Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH SEMINAR ORTODONTI KLASIFIKASI SIMON, SKELETAL, INSISIF, ACKERMAN-PROFFIT, WHO/FDI, BERDASARKAN ETIOLOGI MALOKLUSI DAN INDEKS PRIORITAS

PERAWATAN

Q. Klasifikasi Simon Pada klasifikasi Simon, lengkung gigi berkaitan dengan 3 bidang antropologi (Bidang Sagital, Bidang Frankfort, Bidang Orbital). Karena maloklusi adalah permasalahan tiga dimensi, Simon menyarankan metode klasifikasi berorientasi kepada tiga arah yang berbeda.

Sumber

Orthodontics Prep Manual for Undergraduates

Ini merupakan klasifikasi Craniometric.

Pengarang Halaman Pembimbing

: : :

Sridhar Premkumar 128-136 1. Isnaniah M, Drg., Sp.Ort(K) 2. Julvan GM Nainggolan, drg.

Bidang yang digunakan 1. Frankfort Horizontal Plane atau Eye-Ear-Plane (EEP) Bidang ini diperoleh dengan bawah menggambar garis melalui margin atas meatus

orbita inferior di auditorius.

batas bola

mata dan margin

Seminaris

1. Musfirah A. Aziz

(160112100025)

2. Faisal Kuswandani (160112100026) 3. Veramytha Hari/Tanggal : Waktu : 7.30 8.30 WIB (160112100027)

Bidang ini membantu untuk mendeteksi deviasi dalam bidang vertikal. Ketinggian lengkung gigi dan gigi berhubungan dengan cranium Lengkung gigi yang lebih dekat ke bidang disebut atraksi dan yang jauh dari bidang disebut abstraksi.

Rabu / 1 Februari 2012

2. Bidang Orbital / Orbital Plane (O-P) UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2012 Bidang ini diperoleh dengan menggambar garis tegak lurus terhadap Frankfort horizontal plane pada margin dari tulang orbita di bawah pupil. Bidang ini membantu untuk mendeteksi deviasi dalam bidang sagital. Hubungan anteroposterior dari lengkung gigi dan berhubungan dengan cranium. Lengkung gigi yang berada lebih anterior disebut (protraksi) dan lengkung gigi yang ditempatkan lebih posterior disebut (retraksi). inklinasi aksial gigi

3. Raphe Median Plane (R-M-P) atau Mid-Sagital Plane Bidang ini diperoleh dengan menggambar garis melalui raphae di sudut kanan bidang Frankfort. Bidang ini membantu untuk mendeteksi deviasi dalam bidang tranversal Hubungan mediolateral dari lengkung gigi dan inklinasi terkait dengan garis tengah kepala. Lengkung gigi yang lebih dekat dengan bidang mid-sagital disebut kontraksi dan jauh dari bidang mid-sagital disebut distraksi aksial gigi mid-palatal

Q. Klasifikasi Skeletal Klasifikasi Skeletal mempertimbangkan pola skeletal fasial dan juga hubungan gigi geligi.

Skeletal kelas I Tulang muka, maksila, dan mandibula berada dalam relasi normal. Maksila dan mandibula juga berada dalam relasi normal terhadap cranium. Profil ortognatik : Divisi 1 : malposisi insisif, kaninus, atau premolar

Hukum Kaninus Menurut Simon, dalam hubungan lengkung normal, bidang orbital melewati aspek distal kaninus. Hal ini disebut hukum kaninus. Interpretasi maloklusi klasifikasi simon digambarkan pada tabel 6.2 Tabel 6.2 Interpretasi : Klasifikasi Simon Bidang Frankfort Horizontal Plane (bidang vertikal ) Bidang orbital (bidang sagital) Kondisi Atraksi Abstraksi Protraksi Keterangan Lengkung gigi lebih dekat ke bidang Frankfort Lengkung gigi lebih jauh ke bidang frankfort Lengkung gigi lebih anterior Lengkung gigi lebih posterior Lengkung gigi lebih dekat ke bidang midsagital Lengkung gigi lebih jauh ke bidang mid-sagital 1

Divisi 2

: proklinasi insisif maksila

Divisi 3 : linguoversi insisif maksila Divisi 4 : protrusif bimaksila

Skeletal Kelas II Pertumbuhan mandibula kurang berkembang bila dibandingkan dengan maksila Relasi mandibula lebih ke posterior dari maksila Divisi 1 : Protrusif gigi anterior maksila Lengkung maksila sempit Crowding di regio kaninus Crossbite posterior Profil retrognati Divisi 2 : Insisif sentral maksila retroklinasi Insisif lateral normal atau lebih ke labial

Retraksi Bidang mid-sagital (bidang transversal) Kontraksi

Distraksi

Skeletal kelas III Pertumbuhan mandibula berlebihan Profil prognati Sudut mandibula meningkat

Divisi 2 : Insisif sentral rahang atas retroklinasi. Biasanya overjet minimal, tetapi mungkin terdapat penambahan overjet.

Kelas III. Tepi insisif rahang bawah terletak lebih anterior terhadap tonjolan cingulum insisif rahang atas. Overjet berkurang atau terbalik.

Q. Klasifikasi Insisif/ British Standard Classification of Incisors Relationship Klasifikasi ini digunakan tanpa mempertimbangkan relasi molar pada beberapa kasus (Gambar 6.10) Klasifikasi insisif rentan terhadap kesalahan antar-pengamat Q. Klasifikasi Ackerman Proffit Ackerman dan Proffit memperkenalkan metode klasifikasi yang baru untk mengatasi kekurangan dari klasifikasi Angle yang tradisional. Klasifikasi ini merupakan metode inklusif untuk mengelompokkan maloklusi. Sistem klasifikasi ini juga memasukkan klasifikasi Angle dan lima karakteristik maloklusi di dalam diagram Venn. Kesejajaran dan kesimetrisan gigi dalam lengkung gigi merepresentasikan sebagai universe atau lingkaran luar (Kelompok 1), karena hal tersebut bersifat umum bagi keseluruhan pertumbuhan gigi.
Gambar 6.10. (A) Relasi insisif kelas I, (B) Relasi insisif kelas II divisi 1, (C) Relasi insisif kelas II divisi 2, dan (D) Relasi insisif kelas III.

(interexaminer errors)

Kemudian, profil pasien merupakan lingkaran besar (kelompok 2) di dalam universe.

Transversal, sagital (antero-posterior), dan vertikal ditampilkan sebagai penyimpangan (deviasi) dari normal dengan hubungannya sebagai sublingkaran yang saling bertautan (kelompok 3 dan kelompok 9) di dalam lingkaran profil.

Kelas I. Tepi insisif rahang bawah beroklusi atau berada tepat di bawah cingulum insisif sentral rahang atas.

Kelas II. Tepi insisif rahang bawah terletak lebih posterior dari tonjolan cingulum insisif rahang atas. Divisi 1 : Insisif sentral rahang atas proklinasi atau memiliki inklinasi di atas rata-rata. Terdapat overjet yang besar. 2

Pada klasifikasi ini, adanya maloklusi dapat digambarkan dengan 5 karakteristik atau kurang.

Prosedur (Gambar 6.11) Kelompok 1 (Kesejajaran dan kesimetrisan antar-lengkung gigi) Setelah analisis kesejajaran dan kesimetrisan selesai dilakukan,

Kelompok 4 (Kelas) Terdiri atas analisis hubungan sagital/antero-posterior. Menggunakan klasifikasi Angle. Tentukan perbedaan maloklusi dental dan skeletal.

ketidakteraturan masing-masing gigi dapat digambarkan. Pada tahap ini, maloklusi yang dapat ditemui antara lain keadaan crowding, rotasi, spacing, dan mutilated. Jika tidak ditemukan abnormalitas, maka dapat disebut ideal. Oleh karena derajat kesejajaran dan kesimetrisan bersifat umum dalam pertumbuhan gigi-geligi maka direpresentasikan sebagai kelompok 1.

Kelompok 5 (Kedalaman gigitan) Pertumbuhan gigi geligi dan skeletal pasien dianalisa terhadap masalah-masalah dalam dimensi vertikal. Deviasi (penyimpangan) dalam arah vertikal Open bite open bite anterior, open bite posterior, skeletal, dental. Deep bite dental, skeletal. Collapsed bite posterior. Kelompok yang saling bertautan/tumpang-tindih terlihat pada pusat diagram Venn. Kelompok 9 merupakan bentuk maloklusi yang paling parah yang terdiri atas berbagai kelainan dari ketiga dimensi.

Kelompok 2 (Profil) Melanjutkan di dalam diagram Venn, pelajari profil pasien. Kemungkinan dari profil wajah pasien yang bisa ditemui antara lain lurus, konveks (cekung), dan konkaf (cembung) serta perbadaan anterior atau posterior.

Kelompok 3 (Tipe) Analisis karakteristik dalam lengkung lateral atau transversal. Istilah tipe digunakan untuk menggambarkan jenis gigitan bersilang (crossbites). Tipe Crossbite o o o o Bukal unilateral, bilateral Palatal unilateral, bilateral Dental Skeletal 3


Kelompok 4 Deviasi sagital (A-P) Kelas I ANT Kelas II Perpindahan Kelas III Divisi I Dental Divisi II Skeletal

Profil pasien digambarkan melalui pertimbangan-pertimbangan. Terdapat perbedaan antara kelainan dental dan skeletal. Kelainan panjang lengkung dievaluasi. Klasifikasi ini membantu dalam melengkapi diagnosis dan menentukan rencana perawatan.

Kelompok 3 Kelompok 6 Bukal Deviasi transversal Trans-sagital Palatal (lateral) Kesejajaran Unilateral Tipe Bilateral Profil Dental Kelompok 9 Skeletal Kelas Kesejajaran Trans-sagitoProfil vertikal Kelompok 7 Tipe Kesejajaran Kelompok 8 Kesejajaran SagitoProfil Profil VertikoVertical Kelas Tipe KelasKesejajaran transversal Kesejajaran Kedalaman Profil Gigitan Profil Kelas Konveks Tipe Kedalaman Lurus Kedalaman gigitan gigitan Kelompok 2 Konkaf Kelompok 5 Profil Perbedaan Deviasi-vertikal kesejajaran Anterior Open bite perbedaan Anterior,posterior Posterior Deep bite Anterior Kolaps Posterior Kelompok 1 Gambar 6.11 Sistem klasifikasi Ackerman - Proffit Ideal Dental Skeletal Kesejajaran dan Crowding kesimetrisan Spacing Kesejajaran Antar lengkug kedalaman gigitan profil kesejajaran

Mudah diadaptasi untuk pemprosesan komputer.

Kekurangan Pertimbangan etiologis tidak termasuk dalam klasifikasi ini. Klasifikasi hanya berdasarkan oklusi statik dan tidak termasuk oklusi fungsional.

Q. Klasifikasi WHO/FDI Klasifikasi ini terdiri dari pencatatan lima kelompok utama. Kelompok Kelompok 1 : Kelainan yang besar/mencolok seperti abnormalitas dentofasial. 2 : Malposisi masing-masing gigi seperti anodonsia, gigi supernumerer, malformasi gigi insisif, dan erupsi ektopik dari gigi. Kelompok 3 : Kelainan panjang lengkung gigi seperti spacing, crowding, dan diastem. Kelompok 4 : Evaluasi dari oklusi. a. Segmen Insisal: Overjet Deep bite Pergeseran midline 4

Kelebihan dari Klasifikasi Ackerman-Proffit Kompleksitas dari maloklusi dijelaskan. Meliputi seluruh permasalahan dari ketiga bidang atau dimensi.

Crossbite Open bite Relasi anterior posterior Crossbite posterior Open bite

3. Dental (kelainan pada gigi dan jaringan pendukungnya) a. Malposisi gigi b. Anomali dalam ukuran dan bentuk gigi

b. Segmen Lateral:

Q. Indeks Prioritas Perawatan (Treatment Priority Index)/ Skor TPI TPI diperkenalkan pada tahun 1967 oleh Grainger. TPI merupakan metode untuk mengevaluasi tingkat keparahan maloklusi. Pasien dinilai/diurutkan berdasarkan tingkat keparahan maloklusi. Pengukuran dibuat secara klinis atau berdasarkan model studi. TPI merupakan indikator epidemiologis yang valid dari maloklusi (Tabel 6.3)

Kelompok 5: Penilaian subjektif dari perawatan ortodontik Tidak dibutuhkan Dibutuhkan Diragukan Penting/mendesak

Q. Klasifikasi berdasarkan etiologi maloklusi Klasifikasi ini dibuat berdasarkan jaringan yang terutama terlibat. 1. Osseus (kelainan pada pertumbuhan tulang) a. Maloklusi skeletal b. Deformitas dentofasial 2. Muskular (kelainan pada fungsi otot-otot dentofasial) a. Kebiasan menghisap b. Penyimpangan fungsional c. Mendorong lidah d. Bernafas melalui mulut e. Penutupan mandibula yang abnormal

Tabel 6.3 Skor TPI Skor 0 13 46 >6 Mendekati oklusi ideal Maloklusi ringan Maloklusi sedang Parah atau sangat parah

Prasyarat untuk menentukan handicap ortodontik 1. Estetika wajah yang tidak dapat diterima 2. Penurunan yang drastis dalam fungsi pengunyahan 3. Permasalahan dalam bicara 4. Oklusi yang tidak stabil 5. Trauma oklusal yang memicu kerusakan jaringan 6. Defek yang besar/menonjol 5

Kriteria yang digunakan untuk pengukuran maloklusi 1. Overjet segmen anterior rahang atas 2. Overjet segmen anterior rahang bawah 3. Overbite anterior rahang atas terhadap anterior rahang bawah 4. Open bite anterior 5. Ketiadaan insisif secara kongenital 6. Relasi distal molar 7. Relasi mesial molar 8. Crossbite posterior (bukal gigi rahang atas terhadap normal) 9. Crossbite posterior (lingual gigi rahang atas terhadap normal) 10. Perpindahan gigi 11. Kelainan yang besar/menonjol

4. Nilai TPI yang dicatat pada pertumbuhan gigi transisional tidak dapat memprediksikan keparahan maloklusi di masa depan. 5. TPI hanya mencatat dari segi oklusal

POINT TAMBAHAN Imbrikasi menggambarkan (khususnya) gigi insisif rahang bawah yang tersusun secara tidak teratur dalam lengkung gigi akibat kurangnya ruangan.

Klasifikasi Utama Deformitas dari komponen tulang di daerah kepala secara umum yang mempengaruhi oklusi gigi anomali cephalic. Deformitas dari gigi, lengkung gigi, tulang alveolar, rahang anomali dysgnathic. Anomali dari gigi saja anomali eugnathic.

Grainger menetapkan tujuh sindrom maloklusi, yaitu: 1. Sindrom ekspansi rahang atas 2. Overbite 3. Retrognati 4. Open bite 5. Prognati 6. Sindrom collapse rahang atas 7. Ketiadaan gigi insisif secara kongenital

Klasifikasi berdasarkan postur tubuh (Kretschmer) Pasien yang tinggi-kurus dengan bahu yang sempit, tangan dan lengan yang ramping, berwajah tinggi dan sempit, mandibula kurang berkembang asthenic. Pasien yang pendek, dengan leher yang pendek, berwajah lebar pyknic. Pasien dengan otot-otot yang kuat, bahu lebar, mandibula persegi dan berkembang penuh athletic.

Kekurangan 1. Tidak adekuat untuk menilai oklusi gigi sulung 2. Tidak adekuat untuk menilai oklusi mixed-dentition 3. TPI tidak memasukkan analisis gigi mixed-dentition 6

Arti maloklusi kelas IV Kelas II pada satu sisi dan kelas III pada sisi yang lain.

Insidensi maloklusi Kelas I 60% Kelas II 25% Kelas III 5% Crowding merupakan tipe maloklusi yang paling sering terjadi. Kunci oklusi: Gigi molar pertama rahang atas dianggap sebagai kunci oklusi. Key ridge: adalah titik paling inferior dari batas anterior zygoma seperti yang tampak pada cephalogram. Normalnya, akar mesiobukal dari gigi molar pertama rahang atas berada pada satu garis dengan key ridge.

Crowding pada mixed-dentition Crowding tingkat pertama : Ketidaksejajaran ringan dari gigi anterior. Tidak terdapat abnormalitas pada jaringan pendukung. Crowding tingkat kedua : Ketidaksejajaran yang lebih menonjol dari gigi anterior. Tidak terdapat abnormalitas pada jaringan pendukung. Crowding tingkat ketiga : Ketidaksejajaran yang parah dari keempat gigi insisif. Terdapat abnormalitas terbatas pada jaringan pendukung. Hukum caninus diajukan oleh Paul Simon. Transposisi berarti dua gigi yang posisinya saling berubah. Relasi molar kelas II pada satu sisi dan Kelas I pada sisi lainnya disebut subdivisi kelas II. Relasi molar kelas III pada satu sisi dan kelas I pada sisi lainnya disebut subdivisi kelas III. Diagram Venn digunakan dalam klasifikasi yang dibuat oleh AckermanProffit. Deviasi transversal oklusal Gambar 6.12

Klasifikasi Bennet Kelas I maloklusi akibat penyebab-penyebab lokal Kelas II maloklusi akibat defek yang berkembang pada lengkung gigi Kelas III maloklusi akibat relasi abnormal pada kedua lengkung gigi

Gambar 6.12 Deviasi transversal oklusal