Anda di halaman 1dari 9

ACARA IV Penetapan Mr Zat Berdasarkan Penurunan Titik Beku

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum 2. Hari, Tanggal Praktikum Rabu, 8 November 2010 3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar , Lantai III Fakultas MIPA Universitas Mataram. : : Menentukan Mr suatu zat berdasarkan penurunan titik beku larutan.

B. LANDASAN TEORI Titik beku suatu larutan adalah temperatur dimana fase padat dan cair ada dalam kesetimbangan. Jika kesetimbangan semacam itu. Di ganggu dengan menambahkan atau menarik energi panas. Sistem akan berubah dengan membentuk lebih banyak zat cair. Perubahan wujud zat ditentukan oleh suhu dan tekanan. Contoh air dalam tekanan 1 atm mempunyai titik didih 100 oC dan titik beku 0oC. Jika dalam airmengandung zat terlarut yang sukar menguap (misalnya gula). Maka titik didihnya akan lebih besar dari 100oC dan titik bekunya kurang dari 0oC. Perbedaan itu yang disebut kenaikan titik didih dan penurunan titik beku ( Nunung , 2010 : 1 ).

Penurunan titik beku, Tf . Bila kebanyakan larutan encer didinginkan, pelarut murni terkristalisasi lebih dahulu sebelum ada zat terlarut yang ,mengkristalisasi , suhu dimana kristalkristal pertama dalam kesetimbangan dengan larutan disebut titik beku larutan. Titik beku larutan demikian selalu lebih rendah dari titik beku , berbanding lurus dengan banyaknya molekul zat terlarut ( mol zat ) didalam massa pelarut tertentu. Jadi, penurunan titik beku, Tf ( titik beku pelarut titik beku larutan ) = Kf . M , dimana M adalah molaritas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi 1 molal. Penurunan titik beku larutan 1 molal setiap non elektrolit yang tersebut didalam pelarut itu adalah Kf yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal ( molal freezing point constant ) pelarut itu. Nilai numerik Kf adalah pelarut khas masing-masing ( Scribd, 2010 : 2 ).

Penjelasan dari fenomena titik beku adalah pembekuan melibatkan transisi dari keadaan tidak teratur ke keadaan teratur. Agar proses itu terjadi energi panas diambil dari sistem. Karena larutan tidak lebih teratur dibangdingkan pelarut. Maka lebih banyak energi yang harus diambil

darinya untuk menciptakan keteraturan dibandingkan dalam kasus pelarut murni. Jika , larutan memiliki titik beku lebih rendah dibandingkan pelarut. Perhatikan bahwa bila larutan membeku, padatan yang memisah ialah komponen pelarutnya ( Chang, 2005 : 11 ).

Massa molekul relatif adalah perbandingan massa molekul dengan massa standar damana dua unsur bergabung membentuk senyawa dengan perbadingan tertentu. Ada senyawa yang tidak mempunyai rumus molekul tertentu , tetapi merupakan molekul besar yang molekulnya terbentuk dari banyak atom, seperti natrium klorida, satu ion Na+ dikelilingi enam ion Cl- dan ion Cl- dikelilingi oleh ion Na+. Demikian seterusnya ke segala arah ( Syukri, 1999 : 39 ).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 1. Alat Praktikum Kalorimeter Spatula Timbangan Gelas arloji Termometer Stopwatch Gelas ukur Pipet volum Rubber bulb Tabung reaksi Palu 2. Bahan Praktikum Air Es batu Asam asetat glasial Urea ( CO (NH2)2 )

D. SKEMA KERJA

10 mL asam asetat glasial, pengaduk dan termometer Dimasukkan dalam tabung reaksi besar Air dicampurkan es yang suhunya kira-kira 17oC Diisikan kedalam kalorimeter atau bejana plastik Dimasukkan tabung reaksi berisi asam asetat ke dalam kalorimeter Suhu di atur sehingga asam asetat membeku dengan penambahan es batu.

Hasil (catat suhu asam asetat saat membeku )

Tabung reaksi diambil Dikondisikan sehingga asam asetat mencair kembali Dimasukkan 0,5 gram Urea ( catat dengan tepat sampai 4 koma ) ke dalam asam asetat dan diaduk hingga larut. Dimasukkan ke dalam kalorimeter Suhu di atur dengan penambahan es batu.

Hasil ( catat suhu asam asetat saat tepat membeku ).

E. HASIL PENGAMATAN Sebelum penambahan urea . MENIT KE1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 * Membeku Setelah penambahan urea MENIT KE1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 * membeku TO (C) 13 6 10 10
*

TO (C) 4 3.5 1 15
*

T (K) 277 276.5 274 288 287 285 284 284 282 281

14 12 11 11 9 8

T (K) 286 279 283 283 283 283 283 282 282 278

10 10 10 9 9 5

F. ANALISA DATA Hubungan t (menit) dengan K sebelum penambahan urea T (K) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 277 276.5 274 288 287 285 284 284 282 281

Hubungan antara t menit dengan K setelah penambahan urea T (K) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 286 279 283 283 283 283 283 282 282 278

Grafik hubungan antara suhu (K) dengan selang waktu (menit) Sebelum penambahan urea.

GRAFIK
290 288 286 284 suhu (K) 282 280 278 276 274 272 270 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selang waktu ( menit )

Tp

Grafik hubungan antara suhu (K) dengan selang waktu (menit) setelah penambahan urea

GRAFIK
290 289 288 287 286 285 284 283 282 281 280 279 278 277 276 275 274 1 2 3 4

TL

suhu (K)

5 6 7 selang waktu (menit)

10

Perhitungan .... Diketahui CH3 COOH V CH3 COOH Kf Ditanya Mr zat X ???? gr pelarut = CH3 COOH x V CH3 COOH = 1.049 x 10 = 10.49 gr Tp TL = : 1.049 gr/mol : 10 mL : 3.9

Mr Zat X

= = 185,89 gr/mol/.

G. PEMBAHASAN Pada sifat koligatif larutan telah dijelaskan bahwa sifat koligatif tersebut tergantung pada jumlah zat yang terlarut dan zat pelarutnya. Semakin banyak zat terlarutnya pada suatu larutan maka penurunan titik beku semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi molalnya. Dimana perubahan titik beku sebanding dengan konsentrasinya (Scribd, 2010).

Praktikum kali ini penentuan Mr suatu zat berdasarkan penurunan titik beku larutan . Praktikum ini bertujuan untuk menetukan Mr suatu Zat yang telah di masukkan ke dalam larutan (asam asetat glasial). Dalam proses pengamatan percobaan ini, setelah asam asetat dimasukkan dalam tabung reaksi besar. Dan dimasukkan dalam kalorimeter dengan suhu kira kira 17oC. Terjadi perubahan suhu dari asam asetat glasial secara tidak beraturan setelah penambahan es batu, dimana dilakukan pengamatan selama 10 menit yakni 4oC, 3.5oC, 1oC, 15oC, 14oC,12oC,11oC, 11oC,9oC, dan 8oC. Dan didapatkan asam asetat glasial membeku pada menit ke 4 dalam suhu 15oC (288 K). Dan mencair kembali dalam suhu kamar atau 27oC ( 300 K ). Hal tersebut terjadi sebelum penambahan urea. Namun setelah penambahan urea ke dalam larutan (asam asetat) larutan tersebut membeku padaa suhu 10oC yakni dengan terjadinya penurunan titik beku ,yang semula sebelum ditambahkan dengan zat terlarut ke Dalam larutan asam asetat glasial yang semula membeku pada suhu 15oC. Dimana dalam prosesnya dilakukan pengadukan yang berfungsi untuk mencapai kesetimbangan. Hal tersebut prosesnya bila di ganggu akan menyebabkan lebih banyak cairan. Dimana tekanan dan suhu juga mempengaruhi perubahan wujud dari suatu zat ( Nunung, 2010 : 1). Dalam hasil pengamatan di dapatkan Tp sebelum penambahan urea sebesar 284 K yakni setara dengan 11oC. Sedangkan setelah penambahan Urea didapatkan TL pada suhu 10oC ( 283 K ). Dalam penentuan Tp dan TL tersebut dapat dilihat . dengan grafik dimana Tp dan TL didapatkan dalam grafik nampak suhu beraada dalam keadaan konstan. Dan di dapatkan Mr zat X ( urea ) sebesar 185,89 gr/mol. H. KESIMPULAN Titik beku suatu larutan dapat ditentukan berdasarkan penurunan titik bekunya. Dalam mencapai keadaan setimbang ( kesetimbangan ) wujud zat di tentukan oleh suhu dan tekanan. Dalam analisa data di dapatkan Mr zat X (urea) sebesar 185,89 g/mol. Tp dalam percobaan didapatkan pada suhu konstan yakni 11oC sedangkan TL didapatka pula pada suhu konstan yakni pada suhu 10oC.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi 3 . Jakarta : Erlangga. Naruti, nunung. 2010 . Penentuan Berat Molekul Berdasarkan Penurunan Titik Beku.http

//nigiclub 24 .blogspot .com/2010/10/ penaikan-berat-molekul-berdasarkanuhul.

Scribd.2010. Praktikum Kimia_ Uji Sifat Koligatif Larutan. http // www.scribd.com / doc/2992272782/ praktikum-kimia-uji-sifat-koligatif-larutan. Syukri, S. 1999. Kimia Dasar II. Bandung : ITB Press.