Anda di halaman 1dari 3

TUGAS INDIVIDU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Disusun oleh: Emy Febrysani 0601040017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO 2007

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA


Di acara Nuansa Pagi RCTI hari ini, kak Seto mengunjungi dua kakak beradik Indah dan Lintang, di RSCM, mereka berdua adalah korban kekerasan dalam rumah tangga, mereka dibakar oleh ibu kandungnya yang kesal terhadap suaminya yang sering mabuk-mabukan, Indah yang menderita paling parah, luka bakarnya sampai 55%. Tangan diikat dengan ranjang agar dia tidak menggaruk-garuk luka bakarnya. Kak Seto berkomentar bahwa kekerasan rumah tangga pada umumnya akan ditanggung oleh the weakest link the family yakni anak-anak, istri ada masalah dengan suami ditumpahkan ke anak-anak, vice versa. Masalahnya kita sering gak sadar, sampai tingkat mana kekerasan terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan psikologi anak, kita mungkin merasa permisif melakukan kekerasan terhadapanak atas dasar mendidik, tapi kan sulit bagi kita untuk tahu dengan pasti apakah selain mengandung efek jera, ada efek lain yang negative. Dan tentu saja harus diingat kekerasan tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi juga dalam bentuk psikis, high tension environment, lingkungan yang gak kondusif, dialog yang gak jalan dalam rumah juga akan berpengaruh terhadap anak.

SOLUSI DAN PEMBAHASAN MASALAH


Setelah saya membaca berita ini, saya mencoba mengomentarinya atau memberikan solusi yang mungkin dapat bermanfaat bagi yang lainya, apa yang di katakan Kak Seto memang benar bahwa kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga pada umumnya itu akan ditanggung oleh anak-anaknya. Seperti contoh dua kakak beradik Indah dan Lintang yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, mereka dibakar oleh ibu kandungnya yang kesal terhadap suaminya yang sering mabuk-mabukan. Jika dilihat atau dipandang dari sudut agama, seandainya mereka memiliki iman yang kuat dan akhlaq yang baik dan berpegang teguh pada agamanya mungkin saja masalah ini dapat diatasi dengan baik dan penuh kesabaran, tidak dengan cara main pukul seenaknya, selalu marah-marah dan bahkan membakarnya, ini sangat tidak manusiawi. Oleh karena itu menurut saya salah satu langkah yang baik untuk agar kita tidak memakai cara lain pukul terhadap anak ialah dengan terus-menerus belajar tentang cara-cara yang lebih baik dan kreatif dalam mengasuh atau mendidik anak, misalnya melalui buku-buku, media massa, konsultasi dengan para ahli, dll. Dengan mengetahui berbagai macam strategi, langkah dan cara yang lebih bijaksana dalam mendidik anak, maka orang akan lebih mungkin tidak memilih cara kekerasan , walaupun sebenarnya persoalan bisa tidak sederhana itu, karena ini menyangkut juga cara pandang falsafah, pengalaman dan kebiasaan masing-masing orang. Kalau anak biasa memperoleh kasih sayang dari orang tua atau orang yang mengasuh, maka ia akan bisa juga menunjukan kasih sayangnya kepada oran lain, bukan marah-marah atau kekuatan fisik seperti memukul. Kita tentu tidak ingin anak memiliki budaya kekerasan. Selain itu, kita juga ingin menghargai anak sebagai subjek, bukan objek yang diperlakukan seenaknya. Jadi dalam hal ini agama juga berperan penting dalam terciptanya kerukunan dan kedamaian di dalam sebuah keluarga, karena didalam agama itu mengajarkan tentang kasih sayang terhadap ibu, bapak, saudara, dan orang lain. Seandainya ada masalah didalam keluarga , jika kita berpegang teguh pada agama, mungkin segala masalah tersebut dapat diatasi dengan penuh kesabaran karena didalam agama juga mengajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi suatu masalah yang berdasarkan pada Alquran dan Alhadis.