Anda di halaman 1dari 9

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sektor peternakan adalah salah satu sektor penting dalam pemenuhan pangan di dunia. Sektor ini memberikan banyak lapangan kerja bagi masyarakat luas dan membantu memenuhi kebutuhan akan protein khususnya protein hewani. Namun disamping itu ada beberapa kendala dalam sektor ini salah satunya penyakit. Penyakit yang diderita oleh ternak umumnya akan menurunkan produktifitas dari ternak tersebut hingga menyebabkan kematian. Dan adapula penyakit dari ternak tersebut yang bersifat menular ke manusia (zoonosis). Pengaruh kesehatan dan kesejahteraan ternak terhadap produktifitas dari ternak tersebut sangatlah besar, disamping faktor lainnya. Tindakan manusia sebagai

pelaku di bidang usaha peternakan haruslah memerhatikan kesehatan dan kesejahteraan ternak. Usaha pencegahan penyakit melalui biosecurity dan tindakan higienis serta sanitasi yang baik sangatlah berpengaruh penting. Oleh karena itu pencegahan datangnya penyakit pada ternak haruslah dilakukan peternak sebagai langkah untuk mempertahankan produktifitas dan kualitas dari produk yang dihasilkan dari ternak tersebut. Melalui biosecurity faktor penyebab penyakit pada ternak bisa diminimalisir sehingga akan meminimalisir biaya pembelian obat.

1.2 Identifikasi Masalah 1. Apa hubungan diagnose dengan tindakan preventif? 2. Apa saja tindakan preventif? 3. Apa saja keuntungan dari tindakan preventif?

1.3 Maksud dan Tujuan 1. Mengetahui tindakan preventif pada bidang kesehatan ternak. 2. Mengetahui keuntungan dari tindakan preventif pada bidang kesehatan ternak.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diagnosa Diagnosa adalah suatu proses untuk menentukan dan mengamati perubahan yang terjadi pada ternak atau hewan melalui tanda-tanda atau gejala klinis yang terlihat sehingga suatu penyakit dapat diketahui penyebabnya. Untuk menghasilkan diagnosa yang baik diperlukan pengetahuan zooteknis peternakan, anatomi dan fisiologi yang baik. Ketepatan dari diagnosis penyakit pada ternak bergantung pada 3 faktor penting yaitu : 1. Identifikasi organ vital dan struktur tubuh. 2. Pengetahuan tentang gejala penyakit dan lesi. 3. Rencana sistematis untuk memeriksa tubuh ternak. Ketepatan diagnosa juga bergantung pada : Sejauh mana anamnese dilakukan secara baik, Gejala klinis yang nampak atau teramati, Pemeriksaan nekropsi, dan Kecepatan pemeriksaan laboratorium.

Diagnosa sendiri ada tiga macam yaitu : 1. Diagnosis etiologis adalah menarik kesimpulan berdasarkan penyebab penyakit,. 2. Diagnosis kemungkinan adalah menarik kesimpulan berdasarkan dugaan sementara.

3. Diagnosis symtomosis adalah menarik kesimpulan berdasarkan gejala penyakit yang tampak.

2.2

Pengertian Preventif

Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin, praevenire, yang artinya datang sebelum atau antisipasi, atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas, prevensi diartikan sbegai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya ganggguan, kerusakan, atau kerugian bagi seserang atau masyarakat. (Notosoedirdjo dan Latipun, 2005 : 145). Maka dari pengertian diatas, prevensi terhadap gangguan kesehatan ternak adalah sebuah upaya pencegahan munculnya gangguan kesehatan ternak sebelum terjadinya gangguan kesehatan yang sesungguhnya.

2.3

Tindakan Preventif Pencegahan penyakit pada ternak dapat dicegah melalui sanitasi yang baik

serta perilaku yang higienis.

Pasalnya penyebab penyakit ternak kebanyakan

dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan yang baik dan pengelolaan akan peternakan itu sendiri. Tindakan ini disebut tindakan preventif, arti dari preventif itu sendiri ialah bersifat mencegah. Tindakan preventif harus dilakukan agar meminamilisir

datangnya penyakit pada ternak. Beberapa tindakan preventif yaitu : Penyediaan fasilitas kesehatan berupa : Ruang Karantina. Fasilitas dipping/spraying. Kandang Jepit atau Notstal. Tindakan preventif pada lingkungan : Memastikan area dari penyakit menular. Pembuatan kandang dan perlengkapan memenuhi syarat kesehatan. Menjaga kebersihan kandang dan peralatan. Tindakan preventif secara khusus (terhadap ternak) : Memandikan ternak (khususnya ternak ruminansia). Vaksinasi. Karantina pada saat ternak baru datang ke peternakan selama masa inkubasi. Pemotongan kuku. Pengawasan terhadap pakan. Pencukuran bulu (khusus ternak domba).

Berikut ciri ternak sehat dan sakit sehingga dapat dijadikan acuan untuk pencegahan.

Ternak Sehat Ternak aktif, lincah, mata jernih, bulu halus, bersih dll Nafsu makan normal Pertumbuhan baik

Ternak Sakit Ternak kurang aktif/lincah, mata sayu/pucat, bulu kusam dll Kurang nafsu makan Pertumbuhan kurang baik atau tidak normal

Dari lubang alami tidak keluar cairan atau Keluar leleran atau lendir yang tidak feses abnormal normal dari lubang-lubang alami (seperti hidung, telinga dll) misalnya pilek, diare/mencret dll Jalannya normal Tidak ada luka di tubuh Jalannya pincang Luka, gatal, dll

Keuntungan dari tindakan preventif adalah dengan meminimalisir hospes dan vektor penyakit maka kemungkinan datangnya penyakit pada ternak akan berkurang sehingga dapat menekan biaya pengobatan pada ternak. Melalui tindakan preventif kita bisa mengurangi tindakan kuratif pada ternak karena kita menyiapkan ternak dan lingkungannya pada kondisi sehat.

III PEMBAHASAN

3.1 Hubungan Diagnosa dan Tindakan Preventif Diagnosa sangat penting untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan selanjutnya pada ternak. Dari diagnosa dapat dilakukan tindakan pencegahan

datangnya penyakit lagi pada ternak dan bisa mengidentifikasi faktor yang menyebabkan datangnya penyakit tersebut. Oleh karena itu diagnosa sangatlah penting untuk membangun konsep awal dari tindakan yang harus dilakukan baik itu berupa pencegahan ataupun pengobatan.

3.2

Fungsi Tindakan Preventif Tindakan preventif berfungsi untuk mencegah penyakit untuk muncul melalui

menciptakan lingkungan yang sehat, ternak yang jauh dari penyakit, pekerja yang sehat serta iklim kerja yang sehat. Melalui tindakan preventif biaya untuk

pengobatan dari ternak bisa ditekan dengan terciptanya lingkungan yang higienis sehingga ternak memiliki produktifitas tinggi dan produk hasil ternak tersebut tidak menimbulkan food born disease. Tindakan preventif sangat bergantung pada sistem pemeliharaan itu sendiri. Pemeliharaan yang memerhatikan sanitasi dan higienitas akan sangat membantu mencegah timbulnya penyakit. Dengan keadaan lingkungan yang sehat kemungkinan hospes dan vektor penyakit pada ternak bisa ditekan dan diminamilisir.

IV KESIMPULAN

1. Tindakan preventif sebagai tindakan untuk menciptakan lingkungan, pekerja, ternak dan iklim kerja yang sehat melalui diagnosa menyeluruh akan sangat berpengaruh pada kesehatan dan kesejahteraan ternak. 2. Tindakan preventif lebih baik daripada tindakan kuratif karena pengobatan akan butuh waktu bagi ternak untuk kembali berproduksi secara normal. 3. Tindakan preventif berlaku secara menyeluruh mulai dari lingkungan, pekerja, ternak dan hasil ternak. 4. Perlunya pengetahuan akan biosecurity turut mendukung tindakan

pencegahan penyakit melalui hospes dan vektor penyakit.

DAFTAR PUSTAKA http://duniaveteriner.com/dunia-veteriner. Sumber : PB PDHI. (Diakses tanggal 20 Maret 2012 pukul 19.20 http://nakstppmlg.weebly.com/penjaminan-mutu-ternak1.html. (Diakses tanggal 20 Maret 2012 pukul 17.00) http://yunilasyarja.blogspot.com/2009/04/manajemen-kesehatan-ternak-potong.html. Penulis : Yunilas. Staf Pengajar Fak.Pertanian, Prodi Peternakan, USU Medan. (Diakses tanggal 20 Maret 2012 pukul 19.24) http://www.deptan.go.id/pedum2012/PETERNAKAN/3.0.%20PEDOMAN%20KESEHATAN%2 0TERNAK%20BIBIT-revisi%20bogor%2010%20okt%202006.pdf. (Diakses tanggal 20 Maret 2012 pukul 19.25)