Anda di halaman 1dari 15

Disusun Oleh :

Ahmad Fauzi Alphonsus Mitio Catur Bagus Windu Saputra Chandra Frayoga Dini Rahma Fitria Rizki Febiyanti Utamy Jamiaturidha Muhammad Ridwan Melinda Eka Pratiwi Nikmatul Maulia Rahayuningtyas Saputri Ratna Sari Ririn Endah Vivi Ramadhini

Pembimbing : Rohman Azzam

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta 2011

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang paling indah dan paling bermakna, kecuali Puji dan syukur kami kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karuniaNya yang telah diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Kelainan struktur sistem Integumen. Rasa terimakasih juga tak lupa kami sampaikan kepada semua pihak yang telah bersedia membantu kami dalam pembuatan laporan ini. Terutama kepada Bapak Rohman Azzam yang telah membimbing kami dengan sepenuh hati, kepada Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan moril kepada kami, dan kepada teman-teman yang dengan ikhlas memberi support kepada kami. Kami menyadari dalam laporan ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangatlah kami butuhkan untuk memperbaiki kesalahan kami di masa yang akan datang. Semoga laporan ini dapat membantu pembaca dalam memahami ilmu Kelainan strukturs sistem Integumen.

Jakarta, 20 Oktober 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Ulkus dekubitus atau pressure ulcers adalah masalah tersering yang terjadisetelah CMS atau merupakan penyebab utama pasien kembali dirawat di rumahsakit. Ulkus dekubitus dikarakteristikkan sebagai ulserasi iskemik jaringan lunak akibat tekanan yang lama.Enam puluh hingga 80% penderita dengan CMS dapat mengalami ulkusdekubitus selama masa hidupnya. Dan 30% penderita dapat mengalami lebih darisatu ulkus. Hampir 30% penderita mengalami ulkus dekubitus pertama kali saatdirawat di rumah sakit dan berlanjut selama hidupnya, dengan penelitian terhadap populasi dengan CMS menunjukkan hampir 20% atau lebih mengalami ulkusdekubitus pascacedera. Di Amerika Serikat, the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengestimasi bahswa biaya perawatan CMS dengan ulkusdekubitus per tahun adalah 1,2 milyar dolar. Biaya medis tersebut termasuk biayaekonomi, vokasional, sosial, dan psikologis terhadap penderita yang memerlukan perawatan luka.Faktor risiko ulkus dekubitus adalah kehilangan fungsi sensorik, tekananyang lama, immobilitas, shearing forces, maserasi kulit, dan nutrisi yanginadekuat. Faktor tersebut dapat didukung oleh tindak kekerasan, obesitas,merokok, higiene yang buruk, stresor psikososial, dan kepatuhan yang buruk (misal; posisi tidur yang baik). Bagian tubuh dengan penonjolan tulang juga berisiko untuk terjadi ulkus dekubitus, seperti regio sakrum, tumit, dan skapulayang sering terjadi karena posisi berbaring terlalu lama. Atau penderita yangsering duduk pada kursi roda juga dapat menyebabkan ulkus pada daerah iskia.Pencegahan ulkus dekubitus melibatkan banya tim medis. Jika ulkusdekubitus terjadi, maka intervensi dini seperti menjaga bagian tubuh yang terkenatetap bersih dan merubah posisi tubuh sesering mungkin.Terapi fisik penunjangdan perawatan luka juga dapat

melengkapi proses penyembuhan. Terapi fisik memiliki peranan untuk membantu mobilitas dan posisi yang mampu melindungikulit selama proses penyembuhan luka

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Definisi Decubitus Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompressi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (bony prominence) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama. Kompressi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan. Apabila ini berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel

B. Etiologi Decubitus Penyebab utama adalah tekanan terus menerus pada kulit dan jaringan Terjadi pada orang dengan tirah baring lama, tidak sadar, penginderaan sensasi nyeri yang berkurang dan imobilisasi dalam waktu yang lama. Penyebab lain adalah kurang nutrisi yang menyebabkan jaringan bawah kulit kurang tersuplai darah. Penyebab lain adalah kurangnya monitoring dan perawatan kulit bagian yang tertekan.

Faktor Resiko : Mobilitas dan aktifitas, penurunan sensori persepsi, kelembapan, pergesekan, nutrisi, usia, tekanan arteriolar yang rendah, stress, emosional, merokok, temperature kulit. Faktor Intriksik a. Selama penuaan, regenerasi sel pada kulit menjadi lebih lambat sehingga kulit akan tipis (tortora & anagnostakos, 1990) b. Kandungan kolagen pada kulit yang berubah menyebabkan elastisitas kulit berkurang sehingga rentan mengalami deformasi dan kerusakan. c. Kemampuan sistem kardiovaskuler yang menurun dan sistem arteriovenosus yang kurang kompeten menyebabkan penurunan perfusi kulit secara progresif. d. Sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti DM yang

menunjukkan insufisiensi kardiovaskuler perifer dan penurunan fungsi kardiovaskuler seperti pada sistem pernapasan

menyebabkan tingkat oksigenisasi darah pada kulit menurun. e. Status gizi, underweight atau kebalikannya overweight f. Anemia g. Hipoalbuminemia yang mempermudah terjadinya dekubitus dan memperjelek penyembuhan dekubitus, sebaliknya bila ada dekubitus akam menyebabkan kadar albumin darah menurun h. Penyakit-penyakit neurologik, penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah, juga mempermudah dan meperjelek dekubitus i. Keadaan hidrasi/cairan tubuh perlu dinilai dengan cermat.

Faktor Ekstrinsik a. Kebersihan tempat tidur, b. Alat-alat tenun yang kusut dan kotor, atau peralatan medik yang menyebabkan penderita terfiksasi pada suatu sikap tertentu juga memudahkan terjadinya dekubitus. c. Duduk yang buruk d. Posisi yang tidak tepat e. Perubahan posisi yang kurang

C. Klasifikasi Decubitus Klasifikasi atau tipe: Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari suatu ulkus dekubitus dan perbedaan temperatur dari ulkus dengan kulit sekitarnya, dekubitus dapat dibagi menjadi tiga: 1. Tipe normal Mempunyai beda temperatur sampai dibawah lebih kurang 2,5oC dibandingkan kulit sekitarnya dan akan sembuh dalam perawatan sekitar 6 minggu. Ulkus ini terjadi karena iskemia jaringan setempat akibat tekanan, tetapi aliran darah dan pembuluh-pembuluh darah sebenarnya baik. 2. Tipe arterioskelerosis Mempunyai beda temperatur kurang dari 1oC antara daerah ulkus dengan kulit sekitarnya. Keadaan ini menunjukkan gangguan aliran darah akibat penyakit pada pembuluh darah (arterisklerotik) ikut perperan untuk terjadinya dekubitus disamping faktor tekanan. Dengan perawatan, ulkus ini diharapkan sembuh dalam 16 minggu.

3. Tipe terminal Terjadi pada penderita yang akan meninggal dunia dan tidak akan sembuh. Stadium: Stadium 1 : Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema pada kulit. Penderita dengan sensibilitas baik akan mengeluh nyeri. Stadium ini umumnya reversibel dan dapat sembuh dalam 5 - 10 hari. Stadium 2 : Ulserasi mengenai epidermis, dermis dan meluas sampai ke jaringanadiposa.Terlihat eritema dan indurasi. Stadium ini dapat sembuh dalam 10 - 15 hari. Stadium 3 : Ulserasi meluas sampai ke lapisan lemak subkutis, dan otot sudah mulai terganggu dengan adanya edema, inflamasi, infeksi dan hilangnya struktur fibril. Tepi ulkus tidak teratur dan terlihat hiper atau hipopigmentasi dengan fibrosis. Kadang-kadang terdapat anemia dan infeksi sistemik. Biasanya sembuh dalam 3 - 8 minggu. Stadium 4 : Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia, otot, tulang serta sendi. Dapat terjadi artritis septik atau osteomielitis dan sering diserti anemia. Dapat sembuh dalam 3 - 6 bulan.

a. Derajat I: Eritema tidak pucat pada kulit utuh, lesi luka kulit yang diperbesar. Kulit tidak berwarna, hangat, atau keras juga dapat menjadi indikator b. Derajat II: Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan dermis. Luka superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi, lecet, atau lubang yang dangkal. c. Derajat III: Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar kebawah tapi tidak melampaui fascia yang berada di bawahnya. Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. d. Derajat IV: Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif, nekrosis jaringan; atau kerusakan otot, tulang, atau struktur penyangga misalnya kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot dan kapsul sendi.

D. Manifestasi Klinis Decubitus 1. Tanda cidera awal adalah adanya kemerahan yang tidak menghilang apabila ditekan oleh ujung jari. Pada cidera yang lebih berat dijumpai ulkus dikulit. Lesi kulit yang dapat terlihat dapat memiliki ketebalan parsial atau penuh, yang meluas ke dalam dermis atau bahkan menembus subkutan. Cedera ketebalan penuh dapat merusak tulang. 2. Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik peradangan, termasuk demam dan peningkatan hitung sel darah putih.

E. Lokasi Decubitus 1. Tuberositas ulkus Akibat tekanan pada keadaan duduk karena foodrest pada kurs roda terlalu tinggi sehingga BB tertumpu pada daerah ischium. 2. Sacrum Terjadi bila berbaring terlentang, tidak mengubah posisi. Secara teratur salah posisi waktu duduk di kursi roda juga saat penderita merosot kew tempat tidur dengan sandaran miring. 3. Tunit 4. Lutut Terjadi bila pasien lama berbaring telungkup sedangkan sisi lateral lutut terkena karena lama berbaring pada satu sisi. 5. Siku Sering dipakai sebagai penekan tubuh atau pembantu mengubah posisi. 6. Jari kaki Dapat terkena pada posisi telungkup, sepatu yang terlalu sempit. 7. Scapula dan Processus spinous vertebrae Dapat terkena akibat terlalu lama terlentang dan gesekan yang sering. F. Patofisiologi Decubitus G. Penatalaksanaan Decubitus 1.)Perawatan luka dekubitus. 2.)Terapi fisik, dengan menggunakan pusaran air untuk menghilangkan jaringan yangmati. 3.)Terapi obat :

a.)Obat antibacterial topical untuk mengontrol pertumbuhan bakteri. b.)Antibiotik prupilaksis agar luka tidak terinfeksi. 4.)Terapi diet Agar terjadi proses penyembuhan luka yang cepat, maka nutrisi harus adekuat yangterdiri dari kalori, protein, vitamin, mineral dan air. Penatalaksanaan klien dekubitus memerlukan pendekatan holistic yangmenggunakan keahlian pelaksana yang berasal dari beberapa disiplin ilmu kesehatan(AHCPR, 1994; Olshansky, 1994). Gambaran keseluruhan dekubitus akan menjadi dasar pembuatan pohon pengangambilan keputusan yang digunakan untuk menentukan rencanatindakan (AHCPR, 1994,Maklebust dan Siegreen, 1991) 5.)Pencegahan Pencegahan ulkus dekubitus adalah hal yang utama karena pengobatan ulkusdekubitus membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Tindakan pencegahan dapat dibagi2, yaitu : 1) Umum : a.)Pendidikan kesehatan tentang ulkus dekubitus bagi staf medis, penderita dan keluarganya. b.)Pemeliharaan keadaan umum dan higiene penderita. 2) Khusus :

a.)Mengurangi/menghindari tekanan luar yang berlebihan pada daerah tubuh tertentudengan cara : perubahan posisi tiap 2 jam di tempat tidur sepanjang 24 jam. Melakukan push up secara teratur pada waktu duduk di kursi roda.

Pemakaian berbagai jenis tempat tidur, matras, bantal anti dekubitus seperti circolectric bed,tilt bed, air-matras, gel flotation pads, sheepskin dan lain-lain. b.)Pemeriksaan dan perawatan kulit dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore), tetapidapat lebih sering pada daerah yang potensial terjadi ulkus dekubitus. Pemeriksaankulit dapat dilakukan sendiri, dengan bantuan penderita lain ataupun keluarganya.Perawatan kulit termasuk pembersihan dengan sabun lunak dan menjaga kulit tetap bersih dari keringat, urin dan feces. Bila perlu dapat diberikan bedak, losio yangmengandung alkohol dan emolien 6.) Pengobatan Pengobatan ulkus dekubitus dengan pemberian bahan topikal, sistemik ataupundengan tindakan bedah dilakukan sedini mungkin agar reaksi penyembuhan terjadi lebihcepat. Pada pengobatan ulkus dekubitus ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : 1.)Mengurangi tekanan lebih lanjut pada daerah ulkus. Secara umum sama dengantindakan pencegahan yang sudah dibicarakan di atas. Pengurangan tekanan sangat penting karena ulkus tidak akan sembuh selama masih ada tekanan yang berlebihandan terus menerus. 2.)Mempertahankan keadaan bersih pada ulkus dan sekitarnya. Keadaan tersebut akanmenyebabkan proses penyembuhan luka lebih cepat dan baik. Untuk hal tersebut dapatdilakukan kompres, pencucian, pembilasan, pengeringan dan pemberian bahanbahantopikal seperti larutan NaC10,9%, larutan H202 3% dan NaC10,9%, larutan plasmadan larutan Burowi serta larutan antiseptik lainnya.

3.)Mengangkat jaringan nekrotik. Adanya jaringan nekrotik pada ulkus akanmenghambat aliran bebas dari bahan yang terinfeksi dan karenanya juga menghambat pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi. Oleh karena itu

pengangkatan jaringannekrotik akan mempercepat proses penyembuhan ulkus. Terdapat 3 metode yang

dapatdilakukan antara lain : a.)Sharp debridement (dengan pisau, gunting dan lain-lain). b.)Enzymatic debridement (dengan enzim proteolitik, kolageno-litik, dan fibrinolitik). c.)Mechanical debridement (dengan tehnik pencucian, pembilasan, kompres danhidroterapi). 4.)Menurunkan dan mengatasi infeksi.Perlu pemeriksaan kultur dan tes resistensi. Antibiotika sistemik dapat diberikan bila penderita mengalami sepsis, selulitis. Ulkus yang terinfeksi hams dibersihkan beberapakali sehari dengan larutan antiseptik seperti larutan H202 3%, povidon iodin 1%, sengsulfat 0,5%. Radiasi ultraviolet (terutama UVB) mempunyai efek bakterisidal. 5.)Merangsang dan membantu pembentukan jaringan

granulasi dan epitelisasi. Hal inidapat dicapai dengan pemberian antara lain : a.)Bahan-bahan topikal misalnya : salep asam salisilat 2%, preparat seng (Zn 0, ZnSO). b.)Oksigen hiperbarik; selain mempunyai efek juga

bakteriostatik

terhadap

sejumlah bakteri,

mempunyai efek proliferati epitel, menambah

jaringan vaskular.

granulasi

danmemperbaiki

keadaan

c.)Radiasi infra merah, short wave diathermy, dan pengurutan dapat membantu penyembuhan ulkus karena adanya efek peningkatan vaskularisasi. d.)Terapi ultrasonik, sampai saat ini masih terus diselidiki manfaatnya terhadap terapiulkus dekubitus. 6.)Tindakan bedah selain untuk pembersihan ulkus juga diperlukan untuk mempercepat penyembuhan dan penutupan ulkus, terutama ulkus dekubitus stadium III & IV dankarenanya sering dilakukan tandur kulit ataupun myocutaneous flap

Daftar Pustaka

Chang, Esther., dkk.2009. Patofisiologi Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta. EGC. Harnowo, Sapto, Susanto, Fitri. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Widya Medika. M.Nur, Busjra.2006. Anatomi dan Fisiologi. Edisi 3.Jakarta : FKUI. Maryati, Sri., dkk. 2006. Biologi. Jakarta. Erlangga. Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. Doengoes, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi

Keperawatan(Edisi 3)EGC :Jakarta. Smeltzer Suzane C. Bare brenda G., Warti. Keperawatan Medika Bedah. Edisi 8. EGC. Jakarta. 2001. Syarifudin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia Edisi 2. Jakarta Medika. Price, Sylvia & M. Wilson, Lorraine. 2006. Patofisiologi (Volume 1, Edisi 6). Jakarta : EGC Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah (2). Corwin, J Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC. : Salemba