Anda di halaman 1dari 59

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI PAPUA BARAT MENURUT PENGGUNAAN 2011

Gross Regional Domestic Product of Papua Barat Province by Expenditure 2011


Katalog BPS/ Catalogue ISSN Nomor Publikasi/ Publication Number Ukuran Buku/ Book Size Jumlah Halaman/ Total Page : : : : : 930202.9100 2089 998x 91300.12.03 16.5 x 21.6 cm ix + 47

Naskah/ Manuscript : Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Papua Barat Regional Balance Sheet and Statistical Analysis Division BPS-Statistic of Papua Barat Province Penyunting/ Editor : Bidang Statistik Neraca Wilayah dan Analisis Statistik/ Regional Balance Sheet and Statistical Analysis Division Gambar Kulit/ Cover Design :

Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Statistical Integrated Processing and Dissemination Division
Diterbitkan Oleh/ Published by : BPS Provinsi Papua Barat BPS-Statistics of Papua Barat Province Dicetak Oleh/ Printed by :

Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya May be cited with reference to the source

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI PAPUA BARAT MENURUT PENGGUNAAN


Gross Regional Domestic Product of Papua Barat Province by Expenditure

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | ii

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas limpahan rahmat-Nya penyusunan Publikasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan tahun 2011 oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat dapat terselesaikan. Publikasi PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan tahun 2011 ini terdiri dari tabel-tabel PDRB Penggunaan. Keterangan yang dihimpun mencakup beberapa komponen penggunaan yaitu Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Non Profit, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto, Perubahan Stok, dan Ekspor Netto. Publikasi ini akan sangat berguna bagi para perencana dalam menyusun program pembangunan dan bagi para pengambil kebijakan dalam mengukur keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan. Dikarenakan keterbatasan data yang tersedia, maka beberapa data yang disajikan terutama data tahun 2010 dan 2011 masih bersifat sementara yang akan disempurnakan pada penerbitan berikutnya. Untuk itu, kritik dan saran dari pembaca dan pemakai data tetap diharapkan untuk penyempurnaannya. Dengan diterbitkannya buku ini maka diharapkan dapat memperkecil kesenjangan yang ada antara ketersediaan dengan kebutuhan data sehingga pelaksanaan pembangunan di provinsi ini dapat lebih berhasil guna dan berdaya guna.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | iii

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu hingga terbitnya publikasi ini kami ucapkan terimakasih.

Manokwari, 2 April 2012 Kepala BPS Provinsi Papua Barat

Ir. Tanda Sirait, MM

NIP. 195507211978011002

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | iv

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................... Daftar Isi ............................................................................................... Daftar Tabel .......................................................................................... Daftar Gambar ...................................................................................... Daftar Lampiran .................................................................................. iii v vii viii ix

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 Penjelasan Umum .................................................. Alasan Teknis Pergeseran Tahun Dasar Harga Konstan 1993 menjadi Harga Konstan 2000 ......... Tujuan dan Kegunaan Statistik Pendapatan Regional .................................................................

1 1 2 4 6 6 11 11

BAB II

KONSEP DAN DEFINISI 2.1 2.2 2.3 Struktur Pendapatan Regional Menurut Jenis Penggunaan (by Type of Expenditure) ................... Metode Pendekatan ............................................... Penyajian Atas Dasar Harga Konstan ....................

BAB III

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO MENURUT PENGGUNAAN 3.1 3.2 Pendahuluan ........................................................... Komponen-komponen Permintaan Akhir .............. 3.2.1 Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga .......... 3.2.2 Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nirlaba .... 3.2.3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah .............

15 15 17 17 22 24

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | v

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

3.2.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto ................ 3.2.5 Perubahan Stok ........................................... 3.2.6 Ekspor dan Impor ......................................... BAB IV TINJAUAN EKONOMI PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011 MENURUT PENGGUNAAN 4.1 4.2 4.3 4.4 Perkembangan PDRB Menurut Penggunaan ......... Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat ....... Struktur Perekonomian Provinsi Papua Barat ..... PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan 4.4.1 Konsumsi Rumahtangga ............................. 4.4.2 Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba ............. 4.4.3 Konsumsi Pemerintah ................................. 4.4.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto ................ 4.4.5 Perubahan Stok ..........................................

25 27 28

30 30 32 34 35 35 38 38 39 40 40

4.4.6 Ekspor dan Impor ........................................

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | vi

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

DAFTAR TABEL

Tabel 1.

PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2011 (Miliar Rupiah) Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Tahun 2007-2011 (Persen) ......................... Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Berlaku dan Kontribusinya dirinci menurut Konsumsi Makanan dan Bukan Makanan Provinsi Papua Barat Tahun 20072011 ......................................................................... Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Konstan 2000 dan Laju Pertumbuhan dirinci menurut Konsumsi Makanan dan Bukan Makanan Provinsi Papua Barat Tahun 20072011 ......................................................................... Nilai Konsumsi Pemerintah ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan Konsumsi Pemerintah Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2011 .. Nilai PMTB ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2011 .................. Nilai Ekspor dan Impor ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan Ekspor dan Impor Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2011 ..

31

Tabel 2.

34

Tabel 3.

36

Tabel 4.

37

Tabel 5.

39

Tabel 6.

40

Tabel 7.

41

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | vii

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

DAFTAR GAMBAR
Grafik 1. Perkembangan Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 20072011 (Persen) ....................... Distribusi PDRB Menurut Penggunaan Tahun 2011 (Persen) ................................................................ Distribusi Konsumsi Rumahtangga Menurut Jenisnya Tahun 2011 (Persen) ............................................

33

Grafik 2.

35

Grafik 3.

37

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | viii

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Jutaan Rupiah) .............. Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ............. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ........................................................................ Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ... Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen) ... Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto Propinsi Papua Barat Menurut Penggunaan (Persen) ...

43

Lampiran 2.

44

Lampiran 3.

45

Lampiran 4.

46

Lampiran 5.

47

Lampiran 6.

48

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | ix

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Penjelasan Umum Perencanaan pembangunan ekonomi suatu negara atau daerah

memerlukan berbagai macam data statistik untuk dasar penentuan strategi dan kebijaksanaan agar sasaran pembangunan dapat dicapai dengan tepat. Strategi dan kebijaksanaan pembangunan ekonomi yang telah diambil pada masa-masa yang lalu perlu dievaluasi dengan melihat hasil-hasil yang dicapai, apakah masih perlu diperbaiki atau ditingkatkan kembali. Berbagai data statistik yang merupakan ukuran kuantitas mutlak diperlukan untuk memberikan gambaran tentang keadaan pada masa yang lalu dan masa kini, serta sasaran-sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Salah satunya adalah statistik Produk Domestik Regional Bruto baik dari sisi lapangan usaha maupun dari sisi penggunaan. Pada hakekatnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional, dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat semakin meningkat dan dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 1

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat, maka perlu disajikan statistik Pendapatan Regional secara berkala, untuk digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan regional khususnya di bidang ekonomi. Angka-angka pendapatan regional dapat dipakai juga sebagai bahan evaluasi dari hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah daerah maupun swasta. 1.2 Alasan Teknis Pergeseran Tahun Dasar Harga Konstan 1993 Menjadi Harga Konstan 2000 Tahun dasar yang digunakan di dalam penghitungan PDRB menurut penggunaan sama seperti yang digunakan dalam penghitungan PDRB menurut lapangan usaha yaitu tahun 2000. Beberapa pandangan secara teknis yang perlu dikemukakan sebagai latar belakang mengapa tahun 2000 dipilih sebagai tahun dasar penghitungan PDB/PDRB menggantikan tahun dasar 1993, dapat dijelaskan melalui butir-butir berikut ini : 1. Perekonomian Indonesia selama tahun 2000 dipandang relatif stabil, karena sejak tahun 2000 hingga 2003 pertumbuhan ekonomi secara agregat terus meningkat dari tahun ke tahun dengan besaran positif. Hal itu bisa diberi makna sebagai awal berjalannya proses pemulihan ekonomi setelah keterpurukan akibat krisis ekonomi di tahun 1998. 2. Perkembangan ekonomi dunia dalam kurun waktu 1993-2000 yang diwarnai oleh perekonomian globalisasi tentunya akan berpengaruh kepada domestik. Masih dalam periode tersebut, pada

pertengahan tahun 1997 terjadinya krisis ekonomi juga berdampak kepada perubahan struktur perekonomian Indonesia. Secara ringkas, bisa dinyatakan bahwa struktur ekonomi tahun 2000 telah berbeda dengan tahun 1993. Untuk itu, pemutakhiran tahun dasar penghitungan
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 2

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

PDRB dari tahun 1993 ke tahun 2000 menjadi perlu dilakukan agar hasil estimasi PDRB sektoral maupun penggunaannya akan menjadi realistis, dalam pengertian mampu memberikan gambaran yang jelas terhadap fenomena pergeseran struktur produksi lintas sektor. 3. BPS telah menyelesaikan penyusunan Tabel Input Output Indonesia 2000. Tabel I-O tersebut secara baku dipakai sebagai basis bagi penyusunan series baru penghitungan PDB baik sektoral maupun penggunaan. Besaran PDB yang diturunkan dari Tabel Input Output telah mengalami uji konsistensi pada tingkat sektoralnya dengan mempertimbangkan kelayakan struktur permintaan maupun penawarannya. Oleh karena itu, struktur perekonomian Indonesia yang digambarkan melalui Tabel I-O tersebut dapat dijadikan sebagai basis/dasar (benchmark) bagi penyempurnaan penghitungan estimasi PDB. 4. Menurut rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagaimana tertuang dalam buku panduan yang baru Sistem Neraca Nasional dinyatakan bahwa estimasi PDB atas dasar harga konstan sebaiknya dimutakhirkan secara periodik dengan menggunakan tahun referensi yang berakhiran 0 dan 5. Hal itu dimaksudkan agar besaran angkaangka PDB dapat saling diperbandingkan antar negara dan antar waktu guna keperluan analisis kinerja perekonomian dunia. 5. Ketersediaan data dasar baik harga maupun volume (quantum) tahun 2000 secara rinci pada masing-masing sektor ekonomi relatif lebih lengkap dan berkelanjutan. Hal itu dimungkinkan karena berbagai departemen/kementrian maupun instansi pemerintah lainnya juga ikut membangun statistik bagi keperluan perencanaan sektoralnya masingmasing. Dengan dukungan data-data yang lebih lengkap dan terinci

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 3

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

serta berkesinambungan, diharapkan

estimasi PDB/PDRB dengan

tahun dasar 2000 dapat disusun lebih akurat dan konsisten. 1.3 Tujuan dan Kegunaan Statistik Pendapatan Regional Statistik pendapatan regional yang disajikan dengan baik dan lengkap akan dapat menggambarkan berbagai fenomena antara lain : 1. Produk domestik regional bruto yang disajikan atas dasar harga konstan, akan menggambarkan tingkat pertumbuhan riil perekonomian suatu daerah baik secara agregat maupun sektoral. 2. Pertumbuhan perekonomian yang timbul tersebut apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk masing-masing tahun, maka akan dapat pula mencerminkan tingkat perkembangan pendapatan perkapita. Jika

pendapatan perkapita suatu daerah dibandingkan dengan pendapatan perkapita daerah lain, maka angka-angka tersebut dapat dipakai sebagai indikator untuk membandingkan tingkat kemakmuran material dengan daerah lainnya. 3. Penyajian Produk Domestik Regional Bruto baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan, juga dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat inflasi ataupun deflasi yang terjadi. Demikian pula apabila disajikan secara sektoral akan dapat juga memberi gambaran tentang struktur perekonomian suatu daerah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Regional yang disajikan secara berkala, wajar, dan komprehensif akan diketahui : a. Indikator tingkat pertumbuhan perekonomian. b. Indikator tingkat perkembangan pendapatan per kapita.
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 4

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

c. Indikator tingkat kemakmuran masyarakat. d. Indikator tingkat inflasi dan deflasi. e. Indikator dari struktur perekonomian suatu daerah. Lebih khusus untuk penyajian PDRB dari sisi penggunaan akan diketahui : a. Besarnya pendapatan (nilai tambah) suatu wilayah yang dibelanjakan kembali dalam perekonomian wilayah tersebut. b. Besarnya pendapatan (nilai tambah) suatu wilayah yang diinvestasikan kembali dalam perekonomian wilayah tersebut. c. Besarnya pembiayaan transaksi antar wilayah dan antar negara. d. Tingkat persediaan barang setengah jadi maupun barang jadi yang dikuasai oleh berbagai pelaku ekonomi produksi maupun konsumsi.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 5

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

BAB II KONSEP DAN DEFINISI

2.1

Struktur Pendapatan Regional Menurut Jenis Penggunaan Penyajian dalam bentuk ini dapat memberi gambaran bagaimana barang

dan jasa yang diproduksi itu digunakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat. Oleh karena itu, dalam penyajiannya barang dan jasa harus dikelompokkan menurut penggunaannya dalam masyarakat, yaitu digunakan untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba (private consumption expenditure), konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), ditanam sebagai barang modal (fixed capital formation), yang tidak digunakan pada tahun laporan akan disimpan sebagai stok (increase in stock) dan digunakan untuk barang ekspor netto. Jadi penyajiannya akan berbentuk : 1. Pengeluaran konsumsi rumahtangga 2. Pengeluaran konsumsi pemerintah 3. Pembentukan modal tetap 4. Perubahan stok 5. Ekspor netto

Berikut ini merupakan penjelasan singkat tentang ruang lingkup masingmasing item di atas:

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 6

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga Pengeluaran konsumsi rumahtangga meliputi seluruh

pembelian barang dan jasa oleh rumahtangga tanpa melihat durability dari barang dan jasa itu, dikurangi penjualan dari barang bekas netto (penjualan barang bekas dikurangi pembelian barang bekas), dengan mengecualikan pengeluaran yang bersifat transfer, pembelian tanah, dan rumah. Pengecualian ini dilakukan sebab transfer akan dihitung sebagai pengeluaran pada konsumen yang menerima transfer tadi, sedang pengeluaran untuk tanah dan rumah dimasukkan dalam item pembentukan modal (capital formation). Kecuali pengeluaran yang dilakukan oleh rumahtangga yang tercakup dalam item ini ialah pengeluaran rutin yang dilakukan oleh lembaga swasta nirlaba (lembaga swasta yang tidak mencari untung). Pengeluaran yang dilakukan oleh lembaga ini untuk pembelian barang-barang modal akan dimasukkan dalam item pembentukan modal tetap. Pengeluaran konsumsi rumahtangga swasta yang tidak mencari untung ini disebut Private Consumption Expenditure. 2. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pengeluaran konsumsi pemerintah meliputi seluruh

pengeluaran rutin untuk pembelian barang dan jasa dari pihak lain yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah,

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 7

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

dikurangi hasil penjualan barang dan jasa yang dilakukan oleh Pemerintah. Pengeluaran rutin di sini meliputi pembayaran upah dan gaji kepada pegawai pemerintah, belanja barang, biaya pemeliharaan, dan biaya rutin lainnya. Termasuk juga pengeluaran belanja modal untuk keperluan militer. Belanja modal untuk keperluan sipil misalnya pembelian mobil, pesawat terbang, mesin-mesin, pembuatan gedung-gedung, jalan, jembatan, dan sebagainya, akan dimasukkan dalam pembentukan modal tetap, sedang pembelian seperti di atas, tetapi untuk keperluan militer dimasukkan dalam Pengeluaran Konsumsi Pemerintah. Pengeluaran rutin tersebut harus dikurangi dengan hasil penjualan barang dan jasa yang dilakukan oleh Pemerintah, misalnya penjualan buku-buku yang diterbitkan oleh departemen-departemen, penjualan bibit padi, dan telur dari pusat-pusat pembibitan milik Pemerintah dan sebagainya. 3. Pembentukan Modal Tetap Bruto Pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital formation) ditambah perubahan stok (increase in stock) biasanya disebut Gross Capital Formations, sebab memang keduanya merupakan jumlah perubahan stok barang, baik barang-barang yang sudah ditanam maupun yang masih disimpan. Untuk memudahkan penghitungan, kedua item tersebut perlu dipisahkan. Apa yang tercakup dalam perubahan stok akan dibicarakan
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 8

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

kemudian sedangkan yang masuk dalam pembentukan modal tetap mencakup besarnya modal yang ditanam selama satu tahun, baik oleh pemerintah, swasta, lembaga swasta nirlaba maupun rumahtangga (terbatas pada tanah dan rumah), dikurangi dengan jumlah penjualan barang-barang modal bekas selama tahun yang sama. Yang tercakup dalam barang modal tetap (durable procedure goods) dan umur lebih dari satu tahun, misalnya tanah, rumah, gedung, jalan, jembatan, damdam, mesin-mesin, alat-alat transport, dan sebagainya . Selain itu yang juga termasuk dalam pembentukan modal tetap yaitu pembelian/penambahan ternak-ternak yang dipelihara untuk diambil susunya, tenaganya, bulunya, dan sebagainya. Sedang pembelian/penambahan ternak yang dipelihara untuk diambil

dagingnya (dipotong) akan dimasukkan dalam pembentukan modal stok. Dalam item ini termasuk juga pengeluaran-pengeluaran untuk penanaman hutan baru, perkebunan-perkebunan atau tanaman-tanaman keras yang baru bisa dipetik hasilnya setelah berumur lebih dari satu tahun.

4. Perubahan Stok Yang dimaksud dalam item ini ialah barang-barang yang diproduksi maupun yang diimpor pada tahun itu, tapi belum sempat dipakai sampai akhir tahun, hingga masih disimpan sebagai stok.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 9

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Stok yang disimpan ini meliputi barang-barang mentah yang belum sempat diproses menjadi barang lain, barang yang masih dalam proses (work in process), dan barang-barang jadi yang belum sempat dijual. Seperti yang disebut di atas, yang juga termasuk dalam increase in stock ini antara lain ialah penambahan ternak yang dipelihara untuk dipotong. 5. Ekspor Netto Ekspor netto di sini berarti selisih antara ekspor dan impor dari barang dan jasa. Ekspor barang dan jasa meliputi ekspor barang-barang yang dijual ke luar negeri dan antar propinsi, dimana termasuk di dalamnya barang-barang dagangan (merchandise), jasa-jasa transpor, asuransi, dan jasa-jasa lain. Begitu pula untuk impor termasuk barang-barang dagangan dan jasa-jasa lain yang dibeli dari luar negeri dan propinsi lainnya. Juga pengeluaran/pemasukan barang yang bersifat pemberian/hadiah ke/dari negara-negara lain dan barang-barang yang diekspor/impor dengan dibiayai oleh uang yang diperoleh dari transfer antar negara. Tetapi kalau pengeluaran/pemasukan barang yang bersifat hadiah/pemberian ini dimaksudkan untuk keperluan militer tidak termasuk dalam item ekspor/impor ini.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 10

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

2.2

Metode Pendekatan Pendekatan dari segi pengeluaran bertitik tolak pada penggunaan akhir

dari barang dan jasa di dalam wilayah provinsi. Jadi produk domestik regional dihitung dengan cara menghitung berbagai komponen pengeluaran akhir yang membentuk produk domestik regional tersebut. Secara umum pendekatan pengeluaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut : a) Melalui pendekatan penawaran yang terdiri dari metode arus barang, metode penjualan eceran, dan metode penilaian eceran. b) Melalui pendekatan permintaan yang terdiri dari pendekatan survei pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, metode data anggaran belanja, metode balance sheet, dan metode statistik perdagangan luar negeri. Pada prinsipnya kedua cara ini dimaksudkan untuk memperkirakan komponen-komponen permintaan akhir seperti : konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto dan perdagangan antar wilayah (termasuk ekspor dan impor). 2.3 Penyajian Atas Dasar Harga Konstan Salah satu kegunaan Pendapatan Regional menurut penggunaan ialah untuk melihat perkembangan penggunaan PDRB dari tahun ke tahun. Karena adanya pengaruh inflasi, maka daya beli uang akan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berkaitan dengan hal tersebut apakah kenaikan pendapatan seseorang benar-benar naik atau tidak maka faktor inflasi ini terlebih dahulu harus dieliminir dari pendapatan. Setelah faktor inflasi dieliminir, maka

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 11

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

pendapatan yang dihasilkan akan merupakan pendapatan yang riil (real income), hingga naik turunnya pendapatan riil ini akan mencerminkan naik turunnya daya beli. Pendapatan Regional yang masih mengandung faktor inflasi disebut pendapatan regional atas dasar harga yang berlaku (at current prices). Apabila faktor inflasi sudah dieliminir, pandapatan regional disebut pendapatan regional atas dasar harga konstan (at constant prices). Untuk mendapatkan nilai atas dasar harga konstan, ada tiga metode dasar yang dapat dipakai: 1. Revaluasi Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mengalikan kuantum produksi pada tahun yang bersangkutan dengan harga pada tahun dasar. Begitu juga biaya-biaya antara dinilai dengan memakai harga pada tahun dasar pula. Dalam praktek, sangat sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan, karena mencakup komponen biaya antara yang sangat banyak, di samping data harga yang tersedia tidak dapat memenuhi semua keperluan tersebut. Oleh karena itu, biaya antara atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dari perkalian antara output atas dasar harga konstan masing-masing tahun dengan rasio (tetap) biaya antara terhadap output pada tahun dasar.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 12

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

2. Ekstrapolasi Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan

mengekstrapolasikan nilai tambah pada tahun dasar dengan menggunakan indeks kuantum dari barang-barang produksi yang bersangkutan. Bila terdapat kesulitan dalam memperoleh indeks kuantum dapat dipakai indikator lain yang ada hubungannya dengan indeks kuantum produksi itu, misalnya indeks tenaga kerja di bidang itu, indeks kuantum dari input yang dipakai, dan sebagainya. Ekstrapolasi dapat juga dilakukan terhadap output atas dasar harga konstan, kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga konstan. 3. Deflasi Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mendeflasikan nilai tambah atas dasar harga yang berlaku dengan indeks harga dari barangbarang yang bersangkutan. Indeks harga di sini dapat dipakai indeks harga perdagangan besar, harga produsen maupun harga eceran tergantung mana yang lebih sesuai. Perkiraan nilai tambah PDRB Penggunaan atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dengan cara mendeflasikan nilai tambah atas dasar harga berlaku dengan indeks harga yang sesuai. Misalnya indeks harga yang sesuai untuk masing-masing komponen tersebut adalah indeks harga konsumen untuk konsumsi rumah tangga, indeks harga perdagangan besar untuk konsumsi

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 13

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

pemerintah dan perdagangan antar daerah, dan indeks harga perdagangan besar barang-barang investasi untuk pembentukan modal tetap bruto.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 14

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

BAB III PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO MENURUT PENGGUNAAN

3.1

Pendahuluan Pendapatan Regional menurut penggunaannya dapat memperlihatkan

komposisi penggunaan barang dan jasa, baik yang dihasilkan di dalam wilayah maupun yang dihasilkan di luar wilayah untuk memenuhi permintaan akhir. Sedangkan yang dimaksud dengan permintaan akhir adalah komponen yang terdiri dari : 1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga. 2. Pengeluaran konsumsi lembaga swasta nirlaba. 3. Pengeluaran konsumsi pemerintah. 4. Pembentukan modal tetap bruto. 5. Perubahan stok. 6. Ekspor netto.

Ditinjau dari segi penyediaannya, maka barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi permintaan akhir seperti tersebut di atas berasal dari produk domestik serta impor. Secara ringkas dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut : Y + M = C + If + Is + E

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 15

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

dalam hal ini :

Y = Produk Domestik M = Impor C = Konsumsi Rumah tangga, pemerintah dan lembaga swasta yang tidak mencari untung If Is E = Pembentukan Modal Tetap Bruto = Perubahan Stok = Ekspor

Jika yang dihitung adalah Produk Domestik, maka dari persamaan tersebut di atas dapat diturunkan menjadi : Y Y dalam hal ini : I EM = = = = C + If + Is + E M C + I + (E M) If + Is = Investasi

Ekspor Netto

Berdasarkan persamaan terakhir ini Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut penggunaan digolongkan menjadi tiga komponen besar yaitu : a. Untuk konsumsi yang meliputi : Konsumsi Rumah tangga Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi Pemerintah

b. Untuk pembentukan modal, meliputi : Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Stok barang jadi, setengah jadi, dan bahan mentah
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 16

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

c. Untuk penggunaan di luar wilayah netto : Ekspor ke luar negeri dan luar wilayah, dikurangi Impor dari luar negeri dan luar wilayah Penghitungan komponen-komponen di atas memerlukan berbagai macam data dari berbagai sumber. Mengingat keterbatasan data yang tersedia, maka dalam publikasi ini tidak ditampilkan perbedaan antara PDRB termasuk migas dengan PDRB yang tanpa migas, melainkan hanya ditampilkan secara keseluruhan pada semua aspek yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat. 3.2 3.2.1 Komponen - Komponen Permintaan Akhir Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Pengeluaran konsumsi rumah tangga mencakup semua pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa dikurangi penjualan netto barang bekas dan sisa/afkiran. Dalam hal barangbarang yang mempunyai kegunaan ganda di samping untuk keperluan rumah tangga juga digunakan sebagai penunjang dalam kegiatan usaha rumah tangga, maka pembelian dan biayabiaya dialokasikan secara proporsional terhadap masing-masing kegiatan. Metode estimasi yang digunakan dalam memperkirakan besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga dilakukan melalui metode langsung yang didasarkan pada hasil survei pengeluaran konsumsi rumah tangga yang dilaksanakan dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Data pokok yang digunakan bersumber dari hasil Susenas yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik di seluruh wilayah Papua Barat tahun 2010. Konsumsi rumah tangga hasil Susenas tersebut meliputi :
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 17

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

1. Makanan, Minuman dan Tembakau, baik yang dimasak di rumah maupun makanan jadi 2. Perumahan, Bahan Bakar, Penerangan, dan Air 3. Barang-barang dan Jasa 4. Pakaian, Alas Kaki dan Tutup Kepala 5. Barang-barang Tahan Lama 6. Pajak Pemakaian dan Premi Asuransi 7. Keperluan Pesta Upacara

Data

konsumsi

rumah

tangga

hasil

Susenas

masing-masing

dinyatakan selama periode satu minggu untuk kelompok bahan makanan dan selama satu bulan untuk kelompok bukan bahan makanan. Oleh karenanya untuk estimasi selama satu tahun dipergunakan beberapa asumsi sebagai berikut: Untuk bahan makanan : Konsumsi per kapita sebulan diperkirakan sama dengan 30/7 kali konsumsi seminggu. Sedangkan konsumsi per kapita setahun sama dengan 12 kali konsumsi sebulan. Untuk bukan bahan makanan : Konsumsi per kapita setahun sama dengan 12 kali konsumsi per kapita sebulan.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 18

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Setelah perkiraan konsumsi rumah tangga per kapita per jenis barang selama satu tahun diperoleh, maka untuk memperkirakan konsumsi pada tahuntahun lainnya dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut : C(n + 1) = Cn + (b. dpt. Cn)

Dalam hal ini: C(n+1) Cn dpt = Rata-rata konsumsi (kuantum) per kapita per bulan pada tahun ke (n + 1) Rata-rata konsumsi (kuantum) per kapita per bulan pada tahun ke-n Perubahan pendapatan per kapita harga konstan tahun ken terhadap tahun ke (n + 1) Koefisien elastisitas

Berdasarkan formulasi di atas diasumsikan bahwa konsumsi per kapita tergantung besarnya koefisien elastisitas (b) atau tingkat kecenderungan mengkonsumsi suatu barang atau jasa apabila pendapatannya bertambah. Untuk mendapatkan nilai (b) ini dipakai analisa regresi silang (cross regression analysis), dimana pengeluaran konsumsi per kapita menurut kelompok pengeluaran dikorelasikan dengan pendapatan per kapita. Pada hakekatnya ada jenis komoditi yang tidak akan bertambah banyak konsumsinya walau pendapatan seseorang bertambah, bahkan mungkin berkurang. Jenis komoditi ini dikatakan inferior untuk seseorang, seperti ketela pohon, jagung, dan lain-lain, sebab jika pendapatan seseorang naik dia
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 19

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

cenderung akan mensubstitusikan komoditi-komoditi tersebut dengan komoditi lainnya seperti terigu, roti dan lain-lain sejenisnya. Akan tetapi sebaliknya ada pula komoditi yang dikatakan superior seperti minuman botol, makanan dalam kaleng dan sebagainya. Jenis komoditi ini pada umumnya akan semakin banyak dikonsumsi apabila pendapatan seseorang bertambah. . 1. Kelompok Bahan Makanan Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa untuk mendapatkan besarnya koefisien elastisitas (b) digunakan untuk persamaan regresi dengan memakai fungsi eksponensial berikut : Qi = a. ( Yib ) Dalam hal ini: Qi Yi a b = = = = Rata-rata konsumsi per kapita per bulan (kwantum) Pendapatan per kapita sebulan Konstanta Koefisien Elastisitas

Untuk menyederhanakan perhitungan, persamaan eksponensial tersebut dibuat dalam bentuk linier dengan melogaritmakan : Qi Log Qi = = a ( Yib ) log a + b log Yi

Sebelum digunakan untuk mengestimasi, dilakukan pengujian terhadap nilai koefisien (b) ini untuk meyakinkan apakah koefisien ini
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 20

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

dapat dipakai atau tidak. Nilai koefisien (b) dipakai kalau nilai koefisien (b) signifikan dan mempunyai koefisien yang tinggi (mendekati satu). Setelah nilai koefisien (b) diperoleh dan nilai keabsahannya dapat diterima, maka konsumsi pada tahun-tahun lainnya yang tidak ada surveinya dapat diperkirakan dengan menggunakan formulasi seperti yang telah diuraikan di atas, yaitu : C(n + 1) = Cn + (b. dpt. Cn) Nilai konsumsi kelompok bahan makanan atas dasar harga yang berlaku diperoleh dengan mengalikan kuantum per jenis komoditi dengan harga rata-rata setiap jenisnya pada masing-masing tahun. Sedangkan nilai konsumsi atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan men-deflate nilai konsumsi kelompok bahan makanan atas dasar harga yang berlaku dengan indeks harga masing-masing komoditi menurut tahunnya dimana tahun 2000 = 100. 2. Kelompok Bukan Bahan Makanan Dalam memperkirakan pengeluaran bukan bahan makanan dipakai pengeluaran rata-rata per kapita sebulan dari hasil Susenas. Sedangkan untuk mengestimasi pengeluaran rata-rata per kapita sebulan pada tahuntahun lainnya digunakan indeks harga konsumen yang sesuai dengan kelompok pengeluarannya. Total pengeluaran atas dasar harga yang berlaku diperoleh dengan mengalikan pengeluaran rata-rata per kapita sebulan dengan 12 dan penduduk pertengahan tahun. Sedangkan total

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 21

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

pengeluaran atas dasar harga konstan 2000 didapatkan dengan cara mendeflate dengan indeks harga konsumen.

3.2.2

Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Lembaga Swasta Nirlaba/Non-profit (LNP) adalah lembaga formal

ataupun informal yang dibentuk oleh perorangan, kelompok masyarakat, pemerintah atau dunia usaha dalam rangka menyediakan jasa pelayanan khususnya bagi anggota maupun kelompok masyarakat tertentu tanpa adanya motivasi untuk meraih keuntungan. Secara garis besar jenis lembaga nonprofit dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu : 1. LNP yang menghasilkan Jasa Komersial LNP pada kelompok ini adalah LNP yang menjual jasa layanannya pada tingkat harga pasar, yaitu harga yang didasarkan atas biaya produksi. Jasa yang dihasilkan oleh lembaga ini berpengaruh terhadap penawaran (supply) dari jenis jasa yang dihasilkan secara keseluruhan. Bentuk LNP seperti ini dibedakan atas : 1.1 LNP yang menyediakan jasa layanannya bagi masyarakat umum seperti lembaga penyelenggaraan pendidikan dan kesehatan. 1.2 LNP yang menyediakan jasa layanannya bagi kalangan dunia usaha seperti serikat pekerja, asosiasi bisnis, kamar dagang dan sebagainya.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 22

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

2. LNP yang menghasilkan jasa nonkomersial LNP pada kelompok ini adalah LNP yang menjual jasa layanannya pada tingkat harga di bawah harga pasar, yaitu harga yang tidak didasarkan atas biaya produksi. Bahkan terkadang jasa layanan itu diberikan secara cuma-cuma. Bentuk LNP seperti ini dibedakan atas : 2.1 LNP yang kegiatan pelayanannya sebagian besar dibiayai oleh pemerintah, baik yang keberadaannya terikat (pada pemerintah) maupun tidak. Contohnya organisasi PMI, Komisi Hak Asasi Manusia, Dharma Wanita dan sebagainya. 2.2 LNP yang dibentuk dan dibiayai oleh anggota masyarakat. Lembaga ini disebut juga Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah tangga (LNPRT). Lembaga yang termasuk ke dalam LNPRT dibedakan lagi atas : 2.2.1 LNP yang menyediakan jasa layanannya khusus untuk anggota seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, lembaga keagamaan dan sebagainya. 2.2.2 LNP yang menyediakan jasa layanannya bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan seperti organisasi sosial, organisasi pemberi beasiswa dan sebagainya. Pengeluaran dari lembaga nonprofit (LNP) ini meliputi pembelian barang dan jasa, pembayaran upah gaji, penyusutan barang modal, pajak tidak langsung neto. Untuk lembaga nonprofit (LNP) yang sebagian besar dibiayai oleh pemerintah, maka lembaga ini termasuk ke dalam kegiatan pemerintah umum dan tidak termasuk ke dalam kegiatan yang dimaksud di atas. Metode estimasi
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 23

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

dilakukan secara langsung berdasarkan hasil penghitungan dari sudut lapangan usaha, dengan mengumpulkan output dari sektor jasa-jasa sosial dimana lembaga nonprofit (LNP) tersebut banyak berperan. Penghitungan atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara yang sama, yaitu berdasarkan hasil penghitungan menurut lapangan usaha/sektoral. 3.2.3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pengeluaran konsumsi pemerintah mencakup pengeluaran untuk belanja pegawai, penyusutan dan belanja barang (termasuk belanja perjalanan, pemeliharaan, dan pengeluaran lain yang bersifat rutin) baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dikurangi dengan penerimaan dari produksi barang dan jasa yang dihasilkan. Metode estimasi dilakukan melalui pendekatan langsung terhadap realisasi pengeluaran belanja pegawai dan belanja barang, baik yang bersumber dari belanja rutin maupun belanja pembangunan khususnya untuk menaksir besarnya pengeluaran konsumsi pemerintah sipil. Data diperoleh dari hasil laporan Realisasi Penerimaan dan Pengeluaran Pemerintah Daerah Tingkat I, Pemerintah Daerah Tingkat II, dan Desa. Sedangkan untuk pengeluaran konsumsi pemerintah pusat dan pertahanan (Hankam) dilakukan dengan cara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan metode alokasi dari angka nasional yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Perkiraan atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi menggunakan indeks tertimbang jumlah pegawai.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 24

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

3.2.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto Yang dimaksud dengan pembentukan modal tetap bruto adalah semua barang modal baru yang digunakan atau dipakai sebagai alat dalam proses produksi di region tersebut. Jadi barang-barang modal itu dapat diperoleh dengan cara membeli dan pengadaan baru di region tersebut atau di luar region tanpa memandang apakah barang tersebut baru atau bekas. Yang dikategorikan barang-barang modal adalah barang-barang yang mempunyai umur satu tahun atau lebih. Barang-barang yang tidak diproduksi kembali seperti tanah, cadangan mineral tidak termasuk dalam pembentukan modal tetap bruto. Akan tetapi pengeluaran untuk meningkatkan mutu dan penggunaan tanah untuk dijadikan area perkebunan, perluasan area pertambangan dan lain sebagainya merupakan pengeluaran untuk pembentukan modal tetap bruto. Pembelian atau pembuatan barang-barang tahan lama untuk keperluan militer bukan merupakan pembentukan modal tetap bruto, karena barang-barang yang digunakan militer tersebut adalah bersifat konsumtif, kecuali perumahan untuk tempat tinggal keluarga militer. Pembentukan modal tetap bruto : 1. Pembentukan modal tetap dalam bentuk bangunan atau konstruksi, yang terdiri dari: a. Bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal. b. Bangunan atau konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan, irigasi, pembangkit tenaga listrik dan jaringannya, instalasi

telekomunikasi, pelabuhan dan sebagainya. c. Perbaikan besar-besaran dari bangunan tersebut di atas.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 25

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

2. Pembentukan modal tetap dalam bentuk mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan, yang terdiri dari : a. Alat-alat transport, seperti kapal laut, kapal udara, bus, truk, motor dan sebagainya. b. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk pertanian. c. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk industri, listrik dan pertambangan. d. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk pembuatan jalan, jembatan dan sebagainya. e. Mesin-mesin dan perabot untuk perlengkapan kantor, toko, hotel, restoran dan sebagainya. 3. Perluasan perkebunan dan penanaman baru untuk tanaman keras. Yang dimaksud dengan tanaman keras di sini adalah bermacammacam tanaman yang hasilnya baru akan diperoleh setelah berumur satu tahun atau lebih. Termasuk juga di sini pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh perkebunan besar selama perkebunan itu belum mendatangkan hasil (berproduksi) dan kegiatan penanaman kembali (reboisasi) yang dilakukan oleh perusahaan pemerintah dan

pemerintah sendiri. 4. Penambahan ternak yang khusus dipelihara untuk diambil susunya atau bulunya atau untuk dipakai tenaganya dan sebagainya, kecuali ternak yang dipelihara untuk dipotong. 5. Margin perdagangan atau makelar, service charge, dan ongkosongkos pemindahan hak milik dalam transaksi jual beli tanah, sumber

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 26

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

mineral, hak pengusaha hutan, hak paten, hak cipta, barang-barang modal bekas dari luar wilayah/region. Mengingat sangat terbatasnya data mengenai pembentukan modal tetap bruto, maka dilakukan dua macam pendekatan terhadap perkiraan nilai pembentukan modal yaitu: 1. Perkiraan nilai pembentukan modal tetap yang terjadi dihitung melalui pendekatan jenis barang yang digunakan, yaitu berupa

bangunan/konstruksi, mesin-mesin dan peralatan lainnya, yang datanya bersumber dari hasil penghitungan produk domestik regional bruto sektor bangunan ditambah dengan data yang diperoleh dari Statistik Impor. 2. Sumber pembentukan modal tetap bruto lainnya diperoleh dari buku APBD provinsi dan kabupaten/kota serta Biro Perekonomian dan Penanaman Modal mengenai realisasi pembentukan modal di Papua Barat. Perkiraan nilai pembentukan modal tetap bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara deflasi menggunakan indeks harga perdagangan besar impor sebagai deflatornya. 3.2.5 Perubahan Stok Stok merupakan persediaan barang-barang yang sudah

diproduksi/dihasilkan tetapi belum digunakan, meliputi persediaan bahan mentah/bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. Perubahan stok

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 27

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

merupakan selisih antara stok akhir tahun dengan stok awal tahun. Mengingat belum tersedianya data jumlah stok, maka perkiraan nilai perubahan stok diperoleh dari selisih antara total produk domestik regional bruto menurut lapangan usaha dengan jumlah komponen penggunaan lainnya. 3.2.6 Ekspor dan Impor Kegiatan ekspor dan impor meliputi suatu transaksi yang terjadi atas suatu barang dan jasa antara penduduk suatu region dengan penduduk region lain, yang meliputi ekspor impor barang, jasa pengangkutan, jasa asuransi dan berbagai jasa lainnya seperti jasa perdagangan yang diterima oleh pedagang region tersebut yang kegiatannya mengadakan transaksi barang region tersebut. Termasuk juga transaksi dari beberapa barang dan jasa yang langsung dibeli di pasar domestik oleh bukan penduduk region tersebut dan jasa pembelian langsung di luar region oleh penduduk region tersebut. Transaksi barang dan jasa dimaksud adalah semua barang dan jasa yang melintasi batas geografis suatu region. Barang-barang yang melintasi batas geografis suatu region, akan tetapi hanya merupakan tempat persinggahan saja dalam perjalanan menuju atau kembali ke suatu tempat, barang-barang untuk peragaan, barang-barang sebagai bahan penyelidikan, barang-barang kepunyaan turis atau penumpang semuanya tidak termasuk di sini. Barang-barang keperluan pelayanan atau penerbangan yang dibeli pada waktu merapat atau mendarat di pelabuhan luar negeri atau luar region dan ikan yang langsung dijual oleh kapal-kapal penangkap ikan milik penduduk suatu region lain adalah merupakan transaksi barang dan jasa yang harus
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 28

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

dimasukkan dalam ekspor dan impor. Kegiatan ekspor dan impor dirinci sebagai berikut : a. Ekspor dan impor antar negara b. Ekspor dan impor antar daerah/pulau Sumber data dan metode estimasi yang digunakan dalam menaksir besarnya nilai ekspor dan impor adalah sebagai berikut : a. Ekspor dan impor antar negara, diperoleh langsung dari publikasi Statistik Ekspor dan Impor terbitan Badan Pusat Statistik. b. Sedangkan perkiraan nilai ekspor dan impor antar daerah/pulau dihitung dengan menggunakan angka laju pertumbuhan ekspor dan impor antar daerah/pulau pada tahun-tahun sebelumnya. Perkiraan nilai ekspor dan impor atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi dengan menggunakan indeks harga perdagangan besar umum untuk komponen ekspor dan impor antar pulau, serta Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) impor untuk antar negara.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 29

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

BAB IV TINJAUAN EKONOMI PAPUA BARAT MENURUT PENGGUNAAN TAHUN 2011

Tidak berbeda dengan perekonomian pada tahun 2010, pada tahun 2011 masih dibayangi oleh krisis keuangan negara-negara kawasan eropa serta pengaruh gejolak perekonomian yang terjadi pada tahun 2009 akibat kredit perumahan yang macet di Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan harga bahan minyak bumi dunia yang terus meningkat. Pada tahun 2011, terjadi depresiasi rupiah terhadap dollar AS namun tidak sedalam negara-negara tetangga. Kendati demikian, secara umum daya tahan perekonomian Indonesia cukup kuat untuk meredam imbas negatif global. Kekhawatiran Indonesia akan terkena imbas resesi global ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Bahkan pada tahun 2011 dinilai sebagai kondisi perekonomian terbaik sejak tahun 1998. Tercermin dari realisasi inflasi yang hanya 3,79% dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%.

Sementara perekonomian Provinsi Papua Barat tetap menunjukkan perkembangan yang positif. Apalagi ditunjang oleh produksi LNG Tangguh yang mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2010. Namun, produksi LNG Tangguh berorientasi pada ekspor LNG ke luar negeri. Ke depan LNG tangguh juga diproyeksikan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri seperti kebutuhan untuk PLN.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 30

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

4.1

Perkembangan PDRB Menurut Penggunaan Nilai tambah yang tercipta pada 9 sektor perekonomian pada PDRB

menurut lapangan usaha akan digunakan ke dalam tujuh komponen PDRB menurut penggunaan yang akan di bahas perkembangannya. Hal ini memberikan gambaran bagaimana kondisi dan kemampuan perekonomian masyarakat di Provinsi Papua Barat. Nilai PDRB yang tercipta pada tahun 2011 sebesar Rp 36.170,46 miliar. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 34,56 persen terhadap nilai PDRB pada tahun 2010 yang mencapai Rp 26.879,61 miliar.
Tabel 1. PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 - 2011 (Miliar Rupiah) 2009r) 2010*) 2011**) Komponen Penggunaan 2007 2008
(1) 1. Konsumsi Rumah Tangga 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 5. Perubahan Stok 6. Ekspor 7. Dikurangi Impor (-) PDRB Catatan:
r)

(2) 6 556.76 72.56 2 032.10 3 469.30 349.84 6 416.18 8 529.46 10 367.28

(3) 8 614.25 83.16 3 012.54 4 609.11 375.83 6 787.16 9 506.93 13 975.13

(4) 10 041.36 106.57 3 799.65 5 624.24 412.84 6 683.44 8 523.59 18 144.49

(5) 11 268.71 116.90 4 644.57 6 590.54 1 437.11 12 243.06 9 421.28 22 527.36

(6) 13 139.23 131.48 5 647.45 7 929.55 1 629.79 18 647.40 10 954.44 36 170.46

Angka diperbaiki *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

Seluruh komponen PDRB menurut penggunaan pada tahun 2011 mengalami peningkatan. Nilai komponen konsumsi meningkat 16,60 persen dari Rp 16.030,18 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp 18.918,16 miliar pada tahun 2011. Pengeluaran konsumsi rumahtangga memiliki nilai terbesar, diikuti oleh
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 31

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

konsumsi pemerintah dan lembaga swasta nirlaba. Nilai konsumsi rumahtangga pada tahun 2011 meningkat sebesar 16,60 persen dibandingkan nilai konsumsi rumahtangga pada tahun 2010. Nilai konsumsi rumahtangga mencapai Rp 13.139,23 miliar. Komponen konsumsi lembaga nirlaba meningkat sebesar 12,47 persen. Nilai konsumsi lembaga nirlaba yang tercipta sebesar Rp 131,48 miliar. Sementara nilai komponen konsumsi pemerintah meningkat sebesar 21,59 persen menjadi sebesar Rp 5.647,45 miliar dari tahun 2010. Nilai komponen PMTB menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2011. Nilai PMTB meningkat sebesar 20,32 persen dibandingkan nilai pada tahun 2010. Nilai komponen PMTB yang tercipta sebesar Rp 7.929,55 miliar. Sementara nilai ekspor juga mengalami peningkatan yang

sangat tinggi, mencapai 52,31 persen. Nilai ekspor yang terjadi sebesar Rp 18.647,40 miliar. Kenaikan ekspor tersebut terutama didorong oleh ekspor LNG. Nilai impor juga mengalami peningkatan sebesar 16,27 persen dengan nilai impor yang terjadi sebesar Rp 10.954,44 miliar. 4.2 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 menunjukkan kinerja perekonomian secara riil. Hal ini dikarenakan pengaruh faktor kenaikan harga (inflasi) sudah dieliminir dari PDRB atas dasar harga konstan. Dari sisi sektoral, PDRB ini menunjukkan kenaikan yang terjadi pada tingkat produksi. Sementara dari sisi penggunaan, PDRB ini menunjukkan kuantitas barang dan jasa yang dikonsumsi.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 32

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Dengan demikian, kinerja pada sektor riil dapat tercermin melalui penghitungan PDRB menurut penggunaan. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa sejumlah barang yang diproduksi akan sama dengan barang yang dikonsumsi. Tetapi sebenarnya tidak semua barang yang diproduksi langsung habis terpakai dalam satu waktu. Oleh karena itu, dalam PDRB menurut penggunaan terdapat komponen perubahan stok. Komponen inilah yang menunjukkan barang dan jasa yang belum dikonsumsi oleh komponen-komponen penggunaan lainnya. Pada Tahun 2011 Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat mencapai 27,22 persen.

Gambar 1. Perkembangan Pertumbuhan PDRB Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2007-2011 (Persen)

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 33

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Pertumbuhan fantastis perekonomian Provinsi Papua Barat didorong oleh produksi gas alam cair (LNG) dari BP Tangguh yang mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2010. Produksi LNG Tangguh tersebut berorientasi ekspor sehingga terlihat pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor. Komponen ekspor tumbuh 53,18 persen. Komponen PMTB tumbuh 10,85

persen. Komponen konsumsi rumah tangga tumbuh 10,04. Komponen perubahan stok tumbuh 7,68 persen. Sementara komponen konsumsi lembaga swasta nirlaba dan konsumsi pemerintah masing-masing tumbuh 7,40 persen dan 4,00. Kinerja aktivitas perdagangan Provinsi Papua Barat pada tahun 2011 mengalami ekspansi. Ekspor tumbuh sebesar 53,18 persen. Sementara impor tumbuh sebesar 8,89 persen.
Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Tahun 2007- 2011 (Persen) Komponen Penggunaan 2007 2009r) 2010*) 2008 (1) (2) (3) (4) (5) 1. Konsumsi Rumah Tangga 6.15 10.57 6.18 6.43
2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 5. Perubahan Stok 6. Ekspor 7. Dikurangi Impor (-) PDRB
r)

2011**) (6) 10.04 7.40 4.00 10.85 7.68 53.18 8.89 27.22

7.59 15.61 5.53 2.24 0.18 1.47 6.95

5.30 12.38 3.04 -0.38 -6.98 -4.03 7.84

19.91 7.42 4.90 -11.04 -25.92 -23.74 7.02

5.57 15.20 7.73 240.26 41.11 3.80 26.82

Catatan: Angka diperbaiki *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 34

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

4.3

Struktur Perekonomian Provinsi Papua Barat Struktur perekonomian berdasarkan PDRB menurut penggunaan

menggambarkan bagaimana distribusi pendapatan (nilai tambah) yang tercipta digunakan dalam kegiatan ekonomi. Struktur tersebut terlihat dari kontribusi setiap komponen terhadap PDRB menurut penggunaan. Konsumsi rumahtangga masih memegang peranan yang sangat besar dalam perekonomian Papua Barat. Kontribusi yang diberikan komponen konsumsi rumahtangga dalam PDRB menurut penggunaan tahun 2011 mencapai 36,33 persen. Kontribusi PMTB sebesar 21,92 persen. Sementara kontribusi ekspor mencapai 51,55 persen. Sedangkan kontribusi impor, sebagai komponen pengurang, memberikan kontribusi sebesar 30,29 persen dengan demikian net ekspor mencapai 21,27% dari total PDRB penggunaan tahun 2011.
Gambar 2. Distribusi PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan Tahun 2011 (Persen)

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 35

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

4.4

PDRB Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan

4.4.1 Konsumsi Rumah Tangga Sebagaimana telah disebutkan pada bagian sebelumnya, konsumsi rumahtangga memiliki kontribusi paling besar terhadap PDRB menurut penggunaan. Dengan nilai konsumsi mencapai Rp 13.139,23 miliar, konsumsi rumahtangga mempunyai kontribusi sebesar 36,33 persen. Sementara dari sisi kuantitas barang dan jasa yang dikonsumsi, konsumsi rumah tangga tumbuh 10,04 persen. Konsumsi rumah tangga terbagi menjadi dua macam konsumsi yaitu konsumsi makanan dan konsumsi bukan makanan.
Tabel 3. Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Berlaku dan Kontribusinya dirinci menurut Konsumsi Makanan dan Konsumsi Bukan Makanan Provinsi Papua Barat Tahun 2007- 2011 Makanan Bukan Makanan Total Tahun Nilai Kontribusi Nilai Kontribusi Nilai Kontribusi (Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen) (1) (2) (3) (5) (6) (5) (6)

2007 2008 2009 r) 2010*) 2011** Catatan:


r) )

4 550.00 6 003.69 6 945.25 7 786.99 9 012.71

43.89 42.96 40.35 34.57 24.92

2 006.76 2 610.56 3 096.11 3 481.72 4 126.52

19.36 18.68 17.99 15.46 11.41

6 556.76 8 614.25 10 041.36 11 268.71 13 139.23

63.24 61.64 58.33 50.02 36.33

Angka Diperbaiki *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

Nilai konsumsi makanan pada tahun 2011 mencapai Rp 9.012,71 miliar. Konsumsi tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,74 persen dibandingkan konsumsi pada tahun 2010. Berdasarkan nilai konsumsi yang tercipta, konsumsi

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 36

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

makanan memberikan kontribusi sebesar 24,92 persen. Dari sisi kuantitasnya, konsumsi makanan tumbuh sebesar 9,45 persen. Nilai konsumsi bukan makanan pada tahun 2011 mencapai Rp 4.126,52 miliar. Dengan nilai konsumsi tersebut, konsumsi bukan makanan memberikan kontribusi sebesar 11,41 persen. Sementara dari sisi kuantitasnya, konsumsi bukan makanan tumbuh 11,31 persen.

Tabel 4. Nilai Konsumsi Rumahtangga ADH Konstan 2000 dan Laju Pertumbuhan dirinci menurut Konsumsi Makanan dan Konsumsi Bukan Makanan Provinsi Papua Barat Tahun 2007 -2011

Tahun (1) 2007 2008 2009r) 2010*) 2011**) Catatan:


r)

Makanan Bukan Makanan Total Nilai Pertumbuhan Nilai Pertumbuhan Nilai Pertumbuhan (Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen) (Miliar Rupiah) (Persen) (2) (3) (5) (6) (5) (6) 2 328.95 2 584.23 2 761.26 2 931.53 3 208.49 6.14 10.96 6.85 6.17 9.45 1 106.32 1 213.99 1 271.55 1 360.56 1 514.45 6.17 9.73 4.74 7.00 11.31 3 435.27 3 798.22 4 032.81 4 292.09 4 722.94 6.15 10.57 6.18 6.43 10.04

Angka Diperbaiki *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa tingkat konsumsi masyarakat Papua Barat sangat tinggi. Konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan makanan masih dominan. Hal ini terlihat jika konsumsi rumahtangga didistribusikan terhadap konsumsi makanan dan bukan makanan. Sekitar 24,92 persen dari konsumsi rumahtangga digunakan untuk konsumsi makanan. Sementara konsumsi bukan makanan hanya sekitar 11,41 persen. Namun jika dilihat dari
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 37

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

tingkat pertumbuhannya, pertumbuhan konsumsi non makanan justru cenderung lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai meningkatkan porsi pengeluarannya terhadap pembelian barang-barang dan jasa pelengkap.
Gambar 3. Distribusi Konsumsi Rumahtangga Menurut Jenisnya Tahun 2011 (Persen)

4.4.2 Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi lembaga swasta nirlaba pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 12,47 persen. Nilai konsumsi lembaga swasta nirlaba yang tercipta sebesar Rp 131,48 miliar. Dengan nilai tambah tersebut komponen ini memberikan kontribusi sebesar 0,36 persen terhadap PDRB.
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 38

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Jika dilihat atas dasar harga konstan, konsumsi lembaga swasta nirlaba mengalami pertumbuhan sebesar 7,40 persen. Pertumbuhan ini lebih besar dibandingkan pertumbuhan yang terjadi pada tahun 2010 yang mencapai 5,57 persen. 4.4.3 Konsumsi Pemerintah Peranan pemerintah dalam perekonomian Papua Barat cukup besar. Hal ini terlihat dari kontribusi yang diberikan terhadap PDRB tiap tahunnya. Konsumsi pemerintah pada tahun 2011 mencapai Rp 5.647,45 miliar. Dengan nilai tersebut, konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 15,61 persen terhadap PDRB.
Tabel 5. Nilai Konsumsi Pemerintah ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan Konsumsi Pemerintah Provinsi Papua Barat Tahun 2007- 2011
Tahun (1) 2007 2008 2009
r) )

Nilai (Miliar Rupiah) (2) 2 032.10 3 012.54 3 799.65 3 799.65 5 647.45

Distribusi (Persen) (3) 19.60 21.56 21.72 19.29 15.61

Laju Pertumbuhan (Persen) (4) 15.61 12.38 7.42 15.20 4.00

2010*
r)

2011**)

Catatan: Anga Diperbaiki *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

Konsumsi pemerintah atas dasar harga konstan mengalami pertumbuhan sebesar 4,00 persen pada tahun 2011. Pertumbuhan ini lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2010 yang mencapai 15,20 persen.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 39

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

4.4.4 Pembentukan Modal Tetap Bruto Pada tahun 2011 nilai PMTB mencapai Rp 7.929,55 miliar, meningkat 20,32 persen dibandingkan nilai PMTB pada tahun 2010. Dengan nilai tambah tersebut, PMTB memberikan kontribusi sebesar 21,92 persen terhadap PDRB. Jika dilihat laju pertumbuhannya, PMTB tumbuh 10,85 persen. Pertumbuhan ini mengalami peningkatan dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2009 yang mencapai 7,73 persen.
Tabel 6. Nilai PMTB ADH Berlaku, Distribusi dan Laju Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2011 Nilai Distribusi Laju Pertumbuhan Tahun (Miliar Rupiah) (Persen) (Persen) (1) (2) (3) (4) 2007 3 469.30 33.46 5.53

2008 2009
r)

4 609.11 5 624.24 6 590.54 7 929.55

32.98 31.00 24.52 21.92

3.04 4.90 7.73 10.85

2010*) 2011**) Catatan:


r)

Angka Diperbaiki *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

4.4.5 Perubahan Stok Pada tahun 2011 perubahan stok mengalami pertumbuhan positif mencapai 11,82 persen yaitu dari Rp 1.437 Millyar pada tahun 2010 menjadi 1,629 Milyar pada tahun 2011. Sementara pada tahun sebelumnya terjadi pertumbuhan stok sebesar 240,26 (apa tidak keliru angkanya) persen dari tahun 2009 ke 2010.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 40

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

4.4.6 Ekspor dan Impor Transaksi ekspor 2011 menunjukkan peningkatan dibandingkan transaksi selama tahun 2010. Nilai ekspor pada tahun 2011 mencapai Rp 18.647,39 miliar. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 51,55 persen terhadap nilai ekspor pada tahun 2010 yang mencapai Rp 12.243,06 miliar. Sementara pertumbuhan ekspor mencapai 52,31 persen pada tahun 2011.
Tabel 7. Nilai Ekspor dan Impor ADH Berlaku, Distribusi, dan Laju Pertumbuhan Ekspor dan Impor Provinsi Papua Barat Tahun 2007- 2011

Tahun (1) 2007 2008 2009r) 2010*


)

Nilai (Miliar Rupiah) Ekspor Impor (2) (3) 6 416.18 6 787.16 6 683.44 12 243.06 18 647.40 8 529.46 9 506.93 8 523.59 9 421.28 10 954.44

Distribusi (Persen) Ekspor Impor (4) (5) 61.89 48.57 36.83 45.55 51.55 82.27 68.03 46.98 35.05 30.29

Laju Pertumbuhan (Persen) Ekspor Impor (6) (7) 0.18 5.78 - 1.53 83.19 52.31 1.47 11.46 - 10.34 10.53 16.27

2011**) Catatan:
r)

Angka Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

Apabila ekspor dirinci menurut daerah tujuannya, pada tahun 2011 nilai ekspor ke luar negeri lebih besar dibandingkan ekspor antar provinsi. Ekspor luar negeri mencapai Rp 15.932,2 miliar. Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 37,43 persen terhadap ekspor luar negeri pada tahun 2010. Sementara ekspor antar propinsi mencapai Rp 2.715,19 miliar atau naik sebesar 16,22 persen terhadap ekspor antar provinsi pada tahun 2010. Apabila dilihat laju pertumbuhannya, ekspor luar negeri tumbuh 59,83 persen sedangkan ekspor antar propinsi tumbuh 19,37 persen terhadap keadaan pada tahun 2010. Pertumbuhan ekspor pada 2010 lebih didorong oleh ekspor LNG.
PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 41

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Nilai impor pada tahun 2011 mencapai Rp 10.954,44 miliar. Nilai tersebut meningkat 13,99 persen dibandingkan impor pada tahun 2010 yang mencapai Rp 9.421,28 miliar.

Apabila dirinci menurut daerah asal barang, impor antar provinsi lebih besar dibandingkan impor luar negeri. Nilai impor antar provinsi mencapai Rp 10.882,96 miliar, naik 13,46 persen terhadap nilai impor pada tahun 2010. Sementara nilai impor luar negeri mencapai Rp 71,48 miliar atau naik sebesar 95,96 persen terhadap impor luar negeri pada tahun 2010.

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 42

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Lampiran 1. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Jutaan Rupiah)
PENGGUNAAN (1) 2007 (2) 2008 (3) 2009r) (4) 2010**) (5) 2011***) (6)

ATAS DASAR HARGA BERLAKU


1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB Catatan : r) Angka Yang Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara 3,435,271.35 2,328,954.87 1,106,316.48 34,818.25 1,023,698.59 1,734,781.02 219,602.26 3,348,401.93 2,659,779.00 688,622.93 3,862,257.58 73,374.00 3,788,883.58 5 934 315.82 3,798,224.88 2,584,230.09 1,213,994.79 36,664.46 1,150,416.23 1,787,497.44 218,762.59 3,114,590.73 2,420,803.21 693,787.52 3,706,628.07 6,811.08 3,699,817.00 6 399 528.24 4,032,812.48 2,761,259.21 1,271,553.28 43,965.59 1,235,776.53 1,875,045.94 195,608.72 2,730,361.69 1,953,960.76 776,400.93 2,826,593.71 1,022.77 2,825,570.94 7 286 977.24 4,292,091.43 2,931,534.71 1,360,556.71 46,413.98 1,423,568.75 2,019,927.40 665,584.12 3,852,786.53 3,118,000.07 734,786.46 2,933,964.71 1,325.42 2,932,639.29 9 366 407.50 4,722,941.50 3,208,488.63 1,514,452.88 49,850.87 1,480,563.47 2,239,124.81 716,678.88 5,901,860.27 5,107,915.75 793,944.53 3,194,886.10 32,500.02 3,162,386.07 11 916 133.71 6,556,761.43 4,549,998.73 2,006,762.70 72,563.15 2,032,097.74 3,469,303.24 349,837.46 6,416,179.41 4,848,953.63 1,567,225.78 8,529,463.74 105,059.40 8,424,404.34 10 367 278.69 8,614,250.23 6,003,687.52 2,610,562.71 83,157.66 3,012,538.06 4,609,112.13 375,834.33 6,787,164.93 4,930,770.49 1,856,394.44 9,506,930.83 16,751.60 9,490,179.23 13 975 126.50 10,041,359.40 6,945,253.20 3,096,106.19 106,567.80 3,799,650.91 5,624,236.48 412,835.13 6,683,435.46 4,574,895.87 2,108,539.60 8,523,592.20 2,464.37 8,521,127.83 18 144 492.99 11,268,707.07 7,786,986.95 3,481,720.12 116,900.20 4,644,574.96 6,590,543.06 1,437,110.84 12,243,061.04 9,968,484.26 2,274,576.78 9,421,284.56 2,884.21 9,418,400.35 26 879 612.63 13,139,227.83 9,012,707.02 4,126,520.81 131,483.48 5,647,447.69 7,929,545.84 1,629,794.77 18,647,399.49 15,932,203.32 2,715,196.17 10,954,443.40 71,478.24 10,882,965.16 36 170 455.69

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 43

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Lampiran 2. Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
PENGGUNAAN (1) ATAS DASAR HARGA BERLAKU 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB Catatan : r) Angka Yang Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara 57.89 39.25 18.64 0.59 17.25 29.23 3.70 56.42 44.82 11.60 65.08 1.24 63.85 100.00 59.35 40.38 18.97 0.57 17.98 27.93 3.42 48.67 37.83 10.84 57.92 0.11 57.81 100.00 55.34 37.89 17.45 0.60 16.96 25.73 2.68 37.47 26.81 10.65 38.79 0.01 38.78 100.00 45.82 31.30 14.53 0.50 15.20 21.57 7.11 41.13 33.29 7.84 31.32 0.01 31.31 100.00 39.63 26.93 12.71 0.42 12.42 18.79 6.01 49.53 42.87 6.66 26.81 0.27 26.54 100.00 63.24 43.89 19.36 0.70 19.60 33.46 3.37 61.89 46.77 15.12 82.27 1.01 81.26 100.00 61.64 42.96 18.68 0.60 21.56 32.98 2.69 48.57 35.28 13.28 68.03 0.12 67.91 100.00 55.34 38.28 17.06 0.59 20.94 31.00 2.28 36.83 25.21 11.62 46.98 0.01 46.96 100.00 41.92 28.97 12.95 0.43 17.28 24.52 5.35 45.55 37.09 8.46 35.05 0.01 35.04 100.00 36.33 24.92 11.41 0.36 15.61 21.92 4.51 51.55 44.05 7.51 30.29 0.20 30.09 100.00 2007 (2) 2008 (3) 2009r) (4) 2010**) (5) 2011***) (6)

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 44

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Lampiran 3.

Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
2007 (2) 2008 (3) 2009r) (4) 2010**) (5) 2011***) (6)

PENGGUNAAN (1) ATAS DASAR HARGA BERLAKU 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB Catatan : r) Angka Yang Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

267.04 267.45 266.13 363.94 443.06 281.42 197.70 239.56 253.15 205.43 278.34 64.10 290.45 261.96

350.84 352.90 346.21 417.07 656.83 373.87 212.39 253.41 257.43 243.33 310.24 10.22 327.19 353.12

408.96 408.24 410.60 534.49 828.45 456.22 233.30 249.54 238.85 276.38 278.15 1.50 293.78 458.47

458.95 457.72 461.74 586.31 1012.67 534.60 812.14 457.12 520.44 298.15 307.45 1.76 324.72 679.19

535.13 529.77 547.25 659.45 1231.33 643.21 921.03 696.24 831.79 355.90 357.48 43.61 375.21 913.95

139.91 136.90 146.72 174.63 223.20 140.72 124.10 125.02 138.86 90.26 126.04 44.77 130.63 149.95

154.69 151.90 161.00 183.89 250.83 144.99 123.63 116.29 126.39 90.94 120.96 4.16 127.56 161.70

164.25 162.31 168.63 220.51 269.44 152.10 110.54 101.94 102.01 101.77 92.24 0.62 97.42 184.13

174.81 172.32 180.43 232.79 310.38 163.85 376.13 143.85 162.79 96.31 95.74 0.81 101.11 236.67

192.36 188.59 200.84 250.02 322.81 181.63 405.01 220.36 266.67 104.07 104.26 19.83 109.03 301.09

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 45

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Lampiran 4.

Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
2007 (2) 2008 (3) 2009r) (4) 2010**) (5) 2011**) (6)

PENGGUNAAN (1) ATAS DASAR HARGA BERLAKU 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB Catatan : r) Angka Yang Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

12.91 13.75 11.05 13.02 20.35 9.81 6.08 3.79 8.04 - 7.48 2.95 - 36.40 3.75 15.89

31.38 31.95 30.09 14.60 48.25 32.85 7.43 5.78 1.69 18.45 11.46 - 84.06 12.65 34.80

16.57 15.68 18.60 28.15 26.13 22.02 9.84 - 1.53 - 7.22 13.58 - 10.34 - 85.29 - 10.21 29.83

12.22 12.12 12.45 9.70 22.24 17.18 248.11 83.19 117.90 7.87 10.53 17.04 10.53 48.14

16.60 15.74 18.52 12.47 21.59 20.32 13.41 52.31 59.83 19.37 16.27 2,378.26 15.55 34.56

6.15 6.14 6.17 7.59 15.61 5.53 2.24 0.18 2.44 - 7.70 1.47 - 49.67 3.50 6.95

10.57 10.96 9.73 5.30 12.38 3.04 - 0.38 - 6.98 - 8.98 0.75 - 4.03 - 90.72 - 2.35 7.84

6.18 6.85 4.74 19.91 7.42 4.90 - 10.58 - 12.34 - 19.28 11.91 - 23.74 - 84.98 - 23.63 13.87

6.43 6.17 7.00 5.57 15.20 7.73 240.26 41.11 59.57 - 5.36 3.80 29.59 3.79 28.54

10.04 9.45 11.31 7.40 4.00 10.85 7.68 53.18 63.82 8.05 8.89 2,352.05 7.83 27.22

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 46

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Lampiran 5. Indeks Berantai Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan (Persen)
PENGGUNAAN (1) ATAS DASAR HARGA BERLAKU 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. PMTB 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB Catatan : r) Angka Yang Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara 106.15 106.14 106.17 107.59 115.61 105.53 102.24 100.18 102.44 92.30 101.47 50.33 103.50 106.95 110.57 110.96 109.73 105.30 112.38 103.04 99.62 93.02 91.02 100.75 95.97 9.28 97.65 107.84 106.18 106.85 104.74 119.91 106.18 104.90 88.96 74.08 65.76 103.10 76.26 15.02 76.37 107.02 106.43 106.17 107.00 105.57 107.49 107.73 342.01 142.27 160.04 102.73 103.80 129.59 103.79 126.82 110.04 109.45 111.31 107.40 104.00 110.85 107.68 153.18 163.82 108.05 108.89 2,452.05 107.83 127.22 112.91 113.75 111.05 113.02 120.35 109.81 106.08 103.79 108.04 92.52 102.95 63.60 103.75 115.89 131.38 131.95 130.09 114.60 148.25 132.85 107.43 105.78 101.69 118.45 111.46 15.94 112.65 134.80 116.57 115.68 118.60 128.15 126.13 122.02 109.84 98.47 92.78 113.58 89.66 14.71 89.79 129.83 112.22 112.12 112.45 109.70 122.24 117.18 348.11 183.19 217.90 107.87 110.53 117.04 110.53 148.14 116.60 115.74 118.52 112.47 121.59 120.32 113.41 152.31 159.83 119.37 116.27 2,478.26 115.55 134.56 2007 (2) 2008 (3) 2009r) (4) 2010**) (5) 2011**) (6)

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 47

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Lampiran 6.

Indeks Implisit Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Papua Barat Menurut Penggunaan (Persen)
2007 (2) 190.87 195.37 181.39 208.41 198.51 199.99 159.31 191.62 182.31 227.59 220.84 143.18 222.35 174.70 2008 (3) 226.80 232.32 215.04 226.81 261.87 257.85 171.80 217.92 203.68 267.57 256.48 245.95 256.50 218.38 2009r) (4) 248.99 251.52 243.49 242.39 307.47 299.95 211.05 244.78 234.13 271.58 301.55 240.95 301.57 249.00 2010**) (5) 262.55 265.63 255.90 251.86 326.26 326.28 215.92 317.77 319.71 309.56 321.11 217.61 321.16 286.98 2011***) (6) 278.20 280.90 272.48 263.75 381.44 354.14 227.41 315.96 311.91 341.99 342.87 219.93 344.14 303.54

PENGGUNAAN (1) 1. Konsumsi Rumah Tangga a. Makanan b. Bukan Makanan 2. Lembaga Swasta Nirlaba 3. Konsumsi Pemerintah 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 5. Perubahan Stok 6. Ekspor a. Luar Negeri b. Antar Propinsi 7. Dikurangi Impor (-) a. Luar Negeri b. Antar Propinsi PDRB Catatan : r) Angka Yang Diperbaiki **) Angka Sementara ***) Angka Sangat Sementara

PDRB Provinsi Papua Barat menurut Penggunaan Tahun 2011 | 48