Anda di halaman 1dari 4

Berk. Penel.

Hayati Edisi Khusus: 4F (912), 2010


IDENTIFIKASI PARASIT PADA INSANG DAN USUS HALUS IKAN
KERAPU (EPINEPHELUS SEXFASCIATUS) YANG TERTANGKAP DI
PERAIRAN GLONDONG GEDE, TUBAN
Awik P. D. N., Dewi Hidayati, dan Karimatul H.
Jurusan Biologi FMIPA, Institut teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
ABSTRACT
Research iaentihcation of parasites in the gill ana intestine of sixbar grouper (Epinephelus sexfasciatus) from Glonaong Geae
coastal water, Tuban, haa been anali:ea. This riset purpose to iaentihcation of variation grouper hsh parasite that attach in gill ana
intestine. There are two sampling location that is F1 (06
0
4243.64` latituae, 111
0
5318.90`longituae) ana F2 (06
0
4309.26` latituae,
111
0
5216.94`longituae). Eleven hsh was chaught. There are 8 ectoparasite in gill ana 3 enaoparasite in intestine was observea.
Ectoparasites species that founa are Apiosoma sp., Balantiaium sp., Caligus sp., Rhynchoscolex sp, Dactylogyrus sp., Himasthla
elongata, Leptorhynchoiaes sp., ana. Chonaracanthus noausus. Enaoparasites species that founa are Camallanus sp., Anisakis sp. ana
Polyaora ciliata. Jariation of ectoparasites spesies be abunaant in F1 location. But, variation of enaoparasites spesies be abunaant in
F2 location. Depena on the life cycle there are 3 species be expectea can causing :oonosis they are Himasthla elongata, Balantiaium
sp., ana Anisakis sp.
Key words: ectoparasite, enaoparasite, invertebrate, proto:oa, sixbar grouper, :oonosis
PENGANTAR
Perairan laut Tuban berpotensi mengalami pencemaran
akibat berkembangnya kegiatan industri sekitar wilayah
perairan tersebut. Pencemaran di perairan laut Tuban Pencemaran di perairan laut Tuban
dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti tabrakan Kapal
Tangker MV. Pencemaran di perairan laut mengakibatkan
penurunan kualitas perairan dan mengganggu kehidupan
biota laut. Stress lingkungan kemungkinan dapat menambah
penurunan resistensi inang pada patogen (Latama, 2002).
Hal ini dapat memacu kecepatan perkembangbiakan
organisme parasit (William dan John, 1993). William dan John, 1993). ).
Pada umumnya, parasit ikan cenderung menyerang
organ insang dan usus ikan. Salah satu jenis parasit protozoa
yang ditemukan pada insang ikan kerapu adalah Trichoaina
sp. (Ikhwan dkk, 2008). Selain itu, berdasarkan penelitian
Johnny (2002), menyatakan bahwa pada ikan kerapu yang
mati biasanya banyak ditemukan parasit Dipletanum.
Parasit ini ditemukan pada insang ikan kerapu. Insang yang
terinfeksi biasanya berwarna pucat dan produksi lendirnya
berlebihan (Chong dan Chao dalam Johnny, 2002). Ikan
kerapu yang terinfeksi tampak gejala dengan kemampuan
berenang yang abnormal pada permukaan air dan warna
tubuh menjadi pucat. Serangan berat dari parasit ini dapat
merusak flamen insang dan dapat menimbulkan kematian
karena adanya gangguan pernapasan.
Salah satu daerah yang menghasilkan ikan tangkap
seperti ikan kerapu (E. sexfasciatus) adalah perairan laut
Tuban. Ekspor ikan kerapu pada tahun 1998 mencapai
1.856 ton. Ekspor ikan kerapu di Indonesia mengalami
penurunan sejak tahun 1999 (Anonim, 2003). Penurunan
produksi perikanan kerapu ini diduga karena serangan
parasit. Penelitian ini untuk mengidentifkasi parasit pada
insang dan usus halus ikan kerapu (E. sexfasciatus) yang
tertangkap di perairan Glondong Gede, Tuban.
BAHAN DAN CARA KERJA
Sampel ikan kerapu (Epinephelus sexfasciatus)
ditangkap dari perairan Glondong Gede, Pantai Utara Tuban
dengan titik pengambilan sampel pada F1 (06
0
4243.64
garis lintang; 111
0
5318.90 garis bujur), F2 (06
0
4309.26
garis lintang; 111
0
5216.94 garis bujur). Pengambilan
sampel ikan dilakukan dengan menggunakan alat tangkap
nelayan setempat (jaring payang). Ukuran panjang sampel
ikan kerapu dewasa yang diambil adalah 1928,3 cm
(Damayanti, 2008).
Identifkasi parasit pada organ insang dan usus halus
mengacu pada pustaka dari Moller & Anders (1986),
Disease ana Parasites of Marine Fishes; Grabda (1991),
Marine Fish Parasitology; Janovy (2000), Founaation
of Parasitology; dan Pechenic (2000), Biology of the
Invertebrates. Pengukuran kualitas perairan meliputi
salinitas, suhu, dan pH.
HASIL
Identifikasi jenis-jenis ektoparasit pada insang
kerapu terdapat 8 spesies ektoparasit yaitu Apiosoma sp.,
Balantidium sp., Chonaracanthus noausus, Caligus sp.,
Identifkasi Parasit pada Insang dan Usus Halus Ikan Kerapu 10
Dactylogyrus sp., Himasthla elongata, Leptorhynchoiaes
sp., dan Rhynchoscolex sp. Spesies yang tergolong protozoa
adalah Apiosoma sp. dan Balantidium sp., sedangkan
spesies yang tergolong invertebrata adalah Caligus sp.,
Chonaracanthus noausus, Gyroaactilus sp., Rhynchoscolex
sp., Leptorhynchoiaes sp., dan Himasthla elongata.
Identifkasi jenis-jenis endoparasit yang ditemukan pada
usus halus terdapat 3 species yaitu lain Camallanus sp.,
Anisakis sp., dan Polyaora ciliate. Endoparasit yang
ditemukan termasuk dalam flum nematoda yakni Anisakis
sp. dan Camallanus sp., serta dari flum Annelida yakni
Polyaora ciliata (Tabel 1).
PEMBAHASAN
Jenis spesies ektoparasit yang ditemukan pada sampel
ikan di lokasi F1 sebanyak 2 spesies protozoa, 2 spesies
copepoda dan 2 spesies cacing. Jumlah ini lebih banyak Jumlah ini lebih banyak
dari jumlah ektoparasit yang ditemukan di lokasi F2.
Perbedaan jumlah spesies parasit tersebut kemungkinan
dipengaruhi beberapa faktor abiotik dan biotik. Menurut
Williamdan John (1993), faktor biotik yang mempengaruhi
kehidupan parasit antara lain: spesies hospes, umur dan
ukuran panjang hospes, kondisi hospes, sifat patogenitas
parasit. Sedangkan faktor abiotik antara lain: suhu, salinitas,
oksigen, ammonia, pH, cahaya, kedalaman atau tekanan
air, dan tingkat pencemaran. Dari keseluruhan faktor
tersebut, hal yang kemungkinan berpengaruh adalah tingkat
pencemaran, persebaran hospes dan kondisi hospes. Adanya
pencemaran di sekitar perairan menjadikan ikan stress.
kondisi tersebut sangat baik untuk kelangsungan hidup
parasit. Serta menyebabkan penurunan imunitas hospes Serta menyebabkan penurunan imunitas hospes
(MacKinnon dalam Gonzales, 2000).
Selain faktor pencemaran di perairan, terdapat faktor
persebaran hospes. Hal ini terkait dengan siklus hidup
tiap spesies ektoparasit. Spesies ektoparasit di lokasi F2
(Rhyncoscolex sp. dan Leptorhyncoiaes sp.) merupakan
parasit yang memerlukan inang intermediet untuk
melangsungkan daur hidupnya. Inang intermediet bagi
kedua parasit tersebut adalah Crustacea atau Mollusca,
cenderung melimpah di lokasi F2 yang menjadikan parasit
mampu menemukan inang intermedietnya. Sebagaimana
diketahui pada saat pengambilan sampel, pada lokasi F2,
jumlah mollusca yang tertangkap di jaring lebih banyak
dibandingkan jumlah mollusca yang tertangkap pada lokasi
F1 (Unpublishea, 2009) sehingga kedua spesies ini mampu
bertahan hidup karena siklus hidupnya tetap berlangsung
hingga menemukan final host yakni ikan kerapu pada
lokasi F2. Sebagaimana dilaporkan oleh Janovy (2000),
Leptorhyncoiaes sp. dan Rhyncoscolex sp. berkembang
menjadi cacing dewasa setelah inang intermediet yang
membawa chystacanth atau larva cacing termakan oleh
inang akhir dan selanjutnya berkembang menjadi cacing
dewasa di dalam inang akhir tersebut. Sedangkan pada Sedangkan pada
lokasi F1 diduga keberadaan inang intermediet parasit
cenderung sedikit.
Di antara 6 spesies ektoparasit yang ditemukan dilokasi
F1, terdapat 5 spesies yaitu Apiosoma sp., Balantidiumsp.,
Caligus sp., Chonaracanthus noausus, dan Dactylogyrus
sp., yang merupakan ektoparasit dengan daur hidup tanpa
memerlukan inang intermediet. Dalammelangsungkan daur
Tabel 1. 1. Jenis-jenis ektoparasit dan endoparasit pada ikan Kerapu (E. sexfasciatus)
No. Organ Jenis parasit
Lokasi
F1 F2
Spesies Spesies
1. Insang ektoparasit Dactylogyrus sp. Rhynchoscolex sp.
ektoparasit Caligus sp. Leptorhynchoides sp.
ektoparasit Apiosoma sp.
ektoparasit Himasthla elongata
ektoparasit Chondracanthus nodusus
ektoparasit Balantidium sp.
Jumlah spesies 6 2
2. Usus halus endoparasit Camallanus sp. Camallanus sp.
endoparasit Anisakis sp. Anisakis sp.
endoparasit Polydora ciliata
Jumlah spesies 2 3
Awik, Hidayati, dan Karimatul 11
hidup, kelima parasit ini memerlukan hospes yang sesuai
dan ketersediaan nutrisi untuk hidup dan faktor lingkungan
yang mendukung (Moller, 1986). Telur Balantidium yang
dikeluarkan bersama Ieses inang defnitiI akan berkembang
menjadi trophozoid. Trophozoid menggandakan diri dengan
membelah diri secara melintang (Transverse Fission).
Namun sebagian kecil ada yang mampu melakukan kojugasi
(Janovy, 2000). Balantidium dapat melangsungkan daur
hidupnya pada tubuh hospes maupun di perairan.
Jenis spesies endoparasit yang ditemukan pada sampel
ikan di lokasi F1 ada 2 jenis, sedangkan jenis spesies
endoparasit yang ditemukan pada sampel ikan di lokasi F2
ada 3 jenis spesies. Anisakis sp. dan Camallanus sp adalah
spesies endoparasit yang ditemukan di lokasi F1 maupun
F2. Polyaora ciliata merupakan spesies yang ditemukan di
titik F2 dan tidak ditemukan di titik F1. Endoparasit yang
ditemukan pada lokasi F2 memiliki jenis spesies sedikit
lebih banyak dibandingkan endoparasit pada lokasi F1
meskipun dua di antara beberapa spesies tersebut sama-
sama ditemukan pada kedua lokasi. Hal ini diduga karena
perbedaan feeaing habit (Grabda, 1999) dari ikan kerapu
dengan adanya perbedaan lokasi. Perbedaan feeaing habit
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain disebutkan oleh
Polyanski dalam Aloo (2000) yakni mekanisme diet oleh
inang, masa hidup inang, mobilitas inang selama hidupnya
termasuk variasi habitat yang ditempati dan kepadatan
populasi inang dalam habitatnya.
Spesies ektoparasit yang ditemukan berjumlah lebih
banyak (8 spesies) dibandingkan dengan spesies endoparasit
(3 spesies). Hal ini dikarenakan pada usus halus yang
merupakan mikrohabitat bagi spesies endoparasit, memiliki
kondisi berbeda dengan kondisi pada insang. Parasit yang
mampu hidup pada usus halus memiliki kemampuan untuk
resisten terhadap mekanisme pencernaan baik proses fsik
maupun proses kimiawi di dalam inangnya, tahan atau
mampu melawan respon imun dari inang, dan mampu
bertahan di dalam usus halus yang anaerob karena suplai
oksigen diperoleh dengan menghisap nutrisi yang mengalir
bersama pembuluh darah vena di lumen usus (Bryant,
1989). Endoparasit umumnya memiliki struktur tubuh
yang mampu beradaptasi dengan kondisi di dalam usus
seperti pada Anisakis sp. Spesies tersebut memiliki lapisan
epidermis kulit yang menyekresi sebuah lapisan kutikula
yang berfungsi untuk melindungi tubuhnya dari enzim-
enzim pencernaan di dalam usus halus (Lorenzo et al.,
2000). Selain itu, intestinal parasite mampu melindung
diri dari enzim pencernaan yang disekresikan oleh inang.
Parasit ini menyekresi mucoprotein untuk menetralkan
enziminang. Parasit yang tidak memproduksi mucoprotein
akan tercerna dalamusus halus (Grabda, 1999). Kondisi ini
menyebabkan jenis spesies endoparasit yang ditemukan
lebih sedikit karena spesifkasi struktur tubuh dari parasit.
Hasil identifkasi parasit pada insang dan usus halus identifkasi parasit pada insang dan usus halus
ikan kerapu yang telah dilakukan menunjukkan ada 8
spesies ektoparasit yang ditemukan pada insang ikan kerapu.
Ektoparasit yang termasuk dalamprotozoa adalah Apiosoma
sp. dan Balantidium sp. Ektoparasit yang termasuk dalam
invertebrata adalah Caligus sp. Chonaracanthus noausus,
Dactylogyrus sp., Himasthla elongata, Leptorhynchoiaes
sp., dan Rhynchoscolex sp. dan ada 3 spesies Invertebrata
endoparasit yang ditemukan pada usus halus ikan
kerapu antara lain Camallanus sp., Polyaora ciliata, dan
Anisakis sp.
KEPUSTAKAAN
Anoni m, 2003. , 2003. 'Ekol abel Proauk Peri kanan, Beri t a
Lingkungan Hiaup Inaonesia`. http://www. kompas.com/
kompascetak/0403/31/bahari/943723. htm.
Aloo PA, 2002. Final Report on the 'Ecological Stuaies of
Parasites of Commercially Important Fish Species along
the Kenyan Coast`. Department of Zoology Kenyatta
University Nairobi: Kenya.
Bryant C dan Carolyn B, 1989. Biochemical Aaaptation in
Parasite. Chapman and Hall: London.
Damayanti S, 2008. Studi Pendahuluan Tingkat Kematangan
Gonad Populasi Ikan Kerapu Lumpur (Epinephelus
sexfasciatus, Jalencinnes) yang Tertangkap di Perairan
Tuban. Skripsi Program Stuai Biologi. FMIPA ITS:
Surabaya.
Gonzales L, and Carjaval J, 2001. Life Cycle of Caligus
rogercresseyi, (Copepoda: Caligidae) Parasite of Chilean
Reared Salmonids. Universidad de Los Lagos: Chile.
Grabda, 1991. Marine Fish Parasitology. PWN Polish Scientifc
Publisher: Warszawa.
Ikhwan MZ, Shaharom-Harrisson F, dan Kartini M, 2008.
A Comparative Prevalence Stuay of Ectoparasites in Wila
ana Culturea Grouper Before ana After Transportation.
National Fisheries Symposium. Institute of Tropical
Aquaculture (AKUATROP) Faculty of Maritime Studies
and Marine Science (FMSM): Terengganu, Malaysia.
Janovy R, 2000. Founaation Of Parasitology, Sixth Eaition.
McGraw-Hill Companies: USA.
Johnny F, 2002. Kefaaian Penyakit Infeksi Parasit paaa Ikan
Kerapu ai Keramba Jaring Apung Teluk Ekas, Kabupaten
Lombok Timur, Nusa tenggara Barat. Balai Besar Riset
Perikanan Budi Daya Laut Gondol: Bali.
Latama G, 2002. Cestoda: Parasit Cacing Pada Ikan dan ke
Manusia. Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702).
Program Pascasarjana. Instutut Pertanian Bogor : Bogor
Identifkasi Parasit pada Insang dan Usus Halus Ikan Kerapu 12
Lorenzo S, et al., 2000. Usefulness of Currently Available
Methods for The Diagnosis of Anisakis Simplex Allergy.
Allergy 55: 627633.
Moller andAnders, 1986. Disease ana Parasites of Marine Fishes.
Verlage Moller: Germany.
Pechenic, 2000. Biology of The Invertebrates. McGraw-Hill
Companies: USA.
Unpublished, 2009. Iaentihkasi Jenis-Jenis Ikan aan Non-ikan
tang Tertangkap ai Perairan Tuban. Program Studi
Biologi, FMIPAITS: Surabaya.
William dan John. 1993. Parasitic Worm of Fish. Tailor and
Francis Publisher: Sidney.