami ngobrol lagi. Eh, tak ngobrol lagi.” donesia Merdeka dengan satu ha-
terasa sudah jam 23.30. Rasanya ”Baik Kak, saya mohon pamit,” ja- rapan, kelak pada saat Indonesia
sangat tidak enak bermain ke rumah wabku. Sambil berdiri aku melirik jam merdeka, kita dapat selalu ingat
orang tua sampai selarut itu. Aku pun tangan. Masya Allah! Sudah jam 03.20 bahwa kemerdekaan itu adalah se-
lalu mohon pamit dengan alasan su- pagi! Maka, pulanglah aku terkantuk- buah anugerah dari Tuhan. Karena
dah malam dan rokok sudah habis. kantuk diiringi embun yang mulai tu- itu, sudah sepantasnya kita selalu
“Ooo... rokokmu sudah habis to. Ya run. Esoknya aku pergi kerja dengan bersyukur kepada-Nya.”
sudah, sana beli lagi,” kata Kak Muta- kepala masih ”nyut-nyutan”. Bersyukur dalam pengertian Kak
har. Beliau menyuruh pembantunya Aku ”dikerjain” oleh Kak Mut, tapi Mut, juga bukan sekadar menyanyi-
untuk membelikan rokok untukku dan... itulah kenangan paling manis yang kan sebuah lagu. Tapi, juga berjuang
ternyata dibelikan sampai 3 bungkus. pernah aku alami bersama orang yang dan berupaya memberi arti pada
”Mati aku! Jam berapa nih aku bisa sangat aku hormati dan cintai. kemerdekaan itu sendiri.
pulang,” kataku dalam batin. Lagi-lagi, n Fahly Riza, Paskibraka 1984 n Budiharjo Winarno

Edisi Juni 2007 15
Bulletin Paskibraka ’78

Kak Mutahar dalam Jepretan Kamera

D
ALAM sejarah hidup Husein Mutahar, kamera
adalah salah satu benda yang sangat
dihindarinya. Kamera memang identik dengan
1994
publisitas, tapi dia bukan penganut anti-publisitas,
walaupun publikasi berlebihan kerap menggambarkan
seorang manusia tinggi hati dan suka pamer (riya’). Dia
hanya mempunyai prinsip bahwa ’mati meninggalkan
nama yang baik akan jauh lebih berharga daripada
hanya meninggalkan foto yang mungkin akan dibuang
bila tidak dibutuhkan lagi’.
Begitulah Mutahar yang saya temui lagi pada tahun
1993, setelah 15 tahun berlalu sejak di Paskibraka 1978.
Namun herannya, setelah merasa dekat, pelan-pelan ia
mulai merelakan wajahnya diterpa lampu kilat dari
kamera saya. Foto-foto di halaman ini, foto halaman
depan dan beberapa foto lainnya –yang bukan hasil
reproduksi dari media massa– di buletin ini merupakan
sebagian dari hasil jepretan kamera saya.
Semuanya diperoleh dari tiga kesempatan, yakni saat
Paskibraka ’78 bersilaturahmi ke rumahnya di Jl.
Prapanca Buntu No. 119 (tahun 1993), saat Ulang Janji
Paskibraka 1978 di Cibubur (tahun 1994) dan pelantikan
Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) di Direktorat
Pembinaan Generasi Muda (tahun 1995).
Tiga tahun itulah yang mencatat bahwa seorang
Mutahar yang mulanya kurang suka publikasi, akhirnya
membiarkan saja kamera mengabadikannya. Alasannya
barangkali hanya satu: karena merasa sejuk berada di
tengah-tengah anak didiknya serta ingin meninggalkan
kenangan dan pesan bahwa ia sangat mencintai anak-
anaknya di Paskibraka...
(Teks dan foto: Syaiful Azram)

1994 1995

1994

1993

16 Edisi Juni 2007
Bulletin
BulletinPaskibraka
Paskibraka’78
’78

Sejarah

Bendera Pusaka Milik Siapa?
S
ebagaimana biasa, setiap memperingati HUT sah” bila tahu awal masa kepemimpinannya dimulai tanpa
Kemerdekaan 17 Agustus, Bung Karno sebagai bendera pusaka.
presiden selalu menyampaikan pidato. Dan, setiap Akhirnya diketahuilah bahwa bendera pusaka masih
pidato selalu diberi judul tertentu sesuai dengan tema dan berada di tangan Bung Karno. Akan tetapi mereka tidak
keadaan waktu itu. Demikian pula halnya pada HUT RI ke- tahu bagaimana caranya mengambil bendera itu. ”Dalam
19 tahun 1964, Bung Karno menyampaikan pidato berjudul kebingungan itu, saya dipanggil ke Istana. Hanya sedikit
”Tahun Vivere Pericoloso”. Kata Vivere Pericoloso diambil orang yang tahu bagaimana menghadapi Bung Karno pada
dari bahasa Italia, yang artinya ”...hidup menyerempet- saat-saat seperti itu. Tapi saya tahu sifat beliau. Maka saya
nyerempet bahaya”. bilang, kirimkan keempat Panglima Angkatan untuk
Pada bagian depan pidato itu Bung Karno jelas-jelas meminta bendera itu,” papar Mutahar.
menyebutkan bahwa bendera Merah-Putih pusaka yang ”Tebakan” Mutahar ternyata benar. Bung Karno yang
hanya dikibarkan pada setiap tanggal 17 Agustus, dulunya sudah ”diistirahatkan” di Bogor menjadi lembut hatinya
dijahit oleh Fatmawati, istrinya yang berasal dari Bengkulu. ketika didatangi. Memang mulanya agak ragu-ragu, tapi
Dan, dengan fakta sejarah itu pulalah, Bung Karno beberapa saat kemudian Bung Karno berkata dengan
kemudian pernah mengklaim bahwa bendera pusaka itu tenang. ”Baik, tanggal 16 Agustus kalian datang lagi ke
miliknya pribadi. sini, lengkap dengan semua Panglima keempat Angkatan.
Apalagi, sebagaimana kisah penyelamatan bendera Saya akan lakukan acara resmi serah terima bendera
pusaka yang demikian heroik oleh Husein Mutahar saat pusaka...”
datangnya agresi Belanda kedua pada tahun 1948. Maka, sebagaimana dijanjikan, pada tanggal 16 Agustus
Bendera itu dititipkan pada Mutahar dengan perjanjian malam, keempat Panglima Angkatan —sebutan untuk
harus diserahkan kembali kepadanya. Mutahar menepati pimpinan ABRI dan Polri masa itu— menghadap ke Istana
janjinya dan bendera pusaka kemudian diserahkan Bogor. Tanpa diduga, mereka kemudian diajak balik lagi ke
langsung kepada Bung Karno. Jakarta dan akhirnya menuju ke Monumen Nasional (Mo-
Sejak itu, Bung Karno menyimpan sendiri bendera nas). Ternyata, selama itu bendera pusaka memang
pusaka. Dari tahun 1950, pengibaran bendera pusaka disimpan Bung Karno dalam ruang bawah tanah di dalam
dilaksanakan di Istana Merdeka dengan Bung Karno Monumen Nasional.
sebagai Inspektur Upacara. Tapi, itu berlangsung hanya Bendera pusaka kemudian dibawa ke Istana Merdeka.
sampai tahun 1966, karena tak lama kemudian, pada Maret Atas perintah Presiden Soeharto, Mutahar dipanggil ke Ista-
1967, Bung Karno ”dilengserkan” secara paksa melalui na untuk memastikan apakah bendera pusaka itu memang
Sidang Istimewa MPRS. Sidang yang sama telah asli. Hanya Mutahar, satu-satunya orang yang tahu betul
mengangkat Jenderal Soeharto menjadi Pejabat Presiden. bentuk bendera pusaka, karena dia yang membuka jahitan
Ketika berkunjung ke rumahnya pada tahun 1993, Muta- tangan Ibu Fatmawati. Dia pula yang menyambungkan
har pernah mengisahkan sebuah cerita yang menurutnya kembali bagian merah dan putih dengan mesin jahit —dan
hanya pernah diketahui segelintir orang, dan ”rasanya tidak terjadi kesalahan jahit kecil sekitar 2 cm di ujungnya.
terlalu penting untuk diceritakan,” katanya. Mutahar menye- Sejak itu, Soeharto menempatkan bendera pusaka di
butkan, bagaimana pada tahun 1967 ia mendapat perintah Istana, dalam sebuah kotak kayu berukir yang di dalamnya
untuk mempersiapkan pengibaran bendera pusaka pada diberi potongan kayu cendana sehingga berbau harum bila
tanggal 17 Agustus. Sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dibuka. Bendera pusaka yang sudah usang itu selalu
dan Pramuka) di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diperlihatkan kepada para anggota Paskibraka setiap
(P&K), Mutahar memang sedang ingin mewujudkan gagas- tanggal 16 Agustus, untuk membangkitkan semangat
annya untuk menyerahkan pengibaran bendera pusaka mereka sebelum bertugas esok hari.
itu kepada para pemuda utusan daerah. Memang terbetik berita, bendera pusaka rencananya
Segala sesuatu pun dipersiapkan, termasuk memanggil akan kembali ditempatkan di Monumen Nasional. Berbagai
puluhan pemuda dan pramuka untuk dilatih menjadi Pa- persiapan telah dirancang, termasuk rencana mengarak
sukan Penggerek Bendera Pusaka. Latihan ”ujicoba” pa- bendera pusaka dari Istana Merdeka ke Monas yang jarak-
sukan pertama itu berlangsung mulus. Tapi, sesuatu yang nya hanya beberapa ratus meter, yang konon menelan bia-
”fatal” hampir saja terjadi. ”Pasukan Penggerek Bendera ya tidak kecil. Namun, rencana itu belum terwujud.
Pusaka sudah siap beberapa hari sebelum 17 Agustus, Begitulah, bendera pusaka memang dijahit oleh Ibu
namun para penanggungjawab upacara baru sadar kalau Fatmawati. Dikibar kan sesaat setelah dibacakannya
bendera pusaka yang akan dikibarkan ternyata tidak dite- Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di depan
mukan,” papar Mutahar. kediaman Bung Karno, Jalan PegangsaanTimur 56 Jakarta.
Orang lain pasti akan berpikir sederhana untuk mengatasi Disimpan dan dijaga Bung Karno dengan segenap jiwa
masalah itu. Bikin saja bendera pengganti, toh tidak ada dan raga. Tapi, Bung Karno juga tahu, bahwa bendera
orang yang tahu. Tapi tidak demikian untuk ”seseorang” pusaka adalah sebuah prasasti yang dimiliki oleh seluruh
seperti Soeharto. Keberadaan bendera pusaka tak dapat bangsa Indonesia, bukan miliknya pribadi. ***
digantikan dengan apapun. Orang akan menganggap ”tidak n Syaiful Azram

17 Edisi Juni 2007 17
Bulletin Paskibraka ’78

Antara Soekarno dan Soeharto
Sebuah Pengalaman Pribadi Husein Mutahar
Apa yang dikisahkan berikut ini merupakan pengalaman pribadi Mutahar dan Soeharto
Kak Mutahar bersama dua orang nomor satu di Republik Indone-

P
sia: Soekarno dan Soeharto. Diakui Kak Mut, pendapat pribadinya AK Harto lahir dan besar di Yogyakarta dan
belum tentu sama dengan orang lain. ”Sebagai mantan ajudan sekitarnya. Begitu juga selama masa perju-
dan staf, aku mikul dhuwur mendhem jero, sehingga yang kucerita- angan, ia banyak berkiprah di tanah kelahiran-
nya. Maka tak aneh jika sifatnya lembut. Kultur Jawa-
kan kebaikannya saja. Soal kekurangannya, biarlah orang lain yang
nya sangat kental, tutur katanya halus dan pandai
menceritakan,” ujar Kak Mut.
menyimpan perasaan. Kalau menegur pasti menggu-
Beberapa kali cerita ini dipaparkan kepada saya, sebagian di
nakan krama halus, dan sebagai orang Jawa suka
antaranya di depan teman-teman Paskibraka ’78 yang lain. Kak
Mut sering bilang, kisah ini sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi memakai bahasa simbol dan lebih sulit dipahami.
saya melihat sebaliknya: sebagai sebuah sisi penting yang me- Pada suatu hari di awal bulan Agustus 1968, aku
nunjukkan siapa sebenarnya seorang Husein Mutahar. (Budi W) dipanggil menghadap ke istana. Berdua saja di ruang
kerjanya, dengan sebuah kotak berukir di atas meja,
Pak Harto memulai pembicaraan. ”Pak Mutahar kan
tahu bahwa bendera pusaka sudah cukup tua dan
Mutahar dan Soekarno kondisinya semakin rapuh. Saya ingin menggantinya

B
UNG Karno (BK) lahir di Blitar dan tumbuh di masa sulit serta agar tidak robek pada saat dikibarkan di hari kemerde-
penuh perjuangan. Sebagai orang Jawa Timur bicaranya cep kaan nanti. Bagaimana pendapat Bapak?”
las ceplos tanpa tedeng aling-aling. Suaranya mungkin Aku terdiam beberapa saat dan mencari jawaban
terdengar kasar, tetapi memang itulah Soekarno. Kalau sedang marah, yang tepat. ”Pak Harto,” kataku dengan hati-hati, ”saya
semua keluar dengan seketika. Tapi, secepat itu pula ia minta maaf tahu bendera pusaka sudah rapuh. Tapi kalau boleh
bila merasa ada kata-katanya yang menyinggung perasaan. saya memberi saran, sebaiknya bendera pusaka tetap
Suatu hari, ajudan BK datang ke rumahku dan bilang, ”Pak Mutahar dikibarkan sekali lagi tahun ini. Setelah itu, mau diganti
dipanggil menghadap Bapak (BK) di istana.” Aku jawab, ”Baik, saya dengan bendera lain terserah Bapak.”
ganti baju dulu dan nanti menyusul ke istana.” Tetapi si ajudan bertahan, ”Mengapa harus tetap dikibarkan?” tanya Pak Harto
”Tadi Bapak pesan Pak Mutahar harus ikut bersama saya.” lagi.
Wah, sepertinya penting sekali. Maka aku bergegas, dan sesampai ”Karena ini adalah bendera Merah Putih yang perta-
di istana langsung menuju ke ruang kerjanya. Kulihat muka BK kusut ma kali dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan. Jadi
dan seper tinya sedang marah besar. ”Mut, kamu tahu kenapa aku sebaiknya bendera ini dikibarkan juga pada saat estafet
panggil?” Aku menjawab santai, ”Lha ya nggak tahu. Wong Bapak kepemimpinan beralih ke tangan Bapak, selain sebagai
yang manggil saya, mana saya tahu.” ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada para
”Aku mau marah!” hardik BK lagi. ”Ya marah aja. Mau marah kok pejuang kemerdekaaan,” ujarku menjelaskan. Tahun
nunggu saya,” jawabku sekenanya, karena aku kenal betul sifatnya. 1968, memang tahun pertama Pak Harto menjabat
Ternyata, jawabanku itu membuatnya benar-benar marah. Dalam Presiden RI setelah dilantik dalam Sidang Umum
bahasa Belanda BK mengeluarkan unek-uneknya selama hampir dua MPRS, 27 Maret 1968.
jam, padahal aku tidak tahu sebabnya. Aku mendengarkan saja, sampai Pak Harto tersenyum dan kemudian berkata, ”Baik-
kemarahan itu kendor dan akhirnya BK diam. Aku lalu bilang, ”Bung, lah, pendapat bapak akan saya pertimbangkan. Tetapi
marahnya sudah selesai kan? Kalau sudah, aku tak pulang...” saya masih mau minta tolong kepada Pak Mutahar
BK langsung melotot ke arahku. Dalam hati aku berkata, ”Wah, salah untuk memastikan apakah bendera yang ada didalam
omong aku. Bisa-bisa dia marah lagi...” Tapi ternyata tidak, karena mata- kotak ini benar-benar bendera pusaka yang asli. Saya
nya kembali meredup. ”Ya sudah, pulang sana!” katanya memerintah. tahu Pak Mutahar yang menyelamatkan bendera pusa-
”Kalau begitu saya pamit,” jawabku sambil keluar dan terus pulang. ka pada saat perjuangan dulu, jadi pasti bisa menge-
Tapi tak lama kemudian, ajudannya datang lagi ke rumahku. nalinya.”
Aku langsung menyambar, ”Ada apa? Saya dipanggil lagi untuk dima- Aku kaget setengah mati. Bagaimana kalau bendera
rahi ya?” Sang ajudan cuma mesem-mesem. ”Nggak kok Pak Mut. yang di dalam kotak itu bukan bendera pusaka, wah,
Saya disuruh Bapak ngantar ini,” katanya sambil menyerahkan tas — bisa celaka aku. Aku berpikir keras bagaimana caranya
yang setelah kubuka ternyata isinya berbagai macam kue. bisa meyakinkan Pak Harto tentang keaslian bendera
Sambil mengucapkan terima kasih kepad si ajudan, aku tersenyum. pusaka tanpa harus memeriksanya sendiri. ”Maaf Pak
”Dasar wong gendeng. Kalau bar nesu (habis marah) ngirimi kue, ya Harto. Bukan saya tidak mau memenuhi permintaan
sering-sering aja marah biar giziku terjamin,” kataku dalam hati. Bapak, tetapi biarlah saya jelaskan secara detail ciri-
Esoknya aku bertemu lagi dengan BK dan kulihat wajahnya sumri- cirinya, setelah itu silahkan Bapak memeriksa dan
ngah. Maka aku menegur, ”Bung, kalau masih mau marah sama saya, memastikan sendiri keaslian bendera pusaka. Jika ciri-
silahkan. Tapi jangan lupa kuenya dikirim lagi.” cirinya cocok berarti asli,” ujarku dan setelah itu cepat-
BK tertawa keras. ”Mut, kamu tahu kenapa saya marah?” Aku menja- cepat mohon pamit.
wab, ”Ya nggak tahulah. Wong Bapak marahnya banyak sekali, jadi Nyatanya, Pak Harto mendengarkan usulanku.
saya nggak ingat.” Bendera dalam kotak itu memang asli bendera pusaka.
”Makanya aku panggil kamu untuk aku marahi. Lantaran aku tahu Dan, pada puncak upacara HUT Proklamasi 1968,
kamu pasti tutupi kupingmu dengan kapas biar nggak dengar omong- bendera pusaka yang asli itu kembali berkibar di tiang
anku,” kata BK sambil ngeloyor pergi. *** 17 Istana Merdeka Jakarta. ***

18 Edisi Juni 2007 18
Bulletin Paskibraka ’78

Bendera Duplikat
Itu Juga Sudah
Jadi ”Pusaka”
K
ARENA dikibarkan di tiang 17 Istana Merdeka setiap
upacara 17 Agustus, bendera pusaka yang usianya
sudah sangat tua mulai robek di keempat sudutnya.
Pada bulan Agustus 1968, Husein Mutahar sudah diberitahu
oleh Presiden Soeharto tentang rencana pembuatan duplikat
bendera pusaka. Tapi ia mengusulkan agar penggantian
dilakukan pada tahun berikutnya, 1969, karena bendera
pusaka harus tetap dikibarkan saat Soeharto memulai jabatan
Presiden RI. Bendera duplikat pertama, terbuat dari wool dengan tiga potong kain
Pada tahun 1969, pembuatan bendera duplikat disetujui. merah dan putih yang disambungkan dengan jahitan.
Dalam usulannya, Mutahar meminta agar duplikat bendera
pusaka dibuat dengan tiga syarat, yakni: (1) bahannya dari salah satu bagian pinggimya dipasangi sepotong tali tambat.
benang sutera alam, (2) zat pewarna dan alat tenunnya asli Pemasangannya di tali tiang tidak satu persatu (seperti pada
Indonesia, dan (3) kain ditenun tanpa jahitan antara merah duplikat bendera pusaka hasil karya Balai Penelitian Tekstil),
dan putihnya. tapi cukup diikatkan pada kedua ujung tali tambatnya.
Sayang, gagasan itu tidak semuanya terpenuhi karena Ketidaksamaan bentuk tali pengikat antara duplikat bendera
keterbatasan yang ada. Pembuatan duplikat bendera pusaka pusaka di Istana Merdeka dengan duplikat bendera pusaka
itu memang terlaksana, dan dikerjakan oleh Balai Penelitian yang dibagikan ke daerah, seringkali menimbulkan masalah.
Tekstil Bandung, dibantu PT Ratna di Ciawi Bogor. Dalam pengibaran bendera pusaka di daerah, terjadi ketidak-
Syarat yang ditentukan Mutahar tidak terlaksana karena praktisan saat mengikat tali tambat yang jumlahnya banyak.
bahan pewama asli Indonesia tidak memiliki warna merah Hal itu sering membuat waktu yang dibutuhkan untuk mengikat
standar bendera. Sementara penenunan dengan alat tenun menjadi sangat lama, belum lagi kemungkinan terjadi
asli bukan mesin akan memakan waktu terlalu lama, kesalahan sehingga bendera berbelit sewaktu dibentang
sedangkan bendera yang akan dibuat jumlahnya cukup sebelum dinaikkan.
banyak. ***

P
Duplikat akhimya dibuat dengan bahan sutera, namun ADA tahun 1984, setelah dikibarkan di Istana Merdeka
menggunakan bahan pewarna impor dan ditenun dengan setiap tanggal 17 Agustus selama 15 kali, bendera dup-
mesin. Bendera duplikat itu kemudian dibagi-bagikan ke likat yang terbuat dari kain wool itu pun terlihat terlihat
seluruh daerah tingkat I, tingkat II dan perwakilan Indonesia di mulai renta. Mutahar yang menonton upacara pengibaran ben-
luar negeri pada 5 Agustus 1969. dera oleh Paskibraka melalui pesawat televisi, tiba-tiba dikejut-
Namun, untuk pengibaran pada tanggal 17 Agustus 1969 di kan dengan celetukan ’cucunya’. ”Eyang, kok benderanya su-
Istana Merdeka, sebelumnya telah dibuat sebuah duplikat dah tua, apa nggak robek kalau ditiup angin,” kata sang cucu.
bendera pusaka lain dengan bahan yang tersedia, yakni dari ”Masya Allah. Aku baru sadar kalau ternyata bendera duplikat
kain bendera (wool) yang berwarna merah dan putih kekuning- itu usianya sudah 15 tahun. Maka, siang itu juga aku mengetik
kuningan. Karena lebar kainnya hanya 50 cm, setiap bagian surat yang kutujukan pada Pak Harto. Isinya mengingatkan
merah dan putih bendera itu terdiri dari masing-masing tiga beliau bahwa bendera duplikat yang dikibarkan di Istana sudah
potongan kain memanjang. harus ’pensiun’ dan apa mungkin bila dibuatkan duplikat yang
Seluruh potongan itu disatukan dengan mesin jahit dan pada baru,” papar Mutahar.
Ternyata, Pak Harto membaca surat itu dan memenuhi per-
mintaan Mutahar. ”Allah Maha Besar karena suratku diperha-
tikan oleh Pak Harto,” kenang Mutahar.
Maka, pada tahun 1985 bendera duplikat kedua mulai di-
kibarkan, sementara bendera duplikat pertama yang terbuat
dari kain wool kini disimpan dalam museum di Taman Mini
Indonesia Indah (TMII).
Bendera duplikat kedua untuk seterusnya menjadi bendera
yang dikibarkan setiap 17 Agustus sampai saat ini. Mengingat
usianya yang juga sudah ’renta’ yakni 22 tahun, ada baiknya
Presiden RI kembali diingatkan untuk memeriksa apakah
bendera duplikat kedua itu masih layak untuk dikibarkan. Bila
tidak, sudah waktunya pula bendera itu diistirahatkan dan
ditempatkan di museum mendampingi duplikat pertama. Se-
Duplikat bendera pusaka diserahkan kepada daerah tingkat I dan II oleh mentara untuk pengibaran di Istana Merdeka, bisa dibuatkan
Presiden Soeharto di Jakarta pada 5 Agustus 1969 melalui duplikat yang baru dengan bahan yang lebih baik dan tahan
Pangkowilhan masing-masing. lama.***

Edisi Juni 2007 19
Bulletin Paskibraka ’78

Renungan

Menjaga Sejarah Paskibraka
M
ulanya, saya tidak begitu peduli Kepolisian. Semuanya ada dalam arsip, dan yang seharusnya peduli— pun tidak pernah
ketika Latihan Paskibraka di tingkat bisa digandakan kapan saja. berbuat sesuatu. Akhirnya, kertas-kertas do-
nasional tidak lagi ditangani oleh Mereka bisa mengetuk setiap pintu ruangan kumen itu masuk ke gudang, dijual kiloan ke
Departemen Pendidikan Nasional (melalui atau ’ngobrol’ akrab dengan setiap orang di lapak, atau dibakar.
Direktorat Kepemudaan, Ditjen Diklusepora) PGM, termasuk Direkturnya. Purna selalu Tidak diketahui persis, berapa banyak arsip
mulai tahun 2005. ”Ah, silabus latihannya kan disambut dengan senyum di rumah itu. tentang Paskibraka yang telah hilang. Berapa
sudah dibakukan, pasti tidak ada masalah. Begitu PGM pindah ke Gedung E Depdiknas banyak pula yang masih ada, namun diurus
Buktinya, masih ada Paskibraka yang mengi- di Senayan (dan berubah menjadi Direktorat oleh orang-orang yang tidak kita kenal di Deputi
barkan bendera pusaka di Istana Merdeka,” Kepemudaan), suasana seakrab di Gambir tak II Menpora. Betapa sulitnya kini untuk meleng-
pikir saya. lagi bisa ditemui. Anda harus melapor ke kapi dan mendokumentasikan data Paskibraka,
Saya lalu membayangkan, orang-orang resepsionis Diklusepora lebih dulu, mengisi Komandan Pasukan (Danpas), Pembina dan
yang tadinya biasa menangani latihan itu tentu buku tamu, dan berbagai macam persyaratan Pelatih, karena catatan itu sebagian besar te-
masih terus diikutsertakan sebagai pembina layaknya bertamu ke sebuah gedung perkan- lah hilang.
ketika latihan kini ditangani oleh Kantor Menteri toran. Tapi masih untung, karena ada orang ***

M
Pemuda dan Olahraga (Menpora). Ada sebuah yang Anda kenal di sana. Dan dokumen-do- alam pertama setelah saya seharian
kesinambungan ’sejarah’ yang tidak harus kumen Paskibraka masih utuh meski sedikit ngobrol habis-habisan dengan Kak
ditinggalkan begitu saja. Paling tidak, ’benang berceceran ketika dibawa pindah. Slamet, airmata saya sempat meng-
merah’ akan tetap tersambung dengan kuat. Sekarang, ketika Direktorat Kepemudaan ambang. Begini tragiskah episode akhir dari
Namun, sebersit rasa ragu akhirnya berke- dilikuidasi dari Depdiknas dan diboyong ke sebuah keluarga bernama Paskibraka? Begitu
lebat juga di benak saya. Jangan-jangan, yang Kantor Menpora, yang terjadi sangat membuat sulitkah mencari orang-orang yang mau peduli
terjadi tidak seperti yang saya bayangkan. miris. Pemindahan birokrasi —yang sangat pada ’korps’ yang telah membuat diri mereka
Seberapa besar persentase perubahan yang sarat politis— itu berdampak sangat buruk bagi bangga karena berbeda dari yang lain?
telah terjadi akibat perbedaan dalam birokrasi sejarah maupun masa depan Paskibraka. Semenjak PGM tak lagi berada di Gambir,
penyelenggara latihan, saya sendiri belum per- Sebagian besar personalia PGM (terutama kita telah kehilangan ”rumah” dan ”sekolah”
nah mengukur. yang senior) tidak bersedia ikut pindah ke Kan- yang sejuk dan nyaman. Sejak kepergian Kak
Akhirnya, bertemulah saya dengan sese- tor Menpora, mengakibatkan tidak terjaminnya Mutahar dan Bunda Bunakim, kita hampir-
orang yang menjadi ”saksi hidup” Paskibraka lagi kualitas ”Gladian Sentra” dalam latihan hampir tak lagi punya ”orangtua” dan ”guru”
selama 35 tahun. Manusia langka yang Paskibraka. Personalia PGM yang ’terpecah karena yang tersisa hanya Kak Idik dan Kak
bernama Slamet Rahardjo itu bukan saja belah’ tidak lagi sempat memikirkan Paskibraka, Dharminto. Kini, setelah PGM tidak ada lagi dan
menjadi saksi sejarah Paskibraka sejak 1970, karena lebih memilih ’peduli’ pada nasib sendiri. hilang bersama sebagian besar dokumen-
tapi ia juga menjadi orang yang menjaga setiap Dalam keadaan seperti itu, seorang Slamet dokumen Paskibraka, kita kembali mengalami
lembar dokumen Paskibraka dalam lemarinya Rahardjo pun tidak lagi bisa menentukan apa- musibah kehilangan ”ijazah”.
ketika Direktorat Pembinaan Generasi Muda kah isi lemarinya harus ikut diboyong ke tempat Bayangkanlah beberapa tahun lagi, ketika
masih berada di Jalan Merdeka Timur 14 yang baru sementara ia tetap tinggal di Dep- orangtua dan guru-guru kita benar-benar se-
Gambir, Jakarta. diknas. Atau, segerobak arsip —termasuk muanya telah pergi. Maka, sempurnalah kita,
Dari cerita yang saya terima, akhirnya ke- lembaran formulir biodata asli tulisan tangan Purna Paskibraka, akan menjadi ”yatim piatu
khawatiran saya seolah menemukan pem- anggota Paskibraka— itu harus dibawa pu- yang kehilangan orangtua dan guru, rumah
benaran. Persoalan birokrasi dengan dibo- lang ke rumahnya di Bekasi. Tapi untuk apa? dan sekolah serta ijazah”. Itu berarti, kita juga
yongnya Direktorat Kepemudaan dari Gedung Pada saat-saat kalut seperti itu, dia pun lupa akan kehilangan ”sejarah” karena kita memang
E Depdiknas ke Deputi II Kantor Menpora telah untuk menitipkan dokumen-dokumen berseja- tak pernah mau menjaganya.
memberi dampak yang amat besar dan rah pada Purna Paskibraka. Pengurus PPI — (Syaiful Azram)
menakutkan bagi saya. Bukan saja dalam
masalah pembinaan Paskibraka, tapi juga
dengan dokumen-dokumen sejarah Paski- Wajah Kak Slamet atau Mas Slamet sudah teramat
braka. akrab di kepala setiap Purna Paskibraka, terutama
*** kumisnya yang tebal. Sejak tahun 1970, saat usianya

D
ulu, ketika masih di Gambir, Ditbinmud masih 20 tahun, ia sudah menjadi satu bagian dalam
(kita masih saja menyebutnya dengan latihan Paskibraka. Meski tidak secara detail, ia masih
PGM sampai sekarang) menjadi bisa menceritakan bagaimana perjalanan Paskibraka
’Rumah Paskibraka’ yang begitu sejuk dan sejak awal tahun 70-an, ketika masih dibina langsung
nyaman. Setiap Purna Paskibraka datang dari oleh Kak Mutahar sampai dilimpahkan kepada Kak Idik
daerah tidak pernah lupa singgah. Purna yang Sulaeman. Dia pun masih terus bertahan di Direktorat
sudah berada di Jakarta sekalipun, selalu Pembinaan Generasi Muda ketika Direktur-nya datang
berhenti atau membelokkan kendaraannya, dan pergi silih berganti. Tetap di tempat yang sama:
sekadar untuk temu kangen dengan mantan sebagai staf Sub Direktorat Pembinaan Latihan
pembinanya. Kepemudaan (PLK).
Di ’rumah’ itu, yang dibutuhkan Purna Pas- Kini, setelah memutuskan mengambil masa pensiun
kibraka selalu tersedia: foto-foto ketika latihan, pada tahun 2005, Kak Slamet menghabiskan waktunya
data diri atau alamat teman-teman seangkatan di rumahnya, Perumnas 3 Bekasi Timur. ”Selalu ada
dan arsip apa saja tentang latihan Paskibraka. kerinduan kepada Paskibraka. Saya nggak bakal bosan ngobrol seharian dengan Paskibraka
Atau, beberapa kali, pernah ada Purna Paski- yang datang ke rumah, karena dengan begitu saya bisa bernostalgia. Inilah kehidupan yang
braka yang datang untuk meminta salinan bisa saya nikmati di masa tua seorang pensiunan. Mudah-mudahan kalian semua masih ingat
sertifikat ’Latihan Kepemudaan/Paskibraka’ sama saya,” tuturnya.***
karena ingin mendaftar di Akademi Militer/

20 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Time Rally Menpora–Paskibraka ’78

T
ANGGAL 21-22 April 2007 yang lalu (Sabtu sampai Peserta rally sedang dilepas (paling
Minggu) Menpora bekerjasama dengan Paskibraka atas), sticker Paskibraka ’78 di helm
’78 dan sponsor-sponsor lainnya melaksanakan Time peserta motor (kanan) dan kaca
Rally yang melintasi tempat-tempat bersejarah dan Fasilitas belakang mobil (bawah).
Olahraga yang ada di DKI. (Foto2:Saras)
Tujuannya mengingatkan kembali bahwa kita mempunyai
sejarah yang memang harus diingat oleh generasi muda.
Selain itu, setelah mengetahui fasilitas olahraga yang ada di
DKI, peserta yang kebanyakan dari generasi muda diharapkan
dapat memanfaatkan tempat tersebut dan tentu saja hasil
akhirnya generasi muda yang lebih sehat.
Pertandingan yang sifatnya fun ini diikuti oleh 62 peserta
mobil (dapat berisi 4 peserta atau keluarga) dan 340 peserta
motor (sekalian safety riding) Cukup sigifikan jumlahnya. Ada
yang agak tidak biasa di dunia Rally atau balapan lainnya
yaitu karena penyelenggaraannya
pas tanggal 21 April, maka setiap
peserta (satu) orang dalam 1 mobil
diharuskan memakai baju Nasio-
nal. Juga, waktu pembukaan kita
dikhususkan untuk Pemula dan soalnya sangat mudah. Bagi
menyanyikan
yang belum pernah ikut, belajarnya memang di event seperti
l a g u
ini. Time Rally ini tidak banyak koq hadiahnya, totalnya cuma
Rp 17 juta, tapi yg cukup enak bagi penerimanya adalah hadiah
pertama peserta Rp 4,6 Juta dan hadiah paling apesnya (akhir)
1 juta. Belum lagi berbagai gimmick dari sponsor yang memang
Ibu Kar-
Saras banyak jumlahnya.
tini. Ya.... ini
melepas Tujuan paling akhir dari penyelenggaraan ini tentu saja
nggak biasa,
peserta adalah mengingatkan kembali bahwa Paskibraka ’78 masih
tapi namanya
rally eksis gitu lho! Impian akhir kita adalah menyelenggarakan
juga Paskibraka, yang beginian
Time Rally antar Provinsi pas tgl 17 Agustus. Dijamin pasti
perlu. Lucunya, banyak juga lho
rame pesertanya, kan hari libur. Daripada jalan-jalan di Mall
yang tidak hafal teksnya. Untung-
tiada akhir, mending ikut Time Rally trus ada hadiahnya
nya panitia telah menyiapkan teks
uangnya, wah mana tahaaaan. Ada yang ingin ikutan?....tunggu
lagu tersebut, alhasil, nyanyi ba-
berita selanjutnya di buletin in dan milis paskibraka_indo-
rengan kaya koor gitu, rame deh!
nesia@yahoo.com. n Saras
Time Rally kemarin memang

Edisi Juni 2007 21
Bulletin Paskibraka ’78

Berita Paskibraka 1978
Teman-teman Paskibraka ’78, yang berada di luar Jabodetabek. Di membuat buletin ini kembali muncul.
Buletin kali ini memang tidak ba- halaman data dan alamat ada nomor Namun, kebutuhan untuk membuat
nyak bicara tentang kegiatan Pagu- telepon dan HP kita semua, dan kali buletin ini tetap terbit bukan hanya soal
yuban Paskibraka 1978. Sejak perte- ini dimuat pula alamat e-mail dari be- bagaimana mengisinya. Ada hal lain
muan April 2007 lalu di rumah Tetty, berapa teman kita yang suka ke warnet yang perlu dipikirkan yakni biaya cetak
sampai saat ini belum ada pertemuan atau punya fasilitas internet di rumah dan pengiriman (untuk hard copy). Un-
lanjutan. Alasannya tetap saja klasik: atau kantor. tuk mereka yang punya e-mail, pengi-
sulit membuat rencana agar kami di Sebagian komunikasi yang terekam riman bisa dalam bentuk soft copy (for-
Jakarta bisa menyediakan waktu luang lewat e-mail coba dikutip-kutip sedikit, mat PDF) dan kalau mau punya hard
serentak dalam satu kesempatan. untuk menggambarkan apa yang ter- copy-nya bisa di-print sendiri.
Namun begitu, komunikasi antar kita jadi dan apa yang sedang dikerjakan Untuk itu, mohon saran teman-te-
masih terus berlangsung walaupun oleh mereka yang selalu sibuk itu. So- man bagaimana cara yang paling
tanpa tatap muka. Ada yang lewat te- alnya, sampai sekarang masih sulit enak agar buletin komunikasi ini bisa
lepon, SMS, atau e-mail. Sarana komu- meminta kalian-kalian untuk menulis terus hadir di tengah-tengah kita.
nikasi canggih itu dapat dimanfaatkan dan mengisi buletin ini. Untung saja, n Redaksi
tentunya, terutama untuk teman-teman masih ada penjaga gawang yang

Kutemukan Saudaraku T
IDAK sampai satu bulan dari kedatangan Zal yang
pertama, datang lagi sms dari Sonny memberi tahu
kalau Izziah sedang di Jakarta dan menunggui anaknya
(Kisah Budiharjo Winarno yang paling tidak
yang sakit DHF. Aku langsung sms si Izziah Poh Poh dan
pernah bertemu dengan Mahruzal dan Izziah) menanyakan kondisi kesehatan anaknya. Datanglah jawaban,
“Sudah mendingan kondisinya, Thx ya. Oh ya ini dari mana?

S
IANG itu sms dari Sonny masuk ke HP memberi informasi Nomornya baru? Koq saya gak punya sebelumnya”.
kalau Mahruzal sedang ada di Jakarta. Maka, di saat jam Ternyata Izziah tidak menyimpan nomor HP-ku, jadi kutelepon
isitrahat aku samber kesempatan untuk menelepon. saja langsung. Dia nyerocos menceritakan kondisi anaknya,
Bapak yang super sibuk itu menjawab, tapi suaranya tidak tapi mungkin baru sadar kalau dia belum bertanya siapa yang
jelas dan terputus-putus. menelepon.
Sorenya, ketika sedang mandi di rumah, HP-ku berbunyi Dia diam sebentar, lalu tanya, ”Eh Bapak ini siapa ya?” Aku
dan langsung diangkat istriku. Ternyata ada suara cowok yang menjawab, ”Ini Budi, Bu Izziah,” jawabku.
mencariku tapi langsung diputus saat istriku menjawab. ”Ooo, Pak Budi. Bagaimana kabarnya? Wah maaf Pak , belum
Setelah aku cek ternyata miss call itu dari Mahruzal. sempat beri kabar kalau anakku sakit....” ia nyerocos lagi bla
Aku telepon lagi dia dan terdengarlah suara temanku yang bla bla. Aku diam saja mendengar ocehannya. Setelah agak
hampir 29 tahun tidak bertemu. Zal tertawa setelah tahu kalau lama aku potong lagi, ”Emang Ibu ingat aku Budi yang mana?”
tadi yang mengangkat telepon adalah istriku. Lantaran yang ”Eh iya, ini Budi yang.....” lagi-lagi bla bla bla ia bicara nggak
menjawab perempuan, dia pikir salah sambung maka lang- jelas. Aku langsung menjelaskan, ”Bukan Bu... Ini Budi teman
sung diputus. Ibu yang sudah lamaaa sekali tidak ketemu.” Eh dia malah
Kami akhirnya ngobrol. Saat kutanya kabar kantor Zal menjawab ”Lho kok lama nggak ketemu, kenapa ya?”
menjawab, ”Aku sekarang tidak tugas di Sekretariat Bappeda Wah repot, lagi error nih, kataku dalam hati. ”Coba Ibu ingat-
lagi tapi jadi Kepala Bidang….” Belum selesai ia menyebutkan ingat. Kalau nggak salah dulu Ibu pernah jadi Paskibraka
jabatannya, langsung saja kupotong, ”Dari dulu, kamu itu ya,”pancingku. Langsung saja bicaranya berubah, ”Eeee... ini
memang sudah kepala bidang....” Budi siapa ya? Yang dari Jateng ya atau yang mana nih bingung
Zal terdiam sesaat, tapi kemudian terdengar tawanya aku,” jawabnya. Maka aku jawab, ”Budi dari Yogya Bu...”
berderai-derai. ”Sialan, lupa aku kalau kepalaku sudah bidang Meledaklah tawanya. Dengan logat Jawa Timur (Izziah dulu
dan sekarang tinggal rambut yang di belakang aja,” katanya kuliah di ITS Surabaya, Red ) yang masih kental ia ngomel,
—mungkin sambil mengelus-elus kepalanya. Maka tertawalah ”Sialan kamu! Apa kabar.....” dan bla bla bla hampir 5 menit
kami berdua, lalu saling tanya kabar masing-masing. nggak bisa diputus ia nyerocos lagi, tapi kali ini lumayan benar.
Karena kesibukan, aku tak sempat menghubungi Zal yang Kami ngobrol cukup lama, pakai bahasa Jawa dan Jawa
langsung balik ke Aceh. Tangal 9 Juni aku sms lagi Zal untuk Timuran campur Aceh, kayak gado-gado. Dia bilang kalau hari
menanyakan alamat rumahnya. Bulletin belum bisa dikirim Jumat-nya sudah pulang ke Aceh, tapi karena aku juga harus
karena alamat terakhirnya tak punya. Zal malah menelpon dan ke Yogya maka kami tidak sempat bertemu. Hanya sms-nya
memberitahu kalau sedang ada di Jakarta dan kalau mau saja yang datang dan yang penting anaknya sudah sehat.
ketemu sebaiknya hari Senin, sebelum pulang ke NAD Tapi 5 Juni 2007 dalam sms-nya dia sempat cerita kalau
Sayang, pada hari tersebut aku juga harus dinas ke Yogya habis opname 2 hari karena kecapekan dan ’ngejar setoran’,
maka kamitak sempat bertemu. Zal hanya titip salam untuk dan sudah sehat lagi. Dia mengaku jarang buka email karena
teman-teman semua, dan minta nomor rekening yang bisa sering keliling dari desa ke desa seantero NAD, tugas dari
diisi untuk kas Paguyuban Paskibraka 1978. ”Siapa tahu, kantor ADB yang ada di Aceh.
dengan menyumbang kas 78 rezekiku jadi berlebih,” katanya. Heboh banget memang. Nggak terbayang bagaimana nanti
Semoga saja Zal selalu dilimpahi rezeki yang buanyak...... kalau benar-benar bertemu langsung atau reuni... (Budi W)

22 Edisi Juni 2007
Bulletin Paskibraka ’78

Cuplikan E-mail Antar Paskibraka ’78
Helo Saras, dah sembuh kan?! Iziah Poh, ThanksYour Attn. ------------------------------------------------------
anakmu juga dah sembuh kan dari DBD? Regards, Hai Son,
Pantes jadi sepi nih jalur email. Apalagi, bu SJP Aq ada di Solo saat ini. aq mau wisata kuliner
Rita dan Ilham sedang di Kalimantan. ------------------------------------------------------ dulu soalnya dari kemarin kerjaanku cuma
Good Luck. Thanks Endang, Saras dan Zal Poh, ngejar2 makanan, mulai dariYogya, Magelang
Sonny Jwarson Parahiyanto (SJP) Walau acara kumpul 78 minggu 13 mei sampai Solo. Masa 3 hari aq libur di jawa sini,
------------------------------------------------------ dipostpond, tapi atensi kalian tinggi 3 kali juga pindah2 hotel di setiap kota itu,
Soni, sekalian. Sementara Endang sibuk di Yogya hanya ngejar makanan2 yg bukanya saja jam
Thanks alot ya son email nya.. Aku sudah dan Saras traveling dengan IMI nya, maka 1 pagi seperti Gudeg Ceker di Wiroyudan,
balik ke Aceh, anakku sudah keluar dari RS. Zal Poh sibuk MusRencBangNas di Jakarta dekat SMA 1 sebelah Timur nya Solo Balapan
Aku mohon maaf buanget buanget ya, hingga 6 Mei tapi susah ketemunya, karena (Stasiun), masya Allah, rasanya memang Mak
sudah lama nggak ikutan chatting. Maklum.. sibuk pada pokja yang dibidanginya. Tak apa, Nyus, abis itu minumnya di Susu Shi Jack,
sering ke deso2 yang nggak bisa access ke yang penting atensi masih ada. Thanks & STMJ yg paling OK, susunya fresh tenan,
internet. semoga sukses selalu. Amin wis pokoke Top Markotop deh.
Salam, Dadagh.
Mas Bhe Budi di Jogya, SJP Saras
Itu.. Mas Bhe.. thanks buanget ya for your ------------------------------------------------------ ------------------------------------------------------
call. Seneng banget bisa ngo- Khabar baik dan sehat dari Yogya di pasca Pagi Saras yang top markotop....
brol2 setelah bertahun2 nggak ngobrol. Kamu gempa... semoga demikian juga seluruh sobat Wah..wah..wah.... lha kok sombong kali ya...
ternyata masih kocak ya.. haha.. sampe2 aku dipenjuru tanah air... aich... aku sangat ke Yogya dan sekitarnya gak kabar kabur dan
lupa kalo aku sedang sedih ngeliat anak ku bersyukur punya saudara, sobat dan temen gak mampir.... lupa ya kalau punya temen di
yg sakit. Thanks ya Budi. kalian semua.. ternyata kita masih dipertemu- Yogya, padahal saat ada hari waisak aku dan
Aku emang berpikir siapa itu yah mas kan diusia senja ini ya... meskipun lewat kel nonton di Magelang sekaligus dolan-
bhe..eh ternyata dikau si Budi yang lucu sejak kabel... tapi semangat nya ternyata tak kan dolan... tapi berhubung gak tahu klo di RS Jiwa
dulu. pernah pudar.... aku salut banget .... aku ada acara yang di mandegani oleh dirimu ya...
thanks and regards, berdoa dan berusaha untuk dapat jumpa gak nonton dech....
izziah darat... kangen... kangen... dan kangen.... Wah seneng ya.... punya kegiatan yang
------------------------------------------------------ ok, tak tunggu kabar selanjutnya.... jangan asyik..... dan dari kota ke kota......
Helo Pas 78, bosan kirim-kirim kabar dan foto.... untuk Okey.... lain kali kalau pas ada acara di Jogja
Bisakah saudara sekalian kumpul kembali bernostalgia dan meremind wajah-wajah .... kabar kabar ya..... see you,
pada hari Minggu 13 Mei 2007 di rumah Tetty cantik dan ganteng di tahun 78 dan tentunya salam,
lagi dari jam 09.00 hingga 15.00 (sekalian tambah berwibawa dan elegan pada usia endang rahayu
makan siang) diatas 45 th... ha ha ha.. Oh ya , kayaknya ------------------------------------------------------
dengan agenda ngelanjutin hasil pertemuan temen kita udah ada yang “Mantu “ lho... aku Ndang, Poh, Son, Rit, Tet, Bud,Yad, etc,
lalu dan action yang telah udah pernah di telp si “ LOMBOK “ katanya Aq bukannya sombong, kategoriku baru
dilakukan? mau ngundang saat mantu, tapi kok ditunggu- sedikit sombong (belum banyak sombong-
Mohon respon saudara sekalian di-email tunggu undangan gak nongol.... wah berarti nya) he...he...tapi tenan, kemarin aq seperti
ini atau via sma.Thanks your attn & your joint. udah ada yang punya cucu ya.... ayo siapa?? dikejar-kejar setan, kerjaanku ngejar-ngejar
Salam, wah... asyyyiiiikkkk juga Wakil Dekan Satu di MM UGM, mau ketemu
SJP ya kita reuni bawa Cucu.... Ok, Saras dan dia koq kaya ketemu kanjeng Sultan.....
------------------------------------------------------ sobat.... semangat dan energimu... Luuu- Sussyaaaaah banget, sampai stresss deeh
Dear Sony and teman-teman Pas’78, aaaaaarrrrrr biiiiiaaassaaaaa..... ah...Tau susah begitu, mending ketemu kamu
Kayaknya yg nyambut ajakanmu utk Salam sayang dan kangen untuk seluruh Ndang ya!
ketemuan cuma beberapa saja. Kalau keluarga.... Untuk ngilangin stress, aku cari makan,
gitu Son, aku juga mau diem dulu ya... endang rahayu kebetulan aku anggota milis jalansutra nya
All the best, ------------------------------------------------------ Bondan Winarno Mak Nyus, jadi... hemmm
Saras Salam PASKIBRAKA 78... tau sendiri, teman2 di milis nawarin apapun,
------------------------------------------------------ Maaf temans , beberapa email yang ke aku harus ada pembuktian, makanya aku berburu
Wah... Saras marah... bahaya nih !!!! bisa belum kerespon.... maklum baru tidak ditempat makanan mulai Dari Solo, Angkringannya Pak
sepi milis-nya. Sorry aq baru bisa baca and beberapa hari, yach namanya buruh itu harus Kemin, Timlo Solo di Pasar Besat etc etc, di
bales, lagi agak sering keluar kota nih. nurut ama juragan ha...ha...ha..... Magelang sampai Boyolali dan tentu saja
Sonny, laptop q punya kantor gak bisa Wah seru sekali ya jika bisa ngumpul.... tapi Yogya.
ngapa2in, gak bisa di tag, di friendster dll, dsb, soorryyyy banget nich, untuk kumpul kumpul Kenyang? Nggak juga tuh. Aq nggak tau,
hanya untuk kerjaan.... firewall nya tebel en se angkatan 78 di Jakarta kali ini aku belum apa perut ini sudah demikian melarnya sampai
berlapis2. Jadi bukan gak mau ya... dapat gabung... masih agak kesulitan waktu- makanan masuk semua namun tidak terasa
Kalo untuk kumpul2, sy mungkin baru bisa nya..... sedangkan di Yogya sekarang juga kenyang, mungkin juga syaraf-syaraf di perut
ikutan setelah bulan Mei, jadi seka-rang sy baru giat-giatnya pertemuan, besuk jum’at per- sudah pada kendor...... (yaah maklum deh, 2
absen dulu ya... kerjaan lg agak ribet nih. Buat temuan 20 orang di rumahku.... apa teman- pala dah pernah lewat kan...!!) Kebetulan juga,
semua selamat bekerja dan selalu sehat ya. teman mau gabung juga... sesekali donk ke kemarin aku dapat supir yang mengerti isi
Salam, Yogya.... perutku, supirnya orang asli Solo yg gila
Arita Saat ini Jogja udah mulai seleksi Paskibraka makan, jadi pas deh.
------------------------------------------------------ tingkat Kotamadya dan Kabupaten lho... Bulan Juli pertengahan aq akan ke Yogya
Maklum kok neng Rita, namanya aja bagaimana dengan di situ... wah .. pasti juga lagi, pasti aq akan mencarimu kembali Ndang.
paguyuban (organisasi sosial). musti TAKE udah seru ya.... Kalau alamat lupa, aku akan tanya 108 saja
TIME, he he he he, saya juga ada komunitas Okey dech, lain waktu aku gabung ya... ya?
lain dan biasanya banyak ngelus dada dan salam, All the best,
sabar serta jiwa besar... endang rahayu Saras

Edisi Juni 2007 23
Bulletin Paskibraka ’78

Rahmawaty Siddik (Kaltim): Jl. Maduningrat Gg Family RT XX No. 39
Mereka yang Ditemukan Kampung Melayu, Tenggarong.
Nunung Restuwanti (Kalsel): Jl. Kampung Baru RT XV/74 Murung Pudak,
Mahruzal MY (Aceh): Jl. Sultan Alaidin Johansyah No.5 (Wartel Singgah Tabalong 71571. Telp. 0516-21275.
Mata), Desa Neusu Aceh, Kec. Baiturrahman, Banda Aceh. HP. 0811167533– Redhany Gaffurie (Kalsel): Jl. Sutoyo Siswomiharjo, Gg.20 Komplek
0811683848. Purnasakti Jalur U/8 RT 40 Banjarmasin 70245.
Izziah (Aceh): Jl. Jend. Sudirman 41A, Geuceu Iniem, Banda Aceh. HP. M. Ilham Radjoeni Rauf (Sultra): Jalan Sedap Malam No. 31, Taman
08126988678. Yasmin Bogor 16310. Telp. 0251-315534. HP.081310559578.
Syaiful Azram (Sumut): Pondok Tirta Mandala Blok E4 No. 1, Depok 16415. Halidja Husein (Maluku): Kompleks Ditjen Perla Blok B/14 Kramat Jaya,
Telp. 021-8741953. HP. 08161834318. Jakarta 10560. Telp. 021-4415269. HP. 08161645571.
Aida Sumarni Batubara (Sumut): Jl. Halat Ujung Gg. Kelinci No. 1 Medan Johny Ronsumbe (Irja): Kompleks SD Inpres Komba. PO BOX 292 Sentani
20127. Telp. 061-712047. Jayapura.
Masril Syarif (Sumbar): Jl. Rambutan No. 282 RW VII RT 1 Padang Besi Welly Tigtigweria (Irja): d/a Rindam 7 Trikora, Ifar Gunung, Jayapura.
(Indarung), Kota Padang.Telp.0751-202842.
Azmiyati Aziz (Sumbar): Jl. Kancil III/Toleransi No.67 Palu. Telp. 0451-
21928. Mereka Harus Dicari...
(Alm) Auzar Hasfat (Riau): Jl. Tasykurun 44 Pekanbaru.
Suhartini (Riau): Jl. Pembangunan 2 Selat Panjang,
Muhammad Iqbal (Jambi): Jalan Kapodang 8 No.132 Kotabaru, Jambi. Ellyawaty Hasanah (Jambi): Jl. Merdeka 43 Kuala Tungkal.
Telp. 0741-42636. HP. 08127860498.
Nilawati (Sumsel): Jl. Yos Sudarso, RT V No. 5, Telaga Jawa,
Sambusir (Sumsel): Bumi Satria Kencana, Jl. Saddewa Raya Blok 43 No.6/ Lubuk Linggau.
29, Bekasi 17144. Telp. 021-8845215. HP.08568586045. Iskandar Rama (Bengkulu): Jl. MH. Thamrin 32 Curup.
Tatiana Shinta Insamodra (Lampung): Jl. Mesjid No. 88 Kemang, RT 01/ Ernawati (Bengkulu): Jl.Dwi Tunggal 30 Curup.
07, Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi 17411. Telp. 021-8464430. HP. Akrom Faisal (Lampung): Kampung Baru, Tanj. Karang
085691909089.
Salamah Wahyu (Jateng): ---------
Amir Mansur (Jakarta): Jalan S. Brantas RT 07/01 No. 235 Cilincing, Mahzur (NTB): --------
Jakarta Utara 14130. Telp. 021-4407865. HP. 08159073987.
Wendalinus Nahak (NTT): Jl. Yos Sudarso 9/7 Atambua.
Saraswati (Jakarta): PT Nugra Santana, Wisma Nugra Santana Lt.3 J. Trice De Bora Bria (NTT): Kp. Tanah Merah, Atambua.
Jendral Sudirman Kav.7–8 Jakarta 10220. Telp. (K) 021-5704893/5/7, Fax.
Frederick Bid Lie Pang (Kaltim): Asrama Don Bosco, Jl. Sudirman
021-5702040. HP. 0811997659.
59 Samarinda.
Yadi Mulyadi (Jabar): Jalan Raya Warung Jaud No.14 RT 03 RW XI Kaligandu Daniel Pakasi (Sulut): Jl. KS Tubun 6 Manado.
Selatan, Serang 42151. Telp.0254-208301. HP.08129078369. Deetje Saroinsong (Sulut): Jl. Dua Mei Teling, Manado.
Arita Patriana Sudradjat (Jabar): Jl. Mandar XIV Blok DD3 No.1, Bintaro Sinyo Mokodompit (Sulteng): Jl. Panasakan Dalam 179 Toli-toli.
Jaya Sektor 3A, Tangerang 15225. Telp. 021-7359763. HP. 0816933910.
Diyah Palupi (Sulteng): Mess Bayangkara No.2 Toli-toli.
Budihardjo Winarno (Yogya): Gema Pesona Blok AM/7 Depok 16412. Sri Diana Saptawati (Sultra): Komp. Sukaraja I WPA E5 Lanud
Telp. 021-77822421. HP. 0818866130. Husein Sastranegara, Bandung.
Endang Rahayu Tapan (Yogya): Jl. Jlagran No. 115 Yogyakarta. Telp. 0274- Ridwan (Sulsel): Jl. Andi Mallombasang, Sungguminasa.
583063. Hafsah Dahlan (Sulsel): Jl. Baji Minasa 17H Janeponto.
Budi Saddewo (Jateng): Jl. Pangandaran Raya 53, Bumi Bekasi Baru 1 Patty Nehemia (Maluku): Kudamati SK 29 No.40 Ambon.
Utara, Bekasi 17115. Telp. 021-8217863. HP.08127116960.
Sonny Jwarson (Jatim): Pondok Surya Mandala Blok G1 No.14 Jakamulya,
Bekasi 17146. Telp. 021-8213430. HP.0818416650. Pembina & Danpas
Rahmaniyah Yusuf (Jateng): Jalan Sri Rejeki II No.17 Semarang 51040.
Idik Sulaeman : Jalan Budaya (Kemanggisan Ilir 5B) No.2 Jakarta
Telp. 024-607724.
Barat 11480. Telp. 021-5480217. HP. 08161413465.
I Gde Amithaba (Bali): Jalan Palem Hijau 3 No.19, Taman Beverly Lippo Dharminto Surapati : Jl. Bandengan Utara I No.11 RT05/11 Jakarta
Cikarang 17550. Telp.021-89908203. HP. 0816972827. Barat 11240. Telp. 021-6917588. HP. 08129508801
Oka Saraswati (Bali):Jl.Seruni No.4C, Denpasar. Telp. 0361-226130. Slamet Rahardjo : Jl. Pulau Belitung 3/99, Perumnas III, Bumi Setia
Maskayangan (NTB): Jl. Panji Tilar Negara 118 Mataram. Telp. 0370-634343. Mekar, Bekasi Timur 17111. Telp. 021-8814475. HP.081310090903
HP. 0817367185. Marsda (Purn) Sutrisno: Bukit Kencana 3, Blok AV 8 Jati Rahayu,
Syarbaini (Kalbar): Jl. Kom. Laut Yos Sudarso, Perumnas II Gg Matan II Pondok Gede, Bekasi 17414. Telp. 021-84993658. HP.
No.18, RT 03/XXXIII Pontianak 78113. Telp.0561-770270. 08129901973.
Chelly Urai Sri Ranau (Kalbar): Antilop Maju Jatibening I, Jl. Merapi 116, Mayjen TNI Albert Inkiriwang : Jl. Mesjid I/8 Pejompongan,
Bekasi 17412. Telp. 021-8471948. HP. 08561068417. Jakarta Pusat 10210. Telp. 021-5706340.
Fridhany (Kalteng): Jl. HM Arsyad XXXVI Blok D No.7 Sampit. Telp. 0351- Brigjen (Pol) Drs. Jusuf Mucharam : Telp. 021-7250878. HP.
22256. 0811111066.
Brigjen (Pol) Drs. Adrian Daniel : (R) Telp. 0736-21591. (K)
Herdeman (Kalteng): Jl. Ci Bangas Gang Berdikari No.1 Palangkaraya 73111.
Kapolda Bengkulu 0736-51041 dan 52087.

Paguyuban Paskibraka 1978 Alamat e-Mail Paskibraka 1978:
Izziah Hasan > izzihasan@yahoo.com atau ihasan@adb.org
Ketua (Lurah) : Yadi Mulyadi (Jabar) Sonny Jwarson > jwarson05@yahoo.com
Chelly Urai Sri Ranau (Kalbar) Tatiana Insamodra > cantikmanis@cbn.net.id
Sekretaris : Syaiful Azram (Sumut) Saraswati > degas@indosat.net.id
Saraswati (DKI Jakarta) Arita Sudradjat > arita_sudradjat@bat.com
Bendahara : Arita Patriana Sudradjat (Jabar) Yadi Mulyadi > janger@cbn.net.id
Budi Saddewo Sudiro (Jateng) Budhi Saddewo > budhi.s.s@wika.co.id
Budihardjo Winarno > muztbhe_depok@yahoo.com
Bala Paskibraka 1978 di Jadebotabek: Ilham Rauf > egin95@yahoo.co.id
l Sonny Jwarson Parahiyanto (Jatim) l Tatiana Shinta Insamodra Endang Rahayu > endang.rahayu@bniaga.co.id
(Lampung) l Amir Mansur (Jakarta) l I Gde Amithaba (Bali) l Marsda Sutrisno > septia_20des@yahoo.com
Sambusir (Sumsel) l Halidja Husein (Maluku) l M. Ilham Radjoeni
Rauf (Sultra) l Mailist: paskibraka_indonesia@yahoo.com

24 Edisi Juni 2007