Anda di halaman 1dari 4

Minggu, 25 September 2011

Afasia menurut seorang Terapis Wicara

Seorang Terapis Wicara bernama Mus dalam sebuah blognya menuliskan demikian mengenai afasia... Pengertian afasia. Kemampuan berbahasa merupakan salah satu fungsi hemisfer dominan yang mana menurut Epsir and Roses 1970 seperti dikutip Kusomoputro, bahwa diarea tersebut terdapat speech area (area wicara) yang memantau fungsi berbicara dan barbahasa yang mencakup bagian paling bawah girus presentral (daerah Broca) dan girus posentral, girus supra marginal dan angular, girus parietal inferior dan bagian atas lobus temporal (area Wernicke), Benson seperti dikutip Kusumoputro lebih menekankan sebagai language area (area bahasa) karena memang area tersebut berfungsi untuk memantau kemampuan berbahasa. (Kusumoputro, 1992) Komponen anatomik berbahasa terutama terletak pada daerah vaskularisasi arteria serebri media disekitar fisura silvii dan fisura rolandik. Suatu proses bahasa melibatkan empat regio pada hemisfer kiri, bergerak dari anterior keposterior. Jadi proses bahasa melibatkan hubungan antara area Wernicke atau posterior atau girus pertama lobus temporalis dikenal sebagai girus angularis, fasikulus arkuatus, dan area Broca atau girus frontalis bagian posterior. (Levit & Weiner, 1994) Area Wernicke terletak dekat dengan korteks auditorik primer dan mencakup pengertian terhadap rangsang auditorik sebagai bahasa dan monitor keluaran bicara. Area ini dihubungkan dengan girus angularis yang merupakan pusat integrasi sensorik dan informasi lain yang berkaitan. Asikulus arkuatus merupakan jaras massa putih menuju area Broca, dengan demikian berperan sebagai motorik dalam proses produksi bahasa. Area Broca menterjemahkan informasi yang dibawa ke pusat bahasa. (Levit & Weiner, 1994). Afasia adalah gangguan berbahasa dan pengetahuan tentang afasia disebut sebagai afasiologi. Afasiologi sudah lama dikenal. Istilah afasia sebagai istilah medik sudah dipakai sejak diusulkan oleh Trousseau pada tahun 1864. Afasia selalu dikaitkan dengan kelainan di pusat berbahasa yang berada di hemisfer otak sebelah kiri (Kusumoputro, 1992) Afasia merupakan gangguan bahasa perolehan yang disebabkan oleh cedera otak dan ditandai oleh gangguan pemahaman serta gangguan pengutaraan bahasa lisan maupun tertulis. Afasia merupakan gangguan bahasa, hal ini mengimplikasikan bahwa daya ingat non verbal dan pemikiran pada dasarnya masih tetap utuh. Seseorang dapat berpikir, tetapi pengungkapan pemikirannya melalui bahasa terganggu. (Dharmaperwira, 1993). Afasia adalah gangguan kemampuan bahasa seseorang yang disebabkan oleh kerusakan otak akibat suatu stroke (gangguan peredaran darah di otak) atau cedera kepala yang menyebabkan cedera otak yang ditandai dengan kehilangan kemampuan membuat formulasi, menyatakan dan membuat kata-kata ujaran, gangguan dalam membaca dan menulis (Kusumoputro, 1992) Afasia adalah suatu gangguan kemampuan berbahasa, penderita afasia menggunakan bahasa secara tidak tepat atau mengalami gangguan pemahaman suatu kata atau kalimat. Afasia harus dikenal secara klinis, karena hal ini menunjukan lokasi lesi pada korteks serebri. (Levit

& Wainer, 1994) Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa afasia adalah masalah yang berkaitan dengan kehilangan dan ganguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak. Dari definisi tersebut menyebutkan mengenai adanya masalah (luka dan cedera) pada otak yang nantinya letak, jenis dan besarnya luka pada otak inilah yang menentukan jenis afasia yang dialami serta derajat keparahannya. Penyebab Afasia. Penyebab afasia adalah Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO) ada beberapa penyebab terjadinya GPDO diantaranya, perdarahan karena hipertensi, tumor otak, trauma atau benturan dikepala,meningitis, emboli dan thrombosis. Pada kesempatan akan dibahas salah satu penyebab dari GPDO adalah akibat trombosois. Trombosis adalah penyumbatan pembuluh darah yang diakibatkan oleh perubahan dinding pembuluh darah dan merupakan penyebab GPDO yang paling sering terjadi, kejadian ini sering disebabkan oleh arteriosklerosis, tetapi juga oleh gangguan lain misalnya peradangan. (Dharmaperwira,1993). Thrombus dapat terbentuk beberapa menit, tetapi juga beberapa minggu. Gejala klinis bisa muncul mendadak atau bertambah berat secara perlahan. Terkadang keadaan tadi dapat didahului oleh suatu serangan penghentian aliran darah sementara, terkadang pula timbul gangguan sementara pada penglihatan, perasaan tidak seimbang, ataupun gangguan bicara dan gangguan motorik atau sensorik satu sisi. Salah satu penyebab terjadinya thrombosis adalah peningkatan kolesterol. Kolesterol dibutuhkan oleh tubuh manusia yang berfungsi untuk membungkus serabut saraf dan memelihara dinding sel. Kolesterol adalah salah satu bahan untuk menghasilkan vitamin D, hormon, dan enzim pencernaan. Jika kadar kolesterol berlebihan akan menumpuk di dinding pembuluh darah yang bila berlangsung lama akan muncul plak yang tebal pada pembuluh darah dan akan berakibat terjadinya penyumbatan. Penyumbatan bisa terjadi pada semua pembuluh darah tidak terkecuali pembuluh darah jantung dan otak. (Sutrisno 2008) Karakteristik. Secara umum karakteristik pasien afasia dapat dibedakan menjadi tiga yaitu afasia motorik dan sensoris serta gabungan antara sensoris motoris. Karakteristik afasia motorik terberat adalah penderita sama sekali tidak dapat mengeluarkan kata-kata, adakalanya hanya dapat mengucapkan ya atau heeng saja sambil mengangguk-anggukan kepala. Penderita mengalami ketidakmampuan untuk menyatakan pikiran dengan kata-kata. Penderita sadar apa yang akan diucapkan, tetapi penderita tidak mampu untuk mengucapkan kata-kata yang terkandung dalam pikiranya. Bahasa internal penderita afasia masih utuh. Umumnya kemampuan menulis kata-kata masih tidak terganggu. Pada afasia sensorik kemampuan untuk mengerti bahasa verbal dan visual terganggu tetapi kemampuan untuk secara aktif mengucapkan kata-kata dan menulis kata-kata masih ada kendatipun apa yang diucapkan tidak memiliki arti sama sekali. (Sidharta & Mardjono, 2006). Sedangkan karakterisrik yang ketiga adalah gabungan antara afasia motorik dan afasia sensoris, yaitu pasien, tidak mampu mengeluarkan kata-kata serta pasien tidak mapu untuk memahami apa yang dilihat maupun didengar.

Karekteristik berdasarkan jenis Afasia menurut Dharmaperwira, (1996) antara lain: fasia global. Memiliki karakteristik sebagai berikut: Bicara tidak lancar, pasien tidak dapat berbicara kecuali terkadang satu kalimat otomatis, tidak dapat meniru ucapan, sulit sekali mengerti bahasa orang lain, dan sama sekali tidak dapat membaca dan menulis. Afasia Broca. Memiliki ciri sulit menemukan kata dan bicara tersendat-sendat dengan kalimat yang tidak lengkap. Pada umumnya gangguan menulis setara dengan gangguan berbicara, pemahaman bahasa dan pemahaman bahasa tulis baik. Afasia transkortikal campuran. Memiliki ciri pemahaman maupun pengungkapan bahasa lisan dan tulis terganggu, pasien dapat meniru ucapan dan dapat menyelesaikan kalimat walaupun tidak mengerti artinya.

Afasia wernick. Mempunyai ciri pengertian bahasa lisan dan bahasa tulis terganggu, pasien dapat berbicara dengan lancar tetapi kata-kata yang digunakan salah atau tidak mengandung arti. Afasia transkortikal sensoris. Pengertian bahasa lisan dan tulisan sangat terganggu, pasien dapat berbicara lancar tetapi menggunakan kata-kata yang salah, kalimat-kalimat maupun kata-kata dapat diulang dengan baik walaupun tidak dapat memahaminya, gangguan menulisnya setara dengan gangguan berbicara. Afasia konduksi. Memiliki ciri yang bervariasi dari ringan sampai berat, pasien dapat berbicara dengan lancar tetapi ragu-ragu karena adanya kesulitan menemukan kata, meniru ucapan sangat terganggu, sedangkan pemahaman bahasa lebih baik. Afasia anomis. Adalah afasia yang ringan, kesulitan utama adalah menemukan kata-kata dan kesulitan memahamim kata-kata tertentu. Goodglass dan Kaplan (1972) yang dikutip Dharmaperwira (Dharmaperwira,1993) membuat klasifikasi atas dasar ciri-ciri penamaan kata, kefasihan, meniru ucapan dan pemahaman auditif. Penamaan kata pada afasia terganggu dan merupakan ciri khas untuk dapat mengidentifikasi afasia. Karakterristik dari setiap sindrom afasia dapat disimpulkan sebagai berikut: Sindrom Kelancaran perkataan Meniru Pemahaman Afasia global Tidak lancar Afasia broca Tidak lancar + Afasia transkortikal motoris Tidak lancar + + Afasia transkortikal campuran Tidak lancar + Afasia wernick Lancar Afasia transkortikal sensoris Lancar + Afasia konduksi Lancar + Afasia anomis Lancar + + Keterangan : (-) berarti aspek itu terganggu : (+) berarti aspek itu normal atau relativ tidak terganggu Dalam penulisan ini lebih menitikberatkan pada sindroma Afasia transkortikal motoris. Menurut Dharmaperwira (1993) Afasia transkortikal motoris adalah gangguan bahasa yang ditandai oleh pengurangan bahasa yang mencolok baik banyaknya maupun kompleksitasnya. Afasia transkortikal motoris terkadang dianggap juga sebagai gangguan dalam hubungan antara proses pikir dan bahasa (ketidakmampuan untuk mengalihkan pikiran kedalam kalimat) Pada kerusakan dibagian superior tidak ada perseverasi. Apabila kerusakannya akut, mulamula dapat terjadi mutisme total atau disfoni yang berat. Sesudah beberapa hari, pasien mulai berbisik dan dapat mengulang kalimat-kalimat yang panjang dan kompleks. Minggu-minggu berikutnya bicaranya akan sangat membaik. Tidak ada agramatisme Tidak ada parafasia dan artikulasinya normal. Membaca bersuara dan penamaan baik. Akan tetapi kemungkinan kekurangan impuls untuk bicara tetap ada. Apabila kerusakan mencapai premotoris yang lebih rendah atau sebagian daerah Broca, muncul disartria, pertukaran fonemis dan agramatisme. Bicaranya bisa sulit dan seperti gagap. Perbedaan antara bicara spontan dan meniru ucapan tidak begitu menonjol. Pasien dapat mengulang satu kata atau kalimat pendek, tetapi untuk kalimat yang lebih kompleks timbul perseverasi. Membaca bersuara dan menulis sepadan dengan bicara spontan. Penemuan kata terganggu. Pemahaman bahasa lisan dan tertulis biasanya baik atau cukup baik. Prevalensi. Di Indonesia, penyebab kematian utama pada semua umur adalah stroke (15,4%),

yang disusul oleh TB (7,5%), dan cedera (6,5%). Hasil Riskesdas 2007. Prevalensi stroke tertinggi Indonesia dijumpai di Nanggroe Aceh Darussalam (16,6 per 1.000 penduduk) dan terendah di Papua (3,8 per 1.000 penduduk) (Depkes, 2009). Dan sebanyak 30% penderita stroke menunjukkan gangguan bicara dan bahasa. (http://www.kesehatan.kebumenkab.go.id) Prognosis Teoritik. Prognosis tergantung pada lokasi dan luasnya lesi. Prognosis afasia global mempunyai prognosis yang buruk dan hampir tidak pernah pulih sempurna, penderita dengan afasia anomik, konduksi, afasia transkortikal mempunyai prognosis baik dan sering pulih sempurna. Prognosis penderita dengan afasia Wernick dan Broca berada diantara afasia Global dan afasia anomik, konduksi, afasia transkortikal dan menunjukan rentang keluaran yang luas. (Hartono, 1995) Metode. Metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah Intervensi Semantik Divergen, dikembangakan oleh Chapey, (1981) yang dikutip oleh Dharmaperwira dalam buku Afasia Deskripsi, pemerikasaan dan Penanganan tahun 1993. Dasar Pemikiran. Metode Intervensi Semantik Divergen baik digunakan untuk penanganan afasia ringan yang mana dalam penerapan metode lebih menekankan pada penguasaan bahasa ekspresi secara verbal dari seorang penderita afasia. Oleh sebab itu dalam penerapan metode intervensi semantik divergen tugas-tugas yang diberikan adalah memancing respon pasien untuk memberikan satu respon dari jawaban yang diberikan. Tujuan Metode. Tujuan metode intervensi semantik divergen adalah membantu pasien dalam menemukan kata secara verbal Langkah-Langkah. Dalam penanganan afasia biasanya digunakan tugas bahasa konvergen : kepada pasien diajukan suatu stimulus yang memungkinkan hanya satu jawaban, seperti menyebutkan nama suatu gambar. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, pasien afasia harus menggali sendiri bermacam ide dan kata. Dalam penanganan pasien afasia, terutama untuk melatih penemuan kata. Tugas-tugas seperti memilih kata-kata yang dimulai dengan suatu huruf tertentu, menyebutkan kemungkinan pemakaian suatu benda, menggunakan suatu kata dalam berbagai kalimat, menyebut nama benda-benda dalam satu kategori tertentu