Anda di halaman 1dari 19

AHP DALAM KELOMPOK Metode Analytical Hierarchy Process adalah salah satu metode yang digunakan untuk penyelesaian

sistem pengambilan keputusan. Ada 2 mekanisme yang digunakan dalam penghitungan AHP di antaranya menggunakan metode konvensional (manual), baik itu menggunakan normalisasi ataupun tidak, dan menggunakan perangkat lunak, seperti expert choice. Penelitian ini akan membahas penghitungan AHP secara manual dan menggunakan expert choice, untuk mendapatkan hasil keputusan yang konsisten (inconsistency = 0,00). Kesalahan biasanya terjadi pada penentuan bobot dan proses membandingkan secara berpasangan. 2.1.4 AHP (Analytical Hierarchy Process) Menurut Turban, Analytic Hierarchy Process (AHP) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty berguna membantu pengambil keputusan untuk mendapat keputusan terbaik dengan membandingkan faktor-faktor yang berupa kriteria. AHP memungkinkan pengambil keputusan untuk menghadapi faktor yang nyata dan faktor yang tidak nyata. Dengan AHP, seseorang dapat mengatur pendapat dan intuisi dengan cara logika menggunakan hierarki dan memasukkan penilaian berdasarkan pengertian dan pengalaman. Pendekatan ini dapat menerima faktor ketidakpastian dan mengijinkan perubahan sehingga individu dan kelompok bisa menghadapi semua persoalan. Jawaban yang dihasilkan dapat dites untuk sensitivitas merubah penilaian. Masalah dipecahkan menjadi unsur-unsur pokok yang lebih kecil sehingga pembuat keputusan hanya membuat penilaian perbandingan yang lebih sederhana melalui hierarki untuk sampai kepada seluruh prioritas alternatif tindakan. 2. Landasan Teori 2.1 Konsep Sistem Pendukung Keputusan Menurut Mat dan Watson, Sistem Penunjang Keputusan (SPK) merupakan suatu sistem interaktif yang membantu pengambilan keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang

sifatnya semi terstruktur dan tidak terstruktur. Sedangkan menurut Moore dan Chang, SPK adalah sistem yang dapat dikembangkan, mampu mendukung analisis data dan pemodelan keputusan, berorientasi pada perencanaan masa mendatang, serta tidak bisa direncanakan interval (periode) waktu pemakaiannya. Bonezek, Hosapple dan Whinston mendefinisikan SPK sebagai suatu sistem yang berbasiskan komputer yang terdiri dari 3 komponen yang berinteraksi satu dengan yang lainnya, yaitu: 1. Language system, adalah suatu mekanisme untuk menjembatani (interface) pemakai dan komponen lainnya. 2. Knowledge system, adalah repositori pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tertentu baik berupa data maupun prosedur. 3. Problem processing system, adalah sebagai penghubung kedua komponen lainnya, berisi satu atau beberapa kemampuan manipulasi atau menyediakan masalah secara umum, yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. 2.1.1 Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan Karakteristik dari Sistem Pendukung Keputusan yang membedakan dari sistem informasi lainnya adalah: 1. SPK dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang sifatnya semi terstruktur ataupun tidak terstruktur. 2. Dalam proses pengolahannya, SPK mengkombinasikan penggunaan modelmodel/teknik-teknik analisis dengan teknik pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari/interogasi informasi. 3. SPK dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan/dioperasikan dengan mudah oleh orang-orang yang tidak

memiliki dasar kemampuan pengoperasian komputer yang tinggi. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan biasanya model interaktif. 4. SPK dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi. Sehingga mudah disesuaikan dengan berbagai perubahan lingkungan yang terjadi dan kebutuhan pemakai. 2.1.2 Keuntungan dan Keterbatasan Sisrem Pendukung Keputusan Sistem pendukung keputusan dapat memberikan berbagai manfaat atau keuntungan bagi pemakainya, antara lain: 1. Memperluas kemampuan pengambilan data/informasi bagi pemakainya. keputusan dalam memproses

2. Membantu pengambilan keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur. 3. Dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan. 4. Walaupun suatu Sistem Pendukung Keputusan, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya, karena sistem pendukung keputusan mampu menyajikan berbagai alternatif. 5. Dapat menyediakan bukti tambahan untuk memberikan bukti tambahan untuk memberikan pembenaran sehingga posisi pengambil keputusan.

Ada empat aksioma/asumsi dasar yang harus dipenuhi agar dapat menggunakan dan memahami metode AHP yaitu: Reciprocal Comparison, artinya pengambilan keputusan harus mampu membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Preferensi tersebut harus memnuhi

syarat resiprokal yaitu apabila A lebih disukai daripada B dengan skala X maka B lebih disukai dari A dengan skala 1/X. 7 Homogenity, artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dengan skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Jika asumsi ini tidak terpenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tidak homogeneous dan harus dibentuk suatu elemen-elemen yang baru. Independence, diasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatifalternatif yang ada tetapi dipengaruhi oleh sasaran secara keseluruhan, artinya perbandingan antar elemen-elemen dalam suatu level dipengaruhi elemen-elemen dalam level di atasnya. Expectation, tujuan pengambilan keputusan struktur hirarki diasumsikan lengkap. Adapun prinsip dasar metode AHP adalah sebagai berikut (Saaty, 1990): Decomposition, proses penguraian permasalahan faktor dan variabel sehingga diperoleh suatu hierarki. Comparative Judgement, proses penilaian kepentingan relatif terhadap elemenelemen yang terdapat dalam suatu tingkatan sehubungan dengan tingkatan di atasnya yang disajikan dalam bentuk matriks pairwaise comparison. Synthesis of Priority, setelah diperoleh skala perbandingan berpasangan, maka akan dicari suatu eigen vektor yang menunjukkan sintesis local priority pada suatu hierarki. Logical Consistency, AHP mentoleransi tingkat konsistensi sebesar kurang dari 10%, apabila lebih dari 10% maka responden dianggap tidak konsisten dalam menjawab pertanyaan maka diperbolehkan melakukan perbaikan atas penilaian yang diberikan. Matriks Pairwise, tidak ada yang bernilai 0 dan bilangan negatif sehingga dengan skala 1-9 maka syarat tersebut terpenuhi karena elemen terkecil adalah 1/9 dan terbesar 9. Arti dari angka 1 s.d. 9 dalam skala pilihan adalah sebagai berikut: Angka 1: artinya sama penting: dua hal yang diperbandingkan sama pentingnya.]

Angka 3: artinya sedikit (moderate) lebih penting: satu hal yang diperbandingkan sedikit (moderate) lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya. Angka 5: artinya lebih penting: satu hal yang diperbandingkan lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya. Angka 7: artinya sangat penting: satu hal yang diperbandingkan sangat lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya. Angka 9: artinya sangat penting: satu hal yang diperbandingkan mutlak (extreme) lebih penting dibandingkan dengan komponen lainnya. Sedangkan angka genap 2, 4, 6, 8 merupakan nilai tengah di antara dua nilai keputusan yang berdekatan. Dalam Matriks Pairwise berlaku prinsip kebalikan artinya jika untuk aktivitas I mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka aktivitas j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i. Metode pencarian data melalui survey akan dilakukan menggunakan 2 (dua) metoda, yaitu: 1. Wawancara Wawancara dilakukan untuk mengetahui informasi bagaimana pemerintah sebagai pengelola jalan yang diwakili oleh Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Banten, mengakomodasi kendala yang ada dalam penerapan PBC yang telah diindetifikasi pada model penilaian kendala. Materi wawancara merupakan penjabaran dari model penilaian kendala yang telah dikembangkan sebelumnya. Penjabaran tersebut dilakukan dalam upaya untuk memudahkan pemahaman terhadap parameter-parameter dalam model penilaian. Kriteria responden wawancara adalah pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan kontrak, seperti: Pimpinan Proyek dan Panitia Pengadaan. 2. Kuesioner Penyebaran kuesioner dilakukan untuk mengetahui dan mencari masukan dari tim ahli berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan opini mereka, tentang

tingkat/bobot kepentingan dari parameter penilaian kendala yang ada.

Analisis preferensi menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP). Adapun tahapan-tahapan mengerjakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Identifikasi sistem, yaitu mengidentifikasi permasalahan dan menentukan solusi yang diinginkan. Dalam penelitian ini permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana mengoptimalkan kinerja sistem Jaringan Transportasi Jalan (JTJ) yang mendukung pelabuhan di Kabupaten Belitung. b) Penyusunan struktur hirarki diawali dengan tujuan/sasaran umum, kriteria yang berpengaruh, pelabuhan yang menjadi sasaran dan yang terakhir adalah alternatif program. Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengoptimalkan kinerja sistem Jaringan Transportasi Jalan (JTJ) yang mendukung pelabuhan di Kabupaten Belitung (Pelabuhan Tanjungpandan dan Pelabuhan Tanjung Ru). Kriteria/variabel yang ditetapkan berdasarkan literatur yang digunakan dan menggambarkan kinerja sistem JTJ tersebut diantaranya adalah: keamanan, kenyamanan, biaya, waktu dan ketersediaan. Pelabuhan yang menjadi sasaran adalah Pelabuhan Tanjungpandan dan Pelabuhan Tanjung Ru. Solusi akhir yang diinginkan dilakukan berupa alternatif program untuk peningkatan kinerja sistem JTJ diantaranya adalah mengembangkan prasarana berupa jaringan jalan, mengembangkan sarana berupa moda angkutan dan mengembangkan system pengoperasiannya. Struktur hirarki seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut ini: Sumber: Hasil Analisis, 2009

c) Perbandingan berpasangan, yaitu menggambarkan pengaruh relative setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya. Teknik perbandingan berpasangan yang digunakan dalam AHP berdasarkan judgement atau pendapat dari para responden yang dianggap sebagai key person. Mereka terdiri dari aktor-aktor terkait sebagai ekspert diantaranya adalah aktor terkait yang berasal kelompok penyedia jasa dan kelompok pengguna jasa seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. d) Matriks pendapat individu, formulasinya dapat disajikan sebagai berikut:

Dalam hal ini C1, C2, .. Cn adalah set elemen pada satu tingkat dalam hirarki. Kuantifikasi pendapat dari hasil perbandingan berpasangan membentuk matriks n x n. Nilai aij merupakan nilai matriks pendapat hasil perbandingan yang mencerminkan nilai kepentingan Ci terhadap Cj. e) Matriks pendapat gabungan, merupakan matriks baru yang elemenelemennya (gij) berasal dari rata-rata geometrik elemen matriks pendapat individu yang nilai rasio inkonsistensinya (CR) memenuhi syarat. Tujuan dari penyusunan matrik pendapat gabungan ini adalah membentuk suatu

matrik yang mewakili matrik-matrik pendapat individu yang ada. Matriks ini selanjutnya digunakan untuk mengukur tingkat konsistensi serta vector f) prioritas dari elemen-elemen hirarki yang mewakili semua responden.

Dimana m adalah jumlah responden dan aij adalah matrik individu. g) Pengolahan horizontal, yaitu: (a) perkalian baris; (b) perhitungan vector prioritas atau vector cirri (eigen vector); (c) perhitungan akar ciri (eigen value) maksimum, dan (d) perhitungan rasio inkonsistensi. Nilai pengukuran konsistensi diperlukan untuk menghitung konsistensi jawaban responden. Pengolahan horizontal digunakan untuk menyusus prioritas elemen keputusan pada hirarki keputusan dengan empat tahapan yaitu: 1) Perkalian baris (z) dengan menggunakan rumus:

Dimana Z1 adalah vector eigen dan m adalah jumlah responden serta n adalah jumlah elemen yang dibandingkan.

2) Perhitungan vector prioritas atau vector ciri dengan menggunakan

rumus:

Dimana eVPi adalah elemen vaktor prioritas ke-i .

h) Pengolahan vertical digunakan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hirarki keputusan terhadap sasaran utama. i) Revisi pendapat dapat dilakukan apabila nilai rasio inkonsistensi pedapat cukup tinggi ( > 0,1), Beberapa ahli berpendapat jika jumlah revisi terlalu besar, sebaiknya responden tersebut dihilangkan. Jadi penggunaan revisi ini sangat terbatas mengingat akan terjadinya penyimpangan dari jawaban yang sebenanya.

Uji Validitas dan Reliabilitas sering digunakan dalam sebuah penelitian, karena dalam setiap penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data dan dalam proses pengumpulan data tersebut akan menggunakan satu atau beberapa metode. Jenis metode yang dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data, tentunya harus sesuai dengan sifat dan karakteristik penelitian yang dilakukan. Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data-data tersebut. Instrumen dapat dianalogikan sebagai ujung tombak untuk membidik data dalam sebuah penelitian. Melalui instrumenlah akhirnya terkumpul data yang nantinya diolah menjadi sebuah informasi hasil penelitian. Untuk itulah, perlu kiranya memilih dan merumuskan instrumen secara tepat. Hal ini sejalan dengan ungkapan garbage tool garbage result. Jadi, pada dasarnya salah satu hal yang mempengaruhi hasil penelitian terletak pada instrumennya. Semakin baik konstruksi sebuah instrumen, maka semakin baik pula data yang berhasil dijaring, begitu pula sebaliknya. PEMBAHASAN Sebelum diuraikan mengenai seluk beluk instrumen, maka akan diinformasikan terlebih dahulu judul buku yang dibahas dalam tugas ini, antara lain : Manajemen Penelitian (Suharsimi Arikunto), Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian (Soetarlinah Sukadji), Reliabilitas dan Validitas (Saifuddin Azwar), dan Psychological Testing (Anne Anastasi dan Susana Urbina). A. Manajemen Penelitian (Suharsimi Arikunto) 1. Validitas Instrumen (halaman 219) Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur. Ada dua jenis validitas, yaitu : a. Validitas Logis Apabila instrumen tersebut secara analisis akal sudah sesuai dengan isi dan aspek yang diungkapkan. Instrumen yang sudah sesuai dengan isi dikatakan sudah memiliki validitas isi, sedangkan instrumen yang sudah sesuai dengan aspek yang diukur dikatakan sudah memiliki validitas konstruksi.

b. Validitas Empiris 2. Reliabilitas Instrumen (halaman 220 222) Ada tiga teknik untuk menguji reliabilitas instrumen, yaitu : a. Teknik Paralel (Paralel Form Atau Alternate Form) Disebut juga teknik double test double trial. Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrumen yang paralel (ekuivalen), yaitu dua buah instrumen yang disusun berdasarkan satu kisi-kisi. Setiap butir soal dari instrumen yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut diujicobakan semua. Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil kedua instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus product moment (korelasi Pearson). b. Teknik Ulang (test re-test) Disebut juga teknik single test double trial. Menggunakan sebuah instrumen, namun diteskan dua kali. Hasil atau skor pertama dan kedua kemudian dikorelasikan untuk mengetahui besarnya indeks reliabilitas. Teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang digunakan pada teknik pertama yaitu rumus korelasi Pearson. c. Teknik Belah Dua (split halve method) 1) Disebut juga teknik single test single trial. Peneliti boleh hanya memiliki seperangkat instrumen saja dan hanya diujicobakan satu kali, kemudian hasilnya dianalisis, yaitu dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama besar. Cara yang diambil untuk membelah soal bisa dengan membelah atas dasar nomer ganjil-genap, atas dasar nomer awal-akhir, dan dengan cara undian. B. Menyusun dan Mengevaluasi Laporan Penelitian (Soetarlinah Sukadji) 1. Validitas (halaman 30 31) Validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas suatu tes tidak begitu saja melekat pada tes itu sendiri, tetapi tergantung penggunaan dan subyeknya. Validitas dipecah lagi menjadi berbagai jenis yang akan dijabarkan berikut ini : a. Validitas Isi Adalah seberapa besar derajat tes mengukur representasi isi yang dikehendaki untuk diukur. Validitas aitem berkaitan dengan apakah aitem mewakili pengukuran

dalam area isi sasaran yang diukur, dan validitas sampling adalah seberapa baik sampel isi tes mewakili keseluruhan isi sasaran yang diukur. Biasanya dinilai dengan menggunakan pertimbangan pakar. b. Validitas Konstruk/Teoretik Adalah seberapa besar derajat tes mengukur konstruk hipotesis yang dikehendaki untuk diukur. Konstruk adalah perangai yang tidak dapat diamati, yang menjelaskan perilaku. Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut. c. Validitas Konkruen Validitas ini menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama. d. Validitas Prediktif Adalah seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkap hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran. 2. Reliabilitas (halaman 31 32) Reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Reliabilitas dapat dibagi lagi menjadi : a. Reliabilitas Tes Re-Tes Adalah seberapa besar derajat skor tes konsisten dari waktu ke waktu. Reliabilitas diukur dengan menentukan hubungan antara skor hasil penyajian tes yang sama kepada kelompok yang sama, pada waktu yang berbeda. b. Reliabiltas Belah-Dua Reliabiltas ini diukur dengan menentukan hubungan antara skor dua paruh yang ekuivalen suatu tes, ang disajikan kepada seluruh kelompok pada suatu saat. Karena reliabilitas belah dua mewakili reliabilitas hanya separuh tes yang

sebenarnya, rumus Spearman-Brown dapat digunakan untuk mengoreksi koefisien yang didapat. c. Reliabilitas Rasional Ekuivalen Reliabilitas ini tidak ditentukan menggunakan korelasi tetapi menggunakan estimasi konsistensi internal. Reliabilitas ini diukur menggunakan KuderRichardson, biasanya Formula-20 (KR-20) atau Formula-21 (KR-21). Kedua rumus ini hanya dapat dipakai untuk tes yang aitem-aitemnya diskor dikotomi, yaitu benar atau salah, 0 atau 1. d. Reliabilitas Penyekor/Penilai Adalah reliabilitas dua (atau lebih) penyekor independen. Reliabilitas ini biasa ditentukan menggunakan teknik korelasi, tetapi juga dapat hanya dinyatakan dalam persentase kesepakatan. C. Reliabilitas dan Validitas (Saifuddin Azwar) 1. Validitas (halaman 45 - 53) a. Validitas Isi Merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi (dengan catatan tidak keluar dari batasan tujuan ukur) objek yang hendak diukur atau sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Selanjutnya validitas isi terbagi menjadi 2 (dua), yaitu : 1) Validitas muka (face validity) Tipe validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (appearance) tes. Apabila penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi. 2) Validitas logik (logical/sampling validity) Validitas ini menunjuk pada sejauh mana isi tes merupakan representasi dari ciriciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logik yang tinggi, suatu tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya aitem

yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Penggunaan blueprint sangat membantu tercapainya validitas logik. b. Validitas Konstrak Adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979). Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas. Dukungan terhadap adanya validitas konstrak, menurut Magnusson, dapat dicapai melalui beberapa cara antara lain : 1) Studi mengenai perbedaan diantara kelompok-kelompok yang menurut teori harus berbeda Apabila teori mengatakan bahwa antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya harus memiliki skor yang berbeda. 2) Studi mengenai pengaruh perubahan yang terjadi dalam diri individu dan lingkungannya terhadap hasil tes Apabila teori mengatakan bahwa hasil tes dipengaruhi oleh kondisi subjek dikarenakan faktor kematangan. 3) Studi mengenai korelasi diantara berbagai variabel yang menurut teori mengukur aspek yang sama Studi ini dapat diperluas dengan mengikutsertakan korelasi antara berbagai skor tes yang mengukur aspek yang berbeda. 4) Studi mengenai korelasi antaraitem atau antar belahan tes Interkorelasi yang tinggi antarbelahan dari suatu tes dapat dianggap sebagai bukti bahwa tes mengukur satu variabel satuan (unitary variable). c. Validitas Berdasar Kriteria Menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor tes dengan skor kriteria. Koefisien ini merupakan koefisien validitas bagi tes yang bersangkutan, yaitu rxy, dimana X melambangkan skor tes dan Y melambangkan skor kriteria.

Prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan dua macam validitas, yaitu : 1) Validitas prediktif, sangat penting artinya bila tes dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performansi diwaktu yang akan datang. 2) Validitas konkruen, apabila skor tes dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor termaksud merupakan koefisien validitas konkruen. 2. Reliabilitas (halaman 36 43) a. Pendekatan Tes Ulang (test-retest) Dilakukan dengan menyajikan tes dua kali pada satu kelompok subjek dengan tenggang waktu diantara kedua penyajian tersebut. Asumsi yang menjadi dasar dalam cara ini adalah bahwa suatu tes yang reliabel tentu akan menghasilkan skor~tampak yang relatif sama apabila dikenakan dua kali pada waktu yang berbeda. b. Pendekatan Bentuk Paralel Tes yang akan diestimasi reliabilitasnya harus ada paralelnya, yaitu tes lain yang sama tujuan ukurnya dan setara isi aitemnya baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa kita harus punya dua tes yang kembar. Sebenarnya, dua tes yang paralel hanya ada secara teoritik, tidak benar-benar paralel secara empirik. Untuk membuat dua tes menjadi paralel, penyusunannya haruslah didasarkan pada satu spesifikasi yang sama. Secara empirik, kemudian dua tes yang paralel itu haruslah menghasilkan mean skor dan varians yang setara dan korelasi yang juga tidak berbeda dengan suatu variabel ketiga. Hanya itulah bukti terpenuhinya sifat paralel antara dua tes yang dapat diperoleh dalam penyusunan tes. Untuk membuktikan bahwa kedua tes menghasilkan dua skor murni yang sama bagi setiap subjek serta memberikan dua varians eror yang sama sebagaimana dituntut oleh teori skor murni klasikal, tidaklah dapat dilakukan. c. Pendekatan Konsistensi Internal Dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok subjek (single trial administration). Dengan menyajikan satu tes hanya satu kali, maka problem yang mungkin timbul pada dua pendekatan reliabilitas terdahulu dapat dihindari.

Pendekatan reliabilitas konsistensi internal bertujuan melihat konsistensi antaraitem atau antarbagian dalam tes itu sendiri. Untuk itu, setelah skor setiap aitem diperoleh dari sekelompok subjek, tes dibagi menjadi beberapa belahan. Untuk melihat kecocokan atau konkordansi diantara belahan-belahan tes dilakukan komputasi statistik melalui teknik-teknik korelasi, analisis varians antarbelahan, analisis varians perbedaan skor, dan lain-lainnya. D. Psychological Testing (Anne Anastasi dan Susana Urbina) 1. Validitas (halaman 86 101) a. Prosedur Deskripsi-Isi Pada dasarnya melibatkan pengujian sistematik atas isi tes untuk menetukan apakah tes itu mencakup sampel representatif dari domain perilaku yang harus diukur. Validitas isi janganlah dikacaukan dengan validitas nominal (face validity). Validitas nominal bukanlah validitas dalam pengertian teknis; validitas ini merujuk pada apa yang nampaknya diukur. Validitas nominal berhubungan dengan apakah tes itu kelihatan valid bagi peserta tes yang mengikutinya. Validitas nominal kerap kali dapat diperbaiki dengan merumuskan kembali butirbutir soal tes dalam istilah-istilah yang nampak relevan dan masuk akal dalam lingkungan tertentu dimana tes-tes itu akan digunakan. b. Prosedur Prediksi Kriteria Prosedur validasi prediksi kriteria menunjukkan efektivitas sebuah tes untuk memprediksi kinerja seseorang dalam aktivitas-aktivitas tertentu. Ukuran kriteria yang menjadi tolak ukur validasi skor-skor tes divalidasikan bisa diperoleh pada saat yang hampir sama dengan pemberi skor tes atau setelah suatu interval ditetapkan. Validitas prediksi kriteria kerapkali digunakan dalam studi-studi validasi lokal, yang padanya efektivitas sebuah tes untuk program tertentu harus dinilai. Validitas prediksi kriteria bisa dicirikan sebagai validitas praktis sebuah tes untuk maksud tertentu. c. Prosedur Identifikasi Konstruk Validitas konstruk suatu tes adalah lingkup sejauhmana tes bisa dikatakan mengukur suatu konstruk atau sifat yang teoritis. Tiap konstruk dikembangkan

untuk menjelaskan dan mengorganisir konsistensi-konsistensi respons yang teramati. Konstruk-konstruk tersebut berasal dari hubungan-hubungan tetap antara ukuran-ukuran perilaku. Validasi konstruk membutuhkan akumulasi informasi secara bertahap dari berbagai sumber. 2. Reliabilitas (halaman 63 74) Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau di bawah kondisi pengujian yang berbeda. a. Reliabilitas Tes Retes Metode paling jelas untuk menemukan reliabilitas skor tes adalah dengan mengulang tes yang sama pada kesempatan kedua. Reliabilitas tes ulang menunjukkan sejauh mana skor pada tes dapat digeneralisasikan untuk berbagai kesempatan yang berbeda; makin tinggi reliabilitasnya, makin rentanlah skor terhadap perubahan sehari-hari yang acak dalam kondisi peserta tes atau lingkungan testing. b. Reliabilitas Bentuk Alternatif Satu cara untuk menghindari kesulitan yang ditemukan dalam reliabilitas tes dan tes ulang adalah melalui penggunaan bentuk-bentuk tes lainnya. Dengan demikian, orang yang sama bisa ditest dengan satu bentuk pada kesempatan pertama dan dengan bentuk lainnya yang ekuivalen pada kesempatan kedua. Korelasi antara skor-skor yang didapatkan pada dua bentuk itu merupakan koefisien reliabilitas tes. Perlu dicatat bahwa koefisien reliabilitas semacam itu adalah ukuran stabilitas temporal dan konsistensi respons terhadap berbagai butir soal contoh (atau bentukbentuk tes). c. Reliabilitas Belah Separuh (Split-Half Reliability) Dengan cara ini, dua skor didapatkan untuk setiap orang dengan membagi tes menjadi paruhan-paruhan yang ekuivalen. Jenis reliabilitas ini kadangkala disebut koefisien konsistensi internal, karena hanya dibutuhkan penyelenggaraan tunggal atas satu bentuk tes saja. Untuk mendapatkan reliabilitas belah-separuh, masalah pertamanya adalah bagaimana membagi tes dalam rangka mendapatkan paruhan-paruhan yang paling ekuivalen.

Efek yang akan dihasilkan pada koefisiennya dengan memperpanjang atau memperpendek sebuah tes, dapat diperkirakan dengan rumus Spearman-Brown, seperti berikut : rnn = nrtt 1 + (n 1)rtt rnn : koefisien yang diperkirakan rtt : koefisien yang diperoleh n : jumlah waktu tes diperpanjang/diperpendek Ketika diterapkan pada reliabilitas belah separuh, rumus ini selalu melibatkan penggandaan panjang tes. Dalam kondisi ini, rumus itu dapat disederhanakan sebagai berikut : rtt = 2rhh 1 + rhh

Untuk rhh adalah korelasi dari tes-tes paruhan Metode alternatif untuk mendapatkan reliabilitas belah separuh dikembangkan oleh Rulon (1939). Hanya dibutuhkan varians dari perbedaan antara skor-skor tiap orang pada dua tes-tes separuh (SDx2) dan varians skor total (SDd2) dua nilai ini disubstitusikan dalm rumus berikut, yang menghasilkan reliabilitas seluruh tes secara langsung : rtt = SDx2 SDd2 1 Menarik untuk memperhatikan hubungan rumus ini dengan varians kesalahan. Perbedaan apapun antara skor-skor seseorang pada dua tes paruhan menampilkan varians kesalahan atau varians yang tidak relevan. Varians-varians perbedaan-perbedaan ini, dibagi dengan varians skor-skor total, memberikan proporsi varians kesalahan dalam skor-skor itu. Ketika varians skor ini

dikurangkan dari 1,00, hasilnya adalah proporsi varians benar untuk penggunaan tes tertentu, yang sama dengan koefisien reliabilitas. d. Reliabilitas Kuder-Richardson dan Koefisien Alpha Metode ini didasarkan pada konsistensi respons terhadap semua butir soal dalam tes. Konsistensi antar soal ini dipengaruhi oleh dua sumber varians kesalahan : (1) pencuplikan isi (sebagaimana dalam bentuk alternatif dan reliabilitas belah separuh) ; dan (2) heterogenitas dari domain yang disampelkan. Semakin homogen domainnya, semakin tinggilah konsistensi antar soal. Dari berbagai rumus yang diturunkan dalam artikel aslinya, rumus yang paling luas diterapkan, umumnya dikenal sebagai rumus 20 Kuder-Richardson, adalah sebagai berikut : rtt = n SD t2 pq n 1 SD t2 rtt : koefisien reliabilitas seluruh tes n : jumlah soal dalam tes SDt : simpangan baku skor-skor total tes p : proporsi orang-orang yang lulus q : proporsi orang-orang yang tidak lulus pq : hasil tabulasi antara p dan q Rumus Kuder-Richardson dapat diterapkan pada tes-tes yang soal-soalnya diskor benar atau salah, atau tergantung pada suatu sistem all or none (semua atau tidak sama sekali) lainnya. e. Reliabilitas Pemberi Skor Reliabilitas pemberi skor dapat ditentukan dengan memiliki sampel lembaran tes yang diskor secara terpisah oleh dua penguji. Dengan demikian dua skor yang didapatkan oleh masing-masing peserta tes ini kemudian dikorelasikan dengan cara biasa, dan koefisien korelasi yang dihasilkannya adalah ukuran reliabilitas pemberi skor. Jenis reliabilitas ini umumnya dihitung ketika instrumen-instrumen yang diskor secara subjektif digunakan dalam riset.