Anda di halaman 1dari 18

BAB VI

PENGUAT OPERASIONAL

Pertemuan ke- / Waktu : 10, 11 / 2 x 50 menit
Standar Kompetensi :
Mampu menganalisa rangkaian elektronika sederhana dengan dioda, transistor,
operational amplifier dan gerbang logika.
Kompetensi Dasar :
Mampu menjelaskan dan menerapkan teori dan perhitungan rangkaian operational
amplifier
Indikator :
1. Menerapkan konsep dasar penguat operasional ideal dan mengenal jenis op-amp
2. Menerapkan prosedur yang tepat dalam perhitungan penguatan pada operational
amplifier

6.1 Pendahuluan
Penguat Operasional atau disingkat Op-amp adalah merupakan satu penguat diferensial
berperolehan sangat tinggi yang terterkopel DC secara langsung dengan dilengkapi umpan balik
pada masukan untuk mengendalikan karakteristik tanggapannya secara menyeluruh. Op-amp ini
digunakan untuk membentuk fungsi-fungsi linier yang bermacam-macam atau dapat juga
digunakan untuk operasi-operasi tak linier, dan seringkali disebut sebagai rangkaian terpadu
linier dasar atau analog.
Dalam skema dasar Op-amp sebagaimana ditunjukkkan dalam gambar 6.1, dan rangkaian
penggantinya dalam gambar 6.2, sejumlah besar penguat Op-amp. memiliki sebuah masukan
diferensial dengan tegangan V
2
dan V
1
, yang diberkan secara berturut-turut terminal pembalik
(inverting) dan terminal bukan pembalik (non inverting). Perolehan antara V
0
dan V
1
positif
(bukan kebalikan, non inverting) sedangkan penguatan antara V
0
/ V
2
negatif (kebalikan,
inverting)



Gambar 6.1 Penguat Operasional dasar dan Simbol


RL
Masukan Pembalik
Masukan Non
Pembalik
-
+
V1
V2
Vo
Vi
Gambar 6.2 Model suatu rangkaian frekuensi rendah suatu penguat Op Amp. (V

= V
2
- V
1
)

6.2 Penguatan Open-loop
Op-amp idealnya memiliki penguatan open-loop (AOL) yang tak terhingga. Namun pada
prakteknya opamp semisal LM741 memiliki penguatan yang terhingga kira-kira 100.000 kali.
Sebenarnya dengan penguatan yang sebesar ini, sistem penguatan opamp menjadi tidak stabil.
Input diferensial yang amat kecil saja sudah dapat membuat outputnya menjadi saturasi. Pada
bab berikutnya akan dibahas bagaimana umpan balik bisa membuat sistem penguatan op-amp
menjadi stabil.

6.3 Unity-gain frequency
Op-amp ideal mestinya bisa bekerja pada frekuensi berapa saja mulai dari sinyal dc sampai
frekuensi GHz. Parameter unity-gain frequency menjadi penting jika op-amp digunakan untuk
aplikasi dengan frekuensi tertentu. Parameter AOL biasanya adalah penguatan op-amp pada
sinyal DC. Respons penguatan op-amp menurun seiring dengan menaiknya frekuenci sinyal
input. Op-amp LM741 misalnya memiliki unity-gain frequency sebesar 1 MHz. Ini berarti
penguatan op-amp akan menjadi 1 kali pada frekuensi 1 MHz. Jika perlu merancang aplikasi
pada frekeunsi tinggi, maka pilihlah op-amp yang memiliki unity-gain frequency lebih tinggi.

6.4 Slew rate
Di dalam op-amp kadang ditambahkan beberapa kapasitor untuk kompensasi dan mereduksi
noise. Namun kapasitor ini menimbulkan kerugian yang menyebabkan respons op-amp terhadap
sinyal input menjadi lambat. Op-amp ideal memiliki parameter slew-rate yang tak terhingga.
Sehingga jika input berupa sinyal kotak, maka outputnya juga kotak. Tetapi karena ketidak
idealan op-amp, maka sinyal output dapat berbentuk ekponensial. Sebagai contoh praktis, op-
amp LM741 memiliki slew-rate sebesar 0.5V/us. Ini berarti perubahan output op-amp LM741
tidak bisa lebih cepat dari 0.5 volt dalam waktu 1 us.

6.5 Parameter CMRR
Ada satu parameter yang dinamakan CMRR (Commom Mode Rejection Ratio). Parameter ini
cukup penting untuk menunjukkan kinerja op-amp tersebut. Op-amp dasarnya adalah penguat
diferensial dan mestinya tegangan input yang dikuatkan hanyalah selisih tegangan antara input v
1

(non-inverting) dengan input v
2
(inverting). Karena ketidak-idealan op-amp, maka tegangan
persamaan dari kedua input ini ikut juga dikuatkan. Parameter CMRR diartikan sebagai
kemampuan op-amp untuk menekan penguatan tegangan ini (common mode) sekecilkecilnya.
CMRR didefenisikan dengan rumus CMRR = ADM/ACM yang dinyatakan dengan satuan dB.
Contohnya op-amp dengan CMRR = 90 dB, ini artinya penguatan ADM (differential mode)
adalah kira-kira 30.000 kali dibandingkan penguatan ACM (commom mode). Kalau CMRR-nya
30 dB, maka artinya perbandingannya kira-kira hanya 30 kali. Kalau diaplikasikan secara real,
misalkan tegangan input v
1
= 5.05 volt dan tegangan v
2
= 5 volt, maka dalam hal ini tegangan
diferensialnya (differential mode) = 0.05 volt dan tegangan persamaan-nya (common mode)
adalah 5 volt. Pembaca dapat mengerti dengan CMRR yang makin besar maka op-amp
diharapkan akan dapat menekan penguatan sinyal yang tidak diinginkan (common mode) sekecil-
kecilnya. Jika kedua pin input dihubung singkat dan diberi tegangan, maka output op-amp
mestinya nol. Dengan kata lain, op-amp dengan CMRR yang semakin besar akan semakin baik.
LM741 termasuk jenis op-amp yang sering digunakan dan banyak dijumpai dipasaran. Contoh
lain misalnya TL072 dan keluarganya sering digunakan untuk penguat audio. Tipe lain seperti
LM139/239/339 adalah opamp yang sering dipakai sebagai komparator. Di pasaran ada banyak
tipe op-amp. Cara yang paling baik pada saat mendesain aplikasi dengan op-amp adalah dengan
melihat dulu karakteristik opamp tersebut. Saat ini banyak op-amp yang dilengkapi dengan
kemampuan seperti current sensing, current limmiter, rangkaian kompensasi temperatur dan
lainnya. Ada juga op-amp untuk aplikasi khusus seperti aplikasi frekuesi tinggi, open kolektor
output, high power output dan lain sebagainya. Data karakteristik op-amp yang lengkap, yang
ada di datasheet.

Contoh 6.1
Suatu penguat diferensial yang digunakan untuk memperkuat selisih dua isyarat masukan dari
1100 mV dan 1000 mV, (perhatikan gambar dibawah), dengan tingkat CMRR = 100. Hitunglah
peroleh tegangan diferensial dan peroleh tegangan rata-rata.
Jawab:
Fungsi selisih dua isyarat didapatkan dengan menggunakan rumus V
d
= V
1
V
2
(selisih isyarat)
Secara ideal V
o
= A
d
.V
d

Secara Riil V
o
= A
d
.V
d
+ A
c
.V
c

V
c
= (V
1
+V
2
)/2 (level rata-rata isyarat input).
A
d
= peroleh tegangan mode diferensial
A
c
= peroleh tegangan isyarat rata-rata.
Dari
V
o
= A
d
.V
d
+A
c
.V
c

V
o
= A
d
.V
d
(1 +
A
C

A
d
.
v
C
v
d
)
Dengan CMRR () =A
d
/A
c
digunakan untuk menentukan ideal tidaknya penguat diferensial.
Untuk = ~, maka V
o
~ A
d
.V
d
atau mendekati ideal.
Maka V
o
= A
d
. V
d
(1+ 1/ . V
c
/V
d
)
Dengan CMRR = 100 maka dapat disusun tabel sebagai berikut.
V
1
V
2
V
d
V
c
V
o

A. 1100 mV 1000 mV 100 mV 1050 mV A
d
.100(1.105)
B. 100 mV 0 mV 100 mV 50 mV A
d
.100(1.005)

Dari persamaan:
V
o
= A
d
.V
d
+A
c
.V
c
= A
d
(V
1
-V
2
) +Ac [(V
1
+V
2
)/2]
V
o
= (A
d
+ A
c
/2) V
1
+ (-A
d
+A
c
/2)V
2
(1)
Berdasarkan superposisi V
o
= V
o1
+V
o2

Dimana V
o1
= output penguat untuk V
2
= 0 ke ground
V
o2
= output penguat untuk V
1
= 0 ke ground
V
o
= A
1
.V
1
+A
2
.V
2
(2)
(A
1
= peroleh untuk V
2
=0, A
2
= peroleh untuk V
1
= 0)
Dari (1) dan (2)
A
1
= A
d
+ A
c
/2
A
2
= -A
d
+ A
c
/2
A
c
= A
1
+ A
2

A
d
= (A
1
-A
2
) x 0.5
= A
d
/A
c
= (A
1
-A
2
)/[2 x (A
1
+A
2
)]
cara lain
a. Dengan memberikan tegangan V
1
= V
2
= V
Dari rumus :
V
o
= A
d
.V
d
+A
c
.V
c

= 0 + A
c
.V
c

A
c
= V
o
/V
c

b. Dengan memberikan tegangan V
1
= -V
2
= V/2
Untuk V
o
= A
d
.V
d
+A
c
.V
c

V
o
= A
d
.V
A
d
= V
o
/V

6.6 Sifat Penguat Operasional Ideal
Op-amp pada dasarnya adalah sebuah differential amplifier (penguat diferensial) yang memiliki
dua masukan. Input (masukan) op-amp seperti yang telah dimaklumi ada yang dinamakan input
inverting dan non-inverting. Op-amp ideal memiliki open loop gain (penguatan loop terbuka)
yang tak terhingga besarnya. Seperti misalnya op-amp LM741 yang sering digunakan oleh
banyak praktisi elektronika, memiliki karakteristik tipikal open loop gain sebesar 104 ~ 105.
Penguatan yang sebesar ini membuat opamp menjadi tidak stabil, dan penguatannya menjadi
tidak terukur (infinite). Disinilah peran rangkaian negative feedback (umpanbalik negatif)
diperlukan, sehingga op-amp dapat dirangkai menjadi aplikasi dengan nilai penguatan yang
terukur (finite). Impedasi input op-amp ideal mestinya adalah tak terhingga, sehingga mestinya
arus input pada tiap masukannya adalah 0. Sebagai perbandingan praktis, op-amp LM741
memiliki impedansi input Z
in
= 106 Ohm. Nilai impedansi ini masih relatif sangat besar sehingga
arus input op-amp LM741 mestinya sangat kecil. Ada dua aturan penting dalam melakukan
analisa rangkaian op-amp berdasarkan karakteristik op-amp ideal. Aturan ini dalam beberapa
literatur dinamakan golden rule, yaitu :
Aturan 1 : Perbedaan tegangan antara input v
+
dan v
-
adalah nol (v
+
- v
-
= 0 atau v
+
= v
-
)
Aturan 2 : Arus pada input Op-amp adalah nol (i
+
= i
-
= 0)

Inilah dua aturan penting op-amp ideal yang digunakan untuk menganalisa rangkaian op-amp.
Dari beberapa hal diatas dapat disimpulkan untuk penguat operasional ideal mempunyai sifat-
sifat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
Resistansi masukan Ri = .
Resistansi keluaran R
0
= 0.
Perolehan Tegangan Av = - .
Lebar pita = .
V
0
= 0 kalau V
1
= V
2
tidak tergantung pada besarnya V
1
.
Karakteristiknya tidak tergantung temperatur / suhu.

6.7 Jenis-Jenis Penguat
Secara umum jenis-jenis penguat operasional yang banyak dikenal meliputi : penguat pembalik
(inverter), penguat non pembalik (non inverter), penguat komparator (pembanding), penguat
differensiator, penguat penjumlah dan lain sebagainya. Pada pokok bahasan kali ini akan
dipaparkan beberapa aplikasi op-amp yang paling dasar, dimana rangkaian feedback (umpan
balik) negatif memegang peranan penting. Secara umum, umpanbalik positif akan menghasilkan
osilasi sedangkan umpanbalik negatif menghasilkan penguatan yang dapat terukur.

6.7.1 Penguat Pembalik (Inverting amplifier)
Rangkaian dasar penguat inverting adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.3, dimana
sinyal masukannya dibuat melalui input inverting. Seperti tersirat pada namanya, pembaca tentu
sudah menduga bahwa fase keluaran dari penguat inverting ini akan selalu berbalikan dengan
inputnya. Pada rangkaian ini, umpanbalik negatif di bangun melalui resistor R
2
.


Gambar 6.3 Penguat inverter

Input non-inverting pada rangkaian ini dihubungkan ke ground, atau v
+
= 0. Dengan mengingat
dan menimbang aturan 1 (lihat aturan 1), maka akan dipenuhi v
-
= v
+
= 0. Karena nilainya = 0
namun tidak terhubung langsung ke ground, input opamp v
-
pada rangkaian ini dinamakan
virtual ground. Dengan fakta ini, dapat dihitung tegangan jepit pada R
1
adalah v
in
v
-
= v
in
dan
tegangan jepit pada resistor R
2
adalah v
out
v
-
= v
out
. Kemudian dengan menggunakan aturan 2,
di ketahui bahwa :
i
in
+ i
out
= i
-
= 0, karena menurut aturan 2, arus masukan op-amp adalah 0.
i
in
+ i
out
= v
in
/R
1
+ v
out
/R
2
= 0
Selanjutnya,
v
out
/R
2
= - v
in
/R
1
atau
v
out
/v
in
= - R
2
/R
1

Jika penguatan G didefenisikan sebagai perbandingan tegangan keluaran terhadap tegangan
masukan, maka dapat ditulis,

0 =
v
cut
v
in
= -
R
2
R
1


Impedansi rangkaian inverting didefenisikan sebagai impedansi input dari sinyal masukan
terhadap ground. Karena input inverting (-) pada rangkaian ini diketahui adalah 0 (virtual
ground) maka impendasi rangkaian ini tentu saja adalah Z
in
= R
1
.
Contoh 6.2
Sebuah penguat digambarkan sebagai berikut. Tentukan Vo dan berapakah peroleh tegangan
(gain) yang dihasilkan oleh penguat tersebut.
Jawab :
Vs = 20 Volt
R1 = 10 Ohm
R2 = 20 Ohm
Arus diperoleh dari persamaan
Vs = I.R1
I = Vs/R1 = 20 / 10 = 2 Amp
Karena Op-Amp jenis penguat inverter maka,
Vo = -I. R2
= - 2 x 20 = 40 Volt
Perolehan tegangan yang diperoleh adalah
Avf = Vo/Vs = - R2/R1 = - 20/10 = - 2

6.7.2 Penguat Bukan Pembalik (Non-Inverting amplifier)
Prinsip utama rangkaian penguat non-inverting adalah seperti yang diperlihatkan pada gambar
6.4 dibawah ini. Seperti namanya, penguat ini memiliki masukan yang dibuat melalui input non-
inverting. Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan satu fasa dengan tegangan
inputnya. Untuk menganalisa rangkaian penguat op-amp non inverting, caranya sama seperti
menganalisa rangkaian inverting.


Gambar 6.4 Penguat non-inverter

Dengan menggunakan aturan 1 dan aturan 2, kita uraikan dulu beberapa fakta yang ada, antara
lain :
v
in
= v
+

v
+
= v
-
= v
in
(lihat aturan 1).
Dari sini ketahui tegangan jepit pada R
2
adalah v
out

v
-
= v
out
v
in
, atau
i
out
= (v
out
-v
in
)/R
2
.

Lalu tegangan jepit pada R
1
adalah v- = vin, yang berarti arus i
R1
=
v
in
/R
1
. Hukum Kirchhoff pada titik input inverting mendapati arus yang mengalir pada R
1
adalah
sebesar : iout + i
(-)
= i
R1

Aturan 2 mengatakan bahwa i
(-)
= 0 dan jika disubsitusi ke rumus yang sebelumnya, maka
diperoleh i
out
= i
R1
dan Jika ditulis dengan tegangan jepit masing-masing maka diperoleh (v
out

v
in
)/R
2
= v
in
/R
1
yang kemudian dapat disederhanakan menjadi :
v
out
= v
in
(1 + R
2
/R
1
)
Jika penguatan G adalah perbandingan tegangan keluaran terhadap tegangan masukan, maka
didapat penguatan op-amp non-inverting :

0 =
v
cut
v
in
= 1 +
R
2
R
1


Impendasi untuk rangkaian Op-amp non inverting adalah impedansi dari input non-inverting op-
amp tersebut. Dari datasheet, LM741 diketahui memiliki impedansi input Z
in
= 108 to 1012
Ohm.

Contoh 6.3
Sebuah penguat digambarkan sebagai berikut. Tentukan Vo dan berapakah peroleh tegangan
(gain) yang dihasilkan oleh penguat tersebut.
Jawab :
Vs = 20 Volt
R1 = 10 Ohm
R2 = 20 Ohm
Arus diperoleh dari persamaan
Vs = - I.R1
I = - Vs/R1 = - 20 / 10 = - 2 Amp
Karena Op-Amp jenis penguat inverter maka,
Vo = -I. (R1+R2)
= - 2 x (10+20) = 60 Volt
Perolehan tegangan yang diperoleh adalah
Avf = Vo/Vs = 1+ R2/R1 = 1+ 20/10 = 3

6.7.3 Penguat Integrator
Opamp bisa juga digunakan untuk membuat rangkaian-rangkaian dengan respons frekuensi,
misalnya rangkaian penapis (filter). Salah satu contohnya adalah rangkaian integrator seperti
yang ditunjukkan pada gambar 6.5. Rangkaian dasar sebuah integrator adalah rangkaian op-amp
inverting, hanya saja rangkaian umpanbaliknya (feedback) bukan resistor melainkan
menggunakan capasitor C.

Gambar 6.5 : Penguat Integrator

Mari kita coba menganalisa rangkaian ini. Prinsipnya sama dengan menganalisa rangkaian
opamp inverting. Dengan menggunakan 2 aturan opamp (golden rule) maka pada titik inverting
akan didapat hubungan matematis :
i
in
= (v
in
v
-
)/R = v
in
/R , dimana v- = 0 (aturan1)
i
out
= -C d(v
out
v
-
)/dt = -C dv
out
/dt; v
-
= 0
i
in
= i
out
; (aturan 2)
Maka jika disubtisusi, akan diperoleh persamaan :
i
in
= i
out
= v
in
/R = -C dv
out
/dt, atau dengan kata lain
I
out
= -
1
RC
] I
n
Jt
t1
t0


Dari sinilah nama rangkaian ini diambil, karena secara matematis tegangan keluaran rangkaian
ini merupakan fungsi integral dari tegangan input. Sesuai dengan nama penemunya, rangkaian
yang demikian dinamakan juga rangkaian Miller Integral. Aplikasi yang paling populer
menggunakan rangkaian integrator adalah rangkaian pembangkit sinyal segitiga dari inputnya
yang berupa sinyal kotak.
Dengan analisa rangkaian integral serta notasi Fourier, dimana
f = 1/t dan = 2f
penguatan integrator tersebut dapat disederhanakan dengan rumus
0() = -
1
oRC

Sebenarnya rumus ini dapat diperoleh dengan cara lain, yaitu dengan mengingat rumus dasar
penguatan opamp inverting
G = - R
2
/R
1
.
Pada rangkaian integrator (gambar 6.5) tersebut diketahui
R
1
=R
R
2
=Z
c
=1/C
Dengan demikian dapat diperoleh penguatan integrator tersebut seperti persamaan diatas atau
agar terlihat respons frekuensinya dapat juga ditulis dengan
G(f) =-1/2fRC
Karena respons frekuensinya yang demikian, rangkain integrator ini merupakan dasar dari low
pass filter. Terlihat dari rumus tersebut secara matematis, penguatan akan semakin kecil
(meredam) jika frekuensi sinyal input semakin besar.
Pada prakteknya, rangkaian feedback integrator mesti diparalel dengan sebuah resistor dengan
nilai misalnya 10 kali nilai R atau satu besaran tertentu yang diinginkan. Ketika inputnya berupa
sinyal dc (frekuensi = 0), kapasitor akan berupa saklar terbuka.
Jika tanpa resistor feedback seketika itu juga outputnya akan saturasi sebab rangkaian umpan
balik op-amp menjadi open loop (penguatan open loop opamp ideal tidak berhingga atau sangat
besar). Nilai resistor feedback sebesar 10R akan selalu menjamin output offset voltage (offset
tegangan keluaran) sebesar 10x sampai pada suatu frekuensi cutoff tertentu.

Contoh 6.4
Tentukan perolehan tegangan penguat integrator berikut untuk t = 0 sampai t = 2 detik.
Jawab:
Vs = 20 Volt
R1 = 100 Ohm
C = 10 F
Dari penguat integrator diatas dapat dihitung arus yang melewati C, yakni,
I = Vs/R = 20/10 = 2 Amp
Tegangan keluarannya dapat dihitung dengan rumusan
Io = -
1
RC
] i Jt =
2
0
-
1
RC
2i[
0
2

Io = -
1
10
-3
x 2 (2 -u) = - 4uuu Volt
Maka perolehan tegangannya adalah,
G = Vo/Vs = - 4000/ 20 = -200

6.7.4 Penguat Differensiator
Kalau komponen C pada rangkaian penguat inverting di tempatkan di depan, maka akan
diperoleh rangkaian differensiator seperti pada Gambar 6.6. Dengan analisa yang sama seperti
rangkaian integrator, akan diperoleh persamaan penguatannya :

V
out
=-RC dV
in
/dt

Rumus ini secara matematis menunjukkan bahwa tegangan keluaran vout pada rangkaian ini
adalah differensiasi dari tegangan input v
in
. Contoh praktis dari hubungan matematis ini adalah
jika tegangan input berupa sinyal segitiga, maka outputnya akan mengahasilkan sinyal kotak.

Gambar 6.6 Penguat Differensiator

Bentuk rangkain differensiator adalah mirip dengan rangkaian inverting. Sehingga jika berangkat
dari rumus penguat inverting
G = -R
2
/R
1

dan pada rangkaian differensiator diketahui :
R
2
=R
R
1
=Z
c
=1/C
maka jika besaran ini disubtitusikan akan didapat rumus penguat differensiator
G() = - RC
Dari hubungan ini terlihat sistem akan meloloskan frekuensi tinggi (high pass filter), dimana
besar penguatan berbanding lurus dengan frekuensi. Namun demikian, sistem seperti ini akan
menguatkan noise yang umumnya berfrekuensi tinggi. Untuk praktisnya, rangkain ini dibuat
dengan penguatan dc sebesar 1 (unity gain). Biasanya kapasitor diseri dengan sebuah resistor
yang nilainya sama dengan R. Dengan cara ini akan diperoleh penguatan 1 (unity gain) pada nilai
frekuensi cutoff tertentu.

6.7.5 Penguat Comparator (Pembanding)
Sebagaimana ditunjukkan dari namanya, komparator secara harfiah berarti membandingkan,
dalam hal ini adalah membandingkan dua macam tegangan pada kedua masukannya. Dalam
prakteknya tegangan yang satu dicatu oleh suatu acuan (reference) yang besarnya tetap,
sedangkan yang lainnya oleh suatu masukan tegangan yang variable, bilamana tersambung (on).
Apabila masukan non inverting lebih positif dari masukan inverting-nya, maka akan diperoleh
keluaran maksismum positif. Dan bilamana masukan inverting lebih positif dibandingkan
masukan non invertingnya, maka akan diperoleh keluaran maksimum negatif.
Cara kerja sebuah komparator dapat diumpamakan sebagai sebuah penguat operasianal tanpa
resistor umpan balik, sehingga memiliki penguatan yang sangat tinggi. Penguat operasional
dengan modus seperti ini menyebabkan keluaran berayun secara penuh bila mendapat sinyal
masukan relatif kecil. Bila masukan membalik dihubungkan dengan tanah tegangan masuk yang
amat kecil (dalam pecahan millivolt) sudah cukup untuk membuat op-amp menjadi jenuh.
Misalnya, bila catu berharga 5 V, maka kepatuhan keluarannya berkisar antara 13 V sampai
+13 V. Pada IC 741C, bati tegangan simpal terbuka biasanya berharga 100.000. dengan
demikian tegangan masuk yang dibutuhkan untuk mengahasilkan kejenuhan positif adalah

Tegangan ini amat kecil sehingga karakteristik transfer pada Gambar 6.7. tampaknya mempunyai
transisi (peralihan) vertikal pada V
in
= 0 V. Transisi ini sebenarnya tidak vertikal. Pada 741C
tegangan masuk +0,13 V akan menyebabkan kejenuhan positif dan 0,13 V mengakibatkan
kejenuhan negatif. Karena tegangan masuk yang dibutuhkan untuk menghasilkan kejenuhan
amat kecil, maka transisi pada gambar 6.7. tampak seperti vertikal, sebagai pendekatan kita akan
menganggapnya sebagai vertikal, ini berarti bahwa tegangan masuk negatif mengakibatkan
kejenuhan negatif
mV
V
V
in
13 , 0
000 . 100
13
= =

Gambar 6.7. Op-amp sebagai pembanding dan Karakter transfer sebuah pembanding
Dari gambar tersebut terlihat dimana V
ref
ditempatkan pada masukan inverting yang merupakan
titik perpindahan terhadap tegangan masukan non inverting, bilamana tegangan masukan (V
in
)
sedikit lebih besar daripada V
ref
, maka keluarannya akan menjadi tinggi, dan sebaliknya
bilamana V
in
lebih kecil dibandingkan dengan V
ref
, maka keluarannya akan menjadi rendah.
Tegangan acuan yang diterapkan pada masukan pembalik berharga positif atau sama dengan



Gambar 6.8. Operasional Amplifier sebagai pembanding catu tunggal dan karakteristik
transfernya

6.7.6 Penguat Penjumlah
Penamaan penguat operasional memang cocok karena penguat ini dapat digunakan untuk operasi
matematika. Gambar 6.9 memperlihatkan penguat penjumlah dimana, masukan tak membalik
Vcc
R R
R
Vref
2 1
1
+
=
dari opamp dihubungkan dengan tanah. Dengan demikian masukan membalik terhubung sebagai
virtual ground karena keduanya terhubung singkat virtual. Karena mempunyai

i
1
= v
S
/R
1

i
2
= v
S
/R
2

i = -v
0
/R
f


dan juga karena i = i
1
+ i
2
kita mempunyai

-I
o
=
R
]
R
1
:
s1
+
R
]
R
2
:
s2


Jelas kiranya untuk n masukan berlaku :

-I
o
=
R
]
R
1
:
s1
+
R
]
R
2
:
s2
++
R
]
R
n-1
:
s n-1
+
R
]
R
n
:
sn



Jika kita pasang Rf = R1 = R2 = ................... = Rn , maka

-:
0
= :
s1
+:
s2
+:
s3
++:
sn-1
+:
sn



Gambar 6.9 Rangkai penguat operasional sebagai penjumlah