Anda di halaman 1dari 5

DEFINISI PENALARAN

Sehari-hari pasti kita kerap kali mendengar kata nalar atau penalaran. Kalau saya pribadi sering mendengar kata nalar itu sendiri saat saya mengikuti ekskul Paskibraka di SMP dulu, dimana senior-senior saya seringkali mengajarkan Gerak PBB (Peraturan Baris Berbaris) itu dengan banyak variasi gerakan setiap harinya dan saya sebagai salah satu anggotanya dituntut untuk cepat tanggap dalam menerima setiap gerakan baru dan cepat untuk menghafalnya. Mereka mengajarkan sedikit otoriter dan dengan gaya khas bicara mereka menyebutkan Nalar yah kalau dikasih tau, jangan sampai ada kesalahan terulang!!. Hingga akhirnya sampai saat ini saya berkesimpulan bahwa nalar itu dimaksudkan untuk seberapa cermat sih kemampuan berfikir dan pemahaman sesorang terhadap suatu hal baru atau permasalahan yang ada. Menurut arti kata Penalaran tersebut mempunyai berbagai makna, diantaranya: 1. Cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran: kepercayaan takhayul serta ~ yg tidak logis haruslah dikikis habis; 2. Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman; 3. Proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip; (sumber: http://artikata.com/arti-372168-penalaran.html ) Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi (proposisi yang sejenis), berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut me-nalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran )

METODE PENALARAN
Seperti yang telah dibahas pada posting sebelumnya. Penalaran ini dibagi menjadi 2 metode, penjelasan selengkapnya berikut ini:

Metode Deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial. Dipelopori oleh Aristoteles. Bertolak dari asumsi umum yang kebenarannya tidak dipersoalkan, lalu diterapkan pada hal khusus yang dikenal sebgai Silogisme Kategorik (Kategorical Silogisme) yang terdiri dari 3 bagian : a. Premis Mayor Pernyataan sifat hubungan yang kebenarannya diasumsikan terbukti dengan sendirinya (self evident) b. Premis Minor Suatu kasus tertentu yang berhubungan dengan premis mayor c. Kesimpulan Hasil hubungan logis premis mayor dengan premis minor.

Kelemahannya : 1. Kebenaran kesimpulan tergantung pada kebenaran premis mayor. 2. Sulit menemukan pengetahuan baru Metoda ini berlangsung sampai abad ke 17. Berfikir secara deduktif adalah menggunakan sifat Koheren dalam menentukan kebenaran

Metode Induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari halhal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Francis Bacon menyanggah teori deduktif dengan Novum Organum . Ia mengusulkan : 1. Pengamatan phenomena - phenomena yang diamatinya.

2. Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan melalui pengamatan kasus-kasus yang banyak, kemudian generalisasi atau kasus yang bersifat umum. Kelemahannya : Pengumpulan kasus secara acak, konsep yang utuh mustahil dapat melahirkan teori-teori atau generalisasi yang benar. Sedangkan berfikir secara Induktif yaitu menggunakan sifat korespondensi dalam menentukan kebenaran. Pada abad ke 19 Charles Darwin memadukan kedua metoda itu (Best, 1975) Ia menyususn teori asal usul manusia. Contoh: Jika dipanaskan, besi memuai. Jika dipanaskan, tembaga memuai. Jika dipanaskan, emas memuai. Jika dipanaskan, platina memuai. Jika dipanaskan, logam memuai.

Jika ada udara, manusia akan hidup. Jika ada udara, hewan akan hidup. Jika ada udara, tumbuhan akan hidup. Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran)
http://www.infogue.com/viewstory/2011/12/15/_logika_berfikir_deduktif_dan_induktif_ dengan_metode_penalaran_reasoning_/? url=http://juprimalino.blogspot.com/2011/12/logika-berfikir-deduktif-dan-induktif.html

KESALAHAN DALAM PENALARAN

Tugas logika ialah menyiapkan sarana untuk penalaran yang sahih atau tepat. Dalam kenyataannya, baik dalam kehidupan akademis maupun pergaulan sehari-hari, sering sekali terjadi penalaran yang tidak sahih. Penalaran yang tidak sahih atau tidak tepat dinamakan dengan penalaran yang sesat. Singkatnya kesesatan atau fallacy. Perlu dibedakan antara paralogis dan sofisme. Paralogis adalah kesesatan yang tidak disadari (tidak disengaja), dan terjadi karena pembicara kurang menguasai hokumhukum penalaran atau karena keterbatasan lain. Disini orang mengemukakan penalaran sesat tapi dia tidak menyadarinya. Sebaliknya, orang yang dengan sengaja menggunakan kesesatan untuk tujuan tertentu dinamakan sofis. Seorang sofis memiliki dasar-dasar logika dan argumentasi yang kuat, dan sebab itu bisa menjebak lawan bicara dengan mudah. Jadi, dia dengan sengaja mengemukakakn penalaran sesat untuk kepentingannya sendiri. Macam-macam kesesatan, antara lain: 1. Kesesatan karena bahasa (semantik) Kesesatan ini disebabkan oleh ambiguitas arti kata yang digunakan (homonim). 2. Kesesatan karena relevansi Kesesatan ini terjadi karena orang menurunkan konklusi yang tidak punya relevansi dengan premis. Penalaran proporsional telah dikaji oleh oleh beberapa peneliti misalnya Cramer,K. & Post,T. (1993), dan Rahma (2006). Namun kajian-kajian tersebut belum sampai pada masalah "proses terjadinya kesalahan penalaran proporsional". Karena itu dalam penelitian ini akan dikaji proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional berdasarkan kerangka kerja asimilasi dan akomodasi. Ketika seseorang menghadapi suatu masalah, maka akan terjadi proses adaptasi yang melibatkan proses asimilasi dan akomodasi. Menurut Piaget asimilasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang sudah terbentuk. Akomodasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru melalui pengubahan skema lama atau pembentukan skema baru untuk menyesuaikan dengan stimulus yang diterima. Penelitian ini dilakukan pada siswa MTs Surya Buana Kota Malang yang sudah mendapatkan materi perbandingan (proporsi). Pengambilan data dilakukan dengan metode Think-Out-Loud (TOL) atau sering disebut Think Aloud. Dalam metode TOL, siswa diminta untuk mengungkapkan secara keras apa yang sedang dipikirkan. Data yang diperoleh dikodekan dan dijadikan dasar untuk mengkaji terjadinya kesalahan, ketika mengerjakan masalah proporsi.

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa proses terjadinya kesalahan dalam penalaran siswa MTs Surya Buana Kota Malang memiliki karakteristik, yaitu: (1) kekeliruan proses asimilasi yang terjadi pada subjek (S1), dan (2) ketidakcukupan struktur berpikir dalam proses asimilasi terjadi pada subjek kelompok sedang (S3 dan S4). Sedangkan untuk subjek (S2, S5 dan S6) memiliki konstruksi penalaran yang lengkap. Penelitian ini masih terbatas pada proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional (khususnya perbandingan senilai), karena itu masih sangat terbuka penelitian lanjutan terutama berkaitan dengan: (1) bagaimana proses penalaran siswa, ketika memahami perbandingan berbalik nilai, dan (2) desain pembelajaran yang dapat mengurangi terjadinyakesalahan penalaran dalam menyelesaikan masalah matematika. SYARAT-SYARAT KEBENARAN DALAM PENALARAN Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat syarat dalam menalar dapat dipenuhi. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat. Penalaran (reasoning) merupakan bentuk pemikiran yang paling rumit. Bentuk pemikiran lainnya ialah pengertian (konsep) dan pernyataan (proporsi). Kemampuan untuk penalaran sahih dapat dengan mempelajari hokum-hukum logika. Hal ini penting guna menghindarkan diri dari kemungkinan melakukan kesesatan-kesesatan penalaran. Sumber: elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/filsafat.../bab6-penalaran.pdf Sumber: http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/1612 Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran