Tugas Mata kuliah Dosen

: Analisis Tata Ruang Kawasan : Teori dan Model PPW : Prof. Ir. Bambang Heryanto, M. Sc

ANALISIS KONSEP TATA RUANG KAWASAN KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) LORE POSO PROV. SULTENG
Oleh

MUH. ARSYAD
(NIM : P0200211006)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN 2011

potensi perubahan . Menurut Rondinelli (1985) dan Unwin (1989) dalam Mercado (2002) bahwa teori pusat pertumbuhan didasarkan pada keniscayaan bahwa pemerintah di Negara berkembang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan dengan melakukan investasi yang besar pada industri padat modal di pusat kota. Menurut Mercado (2002) konsep pusat pertumbuhan diperkenalkan pada tahun 1949 oleh Fancois Perroux yang mendefinisikan pusat pertumbuhan sebagai “pusat dari pancaran gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal”. Berkaitan dengan dependency serta distorsi yang terjadi antara wilayah core dan periphery (kesenjangan wilayah). Permasalahan juga ditekankan pada kesulitan untuk menstimulate keterkaitan ekonomi antara industri-industri di pusat dengan daerah belakangnya. dan (4) faktor investasi pemerintah. merupakan suatu respon terhadap pendekatan yang bersifat top-down. leakage atas pemanfaatan sumber daya vital suatu wilayah untuk kepentingan metropolis (core atau leading region) maupun negara lain. aktivitas pembangunan yang mengarah pada gejala polarisasi atau backwash effect. B. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan timbulnya pusat-pusat pelayanan : (1) faktor lokasi ekonomi. tidak memungkinkan terjadinya proses „penjalaran‟ atau yang dikenal dengan trickling down effects. dan Friedmann (1966). Dan kedua. Myrdall (1957). Hirschman (1958).I. (3) kekuatan aglomerasi. A. Strategi Pengembangan Wilayah Dalam Perspektif Development From Below Pendekatan konsep pengembangan wilayah yang berbasis pada kekuatan ekonomi dan sumber daya lokal. Pertama. (2) faktor ketersediaan sumberdaya. Teori Lokasi dan Pusat Pertumbuhan Teori tempat pemusatan pertama kali dirumuskan oleh Christaller (1933) dan dikenal sebagai teori pertumbuhan perkotaan yang pada dasarnya menyatakan bahwa pertumbuhan kota tergantung spesialisasinya dalam fungsi pelayanan perkotaan. LANDASAN TEORI PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH. mengatakan bahwa ekonomi wilayah yang terintregasi dan terkait dengan basis ekonomi dunia yang tidak seimbang akan menimbulkan dua kecenderungan fenomena. sedangkan tingkat permintaan akan pelayanan perkotaan oleh daerah sekitarnya akan menentukan kecepatan pertumbuhan kota (tempat pemusatan) tersebut. Mekanisme pola ketergantungan (dependency) serta struktur hubungan produksi dan distribusi yang berbeda antara core dan periphery. yang sangat kontras dengan pemikiran sistem integrasi pusat-pusat dalam suatu lingkup sistem jaringan. serta ketimpangan opurtunitas yang dimiliki dalam segi skala ekonomi.

Ditinjau dari sudut pandang ekonomi wilayah.struktur sumber daya manusia dan teknologi oleh core dan periphery. misalnya melalui cara pengembangan industri padat karya skala kecil. Atau secara ekstrem dapat dikatakan melakukan perubahan di dalam institusi dan keterkaitan hubungan struktur ekonomi. 1976) berawal dari tingkat perkembangan yang berbeda dan keterkaitan yang tidak simetris yang mengarah pada terjadinya leakage sehingga menyebabkan terjadinya distorsi antara rural dan urban. yaitu fungsional. Bertolak dari konsepsi pemikiran bahwa leakages atas proses produksi lokal akan meminimisasi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. dan pendekatan agropolitan.urban yang independen di dalam satu “Agropolitan District”. Pengembangan rural yang berkelanjutan dengan basis pemenuhan pendekatan Agropolitan. Persepsi ini didukung oleh Taylor (1979) yang mengatakan kebutuhan dasar merupakan salah satu saran dari . C. Konsep Pemikiran Development from Below Proses internalisasi potensi lokal wilayah merupakan awal bagaimana suatu wilayah dapat berkembang. pendekatan pengembangan territorial. terdapat berbagai strategi pendekatan pengembangan wilayah. tenaga kerja dan sumber daya terakumulasi di kutub-kutub pertumbuhan ( growth pole ) sementara akibat pengaruh leakages eksternal maupun internal yang terjadi. D. bahwa pengembangan dari wilayah atas suatu periphery hanya dapat dilakukan dengan melindunginya pengaruh polarisasi wilayah. teori Development From Below mensyaratkan adanya suatu tahapan dalam internalisasi sumber daya untuk menghasilkan produk bagi pemenuhan konsumsi masyarakat lokal. Secara umum pendekatan. serta kesamaan peran dalam interaksi skala territorial yang terkecil.pendekatan tersebut memfokuskan pada upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap wilayah pusat. Hubungan rural. Oleh karena itu dibentuk unit.unit rural. Agropolitan dan Selecive Spatial Closure Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Pada dasarnya konsep pengembangan wilayah Agropolitan (Friedmann dan Douglass.urban dalam district tersebut didasarkan pada keterkaitan yang saling menguntungkan. usaha internalisasi yang dilakukan dalam bentuk komponen elemen-elemen produksi (sumber daya maupun investasi) dimaksudkan untuk memaksimalkan efek mulitiplier lokal terhadap sektor-sektor perekonomian wilayah melalui kontrol backwash effects yang terjadi dengan bertumpu pada karakter dasar wilayah tersebut. Hal ini didukung pendapat Hirschman (1957). Menurut perspektif teori ini. wilayah periphery makin tertinggal. Sehingga gejala yang umum terjadi adalah mobilitas kapital.

. Ukuran wilayah yang relatif kecil Lokasi. KONSEP TATA RUANG KAWASAN KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) KTM atau Kota Terpadu Mandiri adalah Kawasan Transmigrasi yang pertumbuhannya dirancang menjadi Pusat Pertumbuhan melalui pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan yang mempunyai fungsi sebagai :     Pusat kegiatan pertanian berupa pengolahan barang pertanian jadi dan setengah jadi serta kegiatan agribisnis Pusat pelayanan agroindustri khusus dan pemuliaan tanaman unggul Pusat kegiatan pendidikan dan pelatihan di Sektor Pertanian.000 Kepala Keluarga (KK) tapi bukan berarti seluruhnya KK yang baru sama sekali. e. Adanya fungsi industri di wilayah urban-rural yang terkait pada sumber daya dan struktur ekonomi lokal g.000 – 150.unit Agropolitan (prasyarat) yang dapat dijadikan sebagai dasar asumsi pengembangan teori ini adalah : a. c.000 Pembatasan jarak antar unit yang memungkinkan terjadinya kecenderungan commuting. melainkan sebagian termasuk masyarakat yang telah ada di wilayah tersebut. ANALISIS KONSEP TATA RUANG KAWASAN KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) LORE POSO. i. II. terletak di hinterland negara. Tingkat kemandirian tinggi yang didasarkan pada partisipasi aktif masyarakat serta kerjasama di tingkat lokal termasuk di dalamnya pemenuhan kebutuhan dan pengambilan keputusan oleh masyarakat lokal. Jumlah penduduk berkisar antara 50. Adanya teknologi yang mengacu pada pemanfaatan sumber daya lokal.karakteristik dari unit. A.bahwa dalam konteks ini ukuran kota yang kecil akan mengurangi terjadinya leakage dari wilayah agraris yang muncul akibat adanya keterkaitan antar wilayah.negara dunia ketiga Kedaan sosial-budaya. d. Industri dan Jasa Pusat perdagangan wilayah yang ditandai dengan adanya pasar-pasar grosir dan pergudangan komoditas sejenis Setiap KTM terdiri dari 9. h.000 sampai 10. dan ekonomi relatif identik secara keruangan. Diversifikasi lapangan pekerjaan baik pertanian maupun non-pertanian dengan penekanan pada pertumbuhan industrialisasi rural area f. Karakteristik. b. politik.

secara geografis terletak di 10 06‟ 44” – 20 12‟53” LS dan antara 1200 05‟ 09” – 1200 52‟ 04” BT. Gambar 02 Lokasi dan Pencapaian KTM Lore Poso Poso merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang beribukota di Kota Poso. Propinsi Sulawesi Selatan di selatan. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Tomini dan Propinsi Sulawesi Utara di utara. Kabupetan Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong di barat.197 km2. KAWASAN KOTA TERPADU MANDIRI (KTM) LORE POSO. Luas wilayah daerah ini adalah 24. Kabupaten Tojo Una-Una dan Kabupaten Morowali di timur.Gambar 01 Konsep Pengembangan Tata Ruang KTM E. Secara .

Daerah ini mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan antara lain di sektor perkebunan dengan komoditi utama yang dihasilkan berupa kakao. kopi arabika.admisinstratif. kelapa dalam. daerah ini terbagi menjadi 13 Kecamatan. Untuk kegiatan pertanian di daerah ini tanaman pangan masih menjadi andalan yang utama berupa padi. cengkeh. tanaman holtikultura. dan jambu mete. Gambar 03 Rencana Tata Ruang KTM Lore Poso Gambar 04 SKP . lada. kopi robusta. dan palawija.

2 SP. 1 Sruktur Tata Ruang KTM Lore Poso Satuan Kawasan Pengembangan SKP A Luas : 5.3 Tidak sesuai TPLK (pembatas topografi/kemiringan lereng >25%).3 Tidak tersedia / Tidak sesuai (Pembatas land use) : Perkampungan.964 450 320 260 Perikanan Darat Mix/PPE Ubi Jalar Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao 940 860 2.4 SP. ladang.2 SP.220 Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Sumber : Tim Master Plan KTM Lore Poso .2 Tidak sesuai / Tidak tersedia(pembatasLandUse:Perkampungan.347 500 300 280 1.420 780 710 7.1 SP.1 SP.2 Tidaksesuai(pembatas Land-Use: Perkampungan.762 Ha SP. lading penduduk) SP. Ladang.150 812 664 2.2 SP. sudah Ada permohonan Pelepasan status 1. sawah. Kebun penduduk SP.1 SP.sawah.000 (2SP) Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Ubi Jalar/Kakao Kayu Olahan/Pulp SKP F (7. Sawah. sesuai HTR SP.5 Safety Factor/Konservasi 218 150 400 1.163 320 270 Ubi Jalar/ Sayuran/Kakao Ubi Jalar/ Sayuran/Kakao SKP D Luas : 4.Tabel.1 SP.2 SP.873 Ha 810 682 4.700Ha) Bersyarat:Pelepasan Status HGU PT.962 370 340 Ubi Jalar/Sayuran/Kakao Ubi Jalar/Sayuran/Kakao SKP E (10.840 40.423 500 480 500 380 440 7.kebunpenduduk) Danau RanoWanga Pusat KTM Areal Inti SKP C Luas: 5. Ladang penduduk) SP.590 Ha Luas (Ha) 415 516 422 4338 Daya Tampung (KK) 150 200 160 Komoditi Ubi Jalar Sayuran/Kakao Ubi Jalar/ Sayuran/Kakao Ubi Jalar/ Sayuran/Kakao SKP B Luas: 5.691 ha Satuan Pemukiman SP.3 SP.1 SP.1 SP. Hasfarm Napu 1300 1200 1300 960 1100 1.3 Tidak sesuai (pembatas Land-Use:Perkampungan.257 Ha) Status Hutan HPK. sawah.

terdapat berbagai strategi pendekatan pengembangan wilayah. sistem dalam skala nasional maupun internasional. Pendekatan Development From Below ini pada satu sisi terasa kurang realistis dan tidak relevan dengan pola perkembangan „global‟ yang terjadi saat ini. Konsep pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) adalah satu upaya percepatan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi. pola keruangan serta diperlukannya dukungan sarana dan prasarana. Konsep Pemikiran Teori Development from Below. lahan pertanian dan industri. .Berdasarkan potensi wilayah yang terdapat di kawasan KTM Lore Poso. fungsional. berupa jaringan prasarana perhubungan dan utilitas umum. Secara umum pendekatan. dan pendekatan agropolitan. serta cenderung lebih bersifat disintegrasi. integrasi Pusat Kawasan KTM dengan Satuan Kawasan Pengembangan (SKP). yaitu pendekatan pengembangan territorial. Namun di sisi lain.pendekatan tersebut memfokuskan pada upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap wilayah pusat. Sedangkan pelayanan internal diberikan oleh Sub-Pusat KTM/Pusat SKP. pendekatan ini di dalam konteks pemilihan alternatif strategi top-down atau bottom-up. Pusat pertumbuhan yang diharapkan mempunyai jangkauan pelayanan regional adalah Pusat Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan Lore Kabupaten Poso. memberikan suatu keyakinan bahwa kesenjangan wilayah akan semakin konvergen jika pembangunan dilakukan dengan berbasiskan pada kekuatan ekonomi dan partisipasi lokal. mengurangi bahkan melepaskan diri dari sistem ekonomi antar wilayah. Proses internalisasi potensi lokal wilayah merupakan awal bagaimana suatu wilayah dapat berkembang. serta pusat-pusat kegiatan sosial-ekonomi yang mempunyai jangkauan pelayanan lingkup regional maupun lokal. maka untuk pengembangannya perlu adanya sinergi tata ruang kawasan baik untuk lahan permukiman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful